Tag Archives: darah korban

Imamat 17:1-7

Hanya boleh menyembelih di depan Kemah Pertemuan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 17:1-7 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Berbicaralah kepada Harun dan kepada anak-anaknya dan kepada seluruh orang Israel, dan katakan kepada mereka: Inilah firman yang diperintahkan Allah:
3 Setiap orang dari kaum Israel yang menyembelih lembu atau domba atau kambing di dalam perkemahan atau di luarnya, 4 tetapi tidak membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, untuk dipersembahkan sebagai persembahan kepada Allah di depan Kemah Pertemuan Allah, hal itu harus dihitungkan kepada orang itu sebagai hutang darah, karena ia telah menumpahkan darah, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya.
5 Maksudnya supaya orang Israel membawa korban sembelihan mereka, yang biasa dipersembahkan mereka di padang, kepada Allah ke pintu Kemah Pertemuan dengan menyerahkannya kepada imam, untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai korban keselamatan. 6 Imam harus menyiramkan darahnya pada mezbah Allah di depan pintu Kemah Pertemuan dan membakar lemaknya menjadi bau yang menyenangkan bagi Allah.
7 Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun.
8 Dan haruslah kaukatakan kepada mereka:
Setiap orang dari kaum Israel atau dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan, 9 tetapi tidak membawanya ke pintu Kemah Pertemuan supaya dipersembahkan kepada TUHAN, maka orang itu haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya.

Imamat 17 terutama menjelaskan teologi darah. Teologi darah ini memberi tahu kita bahwa hanya Allah saja yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan, dan hanya Dialah yang dapat memberi kehidupan, dan Dialah penguasa kehidupan.

Imamat 17:3-4 menjelaskan bahwa jika orang-orang dalam keluarga Israel ingin menyembelih lembu, domba, dan kambing, mereka harus membawanya ke depan pintu Kemah Pertemuan. Hewan-hewan ini termasuk hewan yang dikorbankan, hanya hewan- hewan ini saja yang bisa dipakai sebagai persembahan korban kepada Allah, dan hanya Allah yang berdaulat yang mengatur hidup hewan-hewan ini. Oleh karena itu, Imamat 17:3-4 menunjukkan bahwa jika ada orang yang tidak membawa hewan-hewan ini ke pintu Kemah Pertemuan dan menyembelihnya, pertumpahan darah akan dihitungkan kepada orang-orang itu, dan orang-orang itu akan dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. Membawa hewan-hewan ini ke pintu Kemah Pertemuan berarti mereka dibawa ke hadapan Allah, ketika mereka disembelih dan darahnya ditumpahkan di hadapan Allah, itu melambangkan bahwa hanya Allah yang dapat mengambil nyawa mereka. Ini juga melambangkan bahwa Allah adalah sumber dari segala hidup dan Dia memiliki kedaulatan mutlak atas hidup. Oleh karena itu, ketika seseorang membawa hewan ke pintu Kemah Pertemuan, itu juga berarti bahwa orang tersebut menyatakan bahwa hanya Allah yang mengatur kehidupan. Imamat 17:5 menunjukkan bahwa fungsi hewan-hewan ini adalah untuk diberikan sebagai persembahan kepada Allah, sehingga manusia tidak berkuasa mengontrol hari depan mereka, hanya Allah yang memiliki keputusan akhir. Terakhir, darah dipercik di depan pintu Kemah Pertemuan dan di hadapan Allah (Im. 17:6), ini adalah deklarasi pernyataan kehidupan, karena darah melambangkan kehidupan (Im. 17:11), tindakan tata cara / ritual ini memiliki makna bahwa kehidupan yang dikembalikan kepada Allah (milik Allah).

Merepotkan untuk membawa hewan ke pintu masuk Kemah Pertemuan, kita sering berpikir bahwa langkah-langkah ritual pengorbanan terlalu mengganggu dan tidak praktis, tidak ada manfaat ekonomi. Cara yang paling mudah adalah dengan menyembelih hewan-hewan ini di rumah dan memotongnya menjadi ukuran lebih kecil sebelum membawanya ke Kemah Pertemuan untuk persembahan korban. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa ini dilarang. Penyembelihan apa pun harus dilakukan di depan Kemah Pertemuan, dan kedaulatan Allah atas kehidupan harus dideklarasikan sebelum penumpahan darah. Pertama pengakuan deklarasi, lalu penyembelihan, dan kemudian penumpahan darah, ini adalah langkah yang harus dilakukan. Orang-orang yang mencari kemudahan menganggap langkah ini merepotkan, tetapi ketika mereka menganggapnya merepotkan, itu berarti mengambil kembali kedaulatan “mengambil nyawa” dari tangan Allah, mereka percaya bahwa mereka memiliki otoritas untuk mengendalikan masa depan hewan-hewan ini dan menanganinya dengan cara yang mereka pikir paling efektif. Mentalitas ini telah menyangkal kedaulatan Allah, yang artinya tidak lagi mengakui diri sebagai umat Allah, dan harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (digunting, tidak lagi menjadi bagian umat Allah, penjelasan lebih lengkap lihat renungan Imamat 7:20-27 Dilenyapkan dari antara bangsanya klik untuk membuka).

Renungkan:
Berdoa memohon agar Allah membantu kita meninggalkan sikap egois ini, mengembalikan kedaulatan hidup kepada Allah, menyatakan kedaulatan-Nya dalam hidup kita sendiri, sehingga kita tidak lagi mengendalikan masa depan kita sendiri, dan membiarkan Allah yang mengendalikannya. Dia adalah penguasa hidup kita! Berdoa memohon agar Allah mengizinkan kita mendedikasikan kedaulatan atas hidup kita kepada-Nya dan menjalani kehidupan yang menjadi milik-Nya. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 16:8-19

Kambing jantan yang mati di hari mengadakan pendamaian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 16:8-19 [ITB])
8 dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel.
9 Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa.
10 Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun.
11 Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu.
12 Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. 13 Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati.
14 Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.
15 Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.
16 Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
17 Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel.
18 Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. Ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya. 19 Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah itu dengan jarinya tujuh kali dan mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.

Imamat 16 menjelaskan prosedur ritual pengorbanan di hari mengadakan pendamaian, ini adalah satu tahu satu kali hari mengadakan pendamaian, hal yang paling penting dalam ritual ini melibatkan dua ekor kambing jantan, imam akan membuang undi (cast lots) atas dua ekor kambing jantan ini, agar Allah yang menentukan kambing jantan mana yang dipersembahkan mati sebagai korban penghapus dosa, mana yang akan hidup-hidup dilepaskan ke padang gurun. Ayat 16:8 menjelaskan adalah kambing jantan yang diundi mati dipersembahkan untuk TUHAN, kambing jantan yang diundi hidup adalah untuk Azazel. Hari ini kita akan merenungkan kambing jantan yang diundi mati, dan besok kita akan merenungkan kambing jantan yang hidup.

Seperti Imamat pasal 4 tentang korban penghapus dosa, demikian juga darah kambing jantan melalui tata cara darah untuk menahirkan tempat kudus atas semua dosa dan kecemaran kenajisan umat Israel (16:16), ritual tata cara penggunaan darah (16:18-19) secara dasarnya sama dengan yang dijelaskan di Imamat 4. Namun, Imamat 16:12-15 mencatat peraturan persembahan korban penghapus dosa yang tidak disebutkan dalam Imamat 4, yakni tentang imam setahun sekali di hari mengadakan pendamaian akan memasuki Ruang Mahakudus, pertama-tama ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian agar imam tidak bisa langsung melihat tabut perjanjian, untuk menjamin keselamatan imam. Kemudian imam harus harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas di bagian muka dan ke depan tutup pendamaian tujuh kali, lalu dengan jarinya memercikkan darah kambing jantan korban penghapus dosa ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu tujuh kali, yang merupakan salah satu tata cara ritual penggunaan darah yang paling mendalam, menahirkan membersihkan tempat kudus terdalam, menghapuskan noda dosa yang terdalam.

Kata tutup pendamaian berasal dari kata kĭppěr, seperti yang dijelaskan dalam renungan Imamat 1:2-9 (2), kata kĭppěr memiliki makna suci kudus dan mengadakan pendamaian, tetapi ketika digunakan pada tutup pendamaian maka kata kĭppěr juga memiliki makna penutup (cover), oleh karena itu takhta pendamaian terdapat dua kerub yang terbuat dari emas murni, kedua kerub ini merentangkan sayapnya untuk menutupi tabut perjanjian, melambangkan takhta hadirat penyertaan Allah, dan juga menghubungkan tabut perjanjian, melambangkan Perjanjian yang dibuat Allah dengan umat Israel. Dengan demikian, tutup pendamaian / takhta pendamaian yang dalam bahasa Inggris mercy seat tidak ada kaitan secara langsung dengan konsep mercy belas kasih kemurahan, dan sulit bagi para peneliti untuk menerjemahkan kata ini. Namun, tutup pendamaian / takhta pendamaian terkait dengan takhta kehadiran Allah, dan juga terkait perjanjian antara Allah dan umat-Nya, yang juga merupakan inti iman kitab Imamat, inti yang harus dilaksanakan setahun sekali mendapatkan penahiran, untuk memastikan kehadiran penyertaan kekal Allah.

Renungkan:
Dengan demikian, darah kambing jantan yang mati membawa kita ke inti iman: kehadiran penyertaan dan perjanjian. Allah hadir di tempat maha kudus, dan tabut perjanjian di tempat maha kudus melambangkan perjanjian antara Allah dan manusia. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah kambing jantan yang mati itu. Darah-Nya membawa kita ke hadirat penyertaan dan perjanjian Allah. Dia membersihkan tempat kudus dengan darah-Nya, memungkinkan setiap penyembah mengalami berkat hadirat penyertaan Allah selamanya. Kita juga telah mengalami keselamatan dalam perjanjian kekal. Di hadapan domba yang mati ini, kita hanya bisa mengucap syukur berterima kasih, dan tidak melupakan anugerah Allah ini!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 14:10-20

Peraturan penahiran setelah penyakit kulit (2)

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 14:10-20 [ITB])
10 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor domba jantan yang tidak bercela dan seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela dan tiga persepuluh efa tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian, serta satu log minyak.
11 Imam yang melakukan pentahiran itu harus menempatkan orang yang akan ditahirkan bersama-sama dengan persembahannya di hadapan TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan.
12 Dan ia harus mengambil domba jantan yang seekor dan mempersembahkannya sebagai tebusan salah bersama-sama dengan minyak yang satu log itu, dan ia harus mempersembahkannya sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.
13 Domba jantan itu harus disembelihnya di tempat orang menyembelih korban penghapus dosa dan korban bakaran, di tempat kudus, karena korban penebus salah, begitu juga korban penghapus dosa, adalah bagian imam; itulah bagian maha kudus.
14 Imam harus mengambil sedikit dari darah tebusan salah itu dan harus membubuhnya pada cuping telinga kanan dari orang yang akan ditahirkan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya.
15 Imam harus mengambil sedikit dari minyak yang satu log itu dan menuangnya ke telapak tangan kiri imam sendiri; 16 ia harus mencelupkan jari kanannya ke dalam minyak yang di telapak tangan kirinya itu dan sedikit dari minyak itu haruslah dipercikkannya dengan jarinya tujuh kali di hadapan TUHAN.
17 Dari minyak selebihnya imam harus membubuh sedikit pada cuping telinga kanan orang itu, pada ibu jari tangan kanannya dan pada ibu jari kaki kanannya, di tempat mana darah tebusan salah dibubuhkan. 18 Dan apa yang tinggal dari minyak itu haruslah dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan.
Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN.
19 Imam harus mempersembahkan korban penghapus dosa dan dengan demikian mengadakan pendamaian bagi orang yang akan ditahirkan dari kenajisannya, dan sesudah itu ia harus menyembelih korban bakaran.
20 Kemudian imam harus mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian di atas mezbah. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu, maka ia menjadi tahir.

Bagian ini menjelaskan tata cara kedua tentang penahiran setelah sembuh penyakit kulit. Tata cara ini sangat istimewa, selain persembahan unjukan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah, ada juga tindakan untuk membubuhkan darah dan minyak. Pertama-tama, menggunakan sedikit dari darah tebusan salah dibubuhkan pada cuping telinga kanan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan orang yang akan ditahirkan, lalu mengoleskan minyak sama-sama pada cuping telinga kanan dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan orang yang akan ditahirkan. Banyak peneliti berpendapat bahwa minyak ini adalah minyak urapan, situasinya seperti Imamat 8 minyak urapan untuk penahbisan imam, tetapi tata cara penggunaan minyak di sini dituliskan lebih rinci. Jadi apa makna simbolis dari tata cara ritual minyak dan darah ini?

Pertama-tama, para ahli berpendapat bahwa minyak urapan melambangkan kehidupan, kedamaian dan kesehatan (Mazmur 23:5; Amsal 27:9), dan sering digunakan untuk tujuan pembersihan (Rut 3:3; Yeh. 16:9), terutama setelah berpuasa penggunaan minyak adalah simbol seseorang memasuki kehidupan normal setelah puasa (2 Sam. 12:20). Oleh karena itu, minyak dipakai dalam pengubahan kehidupan tidak normal menjadi kehidupan normal. Karena itu, ketika minyak urapan dibubuhkan pada diri orang yang perlu ditahirkan, simbol bahwa orang ini akan diubahkan dari hidup tidak normal penyakit kulit memasuki ke dalam kehidupan sosial yang normal; kedua, ini minyak urapan dibubuhkan di bagian kanan dari tubuh orang tersebut, simbol bagian tubuh orang umumnya yang relatif lebih kuat, menyatakan orang tersebut dipulihkan dan sehat kembali; ketiga, darah memiliki fungsi membersihkan, darah dibubuhkan pada tubuh orang tersebut artinya menahirkan untuk orang tersebut; keempat, ayat 18 menyebutkan bahwa minyak urapan dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan, situasi sama dengan penahbisan imam besar dengan diurapi, tidak berarti orang ini menjadi imam, tetapi merupakan simbol bahwa orang tersebut ditahirkan dibersihkan dan dipulihkan dari kepala sampai kaki yang belum pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak lagi seperti di masa lalu hidup dalam keputusasaan, tetapi hidup dalam penerimaan perkenan Allah dan penegasan pengakuan komunitas umat Allah.

Renungkan:
Apakah Anda berpendapat hidup sekarang adalah normal? Penyakit kulit walau sudah sembuh, juga tidak dapat otomatis diterima di komunitas, harus melalui imam yang memimpin ritual barulah bisa tahir. Sering kali kita terbiasa hidup dalam kehidupan yang mengabaikan hubungan dengan Allah, dan kita tidak aktif memohon penyucian yang datang dari Tuhan, bahkan rahmat anugerah Tuhan menunggu di hadapan, namun kita mungkin karena dengan berbagai alasan tidak mau hidup dalam komunitas yang tahir, mungkin juga kita terbiasa hidup dalam kegelapan dan ketertutupan, tidak melihat kuasa penahiran pembersihan dari minyak urapan menunggu Anda.

Berdoa memohon Tuhan membantu kita meninggalkan kehidupan yang tertutup dan datang kepada Kristus Imam Besar, dan biarkan Dia melakukan pengurapan raja untuk Anda, sehingga Anda dapat menjadi anak Allah dan menjalani kehidupan kelimpahan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 8:10-17

Minyak urapan menguduskan, darah menyucikan

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 8:10-17 [ITB])
10 Musa mengambil minyak urapan, lalu diurapinyalah Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya dan dikuduskannya semuanya itu. 11 Dipercikkannyalah sedikit dari minyak itu ke mezbah tujuh kali dan diurapinya mezbah itu serta segala perkakasnya, dan juga bejana pembasuhan serta alasnya untuk menguduskannya.
12 Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya.
13 Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu dikenakannyalah kemeja kepada mereka, diikatkannya ikat pinggang dan dililitkannya destar, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
14 Disuruhnyalah membawa lembu jantan korban penghapus dosa, lalu Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan korban penghapus dosa itu.
15 Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya.
16 Diambillah segala lemak yang melekat pada isi perut, umbai hati, kedua buah pinggang serta lemaknya, lalu Musa membakarnya di atas mezbah.
17 Tetapi lembu jantan itu dengan kulit, daging dan kotorannya dibakarnya habis di luar perkemahan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Imamat 8 menjelaskan langkah-langkah ritual yang diperlukan untuk pengudusan imam Harun dan anaknya, di antara minyak urapan dan darah memainkan peran penting. Pertama, Imamat 8:10-13 menggambarkan Musa menggunakan minyak urapan untuk mengurapi Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya, mezbah dan semua bejana mezbah, dan Harun. Ayat-ayat Alkitab ini menjelaskan penggunaan urapan seperti itu adalah untuk menguduskan benda-benda dan orang, menandakan bahwa tabernakel, bejana dan Harun sudah tidak lagi milik duniawi, telah masuk ke dalam ranah ilahi milik Allah (itu adalah definisi suci), karena telah memasuki ranah ilahi Allah, maka harus sepenuhnya dipisahkan dari hal-hal dan ruang duniawi. Oleh karena itu, tampaknya ada dimensi elektif (dimensi pemilihan), di antara banyak hal-hal dan orang-orang di dunia ini ada yang dipisahkan sepenuhnya menjadi milik Allah, dengan demikian, penggunaan minyak urapan melambangkan pengudusan dan pemilihan.

Kedua, ayat 14 sampai 15 menjelaskan fungsi darah: menyucikan. Beberapa peneliti karena itu percaya bahwa darah adalah semacam detergen pembersih dalam ritual mencuci bersih semua kecemaran yang mengotori benda-benda kudus, dan ayat 14-15 terutama adalah penyucian dan pengudusan mezbah, ini adalah mezbah korban bakaran. Para ahli berpendapat itu adalah lambang tempat terhubung ke surga, karena korban bakaran adalah persembahan korban yang membubung ke atas, melambangkan korban yang dipersembahkan mencapai surga, karena surga adalah ranah kudus, mezbah yang menghubungkan ke surgawi juga harus disucikan untuk memastikan keterhubungan dunia dan surga, jika tidak, maka tidak akan bisa melewati garis batas dunia dan surga.

Dengan demikian dapat dilihat, minyak urapan berperan dalam pengudusan, dan darah berperan dalam penyucian, suci adalah bersih dari kekotoran, jadi prasyarat kekudusan, dan minyak urapan adalah mengubah keadaan suci ditransformasikan menjadi ranah ilahi Allah, artinya memasuki ranah kudus.

Dengan demikian, muncul pertanyaan, mengapa Imamat 8:11 terlebih dahulu menjelaskan pengudusan, baru setelah itu Imamat 8:14-5 menjelaskan penyucian? Mengapa tidak disucikan dahulu barulah pengudusan? Banyak peneliti menjelaskannya memakai teori kritik sumber, bahwa penulis Imamat menambahkan ayat 14-15 kemudian, tetapi saya percaya bahwa Imamat 8:14-15 adalah sebuah ritual pengorbanan untuk mendirikan sebuah model, untuk menunjukkan bahwa korban bakaran di masa depan juga harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang disebutkan dalam 8:14-17, bukan untuk menjelaskan hubungan urutan antara penyucian dan pengudusan.

Darah yang dijelaskan dalam Imamat 8:14-15 juga melambangkan serta menunjuk ke depan kepada darah Kristus, menyucikan tempat kudus Allah bagi kita, membersihkan hidup kita, kecemaran dosa kita telah memutuskan hubungan kita dengan Allah, tetapi darah Kristus adalah membangun persekutuan kita dengan Allah, menghilangkan kotoran kenajisan yang disebabkan oleh dosa.

Renungkan:
Apakah Anda menghargai penyucian yang telah dilakukan Kristus bagi Anda, ataukah kita menyalahgunakan kasih karunia anugerah Allah?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.