Tag Archives: participle

Efesus 4:15-16

Dibangun dalam kejujuran kebenaran

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 4:15-16 [ITB])
15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Kita sebutkan di teks sebelumnya atas bahwa kita perlu bertumbuh dalam iman, ayat 4:15-16 juga menunjukkan bahwa kita perlu bertumbuh dalam hidup. Paulus menunjukkan bahwa alih-alih seperti anak kecil terombang-ambing oleh angin bidat dunia, kita malah seharusnya dengan mengatakan kebenaran di dalam kasih (ἀληθεύοντες alētheuontes) (terjemahan IMB), demikian juga versi Mandarin CUV dan RCUV menerjemahkan partisip ini sebagai ekspresi ucapan, meskipun ini adalah arti yang lebih menonjol dan umum digunakan dari kata ini, penggunaan kata ini tidak terbatas pada ucapan. Dalam Amsal 21:3, partisip ini diterjemahkan kata kerja bahasa Yunani diterjemahkan sebagai keadilan, menunjukkan bahwa ini mengungkapkan kebenaran keadilan dalam tindakan. Oleh karena itu, ITB menerjemahkan kalimat ini sebagai teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, sedangkan NET menerjemahkannya sebagai practicing the truth in love (mempraktikkan kebenaran dalam kasih). Oleh karena itu, di satu sisi, kita perlu berbicara dengan kebenaran, dengan kejujuran, dan mengaplikasikan ayat ini dengan kasih dan kejujuran menasihati mereka yang melakukan kesalahan, tetapi pada saat yang sama, kita perlu menunjukkan kebenaran dalam hidup kita dan mempraktikkan kebenaran dan keadilan.

Paulus juga mengingatkan kita bahwa berbicara dan melakukan kebenaran seperti itu harus didasarkan pada kasih. Kita tidak bisa hanya mempraktikkan atau berbicara kebenaran untuk diri kita sendiri dan mengabaikan kasih, toleransi, dan pendirian orang lain. Terutama ketika berbicara tentang kebenaran, kita perlu memperhatikan beberapa hal: pertama-tama, kita harus mendengarkan dengan saksama, di satu sisi, kita mungkin karena tidak mendengar dengan saksama sehingga secara tidak sengaja salah menilai apa yang sebenarnya, tetapi yang lebih penting, kita perlu mendengar dengan jelas apa masalah dan kebutuhan orang lain yang sebenarnya, jangan sampai kita menempatkan beban kebenaran pada orang lain; kedua, kita perlu konsisten dengan kata-kata dan perbuatan kita, dan berbicara kebenaran dengan sikap yang membangun orang lain, bukan untuk membuktikan diri kita benar dan orang lain salah; ketiga, kebenaran yang sama dapat memiliki cara ekspresi yang berbeda untuk mengungkapkan kebenaran dengan kata-kata yang lembut akan memiliki dampak yang lebih positif; terakhir, kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah Sumber utama dan Penjaga kebenaran, dan kita perlu memiliki hati untuk bersandar pada Tuhan dan percaya pada kasih karunia dan belas kasihan-Nya.

Tujuan kita berbicara kebenaran dalam kasih adalah agar kita bertumbuh menuju Kristus dalam segala hal, dan melekat pada Kristus, Sang Kepala. Meneladani Yesus Kristus dan menghubungkan hidup kita dengan-Nya adalah arah pertumbuhan hidup bagi orang percaya. Ini bukan hanya tentang pertumbuhan pribadi, tetapi pertumbuhan seluruh komunitas gereja. Kesehatan dan stabilitas suatu komunitas tergantung pada kondisi anggota yang paling lemah. Tentu saja, kita tidak dapat benar-benar menumbuhkan diri kita sendiri, apalagi orang lain, seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Jadi kita perlu dengan setia melakukan yang terbaik untuk tugas kita, berpengharapan, membuat kita tumbuh.

Terakhir, 4:16 menggambarkan pertumbuhan gereja sebagai pertumbuhan tubuh. Seluruh tubuh seolah-olah dihubungkan oleh otot dan urat, menjadikannya pribadi yang kuat dan perkasa, dan semua anggota tubuh di dalamnya dapat berfungsi secara normal dan saling bekerja sama menjadi satu tubuh yang bergerak bebas. Meskipun gereja terdiri dari banyak orang yang berbeda dengan karunia yang berbeda, kesatuan gereja harus seperti tubuh orang dewasa, menunjukkan kekayaan kasih karunia Allah.

Renungkan:
Bagaimana kita bisa menghadapi kesalahan zaman ini dengan kebenaran, dan pada saat yang sama membangun satu sama lain dengan kasih?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 1:3

「Terpujilah Allah」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:3 [ITB])
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Seluruh paragraf Efesus 1:3-14 terdiri dari serangkaian kata ganti dan kata sifat, merupakan kalimat dengan struktur yang kompleks, berisi beberapa klausa subordinat. Tidak mudah dianalisis dengan jelas yang membuat proses memahami bagian ini menjadi sulit, dan memiliki tantangan tertentu.

Namun di sisi lain, dapat kita pastikan bahwa Paulus ingin mengungkapkan inti sari penting yang terintegrasi dalam kalimat kompleks ini. Pertama-tama ia memakai metode himne pujian Ibrani, di klausa pertama ia mengungkapkan garis besar pujian ini, dan kemudian memasukkan detail dan alasan pujian dalam klausa subordinat berikutnya.

Di ayat 3 ini Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga, Paulus memakai beberapa kata yang saling berkaitan untuk mengungkapkan tema (garis besar) dari pujian ini, menunjukkan bahwa Allah adalah sumber dari segala kasih karunia. Bahasa asli kata pujian (Εὐλογητὸς eulogetos), mengaruniakan (εὐλογήσας eulogísas), dan berkat (εὐλογίᾳ eulogia) memiliki akar kata yang sama. Di satu sisi, mereka dapat memiliki efek paralel dalam pengucapan, dan di sisi lain, mereka juga menghubungkan terpujilah Allah saling berkait erat dengan telah mengaruniakan, ini juga mencerminkan format dasar himne dalam Perjanjian Lama.

Pujian (Εὐλογητὸς eulogetos) pada dasarnya merupakan kata sifat, dan pada frasa pertama ini tidak ada kata kerja, sehingga frasa pertama dapat diartikan sebagai sebuah deklarasi bahwa Allah memang layak terpuji. Namun di dalam himne ini, pembukaan yang berbentuk pengumuman deklarasi ini memiliki efek memanggil, mengajak para pembaca untuk menaikkan pujian sebagai respons atas seruan ini, maka banyak terjemahan menggunakan kata kiranya pujian untuk mengungkapkan makna ajakan ini (ITB sangat sesuai memakai bentuk ajakan terpujilah).

Pujian adalah ditujukan kepada Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang menunjukkan hubungan antara kita dan Allah. Allah adalah Bapa dari Yesus Kristus, dan Yesus Kristus adalah Tuhan kita, menyatakan bahwa melalui Yesus Kristus, kita dapat pergi kepada Allah dan menyembah Dia, ini adalah pesan penting dalam surat Efesus.

Di paruh kedua ayat ini, Paulus dengan sederhana dan kuat menunjukkan mengapa Allah layak dipuji. Pertama-tama ia memakai sebuah kata bentuk partisip untuk menunjukkan bahwa Allah adalah pemberi anugerah. Dengan kata lain, kita memuji Allah bukan karena kita mampu memberi Dia sesuatu, tetapi karena Dia sudah memberi anugerah kepada kita, kita hanya menanggapi kasih karunia Allah.

Ayat ini lebih jauh menggambarkan apa yang Allah telah berikan kepada kita yakni segala berkat rohani di dalam sorga. Dalam urutan teks bahasa aslinya, pertama-tama ditunjukkan bahwa yang diberikan Tuhan adalah beraneka ragam (πάσῃ pasē) berkat, ini memiliki makna komprehensif menyeluruh. Meskipun dalam ayat-ayat selanjutnya dicantumkan beberapa contoh penting, namun apa yang diungkapkan di sini sangat komprehensif dan kaya melimpah.

Kata sifat yang mengikuti selanjutnya dan juga frasa kata sifat yang mengikuti, memiliki efek saling menjelaskan secara timbal balik. Paulus menunjukkan bahwa karunia yang Allah berikan kepada kita adalah rohani dan surgawi. Ini bukan untuk menyangkal bahwa Allah memberi kita berkat jasmani, tetapi untuk menekankan karunia di dalam Kristus bersifat melampaui segalanya, dan itu tidak akan dibatasi oleh berkat jasmani dan berkat materi. Di antaranya, di dalam sorga diawali dengan preposisi, ditambah akar kata ini telah mengungkapkan sifat surgawi, yang jelas memiliki efek penekanan. Oleh karena itu, sebagian orang akan menafsirkannya sebagai di sorga yang tinggi, untuk mengungkapkan sifat transendensi (sifat melampaui segalanya) dari karunia-karunia ini .

Terakhir, ayat ini menunjukkan bahwa karunia Allah ini dianugerahkan kepada kita di dalam Kristus. Di satu sisi, ini mengungkapkan sifat perantara Yesus Kristus, dan di sisi lain, itu berarti bahwa kita menikmati karunia-karunia ini hanya dalam hubungan persatuan kita dengan Yesus Kristus. Pekerjaan Allah bagi kita diselesaikan melalui Yesus, sehingga kita dapat menikmati kelimpahan karunia ini di dalam Dia.

Renungkan:
Terpujilah Allah, dan kasih karunia-Nya berlimpah. Biarlah hidup kita bersaksi tentang Dia.

(Tambahan penerjemah: Kita menikmati karunia-karunia rohani sorgawi yang berkelimpahan, yang hanya dianugerahkan kepada kita di dalam hubungan persatuan kita dengan Yesus Kristus. Demikian juga pekerjaan Allah bagi kita yang diselesaikan-Nya melalui Yesus. Memnag sepatutnya kita hidup dengan penuh rasa syukur dan kesadaran bahwa tanpa Tuhan kita Yesus Kristus maka tidak ada segala kelimpahan tersebut. Ambillah satu atau dua komitmen bagaimana Anda hendak mengekspresikan bahwa Tuhan Yesus merupakan Peran utama dalam aktifitas kita, Ia bukan merupakan prioritas sampingan di antara kesibukan? Soli Deo Gloria.)

(Catatan terjemahan asli: Seluruh paragraf Efesus 1:3-14 terdiri dari serangkaian kata ganti relatif (relative pronouns, kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan dua kalimat dan menerangkan kata benda, misal: who, whom, whose, which, that) dan partisip (participle, merupakan turunan dari kata kerja, yang biasanya digunakan sebagai kata sifat). Merupakan kalimat kompleks yang berisi beberapa klausa subordinat. Di antara banyak klausa subordinat, sintaksisnya tidak mudah dianalisis dengan jelas. Hubungan tersebut membuat penafsiran dari bagian ini menjadi sulit, dan analisis struktural juga menimbulkan tantangan tertentu.)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.