Tag Archives: Tuan-Hamba

Efesus 5:21-6:9 (2)

「Etika Rumah Tangga (2) Orangtua – Anak」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Selain suami dan istri, dua hubungan dasar keluarga adalah orangtua-anak, dan tuan dan hamba.

Dalam hubungan orangtua dan anak, Paulus pertama-tama meminta anak untuk menaati orangtua, ini merupakan pengajaran penting dalam 10 hukum di Perjanjian Lama. Ia terlebih menunjukkan status istimewa dari perintah ini, bahwa dalam 10 hukum hanya perintah menaati kedua orang tua yang diikuti dengan janji, menjelaskan bahwa orang yang menaatinya akan mendapatkan faedah (Ef. 6:3 「supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi」), sedangkan 9 perintah lainnya tanpa janji.

Dalam 10 hukum, 9 perintah lain dinyatakan dalam kalimat tanpa syarat. Jangan membunuh, jangan mencuri, merupakan instruksi ringkas sederhana, tidak ada penjelasan bahwa dalam keadaan apa pembunuhan atau pencurian dapat diterima, dan tidak ada petunjuk apa hukumannya jika melanggarnya. Semua perintah tidak menunjukkan manfaat jika ditaati, atau kerugian jika tidak dipatuhi; dapat dikatakan bukanlah perintah yang bersifat jasa dan berkat. Hanya perintah menghormati orang tua saja yang dinyatakan akan membawa manfaat jika dipatuhi.

Bagi orang Tionghoa, berbakti kepada orang tua adalah hal paling utama dari semua perilaku moral, maka terhadap perintah Paulus ini akan merasa 「sudah sepatutnya.」 Juga setuju jika orang yang menghormati orangtua akan mendapatkan umur panjang. Hanya ada sedikit kontroversi tentang pemberi umur kehidupan, apakah merupakan berkat khusus supranatural dari Allah bagi orang yang berbakti kepada orangtua, ataukah karena hal alamiah jika menaati orangtua dapat menghindari berbuat kesalahan dan mengurangi risiko dalam hidup mereka?

Tuntutan dalam 10 hukum bersifat satu arah, hanya berbicara tentang sikap anak kepada orangtua; sedangkan permintaan Paulus bersifat dua arah, ia juga berbicara tentang bagaimana orangtua memperlakukan anak. Dia mengingatkan orangtua 「… janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan」 (Ef. 6:4).「Didik」 dan 「mengajarkan」 adalah dua tanggung jawab dasar orangtua yang tidak dapat dipisahkan. Paulus meminta orangtua memberikan 「ajaran」 dari Tuhan yang dapat dibagi menjadi pelajaran yang mendorong (apa yang harus dilakukan) dan larangan (apa yang tidak boleh dilakukan). Dalam pengajaran hubungan dua arah ini, Paulus menonjolkan posisi Allah, perintah dua arah ini harus dilakukan sesuai dengan standar Allah. (「1 … taatilah orang tuamu di dalam Tuhan … 4 didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan」)

「Jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu」 adalah nasehat pengajaran yang kaya makna, juga sangat kontemporer, dan psikologi pendidikan hari ini sejalan dengan permintaan ini. Relasi keluarga tidak bisa emosional, pengajaran yang efektif adalah menghindari konflik dan perlawanan dari anak yang menyebabkan penolakan mendengarkan nasihat. Oleh karena itu, berikan hormat yang cukup kepada anak, dengan sikap damai memberikan pelajaran dan kewaspadaan.

Berbicara hubungan tuan-hamba, ajaran Paulus cukup sederhana dan jelas: hamba taat kepada tuan, dan tuan memperlakukan hamban dengan baik.

Hamba hendaknya memiliki hati yang hormat, dengan jujur menaati instruksi tuannya sebagaimana ia menaati Kristus. Mereka bukan hanya melakukan pekerjaan asal secara luar terlihat baik; tetapi sama luar dan dalam, melayani dengan sukarela, seperti menaati kehendak Tuhan.

Tuan hendaknya memperlakukan dengan baik, kasih, tidak menindas hamba. Paulus mengingatkan: 「Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka」 (Ef. 6:9) Di dunia ada perbedaan status, di surga tidak ada, Tuhan memperlakukan semua orang sama; jika kita menindas yang lemah, maka harus siap menghadapi penghakiman kelak. Inti ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam khotbah di bukit: bagaimana Anda memperlakukan orang, dan bagaimana juga Tuhan memperlakukan Anda.

「Setiap orang … kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan」 (Ef. 6:8) Semua yang telah kita lakukan di dunia mempunyai efek di hari akhir, perbuatan baik akan mendapat upah baik dan balasan buruk bagi perbuatan jahat. Karena 「ada pembalasan」 maka harus waspada bertindak.

Kita tahu bahwa hamba Romawi kuno hampir seperti budak, dan hubungan antara tuan-hamba jauh lebih bersifat menindas, lebih tidak adil dan tidak manusiawi dibandingkan hubungan pemberi kerja dengan pekerja pada hari ini. Di sini Alkitab bukan dalam konteks mendorong kita menghilangkan perbedaan kelas ini, tetapi menghendaki orang Kristen mengubah hubungan antar kelas sosial ini (pekerja dan pemberi kerja), dan dengan sudut pandang iman untuk menafsirkan dan mengatur relasi dua arah ini. Sejarah mengatakan bahwa penggulingan kelas sosial lama yang sudah ada tidak berarti penghapusan ketidaksetaraan, tetapi hanya akan membangkitkan kelas sosial yang baru, yang ditindas menjadi penindas, penindasan dan eksploitasi masih tetap ada.

Paulus tidak mengajarkan kita untuk membuang hubungan hamba-tuan, tetapi untuk memeriksa kembali hubungan itu dalam perspektif Yesus Kristus. Sebagai hamba hendaknya memakai sikap melayani Yesus Kristus untuk melayani tuan; yang sebagai tuan hendaknya tahu bahwa tuan dan hamba memiliki satu Tuan yang sama, yaitu Yesus Kristus. Tuan hendaknya melihat Yesus Kristus pada diri hamba, dan hamba hendaknya melihat Yesus Kristus pada diri tuan. Kita perlu menemukan Kristus dalam hubungan dan peran antar manusia di dunia.

Tanggung jawab etis juga merupakan tanggung jawab iman, semua praktek-praktek etis adalah membuat nyata iman.

Renungkan:

1. Pendidikan anak-anak hari ini jika tidak terlalu ketat atau terlalu longgar, bagaimana ajaran-ajaran Alkitab dapat memperbaiki kekurangan ini?

2. Dapatkah Anda menemukan Kristus dalam tanggung jawab dan hubungan antar personal yang utama Anda? Apakah Anda menganggap pemenuhan tanggung jawab di dunia pada saat yang sama juga merupakan praktek iman?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Imamat 25:39-46

Janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:39-46 [ITB])
39 「Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. 40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. 41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. 42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. 43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.
44 Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan. 45 Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu. 46 Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian, supaya diwarisi sebagai milik; kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya, tetapi atas saudara-saudaramu orang-orang Israel, janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain.

Imamat 25:39-46 menyebutkan dua macam orang, yang pertama pekerja upahan (ayat 39-43) dan yang kedua adalah budak (ayat 44-46).

Mengenai orang-orang yang disebutkan dalam ayat 39-43 adalah orang-orang yang berangsur-angsur miskin, bagian peraturan ini dimaksudkan untuk melindungi orang-orang yang berangsur-angsur menjadi miskin agar tidak menjadi budak orang lain, karena mereka adalah saudara atau kerabat orang Israel, sehingga mereka hanya boleh diperlakukan sebagai pekerja upahan. Ini berarti bahwa mereka harus dilindungi oleh majikan, dan mereka hanya dapat melayani majikan mereka sampai tahun Yobel. Sampai Yobel, mereka harus meninggalkan majikan mereka dan kembali ke rumah mereka, menebus tanah mereka. Mengapa orang Israel harus melakukan ini? Ayat 42-43 memberikan alasan di baliknya, (1) Bangsa Israel adalah hamba Allah, dan Allah secara pribadi memimpin mereka keluar dari Mesir. Mereka awalnya adalah budak di Mesir, tetapi sekarang karena keselamatan Allah maka budak Mesir menjadi hamba Allah, setiap orang Israel tidak boleh lagi memiliki tuan lain, juga tidak boleh menjual saudara-saudaranya sebagai budak; (2) Ini adalah salah satu tindakan hormat takut akan Allah, jadi alasan melaksanakan aturan ini sepenuhnya karena hormat takut akan Allah, alasan yang bersifat teologis; (3) janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain (ayat 43, 46, 53), yang berarti bahwa tuan tidak memerintah pekerja upahan dengan sewenang-wenang, kata memerintah (rule over) adalah perilaku yang sangat sadar akan kekuasaan (extremely power-conscious behaviour), dan hanya orang yang hormat takut akan Allah yang dapat menyeimbangkan mentalitas ini, agar orang yang menjadi tuan mengerti bahwa tuannya yang sebenarnya adalah TUHAN, dia tidak akan bertindak sewenang-wenang memerintah orang lain.

Bagian ini sampai batas tertentu mengemukakan hubungan antara majikan dan karyawan. Seorang karyawan tidak dapat menjadi budak, yang berarti bahwa orang ini bukan milik majikan, tidak memperbolehkan majikan memerintah semau-maunya. Dalam komunitas Israel, baik karyawan maupun majikan adalah hamba Allah, jadi tidak ada seseorang dapat dijadikan budak lagi. Oleh karena komunitas Israel analog dengan jemaat Kristen saat ini, kita percaya bahwa orang Kristen jika menjadi majikan tidak boleh menganggap karyawan sebagai properti milik mereka sendiri (baik mereka orang percaya atau tidak) , tetapi harus menganggap mereka sebagai hamba Allah seperti diri mereka sendiri, dengan hati yang hormat takut akan Allah memperlakukan mereka, di satu sisi, memperlakukan mereka dengan masuk akal, di sisi lain, hendak menghentikan semua penindasan, mengadopsi metode operasi yang berbeda dengan pengusaha non-Kristen, dan bersaksi tentang keadilan Allah.

Renungkan:
Dalam hubungan antara majikan dan karyawan, serta di antara sesama karyawan, apakah kita tanpa sadar akan menganggap orang-orang di sekitar kita sebagai alat atau budak untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan individu yang terhormat? Memohon Allah membantu kita untuk memperlakukan orang-orang di sekitar kita sebagai hamba Allah. Kita hanya pelayan dan menerima kasih karunia Allah untuk mengelola orang alih-alih memerintah mereka. Dengan demikian, perusahaan yang dijalankan oleh orang Kristen dapat mengeluarkan cahaya yang berbeda, agar dunia melihat alasan untuk takut akan Allah di zaman yang terbiasa dengan penindasan.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.