「Aturan tentang lelehan」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Im. 15:33 [ITB])
33 dan tentang seorang perempuan yang bercemar kain dan tentang seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengeluarkan lelehan, dan tentang laki-laki yang tidur dengan perempuan yang najis.
Bacalah seluruh Imamat pasal 15.
Imamat 15 mencatat aturan tentang bahwa lelehan pria dan wanita, kata yang umum digunakan 「lelehan」 (discharge) (zûb) mengacu pada air mani dan menstruasi. Alkitab menjelaskan jika ini terjadi maka pria ataupun wanita sama-sama ditetapkan sebagai najis, tempat yang terkena 「lelehan」 tersebut juga menjadi najis, tempat yang disentuh orang tersebut juga menjadi najis, siapapun yang disentuh orang tersebut juga menjadi najis. Mengapa menjadi najis?
Kenajisan mereka tidak ada hubungannya dengan moralitas mereka, ini semacam kenajisan ritual (ritual impurity) bukan kenajisan moral (moral impurity). Alasan mereka ditetapkan sebagai najis, mungkin karena sifat dari 「lelehan」, yakni berada dalam keadaan berpotensi kehidupan (potential to life). Di satu sisi 「lelehan」 tidak termasuk sepenuhnya kehidupan, di sisi lain terkait dengan kehidupan: 「lelehan」 adalah masa transisi (in transit) sebelum bayi terbentuk, dan dengan demikian berada dalam situasi 「melintasi garis batas」, tidak dapat diklasifikasikan sepenuhnya. 「Lelehan」 lebih cocok berada di dalam tubuh, dalam hal air mani pria yang terbaik adalah tinggal di dalam rahim wanita, sehingga orang tidak karena lelehan air mani dan memikirkan hal-hal yang 「melintasi garis batas」; dalam hal 「lelehan」 wanita lebih sulit untuk dihindari, karena ada unsur banyak darah, membuat orang memikirkan kematian dan kehidupan, jadi untuk zaman tersebut idealnya adalah tinggal di rumah selama masa menstruasi. Jadi tradisi imamat menetapkan sebagai najis, menyimbolkan tidak dapat diklasifikasikan sepenuhnya, berada dalam situasi kacau campur aduk.
Cara mengatasi kenajisan ini adalah membasuhnya dengan air dan menunggu waktunya, juga perlu mempersembahkan korban penghapus dosa dan korban bakaran untuk menahirkan tempat kudus dan berkenan penyertaan Allah. Ini mengingatkan kita pada umat Israel sebelum mereka menyambut kehadiran Allah di Gunung Sinai, pria dan wanita tidak boleh melakukan hubungan suami istri, ini bukan berarti bahwa hubungan suami istri itu sendiri menyebabkan masalah moral, tetapi agar pikiran orang terfokus sepenuhnya kepada kehadiran Allah bukan pada 「lelehan」 tubuh.
Renungkan:
Apakah Anda selalu memikirkan hadirat penyertaan Allah, atau membiarkan seks selalu mengisi pikiran Anda? Kita hidup di era hasrat seksual yang merajalela, baik iklan maupun serial TV, tidak sulit bagi kita untuk mendapatkan akses informasi tentang seks. Seks bukanlah dosa itu sendiri, itu adalah hadiah yang Tuhan berikan kepada suami dan istri dalam pernikahan. Namun, zaman / generasi ini telah membuat seks menjadi tontonan publik, membuat orang berpikir tentang seks sepanjang waktu. Namun, perikop ini mengingatkan kita bahwa kita harus menempatkan pikiran kita pada Allah di posisi yang penting. Selama penyembahan Kemah Pertemuan dan ketika Tuhan bersama kita, kita tidak boleh memikirkan seks agar hati pikiran kita sepenuhnya menyembah dan melayani Allah. Ini bukan mengatakan bahwa hubungan suami istri itu jahat, tetapi karena kita harus menempatkan Allah pada posisi yang paling utama pada saat beribadah.
Renungan pemahaman Kitab Imamat
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.