Tag Archives: Ketaatan

Amsal 4:1-9

「Pengajaran 5: Memeluk Hikmat」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 4:1-9 [ITB])
1 Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 2 karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku. 3 Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, 4 aku diajari ayahku, katanya kepadaku:
Biarlah hatimu memegang perkataanku;
berpeganglah pada petunjuk-petunjukku,
maka engkau akan hidup.
5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian,
jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.
6 Janganlah meninggalkan hikmat itu,
maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia,
maka engkau akan dijaganya.
7 Permulaan hikmat ialah:
perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.
8 Junjunglah dia,
maka engkau akan ditinggikannya;
engkau akan dijadikan terhormat, apabila engkau memeluknya.
9 Ia akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu.

Perikop ini adalah tentang seorang ayah yang berbagi tradisi spiritual keluarga kepada putranya, meminta mereka untuk memperhatikan dan memelihara pengajaran keluarga sehingga mereka dapat menikmati hidup yang berkepenuhan. Sang ayah ini mewariskan ajaran ayahnya kepada generasi berikutnya (Ulangan 6; Mazmur 85:5-8). Dahulu ia telah menerima serta mengalami pengajaran dan berkatnya, sekarang dia berharap agar para putranya juga dapat meneruskannya. Ketika dia mengingat masa lalu, dia menyebut dirinya anak (ayat 3). Beberapa terjemahan (misal KJV, ITB, CUV Mandarin) menerjemahkan sebagai anak-anak (children), atau seperti NIV dan NASB menerjemahkan sebagai anak-anak laki-laki (sons). Peneliti Alkitab menunjukkan bahwa dalam konsep Ibrani, anak tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah, tetapi lebih ditentukan ketaatan anak, ayah ini ingin agar mereka sebagai anak mengikuti teladannya dan menaati ayah mereka.

Sang ayah selanjutnya menasihati semua anak-anaknya untuk mendengarkan dan memperhatikan (ayat 1) tentang apa yang dibagikan oleh sang ayah, dan menasihati mereka: hatimu hendaknya memegang (menjaga) (ayat 4), yaitu agar memelihara hikmat yang diajarkan kepada mereka disimpan dalam hati. Dalam sembilan ayat ini, penulis menggunakan banyak sinonim untuk hikmat, seperti didikan, pengertian, ilmu, petunjuk, perkataan, dan hikmat, jika mereka menerima pengajaran tersebut, mereka dapat memperoleh kebijaksanaan, yaitu memiliki wawasan, pengetahuan, dan pemahaman. Ketika mendapatkan hikmat tersebut, mereka akan belajar menganalisa keadaan, mengembangkan dan menguasai bagaimana memutuskan dan melaksanakannya dalam kehidupan.

Dalam ayat 4 sampai ayat 9, sang ayah ingin meneruskan pesan yang diwarisi dari ayahnya, berulang kali dia membawakan perintah ganda: perolehlah hikmat, perolehlah pengertian (ayat 5, 7). Para anak hendaknya memiliki sikap proaktif terhadap hikmat, ketika mereka berkomitmen berusaha untuk mendapatkan hikmat, ayat 6 dan 8 menjelaskan berkat apa yang akan mereka terima. Sang ayah dua kali mengingatkan janganlah meninggalkan didikan, dengan demikian hikmat akan menjaga dan melindungi mereka; ketika mereka menjunjung tinggi hikmat, pada saat yang sama mereka akan dijadikan terhormat!

Ada sebuah kata kunci dalam ayat 7 permulaan hikmat. Apa artinya ini? Apa tidak terduga oleh pembaca adalah untuk memperoleh hikmat! Dalam materi renungan kita pada hari pertama, 1:7 menyatakan: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan. Faktanya, orang bijak menginspirasi kita mengejar hikmat adalah hal yang paling penting, dan harus menggunakan segala yang kau peroleh untuk mendapatkan pengertian (ayat 7), yang berarti menggunakan waktu, energi, dan sumber daya yang kita miliki untuk mendapatkan hikmat. Saat kita mendapat hikmat, kita mengerti bahwa itu bukanlah hasil kerja keras kita, tapi anugerah Tuhan. Dalam hidup kita, tidak ada yang lebih penting daripada mendapatkan hikmat Tuhan!

Renungkan:
(1) Mendapatkan hikmat, hikmat akan memberikan perlindungan, kehidupan dan kehormatan sebagai balasannya, apakah Anda bersedia seumur hidup berusaha untuk memeluk hikmat?

(2) Berdoa supaya Tuhan membantu Anda membangun tradisi spiritual keluarga Anda;

(3) Warisan apa yang harus kita tinggalkan untuk generasi berikutnya? Selain materi, kita juga bisa mewarisi hikmat rohani!


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 1-9 ditulis oleh Mài Yào Guāng (麥耀光) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:14-16

「Kekudusan adalah Relasi Ketundukan Bawahan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:14-16 [ITB])
14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

(Terjemahan penulis)
14 Sebagai anak-anak yang taat, jangan meniru keinginan nafsu keinginan bodoh kamu sekalian yang dahulu,
tetapi seperti Yang Kudus memanggil engkau, dalam setiap tindakan, engkau kudus
karena demikian, tertulis di Kitab Suci: Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus.

Jika hanya melihat perikop ini saja dan mengabaikan teks sebelumnya, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam diskusi yang sekadar etika moralitas, berpikir bahwa ini menghendaki setiap perilaku orang percaya harus menjadi kudus (secara moral saja), dan tidak memiliki batasan moral sama sekali. Ya, dalam berbagai kategori kita harus hidup menjadi contoh yang sempurna. Namun, mungkin pengalaman hidup kita memberi tahu kita betapa buruknya kita, hanya sepenuhnya karena perlindungan anugerah saja yang mencegah kita terpeleset kaki kita, alih-alih hanya mengandalkan kesempurnaan kita sendiri.

Seperti yang dibahas dalam renungan selama 13 hari ini, inti terpenting bukan sekadar moralitas dan etika, ini memaksa kita untuk merenungkan kembali: tema teologis utama apa yang hendak dibawakan kalimat Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus yang dikutip dari kitab Imamat dalam Perjanjian Lama? Supaya kita bisa memahami lebih dalam apa yang dimaksud ayat ini.

Bayangkan kehidupan orang-orang Ibrani yang masih hidup di Mesir, mereka mungkin harus mengikuti instruksi para Fir’aun pada zaman mereka, tidak peduli apa pun, gaya hidup mereka harus mengikuti perintah orang bangsa lain, tetapi ketika mereka ingin menjalani kehidupan baru, menjadi umat Allah, mereka harus meletakkan apa yang telah mereka teladani taati, dan belajar baru bagaimana menjadi umat Tuhan. Situasi ini adalah konsep yang diterapkan Petrus kepada orang-orang percaya yang tersebar di Asia Kecil, mereka harus belajar baru, cara menjadi umat Tuhan di lingkungan aniaya.

Tetapi dalam pengalaman Keluaran dari Mesir, banyak umat Tuhan terus mencobai Tuhan dan berharap untuk kembali ke Mesir, dan menginginkan untuk kembali ke lingkungan lama yang mereka kenal, bahkan mereka tidak ragu-ragu jika hidup ini harus tunduk menaati perlakuan kekejaman Firaun lagi; mereka juga mencobai pemimpin — Musa yang diutus oleh Tuhan — untuk menantang otoritas dan kepemimpinan Tuhan, atau terinfeksi tertular bangsa-bangsa asing, perlahan-lahan menjauh dari Allah sejati yang membawa mereka keluar dari Mesir. Oleh karena itu, pernyataan kitab Imamat ini bukan berfokus sekadar menyangkut masalah moral, tetapi menitikberatkan bagaimana umat Allah hendak memandang kehidupan baru mereka, hidup yang baru, awal yang baru, atau apakah mereka berpikir bahwa kemabukan itu yang dinamakan kesadaran?

Ternyata dalam kitab Imamat, konsep kudus adalah konsep ketundukan pihak yang lebih rendah (subordinate) kepada pihak yang tinggi, yaitu menyatakan hidup adalah milik Allah. Apakah itu adalah dewa di Mesir, ataukah Allah keselamatan? Apakah itu ketundukan pada nafsu diri, atau apakah itu didasarkan pada rencana Allah sebelumnya (lih. 1 Petrus 1:2)?

Renungkan:
Ilustrasi apa yang dapat digunakan sebagai ringkasan renungan hari ini? Saya kira itu olahraga, atau bagaimana seorang pria berusia empat puluhan memandang olahraga (saya mengambil contoh diri saya sendiri), saya akan mengatakan bahwa saya adalah seorang yang berolahraga, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa saya seorang olahragawan. Secara teori seharusnya melakukan olahraga, tetapi setiap kali saya harus berusaha keras dan memaksa diri untuk berolahraga, sekadar memenuhi tuntutan saja, lalu menyangka bahwa saya seorang olahragawan, tetapi sebenarnya saya tidak pernah termasuk dalam kategori olahragawan (sejenis penundukan diri memenuhi kriteria olahragawan).

Bukankah sering kali demikian itu pengalaman kita sebagai umat Allah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 6:10-20, 21-24

「Menjadi Orang yang Teguh」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 6:10-24 [ITB])
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
21 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu. 22 Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. 23 Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. 24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Kita tidak bermaksud menjelaskan bagian berkat dan salam di ayat 21 – 24, meskipun terdapat beberapa topik berharga untuk dibahas. Silahkan membaca keempat ayat tersebut.

Efesus 3:14-21 (3) telah berbicara tentang subjek 「Teguh dan Hati Kasih」 memiliki beberapa bagian diulang dalam bagian akhir tulisan Paulus ini yang merupakan fokus perikop hari ini, yakni 「menjadi orang yang teguh.」

Di Ef. 6:10 Paulus mengatakan: 「Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.」 Kata 「akhirnya」 dalam CUVT diterjemahkan bahwa Paulus mengatakan 「kata-kata terakhir.」 「Terakhir」 tidak berarti bahwa itu adalah kata-kata yang belum pernah disebutkan sebelumnya dan disimpan sampai bagian terakhir, tetapi dia berpikir bahwa ini adalah bagian yang paling penting, jadi harus diulangi lagi sebelum mengakhiri tulisannya. Di Ef. 3:14-16 yang merupakan paragraf terakhir dari doktrin yang ia bicarakan, ia telah membuat seruan yang sama, dan dengan kaya emosi dia berkata 「14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, … supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu」

Ia di Ef. 3:16 memohon kepada Bapa untuk membuat kita kuat melalui Roh Kudus; Ef. 6:10 dikatakan bahwa kita harus menjadi kuat dengan mengandalkan Tuhan Kristus. Kita melihat di antaranya Allah Tri-Tunggal Maha Esa yakni Bapa, Anak, Roh Kudus. Doa Paulus adalah agar orang percaya Efesus dapat menjadi kuat dengan bantuan Allah.
Kita hendaknya menjadi orang yang kuat, hanya orang-orang kuat yang dapat mewujudkan misi Injil, hidup membawakan kesaksian Injil.

Orang modern lemah dalam tekad adalah fakta yang tak terbantahkan. Masyarakat Hong Kong ini lebih dari 10 tahun berada dalam suasana yang sangat rendah, orang sepanjang hari menghela nafas, mengeluh; atau penuh permusuhan, di mana-mana mencari kambing hitam. Beberapa tidak bisa berpikiran terbuka, lebih memilih mati untuk menghindari kesulitan, angka-angka bunuh diri sangat tinggi. Banyak komentator sosial telah menunjukkan bahwa situasi sekarang bukan yang paling sulit, setidaknya jauh lebih baik daripada tahun 50, 60, tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan daerah sekitar. Namun, setelah puluhan tahun masa tenang, orang-orang Hong Kong telah sangat berkurang kemampuannya untuk menahan stres kesulitan, emosi mereka telah sepenuhnya dikontrol oleh lingkungan eksternal, mereka belum mampu membuat ruang bagi pikiran mereka untuk menghadapi kesulitan.

Masalah lemahnya tekad tidak terkecuali juga terdapat diantara orang Kristen. Pada kenyataan, budaya gereja berubah sesuai dengan tren zaman, makin lama makin sensual dan berorientasi pasar, memperhatikan tanggapan emosional langsung dari penonton, tidak lagi memandang penting pertukaran yang mendalam atas pikiran. Meletakkan iman Kristen berdasarkan perasaan emosional, mentransmisikan iman melalui perasaan, perasaan dianggap inti pesan beritanya, orang percaya berjalan mengikuti perasaan. Orang Kristen menjadi terbiasa membuktikan iman dengan perasaan dan pengalaman, jika ada perasaan maka itu dianggap kebenaran, jika tidak ada perasaan, walaupun itu benar maka dianggap tidak relevan, setidaknya aku tidak merasakan, maka kebenaran itu bukan urusan saya. (Iman yang mengandalkan emosional perasaan adalah labil, jika secara sensual saya merasa senang maka saya taat, jika perasaan saya tidak senang maka saya tidak taat kepada Allah, perasaan tidak membuat iman yang tahan banting segala kondisi)

Saya tidak bermaksud meremehkan nilai dari perasaan, atau mempertentangkan antara perasaan dan tekad, tapi jika ada tidak ada pengetahuan yang kuat dan didukung keinginan tekad yang kuat, hanya mengandalkan perasaan kuat saja tidak akan dapat tidak bertahan lama. Jika kita mengharapkan suatu iman yang kuat, iman yang dapat menanggung kehidupan kita dan membantu kita melalui naik turunnya hari-hari kehidupan, kita harus memiliki tiga kombinasi: pengetahuan, perasaan, tekad, yakni dibangun di atas dasar pengetahuan dan tekad yang kuat.

Menjadi seorang yang kuat kokoh, melatih tekad yang kuat dapat membantu kita lebih efektif menaati Allah. Makin memiliki tekad yang kuat, makin lebih bisa taat kepada Allah, ini adalah sebuah paradoks.

Menurut akal sehat, kita selalu berpikir bahwa ketaatan adalah melepaskan tekad keinginan pribadi; seorang yang tidak begitu kuat tekadnya akan lebih cenderung untuk menyerah dan taat kepada Allah, dan seorang yang kuat tekadnya akan melawan Allah. Tetapi kebenaran adalah sebaliknya: hanya mereka yang kuat tekadnya yang dapat meletakkan tekad mereka secara total dan menaati Allah. Seorang yang lemah tekadnya, tidak akan mampu sungguh-sungguh taat kepada Tuhan.

Mengapa ada kondisi yang kontradiksi ini? Alasannya sangat sederhana, tindakan meletakkan melepaskan tekad keinginan, itu sendiri akan memerlukan kemauan yang kuat, orang yang tidak kuat tekadnya tidaklah dapat memenuhi tuntutan ketaatan. Hambatan terbesar dari ketaatan bukanlah tekad keinginan individu, tetapi tubuh dan perasaan. 「Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya」 (Rom. 8:7) Hanya individu yang kuat tekadnya barulah mampu mengatasi tubuh daging. Pertama-tama ketaatan dari tekad pribadi, dan kemudian memiliki tekad yang lebih besar. 「Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya …」 (1 Kor. 9:27)

Pasukan militer adalah demikian keadaannya: fokus pelatihan militer adalah untuk menempa mereka memiliki tekad yang kuat, tahan banting, tidak takut kesulitan, tidak takut bahaya; tetapi tentara sangat memandang penting ketaatan, perintah atasan militer dijunjung setinggi gunung, harus ditaati, ada tidak ada ruang untuk membantah. Hal yang sama juga bagi pasukan rohani, Paulus memerintahkan orang percaya untuk memakai senjata militer yang diberikan Allah, menjadi prajurit gagah yang setia, meminta mereka untuk bergantung kekuatan Tuhan 「hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.」

Kiranya kita bisa menjadi orang yang teguh dalam zaman ini, mempertahankan iman kita, mewujudkan panggilan kita, dan menjadi pasukan elit rohani dari Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda berpikir tekad Anda sudah cukup? Anda bisa menahan hati Anda dan mewujudkan kebenaran yang kita terima ke dalam praktek hidup? Bagian mana dalam hidup Anda yang merupakan tempat yang paling rentan?

2. Pikirkan tentang Surat Efesus yang telah kita baca bulan ini, apa yang Anda dapatkan terbesar? Perubahan apa yang Anda perkirakan setelah memahami Firman Tuhan?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Yeremia 1:4-10 (2)

「Jangan Memusatkan Mata Pada Diri, Pandang dan Berharap kepada Allah」

Ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yer. 1:4-10 [ITB])
Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
5「Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.」
Maka aku menjawab: 「Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.」
Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: 「Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.」
Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: 「Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. 10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.」

Ketika Yeremia mendengar panggilan Tuhan, di Yer. 1:6 ia menjawab: 「Ah! Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.」 Artinya, Tuhan lihatlah lebih baik! Aku tidak punya kefasihan lidah dan juga tidak memiliki pengalaman dalam hidup! Tanggapan nabi Yeremia adalah sangat mirip dengan cara dan alasan Musa menolak panggilan dari Tuhan (Kel. 4:10; 6:12).

Orang bisa memiliki banyak alasan dan dalih untuk menolak melayani, 「aku masih muda」 atau 「aku tidak pandai berbicara」 adalah alasan yang sangat mudah untuk diberikan, tapi usia sama sekali bukan syarat yang dipertimbangkan ketika Tuhan memilih! Paulus mengingatkan kita dalam 1 Tim. 4:12 「Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.」 Jangan biarkan 「aku masih muda」 menjadi penghalang pelayanan, malah sebaliknya mengejar untuk menjadi panutan bagi orang lain!

Dalam budaya hari ini yang memandang tinggi usia muda, mungkin beberapa orang akan meremehkan 「usia mereka yang tua,」 「saya sudah tua」 mungkin menjadi alasan beberapa orang untuk menolak panggilan. Kita harus ingat Kaleb pada usia yang tinggi 85 tahun, masih merekomendasikan diri untuk memenangkan Hebron sebagai warisan, hasilnya ia juga berhasil (Yosua 14:6-15). Alasan keberhasilan Kaleb adalah 「lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya」 (Bil. 14:24). Kita harus kurangi memandang diri kita sendiri, kurangi memandang lingkungan, tapi hanya memandang berharap kepada Tuhan, untuk mengikuti-Nya dengan sepenuh hati, mengejar melakukan pekerjaan besar untuk Tuhan!

Tuhan juga menanggapi pertanyaan yang wajar dari Yeremia. Dalam menghadapi seorang nabi yang terlalu khawatir dengan kefasihan lidah diri sendiri, Tuhan pertama mengingatkan bahwa yang dituntut dari dirinya adalah 「… apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan」(Yer. 1:7), tidak banyak mulut berbicara lebih, dan juga jangan ada yang ketinggalan; tidak bergantung kefasihan lidah manusia, tapi Firman Tuhan.

Yer. 1: 9 selanjutnya mengatakan 「Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: 『Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu』… 」 Tuhan menggunakan sebuah tindakan simbolis dan perkataan untuk membantu Yeremia yakin dengan pasti bahwa Tuhan telah memberi dirinya perkataan. Nabi tidak berbicara tentang kata-kata manusia, tetapi hanya memberitakan kata-kata Firman Allah, setelah ada Firman Tuhan, orang barulah punya Firman untuk disampaikan.

Hal kedua yang nabi Yeremia harus hadapi adalah ketakutan dalam hatinya sendiri dan musuh yang menentang Tuhan. 「Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN」 (Yer. 1:8). Tuhan berjanji tentang penyertaan-Nya dan keselamatan, memiliki penyertaan Tuhan adalah perlindungan yang terbesar!

「Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam」 (Yer. 1:10). Pertama-tama 「mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan,」 Tuhan tidak hanya mengangkat Yeremia menjadi nabi Yehuda, tetapi juga nabi bagi 「segala bangsa.」 Kenyataannya, Kitab Yeremia pasal 46-51 adalah catatan nubuat Tuhan melalui Yeremia kepada negara-negara di Timur Tengah. Pemilihan Yeremia, membuat kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Tuhan atas semua yang ada, yang Ia perhatikan bukan hanya satu negara satu bangsa, tetapi memperhatikan dan mengasihi umat dari semua bangsa.

Paruh bagian kedua dari Yer. 1:10 mengatakan: 「mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.」 Tuhan menggunakan proses penanaman kembali di ladang untuk menjelaskan misi Yeremia. Tujuan akhir dari Tuhan adalah 「menanam;」 Tapi pertama-tama yang harus diselesaikan adalah harus 「mencabut」 akar rumput liar barulah bisa 「membangun.」 Pekerjaan 「mencabut」 harus diselesaikan sampai tuntas, termasuk 「merobohkan,」 「membinasakan」 dan 「meruntuhkan,」 setelah diselesaikan barulah bisa mulai 「membangun」 untuk mencapai tujuan 「menanam」 ulang! Inilah sebabnya mengapa orang-orang Israel sebelumnya harus mengalami kekalahan perang, penghancuran negara dan ditawan, setelah itu barulah mereka dapat kembali pulang ke tanah air dan membangun ulang.

Ini adalah potret terbaik atas tugas Yeremia seumur hidup, dan ia harus memperingatkan umat Tuhan bahwa negara mereka akan mengalami bencana serius karena dosa kejahatan mereka. Nabi Yeremia dengan mata sendiri menyaksikan penggenapan nubuat: Jerusalem jatuh ke tangan Nebukadnezar raja Babel, kota dan Bait Suci dihancurkan, raja-raja Yehuda beserta rakyat dibuang ke Babel. Setelah menyelesaikan pekerjaan 「mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan,」 nabi memberitakan kasih Tuhan yang tidak berubah, bernubuat bahwa di masa depan bangsa Israel akan kembali ke tanah air dan membangun kembali kampung halaman mereka.

Yeremia bukan utusan Tuhan yang rela atas kemauan sendiri, dan hidupnya dipenuhi dengan ketakutan serta kegelisahan, tetapi hatinya dibakar oleh Firman Tuhan. Setelah ia mendapat panggilan, dia hanya punya satu tujuan, yaitu setia memberitakan berita dari Tuhan. Permintaan Tuhan kepada kita bukan kerelaan tapi taat! Terhadap nabi Yunus juga demikian, kepada Yeremia juga sama. Apakah Anda mau taat mendengarkan suara Tuhan?

(Kerelaan tanpa ketaatan membuat orang menjadi sombong, merasa diri hebat bisa menjadi hamba Tuhan! Memusatkan mata pada diri sendiri mungkin membuat rendah diri namun juga membuat orang menjadi sombong, keduanya lupa bahwa yang diandalkan bukan kemampuan dirinya tetapi Allah.)

Renungkan:
1. Apakah Anda bersedia untuk dipakai Tuhan? Apakah ada sesuatu atau situasi saat ini yang Anda rasakan dapat membuat Anda tidak berguna untuk dipakai Tuhan?

2. Apakah Anda terlalu banyak memperhatikan diri sendiri dan sekitarnya, sehingga mengabaikan perhatian Anda kepada Yesus?


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yeremia 1-17 ditulis oleh 曾錫華 (Zēng Xī Huá) yang dipublikasi pada bulan Juli 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Lukas 2:8-20

「Siapakah Juruselamat yang Benar? Siapakah yang Kita Beritakan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:8-20 [ITB])
8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: 「Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.」
13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14「Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.」
15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: 「Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.」 16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Kita telah membicarakan identitas Kaisar Agustus dan makna yang dibawakannya, ia terlihat seperti adalah juruselamat dan raja pembawa damai sejahtera. Dalam perikop hari ini, kita dapat lebih lanjut merenungkan bagaimana Ia yang lahir di palungan yang diumumkan melalui gembala kambing yang hanya memiliki identitas biasa, Dialah Sang Juruselamat dan Raja pembawa damai yang sesungguhnya yang benar.

Sebuah keadaan nyata, sesungguhnya merupakan perkara yang tidak mudah hendak melakukan perbandingan antara Agustus kaisar sebuah kerajaan yang memiliki kuasa besar politik dan militer dengan Yesus yang kelahiran-Nya rendah Sang Juruselamat yang sungguh benar. Bagi orang Yahudi zaman itu, ini sesungguhnya merupakan perkara yang membuat sulit dalam aspek apapun, mengakui dan memberitakan bahwa Tuhan Yesus barulah Sang Juruselamat, merupakan topik pembicaraan yang sangat sensitif, kapan saja bisa mendatangkan bencana dibunuh. Sebagian orang Yahudi lebih baik memilih 「hidup aman tenang」 sebagai pandangan hidup, memiliki tradisi menganggap tabu untuk menyebutkan janji Allah dalam Perjanjian Lama bahwa akan ada seorang raja akan membawakan pembaruan kebangkitan dan penyelamatan. Tetapi pada saat yang sama, sebagian orang Yahudi yang lain dengan sungguh-sungguh menjaga janji Allah, percaya semua penggenapan anugerah keselamatan pasti akan sungguh terjadi, oleh karena itu lahir organisasi ekstrim seperti kelompok Zelot.

Lukas sebagai orang Kristen abad 1 juga sebagai penulis Alkitab, berada di antara dua ekstrim ia benar-benar mencari pintu keluar, untuk memahami sifat khusus Kristus sebagai Juruselamat. Orang Kristen abad 1 dari dahulu tidak pernah menghindari kebenaran Yesus sebagai Juruselamat dan Raja damai sejahtera yang sesungguhnya (lihat Luk. 2:11, 13), mereka memakai tindakan besar Kaisar Agustus dan melalui perbandingan menjelaskan siapa yang merupakan Sang Penyelamat yang sungguh benar. Ini membuat kita percaya bahwa orang Kristen abad 1 dengan setia mengumumkan pengakuan iman bahwa Yesuslah yang merupakan Raja yang sungguh benar, mereka tidak kehilangan keberanian kepada pemerintah Romawi sehingga tidak berani membuka mulut dan memberitakannya. (Bandingkan para gembala dan orang Kristen abad 1 yang membuka mulut. Juga dengan Zakharia yang menjadi bisu.)

Oleh karena itu, dalam pengalaman para gembala dengan malaikat, terdapat begitu banyak topik tentang Mesias yang sangat mirip dengan Yesaya 11:1-7 (klik di sini untuk membacanya) 「sinar yang bercahaya」, 「sukacita」, 「melihat kemuliaan Allah」, 「kelahiran bayi」, 「keturunan Daud」, 「Kerajaan damai」 dll. Dapat dilihat bagi Lukas, kelahiran Yesus benar-benar merupakan penggenapan tradisi Perjanjian Lama raja Daud memegang kuasa. Ia penulis Alkitab tidak karena dalam lingkungan yang sulit menghindari atau tabu, malah sebaliknya melalui perikop Perjanjian Lama, dengan tulus membuktikan Dia yang 「sungguh benar」.

Militer atau kuasa politik tidak merebut menggantikan rencana penebusan Allah, berita kesukaan besar diumumkan para gembala (bukan diberitakan melalui orang terhormat dan yang memiliki kuasa) untuk menjelaskan pemahaman: ketaatan anak dara Maria dan ketulusan para gembala merupakan syarat yang harus dimiliki orang yang menerima anugerah keselamatan, dan bukan dengan kekuatan militer mencapai titik ujung penebusan. (Sekali lagi juga menegaskan keselamatan bukan didapatkan dengan usaha kekuatan kita.)

Doa: mohon Tuhan menolong kita, tidak karena nama dan keuntungan diri saya sehingga lupa memberitakan Allah, memberitakan Anak Kekasih-Nya yang merupakan Raja yang sungguh benar, Tuhan atas kehidupan. Juga memohon belas kasih Tuhan menolong kita, tidak memakai nama Tuhan sebagai alasan untuk menggenapkan pemikiran diri sendiri, sebaliknya dengan rendah hati dan tulus menjalankan kehendak Tuhan yang istimewa.

Lukas 2:1-7

「Kuasa Besar dari Yang Lemah」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:1-7 [ITB])
1Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
3Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
4Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– 5supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
6Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Perikop ini terutama membicarakan kelahiran Yesus Kristus. Tetapi pembaca mungkin akan terkejut menemukan, perikop ini tidak dengan teliti menuliskan bagaimana Yusuf menerima istrinya yang sudah mengandung sebelum dinikahinya, juga tidak dengan terperinci mencatat keadaan kelahiran Yesus Juruselamat, titik beratnya malah sebaliknya diletakkan pada perkara Kaisar Agustus memerintahkan semua orang melakukan pendaftaran diri, masing-masing di kotanya sendiri!

Ada sebuah buku yang merupakan karya sastra kira-kira tahun 2 A.D 《Kitab Apokrip Yakobus》, telah menghabiskan sangat banyak tulisan dengan perinci menggambarkan kelahiran Yesus, misal: sesaat Yesus dilahirkan bukan dibantu bidan, tetapi karena kekudusan Yesus, ada cahaya kemuliaan yang bersinar keluar, maka Yesus lahir diri-Nya sendiri dari Maria. Dan kemudian menggambarkan tentang Yesus kecil juga terlihat sangat misterius dan menampilkan hal-hal baru. Tetapi di kitab Injil dalam Alkitab, terutama dalam catatan Injil Lukas, dijelaskan sederhana hanya memakai sebuah kalimat 「ia melahirkan seorang anak laki-lakinya yang sulung」έτεκεν τόν υίον αύτης τον πρωτότοκον (eteken ton huion autes ton prototokon). (Enam kata saja)

Ini mengingatkan kita, penulis Alkitab dari dahulu tidak pernah memakai teknik penulisan yang memasukkan hal-hal yang tidak terkait untuk 「 mendewakan 」 kuasa Yesus dan membuat megah figur Yesus. Penulis Alkitab sebaliknya memakai penulisan yang jujur dan rendah hati untuk menjelaskan kelahiran Yesus, titik berat ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa saat kedatangan keselamatan dari Allah bukanlah gegap gempita, kita hanya perlu membawa hati damai yang penuh kepastian, maka dapat masuk ke dalam kehendak Allah. Ini merupakan sikap hati yang menerima anugerah keselamatan. Mohon Tuhan agar hati kita tidak terombang-ambing ke kanan ke kiri oleh nama terkenal dan kemuliaan, karena kita bukan meminta tepuk tangan orang lain atau memuaskan kehendak orang lain, sebaliknya yang paling penting hanyalah memuaskan hati Tuhan.

Lukas sang penulis Alkitab bukan hanya berhenti diam di gambaran ini, karena di dalam hatinya yang ia ingat dan rindukan adalah untuk menyiarkan siapakah yang merupakan Juruselamat yang sungguh benar.

Luk. 2:1-3 menyebutkan Kaisar Agustus dan perkara pendaftaran diri, ini adalah hal yang menjadi perhatian Lukas. Kaisar Agustus disebut sebagai 「juruselamat orang Romawi」 dan 「raja pembawa kedamaian」, karena ia telah meredahkan perang di internal Romawi, membuat seluruh rakyat dapat sehati menghadap keluar memperluas wilayah, maka orang Romawi sangat menghormati dia. Oleh karena itu dalam edaran orang Romawi kepada orang bangsa lain (termasuk orang Yahudi), menyebutkan Kaisar Agustus sebagai juruselamat dunia, akan membawakan kedamaian bagi orang banyak, perintah pendaftaran diri masing-masing di kotanya sendiri adalah hendak mengumumkan kuasa kedaulatan dirinya, mengakui identitas diri yang supranatural.

Dalam latar belakang ini, Lukas menyatakan bagaimana Yesus adalah Mesias yang sungguh benar dijanjikan Allah, kedatangan Yesus akan membawakan damai sejahtera dan keselamatan. Tetapi yang aneh, kelahiran bayi Yesus sama sekali tidak menarik mata, lahir di palungan, membentuk kontras yang sangat kuat dengan Agustus Kaisar Romawi yang mendapat pengakuan manusia dunia.

Renungkan: “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa” (The power of the powerlessness) merupakan permulaan Injil, juga merupakan keberlanjutan Injil, semua orang yang mewaris-lanjutkan iman Injil, akan dibaptis oleh Ia “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa”. Dalam menghadapi musuh seperti Goliat, apa yang akan kita pilih, apakah mengenakan pakaian perang raja Saul atau memungut lima butir batu sungai licin?

Lukas 1:57-80

「Melepaskan = Tiada Henti Melepaskan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 1:76-80 [ITB])
76Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”
80Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

Kemarin kita telah membicarakan 《Nyanyian pujian Maria》 yang intinya mengatakan bahwa kehidupan orang yang mengikut dengan taat tunduk dan tulus, barulah merupakan makna yang sungguh benar dari kehidupan yang dibalikkan. Perikop hari ini juga memiliki bagian puji-pujian, yang dinaikkan imam Zakharia yang bisu begitu ia dengan ajaib sekali lagi dapat bersuara membuka mulut, dapat dilihat puji-pujian ini telah merangkum apa yang dialami Zakharia dan isi hatinya.

Dalam puji-pujian ini, Zakharia menyebutkan perjanjian kudus dan sumpah dari Allah kepada Abraham dan Daud, menjelaskan bahwa kelahiran Yohanes Pembaptis merupakan respon atas janji Allah. Allah tidak membuang atau lupa janji diri-Nya sendiri, malah sebaliknya hendak dalam ketidakpercayaan manusia, tetap membangkitkan anak laki-laki Zakharia mempersiapkan jalan bagi Dia.

Bagi Zakharia, memuji dengan mulut bahwa Perjanjian Anugerah tidak dibuang bukan merupakan kesulitan, yang digumulkan dalam hati adalah pada saat kebangkitan dan keselamatan Allah hendak digenapkan, manusia selalu tidak siap bagaimana seharusnya bertindak barulah dapat dikatakan sebagai bekerja sama atas rencana dan kehendak Sang Penyelamat? Melalui perenungan selama 10 bulan, Zakharia pada akhirnya mulai memahami apa yang tidak ia mengerti, tetapi ini justru dari dahulu tidak pernah menghambat Allah terhadap berkembangnya rencana penebusan.

Ciri khusus puji-pujian ini selain sekali lagi dengan yakin percaya Perjanjian Anugerah Allah dengan Abraham dan Daud, titik beratnya justru diletakkan di bagian ini: 「76Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”
80Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.」 (Luk. 1:76-80)

Beberapa kalimat ini menyatakan Zakharia pada akhirnya percaya identitas anaknya kelak mendapat panggilan, identitas ini tidak hanya merupakan 「nabi dari Yang Maha Tinggi」, terlebih lagi merupakan pendahulu yang berjalan di depan dan mempersiapkan jalan bagi Sang Penyelamat yang sungguh benar membawakan penebusan. Perkataan ini membuktikan pengumuman yang disampaikan malaikat terhadap ia, anaknya akan dengan identitas sebagai pendahulu mempersiapkan hati orang menantikan Sang Penyelamat yang sungguh benar. Oleh karena itu pengalaman khusus Zakharia di Bait Suci dan proses penantian kelahiran anaknya, merupakan bagian dari 「topik pembalikkan (reversal motif)」 agar orang bertobat dan berbalik arah kepada Allah, ia suami istri pada akhirnya bersedia melepaskan iman pemahaman sempit diri sendiri, melalui keajaiban kandungan Maria dengan imannya yang paling tulus, juga percaya akan peran khusus anak laki-lakinya.

Mungkin kita akan bertanya, Yohanes nabi dari Yang Maha Tinggi — mengapa bisa tinggal di padang gurun? Bagaimana orang tuanya memandang anak laki-lakinya makan madu liar, bahkan tidak ada tempat meletakkan bantal, bagaimana diperhitungkan sebagai 「nabi dari Allah Maha Tinggi」? Perikop tidak menjelaskan dengan terperinci, hanya menuliskan dengan singkat sebuah kalimat —「anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel」(Luk. 1:80). Ini benar-benar menyatakan bahwa 「nabi dari Yang Maha Tinggi」 tidak ditampilkan dengan pengakuan dunia, dengan kemewahan dan identitas terhormat, malah sebaliknya dengan rendah tinggal di padang gurun, namun justru makin kuat kerohaniannya, siap meluruskan jalan bagi Tuhan.

Renungkan: mungkin kita juga bisa ikut merasakan seperti suami istri Zakharia, setelah mengalami begitu banyak pergumulan, pada akhirnya belajar melepaskan, tetapi yang terlebih nyata lagi, setelah pertama kali melepaskan, yang didapatkan justru makin banyak melepaskan dan memberi, bahkan menerima dan bertahan anak laki-lakinya dipenggal. Bagaimana kita sepatutnya menjalani pelajaran ketaatan dan tunduk?

Yesaya 1:16-20

「Sukarela Menaati」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 1:16-20 [ITB])
16Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
18Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
19Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.
20Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Menghadapi pemimpin Sodom dan rakyat Gomora, Yes. 1:16-20 mengemukakan umat Israel membutuhkan tindakan bertobat. Terlebih dahulu, umat Allah sesungguhnya tidak perlu mempersembahkan lebih banyak lagi barang persembahan, juga tidak membutuhkan lebih banyak persekutuan dan hari perayaan, tetapi perlu menghilangkan perbuatan buruk mereka, berhenti berbuat jahat, juga hendaknya belajar berbuat kebaikan dan mengusahakan keadilan, dua hal yang umat Israel harus lakukan adalah berhenti berbuat dosa dan mengusahakan kebaikan, mereka sudah terbiasa berulang melaksanakan keahlian tuntutan ritual penyembahan permukaan kulit luar, mereka melalui kesalehan permukaan kulit luar ingin melepaskan diri dari dosa penindasan yang mereka lakukan, namun yang Allah lihat dan hargai bukanlah sogokan ritual penyembahan yang bersifat kulit luar, dan persembahan hampa yang dibawa kepada Allah, tetapi adalah pembaharuan kehidupan yang berasal dari dalam menuju keluar, serta luar dan dalam yang sama, pembaharuan kehidupan harus dimulai dari pertobatan.

Keadilan yang disebutkan ayat 17 dalam bahasa aslinya 「mĭšpāṭ」, kata ini adalah persamaan kata dari hukum Taurat Musa, juga bisa diterjemahkan sebagai keadilan masyarakat (social justice), isi secara realistiknya menyangkut menolong pihak yang tertindas; membela hak anak-anak yatim, memperjuangkan perkara para janda, semua ini adalah tindakan yang sangat realistik. Pemimpin adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan menolong pihak yang tertindas, mereka bisa membela dan berjuang bagi kaum lemah, jika mereka berdiri di posisi tinggi namun tidak melaksanakan tuntutan hukum Taurat, maka sama dengan menjadi sekutu para penindas, menjadi pembantu penjahat.

Tetapi, tuntutan melakukan keadilan macam ini bukan merupakan tindakan masyarakat yang tidak memiliki dasar teologis, keadilan masyarakat yang dikatakan dalam Alkitab adalah keadilan masyarakat yang bersifat teologis, dan bukan merupakan semacam tindakan masyarakat tanpa sifat iman kepercayaan. Keadilan masyarakat yang bersifat teologis ini tersambung dengan apa yang disebutkan ayat 19 sukarela menurut dan mendengar, ketaatan macam ini didasarkan bahwa Allah adalah Pemberi perintah atas hukum Taurat, tuntutan-Nya dan ketaatan adalah alasan paling dasar dari pelaksanaan keadilan masyarakat. Hendaknya dipahami bahwa menaati tuntutan hukum Taurat bukanlah semacam pertimbangan politik atau kontraksi antar masyarakat. Saat umat Israel bersedia menaati perintah Allah, mereka akan memandang hukum Taurat sebagai perintah, dan bukan sebagai semacam opini masyarakat, perintah tidak sama dengan opini, perintah memandang Allah sebagai Tuhan (Tuan), yang dituntut adalah mendengarkan dan menaati, opini memandang Allah sebagai pemberi usul, orang memiliki hak mempertimbangkan sebagai pandangan yang tidak sesuai dan membuat keputusannya diri sendiri. Tetapi tuntutan Allah adalah mendengarkan perintah dan menaatinya.

Mendengarkan dan menaati membawakan akibat yang bagaimana? Ayat 18 menunjukkan akibatnya adalah 「Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba」. Ini mewakili pengampunan Allah dan penyembuhan, di sini, pengampunan Allah bukan karena Dia harus memiliki kewajiban mengampuni tanpa syarat, pengampunan-Nya adalah didasarkan pada sukarela kebebasan Dia sendiri, namun Dia mengikat pengampunan dari diri-Nya sendiri pada syarat orang menaati Allah, Allah di sini berjanji, manusia selalu memiliki kemungkinan bertobat mendapatkan pengampunan, bahkan jikalaupun kehidupan kita sedemikian penuh kegelapan, namun juga memiliki pengharapan untuk berbalik arah.

Renungkan: 「sukarela menaati」 adalah respon jawaban atas hukum Taurat TUHAN, tindakan yang paling seharusnya dimiliki, tetapi banyak waktu, kita mungkin akan berkompromi karena berbagai tekanan masyarakat dan politik di dalam masyarakat kita berada, sehingga merendahkan perintah Allah sebagai semacam usulan, melihat keuntungan di depan mata lebih tinggi daripada Allah, saat kita bertindak demikian, mungkin akan membawakan kemudahan jangka pendek, tetapi secara jangka panjang justru berbuat dosa terhadap Allah dan menjadi pembantu para penindas orang lain. Memohon Tuhan membuat kita mampu bersungguh hati bertobat, sukarela mendengar dan menaati.