Tag Archives: Peperangan Rohani

11 April 2019 ● Kamis Minggu Kelima Pra Paskah

Berjuang demi Kekudusan … Allah kita adalah api yang menghanguskan

Ibrani 12:14-29
14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. 17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
18 Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, 19 kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka, 20 Sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: “Bahkan jika binatang pun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu.” 21 Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: “Aku sangat ketakutan dan sangat gementar.” 22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, 23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, 24 dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel.
25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? 26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” 27 Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. 28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. 29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Renungan

Dunia yang kita tinggali saat ini menawarkan banyak godaan yang tidak suci untuk memikat kita dari kehidupan yang disucikan untuk Tuhan: pornografi dan pelacuran yang mudah diakses, gaya hidup pribadi yang berlebihan, berjudi dalam banyak bentuk dan tempat, mungkin bahkan menyamar dengan lapisan kehormatan. Tetapi bukan hanya pencobaan tidak bermoral yang berusaha untuk menggoda kita. Kita tergoda oleh cara-cara dunia. Cara dunia melakukan hal-hal yang berbeda jauh dengan cara Tuhan, tetapi begitu banyak dari kita memilih cara dunia dalam bisnis dan bahkan dalam Gereja. Kadang-kadang cara kita berurusan dengan staf gereja, misionaris dan pendeta, cara kita membuat keputusan, cara kita merencanakan, tidak ada hubungannya dengan rahmat atau Tuhan.

Perikop hari ini mengakui bahwa di Gereja, ada orang-orang yang gagal mendapatkan anugerah Allah. Orang-orang ini mungkin ada di gereja pada hari Minggu, mungkin bahkan melayani di pelayanan, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Mereka tetap berada di luar Kerajaan-Nya.

Bahkan di dalam umat Tuhan, mereka yang mengenal Tuhan, mungkin ada “akar kepahitan” yang menyebabkan pertikaian dan menyebarkan racun. Misalnya, satu pemimpin gereja dapat menjelek-jelekkan pemimpin lain atau gereja lain, atau membuat klaim yang dirancang untuk mempromosikan diri sendiri atau gerejanya sambil meremehkan gereja lain. Orang-orang mungkin tampak suci dari luar, tetapi di dalam batin mereka tidak suci dan mereka membahayakan Gereja secara keseluruhan. Bisakah mereka melanjutkan apa yang mereka lakukan?

Perikop hari ini mengingatkan kita bahwa kita sudah menjadi warga “Kerajaan yang tidak dapat digoyahkan!” Kerajaan ini diperintah oleh Yesus Hakim yang adil yang akan membuat segalanya menjadi benar, yang akan mengguncang bumi dan langit. Sebagai warga negara Kerajaan ini dan sebagai pihak yang akan menghadapi Hakim yang benar ini, kita harus berjuang untuk kekudusan, menjadi kudus seperti Allah kita yang adalah kudus. Tuhan mengijinkan kita untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya. Jadi kita perlu mengejar kekudusan, itu tidak berjalan dengan mudah. Tidak mudah dengan adanya godaan dunia ini.

Tetapi hidup kudus itu, persembahan tubuh kita, itulah ibadah kita yang dapat diterima berkenan. Apa lagi yang dapat kita tawarkan?

Doa

Ya Tuhan, Bapa surgawi, saya tahu bahwa saya kadang-kadang tersesat. Saya tidak selalu memilih cara-Mu. Saya tahu Engkau ingin saya menjadi lebih baik, menjadi suci. Jadi tolonglah saya berjuang demi kekudusan, agar saya tidak menolak Engkau atau cara-Mu, agar saya bersyukur karena menerima Kerajaan yang tidak dapat digoyahkan. Biarkan saya tidak terguncang oleh cara-cara dunia ini. Tetapi biarkan saya menjadi suci, seperti Engkau adalah kudus.

Tindakan
Pertimbangkan apakah ada bagian dari hidup Anda yang tidak kudus dan bertobatlah! Tinggalkan semua kehidupan tidak sesuai moral dan tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat Anda lakukan untuk menjadi lebih suci.

Oleh
Rev Dr Chiang Ming Shun
Dean of Students and Lecturer in Church History
Trinity Theological College

Efesus 6:10-20 (4)

「Makna Peperangan Rohani (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Merujuk kepada ajaran Alkitab tentang peperangan rohani, berita utama yang disampaikan ada tiga, yang pertama adalah jangan termakan trik tipu muslihat Setan yang disampaikan kemarin. Hari ini akan melanjutkan dua yang lain.

Berita kedua, kita harus merebut kembali orang yang terhilang dari kamp Iblis.
Selain waspada mempertahankan diri tidak ditipu oleh Iblis; Alkitab menuntut lebih lanjut, bahwa sekarang kita telah melihat dengan jelas trik Iblis, maka kita dapat membantu orang lain untuk melepaskan diri dari belenggu setan, meninggalkan gelap dan datang kepada Terang, kepada Yesus Kristus.

Paulus dalam 2 Kor. 10:4-5 berkata 「4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng …」Inilah sikap dan tujuan pelayanan Paulus, dia adalah seorang yang berani, tetapi ia tidak bergerak tanpa persiapan, tidak bertindak mengandalkan darah dan daging; tugasnya adalah untuk membawa orang-orang ke hadapan Kristus, memecahkan hambatan yang menghalangi orang memiliki pemahaman iman. Apa yang ia maksudkan dengan benteng-benteng? Adalah kesombongan diri manusia, meninggikan diri, membandingkan diri sebagai Tuhan, menolak Allah selain diri sendiri. Paulus mengatakan hendak 「… mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah」 (2 Kor. 10:5a), oleh sebab itu dalam ayat-ayat selanjutnya ia mengatakan bahwa ia tidak mau memuji diri, tetapi barangsiapa bermegah hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Paulus meminjam gambaran peperangan, mengatakan pekerjaannya adalah sedang menerobos benteng berkubu Iblis dan merebut hati orang untuk kembali kepada Kristus, 「menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus」 (2 Kor. 10:5b). Ini juga merupakan peperangan rohani yang kita harus terlibat di dalamnya. Memberitakan Injil, menyelamatkan jiwa-jiwa adalah peperangan rohani.

Berita ketiga, kita adalah prajurit Kristus Yesus, dan kita setia kepada Dia dan bertugas melayani-Nya. 「… agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara」 (Ef. 6:19-20). Di sini kita perhatikan bagaimana Paulus bertekad untuk hidup bagi pemenuhan rencana Kristus dan membayar harga termasuk mengorbankan nyawa.

Hampir semua gambaran peperangan di dalam Alkitab justru bukan menunjukkan kepada siapa kita harus mengadakan perlawanan, tetapi menunjukkan bahwa kita harus berusaha keras bagi Tuhan dan mendedikasikan diri untuk mencapai misi Injil yang diberikan-Nya.

Perikop ini menggunakan gambaran seorang prajurit. Ini adalah gambaran yang umum digunakan Paulus (atau juga 「teman seperjuangan」), seperti Filipi 2:25; Filemon 1; 2 Tim 2:3-4. Paulus pada tahun-tahun akhirnya juga menyebutkan kata 「perang」 dalam surat-surat penggembalaan, 1 Tim. 1:18; 6:12; 2 Tim. 4:7, seperti dalam ITB diterjemahkan sebagai kata 「perjuangan, pertandingan」 yang memiliki makna memenangkan perlombaan, dapat berarti kemenangan dalam perlombaan, atau kemenangan dalam pertandingan bela diri, bukan perang sesungguhnya secara harfiah.

Orang Kristen harus memiliki kesadaran atas perang spiritual, memiliki tekad untuk menjadi seorang prajurit rohani yang baik, tetapi tidak membawa permusuhan menghadapi dunia, apalagi menghadapi orang dengan membawa penyangkalan atas diri orang lain, konfrontasi, membuat kehancuran dan merusak. Kita adalah anak-anak perdamaian, pemberita Injil damai sejahtera, dan Injil yang mendorong orang untuk didamaikan dengan Allah. Ya, kita berada dalam lingkungan yang bermusuhan terhadap iman kita, tetapi kita hanya dapat membalas kebencian orang dengan cinta kasih, mengulurkan tangan persahabatan kepada orang yang memusuhi kita, dengan demikian barulah Injil dapat sampai kepada mereka. Kasih adalah esensi dari Allah, inti dari Injil, dan semangat utama penginjilan.

Ada peneliti yang berkata bahwa melihat bahasa perang yang digunakan dalam bagian ini, banyak orang keliru percaya bahwa Paulus memanggil orang percaya untuk 「menyatakan perang」(waging war), tetapi pada kenyataannya Paulus memanggil kita untuk 「menyatakan perdamaian」(wager peace). Memberitakan Injil adalah sarana utama peperangan rohani, dalam Surat Efesus pasal 2, Paulus menekankan bahwa tema Injil adalah perdamaian berbaikan dan apa yang kita beritakan adalah Injil damai sejahtera. Bagaimana bisa orang-orang yang memberitakan pesan kedamaian bisa menjadi pembunuh?

Renungkan:

1. Apakah Anda disebut anak perdamaian di mata orang? Apakah pernah ada orang yang pernah menggambarkan Anda sebagai agresif, konfrontatif dan tidak ramah?

2. Apakah Anda merasa sulit untuk memberitakan Injil kedamaian dalam lingkungan yang bermusuhan? Dapatkah Anda memikirkan tentang ruang di mana perdamaian memiliki pijakan dan pengembangan di dunia Anda hidup?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20 (3)

「Makna Peperangan Rohani (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Alkitab menyebutkan peperangan rohani. Sebenarnya tidak ada perang yang sesungguhnya, perang memerlukan dua pihak, tetapi Allah tidak perlu memulai peperangan untuk melawan Setan. Setan hanya merupakan malaikat yang jatuh, hanyalah ciptaan, antara Tuhan Pencipta dan ciptaan terdapat celah yang sedemikian lebar, Setan tidak memiliki syarat dan kemampuan untuk bertempur melawan Allah. Yesus Kristus hanya perlu menyatakan kemenangan-Nya, itu saja sudah memukul kalah Iblis. (Kiranya kita mengandalkan kuasa Allah dan tidak perlu takut melawan Iblis)

Sedangkan manusia, tidak bisa dengan darah daging pergi berperang dengan Iblis, dan Alkitab meminta kita untuk tidak dikalahkannya. 「Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu」 (Ef. 6:13) 「Perlawanan」dan「 tetap berdiri teguh」adalah yang dua permintaan yang paling penting.

Dengan demikian ini, konsep peperangan rohani tidak bisa dipahami secara harfiah. Di dalam Alkitab terdapat gambaran tentang peperangan rohani, yang terutama menyampaikan tiga pesan:

Pertama, kita harus hati-hati waspada atas tipu muslihat atau trik Iblis, dan jangan sampai ditawan olehnya. 「Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis」(Ef. 6:10-11)

Iblis adalah penipu, dan Alkitab di beberapa tempat menyebut 「tipu muslihat」 dari Iblis. Tapi kita tidak bisa oleh karena demikian itu lalu berasumsi bahwa dia banyak akal, licik berkemampuan hebat, membuat orang tidak bisa bertahan atas dia. Alkitab tidak mengatakan begitu. Kita harus berjaga terhadap penipuan Setan, penipuannya adalah sesuatu yang kita sepenuhnya dapat kita kenali, dan sepenuhnya punya kepastian bisa mencegah tertipu, tanpa perlu IQ kecerdasan tinggi, hanya perlu iman dan kesabaran. Ayat ini merujuk perlengkapan senjata yang harus dipakai dan tidak ada satupun syarat tentang kecerdasan.

Paulus menekankan: supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya (2 Kor. 2:10-11). Trik tipu muslihat Iblis memiliki pola yang tetap: segala sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan di antara orang percaya, perpecahan gereja, semuanya menjadi kesempatan bagi Iblis, yang ia pakai untuk merusak Gereja dan pelayanan Injil, karena itu semua ini mungkin adalah trik Iblis. Paulus menasihati orang percaya agar tidak marah kepada orang untuk waktu yang lama, dan tidak melakukan dosa ketika mereka marah, itulah yang dikatakan dalam Ef. 4:27 「janganlah beri kesempatan kepada Iblis.」 Kita tidak mengatakan bahwa jika ada perselisihan di antara orang percaya, atau jika ada individu yang marah, maka itu adalah hal dari Iblis; tetapi dikatakan bahwa semua perselisihan dapat dimanfaatkan oleh Setan untuk menghancurkan kehidupan rohani kita dan menghancurkan hubungan antar anggota tubuh Kristus.

Dalam bahasa penulisan Paulus, Iblis dan Setan adalah simbol yang sering dipakai, menyamakan semua pelaku kejahatan, seperti para rasul palsu, guru palsu, menyimpang dari kebenaran, merusak kehidupan, dan kehilangan keselamatan. Paulus memperhitungkan semua krisis rohani yang mungkin terjadi atas diri Iblis (1 Tes. 2:6-7 aalah contoh yang baik).

Kita tidak perlu bertanya apa saja tindakan yang datang dari Setan, karena Iblis mewakili semua kejahatan dan korup, segala hal atau orang yang menghasilkan yang jahat dan merusak, walaupun tidak langsung disebabkannya tetapi adalah yang disambut olehnya dengan senang. Setan memiliki berbagai macam serangan terhadap orang-orang percaya, selama dapat membuat efek merusak iman, maka itulah serangannya. Dalam pengalaman pribadinya, Paulus menyebutkan salah satunya adalah kelemahan tubuh (2 Kor 12:7-10).

Jika trik tipu muslihat Iblis memiliki pola yang tetap, perlawanan kita memiliki cara yang tetap. Prinsip dasarnya adalah bahwa kita harus menentang apa pun yang didukung oleh musuh. Kita jangan pernah melakukan apa pun yang Setan senang lihat. Cara yang dipakai Iblis adalah kebencian, maka kita menolak untuk membalas kebencian dengan kebencian, tetapi dengan cinta kasih membalas kebencian; cara yang dipakai Iblis adalah dusta, maka kita harus mampu mengatasinya dengan kejujuran. Jika kita tidak melakukan apa yang dilakukan Iblis, kita tidak akan jatuh dalam trik tipu muslihat Iblis. Membalas kebencian dengan kebencian adalah tipuan Iblis, dan dengan cinta kasih membalas kebencian adalah keberhasilan menghadapi Iblis.

Otoritas dan kemampuan Iblis adalah terbatas, dan dia tidak bisa menang melawan Allah; maka, selama kita mematuhi Allah, Setan tidak mampu melakukan apapun untuk membahayakan kita (1 Yoh. 5:18).

Ini adalah makna yang Paulus katakan dalam surat Efesus pasal enam tentang mengenakan perlengkapan senjata Allah. Kebenaran, keadilan, damai sejahtera, iman, keselamatan, Firman Tuhan, semua ini adalah senjata pertahankan yang menjaga kita dari musuh dan dari bahaya. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan berkonfrontasi dengan Iblis namun tidak akan dicelakainya.

Renungkan:

1. Dalam materi renungan ini tidak dijelaskan tentang kebenaran, keadilan, damai sejahtera, iman, keselamatan, Firman Tuhan, arti dari enam perlengkapan senjata Allah, tapi ini dapat kita dimengerti tidak akan salah. Berpikir tentang satu atau dua dari antaranya dan pikirkan bagaimana Anda dapat dilengkapi dalam hidup?

2. Makna yang paling penting dari perlengkapan senjata Allah adalah penekanan pada kekuatan spiritual dalam menghadapi peperangan rohani, bukan pada darah daging dan kuasa manusia. Renungkan bagaimana bisa Anda lebih mengandalkan kekuatan rohani dalam hidup dan pelayanan?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 6:10-20 (2)

「Menolak Satanisasi」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-20 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Paulus berseru kepada kita untuk memperhatikan hal-hal rohani. 「Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara」 (Ef. 6:12)

Dunia fisik bukanlah satu-satunya, selain yang terlihat dengan mata telanjang ada dunia roh. Dua dunia ini bukan saling tidak relevan, dan di belakang semua yang dialami manusia dan relasi, terdapat unsur-unsur dalam alam roh. Perkelahian (perebutan) di antara manusia, tidak peduli dalam politik, ekonomi, sosial atau budaya, di balik itu terdapat peperangan bersifat roh. Politik merupakan medan perang dari peperangan roh, pendidikan adalah medan peperangan roh, dan media adalah platform perang dari dunia roh. Kita tidak dapat melihat dengan mata telanjang, pikiran yang dibelenggu oleh naturalisme (paham yang menolak supranatural) gagal untuk memahaminya, tapi kita yang memiliki mata rohani memahami kenyataan asli dari alam roh.

Pengakuan adanya peperangan rohani dan dunia roh memiliki setidaknya dua implikasi bagi kita:

Pertama, dalam menghadapi berbagai konflik manusia atau penganiayaan sosial, kita harus tahu bahwa ini sebenarnya adalah peperangan rohani. Kita bukan melawan manusia (darah dan daging), tetapi berperang dengan kekuatan roh jahat yang ada di belakang.

Sebagai contoh, ketika memberitakan Injil dan melaksanakan iman, kita sering menghadapi permusuhan atau serangan dengan niat jahat dari orang lain. Dalam dunia pasca Kristen (setelah kekristenan bukan menjadi acuan nilai, cara pandang dunia, budaya cara hidup yang dominan) orang berprasangka terhadap kekristenan, menghina kebenaran-kebenaran Alkitab, dan menghujat Allah dan menista kekudusan sebagai kegembiraan. Dalam menghadapi orang-orang seperti itu, kita sering percaya bahwa mereka adalah musuh iman, kadang-kadang tidak dapat menahan diri sehingga juga melakukan pembalasan mata ganti mata: mereka memandang kita sebagai ular jahat, kita juga menganggap mereka sebagai ular beludak; saling membenci.

Paulus menunjukkan bahwa kita harus dapat melihat bahwa di balik permukaan konflik antar manusia adalah peperangan rohani sebagai sifat asalinya. Mereka yang menyerang orang yang beriman kepada Kristus hanya merupakan alat yang dipergunakan iblis untuk menghancurkan misi Injil. Setanlah yang merupakan musuh kebenaran, sumber dari semua tindakan permusuhan yang diderita orang Kristen di dunia.

Orang sering salah memahami ajaran Paulus di sini, berpikir bahwa karena pertempuran dalam dunia ini adalah peperangan rohani, maka musuh di bumi disamakan dengan iblis, dan itu menjadi kebiasaan untuk memandang orang sebagai iblis, menghakimi pihak lawan, termasuk pikiran dan tindakannya semua sebagai penjelmaan setan. Dalam dunia politik, hal ini biasa bagi negara-negara yang berlawanan memandang pihak musuh sebagai perwujudan setan dan memandang operasi militer mereka sendiri sebagai 「perang suci」 yang dilakukan bagi langit. Dalam kehidupan sehari-hari, permusuhan dua kutub seperti ini tidak jarang; terutama dalam masyarakat yang terpecah secara serius atau yang kurang toleransi, berbagai wacana penuh kebencian yang memandang orang dan berbagai hal sebagai perwujudan iblis membanjiri media dan jaringan sosial.

Ajaran Paulus justru adalah berlawanan dengan pemahaman yang salah di atas. Kita tahu bahwa ada dunia roh dan peperangan rohani, maka terlebih lagi kita tidak boleh tertuju khusus kepada siapa pun di dunia, jangan menganggap mereka sebagai musuh, apalagi memandang mereka adalah iblis. Musuh kita yang sebenarnya adalah setan, bukan siapa pun.

Ya, siapa pun dapat digunakan oleh iblis untuk menjadi alatnya, tetapi mereka tidak menjadi inkarnasi setan. Ketika saya masih kecil, ibu saya sering mencegah saya pergi ke gereja, dan tindakan yang menghancurkan iman saya mungkin menjadi kesempatan bagi iblis untuk mengambil keuntungan. Tapi apakah ibu saya menjadi setan? Tentu saja tidak. Jika dia menjadi iblis, apakah saya masih mencintainya dan mengabarkan Injil kepada dia? Saya tidak suka setan, tapi aku cinta ibu, dia tidak pernah objek kebencian saya.

Ketika Petrus mencegah Yesus agar tidak disalibkan, Yesus menegur dia sebagai setan; Tetapi Petrus tidak karena demikian lalu menjadi Iblis, tetapi ia tetap adalah murid yang dikasihi Yesus.

Pemahaman atas peperangan rohani, membuat kita tahu musuh yang sebenarnya, sehingga kita tidak memandang orang sebagai iblis, tetapi juga memahami dan empati atas kebodohan mereka, mereka tidak tahu bahwa mereka telah menjadi alat-alat Iblis, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yunus memandang orang Niniwe sebagai iblis, tetapi Tuhan melihat mereka sebagai orang-orang bodoh yang tidak tahu membedakan tangan kanan kiri mereka, dan Allah mengasihi mereka.

Kedua, harus memakai cara-cara rohani dalam menghadapi peperangan rohani, tidak ada gunanya memakai cara darah dan daging, harus menggunakan hikmat rohani, untuk mengenali tipu muslihat iblis, dan dengan bantuan Roh Kudus melawan musuh, yang akan diuraikan dalam renungan besok.

Renungkan:

1. Apakah kita pernah salah memahami Alkitab? Apakah Anda pernah memandang orang-orang dan hal-hal tertentu sebagai iblis? Jika ada, datanglah di hadapan Allah untuk introspeksi diri, dan bertekad untuk tidak memandang orang dengan cara yang demikian lagi.

2. Dapatkah kita memakai visi dan pikiran Paulus, walau berada di dunia fisik, namun mampu melihat dari perspektif rohani, dapat melihat kekekalan dalam dunia sementara ini, dapat melihat kenyataan rohani dalam dunia kasat mata manusia ini? (Untuk memperhatikan hal-hal rohani dalam kehidupan ini, tidak hanya peduli urusan dunia kasat mata saja.)


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Daniel 10:1-11:1

「Peperangan yang Tidak Terlihat Mata」

Apa yang bisa kita lakukan untuk hadapi peperangan besar?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 10:1-11:1 [ITB])
10:1Pada tahun ketiga pemerintahan Koresh, raja orang Persia, suatu firman dinyatakan kepada Daniel yang diberi nama Beltsazar; firman itu benar dan mengenai kesusahan yang besar. Maka dicamkannyalah firman itu dan diperhatikannyalah penglihatan itu.
2Pada waktu itu aku, Daniel, berkabung tiga minggu penuh: 3makanan yang sedap tidak kumakan, daging dan anggur tidak masuk ke dalam mulutku dan aku tidak berurap sampai berlalu tiga minggu penuh. 4Pada hari kedua puluh empat bulan pertama, ketika aku ada di tepi sungai besar, yakni sungai Tigris, 5kuangkat mukaku, lalu kulihat,
tampak seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. 6Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak.
7Hanya aku, Daniel, melihat penglihatan itu, tetapi orang-orang yang bersama-sama dengan aku, tidak melihatnya; tetapi mereka ditimpa oleh ketakutan yang besar, sehingga mereka lari bersembunyi; 8demikianlah aku tinggal seorang diri. Ketika aku melihat penglihatan yang besar itu, hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. 9Lalu kudengar suara ucapannya, dan ketika aku mendengar suara ucapannya itu, jatuh pingsanlah aku tertelungkup dengan mukaku ke tanah. 10Tetapi ada suatu tangan menyentuh aku dan membuat aku bangun sambil bertumpu pada lutut dan tanganku.
11Katanya kepadaku: “Daniel, engkau orang yang dikasihi, camkanlah firman yang kukatakan kepadamu, dan berdirilah pada kakimu, sebab sekarang aku diutus kepadamu.” Ketika hal ini dikatakannya kepadaku, berdirilah aku dengan gemetar. 12Lalu katanya kepadaku: “Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu. 13Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. 14Lalu aku datang untuk membuat engkau mengerti apa yang akan terjadi pada bangsamu pada hari-hari yang terakhir; sebab penglihatan ini juga mengenai hari-hari itu.”
15Ketika dikatakannya hal ini kepadaku, kutundukkan mukaku ke tanah dan aku terkelu. 16Tetapi sesuatu yang menyerupai manusia menyentuh bibirku; lalu kubuka mulutku dan mulai berbicara, kataku kepada yang berdiri di depanku itu: “Tuanku, oleh sebab penglihatan itu aku ditimpa kesakitan, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. 17Masakan aku, hamba tuanku ini dapat berbicara dengan tuanku! Bukankah tidak ada lagi kekuatan padaku dan tidak ada lagi nafas padaku?”
18Lalu dia yang rupanya seperti manusia itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan, 19dan berkata: “Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!” Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan berkata: “Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan.” 20Lalu katanya: “Tahukah engkau, mengapa aku datang kepadamu? Sebentar lagi aku kembali untuk berperang dengan pemimpin orang Persia, dan sesudah aku selesai dengan dia, maka pemimpin orang Yunani akan datang. 21Namun demikian, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran. Tidak ada satupun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael, pemimpinmu itu, 11:1seperti dahulu aku juga mendampinginya untuk menguatkan dan menyokongnya, yakni pada tahun pertama pemerintahan Darius, orang Media itu.”

Setengah bagian belakang kitab Daniel, seluruhnya terdapat tiga penglihatan yang menunjuk masa depan, penglihatan paling akhir dicatat dalam pasal 10 sampai 12 adalah penglihatan Daniel pada tahun ketiga Koresh (Cyrus), raja orang Persia, juga merupakan pelengkap penglihatan di pasal 7 dan 8. Setelah selesai melihat penglihatan, Daniel berdasarkan perintah harus sembunyikan segala firman itu, dan meteraikan Kitab itu sampai pada akhir zaman (Dan. 12:4), diperintahkan hendak bersabar menunggu sampai akhir, dan akan bangkit untuk mendapat bagiannya pada kesudahan zaman (Dan. 12:13).

Daniel pada 「tahun ketiga Koresh (Cyrus) raja Persia」 (kira-kira tahun 536 atau 535 S.M) menerima penglihatan menyangkut 「peperangan besar」 akhir zaman (Dan. 10:1, perhatikan dalam ITB 「kesusahan besar」 bandingkan NIV, CUVT 「great war」 atau ESV 「great conflict). Dua puluh satu hari sebelumnya, Daniel dalam kesedihan hati datang memohon kepada Allah. Kemudian dari perkataan Malaikat diketahui bahwa sebenarnya sejak awal permohonan Daniel telah didengarkan sejak hari pertama ia datang kepada Allah (Dan. 10:12), yakni 「tiga minggu」 sebelumnya Allah telah mendengarkan dia (Dalam penulisan terjemahan CUVT terdapat keindahan gaung pola angka tujuh, 「tiga kali tujuh hari」, dari teks bahasa Ibrani שְׁלֹשָׁ֥ה שָׁבֻעִ֖ים יָמִֽים tiga kali periode tujuh hari), dan segera mengutus Malaikat datang memberitahu kepada dia, tetapi terhalang karena 「Pemimpin kerajaan orang Persia」 berdiri menentang sang Malaikat dua puluh satu hari lamanya (Dan. 10:13). Kemudian setelah kepala malaikat Mikhael datang menolong, barulah ia bisa datang kepada Daniel.

Malaikat menguakkan keadaan peperangan rohani. Di balik kerajaan di antara manusia, terdapat kuasa Roh Kebenaran dan roh jahat, keduanya adalah dalam pertentangan. Kuasa roh kejahatan ada di balik kuasa kerajaan di atas bumi yang menekan dan menganiaya umat Allah, dan pada saat yang sama, Malaikat Allah berperang di langit mewakili umat Allah. Pada waktu Daniel bersungguh-sungguh berdoa, 「pemimpin orang Persia」 berperang menghalangi sang Malaikat (Dan. 10:13, 20), dapat dilihat peperangan di udara bersamaan dengan yang terjadi di bumi di antara manusia. Konsep ini tidak hanya terdapat dalam Kitab Daniel, nabi Yesaya menyebutkan: 「Maka pada hari itu TUHAN akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi」 (Yes. 24:21)

Mengapa pemimpin orang Persia dengan segenap tenaga menghalangi Malaikat Allah? Dari perikop dapat diperkirakan, karena Malaikat hendak menjelaskan kepada Daniel tentang 「firman itu benar, Kitab Kebenaran dan hal yang benar」, yang merupakan hal-hal yang ada dalam rencana Allah yang harus digenapi (Dan. 10:1, 21; 11:2). Hal-hal tersebut berdasarkan teks sebelumnya dapat diketahui terkait mulai dari Persia, Yunani, Antiochus IV sampai kerajaan bangsa-bangsa yang melemah dan saling menggantikan, terus sampai 「raja」 akhir zaman yang berakhir dimusnahkan, dan hal kebangkitan orang mati di akhir zaman (Dan. 12:1-4), adalah bagian rencana Allah, juga bersamaan terkait erat dengan nasib Persia; pemimpin jahat Persia dengan sekuat tenaga menghalangi Malaikat, karena ia tidak bersedia menerima kenyataan bahwa kerajaan Persia yang di atas bumi akan dimusnahkan. Pemimpin jahat Yunani juga demikian. (Dan. 10:20-21) tidak peduli bagaimana, penjelasan Malaikat menguakkan hubungan peristiwa 「di langit」 dan 「di bumi」, kuasa kejahatan kerajaan yang di atas bumi menentang umat Allah, bersamaan terkait peperangan di langit.

Sejarah Perjanjian Lama memberitahukan kita, Allah yang adil penuh kebenaran akan melalui umat-Nya menghukum dosa bangsa-bangsa; demikian juga, saat umat Israel berdosa durhaka, Allah juga akan memakai bangsa-bangsa sebagai alat menghukum mereka. Ini adalah konsep 「Perang Suci」 dalam Perjanjian Lama. Pada zaman Daniel, umat Israel karena durhaka tidak setia, mendatangkan kehancuran bangsa kematian keluarga, penghukuman ditawan. Daniel dalam doa mewakili bangsanya mengaku berdosa terhadap Allah, mendapatkan jawaban sebuah janji yang berharga: Allah hendak berperang bagi umat-Nya, secara total memperoleh kemenangan.

Renungkan: peperangan rohani walaupun tidak mampu dilihat mata, adalah sungguh-sungguh ada, juga secara langsung menpengaruhi hal-hal yang terjadi di atas bumi. Kita walaupun tidak dapat mengendalikan keadaan peperangan di langit, tetapi sebagai umat Allah yang ada di atas bumi, justru memiliki tanggung jawab berdoa secara sungguh-sungguh bagi tanah air dan bangsa kita. Kitab Daniel pasal 10, mencatat Daniel tercengang dan kehilangan tenaga setelah bertemu Malaikat Allah, saat yang sama kita melihat Allah yang penuh belas kasih, tidak memandangnya sebagai hal kecil; Malaikat tiga kali menjamah (Dan. 10:10, 16, 18), dua kali menyebut Daniel sebagai 「 orang yang dikasihi」 (Dan. 10:11, 19), juga pengakuan Allah terhadap ia 「telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu」.

Setiap saat melihat kuasa jahat menganiaya umat yang setia, sulit dihindari merasa sedih dan marah; tetapi kita jangan lupa ini bukan akhir dari semuanya, lebih lagi bukan merupakan perhentian akhir dari sejarah. Peperangan ini telah memperoleh kemenangan, bukan melalui cara pembantaian, tetapi melewati kematian: Yesus Kristus berkorban diri-Nya mati di atas salib, sudah menggenapkan penebusan, sudah menghantam runtuh musuh. Kiranya kita tidak putus asa menyerah, tetapi 「berkabung rohani」 bersungguh-sungguh berkabung dari dalam hati, berpuasa, merendahkan diri datang berharap di hadapan Tuhan. (Im. 16:29, 31; 23:27, 29, 32; Bil. 29:7; Maz. 35:13; Dan. 10:12)