Tag Archives: Mengalami Allah

2 Korintus 1:3-11

Dalam segala penderitaan

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 1:3-11 [ITB])
3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, 4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.
5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. 6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.
7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.
8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.
Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. 10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, 11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

Selalu ada pasang surut dalam hidup, dan itu tidak akan selalu berlayar mulus, ini adalah sesuatu yang semua orang mengerti dan menerima, masalahnya adalah ketika kesulitan dan tantangan datang, bagaimana kita akan menghadapi dan meresponsnya? Reaksi yang berbeda akan menyatakan kita adalah orang yang bagaimana, dan apa yang ada dalam iman, visi dan arah hidup. Tuhan Yesus pernah berkata, ketika seorang gembala melihat serigala datang dan melarikan diri meninggalkan domba-domba, ia hanyalah pekerja upahan yang peduli pada dirinya sendiri dan tidak peduli para domba (Yoh. 10:12-13), serigala itu bisa saja sifat rakus keuntungan dan melupakan kebenaran, bisa juga sifat kemunafikan berpura-pura orang jujur, sifat penjahat, atau kekuatan yang menghalalkan segala cara untuk menindas komunitas iman, ketika serigala datang, lalu apa tindakan gembala dalam menanggapi keadaan ini, akan menunjukkan sifat asli gembala ini. Sifat otentik (authentic) seseorang biasanya menjadi nyata ketika kesulitan dan badai datang, di dalam penderitaan nyata jati diri asli.

Ketika Paulus sedang menulis 《Surat 2 Korintus》, ia menghadapi kesulitan dan tantangan besar dalam hidup. Belum lama ia menghadapi tekanan besar dan penderitaan yang mengancam jiwa di Asia (1:8; beberapa ahli menunjukkan bahwa ini dicatat dalam Kis. 19:21-41, kerusuhan yang terjadi di Efesus), dan sekarang dia terlebih ditantang dan diserang dengan jahat oleh rekan-rekan di gereja Korintus, dapat dibayangkan betapa kecewa dan sedih hati dia saat ini. Paulus memiliki banyak alasan, peluang lain, dan modal jika ia ingin meninggalkan jemaat Korintus. Namun, ia memilih untuk menghadapi serangan dan tantangan ini secara langsung, bukan untuk menjaga kehormatan pribadi, bukan untuk membalas mereka yang memfitnah dirinya, tetapi adalah untuk tujuan membangun orang (13:10), ia hendak membawa hati saudara-saudara tersebut agar kembali untuk menaati Kristus (10:5). Dapat dilihat bahwa dasar pertimbangan Paulus membuat semua keputusan adalah apakah dapat menaati Kristus dan membangun saudara dan saudari. Ya, kesulitan sangat besar, dan tekanan juga tak tertahankan, tetapi bagaimana orang harus berjalan bertindak tidak ditentukan oleh keadaan dan emosi. Karena sudah mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka kedaulatan atas hidup kita harus diberikan kepada tangan Yesus Kristus, Dia memutuskan langkah berikutnya. Ini adalah sikap dan cara hidup orang yang percaya dan mengikuti Kristus.

Selain memiliki pandangan hidup yang benar, apa yang ada di balik Paulus yang mendukungnya, sehingga ia memiliki tekad dan motivasi yang kuat untuk mengatasi segala tekanan dan penderitaan yang datang? Ayat Alkitab yang kita baca hari ini (1:3-11) membuat kita melihat bahwa itu adalah pengenalan dan pengalaman yang mendalam seseorang terhadap Allah. Siapakah Allah? Atau lebih tepatnya bertanya, bagi Paulus siapakah Allah? Mengenai pertanyaan ini, setiap orang Kristen memiliki jawaban di dalam hatinya, perbedaannya apakah dia bisa menjelaskan, sistematis, dan berdasarkan apa. Setiap orang percaya pasti di dalam hati memiliki pandangan tentang Allah, dan apa pandangan tentang Allah itu mempengaruhi bagaimana seseorang menghadapi kesulitan dan kesengsaraan dalam hidup. Di dalam hati Paulus, Allah adalah seorang Bapa yang penuh kasih, yang akan selalu memberikan segala macam penghiburan dalam semua kesengsaraan (1:3-4); tidak hanya demikian, terlebih Allah adalah Tuhan yang membangkitkan orang mati (1:9), kedua keyakinan ini menjadi sandaran dan dasar Paulus untuk menghadapi semua penderitaan. Mengapa seseorang bisa bertahan? Karena Bapa yang penuh kasih memberikan segala macam penghiburan. Apa yang dibutuhkan orang yang dalam kesusahan dan kesulitan adalah penghiburan dan dorongan, dan penghiburan dan dorongan yang terbesar adalah yang datang dari Tuhan. Mengapa orang harus bertekun? Karena Allah memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati, Dia tidak dibatasi oleh semua kesulitan sebesar apapun. Allah benar-benar mampu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Berdasarkan dua dasar keyakinan iman ini, Paulus dalam kesulitan besar tetap masih bisa bertahan dan menghadapi dengan sikap positif.

Berasal dari mana dua keyakinan tentang Allah ini? Di satu sisi adalah wahyu dari Yesus Kristus (Allah Bapa Yesus Kristus, telah membangkitkan Dia dari antara orang mati!), Di sisi lain adalah pengalaman nyata Paulus (dalam kesulitan Tuhan telah menghibur mereka, dan menyelamatkan mereka dari kematian yang begitu besar; 1:4, 10). Wahyu dan menghidupinya bukan dua hal yang berlawanan, Allah mewahyukan diri-Nya atau menyatakan diri-Nya di dalam Kristus, kita menghidupi serta mengalami sifat nyata dan kebenaran wahyu Allah tersebut dalam kehidupan kita. Tidak mengalami sifat nyata dan kebenaran wahyu Allah maka hanya mengalami pengalaman manusia, wahyu yang disampaikan dalam Alkitab jika tidak pernah kita alami maka hanya menjadi teori abstrak dan utopis. Paulus memiliki wahyu dari Tuhan, dan pada saat yang sama mengalami sisi yang nyata dari Allah dalam pengalaman pribadinya. Keyakinan dan pengalaman yang nyata ini memberinya tekad dan motivasi yang kuat untuk bertekun. Tidak hanya itu, tetapi ia dapat lebih lanjut menggunakan iman ini dan pengalaman ini untuk menghibur, mendorong dan meneguhkan orang-orang di sekelilingnya: Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga (1:6)

Terakhir, berbicara sedikit tentang cara Paulus menulis. Paulus mengatakan kata-kata ini pada awal surat (para ahli berpendapat bahwa bagian ini adalah pujian), tujuannya tidak hanya untuk menjelaskan kepada jemaat Korintus bagaimana ia menghadapi penderitaan, tetapi juga untuk membantu orang percaya menghadapi penderitaan yang sama, menanggung penderitaan yang sama. Pada saat yang sama, Paulus juga melalui pengalaman penderitaan untuk menyatukan dirinya dengan orang percaya di Korintus: pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami (1:7), karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami (1:11). Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi perasaan dan hubungan, ketika kita dapat merangkul seseorang secara perasaan berdiri di sisi kita, maka mudah untuk melanjutkan pembicaraan. Berdiri di sisi perasaan yang sama adalah hal yang sangat penting. Dalam situasi sulit di mana orang terus-menerus mempertanyakan dan memfitnah dirinya, Paulus pertama-tama berbagi pengalaman penderitaan kepada para penerima surat ini, menekankan bahwa ini adalah untuk penghiburan dan keselamatan mereka, adalah tulisan yang sangat benar dan bijaksana.

Renungkan:
Bagaimana pengenalan seseorang akan Allah membantu seseorang menghadapi segala macam kesulitan dan penderitaan? Kesulitan dan tantangan apa yang saya hadapi sekarang? Bagi saya, siapakah Tuhan itu? Di sekitar saya apakah ada yang menderita, yang perlu penghiburan, dan perlu dukungan saya? Apa yang harus saya gunakan untuk menghibur dan mendorong mereka?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yehezkiel 10:9-22

「Meninggalkan Bait Suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 10:9-22 [ITB])
9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu terdapat empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihatannya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya adalah serupa, seolah-olah roda yang satu di tengah-tengah yang lain. 11 Kalau mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau berjalan; karena tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka, punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga.
13 Aku dengar bahwa roda-rodanya disebut puting beliung. 14 Masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.
15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan, roda-roda itu juga berjalan di samping mereka;
kalau kerub-kerub itu mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak dari samping mereka.
17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu berhenti,
kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik dengan mereka;
sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu.
18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka.
Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub. 21 Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.

Kemuliaan TUHAN akan meninggalkan Bait Suci, dan penghakiman Allah akan segera datang. Namun, paragraf ini memiliki banyak deskripsi tentang kemuliaan TUHAN pergi meninggalkan, melibatkan banyak elemen transenden, dan detail setiap elemen memiliki simbolisme khusus. Ayat 9 memulai paragraf baru dengan Aku melihat, sungguh, menjelaskan secara rinci isi penglihatan, termasuk empat roda kerub (ayat 9-17) dan proses perginya kemuliaan TUHAN meninggalkan (ayat 18-20), dan terakhir makhluk hidup yang dilihat nabi Yehezkiel di Sungai Kebar (ayat 21-22).

Pada dasarnya, keadaan empat roda kerub yang dijelaskan dalam ayat 9-17 sesuai dengan empat roda yang disebutkan dalam penglihatan Yehezkiel di Sungai Kebar (Yeh. 1:15-21), dan satu perbedaan adalah bahwa Yehezkiel di waktu yang pertama tidak tidak tahu bahwa makhluk hidup yang dilihatnya adalah kerub, tetapi di perikop ini (ayat 9-17) dijelaskan bahwa itu adalah kerub. Dikatakan dalam ayat 14 masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.Dan dalam penglihatan Yehezkiel yang dijelaskan sebelumnya seperti ini muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang(Yeh. 1:10), tampaknya 10:14 muka kerub menggantikan muka lembu di 1:10, dan menempatkan muka Kerub di awal empat wajah. Karena penglihatan Yehezkiel datang dari utara (Yeh. 1:4), kita dapat membayangkan bahwa di depan (muka manusia) yang dijelaskan dalam ayat 10 adalah selatan, dan di sebelah kanan (muka singa) adalah barat, di sebelah kiri (muka lembu) adalah timur, dandi belakang(muka rajawali) adalah utara, tetapi posisi terakhir Yehezkiel yang disebutkan dalam 10:14 adalah di timur (Yeh. 8:16 ) atau di pintu masuk Bait Suci (Yeh. 9:3), keduanya di timur, maka muka kerub yang disebutkan dalam ayat 10:14 harus di timur, muka manusia di selatan, dan muka singa ada di barat, muka rajawali di utara, sama seperti yang dijelaskan di 1:4, hanya saja muka kerub menggantikan muka lembu yang sama di timur. Bisa jadi muka kerub adalah bayangan yang dilihat dari timur, tetapi jika Yehezkiel melihat dari selatan, muka kerub disebutnya sebagai muka lembu. Namun penekanan pada muka kerub dalam ayat 10:14 dengan jelas menunjukkan bahwa ini adalah takhta Allah, dan gambaran roda menunjukkan mobilitas pergerakan takhta Allah, yang berarti bahwa kemuliaan TUHAN tidak hanya mengikuti takhta kerub pergi meninggalkan, bahkan pergi menyertai bersama orang-orang yang diasingkan.

Ayat 18 menjelaskan kemuliaan TUHAN meninggalkan pintu masuk Bait Suci yang berada di sebelah timur Bait Suci, kerub siap menyambut kemuliaan Allah di pintu masuk (timur) Bait Suci. Ayat 19 menggambarkan kerub melebarkan sayapnya dan bangkit dari tanah, secara resmi bersama dengan kemuliaan Allah. meninggalkan Bait Suci.

Ayat 20 mengembalikan pandangan ke Sungai Kebar. Di awal pasal 8 disebutkan saat Yehezkiel berada di antara para tua-tua Yehuda, ia diangkat oleh roh Allah dibawa dalam penglihatan ilahi ke Yerusalem, dan akhirnya Yehezkiel kembali ke komunitas orang-orang di penawanan, dan memahami bahwa makhluk hidup dilihat di Sungai Kebar adalah kerub, artinya setelah TUHAN meninggalkan Bait Suci, kemuliaan-Nya tetap menyertai orang-orang di penawanan, dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub (ayat 20). Kalimat ini menunjukkan bahwa TUHAN yang duduk di atas takhta kerub dan TUHAN yang meninggalkan Bait Suci adalah Allah yang sama. Sekalipun Yehezkiel setelah ditawan ke pengasingan tidak bisa melayani sebagai imam di Bait Suci seumur hidupnya, namun dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan rekan-rekan para imam yang lain, ia lebih memahami hati dan realitas Allah lebih baik daripada mereka yang tidak pernah ditawan. Ternyata meskipun penawanan telah merampas masa depan Yehezkiel sebagai imam, namun tidak bisa merampas Allah Imanuel, Allah selalu menyertai orang-orang yang terserak dan orang-orang yang menumpang hidup.

Renungkan:
TUHAN meninggalkan Bait Suci karena kejahatan yang dilakukan oleh para pemimpin Yehuda, dan karena hukuman TUHAN semakin dekat, kepergian Allah berarti awal dari hukuman itu. Di tempat suci tanpa Allah, semua pengorbanan dan ibadah yang dilakukan menjadi tidak berarti, walau betapa indah dan hebatnya proses penyembahan itu, tidak ada gunanya. Namun, inilah awal dari pengalaman kelompok pengasingan akan Allah, Allah meninggalkan Bait Suci, tetapi Dia tidak meninggalkan orang-orang di pengasingan ini. Mobilitas pergerakan roda kerub menunjukkan bahwa Allah beserta orang-orang di diaspora dan orang-orang yang menumpang hidup. Ternyata meskipun orang berdosa itu ditawan, kehadiran Allah tidak berubah, ironisnya tidak ada Allah di Bait Suci yang indah itu, sedangkan kelompok yang terasing dan terlantar bisa merasakan Allah secara mendalam.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 3:1-18

「Aku orang itu」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:1-18 [ITB])
1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.
2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya. 3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.
4 Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya.
5 Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan. 6 Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. 7 Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat.
8 Walaupun aku memanggil-manggil dan berteriak minta tolong, tak didengarkan-Nya doaku
9 Ia merintangi jalan-jalanku dengan batu pahat, dan menjadikannya tidak terlalui. 10 Laksana beruang Ia menghadang aku, laksana singa dalam tempat persembunyian. 11 Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun.
12 Ia membidikkan panah-Nya, menjadikan aku sasaran anak panah. 13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.
14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.
15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh. 16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.
17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.
18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

Ratapan Yeremia pasal 3 adalah pusat dari lima pasal kitab Ratapan Yeremia, dan hanya di sini saja disebutkan pengharapan perjanjian. Di pasal ini sebutan puteri Sion ditinggalkan dan beralih ke orang itu maskulin laki-laki (ayat 1) dalam bentuk monolog. Tidak menyebutkan tentang Sion, Yerusalem, tembok kota, tempat kudus, imam, tua-tua, anak-anak, ibu, dll. yang terdapat dalam pasal 1, 2, dan 4, sehingga pengalaman penderitaan yang dijelaskan dalam pasal 3 ini tampaknya sudah meninggalkan Yerusalem yang hancur, yang sudah menjadi sejarah, yakni sejarah penawanan ke pengasingan pada 586 SM, beralih kepada perjalanan batin penderitaan yang bersifat lebih umum dari orang itu, sehingga orang-orang yang menderita dengan penyebab dan peristiwa apa pun dapat menemukan resonansi dan menjadi orang itu

Ayat 1 dimulai dengan akulah orang itu, menjelaskan bahwa orang ini menerima tongkat murka TUHAN (rod of his wrath KJV, CUV; terjemahan ITB agak berbeda cambuk murka-Nya). Tongkat TUHAN (Yahweh) dulunya adalah tongkat penggembalaan, Dia memimpin domba ke padang rumput hijau (Mazmur 23:4), Sekarang tongkat yang sama membawa murka dan didikan disiplin kepada orang itu. Prolog pembukaan seperti itu menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu orang tersebut terhadap Mazmur 23 telah dibalik.
Faktanya, banyak uraian di Ratapan 3:1-18 yang mirip dengan Mazmur 23. Kita bisa menggunakan daftar di bawah ini untuk menjelaskannya:

Ratapan 3:1-13 — Mazmur 23
Tongkat murka TUHAN (Rat. 3:1)
Tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Maz. 23:4)
Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya (Rat. 3:2)
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang (Maz. 23:2)
Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat (Rat. 3:6-7)
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (Maz. 23:4)
Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun (Rat. 3:11)
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku (Maz. 23:5)

Seperti yang dapat dilihat dari daftar di atas, penulisan beberapa pengalaman di Ratapan 3:1-18 mengadopsi tata bahasa Mazmur 23, yang menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) mengubah tongkat penghiburan menjadi murka, dan pada mulanya menuntun orang ke rerumputan hijau dan tepi air, berganti membawa orang ke tempat gelap; awalnya menuntun orang melewati lembah bayang-bayang kematian, tetapi sekarang menuntun orang ke tempat gelap, membuat orang seperti orang yang sudah lama mati; awalnya melindungi orang dari serangan musuh, sekarang mereka menjadi musuh orang ini, merobek-robeknya (ayat 11), pembalikan citra sebagai Gembala seperti ini membuat orang tersebut tidak dapat memahaminya. Karena Allah telah mengubah citra diri-Nya sedangkan ia tidak mengharapkan penyebab dari perubahan ini, penyair Ratapan menunjukkan dalam ayat 18 bahwa ia merasa tidak ada pengharapan pada TUHAN (Yahweh). Penyair Ratapan merasa tidak dapat menemukan harapan pada Allah karena Ia telah berubah total.

Renungkan:
Tuhan di masa lalu seperti Mazmur 23, sekarang telah menjadi gambaran yang sepenuhnya berlawanan, sehingga kita tidak dapat menggunakan pengetahuan masa lalu kita tentang Tuhan untuk memahami aku yang saat ini, orang itu yang saat ini yang dalam penderitaan. Kerangka teologis yang ada tidak cukup untuk mengatasi penderitaan saat ini. Beberapa pengalaman yang diberkati tidak dapat terulang kembali di masa sekarang pada aku yang saat ini, orang itu yang saat ini, jadi hanya dapat mengungkapkan perjalanan mental yang kontradiktif ini dalam nyanyian ratapan, dan secara terus terang menunjukkan bahwa ia merasa tidak ada harapan di dalam Tuhan. Namun, suara putus asa ini hanyalah permulaan, dan dalam renungan kita besok akan memahami sumber harapan, tetapi ketika harapan belum datang, kadang-kadang kita perlu mengalami situasi putus asa, agar pada saat yang sama dapat melihat harapan yang sejati. Harapan dalam keputusasaan seperti inilah yang diharapkan Kitab Suci untuk kita pikirkan.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:48B

「Janji di pohon Ara」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:48 [ITB])
48 Kata Natanael kepada-Nya: Bagaimana Engkau mengenal aku? Jawab Yesus kepadanya: Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.

「Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara」

Melanjutkan pembicaraan tentang melihat. Ketika Natanael bertanya kepada Yesus, Bagaimana Engkau mengenal aku? Sebenarnya Yesus tidak secara formal menjawab pertanyaan itu.

Sekilas di permukaan, Yesus menyebutkan beberapa informasi tentang waktu dan tempat. Waktu dan tempat ini tampaknya menjadi bukti bahwa Yesus mengenal Natanael. Padahal, Yesus tidak membutuhkan bukti apapun. Yesus tidak harus menggunakan waktu, orang, atau tempat untuk membuktikan diri-Nya, kemuliaan dan otoritas-Nya cukup untuk membuktikan diri-Nya.

Jika kita memperhatikan kalimat ini, pada kenyataannya, kita tidak dapat mengetahui apa yang Yesus dan Natanael katakan: Sebelum Filipus memanggil engkau. Ini adalah waktu yang tidak dapat dikenali, dan Alkitab tidak menjelaskan apapun, kita tidak merujuk kepadanya. Di bawah pohon ara, ini juga merupakan tempat yang tidak kita ketahui, Pohon ara yang mana? Pohon ara di waktu yang mana? Kita semua tidak dapat mengetahuinya.

Tapi itu tidak masalah. Yesus berkata bahwa hanya Dia dan Natanael yang dapat memahami dan mengalami hubungan tersebut. Hubungan ini bersifat privat, personal, dan spiritual. Faktanya, kita tidak mengerti bagaimana kalimat ini cukup untuk membuat Natanael patuh. Namun, itu tidak relevan. Karena Yesus hanya menceritakan hubungan paling rahasia dan pribadi antara Dia dan Natanael. Orang luar tidak dapat memahami kapan janji di bawah pohon ara ini terjadi, juga tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di bawah pohon ara — hanya Natanael yang tahu betapa pentingnya pohon ara ini.

Literatur rabi (rabbinic literature) menganggap pohon ara sebagai tempat latihan spiritual dan doa, dan melambangkan rumah. Pohon ara Natanael adalah simbol hubungannya dengan Allah. Sebagai seorang Israel sejati dan tidak ada kepalsuan di dalamnya, dia setia kepada Allah. Pohon ara ini adalah penting baginya.

Tepat di bawah pohon ara inilah Yesus Kristus melihat Natanael, sebuah pengalaman pribadi dan titik awal hubungannya dengan Kristus.

Renungkan:
Dimana pohon ara Anda? Ini adalah titik awal hubungan Anda dengan Tuhan. Itu pribadi dan tidak diketahui, tetapi juga merupakan tempat paling intim antara Anda dan Kristus. Kadang-kadang kita perlu kembali di bawah pohon ara ini dan dilihat oleh Kristus lagi, biarkan diri Anda sekali lagi melihat Dia melihat Anda.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:26-28

「Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:26-28 [ITB])
26 Yohanes menjawab mereka, katanya: Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. 28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Atas pertanyaan para imam dan orang Lewi itu, Yohanes Pembaptis sama sekali tidak menjawab. Yohanes tidak membela diri dalam membaptis orang. Kenyataannya, Yohanes tidak pernah tertarik untuk menjawab pertanyaan menghakimi kualifikasi yang dilontarkan para imam dan orang Lewi. Yohanes hanya tertarik untuk menyaksikan Kristus kepada orang-orang yang tidak mengenal Kristus — oleh karena itu Yohanes menggeser topik menghakimi kualifikasi beralih kepada topik bersaksi tentang Kristus.

Ini adalah jawaban Yohanes Pembaptis yang rendah hati: Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Mari pertimbangkan jawaban Yohanes Pembaptis ini:

Aku membaptis dengan air: Implikasi dari kalimat ini berarti Aku (hanya) membaptis dengan air. Dikorespondensikan dengan ayat 33, Tuhan Yesus Kristus yang membaptis dengan Roh Kudus, Yohanes tahu bahwa apa yang dia lakukan benar-benar begitu kecil tidak ada apa-apanya. Baptisan air hanya bersifat simbolis, tidak dapat benar-benar mengubah kehidupan, hanya mempersiapkan pekerjaan Tuhan dan menuntun orang untuk mengalami baptisan Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus.

Kamu tidak kenal: para imam dan orang Lewi masih belum mengenal Kristus. Meskipun mereka datang ke Yohanes Pembaptis dengan perhitungan strategi mereka, yang mereka dapatkan adalah kesempatan untuk mengenal Kristus. Siapapun yang benar-benar bertemu dengan Kristus hidupnya diubahkan. Meskipun mereka membawa berbagai macam motif yang buruk, tetapi sekali mereka bertemu Kristus dan baptisan Roh Kudus datang, hidup mereka akan diubahkan. Oleh karena itu, pada saat ini sebelum perjumpaan itu terjadi, Yohanes, sebagai seorang saksi Kristus, mengambil peran sebagai penghubung ini.

Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak: Ini adalah pertama kalinya Yohanes secara pribadi menggambarkan hubungannya dengan Kristus, itu adalah kalimat negatif lainnya sama seperti aku bukan Mesias (ayat 20). Dapat disimpulkan, aku bukan Mesias, aku bukan, dan aku tidak layak membuka tali kasut-Nya adalah kesaksian yang dirangkum oleh Yohanes Pembaptis.

Renungkan:
Kesaksian Yohanes Pembaptis telah berakhir. Dalam beberapa hari terakhir ini kita telah bersama-sama merenungkan kesaksian Yohanes Pembaptis, kita telah melihat bagaimana Yohanes memandang peran dirinya di hadapan Kristus. Menghadapi segala macam perhitungan penuh staragtegi licik di dunia ini, Yohanes dengan jelas mengajari kita bagaimana menjadi saksi Kristus di dunia. Saudara dan saudari, bersediakah Anda mengikuti teladan Yohanes Pembaptis hari ini dan menjadi suara yang bersaksi bagi Kristus di dunia?


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 5

「Iman yang Tulus serta Real Konkret」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

Bacalah secara cepat 1 Tesalonika pasal 5 (klik untuk membaca).

Paulus tinggal di Tesalonika hanya selama tiga minggu, meskipun ia menabur benih-benih Injil dan mendirikan komunitas orang percaya ini, ia tidak punya banyak waktu untuk menggembalakan dan membina mereka; orang-orang percaya ini baru saja percaya kepada Tuhan Yesus segera mengalami tekanan politik yang kejam, maka secara alami Paulus khawatir mereka tidak dapat mempertahankan iman mereka. Ia sungguh ingin kembali ke Tesalonika untuk mengunjungi mereka, tetapi tidak dapat melakukannya karena dihalangi Iblis (2:17-18). Pada akhirnya, Paulus harus mengutus Timotius pergi mewakili dia. Timotius kembali ke Tesalonika mewakili tim Paulus, bertemu dengan orang-orang percaya, dan tinggal di antara mereka selama suatu jangka waktu. Di satu sisi, ia mengamati situasi gereja dan orang-orang percaya, di sisi lain ia mencatat pertanyaan-pertanyaan iman yang mereka angkat dan membawa kembali apa yang ia lihat dan dengar kepada Paulus. Saat ini Paulus seharusnya berada di Korintus (Kis. 18:5; 1 Tes. 3:1-6).

Ada yang berpendapat bahwa saat itu Paulus berada di Atena. Namun, surat ini ditandatangani bersama oleh Paulus, Silas, dan Timotius, hanya selama di Korintus ketiga orang itu melayani dan hidup bersama, jadi ketika Paulus menulis surat ini berada di Korintus, ini adalah perkiraan yang paling masuk akal.
Setelah mendengar kabar baik yang dibawakan oleh Timotius tentang gereja Tesalonika, Paulus menuliskan Surat 1 Tesalonika, di satu sisi, mendorong orang percaya untuk melanjutkan dan memiliki kesaksian iman yang baik; di sisi lain, ia juga menjawab pertanyaan mereka tentang masalah iman, terutama doktrin hari-hari akhir. Waktunya seharusnya antara 50 dan 51 AD.
Timotius membawa surat Paulus ini kembali ke Tesalonika, sejak itu, setidaknya ia datang sekali lagi. Dia tampak seperti seorang pembawa pesan, jembatan komunikasi antara Paulus dan Tesalonika. Belakangan, Paulus menuliskan Surat 2 Tesalonika, yang membahas pertanyaan lanjutan yang diterima dan doktrin akhir zaman (eskatologi) yang belum sepenuhnya selesai dibahas dalam buku sebelumnya.

Orang-orang percaya di Tesalonika dapat membangun fondasi iman yang kuat dalam waktu singkat segera setelah percaya kepada Tuhan, dalam kondisi tanpa penggembalaan dan kepemimpinan seorang pendeta senior, mereka masih dapat menahan tekanan aniaya eksternal yang kuat dan tetap dapat berdiri teguh. Ini patut dipuji. Kunci alasan utama: kepercayaan mereka tulus dan real / konkret.
Pertama-tama, iman mereka tulus, itu bukan dengan cara mengubah iman menjadi alat mencari manfaat dan keuntungan, itu bukan untuk mendapatkan kekenyangan roti atau mendapatkan manfaat dunia. Tidak ada keraguan bahwa harus ada alasan untuk berganti agama, keinginan pribadi memang adalah unsur paling utama dan penting, misalnya, masalah bisa diselesaikan dan kebutuhan terpenuhi, hanya sedikit orang yang murni religius hanya demi religi ; namun, jika agama hanya alat sarana untuk mencari penyelesaian masalah pribadi, maka ketika masalah terselesaikan, kebutuhan terpenuhi, lalu agama sudah menjadi tidak relevan, tidak dibutuhkan lagi. Cari dokter jika Anda sakit, tetapi sekarang setelah penyakitnya sembuh, apakah Anda masih membutuhkan dokter terus menerus di sisi Anda? Oleh karena itu, elemen asli atau tujuan sejati dari orang percaya Tesalonika jelas bukan utilitarian (memaksimalkan penggunaan untuk mendapatkan manfaat keuntungan dan mengurangi penderitaan semaksimalnya), mereka dengan tulus menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mengetahui dan mengalami Yesus yang bangkit dari kematian, dan menanamkan iman baru ini sebagai inti kehidupan mereka, melaluinya mengubah pandangan hidup, pandangan terhadap dunia, dan sistem nilai-nilai mereka. Bukan sekedar menambahkan keyakinan baru pada kepercayaan lama, tetapi mengganti keyakinan lama dengan keyakinan baru, bukan kantong kulit lama untuk memuat anggur baru (Mat. 9:17).

Iman tidak bisa berpusat pada diri sendiri, tetapi dalam hidup menemukan Dia yang lain dari diri sendiri, dan mulai saat itu setia mengikut Dia.
Iman bukan sekedar untuk menemukan pembantu atau penolong, tetapi terlebih adalah menghadap Tuan (Tuhan) atas kehidupan, ia menjadi pelayan di hadapan Tuan ini, alih-alih menemukan agama sebagai sumber penyokong untuk memenuhi rencana diri, tetapi sebaliknya menemukan bahwa ia ada di dalam rencana besar yang ditetapkan Tuan (Tuhan) ini, tugas bagi seluruh hidupnya adalah menyelesaikan rencana-Nya.
Orang percaya Tesalonika adalah pengejar iman yang tulus. Ketika mencari, menemukannya. Mereka yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan, maka Allah pasti akan mengangkat wajah-Nya menghadap kepada dia. Lama atau pendeknya waktu bukanlah faktor utama penentu segala.

Kedua, selain dari ketulusan, iman orang Tesalonika juga benar. Kekristenan bukan hanya kisah yang mereka dengar dari tim Paulus, tetapi juga kisah nyata diri mereka sendiri. Mereka pastilah telah bertemu Yesus, dan dunia kehidupan mereka telah diterobos masuk oleh Yesus dan bertemu mereka, ini adalah pengalaman iman yang langsung tangan pertama, bukan pinjaman. Karena dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Iman yang nyata tidak dapat dipisahkan dari pengenalan rasional, tetapi itu tidak dapat murni hanya berupa penerimaan seperangkat konsep-konsep saja, haruslah ia memiliki pengalaman pribadi yang sesungguhnya. Yesus bukan sekedar tokoh dalam sejarah, tetapi pribadi Tuhan yang hidup, bagaimana mungkin orang yang belum pernah bertemu Yesus, bisa benar-benar percaya kepada Yesus?

Meskipun banyak orang mengaku percaya kepada Yesus, kepercayaan mereka tidak berdiri teguh terombang-ambing arus manusia, mengucapkan banyak ungkapan spiritual yang mereka dengar dan menjiplak dari orang lain, namun bukan pengalaman diri mereka sendiri. Situasi ini paling umum di Generasi warisan kedua , dari sejak kecil pergi ke gereja bersama orang tua dan menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mendengarkan banyak kebenaran dari persekutuan dan sekolah Minggu, bahkan mengetahui dengan baik beberapa bagian Alkitab (terutama ayat-ayat cerita narasi) tahu lebih banyak daripada mahasiswa teologis. Lebih parah lagi, mereka mendengar banyak skandal di gereja dari mulut ayah dan saudara mereka, sangat mengenal begitu mendalam luar atau dalam kekristenan. Tetapi mereka yang begitu akrab dengan kekristenan tidak pasti memiliki iman yang benar; beberapa hanya orang percaya nominal, beberapa hanya menganggap gereja sebagai kelompok sosial, dan beberapa tidak lagi menghadiri gereja ketika mereka dewasa, meninggalkan warisan iman ini.

Tanpa iman pribadi yang real (konkret), hampir tidak mungkin untuk menahan goncangan dan tantangan dari luar, karena kita tidak akan membayar harga yang besar dan mahal untuk sebuah teori, dan kita tidak akan melepaskan kehidupan pribadi dan hal-hal berharga lainnya untuk agama yang tidak membawakan keterkaitan pribadi. Jika iman kekristenan itu dianggap tidak berharga, maka terlebih lagi tidak sepadan dan tidak berharga membayar biaya sosial yang tinggi.
Iman yang teguh harus tulus dan real (sungguh). Ketulusan adalah sikap terhadap iman, sedangkan kebenaran nyata dan real (sungguh) adalah pengetahuan dan pengalaman yang konkret.

Renungkan:
Ketulusan dan sifat real nyata adalah dua unsur iman yang paling mendasar dan tak terpisahkan. Kita tidak bertanya kepada seseorang apakah ia percaya dengan baik atau tidak, tetapi bertanya kepadanya apakah ia percaya sungguh atau tidak. Jika itu tidak sungguh, maka betapapun baiknya, itu adalah kebohongan (palsu yang dianggap sebagai yang baik) dan dangkal. Apakah kita percaya yang sungguh? Apakah kita orang Kristen sejati?


Saudara dan saudari, kekhawatiran bukan tentang Anda adalah orang-orang percaya yang dangkal, sebab iman Anda adalah tulus dan sungguh. Namun, bagaimana membantu orang percaya yang suam-suam kuku di gereja agar mereka menemukan motivasi iman, membantu mereka mengejarnya dengan serius, dan mendapatkan pengalaman tangan pertama secara langsung, ini telah menjadi tantangan utama dalam pelayanan kita. Maka pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku , agar orang-orang memiliki iman yang real dan menjadi murid Yesus yang sejati, itu adalah makna kunci dari misi Injil. Ini adalah tanggung jawab dasar dari semua orang percaya dan pelayan Tuhan, juga merupakan tujuan akhir dari kegiatan dan pelayanan Gereja. Tugas ini sangat penting terhadap kaum muda, khususnya generasi iman kedua.

Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 5:21-6:9

「Etika Rumah Tangga (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Perikop ini adalah pengajaran tentang etika keluarga. Jika iman itu dibuat kenyataan, maka pertama-tama harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, dan secara alami keluarga adalah yang paling penting.

Dalam masyarakat kuno, keluarga memiliki fungsi menghasilkan produksi dan mewariskan pengetahuan, jadi setidaknya ada tiga hubungan dasar antar personal, yaitu suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta tuan dan hamba. Ini persis merupakan tiga pasang hubungan yang dicakup dalam perikop ini. Paulus secara terpisah mengingatkan kedua pihak dalam setiap hubungan.

Paulus terlebih dahulu berbicara tentang hubungan antara suami dan istri. Tidak seperti masyarakat Cina yang meletakkan prioritas utama pada hubungan vertikal ayah-anak, Alkitab menekankan bahwa orang harus meninggalkan orang tua mereka, dan bersatu dengan istri, jadi hubungan horisontal merupakan prioritas tertinggi.
Tuntutan Paulus kepada suami dan istri adalah sederhana dan jelas: suami harus mengasihi isterinya dan isteri harus taat kepada suami.

Manusia modern menuntut persamaan dan menolak terhadap kata ketaatan, sehingga mereka tidak menyukai perkataan Paulus agar istri taat kepada suaminya. Banyak orang berusaha membuat cair doktrin yang secara implisit lebih mengutamakan laki-laki, mencoba untuk membawa kata 「saling rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain」 Ef. 5:21 untuk menutupi 「istri tunduklah kepada suami」di ayat Ef. 5:22, mengklaim bahwa ketundukan adalah dua arah, istri tunduk pada suami, suami juga tunduk istrinya.

Tapi Paulus selanjutnya memakai analogi suami dan istri dalam hubungan antara Kristus dan Jemaat, yang menunjukkan bahwa istri tunduk kepada suaminya sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, dan ketundukan ini adalah tanpa syarat 「dalam segala sesuatu」 (Ef. 5:24). Ini telah membuat pemikiran tersebut menjadi buntu, apakah Kristus dan Jemaat harus tunduk satu sama lain? Apakah Kristus harus tunduk kepada Gereja? Tidak ada keraguan bahwa Paulus berbicara tentang ketundukan dalam hubungan suami-istri adalah dalam satu arah.

Namun apakah permintaan Paulus ini tidak adil? Ya, itu sangat tidak adil. Tapi itu bukan tidak adil terhadap perempuan sebagaimana pendapat paham Feminisme, tapi sangat tidak adil kepada laki-laki. Karena ketika Paulus meminta istrinya untuk tunduk pada suaminya, Paulus meminta kepada suami mengasihi istrinya, membayar semua harga untuk istrinya dan bahkan mengorbankan dirinya seperti Kristus telah mengorbankan hidupnya bagi Gereja. Kita berpikir, hubungan antara Kristus dan Jemaat, siapa yang membayar harga lebih banyak, Kristus atau Gereja? Jika hubungan antara suami dan istri adalah sama seperti demikian, maka suami harus meletakkan segalanya bagi istrinya tanpa syarat.

Saya sering berkata kepada para saudari 「jika ada orang bersedia berkorban hidup bagi Anda, bukankah tidak terhitung direndahkan jika Anda tunduk kepadanya?」
Bagaimanapun juga, tidak peduli berapa banyak orang mengkritik Paulus sebagai seorang yang mengutamakan laki-laki, mengkiritk bahwa ajarannya tidak adil dan ketinggalan zaman. Saya percaya bahwa ini adalah cara tunggal bagi pernikahan yang berhasil. Tanpa prinsip dasar ini, tidak ada yang bisa sukses menjaga hubungan suami istri.

Pria mungkin bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam pernikahan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada mengabaikan istri. Ketidakpedulian dan mati rasa dari seorang pria adalah kejahatan pertama. Sebelum pernikahan, orang dapat sangat menghargai pacar dan tunangannya, setelah menikah memandang pihak lain sebagai sudah sepatutnya demikian, bukan tidak mencintainya lagi, tapi merasa kurang perlu sedemikian diperhatikan dan dilindungi. Pokoknya sudah menikah, sekarang adalah waktu untuk membangun karir, pikiran hanya ditempatkan dalam pekerjaan, urusan keluarga dihadapi seadanya saja sudah cukup. Namun, istri dari muda sampai usia tua, membutuhkan pengakuan dari seorang suami dalam relasi, perlu untuk mengungkapkan kasih sayang dalam tindakan nyata, untuk melindunginya, sehingga istri merasa aman, merasa dicintai. Alkitab mengingatkan suami untuk mengasihi istri-istri mereka, untuk merawat mereka, dan untuk mengasihi istri sampai pada tahap mengorbankan hidup diri sendiri.

Perempuan bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam perkawinan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menjadi pengomel. Sebelum pernikahan, wanita selalu menurut seperti burung kecil, tetapi setelah menikah mudah untuk menjadi banyak mengomel. Perempuan biasanya lebih kuat dalam berbicara dan ekspresi emosional daripada laki-laki, setelah pernikahan, karena kebutuhan sehari-hari, kehidupan yang berat, wanita berubah sangat mudah membuat hal-hal kecil menjadi besar, mengomel tiada henti. Ditambah dengan pikiran suami sebagian besar ditempatkan pada karier, setelah pulang rumah merasa lelah dan tidak banyak bicara, sampai pada titik istri merasa tidak perlu berdiskusi dengan suaminya, istri menjadi pengambil keputusan utama dalam segala hal, sehingga posisi suami dalam keluarga lebih terpinggirkan, hubungan antara suami dan istri menjadi hubungan ibu-anak. Alkitab mengingatkan istri untuk mengontrol lidahnya agar tidak menjadi pengomel, mengendalikan dorongan untuk menjadi bossy dalam segala hal, belajar untuk tunduk pada suami.

Selama suami terus mengasihi istrinya berkorban baginya, maka sebagai istri melanjutkan ketundukan kepada suaminya, perkawinan akan kuat seperti terbuat dari besi, tidak terpecahkan.

Selain keselamatan, keluarga yang bahagia adalah hadiah yang paling indah yang diberikan oleh Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda percaya bahwa keluarga adalah sebuah tempat penting dalam mempraktekan iman? Apa tekad Anda untuk hal ini?

2. Jika Anda telah menikah, pertimbangkan bagaimana Anda dapat meningkatkan hubungan suami – istri Anda dengan ajaran-ajaran Paulus. Jika Anda tidak belum menikah, silahkan aplikasikan kasih, berkorban dan ketundukan pada relasi cinta Anda.


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:3-21 (2)

「Anak-anak Terang (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:3-21 [ITB])
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas–tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14 Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Paulus tidak mengharapkan kita menjadi moralis, memenuhi seperangkat standar moral, untuk menjadi orang legalis (seperti orang Farisi), tetapi meminta kita untuk menjadi umat Tuhan yang memenuhi standar. Jika memakai gambaran terang dan kegelapan yang digunakan dalam Alkitab, kita harus menjadi anak-anak Terang.

Kita dahulu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang sudah meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam Terang, di dalam Tuhan telah menjadi anak-anak Terang, maka dengan demikian perilaku kita harus mencerminkan perubahan kehidupan, pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Anak-anak Terang semua baik, adil benar dan jujur.

Hidup baru merupakan prasyarat bagi cara kehidupan baru, tidak akan ada cara kehidupan baru tanpa adanya hidup baru; tetapi hidup baru tidak akan secara alami mengarahkan kepada cara kehidupan baru, masih perlu melalui upaya untuk mendapatkannya. Paulus membuat permintaan berikut: 「senantiasa ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan」(Ef. 5:10); 「Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif」 (Ef. 5:15); 「Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan」 (Ef. 5:17). Kita harus membedakan antara benar dan salah, mengerti kehendak Tuhan, dan untuk memeriksa apa berkenan kepada-Nya, sebagaimana Roma 12:2 katakan agar 「membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna」

Kehendak Allah dan hal yang berkenan kepada-Nya merupakan standar tertinggi untuk menilai semua sejati dan palsu, salah dan benar. Tujuan hidup dari seorang Kristen dapat diringkas dalam dua kalimat: mengikuti kehendak Allah dan menyenangkan Tuhan.

Kita semua aslinya hidup di dunia yang jahat, pikiran dan perilaku tidak berbeda dengan manusia dunia, sama-sama tidak tahu kebenaran dan tidak mengerti kehendak Tuhan. Paulus menggambarkan situasi ini sebagai tertidur (Ef. 5:14). Ketika kita diterangi oleh cahaya Kristus, kita dibangunkan, datang untuk mengenal Allah, memahami kebenaran dan bertindak sesuai dengan kebenaran.

Orang yang tinggal dalam gelap, tidak tahu terang, juga tidak merasakan kegelapan, tidak memandang bahwa kegelapan sebagai masalah. Hanya ketika disinari Terang maka baru nyata kegelapan. Oleh karena itu, kita harus selalu memiliki kedekatan dengan Tuhan, dipenuhi dengan Roh Kudus, barulah berangsur-angsur mengerti kebenaran, keluar dari yang jahat dan masuk dalam yang baik. Pengudusan tidak pernah tercapai dalam satu langkah, kedua doa Paulus bagi orang percaya dalam pasal 1 dan 3 adalah memohon pertumbuhan, yang pertama adalah meningkatkan pengetahuan, dan yang kedua adalah meningkatkan pengalaman. Kita perlu ditambahkan dalam kedua area ini, bertumbuh dalam segala hal.

Anak-anak Terang harus berbeda dari anak kegelapan, maka Paulus melarang orang-orang percaya untuk meniru dunia dan bergaul menjadi kawanan mereka; Tidak satu jalan dengan bangsa asing, tidak melakukan hal-hal bodoh bersama-sama mereka. Tapi nilai keberadaan cahaya adalah untuk menerangi kegelapan, dan terang harus dinyatakan dalam kegelapan; Jangan meniru bukan berarti benar-benar menarik dan memisahkan diri, kita tidak kagum diri menjadi narsis, tetapi harus bisa menegur orang yang bertindak sia-sia yang berjalan dalam kegelapan (memberitahukan kebenaran). Kita adalah orang-orang yang tidak kompromi, tidak mengikuti (non-conformity), tetapi tidak memisahkan diri dari manusia dan membentuk komunitas separatis suci (separationist).

Paulus membuat panduan spesifik untuk hidup sebagai anak-anak Terang: arif memperhatikan dengan saksama bagaimana hidup, pergunakan waktu yang ada, memahami kehendak Tuhan, tidak kecanduan mabuk alkohol, senantiasa memuji Tuhan dan rendahkan diri satu sama lain.

Alasan utama 「menghargai waktu」 bukan karena waktu adalah berharga, hidup kita singkat; tetapi waktu pelayanan di bumi terbatas, dan Kristus segera akan kembali dan tanda-tandanya nyata pada 「hari-hari ini adalah jahat.」 Kesadaran akan akhir zaman membuat kita menjadi lebih aktif dan berhati-hati dalam memenuhi misi Injil.

Kehidupan yang waspada adalah tidak bermabuk-mabukan, berjaga-jaga tetap waspada, dan sering menaikkan mazmur pujian kepada Tuhan, dengan ajaran dan doa untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan adalah tindakan yang membantu kita mempertahankan kesadaran kita atas Allah dan kasih karunia-Nya, mengingatkan kita bahwa di belakang kehidupan yang terbatas terdapat dunia yang tak terbatas, dan bahwa ada dimensi yang kekal melampaui dunia kasat mata yang sementara ini. Orang yang sering berterima kasih kepada Tuhan, tidak mudah ditawan oleh dunia, tidak akan kehilangan arah hidup.

Renungkan:

1. Apakah kita memiliki cukup kewaspadaan terhadap dosa-dosa dunia dan memiliki cukup perhatian kasih bagi orang-orang dunia?

2. Bagaimana Anda dapat menjalani kehidupan yang 「berada di dunia tetapi tidak duniawi」? Bagaimana Anda dapat membuat nyata tuntutan ini?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Kej. 28:20-22

「Tangga Sorga dan Janji Perpuluhan」

Respon seseorang setelah mengalami Allah.

(Kej. 28:20-22 [ITB])
20Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.
22Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Yakub seumur hidup ada beberapa titik balik perubahan besar, semua adalah saat malam hari ia mengalami Allah, yang menampakkan diri kepada dia: pertama kali adalah di Betel, kedua kali adalah di tempat penyeberangan sungai Yabok (Kej. 32), ketiga kali adalah Bersyeba (Kej. 46:1-4). Catatan dari dua kali peristiwa yang terdahulu memiliki banyak kemiripan, pertama adalah karena ia menipu saudara membohongi ayah, dipaksa meninggalkan rumah pergi menuju Haran rumah Laban pamannya; satu lagi adalah membawa seluruh anggota keluarga meninggalkan Laban pamannya, dari Haran pulang kembali tanah perjanjian, harus menghadapi dendam saudara tuanya. Kedua kisah semuanya ada malaikat yang menampakkan diri, saling berbicara dengan Yakub. Kedua peristiwa berakhir saat pagi hari, Yakub penuh rasa hormat, memberi nama tempat peristiwa, satu adalah 「Betel」 (artinya Bait Allah / rumah Allah), satu lagi adalah 「Pniel」 (artinya 「di hadapan Allah」).

(Bacalah Kej. 28:10-22 silahkan klik) Sebagai pemahaman inti perikop ini, terdapat tiga buah kata yang muncul berulang beberapa kali (merupakan penekanan hal penting):

  1. Kata kerja nāṣab 「mendirikan」: yakni『di bumi ada 「didirikan」 (muṣṣāb) sebuah tangga di atas tanah』 (Kej. 28:12); 『TUHAN 「berdiri」 (niṣṣāb) di sampingnya』 (Kej. 28:13); 『Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi「tugu」 (maṣṣēbâ)』 (Kej. 28:18). Tangga yang berdiri itu menunjuk kepada penyataan Allah, dan tugu batu yang berdiri mewakili respon manusia.
  2. Kata benda 「ujung / atas」 (rō’š): yakni 『Yakub melihat tangga yang 「ujung」nya (rō’šô) sampai di langit』 (Kej. 28:12); 『Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai 「alas kepala」 (mǝra’ăšōtāyw) … menuang minyak ke「atas」nya (‘al-rō’šāh)』 (Kej. 28:18).
  3. Kata benda 「tempat」 (māqôm): total muncul 6 kali. Yakni 『Yakub sampai di suatu 「tempat」dan bermalam,… mengambil sebuah batu yang terletak di 「tempat」 itu,… membaringkan dirinya di 「tempat」 itu』 (Kej. 28:11). Selanjutnya setelah Allah menampakkan diri, ayat 16 『Yakub berkata: Sesungguhnya TUHAN ada di 「tempat」 ini, … Alangkah dahsyatnya 「tempat」ini』 (Kej. 28:16-17); 『ia menamai 「tempat」itu Betel』 (Kej. 28:19).

Inti kisah adalah Allah yang berinisiatif menyatakan ulang kepada Yakub tentang janji dari perjanjian suci antara Ia dengan Abraham: mendapatkan tanah, keturunan dan berkat, terutama jaminan 「penyertaan Allah」. Dan respon Yakub kepada Allah: pertama adalah berbicara tentang penyertaan Allah (jaminan perjanjian suci); Kedua, adalah mendirikan tugu menuang minyak (mendirikan mezbah), memberi nama tempat (memproklamasikan kedaulatan Tuhan), janji perpuluhan (hormat menyembah mengucapkan syukur).

Kemudian hari umat Israel benar-benar mendapatkan tanah perjanjian, jumlah orang bertambah banyak, bangsa kaya, rakyat kuat. Pengalaman Yakub merupakan perlambangan dari seluruh Israel kelak.

Renungkan:

  • Di manakah merupakan Betel bagi engkau?
  • Sebuah tempat yang biasa, ternyata menjadi Bait Suci; sebuah batu yang biasa, ternyata menjadi mezbah; seorang yang melarikan diri dari rumah, ternyata datang ke rumah Allah. Dikarenakan Allah menampakkan diri, tempat liar dirubah menjadi tempat suci, orang berdosa dirubah menjadi umat kudus. Semua ini dimulai dari satu orang mengalami Allah. Kiranya engkau dan saya sering mengalami Allah, kehidupan rohani bertumbuh (dan mengalami titik balik perubahan besar dalam iman).

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).