Tag Archives: Pintu Gerbang

Mazmur 122:1-2

「Sukacita」 Berdiri Di Bagian Dalam Pintu Gerbang

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 122:1-9 [ITB])
1Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 「Mari kita pergi ke rumah TUHAN.」
2Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
3Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
6Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: 「Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!」
8Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: 「Semoga kesejahteraan ada di dalammu!」
9Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Sebagai 「Mazmur Ziarah」 yang ketiga, Maz. 122:1-2 menyajikan situasi dari mazmur ini di hadapan kita yakni para peziarah telah tiba di Yerusalem dan juga sudah 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」. Dalam bahasa asli Alkitab, pembukaan dari ayat 1 adalah kata 「sukacita」, dengan tepat mencerminkan suasana hati peziarah yang telah sampai di tahap ini. Tetapi berharga kita renungkan bahwa perjalanan ziarah bagi orang Israel sebenarnya adalah urusan yang sangat normal biasa, jikalau demikian lalu di manakah letak 「sukacita」 mereka? Dan juga apa alasannya bahwa hanya dengan 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」 sudah sedemikian gembira bersemangat?

Jika kita ingat Mazmur 120 dan Mazmur 121, mungkin kita dapat memahami di manakah letak 「sukacita」 para peziarah. Mari kita bayangkan, apa yang digambarkan dalam pasal 120 tentang betapa besar tantangan dibawakan kepada peziarah oleh 「kesesakan」, 「perang」, bahkan 「bibir pembohong dan lidah penipu」? Dan bagaimana dengan pasal 121? Sesuai yang dikatakan Pemazmur, bahkan matahari dan bulan akan menjadi kekuatan pengganggu peziarah di jalan. Dengan kata lain, para peziarah begitu memulai perjalanan, bahkan di tengah perjalanan terus menerus walaupun tindakan mereka adalah yang kudus, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka telah mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi bagaimana dengan hari ini? Mereka akhirya telah tiba sampai, akhirnya benar-benar bisa bernapas lega!

Dari sini dilihat, mereka penuh 「sukacita」 bukan sederhana hanya karena mereka sudah 「berdiri」 di 「bagian dalam pintu gerbang」Yerusalem, justru karena setelah mereka mengalami perjalanan ziarah, mendapatkan pengertian bahwa hanya hendaklah bersandar kepada TUHAN Allah yang mereka percaya, maka mereka benar-benar mampu tetap 「berdiri teguh」 walau telah berjalan melewati jalan yang penuh kesulitan.

Renungkan: Apakah kita memiliki 「sukacita」 yang sama? Memandang kembali pada hari-hari yang telah lalu, berharga direnungkan apakah sebenarnya kita juga telah dengan 「sukacita」 berjalan melewati begitu banyak perjalanan yang sangat berat, sampai sekarang masih tetap mampu 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」? Atau mungkin kita pernah jatuh di suatu bagian di jalan, menyimpang, bahkan hilang kepercayaan terhadap Allah? Ada orang karena 「kesesakan」, 「perang」, bahkan berbagai macam permasalahan sehingga telah meninggalkan barisan, tidak dapat tekun bertahan; ada orang pernah jatuh, pernah merasakan sakit, justru oleh karena keyakinan yang pasti terhadap 「Penjaga」 Allah kita (Maz. 121), sehingga tetap mampu teguh berjalan maju meneruskan perjalanan. Hari ini, apakah kita semua oleh karena diri sendiri sehingga mampu 「berdiri di bagian dalam pintu gerbang」 dan 「sukacita」?