Tag Archives: Manusia Lama

Efesus 5:21-6:9

「Etika Rumah Tangga (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Perikop ini adalah pengajaran tentang etika keluarga. Jika iman itu dibuat kenyataan, maka pertama-tama harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, dan secara alami keluarga adalah yang paling penting.

Dalam masyarakat kuno, keluarga memiliki fungsi menghasilkan produksi dan mewariskan pengetahuan, jadi setidaknya ada tiga hubungan dasar antar personal, yaitu suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta tuan dan hamba. Ini persis merupakan tiga pasang hubungan yang dicakup dalam perikop ini. Paulus secara terpisah mengingatkan kedua pihak dalam setiap hubungan.

Paulus terlebih dahulu berbicara tentang hubungan antara suami dan istri. Tidak seperti masyarakat Cina yang meletakkan prioritas utama pada hubungan vertikal ayah-anak, Alkitab menekankan bahwa orang harus meninggalkan orang tua mereka, dan bersatu dengan istri, jadi hubungan horisontal merupakan prioritas tertinggi.
Tuntutan Paulus kepada suami dan istri adalah sederhana dan jelas: suami harus mengasihi isterinya dan isteri harus taat kepada suami.

Manusia modern menuntut persamaan dan menolak terhadap kata ketaatan, sehingga mereka tidak menyukai perkataan Paulus agar istri taat kepada suaminya. Banyak orang berusaha membuat cair doktrin yang secara implisit lebih mengutamakan laki-laki, mencoba untuk membawa kata 「saling rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain」 Ef. 5:21 untuk menutupi 「istri tunduklah kepada suami」di ayat Ef. 5:22, mengklaim bahwa ketundukan adalah dua arah, istri tunduk pada suami, suami juga tunduk istrinya.

Tapi Paulus selanjutnya memakai analogi suami dan istri dalam hubungan antara Kristus dan Jemaat, yang menunjukkan bahwa istri tunduk kepada suaminya sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, dan ketundukan ini adalah tanpa syarat 「dalam segala sesuatu」 (Ef. 5:24). Ini telah membuat pemikiran tersebut menjadi buntu, apakah Kristus dan Jemaat harus tunduk satu sama lain? Apakah Kristus harus tunduk kepada Gereja? Tidak ada keraguan bahwa Paulus berbicara tentang ketundukan dalam hubungan suami-istri adalah dalam satu arah.

Namun apakah permintaan Paulus ini tidak adil? Ya, itu sangat tidak adil. Tapi itu bukan tidak adil terhadap perempuan sebagaimana pendapat paham Feminisme, tapi sangat tidak adil kepada laki-laki. Karena ketika Paulus meminta istrinya untuk tunduk pada suaminya, Paulus meminta kepada suami mengasihi istrinya, membayar semua harga untuk istrinya dan bahkan mengorbankan dirinya seperti Kristus telah mengorbankan hidupnya bagi Gereja. Kita berpikir, hubungan antara Kristus dan Jemaat, siapa yang membayar harga lebih banyak, Kristus atau Gereja? Jika hubungan antara suami dan istri adalah sama seperti demikian, maka suami harus meletakkan segalanya bagi istrinya tanpa syarat.

Saya sering berkata kepada para saudari 「jika ada orang bersedia berkorban hidup bagi Anda, bukankah tidak terhitung direndahkan jika Anda tunduk kepadanya?」
Bagaimanapun juga, tidak peduli berapa banyak orang mengkritik Paulus sebagai seorang yang mengutamakan laki-laki, mengkiritk bahwa ajarannya tidak adil dan ketinggalan zaman. Saya percaya bahwa ini adalah cara tunggal bagi pernikahan yang berhasil. Tanpa prinsip dasar ini, tidak ada yang bisa sukses menjaga hubungan suami istri.

Pria mungkin bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam pernikahan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada mengabaikan istri. Ketidakpedulian dan mati rasa dari seorang pria adalah kejahatan pertama. Sebelum pernikahan, orang dapat sangat menghargai pacar dan tunangannya, setelah menikah memandang pihak lain sebagai sudah sepatutnya demikian, bukan tidak mencintainya lagi, tapi merasa kurang perlu sedemikian diperhatikan dan dilindungi. Pokoknya sudah menikah, sekarang adalah waktu untuk membangun karir, pikiran hanya ditempatkan dalam pekerjaan, urusan keluarga dihadapi seadanya saja sudah cukup. Namun, istri dari muda sampai usia tua, membutuhkan pengakuan dari seorang suami dalam relasi, perlu untuk mengungkapkan kasih sayang dalam tindakan nyata, untuk melindunginya, sehingga istri merasa aman, merasa dicintai. Alkitab mengingatkan suami untuk mengasihi istri-istri mereka, untuk merawat mereka, dan untuk mengasihi istri sampai pada tahap mengorbankan hidup diri sendiri.

Perempuan bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam perkawinan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menjadi pengomel. Sebelum pernikahan, wanita selalu menurut seperti burung kecil, tetapi setelah menikah mudah untuk menjadi banyak mengomel. Perempuan biasanya lebih kuat dalam berbicara dan ekspresi emosional daripada laki-laki, setelah pernikahan, karena kebutuhan sehari-hari, kehidupan yang berat, wanita berubah sangat mudah membuat hal-hal kecil menjadi besar, mengomel tiada henti. Ditambah dengan pikiran suami sebagian besar ditempatkan pada karier, setelah pulang rumah merasa lelah dan tidak banyak bicara, sampai pada titik istri merasa tidak perlu berdiskusi dengan suaminya, istri menjadi pengambil keputusan utama dalam segala hal, sehingga posisi suami dalam keluarga lebih terpinggirkan, hubungan antara suami dan istri menjadi hubungan ibu-anak. Alkitab mengingatkan istri untuk mengontrol lidahnya agar tidak menjadi pengomel, mengendalikan dorongan untuk menjadi bossy dalam segala hal, belajar untuk tunduk pada suami.

Selama suami terus mengasihi istrinya berkorban baginya, maka sebagai istri melanjutkan ketundukan kepada suaminya, perkawinan akan kuat seperti terbuat dari besi, tidak terpecahkan.

Selain keselamatan, keluarga yang bahagia adalah hadiah yang paling indah yang diberikan oleh Allah.

Renungkan:

1. Apakah Anda percaya bahwa keluarga adalah sebuah tempat penting dalam mempraktekan iman? Apa tekad Anda untuk hal ini?

2. Jika Anda telah menikah, pertimbangkan bagaimana Anda dapat meningkatkan hubungan suami – istri Anda dengan ajaran-ajaran Paulus. Jika Anda tidak belum menikah, silahkan aplikasikan kasih, berkorban dan ketundukan pada relasi cinta Anda.


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:3-21 (2)

「Anak-anak Terang (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:3-21 [ITB])
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas–tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14 Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Paulus tidak mengharapkan kita menjadi moralis, memenuhi seperangkat standar moral, untuk menjadi orang legalis (seperti orang Farisi), tetapi meminta kita untuk menjadi umat Tuhan yang memenuhi standar. Jika memakai gambaran terang dan kegelapan yang digunakan dalam Alkitab, kita harus menjadi anak-anak Terang.

Kita dahulu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang sudah meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam Terang, di dalam Tuhan telah menjadi anak-anak Terang, maka dengan demikian perilaku kita harus mencerminkan perubahan kehidupan, pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Anak-anak Terang semua baik, adil benar dan jujur.

Hidup baru merupakan prasyarat bagi cara kehidupan baru, tidak akan ada cara kehidupan baru tanpa adanya hidup baru; tetapi hidup baru tidak akan secara alami mengarahkan kepada cara kehidupan baru, masih perlu melalui upaya untuk mendapatkannya. Paulus membuat permintaan berikut: 「senantiasa ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan」(Ef. 5:10); 「Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif」 (Ef. 5:15); 「Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan」 (Ef. 5:17). Kita harus membedakan antara benar dan salah, mengerti kehendak Tuhan, dan untuk memeriksa apa berkenan kepada-Nya, sebagaimana Roma 12:2 katakan agar 「membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna」

Kehendak Allah dan hal yang berkenan kepada-Nya merupakan standar tertinggi untuk menilai semua sejati dan palsu, salah dan benar. Tujuan hidup dari seorang Kristen dapat diringkas dalam dua kalimat: mengikuti kehendak Allah dan menyenangkan Tuhan.

Kita semua aslinya hidup di dunia yang jahat, pikiran dan perilaku tidak berbeda dengan manusia dunia, sama-sama tidak tahu kebenaran dan tidak mengerti kehendak Tuhan. Paulus menggambarkan situasi ini sebagai tertidur (Ef. 5:14). Ketika kita diterangi oleh cahaya Kristus, kita dibangunkan, datang untuk mengenal Allah, memahami kebenaran dan bertindak sesuai dengan kebenaran.

Orang yang tinggal dalam gelap, tidak tahu terang, juga tidak merasakan kegelapan, tidak memandang bahwa kegelapan sebagai masalah. Hanya ketika disinari Terang maka baru nyata kegelapan. Oleh karena itu, kita harus selalu memiliki kedekatan dengan Tuhan, dipenuhi dengan Roh Kudus, barulah berangsur-angsur mengerti kebenaran, keluar dari yang jahat dan masuk dalam yang baik. Pengudusan tidak pernah tercapai dalam satu langkah, kedua doa Paulus bagi orang percaya dalam pasal 1 dan 3 adalah memohon pertumbuhan, yang pertama adalah meningkatkan pengetahuan, dan yang kedua adalah meningkatkan pengalaman. Kita perlu ditambahkan dalam kedua area ini, bertumbuh dalam segala hal.

Anak-anak Terang harus berbeda dari anak kegelapan, maka Paulus melarang orang-orang percaya untuk meniru dunia dan bergaul menjadi kawanan mereka; Tidak satu jalan dengan bangsa asing, tidak melakukan hal-hal bodoh bersama-sama mereka. Tapi nilai keberadaan cahaya adalah untuk menerangi kegelapan, dan terang harus dinyatakan dalam kegelapan; Jangan meniru bukan berarti benar-benar menarik dan memisahkan diri, kita tidak kagum diri menjadi narsis, tetapi harus bisa menegur orang yang bertindak sia-sia yang berjalan dalam kegelapan (memberitahukan kebenaran). Kita adalah orang-orang yang tidak kompromi, tidak mengikuti (non-conformity), tetapi tidak memisahkan diri dari manusia dan membentuk komunitas separatis suci (separationist).

Paulus membuat panduan spesifik untuk hidup sebagai anak-anak Terang: arif memperhatikan dengan saksama bagaimana hidup, pergunakan waktu yang ada, memahami kehendak Tuhan, tidak kecanduan mabuk alkohol, senantiasa memuji Tuhan dan rendahkan diri satu sama lain.

Alasan utama 「menghargai waktu」 bukan karena waktu adalah berharga, hidup kita singkat; tetapi waktu pelayanan di bumi terbatas, dan Kristus segera akan kembali dan tanda-tandanya nyata pada 「hari-hari ini adalah jahat.」 Kesadaran akan akhir zaman membuat kita menjadi lebih aktif dan berhati-hati dalam memenuhi misi Injil.

Kehidupan yang waspada adalah tidak bermabuk-mabukan, berjaga-jaga tetap waspada, dan sering menaikkan mazmur pujian kepada Tuhan, dengan ajaran dan doa untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan adalah tindakan yang membantu kita mempertahankan kesadaran kita atas Allah dan kasih karunia-Nya, mengingatkan kita bahwa di belakang kehidupan yang terbatas terdapat dunia yang tak terbatas, dan bahwa ada dimensi yang kekal melampaui dunia kasat mata yang sementara ini. Orang yang sering berterima kasih kepada Tuhan, tidak mudah ditawan oleh dunia, tidak akan kehilangan arah hidup.

Renungkan:

1. Apakah kita memiliki cukup kewaspadaan terhadap dosa-dosa dunia dan memiliki cukup perhatian kasih bagi orang-orang dunia?

2. Bagaimana Anda dapat menjalani kehidupan yang 「berada di dunia tetapi tidak duniawi」? Bagaimana Anda dapat membuat nyata tuntutan ini?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 5:3-21

「Anak-anak Terang (1)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 5:3-21 [ITB])
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas–tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14 Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Orang Kristen adalah manusia baru, tidak hanya secara individu menjadi manusia baru, tetapi juga menjadi anggota dari kemanusiaan yang baru. Yang pertama semata-mata bersifat pribadi dan yang kedua adalah bersifat komunitas.

Anggota dari kemanusiaan yang baru dalam perilaku harus berbeda dibandingkan dahulu waktu masih menjadi orang-orang bangsa asing. Paulus mengajukan dua kelompok tindakan yang dilarang di sini.

Tindakan kelompok pertama adalah percabulan, kecemaran dan keserakahan, yang artinya tidak mengendalikan nafsu, berperilaku tidak sesuai aturan, dan keinginan berlebihan untuk memiliki (Ef. 5:3). Tiga kejahatan ini bersifat ringkasan dan dapat dirujuk sebagai asal-usul sumber dari kebanyakan kejahatan yang lain, hal ini telah disebutkan sebelumnya di Ef. 4:19; Paulus menegaskan bahwa semua itu adalah manifestasi dari hati pikiran sia-sia dari bangsa asing, dan mereka yang telah belajar Kristus tidak lagi dapat kembali melakukannya lagi.

Paulus berkata bahwa tiga kejahatan ini「disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.」 Jangankan melakukannya, bahkan menyebutkan sajapun tidak boleh. Menariknya, jika Anda tidak boleh menyebutkannya, lalu mengapa Paulus menyebutkannya? Saya pikir maksud Paulus adalah: orang Kristen dalam berperilaku, jangan sampai membuat orang punya kesempatan untuk teringat tiga kejahatan ini; dengan kata lain, jangan ada orang yang mengandaikan bahwa kita akan berdosa melakukan tiga kejahatan ini, bahkan membayangkan sajapun jangan. Kesopanan yang dimiliki orang-orang kudus adalah isolasi terhadap tiga kejahatan ini.

Tindakan kelompok kedua yang dilarang adalah perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono, semuanya menunjuk kejahatan dalam tutur kata. Sama seperti tiga macam kejahatan yang bersifat tindakan yang sebelumnya, 3 hal ini juga bersifat ringkasan. Bisa membayangkan bahwa semua perkataan yang tidak sopan, kebohongan, omong kosong, sia-sia, yang tidak perlu, semua itu dilarang. Larangan ini cakupannya sangat luas. Paulus hanya menekankan bahwa semua itu 「tidak pantas」, atau bahwa belum sampai pada tingkat berdosa. Dan berlawanan dengan tiga macam kata-kata ini, Paulus meminta kita untuk mengucapkan syukur. Karena perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono bersifat negatif, destruktif merusak, tidak dapat mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan.

Banyak omong pasti akan banyak kesalahan, sulit untuk bertahan akan dosa lidah, ini adalah yang selalu diajarkan oleh Alkitab. Banyak orang yang menaati pengajaran dari Paulus di sini, menuntut orang Kristen untuk sesuai aturan, hati-hati dalam berkata-kata dan perbuatan, setiap gerakan tangan, setiap gerakan kaki harus sesuai Alkitab. Gerak-gerik yang sepatutnya bagi kesopanan orang-orang kudus, tidak berlebihan banyak berbicara, tidak melakukan hal-hal yang melampaui aturan; berkata-kata kebenaran; ini adalah apa yang dipegang oleh kaum Puritanisme dalam Protestan. Namun, mustahil jika orang Kristen harus mematuhi aturan yang bahkan melarang gurauan lelucon, itu akan memberikan kesan kurang menyenangkan dan akan ditolak oleh generasi muda.
Manusia modern fisik ruang geraknya kecil, ruang psikologisnya juga sama, sehingga menolak cara komunikasi terlalu ketat aturan dan terlalu serius yang membuat hidup menjadi menakutkan. Lebih menghargai hiburan, meminta segala sesuatu harus bersifat menyenangkan, bahkan khotbah dan pengajaran juga tidak terkecuali, dituntut tidak kaku, kaya rasa humor. Kita tidak harus semua setuju dengan kecenderungan ini, tetapi diperlukan respons yang sesuai, ini juga termasuk pertimbangan 「pantas」 atau tidak.

Paulus menjelaskan lebih lanjut tentang dua kelompok kejahatan yang dilarang tersebut. Ia menegaskan bahwa percabulan, kecemaran dan keserakahan, semuanya adalah perilaku bangsa-bangsa asing (kafir), dan bahwa orang-orang yang demikian tidak akan ada bagian dalam Kristus, maupun di dalam Kerajaan Allah. Paulus memandang keserakahan sebagai penyembahan berhala, karena orang-orang serakah diperbudak dan bahkan diasingkan (alienated). Yesus Kristus juga membandingkan Mamon (uang) dan Allah, menunjukkan bahwa kita hanya bisa memilih satu di antara dua, dan kita tidak bisa melayani keduanya pada waktu yang sama.

Orang-orang yang berbicara kata-kata kosong yang sia-sia, kata-kata mencerminkan isi hati, sebagian besar isi hati mereka adalah palsu; mereka bertindak tidak mengikuti kebenaran, mereka menjadi anak-anak durhaka, dan murka Allah dituangkan ke atas kepala mereka. Paulus mengingatkan orang-orang percaya untuk tidak menjadi satu aliran kotor (menjadi kawanan) dengan mereka.

Berdamai namun berbeda, tidak berpura-pura menjadi suci tanpa boleh salah sedikitpun, tapi mempertahankan standar kekudusan, ini adalah sikap hidup kita.

Renungkan:

1. Menurut Anda apa yang perlu Anda perbaiki dalam tutur kata dan tindakan Anda sehingga sesuai pengajaran agar orang Kristen bertindak dalam cara yang sepadan dengan anugerah-Nya?

2. Yesus Kristus adalah model teladan bagi kita, bagaimana Anda menggambarkan sikap hidup-Nya? Bagaimana Dia adalah Tuhan yang Maha Kudus namun ramah dapat didekati?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Efesus 4:17-5:2 (2)

「Hidup Menunjukkan Kehidupan Anak-Anak Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:17-5:2 [ITB])
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:
Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. 21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. 1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Orang modern sering menekankan perlu menghidupi jati diri menjadi diri sendiri, menolak untuk memenuhi tuntutan moral tradisi atau dari orang lain, dan hidup hanya berdasarkan preferensi pribadi dan pemikiran ide diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa alam memiliki sifat logis, masuk akal dan baik, bahkan suci.

Ajaran Alkitab adalah justru sebaliknya. Paulus menunjukkan bahwa apa yang kita taati dan ikuti sebelum percaya Tuhan Yesus adalah kehidupan yang sia-sia dari hati yang sia-sia. Keinginan / nafsu daging adalah sifat alamiah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan sifat alamiah yang dirancang oleh Allah dalam penciptaan. Oleh karena itu, hidup yang menaati dan mengikuti dosa bukan merupakan hidup yang alami; Hanya ketika mendapatkan kembali kehidupan dari Allah, menjalani kehidupan baru (dengan gaya hidupnya yang baru), barulah merupakan hidup alami, menghidupi saya yang sejati.

Manusia lama 「yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan」 (Ef. 4:22); sebaliknya manusia baru 「yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (gambar Allah) di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」. Manusia baru adalah manusia yang seperti aslinya saat penciptaan, sedangkan manusia lama yang secara kronologi waktu adalah terkemudian yang secara bertahap menjadi buruk.

「Dibaharui di dalam roh dan pikiranmu」 (Ef. 4:23), di sini 「pikiran」 adalah tidak hanya pikiran dan tekad, tetapi 「manusia bagian dalam」, atau saya yang sejati, atau kehidupan nyata. Paulus dalam surat 2 Korintus secara rinci menjelaskan perbedaan antara manusia bagian dalam dan yang luar. Hidup kita telah dibaharui, dan tindakan lahiriah dan kehidupan juga harus berubah.

Kehidupan baru dapat disimpulkan sebagai sebuah kalimat: ada integritas dan kekudusan yang bersumber keluar dari kebenaran. Bagaimana bentuk nyata manifestasinya?

Paulus menyebutkan empat tuntutan dalam aspek perilaku:

Pertama, adalah tidak berdusta, tetapi hanya mengatakan apa yang benar (Ef. 4:25). Dusta adalah palsu, kosong, sia-sia. Dahulu kita ada dalam hidup yang sia-sia dan palsu, tetapi sekarang karena kebenaran maka hidup dalam kehidupan yang benar, nyata dan sejati; kejujuran saling terkait dengan benar, nyata dan sejati. Secara khusus ditekankan keharusan berbicara jujur terutama diantara orang Kristen, tidak ada ruang kemunafikan antara anggota badan.

Kedua, adalah kontrol emosi (Ef. 4:26). Manusia yang sejati pasti memiliki emosi yang sejati, setiap orang memiliki emosi; Alkitab tidak menuntut kita membebaskan diri dari semua perasaan emosi, dan menjadi manusia tanpa sukacita, tanpa kesedihan, tanpa rasa putus asa. Tetapi meminta kita untuk memperhatikan dua hal ini saat dalam amarah: jangan overdosis (berlebihan), melakukan tindakan berdosa; juga secara waktu jangan terlalu lama, misal menyimpan dendam kemarahan kepada orang lain. Mengapa jangan overdosis dan jangan terlalu lama? Karena itu mudah memberikan kesempatan kepada iblis untuk memikat kita berbuat dosa.
Kemarahan itu sendiri bukanlah terhitung dosa, tetapi kemarahan adalah sering menjadi kesempatan bagi dosa kejahatan. Datang kemarahan kemudian lupa menjadi manusia sejati yang benar, lupa hidup kudus, tidak lagi memiliki 「kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」 (Ef. 4:24)

Ketiga adalah bekerja keras, mandiri mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri, tidak lagi hidup bergantung pada orang lain, dan tidak melalui tindakan ilegal untuk mendapatkan kebutuhan penopang hidup (Ef. 4:28). Paulus mengharapkan bahwa kita tidak hanya tidak mengeksploitasi hasil kerja keras orang lain, bahkan kita memiliki kekuatan lebih berbagi buah kerja keras kita dengan orang lain. Kehidupan yang menarik diri dari masyarakat bukanlah bentuk kehidupan yang Allah kehendaki. Hal ini bukan dilihat dari manfaat ekonomi masyarakat manusia, tetapi dari perspektif bahwa semua orang telah menerima kasih karunia dan anugerah dari Tuhan. Hidup adalah untuk disempurnakan, menyia-nyiakan hidup adalah perilaku boros.

Keempat adalah menahan mulut, mencakup dua hal: tidak berbicara kata-kata kotor, dan tidak mengucapkan kata-kata negatif yang merusak. Tidak berkata kotor mudah dimengerti, kata-kata mencerminkan bagian dalam hati, rohani pikiran yang bersih tidak akan mengatakan kata-kata kotor. Tidak mengatakan kata-kata negatif juga didasarkan pada kebenaran yang sama, orang yang menghormati kehidupan dan berusaha sekuat tenaga untuk pemenuhan orang lain tidak akan menyakiti orang lain dengan kata-kata. Tetapi 「pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.」 Dalam dunia hari ini yang penuh bahasa kekerasan dan kritik menghancurkan, ajaran ini adalah nasihat yang benar-benar memberikan peringatan yang membangunkan kita dari tidur.

Setelah empat tuntutan perilaku, Paulus selanjutnya memberikan tiga ajaran yang lebih umum, bersifat prinsip:

Pertama, adalah jangan mendukakan Roh Kudus yang melindungi kita. Dalam pasal 1, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah pekerjaan Allah, dari dipilih sampai dipisahkan, diberikan hak menjadi anak-anak, sampai penebusan keselamatan, bertujuan membuat kita menjadi bagian dari rencana Kristus. Identitas dan misi telah kita peroleh, tapi belum sepenuhnya. Kita menunggu hari penyelamatan diwujudkan, Roh Kudus menjadi bukti sebelum kita sepenuhnya mendapatkannya, dan jaminan bahwa kita pada akhirnya akan mendapatkannya (Ef. 1:14). Di sini Paulus mengulangi perkataan pasal 1 dan mengingatkan orang percaya lagi, 「telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.」 (Ef. 4:30)

Kedua, adalah hapus semua pikiran dan tindakan yang merusak komunitas. 「Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.」 Patut diperhatikan bahwa kejahatan yang disebutkan di sini memiliki karakteristik umum yakni menyebabkan kerusakan tubuh Kristus, adalah mengikuti tema pasal 4 dan juga topik yang ada di seluruh surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ketiga, adalah menjadi penurut Allah. Bagaimana seorang ayah pasti juga bagaimana sang anak, karena Tuhan adalah Bapa Surgawi kita, kita harus belajar untuk meneladani Allah. Ini mencakup dua tuntutan: satu adalah untuk mengampuni dosa orang lain dengan rahmat, sama seperti Bapa mengampuni dosa-dosa kita; Yang kedua adalah untuk memperlakukan orang dengan kasih, berkorban bagi orang lain. Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; Tuhan menyerahkan nyawa-Nya berkorban bagi kita, dan kita patut berkorban nyawa bagi saudara.

Renungkan:

1. Karena isi dari perikop ini sangat kaya, kita bisa mendapatkan apa yang sesuai keadaan kita, apa yang menyentuh hati kita, atau yang paling mengena pada situasi diri kita sendiri, renungkan dan buatlah respon secara pribadi. Sebagai contoh, tidak berbohong, kontrol emosi, kerja keras dan menjaga kata-kata, manakah salah satu dari empat ini yang Anda paling perlukan?

2. Apakah pendapat Anda tentang tidak mendukakan Roh Kudus?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Kej. 35:9-12

「Perjanjian Suci dan Pewarisan」

(Kej. 35:9-12 [ITB])
9Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, maka Allah menampakkan diri pula kepadanya dan memberkati dia. 10Firman Allah kepadanya: Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.Maka Allah menamai dia Israel.
11Lagi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. 12Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu.

(Bacalah Kej. 35) Yakub memimpin seluruh rumah datang sampai di Betel, membangun mezbah yang ditujukan kepada Allah yang saat awal menampakkan Diri kepada dia, sekarang Allah sekali lagi menampakkan Diri kepada ia, memberkati dia. Bagian nats ini walaupun ringkas dan pendek, justru merupakan nats kunci yang terhubung dengan seluruh kisah para leluhur, berbicara tentang nama orang, nama Allah dan nama tanah.

(1) Nama orang, 「namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel」: Yakub walaupun di tempat penyeberangan sungai Yabok sudah dirubah bernama Israel (Kej. 32), tetapi dalam beberapa pasal yang selanjutnya tetap menyebut ia sebagai 「Yakub」, dan tidak seperti Abram dirubah bernama Abraham oleh TUHAN (Kej. 17), lalu terus dipanggil Abraham. Ini adalah mengingatkan dia, identitas dan kedudukannya sudah berubah, namun rohani karakter masih perlu dibentuk. Berita busuk tentang peristiwa kota Sikhem lebih lagi mengingatkan ia, termasuk anak-anaknya juga sama harus memerlukan perubahan (Kej. 34). Kelak sampai kitab Kejadian 43, baru banyak menyebut nama dia sebagai 「Israel」. Allah menghendaki ia harus melepaskan diri dari sifat diri yang licik dan jahat yang diwakili oleh nama 「Yakub」, berubah sebagai 「Israel」 yang mewakili kehidupan yang mulia bermartabat.

(2) Nama Allah, 「Akulah Allah Yang Mahakuasa」 (Ēl Šadday): Allah demikian menyebut diri sendiri, membuat Yakub terhubung dengan Abraham leluhurnya, dan keduanya sama-sama menyebutkan Allah mengubah nama orang. Tetapi lebih penting lagi adalah Allah berinisiatif memperbarui perjanjian yang Ia adakan dengan Abraham, diwariskan kepada Yakub, termasuk 「Beranakcuculah dan bertambah banyak, menjadi bangsa yang besar, raja-raja akan berasal dari pada dia, mendapatkan tanah perjanjian」. Ini adalah peristiwa setelah Yakub di Betel membangun mezbah dan membayar nazar. Allah berinisiatif membuat perjanjian dengan Yakub, perjanjian kudus ini berlaku efektif kekal selama-lamanya, dan harus diwariskan generasi ke generasi, diperbarui zaman ke zaman, dari iman yang merupakan kepercayaan nenek moyang, menjadi pengalaman diri sendiri.

(3) Nama tanah, 「Betel」: dua puluh tahun waktu berlalu banyak perubahan yang terjadi, Yakub sudah memiliki anak dan istri, ekonomi keluarga berkelimpahan, Allah sekali lagi menampakkan diri kepadanya, memperbarui perjanjian. Yakub tersentuh dan bersyukur, mendirikan tugu batu, 「mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya」. Ini adalah pertama kali di dalam Alkitab berbicara tentang 「korban curahan」 (nesek), juga disebut 「persembahan korban curahan dan penuangan minyak」(persembahan korban curahan 「naw-sak’ … neh’-sek」), kelak sering dipersembahkan oleh para imam untuk mewakili umat. Perkataan Allah adalah nyata dan sungguh, janji menjadi kenyataan, rohani orang oleh karena itu dibangun dan ditingkatkan, iman lebih kokoh.

Renungkan: Kapankah engkau terakhir kali mengalami pembaruan rohani? Ada di manakah Betel mu?

Yakub menaati perintah pulang sampai Betel, membangun mezbah membayar nazar, dan TUHAN selangkah lebih maju lagi menampakkan diri kepada dia, memperbarui perjanjian kudus, janji memberkati.

Mohon ingat, kita walaupun banyak terdapat hal yang tidak berkenan, tetapi Allah terus menantikan kita, terdapat kasih karunia yang akan selangkah lebih maju lagi yang akan dianugerahkan kepada kita, seluruh rumah mendapatkan berkat, tiada henti generasi ke generasi.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).