「Etika Rumah Tangga (1)」
Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)
(Ef. 5:21-6:9 [ITB])
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 「Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.」
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.
Perikop ini adalah pengajaran tentang etika keluarga. Jika iman itu dibuat kenyataan, maka pertama-tama harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, dan secara alami keluarga adalah yang paling penting.
Dalam masyarakat kuno, keluarga memiliki fungsi menghasilkan produksi dan mewariskan pengetahuan, jadi setidaknya ada tiga hubungan dasar antar personal, yaitu suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta tuan dan hamba. Ini persis merupakan tiga pasang hubungan yang dicakup dalam perikop ini. Paulus secara terpisah mengingatkan kedua pihak dalam setiap hubungan.
Paulus terlebih dahulu berbicara tentang hubungan antara suami dan istri. Tidak seperti masyarakat Cina yang meletakkan prioritas utama pada hubungan vertikal ayah-anak, Alkitab menekankan bahwa orang harus meninggalkan orang tua mereka, dan bersatu dengan istri, jadi hubungan horisontal merupakan prioritas tertinggi.
Tuntutan Paulus kepada suami dan istri adalah sederhana dan jelas: suami harus mengasihi isterinya dan isteri harus taat kepada suami.
Manusia modern menuntut persamaan dan menolak terhadap kata ketaatan, sehingga mereka tidak menyukai perkataan Paulus agar istri taat kepada suaminya. Banyak orang berusaha membuat cair doktrin yang secara implisit lebih mengutamakan laki-laki, mencoba untuk membawa kata 「saling rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain」 Ef. 5:21 untuk menutupi 「istri tunduklah kepada suami」di ayat Ef. 5:22, mengklaim bahwa ketundukan adalah dua arah, istri tunduk pada suami, suami juga tunduk istrinya.
Tapi Paulus selanjutnya memakai analogi suami dan istri dalam hubungan antara Kristus dan Jemaat, yang menunjukkan bahwa istri tunduk kepada suaminya sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, dan ketundukan ini adalah tanpa syarat 「dalam segala sesuatu」 (Ef. 5:24). Ini telah membuat pemikiran tersebut menjadi buntu, apakah Kristus dan Jemaat harus tunduk satu sama lain? Apakah Kristus harus tunduk kepada Gereja? Tidak ada keraguan bahwa Paulus berbicara tentang ketundukan dalam hubungan suami-istri adalah dalam satu arah.
Namun apakah permintaan Paulus ini tidak adil? Ya, itu sangat tidak adil. Tapi itu bukan tidak adil terhadap perempuan sebagaimana pendapat paham Feminisme, tapi sangat tidak adil kepada laki-laki. Karena ketika Paulus meminta istrinya untuk tunduk pada suaminya, Paulus meminta kepada suami mengasihi istrinya, membayar semua harga untuk istrinya dan bahkan mengorbankan dirinya seperti Kristus telah mengorbankan hidupnya bagi Gereja. Kita berpikir, hubungan antara Kristus dan Jemaat, siapa yang membayar harga lebih banyak, Kristus atau Gereja? Jika hubungan antara suami dan istri adalah sama seperti demikian, maka suami harus meletakkan segalanya bagi istrinya tanpa syarat.
Saya sering berkata kepada para saudari 「jika ada orang bersedia berkorban hidup bagi Anda, bukankah tidak terhitung direndahkan jika Anda tunduk kepadanya?」
Bagaimanapun juga, tidak peduli berapa banyak orang mengkritik Paulus sebagai seorang yang mengutamakan laki-laki, mengkiritk bahwa ajarannya tidak adil dan ketinggalan zaman. Saya percaya bahwa ini adalah cara tunggal bagi pernikahan yang berhasil. Tanpa prinsip dasar ini, tidak ada yang bisa sukses menjaga hubungan suami istri.
Pria mungkin bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam pernikahan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada mengabaikan istri. Ketidakpedulian dan mati rasa dari seorang pria adalah kejahatan pertama. Sebelum pernikahan, orang dapat sangat menghargai pacar dan tunangannya, setelah menikah memandang pihak lain sebagai sudah sepatutnya demikian, bukan tidak mencintainya lagi, tapi merasa kurang perlu sedemikian diperhatikan dan dilindungi. Pokoknya sudah menikah, sekarang adalah waktu untuk membangun karir, pikiran hanya ditempatkan dalam pekerjaan, urusan keluarga dihadapi seadanya saja sudah cukup. Namun, istri dari muda sampai usia tua, membutuhkan pengakuan dari seorang suami dalam relasi, perlu untuk mengungkapkan kasih sayang dalam tindakan nyata, untuk melindunginya, sehingga istri merasa aman, merasa dicintai. Alkitab mengingatkan suami untuk mengasihi istri-istri mereka, untuk merawat mereka, dan untuk mengasihi istri sampai pada tahap mengorbankan hidup diri sendiri.
Perempuan bisa membuat banyak kesalahan yang berbeda dalam perkawinan dan keluarga, tapi tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada menjadi pengomel. Sebelum pernikahan, wanita selalu menurut seperti burung kecil, tetapi setelah menikah mudah untuk menjadi banyak mengomel. Perempuan biasanya lebih kuat dalam berbicara dan ekspresi emosional daripada laki-laki, setelah pernikahan, karena kebutuhan sehari-hari, kehidupan yang berat, wanita berubah sangat mudah membuat hal-hal kecil menjadi besar, mengomel tiada henti. Ditambah dengan pikiran suami sebagian besar ditempatkan pada karier, setelah pulang rumah merasa lelah dan tidak banyak bicara, sampai pada titik istri merasa tidak perlu berdiskusi dengan suaminya, istri menjadi pengambil keputusan utama dalam segala hal, sehingga posisi suami dalam keluarga lebih terpinggirkan, hubungan antara suami dan istri menjadi hubungan ibu-anak. Alkitab mengingatkan istri untuk mengontrol lidahnya agar tidak menjadi pengomel, mengendalikan dorongan untuk menjadi bossy dalam segala hal, belajar untuk tunduk pada suami.
Selama suami terus mengasihi istrinya berkorban baginya, maka sebagai istri melanjutkan ketundukan kepada suaminya, perkawinan akan kuat seperti terbuat dari besi, tidak terpecahkan.
Selain keselamatan, keluarga yang bahagia adalah hadiah yang paling indah yang diberikan oleh Allah.
Renungkan:
1. Apakah Anda percaya bahwa keluarga adalah sebuah tempat penting dalam mempraktekan iman? Apa tekad Anda untuk hal ini?
2. Jika Anda telah menikah, pertimbangkan bagaimana Anda dapat meningkatkan hubungan suami – istri Anda dengan ajaran-ajaran Paulus. Jika Anda tidak belum menikah, silahkan aplikasikan kasih, berkorban dan ketundukan pada relasi cinta Anda.
Daftar renungan pemahaman Surat Efesus (silahkan klik untuk membuka)
Daftar renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (silahkan klik untuk membuka)
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Untuk Kalangan Sendiri.