Tag Archives: Surat Efesus

Efesus 1:3

「Terpujilah Allah」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:3 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Seluruh paragraf Efesus 1:3-14 terdiri dari serangkaian kata ganti dan kata sifat, merupakan kalimat dengan struktur yang kompleks, berisi beberapa klausa subordinat. Tidak mudah dianalisis dengan jelas yang membuat proses memahami bagian ini menjadi sulit, dan memiliki tantangan tertentu.

Namun di sisi lain, dapat kita pastikan bahwa Paulus ingin mengungkapkan inti sari penting yang terintegrasi dalam kalimat kompleks ini. Pertama-tama ia memakai metode himne pujian Ibrani, di klausa pertama ia mengungkapkan garis besar pujian ini, dan kemudian memasukkan detail dan alasan pujian dalam klausa subordinat berikutnya.

Di ayat 3 ini Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga, Paulus memakai beberapa kata yang saling berkaitan untuk mengungkapkan tema (garis besar) dari pujian ini, menunjukkan bahwa Allah adalah sumber dari segala kasih karunia. Bahasa asli kata pujian (Εὐλογητὸς eulogetos), mengaruniakan (εὐλογήσας eulogísas), dan berkat (εὐλογίᾳ eulogia) memiliki akar kata yang sama. Di satu sisi, mereka dapat memiliki efek paralel dalam pengucapan, dan di sisi lain, mereka juga menghubungkan terpujilah Allah saling berkait erat dengan telah mengaruniakan, ini juga mencerminkan format dasar himne dalam Perjanjian Lama.

Pujian (Εὐλογητὸς eulogetos) pada dasarnya merupakan kata sifat, dan pada frasa pertama ini tidak ada kata kerja, sehingga frasa pertama dapat diartikan sebagai sebuah deklarasi bahwa Allah memang layak terpuji. Namun di dalam himne ini, pembukaan yang berbentuk pengumuman deklarasi ini memiliki efek memanggil, mengajak para pembaca untuk menaikkan pujian sebagai respons atas seruan ini, maka banyak terjemahan menggunakan kata kiranya pujian untuk mengungkapkan makna ajakan ini (ITB sangat sesuai memakai bentuk ajakan terpujilah).

Pujian adalah ditujukan kepada Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang menunjukkan hubungan antara kita dan Allah. Allah adalah Bapa dari Yesus Kristus, dan Yesus Kristus adalah Tuhan kita, menyatakan bahwa melalui Yesus Kristus, kita dapat pergi kepada Allah dan menyembah Dia, ini adalah pesan penting dalam surat Efesus.

Di paruh kedua ayat ini, Paulus dengan sederhana dan kuat menunjukkan mengapa Allah layak dipuji. Pertama-tama ia memakai sebuah kata bentuk partisip untuk menunjukkan bahwa Allah adalah pemberi anugerah. Dengan kata lain, kita memuji Allah bukan karena kita mampu memberi Dia sesuatu, tetapi karena Dia sudah memberi anugerah kepada kita, kita hanya menanggapi kasih karunia Allah.

Ayat ini lebih jauh menggambarkan apa yang Allah telah berikan kepada kita yakni segala berkat rohani di dalam sorga. Dalam urutan teks bahasa aslinya, pertama-tama ditunjukkan bahwa yang diberikan Tuhan adalah beraneka ragam (πάσῃ pasē) berkat, ini memiliki makna komprehensif menyeluruh. Meskipun dalam ayat-ayat selanjutnya dicantumkan beberapa contoh penting, namun apa yang diungkapkan di sini sangat komprehensif dan kaya melimpah.

Kata sifat yang mengikuti selanjutnya dan juga frasa kata sifat yang mengikuti, memiliki efek saling menjelaskan secara timbal balik. Paulus menunjukkan bahwa karunia yang Allah berikan kepada kita adalah rohani dan surgawi. Ini bukan untuk menyangkal bahwa Allah memberi kita berkat jasmani, tetapi untuk menekankan karunia di dalam Kristus bersifat melampaui segalanya, dan itu tidak akan dibatasi oleh berkat jasmani dan berkat materi. Di antaranya, di dalam sorga diawali dengan preposisi, ditambah akar kata ini telah mengungkapkan sifat surgawi, yang jelas memiliki efek penekanan. Oleh karena itu, sebagian orang akan menafsirkannya sebagai di sorga yang tinggi, untuk mengungkapkan sifat transendensi (sifat melampaui segalanya) dari karunia-karunia ini .

Terakhir, ayat ini menunjukkan bahwa karunia Allah ini dianugerahkan kepada kita di dalam Kristus. Di satu sisi, ini mengungkapkan sifat perantara Yesus Kristus, dan di sisi lain, itu berarti bahwa kita menikmati karunia-karunia ini hanya dalam hubungan persatuan kita dengan Yesus Kristus. Pekerjaan Allah bagi kita diselesaikan melalui Yesus, sehingga kita dapat menikmati kelimpahan karunia ini di dalam Dia.

Renungkan:
Terpujilah Allah, dan kasih karunia-Nya berlimpah. Biarlah hidup kita bersaksi tentang Dia.

(Tambahan penerjemah: Kita menikmati karunia-karunia rohani sorgawi yang berkelimpahan, yang hanya dianugerahkan kepada kita di dalam hubungan persatuan kita dengan Yesus Kristus. Demikian juga pekerjaan Allah bagi kita yang diselesaikan-Nya melalui Yesus. Memnag sepatutnya kita hidup dengan penuh rasa syukur dan kesadaran bahwa tanpa Tuhan kita Yesus Kristus maka tidak ada segala kelimpahan tersebut. Ambillah satu atau dua komitmen bagaimana Anda hendak mengekspresikan bahwa Tuhan Yesus merupakan Peran utama dalam aktifitas kita, Ia bukan merupakan prioritas sampingan di antara kesibukan? Soli Deo Gloria.)

(Catatan terjemahan asli: Seluruh paragraf Efesus 1:3-14 terdiri dari serangkaian kata ganti relatif (relative pronouns, kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan dua kalimat dan menerangkan kata benda, misal: who, whom, whose, which, that) dan partisip (participle, merupakan turunan dari kata kerja, yang biasanya digunakan sebagai kata sifat). Merupakan kalimat kompleks yang berisi beberapa klausa subordinat. Di antara banyak klausa subordinat, sintaksisnya tidak mudah dianalisis dengan jelas. Hubungan tersebut membuat penafsiran dari bagian ini menjadi sulit, dan analisis struktural juga menimbulkan tantangan tertentu.)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 1:1-2

「Oleh kehendak Allah」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:1-2 [ITB])
1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. 2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Dalam renungan bulan ini, kita akan memikirkan berita dari Surat Efesus pasal 1-3. Meskipun Efesus adalah kitab yang relatif pendek, namun menyampaikan berita yang mengandung teologis yang sangat kaya, dengan penekanan khusus pada sifat dan misi gereja. Struktur surat ini secara kasar dapat dibagi menjadi dua bagian: pasal 1 sampai 3 menggunakan dua doa sebagai kerangka untuk menggambarkan secara rinci keselamatan yang telah digenapkan oleh Allah dalam Kristus Yesus, terutama mendeskripsikan secara mendalam sifat dari komunitas orang yang diselamatkan. Renungan bulan ini akan bertolak dari bagian pertama ini (pasal 1-3) untuk merefleksikan karya tindakan Tuhan di dalam gereja, berharap melalui perenungan atas anugerah Allah yang kaya ini, kita akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kehendak Allah.

Ayat Alkitab yang diambil untuk renungan ini untuk setiap hari relatif singkat, sehingga dalam bagian pembacaan ayat yang direnungkan akan menyertakan teks sebelum dan sesudahnya, sehingga saudara dan saudari bisa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang alur konteks dari ayat yang direnungkan.

Efesus 1:1-2 merupakan bagian pembukaan surat ini. Di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, sebuah surat biasanya dengan sangat sederhana menjelaskan situasi penulisan, tetapi dalam surat Paulus, kita dapat mengamati pendapat dia tentang penulis surat dan kelompok penerima surat, membuat kita dapat melihat pandangan iman yang diekspresikan di dalamnya.

Pertama, Paulus menunjukkan bahwa dirinya sebagai rasul Kristus Yesus, itu adalah oleh kehendak Allah. Dalam pasal 1 surat Efesus ini berulang empat kali menggunakan kata kehendak Allah, mencerminkan bahwa ini adalah tema di dalam surat ini yang dipandang penting oleh Paulus. Di sini selain memperkenalkan identitasnya, di ayat 1:5 dia menunjukkan sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, kita telah ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus; lalu ayat 1:9 menunjukkan bahwa karena kehendak Allah sehingga memungkinkan kita untuk mengenal rahasia kehendak-Nya; dan ayat 1:11 menunjukkan: sesuai dengan keputusan kehendak Allah, kita yang dari semula ditentukan Dia untuk menerima bagian warisan di dalam Kristus. Dengan kata lain, identitas dan misi seorang Kristen semuanya memiliki dasar kehendak Allah.

Dari segi penerima surat, karena beberapa salinan manuskrip kuno tidak mencantumkan kata Efesus, maka surat ini juga memiliki fungsi sebagai surat edaran. Meskipun kita memiliki alasan yang sangat kuat untuk percaya bahwa kata Efesus ini ada dalam surat aslinya, namun hal ini membuat kita juga memperhatikan bahwa terdapat pesan yang bersifat universal dalam surat ini yang tidak melulu tertuju pada masalah-masalah gereja di Efesus, tetapi membahas makna Gereja secara lebih umum dan realisasi misi yang diberikan Allah kepada gereja. Di sini Paulus menggunakan dua kata sifat untuk menggambarkan penerima surat. Pertama-tama, penerima surat ini adalah kata kudus, dalam Perjanjian Baru, kata sifat ini biasanya diterjemahkan sebagai orang-orang kudus, yang mencerminkan bahwa orang Kristen adalah sekelompok orang yang telah dikuduskan. Aspek kedua, penerima surat dideskripsikan sebagai orang percaya dalam Kristus Yesus (atau setia kepada Kristus Yesus lihat BIMK, ISH, CUV). Terjemahan LuZhenzhong adalah orang yang setia percaya, sedangkan terjemahan Studium Biblicum adalah orang yang percaya kepada Kristus Yesus. Terjemahan yang berbeda ini karena dalam bahasa aslinya, πιστός pistós bisa berarti kesetiaan dan juga iman. Secara umum, ketika konteksnya membahas beberapa tugas atau misi, kata tersebut seharusnya merujuk pada arti kesetiaan, tetapi dalam konteks di sini tidak secara jelas membahas tugas tanggung jawab, jadi mungkin di sini tepat juga untuk menerjemahkannya sebagai percaya / beriman. Di sisi lain, identitas seorang kudus bisa juga mengandung arti tugas dan misi, sehingga bisa juga memiliki arti kesetiaan. Kenyataannya, kesetiaan dan iman adalah konsep yang tidak bisa dipisahkan, kesetiaan tanpa iman itu buta, dan iman tanpa kesetiaan itu munafik.

Akhirnya, Paulus menyapa dengan cara standarnya. Kasih karunia adalah sapaan secara Yunani, dan damai sejahtera adalah sapaan secara Yahudi. Salam Paulus sepenuhnya mencerminkan konsep universal tentang keselamatan, komunitas baru yang didirikan oleh Yesus Kristus melintasi batas budaya. Kasih karunia Tuhan tidak terbatas, dan semua orang adalah pihak yang Dia ingin selamatkan.

Renungkan:
Kiranya kita memahami kehendak Tuhan dan kita sesuai dengan kasih karunia-Nya mengabarkan keselamatan Yesus Kristus kepada manusia di dunia.

Tambahan penerjemah: Oleh karena kehendak Allah yang cakupannya lintas budaya, tidak hanya terbatas pada satu bangsa atau satu budaya saja, bagaimana kita sesuai kehendak Allah memberitakan kehendak Allah kepada dunia yang berbeda budaya, berinteraksi dengan dunia yang ada di sekitar kita, namun tetap menjaga keutuhan identitas dan iman kita sebagai orang kudus yang πιστός pistós percaya dan yang setia kepada Yesus Kristus?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

22 Maret – MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Berjalan seperti Anak-anak Terang

Oleh
Colonel Rodney S. Walters
Territorial Commander The Salvation Army
Singapore, Malaysia, Myanmar & Thailand Territory
Penerjemah: Team WMC

Efesus 5:8-14

8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14 Itulah sebabnya dikatakan:
“Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Renungan
Ketika bertanya kepada orang-orang yang saya temui: “Bagaimana kabarmu?” Saya sering bertemu dengan sejumlah respon yang biasa saja; “Tidak buruk!” “Lakukan yang terbaik!” “Berusaha memenuhi kebutuhan!” “Bertahan saja!”

Bisa dibilang cara memandangnya cenderung setengah gelas kosong daripada setengah gelas penuh!

Kehidupan bagi banyak orang tampaknya melelahkan, tanpa perspektif sukacita saat ini untuk waktu dekat. Kita kekurangan pengharapan untuk keluar dari mempertahankan status quo, dibandingkan dengan hidup dalam kepenuhan Tuhan!

Paulus, dalam suratnya kepada gereja di Efesus, benar-benar berusaha untuk mendorong orang-orang Kristen baru untuk bangkit dari penganiayaan pada hari itu, untuk menjadi orang-orang yang hidup dengan harapan yang sebenarnya yang diberikan Yesus kepada anak-anak-Nya.

Ketika kita telah menerima karunia keselamatan, kita hidup, bukan dalam kegelapan yang dilihat dunia sebagai hal yang normal, melainkan sebagai orang-orang yang hidup dalam harapan bersinar atas hidup kekal. Kita memiliki Roh Kudus yang hadir di dalam hidup kita untuk membimbing dan mengarahkan kita setiap hari.

Kata-kata Paulus, cukup demonstratif, “Bangun, tidurlah, dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bersinar atasmu,” terdengar seruan seperti perang kepada orang-orang yang bermimpi di siang hari yang dihabiskan bersama dengan bayangan di sini dan sekarang!

Ketika saya mengemudi jarak jauh di malam hari, saya bersyukur atas lampu depan, dan jika keadaan mengizinkan, dengan lampu besar. Perbedaan antara keduanya adalah signifikan dan memberikan area visi dan kepercayaan diri yang lebih besar.

Saya diingatkan bahwa ketika saya mengambil waktu untuk membaca Firman Tuhan dan merenungkannya, maka cahaya-Nya menyinari jalan saya. Catatan Pemazmur; Mazmur 119: 105 ‘Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku!”

Masa Prapaskah ini memberi saya waktu untuk merenungkan dan menilai kembali ekspresi hidup saya dan cahaya yang saya miliki dalam perjalanan saya bersama Yesus!

Doa
Tuhan Allah, kadang-kadang aku terjebak dengan kemauan dan cara dunia dan lupa bahwa aku adalah anak-Mu, dan bahwa Engkau telah memberi saya harapan melebihi diriku sendiri. Tolong aku untuk sadar atas semua yang Engkau lakukan di dalam dan di sekitarku, supaya aku tidak pernah akan berakhir hanya melihat bayang-bayang, melainkan sadar akan cahaya terang-Mu yang mengubah dan menerangi jalanku. Aku berterima kasih kepada-Mu untuk mengasihiku dan mengingatkanku untuk berserah, menerima, dan mengikuti-Mu ke mana pun Engkau menuntunku. Dalam Nama-Mu yang tak tertandingi dan Suci, Yesus, aku berdoa. Amin.

Tindakan
Temukan cara untuk menyinarkan harapan ke dalam kehidupan seseorang setiap hari!
Lakukan saat teduh pagi hari ketika bangun tidur untuk merenungkan kata-kata Mazmur 118:24
“Ini adalah hari yang Tuhan buat;
aku akan bersukacita dan bergembira karenanya.”

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

Efesus 6:10-20, 21-24

「Menjadi Orang yang Teguh」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-24 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
21 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu. 22 Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. 23 Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. 24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Kita tidak bermaksud menjelaskan bagian berkat dan salam di ayat 21 – 24, meskipun terdapat beberapa topik berharga untuk dibahas. Silahkan membaca keempat ayat tersebut.

Efesus 3:14-21 (3) telah berbicara tentang subjek 「Teguh dan Hati Kasih」 memiliki beberapa bagian diulang dalam bagian akhir tulisan Paulus ini yang merupakan fokus perikop hari ini, yakni 「menjadi orang yang teguh.」

Di Ef. 6:10 Paulus mengatakan: 「Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.」 Kata 「akhirnya」 dalam CUVT diterjemahkan bahwa Paulus mengatakan 「kata-kata terakhir.」 「Terakhir」 tidak berarti bahwa itu adalah kata-kata yang belum pernah disebutkan sebelumnya dan disimpan sampai bagian terakhir, tetapi dia berpikir bahwa ini adalah bagian yang paling penting, jadi harus diulangi lagi sebelum mengakhiri tulisannya. Di Ef. 3:14-16 yang merupakan paragraf terakhir dari doktrin yang ia bicarakan, ia telah membuat seruan yang sama, dan dengan kaya emosi dia berkata 「14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, … supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu」

Ia di Ef. 3:16 memohon kepada Bapa untuk membuat kita kuat melalui Roh Kudus; Ef. 6:10 dikatakan bahwa kita harus menjadi kuat dengan mengandalkan Tuhan Kristus. Kita melihat di antaranya Allah Tri-Tunggal Maha Esa yakni Bapa, Anak, Roh Kudus. Doa Paulus adalah agar orang percaya Efesus dapat menjadi kuat dengan bantuan Allah.
Kita hendaknya menjadi orang yang kuat, hanya orang-orang kuat yang dapat mewujudkan misi Injil, hidup membawakan kesaksian Injil.

Orang modern lemah dalam tekad adalah fakta yang tak terbantahkan. Masyarakat Hong Kong ini lebih dari 10 tahun berada dalam suasana yang sangat rendah, orang sepanjang hari menghela nafas, mengeluh; atau penuh permusuhan, di mana-mana mencari kambing hitam. Beberapa tidak bisa berpikiran terbuka, lebih memilih mati untuk menghindari kesulitan, angka-angka bunuh diri sangat tinggi. Banyak komentator sosial telah menunjukkan bahwa situasi sekarang bukan yang paling sulit, setidaknya jauh lebih baik daripada tahun 50, 60, tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan daerah sekitar. Namun, setelah puluhan tahun masa tenang, orang-orang Hong Kong telah sangat berkurang kemampuannya untuk menahan stres kesulitan, emosi mereka telah sepenuhnya dikontrol oleh lingkungan eksternal, mereka belum mampu membuat ruang bagi pikiran mereka untuk menghadapi kesulitan.

Masalah lemahnya tekad tidak terkecuali juga terdapat diantara orang Kristen. Pada kenyataan, budaya gereja berubah sesuai dengan tren zaman, makin lama makin sensual dan berorientasi pasar, memperhatikan tanggapan emosional langsung dari penonton, tidak lagi memandang penting pertukaran yang mendalam atas pikiran. Meletakkan iman Kristen berdasarkan perasaan emosional, mentransmisikan iman melalui perasaan, perasaan dianggap inti pesan beritanya, orang percaya berjalan mengikuti perasaan. Orang Kristen menjadi terbiasa membuktikan iman dengan perasaan dan pengalaman, jika ada perasaan maka itu dianggap kebenaran, jika tidak ada perasaan, walaupun itu benar maka dianggap tidak relevan, setidaknya aku tidak merasakan, maka kebenaran itu bukan urusan saya. (Iman yang mengandalkan emosional perasaan adalah labil, jika secara sensual saya merasa senang maka saya taat, jika perasaan saya tidak senang maka saya tidak taat kepada Allah, perasaan tidak membuat iman yang tahan banting segala kondisi)

Saya tidak bermaksud meremehkan nilai dari perasaan, atau mempertentangkan antara perasaan dan tekad, tapi jika ada tidak ada pengetahuan yang kuat dan didukung keinginan tekad yang kuat, hanya mengandalkan perasaan kuat saja tidak akan dapat tidak bertahan lama. Jika kita mengharapkan suatu iman yang kuat, iman yang dapat menanggung kehidupan kita dan membantu kita melalui naik turunnya hari-hari kehidupan, kita harus memiliki tiga kombinasi: pengetahuan, perasaan, tekad, yakni dibangun di atas dasar pengetahuan dan tekad yang kuat.

Menjadi seorang yang kuat kokoh, melatih tekad yang kuat dapat membantu kita lebih efektif menaati Allah. Makin memiliki tekad yang kuat, makin lebih bisa taat kepada Allah, ini adalah sebuah paradoks.

Menurut akal sehat, kita selalu berpikir bahwa ketaatan adalah melepaskan tekad keinginan pribadi; seorang yang tidak begitu kuat tekadnya akan lebih cenderung untuk menyerah dan taat kepada Allah, dan seorang yang kuat tekadnya akan melawan Allah. Tetapi kebenaran adalah sebaliknya: hanya mereka yang kuat tekadnya yang dapat meletakkan tekad mereka secara total dan menaati Allah. Seorang yang lemah tekadnya, tidak akan mampu sungguh-sungguh taat kepada Tuhan.

Mengapa ada kondisi yang kontradiksi ini? Alasannya sangat sederhana, tindakan meletakkan melepaskan tekad keinginan, itu sendiri akan memerlukan kemauan yang kuat, orang yang tidak kuat tekadnya tidaklah dapat memenuhi tuntutan ketaatan. Hambatan terbesar dari ketaatan bukanlah tekad keinginan individu, tetapi tubuh dan perasaan. 「Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya」 (Rom. 8:7) Hanya individu yang kuat tekadnya barulah mampu mengatasi tubuh daging. Pertama-tama ketaatan dari tekad pribadi, dan kemudian memiliki tekad yang lebih besar. 「Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya …」 (1 Kor. 9:27)

Pasukan militer adalah demikian keadaannya: fokus pelatihan militer adalah untuk menempa mereka memiliki tekad yang kuat, tahan banting, tidak takut kesulitan, tidak takut bahaya; tetapi tentara sangat memandang penting ketaatan, perintah atasan militer dijunjung setinggi gunung, harus ditaati, ada tidak ada ruang untuk membantah. Hal yang sama juga bagi pasukan rohani, Paulus memerintahkan orang percaya untuk memakai senjata militer yang diberikan Allah, menjadi prajurit gagah yang setia, meminta mereka untuk bergantung kekuatan Tuhan 「hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.」

Kiranya kita bisa menjadi orang yang teguh dalam zaman ini, mempertahankan iman kita, mewujudkan panggilan kita, dan menjadi pasukan elit rohani dari Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda berpikir tekad Anda sudah cukup? Anda bisa menahan hati Anda dan mewujudkan kebenaran yang kita terima ke dalam praktek hidup? Bagian mana dalam hidup Anda yang merupakan tempat yang paling rentan?

2. Pikirkan tentang Surat Efesus yang telah kita baca bulan ini, apa yang Anda dapatkan terbesar? Perubahan apa yang Anda perkirakan setelah memahami Firman Tuhan?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20 (4)

「Makna Peperangan Rohani (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Merujuk kepada ajaran Alkitab tentang peperangan rohani, berita utama yang disampaikan ada tiga, yang pertama adalah jangan termakan trik tipu muslihat Setan yang disampaikan kemarin. Hari ini akan melanjutkan dua yang lain.

Berita kedua, kita harus merebut kembali orang yang terhilang dari kamp Iblis.
Selain waspada mempertahankan diri tidak ditipu oleh Iblis; Alkitab menuntut lebih lanjut, bahwa sekarang kita telah melihat dengan jelas trik Iblis, maka kita dapat membantu orang lain untuk melepaskan diri dari belenggu setan, meninggalkan gelap dan datang kepada Terang, kepada Yesus Kristus.

Paulus dalam 2 Kor. 10:4-5 berkata 「4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng …」Inilah sikap dan tujuan pelayanan Paulus, dia adalah seorang yang berani, tetapi ia tidak bergerak tanpa persiapan, tidak bertindak mengandalkan darah dan daging; tugasnya adalah untuk membawa orang-orang ke hadapan Kristus, memecahkan hambatan yang menghalangi orang memiliki pemahaman iman. Apa yang ia maksudkan dengan benteng-benteng? Adalah kesombongan diri manusia, meninggikan diri, membandingkan diri sebagai Tuhan, menolak Allah selain diri sendiri. Paulus mengatakan hendak 「… mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah」 (2 Kor. 10:5a), oleh sebab itu dalam ayat-ayat selanjutnya ia mengatakan bahwa ia tidak mau memuji diri, tetapi barangsiapa bermegah hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Paulus meminjam gambaran peperangan, mengatakan pekerjaannya adalah sedang menerobos benteng berkubu Iblis dan merebut hati orang untuk kembali kepada Kristus, 「menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus」 (2 Kor. 10:5b). Ini juga merupakan peperangan rohani yang kita harus terlibat di dalamnya. Memberitakan Injil, menyelamatkan jiwa-jiwa adalah peperangan rohani.

Berita ketiga, kita adalah prajurit Kristus Yesus, dan kita setia kepada Dia dan bertugas melayani-Nya. 「… agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara」 (Ef. 6:19-20). Di sini kita perhatikan bagaimana Paulus bertekad untuk hidup bagi pemenuhan rencana Kristus dan membayar harga termasuk mengorbankan nyawa.

Hampir semua gambaran peperangan di dalam Alkitab justru bukan menunjukkan kepada siapa kita harus mengadakan perlawanan, tetapi menunjukkan bahwa kita harus berusaha keras bagi Tuhan dan mendedikasikan diri untuk mencapai misi Injil yang diberikan-Nya.

Perikop ini menggunakan gambaran seorang prajurit. Ini adalah gambaran yang umum digunakan Paulus (atau juga 「teman seperjuangan」), seperti Filipi 2:25; Filemon 1; 2 Tim 2:3-4. Paulus pada tahun-tahun akhirnya juga menyebutkan kata 「perang」 dalam surat-surat penggembalaan, 1 Tim. 1:18; 6:12; 2 Tim. 4:7, seperti dalam ITB diterjemahkan sebagai kata 「perjuangan, pertandingan」 yang memiliki makna memenangkan perlombaan, dapat berarti kemenangan dalam perlombaan, atau kemenangan dalam pertandingan bela diri, bukan perang sesungguhnya secara harfiah.

Orang Kristen harus memiliki kesadaran atas perang spiritual, memiliki tekad untuk menjadi seorang prajurit rohani yang baik, tetapi tidak membawa permusuhan menghadapi dunia, apalagi menghadapi orang dengan membawa penyangkalan atas diri orang lain, konfrontasi, membuat kehancuran dan merusak. Kita adalah anak-anak perdamaian, pemberita Injil damai sejahtera, dan Injil yang mendorong orang untuk didamaikan dengan Allah. Ya, kita berada dalam lingkungan yang bermusuhan terhadap iman kita, tetapi kita hanya dapat membalas kebencian orang dengan cinta kasih, mengulurkan tangan persahabatan kepada orang yang memusuhi kita, dengan demikian barulah Injil dapat sampai kepada mereka. Kasih adalah esensi dari Allah, inti dari Injil, dan semangat utama penginjilan.

Ada peneliti yang berkata bahwa melihat bahasa perang yang digunakan dalam bagian ini, banyak orang keliru percaya bahwa Paulus memanggil orang percaya untuk 「menyatakan perang」(waging war), tetapi pada kenyataannya Paulus memanggil kita untuk 「menyatakan perdamaian」(wager peace). Memberitakan Injil adalah sarana utama peperangan rohani, dalam Surat Efesus pasal 2, Paulus menekankan bahwa tema Injil adalah perdamaian berbaikan dan apa yang kita beritakan adalah Injil damai sejahtera. Bagaimana bisa orang-orang yang memberitakan pesan kedamaian bisa menjadi pembunuh?

Renungkan:

1. Apakah Anda disebut anak perdamaian di mata orang? Apakah pernah ada orang yang pernah menggambarkan Anda sebagai agresif, konfrontatif dan tidak ramah?

2. Apakah Anda merasa sulit untuk memberitakan Injil kedamaian dalam lingkungan yang bermusuhan? Dapatkah Anda memikirkan tentang ruang di mana perdamaian memiliki pijakan dan pengembangan di dunia Anda hidup?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20 (3)

「Makna Peperangan Rohani (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Alkitab menyebutkan peperangan rohani. Sebenarnya tidak ada perang yang sesungguhnya, perang memerlukan dua pihak, tetapi Allah tidak perlu memulai peperangan untuk melawan Setan. Setan hanya merupakan malaikat yang jatuh, hanyalah ciptaan, antara Tuhan Pencipta dan ciptaan terdapat celah yang sedemikian lebar, Setan tidak memiliki syarat dan kemampuan untuk bertempur melawan Allah. Yesus Kristus hanya perlu menyatakan kemenangan-Nya, itu saja sudah memukul kalah Iblis. (Kiranya kita mengandalkan kuasa Allah dan tidak perlu takut melawan Iblis)

Sedangkan manusia, tidak bisa dengan darah daging pergi berperang dengan Iblis, dan Alkitab meminta kita untuk tidak dikalahkannya. 「Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu」 (Ef. 6:13) 「Perlawanan」dan「 tetap berdiri teguh」adalah yang dua permintaan yang paling penting.

Dengan demikian ini, konsep peperangan rohani tidak bisa dipahami secara harfiah. Di dalam Alkitab terdapat gambaran tentang peperangan rohani, yang terutama menyampaikan tiga pesan:

Pertama, kita harus hati-hati waspada atas tipu muslihat atau trik Iblis, dan jangan sampai ditawan olehnya. 「Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis」(Ef. 6:10-11)

Iblis adalah penipu, dan Alkitab di beberapa tempat menyebut 「tipu muslihat」 dari Iblis. Tapi kita tidak bisa oleh karena demikian itu lalu berasumsi bahwa dia banyak akal, licik berkemampuan hebat, membuat orang tidak bisa bertahan atas dia. Alkitab tidak mengatakan begitu. Kita harus berjaga terhadap penipuan Setan, penipuannya adalah sesuatu yang kita sepenuhnya dapat kita kenali, dan sepenuhnya punya kepastian bisa mencegah tertipu, tanpa perlu IQ kecerdasan tinggi, hanya perlu iman dan kesabaran. Ayat ini merujuk perlengkapan senjata yang harus dipakai dan tidak ada satupun syarat tentang kecerdasan.

Paulus menekankan: supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya (2 Kor. 2:10-11). Trik tipu muslihat Iblis memiliki pola yang tetap: segala sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan di antara orang percaya, perpecahan gereja, semuanya menjadi kesempatan bagi Iblis, yang ia pakai untuk merusak Gereja dan pelayanan Injil, karena itu semua ini mungkin adalah trik Iblis. Paulus menasihati orang percaya agar tidak marah kepada orang untuk waktu yang lama, dan tidak melakukan dosa ketika mereka marah, itulah yang dikatakan dalam Ef. 4:27 「janganlah beri kesempatan kepada Iblis.」 Kita tidak mengatakan bahwa jika ada perselisihan di antara orang percaya, atau jika ada individu yang marah, maka itu adalah hal dari Iblis; tetapi dikatakan bahwa semua perselisihan dapat dimanfaatkan oleh Setan untuk menghancurkan kehidupan rohani kita dan menghancurkan hubungan antar anggota tubuh Kristus.

Dalam bahasa penulisan Paulus, Iblis dan Setan adalah simbol yang sering dipakai, menyamakan semua pelaku kejahatan, seperti para rasul palsu, guru palsu, menyimpang dari kebenaran, merusak kehidupan, dan kehilangan keselamatan. Paulus memperhitungkan semua krisis rohani yang mungkin terjadi atas diri Iblis (1 Tes. 2:6-7 aalah contoh yang baik).

Kita tidak perlu bertanya apa saja tindakan yang datang dari Setan, karena Iblis mewakili semua kejahatan dan korup, segala hal atau orang yang menghasilkan yang jahat dan merusak, walaupun tidak langsung disebabkannya tetapi adalah yang disambut olehnya dengan senang. Setan memiliki berbagai macam serangan terhadap orang-orang percaya, selama dapat membuat efek merusak iman, maka itulah serangannya. Dalam pengalaman pribadinya, Paulus menyebutkan salah satunya adalah kelemahan tubuh (2 Kor 12:7-10).

Jika trik tipu muslihat Iblis memiliki pola yang tetap, perlawanan kita memiliki cara yang tetap. Prinsip dasarnya adalah bahwa kita harus menentang apa pun yang didukung oleh musuh. Kita jangan pernah melakukan apa pun yang Setan senang lihat. Cara yang dipakai Iblis adalah kebencian, maka kita menolak untuk membalas kebencian dengan kebencian, tetapi dengan cinta kasih membalas kebencian; cara yang dipakai Iblis adalah dusta, maka kita harus mampu mengatasinya dengan kejujuran. Jika kita tidak melakukan apa yang dilakukan Iblis, kita tidak akan jatuh dalam trik tipu muslihat Iblis. Membalas kebencian dengan kebencian adalah tipuan Iblis, dan dengan cinta kasih membalas kebencian adalah keberhasilan menghadapi Iblis.

Otoritas dan kemampuan Iblis adalah terbatas, dan dia tidak bisa menang melawan Allah; maka, selama kita mematuhi Allah, Setan tidak mampu melakukan apapun untuk membahayakan kita (1 Yoh. 5:18).

Ini adalah makna yang Paulus katakan dalam surat Efesus pasal enam tentang mengenakan perlengkapan senjata Allah. Kebenaran, keadilan, damai sejahtera, iman, keselamatan, Firman Tuhan, semua ini adalah senjata pertahankan yang menjaga kita dari musuh dan dari bahaya. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan berkonfrontasi dengan Iblis namun tidak akan dicelakainya.

Renungkan:

1. Dalam materi renungan ini tidak dijelaskan tentang kebenaran, keadilan, damai sejahtera, iman, keselamatan, Firman Tuhan, arti dari enam perlengkapan senjata Allah, tapi ini dapat kita dimengerti tidak akan salah. Berpikir tentang satu atau dua dari antaranya dan pikirkan bagaimana Anda dapat dilengkapi dalam hidup?

2. Makna yang paling penting dari perlengkapan senjata Allah adalah penekanan pada kekuatan spiritual dalam menghadapi peperangan rohani, bukan pada darah daging dan kuasa manusia. Renungkan bagaimana bisa Anda lebih mengandalkan kekuatan rohani dalam hidup dan pelayanan?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20 (2)

「Menolak Satanisasi」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Paulus berseru kepada kita untuk memperhatikan hal-hal rohani. 「Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara」 (Ef. 6:12)

Dunia fisik bukanlah satu-satunya, selain yang terlihat dengan mata telanjang ada dunia roh. Dua dunia ini bukan saling tidak relevan, dan di belakang semua yang dialami manusia dan relasi, terdapat unsur-unsur dalam alam roh. Perkelahian (perebutan) di antara manusia, tidak peduli dalam politik, ekonomi, sosial atau budaya, di balik itu terdapat peperangan bersifat roh. Politik merupakan medan perang dari peperangan roh, pendidikan adalah medan peperangan roh, dan media adalah platform perang dari dunia roh. Kita tidak dapat melihat dengan mata telanjang, pikiran yang dibelenggu oleh naturalisme (paham yang menolak supranatural) gagal untuk memahaminya, tapi kita yang memiliki mata rohani memahami kenyataan asli dari alam roh.

Pengakuan adanya peperangan rohani dan dunia roh memiliki setidaknya dua implikasi bagi kita:

Pertama, dalam menghadapi berbagai konflik manusia atau penganiayaan sosial, kita harus tahu bahwa ini sebenarnya adalah peperangan rohani. Kita bukan melawan manusia (darah dan daging), tetapi berperang dengan kekuatan roh jahat yang ada di belakang.

Sebagai contoh, ketika memberitakan Injil dan melaksanakan iman, kita sering menghadapi permusuhan atau serangan dengan niat jahat dari orang lain. Dalam dunia pasca Kristen (setelah kekristenan bukan menjadi acuan nilai, cara pandang dunia, budaya cara hidup yang dominan) orang berprasangka terhadap kekristenan, menghina kebenaran-kebenaran Alkitab, dan menghujat Allah dan menista kekudusan sebagai kegembiraan. Dalam menghadapi orang-orang seperti itu, kita sering percaya bahwa mereka adalah musuh iman, kadang-kadang tidak dapat menahan diri sehingga juga melakukan pembalasan mata ganti mata: mereka memandang kita sebagai ular jahat, kita juga menganggap mereka sebagai ular beludak; saling membenci.

Paulus menunjukkan bahwa kita harus dapat melihat bahwa di balik permukaan konflik antar manusia adalah peperangan rohani sebagai sifat asalinya. Mereka yang menyerang orang yang beriman kepada Kristus hanya merupakan alat yang dipergunakan iblis untuk menghancurkan misi Injil. Setanlah yang merupakan musuh kebenaran, sumber dari semua tindakan permusuhan yang diderita orang Kristen di dunia.

Orang sering salah memahami ajaran Paulus di sini, berpikir bahwa karena pertempuran dalam dunia ini adalah peperangan rohani, maka musuh di bumi disamakan dengan iblis, dan itu menjadi kebiasaan untuk memandang orang sebagai iblis, menghakimi pihak lawan, termasuk pikiran dan tindakannya semua sebagai penjelmaan setan. Dalam dunia politik, hal ini biasa bagi negara-negara yang berlawanan memandang pihak musuh sebagai perwujudan setan dan memandang operasi militer mereka sendiri sebagai 「perang suci」 yang dilakukan bagi langit. Dalam kehidupan sehari-hari, permusuhan dua kutub seperti ini tidak jarang; terutama dalam masyarakat yang terpecah secara serius atau yang kurang toleransi, berbagai wacana penuh kebencian yang memandang orang dan berbagai hal sebagai perwujudan iblis membanjiri media dan jaringan sosial.

Ajaran Paulus justru adalah berlawanan dengan pemahaman yang salah di atas. Kita tahu bahwa ada dunia roh dan peperangan rohani, maka terlebih lagi kita tidak boleh tertuju khusus kepada siapa pun di dunia, jangan menganggap mereka sebagai musuh, apalagi memandang mereka adalah iblis. Musuh kita yang sebenarnya adalah setan, bukan siapa pun.

Ya, siapa pun dapat digunakan oleh iblis untuk menjadi alatnya, tetapi mereka tidak menjadi inkarnasi setan. Ketika saya masih kecil, ibu saya sering mencegah saya pergi ke gereja, dan tindakan yang menghancurkan iman saya mungkin menjadi kesempatan bagi iblis untuk mengambil keuntungan. Tapi apakah ibu saya menjadi setan? Tentu saja tidak. Jika dia menjadi iblis, apakah saya masih mencintainya dan mengabarkan Injil kepada dia? Saya tidak suka setan, tapi aku cinta ibu, dia tidak pernah objek kebencian saya.

Ketika Petrus mencegah Yesus agar tidak disalibkan, Yesus menegur dia sebagai setan; Tetapi Petrus tidak karena demikian lalu menjadi Iblis, tetapi ia tetap adalah murid yang dikasihi Yesus.

Pemahaman atas peperangan rohani, membuat kita tahu musuh yang sebenarnya, sehingga kita tidak memandang orang sebagai iblis, tetapi juga memahami dan empati atas kebodohan mereka, mereka tidak tahu bahwa mereka telah menjadi alat-alat Iblis, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yunus memandang orang Niniwe sebagai iblis, tetapi Tuhan melihat mereka sebagai orang-orang bodoh yang tidak tahu membedakan tangan kanan kiri mereka, dan Allah mengasihi mereka.

Kedua, harus memakai cara-cara rohani dalam menghadapi peperangan rohani, tidak ada gunanya memakai cara darah dan daging, harus menggunakan hikmat rohani, untuk mengenali tipu muslihat iblis, dan dengan bantuan Roh Kudus melawan musuh, yang akan diuraikan dalam renungan besok.

Renungkan:

1. Apakah kita pernah salah memahami Alkitab? Apakah Anda pernah memandang orang-orang dan hal-hal tertentu sebagai iblis? Jika ada, datanglah di hadapan Allah untuk introspeksi diri, dan bertekad untuk tidak memandang orang dengan cara yang demikian lagi.

2. Dapatkah kita memakai visi dan pikiran Paulus, walau berada di dunia fisik, namun mampu melihat dari perspektif rohani, dapat melihat kekekalan dalam dunia sementara ini, dapat melihat kenyataan rohani dalam dunia kasat mata manusia ini? (Untuk memperhatikan hal-hal rohani dalam kehidupan ini, tidak hanya peduli urusan dunia kasat mata saja.)


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20

「Siapakah Setan?」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Tema perikop Alkitab ini adalah peperangan rohani dan perlengkapan senjata. Karena dalam gereja terdapat pandangan yang bias, maka kita akan berfokus menjelaskan konsep dan merujuk ayat lain Alkitab.

Terlebih dahulu kita mendiskusikan nama sebutan setan. 「Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara」 (Ef. 6:12).

Paulus menjelaskan Setan adalah kekuatan yang jahat, yang memusuhi orang Kristen, menyebabkan berbagai jenis kehancuran. Ia meminjam kata-kata yang sering dipakai masyarakat Qumran, menyebutkan Setan sebagai 「porne」 (πόρνη diterjemahkan sebagai percabulan) (1 Kor. 6:15); juga menyebutnya sebagai 「ilah zaman ini」 (2 Kor. 4:4), 「penguasa kerajaan angkasa」 (Ef. 2:2), 「penghulu-penghulu dunia yang gelap ini」 (Ef. 6:12). Beberapa sebutan ini bukan mengatakan bahwa setan memiliki kuasa otonom yang berdiri merdeka dari Tuhan, menjadi saingan Tuhan, bukan mengatakan setan benar-benar menguasai bidang meluas di langit (udara), bumi (dunia) dan dunia bawah (dunia yang gelap), tetapi hanya menekankan setan adalah kekuatan gelap yang melawan cahaya.

Semua hal yang merusak kehidupan pribadi orang percaya dan menghancurkan hubungan dalam komunitas dan misi Injil (1 Tes. 3:5), semuanya menurut Paulus adalah perbuatan setan. Ia menasihati suami dan istri untuk tidak sering berpisah kamar, agar jangan tidak tahan bertarak dan setan mengambil kesempatan menggodai mereka (1 Kor. 7:5); ia menasihati agar penilik jemaat mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis (1 Tim. 3:7); gagalnya rencana dia mengunjungi jemaat Tesalonika juga adalah halangan dari setan (1 Tes. 2:18). Oleh karena itu, sebutan 「setan」 dalam pikiran Paulus adalah sangat luas, belum tentu sebuah objek yang tetap, tetapi umumnya merujuk kepada semua penghalang, tidak ideal, situasi buruk. Hal-hal yang baik adalah terkait dengan Tuhan, tapi hal-hal buruk berhubungan dengan setan. Bagi Paulus, siapa pun dan apapun di dunia yang menyebabkan efek yang menghancurkan Injil, merupakan alat Iblis (2 Kor. 11:14-15; 2 Tes. 2:9), atau yang terjerat Iblis terikat pada kehendaknya (2 Tim 2:26).

Jika hal-hal baik terkait Tuhan, dan hal-hal buruk terkait setan, apakah Paulus berpegang pada teori dualisme, atau dua kekuatan yang saling bertentangan? Setan memang tidak diragukan adalah simbol dari segala kejahatan, tetapi tidak berarti bahwa ia adalah sumber bebas segala kejahatan, tidak berarti bahwa ia dapat bertindak secara merdeka bebas dari Tuhan. Sesuai dengan pandangan orang Yahudi, Paulus percaya bahwa setan dalam kuasa penuh Tuhan, harus terikat perintah-perintah Allah. Setan di bawah izin dan bahkan dalam perintah Allah, barulah dapat memainkan peran menggodai orang percaya, meningkatkan kesulitan dalam memenuhi misi dan ketika mereka jatuh tetap harus menanggung konsekuensi dari dosa.

Dunia adalah milik Tuhan, manusia juga milik Allah, tetapi karena kejahatan manusia, dosa karena manusia sehingga masuk ke dalam dunia, dunia tampak sepertinya tidak lagi berada di bawah yurisdiksi kekuasaan Allah dan menjadi wilayah kuasa yurisdiksi setan, manusia menjadi seperti tawanan setan, dikontrol iblis mendengarkan perintahnya. 「Seluruh dunia berada di tangan orang jahat」 (1 Yoh. 5:19). Yesus menyebutkan iblis 「penguasa dunia」 (Yoh. 12:31; 14:30). Namun, hal ini tidak berarti bahwa dunia diduduki oleh iblis dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Kedaulatan atas dunia ini masih di dalam tangan Tuhan, sama seperti manusia masih di bawah pemeliharaan Allah. Yesus menyatakan: 「Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.」(Yoh. 12:31-32).

Ketika orang-orang kembali kepada Yesus Kristus, itu adalah saat iblis dilemparkan ke luar. Ketika murid-murid kembali dengan sukacita dan mengatakan kepada-Nya bahwa mereka telah menyelesaikan misi Injil yang Ia telah serahkan kepada mereka, Yesus mengatakan Dia melihat Iblis jatuh dari langit (Luk. 10:18), dan keberhasilan pemberitaan Injil itu adalah kegagalan Iblis. Maka semua perbuatan memberitakan Injil adalah tindakan mengusir iblis.

Renungkan:

1. Apakah Anda peka akan keberadaan hal-hal di dunia roh? Atau pikiran kita telah dikuasai paham bahwa semuanya hanyalah alam natural, hal-hal roh hanyalah omong kosong?

2. Apakah Anda memiliki pengalaman langsung dari kekuatan jahat di dunia? Sebagai contoh, kamuflase dan tindakan Iblis di bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya hari ini, bagaimana pandangan pribadi Anda?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:21-6:9 (2)

「Etika Rumah Tangga (2) Orangtua – Anak」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Selain suami dan istri, dua hubungan dasar keluarga adalah orangtua-anak, dan tuan dan hamba.

Dalam hubungan orangtua dan anak, Paulus pertama-tama meminta anak untuk menaati orangtua, ini merupakan pengajaran penting dalam 10 hukum di Perjanjian Lama. Ia terlebih menunjukkan status istimewa dari perintah ini, bahwa dalam 10 hukum hanya perintah menaati kedua orang tua yang diikuti dengan janji, menjelaskan bahwa orang yang menaatinya akan mendapatkan faedah (Ef. 6:3 「supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi」), sedangkan 9 perintah lainnya tanpa janji.

Dalam 10 hukum, 9 perintah lain dinyatakan dalam kalimat tanpa syarat. Jangan membunuh, jangan mencuri, merupakan instruksi ringkas sederhana, tidak ada penjelasan bahwa dalam keadaan apa pembunuhan atau pencurian dapat diterima, dan tidak ada petunjuk apa hukumannya jika melanggarnya. Semua perintah tidak menunjukkan manfaat jika ditaati, atau kerugian jika tidak dipatuhi; dapat dikatakan bukanlah perintah yang bersifat jasa dan berkat. Hanya perintah menghormati orang tua saja yang dinyatakan akan membawa manfaat jika dipatuhi.

Bagi orang Tionghoa, berbakti kepada orang tua adalah hal paling utama dari semua perilaku moral, maka terhadap perintah Paulus ini akan merasa 「sudah sepatutnya.」 Juga setuju jika orang yang menghormati orangtua akan mendapatkan umur panjang. Hanya ada sedikit kontroversi tentang pemberi umur kehidupan, apakah merupakan berkat khusus supranatural dari Allah bagi orang yang berbakti kepada orangtua, ataukah karena hal alamiah jika menaati orangtua dapat menghindari berbuat kesalahan dan mengurangi risiko dalam hidup mereka?

Tuntutan dalam 10 hukum bersifat satu arah, hanya berbicara tentang sikap anak kepada orangtua; sedangkan permintaan Paulus bersifat dua arah, ia juga berbicara tentang bagaimana orangtua memperlakukan anak. Dia mengingatkan orangtua 「… janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan」 (Ef. 6:4).「Didik」 dan 「mengajarkan」 adalah dua tanggung jawab dasar orangtua yang tidak dapat dipisahkan. Paulus meminta orangtua memberikan 「ajaran」 dari Tuhan yang dapat dibagi menjadi pelajaran yang mendorong (apa yang harus dilakukan) dan larangan (apa yang tidak boleh dilakukan). Dalam pengajaran hubungan dua arah ini, Paulus menonjolkan posisi Allah, perintah dua arah ini harus dilakukan sesuai dengan standar Allah. (「1 … taatilah orang tuamu di dalam Tuhan … 4 didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan」)

「Jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu」 adalah nasehat pengajaran yang kaya makna, juga sangat kontemporer, dan psikologi pendidikan hari ini sejalan dengan permintaan ini. Relasi keluarga tidak bisa emosional, pengajaran yang efektif adalah menghindari konflik dan perlawanan dari anak yang menyebabkan penolakan mendengarkan nasihat. Oleh karena itu, berikan hormat yang cukup kepada anak, dengan sikap damai memberikan pelajaran dan kewaspadaan.

Berbicara hubungan tuan-hamba, ajaran Paulus cukup sederhana dan jelas: hamba taat kepada tuan, dan tuan memperlakukan hamban dengan baik.

Hamba hendaknya memiliki hati yang hormat, dengan jujur menaati instruksi tuannya sebagaimana ia menaati Kristus. Mereka bukan hanya melakukan pekerjaan asal secara luar terlihat baik; tetapi sama luar dan dalam, melayani dengan sukarela, seperti menaati kehendak Tuhan.

Tuan hendaknya memperlakukan dengan baik, kasih, tidak menindas hamba. Paulus mengingatkan: 「Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka」 (Ef. 6:9) Di dunia ada perbedaan status, di surga tidak ada, Tuhan memperlakukan semua orang sama; jika kita menindas yang lemah, maka harus siap menghadapi penghakiman kelak. Inti ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam khotbah di bukit: bagaimana Anda memperlakukan orang, dan bagaimana juga Tuhan memperlakukan Anda.

「Setiap orang … kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan」 (Ef. 6:8) Semua yang telah kita lakukan di dunia mempunyai efek di hari akhir, perbuatan baik akan mendapat upah baik dan balasan buruk bagi perbuatan jahat. Karena 「ada pembalasan」 maka harus waspada bertindak.

Kita tahu bahwa hamba Romawi kuno hampir seperti budak, dan hubungan antara tuan-hamba jauh lebih bersifat menindas, lebih tidak adil dan tidak manusiawi dibandingkan hubungan pemberi kerja dengan pekerja pada hari ini. Di sini Alkitab bukan dalam konteks mendorong kita menghilangkan perbedaan kelas ini, tetapi menghendaki orang Kristen mengubah hubungan antar kelas sosial ini (pekerja dan pemberi kerja), dan dengan sudut pandang iman untuk menafsirkan dan mengatur relasi dua arah ini. Sejarah mengatakan bahwa penggulingan kelas sosial lama yang sudah ada tidak berarti penghapusan ketidaksetaraan, tetapi hanya akan membangkitkan kelas sosial yang baru, yang ditindas menjadi penindas, penindasan dan eksploitasi masih tetap ada.

Paulus tidak mengajarkan kita untuk membuang hubungan hamba-tuan, tetapi untuk memeriksa kembali hubungan itu dalam perspektif Yesus Kristus. Sebagai hamba hendaknya memakai sikap melayani Yesus Kristus untuk melayani tuan; yang sebagai tuan hendaknya tahu bahwa tuan dan hamba memiliki satu Tuan yang sama, yaitu Yesus Kristus. Tuan hendaknya melihat Yesus Kristus pada diri hamba, dan hamba hendaknya melihat Yesus Kristus pada diri tuan. Kita perlu menemukan Kristus dalam hubungan dan peran antar manusia di dunia.

Tanggung jawab etis juga merupakan tanggung jawab iman, semua praktek-praktek etis adalah membuat nyata iman.

Renungkan:

1. Pendidikan anak-anak hari ini jika tidak terlalu ketat atau terlalu longgar, bagaimana ajaran-ajaran Alkitab dapat memperbaiki kekurangan ini?

2. Dapatkah Anda menemukan Kristus dalam tanggung jawab dan hubungan antar personal yang utama Anda? Apakah Anda menganggap pemenuhan tanggung jawab di dunia pada saat yang sama juga merupakan praktek iman?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:21-6:9

「Etika Rumah Tangga (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Perikop ini adalah pengajaran tentang etika keluarga. Jika iman itu dibuat kenyataan, maka pertama-tama harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, dan secara alami keluarga adalah yang paling penting.

Dalam masyarakat kuno, keluarga memiliki fungsi menghasilkan produksi dan mewariskan pengetahuan, jadi setidaknya ada tiga hubungan dasar antar personal, yaitu suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta tuan dan hamba. Ini persis merupakan tiga pasang hubungan yang dicakup dalam perikop ini. Paulus secara terpisah mengingatkan kedua pihak dalam setiap hubungan.

Paulus terlebih dahulu berbicara tentang hubungan antara suami dan istri. Tidak seperti masyarakat Cina yang meletakkan prioritas utama pada hubungan vertikal ayah-anak, Alkitab menekankan bahwa orang harus meninggalkan orang tua mereka, dan bersatu dengan istri, jadi hubungan horisontal merupakan prioritas tertinggi.
Tuntutan Paulus kepada suami dan istri adalah sederhana dan jelas: suami harus mengasihi isterinya dan isteri harus taat kepada suami.

Manusia modern menuntut persamaan dan menolak terhadap kata ketaatan, sehingga mereka tidak menyukai perkataan Paulus agar istri taat kepada suaminya. Banyak orang berusaha membuat cair doktrin yang secara implisit lebih mengutamakan laki-laki, mencoba untuk membawa kata 「saling rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain」 Ef. 5:21 untuk menutupi 「istri tunduklah kepada suami」di ayat Ef. 5:22, mengklaim bahwa ketundukan adalah dua arah, istri tunduk pada suami, suami juga tunduk istrinya.

Tapi Paulus selanjutnya memakai analogi suami dan istri dalam hubungan antara Kristus dan Jemaat, yang menunjukkan bahwa istri tunduk kepada suaminya sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, dan ketundukan ini adalah tanpa syarat 「dalam segala sesuatu」 (Ef. 5:24). Ini telah membuat pemikiran tersebut menjadi buntu, apakah Kristus dan Jemaat harus tunduk satu sama lain? Apakah Kristus harus tunduk kepada Gereja? Tidak ada keraguan bahwa Paulus berbicara tentang ketundukan dalam hubungan suami-istri adalah dalam satu arah.

Namun apakah permintaan Paulus ini tidak adil? Ya, itu sangat tidak adil. Tapi itu bukan tidak adil terhadap perempuan sebagaimana pendapat paham Feminisme, tapi sangat tidak adil kepada laki-laki. Karena ketika Paulus meminta istrinya untuk tunduk pada suaminya, Paulus meminta kepada suami mengasihi istrinya, membayar semua harga untuk istrinya dan bahkan mengorbankan dirinya seperti Kristus telah mengorbankan hidupnya bagi Gereja. Kita berpikir, hubungan antara Kristus dan Jemaat, siapa yang membayar harga lebih banyak, Kristus atau Gereja? Jika hubungan antara suami dan istri adalah sama seperti demikian, maka suami harus meletakkan segalanya bagi istrinya tanpa syarat.

Saya sering berkata kepada para saudari 「jika ada orang bersedia berkorban hidup bagi Anda, bukankah tidak terhitung direndahkan jika Anda tunduk kepadanya?」
Bagaimanapun juga, tidak peduli berapa banyak orang mengkritik Paulus sebagai seorang yang mengutamakan laki-laki, mengkiritk bahwa ajarannya tidak adil dan ketinggalan zaman. Saya percaya bahwa ini adalah cara tunggal bagi pernikahan yang berhasil. Tanpa prinsip dasar ini, tidak ada yang bisa sukses menjaga hubungan suami istri.

Pria mungkin bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam pernikahan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada mengabaikan istri. Ketidakpedulian dan mati rasa dari seorang pria adalah kejahatan pertama. Sebelum pernikahan, orang dapat sangat menghargai pacar dan tunangannya, setelah menikah memandang pihak lain sebagai sudah sepatutnya demikian, bukan tidak mencintainya lagi, tapi merasa kurang perlu sedemikian diperhatikan dan dilindungi. Pokoknya sudah menikah, sekarang adalah waktu untuk membangun karir, pikiran hanya ditempatkan dalam pekerjaan, urusan keluarga dihadapi seadanya saja sudah cukup. Namun, istri dari muda sampai usia tua, membutuhkan pengakuan dari seorang suami dalam relasi, perlu untuk mengungkapkan kasih sayang dalam tindakan nyata, untuk melindunginya, sehingga istri merasa aman, merasa dicintai. Alkitab mengingatkan suami untuk mengasihi istri-istri mereka, untuk merawat mereka, dan untuk mengasihi istri sampai pada tahap mengorbankan hidup diri sendiri.

Perempuan bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam perkawinan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menjadi pengomel. Sebelum pernikahan, wanita selalu menurut seperti burung kecil, tetapi setelah menikah mudah untuk menjadi banyak mengomel. Perempuan biasanya lebih kuat dalam berbicara dan ekspresi emosional daripada laki-laki, setelah pernikahan, karena kebutuhan sehari-hari, kehidupan yang berat, wanita berubah sangat mudah membuat hal-hal kecil menjadi besar, mengomel tiada henti. Ditambah dengan pikiran suami sebagian besar ditempatkan pada karier, setelah pulang rumah merasa lelah dan tidak banyak bicara, sampai pada titik istri merasa tidak perlu berdiskusi dengan suaminya, istri menjadi pengambil keputusan utama dalam segala hal, sehingga posisi suami dalam keluarga lebih terpinggirkan, hubungan antara suami dan istri menjadi hubungan ibu-anak. Alkitab mengingatkan istri untuk mengontrol lidahnya agar tidak menjadi pengomel, mengendalikan dorongan untuk menjadi bossy dalam segala hal, belajar untuk tunduk pada suami.

Selama suami terus mengasihi istrinya berkorban baginya, maka sebagai istri melanjutkan ketundukan kepada suaminya, perkawinan akan kuat seperti terbuat dari besi, tidak terpecahkan.

Selain keselamatan, keluarga yang bahagia adalah hadiah yang paling indah yang diberikan oleh Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda percaya bahwa keluarga adalah sebuah tempat penting dalam mempraktekan iman? Apa tekad Anda untuk hal ini?

2. Jika Anda telah menikah, pertimbangkan bagaimana Anda dapat meningkatkan hubungan suami – istri Anda dengan ajaran-ajaran Paulus. Jika Anda tidak belum menikah, silahkan aplikasikan kasih, berkorban dan ketundukan pada relasi cinta Anda.


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.