Tag Archives: Doa Syukur

Efesus 1:15-16

Mengucap syukur karena kamu

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:15-16 [ITB])
15 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, 16 akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku

Paragraf sebelumnya menaikkan puji-pujian atas anugerah Allah, maka di dua ayat ini beralih menaikkan ucapan syukur kepada Allah bagi orang-orang percaya. Kunci memahami kedua ayat ini adalah berdasarkan pengenalan kita akan ayat 16, beberapa terjemahan mengungkapkan tindakan mengucapkan syukur dan berdoa dalam ayat 16, namun tidak secara jelas menunjukkan hubungan antara kedua tindakan tersebut,sehingga banyak orang yang memandang isi ayat 17-23 sebagai isi doa, akibatnya inti dari ucapan syukur kepada Allah jadi hilang.

Meskipun kata kerja utama di ayat 16 adalah tidak berhenti, tindakan tiada henti ini secara teori dapat mencakup dua tindakan yang diungkapkan dalam bentuk partisip (mengucap syukur; berdoa), tetapi karena dalam bahasa aslinya tidak ada kata penghubung antara kedua partisip (lihat KJV Cease not to give thanks for you, making mention of you in my prayers, tidak ada kata dan), maka akan terlalu dipaksakan jika kedua tindakan itu dipandang sama-sama tercakup sebagai tindakan-tindakan tiada henti yang dilakukan Paulus. Penjelasan yang lebih mungkin adalah menerjemahkan partisip berdoa sebagai klausa waktu, bahwa saat Paulus berdoa untuk mereka, dia tidak pernah berhenti mengucap syukur kepada Allah atas mereka.

Penjelasan ini mempengaruhi kita memahami isi ayat 17-23, karena jika dua ayat ini dipandang bahwa titik beratnya terutama berisi ucapan syukur Paulus, maka perikop berikut (ayat 17-23) otomatis juga merupakan isi dari ucapan syukur tersebut (tambahan penerjemah: bukan hanya merupakan isi dari doa Paulus), oleh karena ini adalah tindakan yang Allah lakukan bagi orang-orang percaya. Tentu saja garis batas antara mengucapkan syukur dan berdoa terkadang kabur, karena meskipun Allah sudah memberikan anugerah, kita belum tentu memiliki pemahaman yang utuh tentang apa yang Allah berikan kepada kita, perlu mengalaminya selangkah demi selangkah dalam kehidupan yang konkret. Oleh karena itu, mengucapkan syukur dan berdoa memang pada dasarnya tidak bisa dipisahkan.

Sebelum menuliskan tentang mengucapkan syukur, Paulus terlebih dahulu mengungkapkan alasan ia mengucapkan syukur kepada Allah, adalah karena telah mendengar iman dan kasih mereka. Surat Efesus bukanlah surat situasional, mungkin saat yang sama juga merupakan surat terbuka untuk gereja-gereja lain, jadi di sini bukan menunjukkan bahwa Paulus mendengar kabar khusus tentang jemaat ini, tetapi secara umum menunjukkan bahwa dia mengetahui kondisi rohani mereka. Di satu sisi, mereka menunjukkan iman mereka kepada Yesus Kristus, yang mencerminkan bahwa mereka dengan benar memahami dan menerima Injil Yesus Kristus serta berpegang pada Injil firman kebenaran; di sisi lain, mereka menunjukkan kasih kepada semua orang kudus, menunjukkan bahwa mereka memiliki kehidupan umat Allah, menyadari bahwa mereka termasuk dalam komunitas ini dalam Yesus Kristus, dan satu sama lain merupakan anggota tubuh.

Iman dan kasih bisa dikatakan sebagai ciri khas umat Kristiani. Iman mereka terhadap Yesus Kristus sebagai pengakuan identifikasi mereka dalam komunitas orang kudus. Kolose 1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus ditulis pada masa yang sama juga mencerminkan bahwa Paulus memang menyatukan iman dan kasih. Artinya, Paulus percaya bahwa mereka yang percaya dan menerima Yesus Kristus juga harus menerima dan mengasihi semua orang yang merupakan milik Kristus.

Renungkan:
Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, Allah telah mengubah sifat hidup kita dan memanggil kita untuk menjadi umat-Nya bersama dengan orang-orang percaya lainnya. Kiranya kita dapat mencerminkan perubahan yang dibawa oleh anugerah ini nyata dalam hidup kita. (Percaya dan menerima Yesus Kristus juga harus menerima dan mengasihi semua orang yang merupakan milik Kristus)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 1:6-8

「Bersama Mendapat Bagian Kasih Karunia」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 1:6-8 [ITB])
6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.
8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.

Tiga ayat perikop ini melanjutkan paragraf sebelumnya, melengkapi rasa syukur Paulus di awal surat, dan khususnya penjelasan tambahan tentang rasa syukur yang dinyatakan dalam ayat 1-5.

Pertama-tama, ayat 6 menyatakan keyakinan di balik rasa syukur Paulus, tetapi ia tidak secara langsung menunjuk kepada pekerjaan Allah pada diri orang percaya, sebaliknya, ia menggunakan partisip (kata sifat yang berasal dari kata kerja) untuk menggambarkan Dia yang memulai pekerjaan di antara orang percaya. Fokusnya bukan pada pribadi Allah tetapi pada apa yang Dia lakukan di antara orang percaya. Dengan cara ini, Paulus menunjukkan bahwa kita dapat berperan serta dalam pelayanan Injil, bukan karena kemampuan kita sendiri, atau karena kita memiliki keinginan untuk melayani secara sukarela, tetapi bahwa Allah bekerja di antara kita terlebih dahulu. Keyakinan ini sangat penting dalam iman kita, karena jika bukan Tuhan yang bekerja, usaha kita sendiri mungkin tidak efektif, tetapi jika Tuhan bekerja, meskipun kadang-kadang kita belum melihat hasilnya untuk sementara waktu, kita tetap bisa percaya bahwa akan selesai di waktu Tuhan. Kita dapat bersyukur adalah karena Allah ada di antara kita, dan membuat kita dapat ambil bagian berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya.

Frasa di antara kamu dengan akurat mencerminkan maksud asli perikop Kitab Suci ini agar pembaca mengingat bagaimana Allah memberitakan Injil kepada jemaat Filipi melalui Paulus, agar Injil berakar kuat di kota bangsa asing di Makedonia ini, bertumbuh di bawah penganiayaan, dan seluruh komunitas berpartisipasi dalam pekerjaan mengembangkan kemajuan Injil. Pelayanan Injil tidak bisa menjadi pekerjaan satu orang, tetapi merupakan saksi dari seluruh komunitas orang percaya. Poin penting ini akan diangkat berkali-kali dalam Surat Filipi.

Dalam 1:7-8, sekali lagi Paulus menunjukkan isi hatinya terkait jemaat Filipi, dan relasi yang intim ini adalah dua arah, karena kamu senantiasa ada di dalam hatiku juga dapat diterjemahkan sebagai aku senantiasa ada di dalam hatimu. Dalam pemahaman terjemahan yang pertama kamu senantiasa ada di dalam hatiku, Paulus mungkin hendak menyatakan bahwa di dalam hatinya ia tahu bahwa ia melakukan pelayanannya karena adanya dukungan dari gereja Filipi, jadi gereja Filipi juga merupakan bagian dari kasih karunia yang diterima Paulus dalam pelayanannya. Jika dalam pemahaman terjemahan yang kedua aku senantiasa ada di hatimu, Paulus sedang menunjukkan bahwa gereja Filipi ingat pelayanan Paulus, dan memberikan dukungan finansial serta doa kepada Paulus, mereka sungguh nyata telah berpartisipasi ambil bagian dalam kasih karunia pelayanan ini. Bagaimanapun, kedua kalimat terjemahan ini mengungkapkan hubungan yang erat antara Paulus dan orang-orang percaya, serta menggemakan pemikiran dan doa syafaat yang konstan tiada henti, yang dinyatakan dalam ayat sebelumnya 1:3-4.

Renungkan:

Bagaimana hubungan kita dengan orang percaya lainnya? Jika Allah ada di antara kita untuk menyelesaikan pekerjaan Injil-Nya, kita adalah sesama pekerja. Setiap orang mungkin memiliki posisi tugas yang berbeda: orang percaya Filipi tinggal di kota mereka untuk bersaksi, dan Paulus membawa doa dan bantuan keuangan mereka ke tempat yang berbeda untuk memperluas jangkauan Injil.

Marilah kita belajar dari isi hati rasul Paulus yang diungkapkan dalam ucapan rasa syukur ini, memandang ke atas berharap kepada Allah untuk penggenapan pekerjaan baik yang telah Dia lakukan.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 5:21-6:9

「Etika Rumah Tangga (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Perikop ini adalah pengajaran tentang etika keluarga. Jika iman itu dibuat kenyataan, maka pertama-tama harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, dan secara alami keluarga adalah yang paling penting.

Dalam masyarakat kuno, keluarga memiliki fungsi menghasilkan produksi dan mewariskan pengetahuan, jadi setidaknya ada tiga hubungan dasar antar personal, yaitu suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta tuan dan hamba. Ini persis merupakan tiga pasang hubungan yang dicakup dalam perikop ini. Paulus secara terpisah mengingatkan kedua pihak dalam setiap hubungan.

Paulus terlebih dahulu berbicara tentang hubungan antara suami dan istri. Tidak seperti masyarakat Cina yang meletakkan prioritas utama pada hubungan vertikal ayah-anak, Alkitab menekankan bahwa orang harus meninggalkan orang tua mereka, dan bersatu dengan istri, jadi hubungan horisontal merupakan prioritas tertinggi.
Tuntutan Paulus kepada suami dan istri adalah sederhana dan jelas: suami harus mengasihi isterinya dan isteri harus taat kepada suami.

Manusia modern menuntut persamaan dan menolak terhadap kata ketaatan, sehingga mereka tidak menyukai perkataan Paulus agar istri taat kepada suaminya. Banyak orang berusaha membuat cair doktrin yang secara implisit lebih mengutamakan laki-laki, mencoba untuk membawa kata 「saling rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain」 Ef. 5:21 untuk menutupi 「istri tunduklah kepada suami」di ayat Ef. 5:22, mengklaim bahwa ketundukan adalah dua arah, istri tunduk pada suami, suami juga tunduk istrinya.

Tapi Paulus selanjutnya memakai analogi suami dan istri dalam hubungan antara Kristus dan Jemaat, yang menunjukkan bahwa istri tunduk kepada suaminya sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, dan ketundukan ini adalah tanpa syarat 「dalam segala sesuatu」 (Ef. 5:24). Ini telah membuat pemikiran tersebut menjadi buntu, apakah Kristus dan Jemaat harus tunduk satu sama lain? Apakah Kristus harus tunduk kepada Gereja? Tidak ada keraguan bahwa Paulus berbicara tentang ketundukan dalam hubungan suami-istri adalah dalam satu arah.

Namun apakah permintaan Paulus ini tidak adil? Ya, itu sangat tidak adil. Tapi itu bukan tidak adil terhadap perempuan sebagaimana pendapat paham Feminisme, tapi sangat tidak adil kepada laki-laki. Karena ketika Paulus meminta istrinya untuk tunduk pada suaminya, Paulus meminta kepada suami mengasihi istrinya, membayar semua harga untuk istrinya dan bahkan mengorbankan dirinya seperti Kristus telah mengorbankan hidupnya bagi Gereja. Kita berpikir, hubungan antara Kristus dan Jemaat, siapa yang membayar harga lebih banyak, Kristus atau Gereja? Jika hubungan antara suami dan istri adalah sama seperti demikian, maka suami harus meletakkan segalanya bagi istrinya tanpa syarat.

Saya sering berkata kepada para saudari 「jika ada orang bersedia berkorban hidup bagi Anda, bukankah tidak terhitung direndahkan jika Anda tunduk kepadanya?」
Bagaimanapun juga, tidak peduli berapa banyak orang mengkritik Paulus sebagai seorang yang mengutamakan laki-laki, mengkiritk bahwa ajarannya tidak adil dan ketinggalan zaman. Saya percaya bahwa ini adalah cara tunggal bagi pernikahan yang berhasil. Tanpa prinsip dasar ini, tidak ada yang bisa sukses menjaga hubungan suami istri.

Pria mungkin bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam pernikahan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada mengabaikan istri. Ketidakpedulian dan mati rasa dari seorang pria adalah kejahatan pertama. Sebelum pernikahan, orang dapat sangat menghargai pacar dan tunangannya, setelah menikah memandang pihak lain sebagai sudah sepatutnya demikian, bukan tidak mencintainya lagi, tapi merasa kurang perlu sedemikian diperhatikan dan dilindungi. Pokoknya sudah menikah, sekarang adalah waktu untuk membangun karir, pikiran hanya ditempatkan dalam pekerjaan, urusan keluarga dihadapi seadanya saja sudah cukup. Namun, istri dari muda sampai usia tua, membutuhkan pengakuan dari seorang suami dalam relasi, perlu untuk mengungkapkan kasih sayang dalam tindakan nyata, untuk melindunginya, sehingga istri merasa aman, merasa dicintai. Alkitab mengingatkan suami untuk mengasihi istri-istri mereka, untuk merawat mereka, dan untuk mengasihi istri sampai pada tahap mengorbankan hidup diri sendiri.

Perempuan bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam perkawinan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menjadi pengomel. Sebelum pernikahan, wanita selalu menurut seperti burung kecil, tetapi setelah menikah mudah untuk menjadi banyak mengomel. Perempuan biasanya lebih kuat dalam berbicara dan ekspresi emosional daripada laki-laki, setelah pernikahan, karena kebutuhan sehari-hari, kehidupan yang berat, wanita berubah sangat mudah membuat hal-hal kecil menjadi besar, mengomel tiada henti. Ditambah dengan pikiran suami sebagian besar ditempatkan pada karier, setelah pulang rumah merasa lelah dan tidak banyak bicara, sampai pada titik istri merasa tidak perlu berdiskusi dengan suaminya, istri menjadi pengambil keputusan utama dalam segala hal, sehingga posisi suami dalam keluarga lebih terpinggirkan, hubungan antara suami dan istri menjadi hubungan ibu-anak. Alkitab mengingatkan istri untuk mengontrol lidahnya agar tidak menjadi pengomel, mengendalikan dorongan untuk menjadi bossy dalam segala hal, belajar untuk tunduk pada suami.

Selama suami terus mengasihi istrinya berkorban baginya, maka sebagai istri melanjutkan ketundukan kepada suaminya, perkawinan akan kuat seperti terbuat dari besi, tidak terpecahkan.

Selain keselamatan, keluarga yang bahagia adalah hadiah yang paling indah yang diberikan oleh Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda percaya bahwa keluarga adalah sebuah tempat penting dalam mempraktekan iman? Apa tekad Anda untuk hal ini?

2. Jika Anda telah menikah, pertimbangkan bagaimana Anda dapat meningkatkan hubungan suami – istri Anda dengan ajaran-ajaran Paulus. Jika Anda tidak belum menikah, silahkan aplikasikan kasih, berkorban dan ketundukan pada relasi cinta Anda.


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:3-21 (2)

「Anak-anak Terang (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:3-21 [ITB])
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas–tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14 Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Paulus tidak mengharapkan kita menjadi moralis, memenuhi seperangkat standar moral, untuk menjadi orang legalis (seperti orang Farisi), tetapi meminta kita untuk menjadi umat Tuhan yang memenuhi standar. Jika memakai gambaran terang dan kegelapan yang digunakan dalam Alkitab, kita harus menjadi anak-anak Terang.

Kita dahulu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang sudah meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam Terang, di dalam Tuhan telah menjadi anak-anak Terang, maka dengan demikian perilaku kita harus mencerminkan perubahan kehidupan, pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Anak-anak Terang semua baik, adil benar dan jujur.

Hidup baru merupakan prasyarat bagi cara kehidupan baru, tidak akan ada cara kehidupan baru tanpa adanya hidup baru; tetapi hidup baru tidak akan secara alami mengarahkan kepada cara kehidupan baru, masih perlu melalui upaya untuk mendapatkannya. Paulus membuat permintaan berikut: 「senantiasa ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan」(Ef. 5:10); 「Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif」 (Ef. 5:15); 「Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan」 (Ef. 5:17). Kita harus membedakan antara benar dan salah, mengerti kehendak Tuhan, dan untuk memeriksa apa berkenan kepada-Nya, sebagaimana Roma 12:2 katakan agar 「membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna」

Kehendak Allah dan hal yang berkenan kepada-Nya merupakan standar tertinggi untuk menilai semua sejati dan palsu, salah dan benar. Tujuan hidup dari seorang Kristen dapat diringkas dalam dua kalimat: mengikuti kehendak Allah dan menyenangkan Tuhan.

Kita semua aslinya hidup di dunia yang jahat, pikiran dan perilaku tidak berbeda dengan manusia dunia, sama-sama tidak tahu kebenaran dan tidak mengerti kehendak Tuhan. Paulus menggambarkan situasi ini sebagai tertidur (Ef. 5:14). Ketika kita diterangi oleh cahaya Kristus, kita dibangunkan, datang untuk mengenal Allah, memahami kebenaran dan bertindak sesuai dengan kebenaran.

Orang yang tinggal dalam gelap, tidak tahu terang, juga tidak merasakan kegelapan, tidak memandang bahwa kegelapan sebagai masalah. Hanya ketika disinari Terang maka baru nyata kegelapan. Oleh karena itu, kita harus selalu memiliki kedekatan dengan Tuhan, dipenuhi dengan Roh Kudus, barulah berangsur-angsur mengerti kebenaran, keluar dari yang jahat dan masuk dalam yang baik. Pengudusan tidak pernah tercapai dalam satu langkah, kedua doa Paulus bagi orang percaya dalam pasal 1 dan 3 adalah memohon pertumbuhan, yang pertama adalah meningkatkan pengetahuan, dan yang kedua adalah meningkatkan pengalaman. Kita perlu ditambahkan dalam kedua area ini, bertumbuh dalam segala hal.

Anak-anak Terang harus berbeda dari anak kegelapan, maka Paulus melarang orang-orang percaya untuk meniru dunia dan bergaul menjadi kawanan mereka; Tidak satu jalan dengan bangsa asing, tidak melakukan hal-hal bodoh bersama-sama mereka. Tapi nilai keberadaan cahaya adalah untuk menerangi kegelapan, dan terang harus dinyatakan dalam kegelapan; Jangan meniru bukan berarti benar-benar menarik dan memisahkan diri, kita tidak kagum diri menjadi narsis, tetapi harus bisa menegur orang yang bertindak sia-sia yang berjalan dalam kegelapan (memberitahukan kebenaran). Kita adalah orang-orang yang tidak kompromi, tidak mengikuti (non-conformity), tetapi tidak memisahkan diri dari manusia dan membentuk komunitas separatis suci (separationist).

Paulus membuat panduan spesifik untuk hidup sebagai anak-anak Terang: arif memperhatikan dengan saksama bagaimana hidup, pergunakan waktu yang ada, memahami kehendak Tuhan, tidak kecanduan mabuk alkohol, senantiasa memuji Tuhan dan rendahkan diri satu sama lain.

Alasan utama 「menghargai waktu」 bukan karena waktu adalah berharga, hidup kita singkat; tetapi waktu pelayanan di bumi terbatas, dan Kristus segera akan kembali dan tanda-tandanya nyata pada 「hari-hari ini adalah jahat.」 Kesadaran akan akhir zaman membuat kita menjadi lebih aktif dan berhati-hati dalam memenuhi misi Injil.

Kehidupan yang waspada adalah tidak bermabuk-mabukan, berjaga-jaga tetap waspada, dan sering menaikkan mazmur pujian kepada Tuhan, dengan ajaran dan doa untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan adalah tindakan yang membantu kita mempertahankan kesadaran kita atas Allah dan kasih karunia-Nya, mengingatkan kita bahwa di belakang kehidupan yang terbatas terdapat dunia yang tak terbatas, dan bahwa ada dimensi yang kekal melampaui dunia kasat mata yang sementara ini. Orang yang sering berterima kasih kepada Tuhan, tidak mudah ditawan oleh dunia, tidak akan kehilangan arah hidup.

Renungkan:

1. Apakah kita memiliki cukup kewaspadaan terhadap dosa-dosa dunia dan memiliki cukup perhatian kasih bagi orang-orang dunia?

2. Bagaimana Anda dapat menjalani kehidupan yang 「berada di dunia tetapi tidak duniawi」? Bagaimana Anda dapat membuat nyata tuntutan ini?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Filemon 4-7

「Bersyukur bagi Filemon」

Ada hal bermakna sangat mendalam yang dilakukan Filemon sehingga Paulus bersyukur bagi Filemon.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:4-7 [ITB])
4Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku,
5karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.
6Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.
7Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.

Surat dari Paulus memiliki satu macam ciri khas, yakni setelah mengucapkan salam kepada penerima surat, selalu akan berdoa bagi mereka, bersyukur bagi kehidupan rohani mereka. Paulus memiliki dua macam tujuan di bagian ucapan syukur dari surat ini: pertama adalah berdoa kepada Allah bagi penerima surat; kedua adalah membuka jalan bagi isi surat, pengantar yang memperkenalkan topik utama, yang mencakup 「hati」 dan 「dihiburkan」(Flm. 1:7, 20). Dalam doa ucapan syukur di keempat ayat ini (Flm. 1:4-7), Paulus secara khusus banyak memakai kata ganti orang pertama dan kata ganti orang kedua, yakni 「aku / ku」 (9 kali, 1 kali 「kita」), dan 「engkau / mu」 (6 kali). Saat Paulus berkata 「engkau」, jelas adalah menunjuk Filemon, juga khusus menyebutkan karakter dan kualitas tingkah laku dia, ini adalah alasan Paulus bersyukur bagi Filemon.

Paulus bersyukur kepada Allah tentang kebajikan apa dari Filemon? Yakni hati yang penuh kasih dan iman dari Filemon, yang Paulus sering 「dengar」 dari orang percaya (ayat 5). Kasih dan iman dalam ayat 5-7 masing-masing muncul dua kali, ini adalah apa yang Paulus khusus tekankan, terlebih lagi diekspresikan dengan cara penulisan bersilang (detil cara penulisan ini dapat dibaca di bagian: ):

A kasih (ayat 5)
B iman (ayat 5)
B’ iman (ayat 6)
A’ kasih (ayat 7)

Namun siapakah pihak yang dikasihi dan diimani oleh Filemon? Dalam ayat 5 dikatakan demikian: 「kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus」, dan dalam ayat 6 dikatakan 「persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus」 (yang dimaksudkan 「mengerjakan … yang baik」 adalah perbuatan kasih). Dengan kata lain, semua orang kudus dipersandingkan dengan Tuhan Yesus, artinya bahwa perbuatan baik yang dilakukan pada diri orang percaya, adalah dilakukan pada diri Tuhan Yesus, tepat seperti Tuhan Yesus pernah katakan: 「sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku」 (Mat. 25:40) .

Perbuatan baik Filemon sangat menggerakkan hati Paulus, sehingga Paulus khusus menyebut Filemon sebagai 「saudara」. Ini adalah muncul yang kedua kali, Paulus pernah menyebutkan Timotius sebagai saudara di ayat 1, 「saudara」 adalah sebutan terhadap orang yang ada dalam rumah. Paulus memakai sebutan keluarga adalah hendak mengekspresikan relasi intim yang sangat dekat di antara mereka (perhatikan Paulus tidak memakai identitas rasulnya, lihat ). Paulus dengan tulus melanjutkan mengutarakan isi hatinya yang gembira: 「Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku」 (ayat 7). Tindakan Kasih dan iman dari Filemon, tidak hanya membuat Paulus mendapatkan sukacita yang demikian besar serta kekuatan dorongan semangat, dan hati semua orang kudus juga mendapatkan dihiburkan atau diperbaharui (sesuai mayoritas terjemahan Inggris KJV, NIV, refreshed) (lihat juga 2 Tim. 1:16 「menyegarkan」; Luk. 2:19 「beristirahatlah」).

Ayat 7 adalah titik pertama dalam surat ini di mana Paulus memakai kata 「hati」, hati tentu saja bukan menunjuk organ hati (liver), tetapi menunjuk bagian terdalam dari hati rohani (deepest inner being). 「Hati」 dalam surat Paulus pernah muncul 8 kali, namun dalam surat Filemon telah dipakai tiga kali, ini menyatakan tujuan khususnya, ini akan kita lanjutkan untuk direnungkan di teks berikutnya.

Renungkan: (1) persembahkan syukur kepada Allah bagi seorang percaya; (2) introspeksi keadaan kasih dan iman dari diri kita sendiri; (3) Allah di sini telah menjamah hati Paulus, memohon Roh Kudus juga menjamah bagian terdalam dari hati saya.