Category Archives: Kumpulan Khotbah

Ibadah penuh sukacita

Pendahuluan: Ibadah penuh sukacita

Apakah bapa ibu pernah mengalami gejala-gejala ibadah yang dingin, muram tidak ada semangat? Datang terlambat, pulang sebelum selesai?

Anda pilih yang mana, ibadah penuh sukacita? Atau lebih suka ibadah yang lesu, muram dan dingin?

Kita rata-rata pasti pilih ibadah penuh sukacita.

Ibadah yang penuh sukacita itu bagaimana sih? Ini penting untuk kita renungkan.

Mari kita mempelajari apa yang dikatakan Alkitab.

Pembacaan Ayat Mazmur 100

(Slide 7) Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

(Slide 8) Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Secara garis besar kita bisa melihat bahwa Mazmur 100 memberikan kita suatu gambaran tentang “Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai”.

(Slide 9) Ibadah yang penuh sukacita, harus jelas ditujukan kepada siapa dan mengapa

Bersorak-sorak harus jelas apa penyebab dan tujuannya. Misal saya tiba-tiba tertawa dan bersorak-sorak tanpa kejelasan, itu aneh.

(Slide 10) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, harus dengan jelas tertuju kepada TUHAN

(Slide 11) Dari ayat 1-2 berulang “Bersorak-soraklah” bagi siapa? “Bagi TUHAN”. Berikutnya “Beribadahlah” kepada siapa? Kepada “TUHAN”. Dan “datanglah” ke mana? “ke hadapan-Nya”

Pengulangan tiga kali ini menunjukkan ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai haruslah hanya satu fokus tertuju kepada TUHAN dan untuk TUHAN saja.

Aplikasi: Saat bapa ibu datang ke ibadah ini apakah bapa ibu jelas tertuju kepada siapa kita menyembah?

(Slide 12) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, fokus utama tertuju kepada TUHAN, sebab Dialah yang menjadikan kita

Ayat 3 memperingatkan bahwa penyembah dalam ibadah harus tahu dan mengingat-ingat status TUHAN yang kita sembah bahwa “Tuhanlah Allah” dan “Dialah yang menjadikan kita dan Dialah Tuan pemilik kita”

Karena status TUHAN adalah Raja Tuan pemilik alam semesta, maka sorak sorai yang tertuju kepada-Nya harus keluar dari sikap rendah hati dari penyembah yang sadar bahwa dirinya adalah manusia ciptaan-Nya, sehingga ibadah merupakan penyembahan yang menaikkan kekaguman atas kebesaran Allah, keagungan-Nya, bersukacita “Oh betapa mulianya Engkau ya Tuhan.”

Sering kali dalam ibadah kita diajak “ mari kita berikan tepuk tangan untuk Tuhan”, namun perlu hati-hati, bukan tidak boleh tepuk tangan, tetapi kita perlu sesadar-sadarnya dalam status apa kita memberikan tepuk tangan kepada Tuhan?

Apakah kita bertepuk-tangan memberikan pujian kepada Allah, pada dasarnya kita memberikan penilaian “Allah, Kamu sudah melakukan dengan bagus.” Seperti juri bertepuk-tangan menilai peserta Indonesian Idol, “kamu sudah bernyanyi dengan bagus”.

Tetapi siapakah diri kita manusia ciptaan berani menilai Allah Sang Pencipta?

Saat Allah selesai menciptakan alam semesta dan manusia, Allah melihat segala yang diciptakan-Nya dan memberi penilaian “sungguh amat baik”, hanya Dia yang berhak memberikan penilaian.

Hati-hati saat kita salah menempatkan diri tidak sebagai ciptaan. Kita berikan tepuk tangan “Oh Aku bersukacita sebab Allah sungguh amat baik, sudah memberkati saya sesuai harapan aku”, seperti tepuk tangan yang ditujukan kepada team sepak bola yang memasukkan gol ke gawang sesuai keinginan kita.

Kita tidak bersorak-sorai sukacita, ibadah dengan lesu karena Allah tidak melakukan gol ke gawang yang kita mau.

Ibadah yang demikian tidak meninggikan Allah, menjadi penyembahan berhala.

Ibadah penuh sukacita jika kita datang menyembah dengan kerendahan hati, tahu diri, tahu kita adalah manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian barulah ada sukacita sejati yakni dalam sukacita Allah yang berkenan.

Akan ada kelegaan, beban yang berat dapat diserahkan kepada TUHAN yang menciptakan kita. Sering kali kita tidak sadar diri kita sebagai ciptaan, sehingga menumpuk semua beban berat di pundak kita sendiri dan kehilangan sukacita.

Mari bertanya pada diri kita masing-masing, apakah saya datang ibadah sudah menempatkan Allah sebagai Allah, Tuan pemilik saya, dan saya menempatkan diri sebagai manusia ciptaan?

(Slide 13) Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, tidak lupa bahwa kita adalah umat milik-Nya

Ayat 3 “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita” lalu disambung “umat-Nya”

Pemazmur lebih lanjut mengingatkan status diri kita yakni umat-Nya.

Kata-kata “punya Dialah … umat-Nya” menunjukkan suatu relasi perjanjian kovenan yang khusus dianugerahkan Allah kepada kita umat-Nya. Merupakan keterlibatan pribadi yang sangat intim dan erat dari Allah, dengan sumpah perjanjian mengikat diri-Nya kepada umat-Nya.

Seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, kovenan perjanjian Allah dengan umat-Nya seperti sebuah relasi pernikahan. Hubungan ini merupakan sebuah komitmen kasih memberikan diri dalam sebuah sumpah, seperti suami dan istri, sangat erat dan pribadi dalam cinta kasih yang besar.

Ibadah penuh sukacita adalah penyembahan penuh komitmen menjaga hubungan perjanjian yang sangat intim antara Allah dan kita sebagai umat-Nya.

(Slide 14) Jika kita memandang ibadah sebagai acara barter, jual rajin ibadah untuk membeli berkat Allah, jika memberi persembahan lebih banyak, untuk barter dengan berkat dari Allah yang lebih besar. Ibadah yang demikian telah mengabaikan kasih Allah, seperti halnya jika suami istri tidak berdasarkan kasih, tetapi jual beli, sukacita itu lenyap.

Mari renungkan ibadah saya hari ini dalam relasi yang bagaimana dengan Allah?

Apakah Ibadah kita di atas dasar kasih yang murni, tulus tanpa motivasi kepentingan?

Seperti realisasi janji pernikahan, sukacita dalam kasih yang tidak dipengaruhi situasi sakit atau sehat, kasih yang tidak dipengaruhi ekonomi miskin atau kaya. Ada sukacita yang tulus dari dalam jiwa kita, puji syukur yang meluap dalam penyembahan kepada TUHAN.

(Slide 15) Imamat 26:11 memberi tahu kita bahwa berkat terbesar adalah TUHAN akan mendirikan kemah-Nya di antara umat-Nya. Kehadiran Allah merupakan berkat sukacita terbesar bagi umat Allah.

Ayat 2b “datanglah ke hadapan-Nya”, hadirat Allah dalam ibadah merupakan pusat dan bagian terpenting.

Sukacita perkenan Allah dicurahkan dalam ibadah umat Allah yang memusatkan perhatiannya pada kehadiran Allah, rindu datang menyembah 「di hadapan TUHAN」. Jika Idola kita adalah Allah, maka yang kita cari adalah sukacita penyembahan yang fokus pada perkenan sukacita Allah, ibadah dari kita di bawah menyembah 「naik ke atas」, berkenan ke 「hadapan hadirat Tuhan」.

Namun jika pentas yang megah atau pendeta yang menjadi sumber sukacita, maka pentas atau pendeta yang menjadi idola kita, itu membuat Allah bukan lagi idola kita, maka ibadah menjadi penyembahan berhala.

(Slide 16) Ibadah yang penuh sukacita, yang tertuju kepada TUHAN, sebab kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya

Pemazmur mengingatkan status diri kita yang ketiga: adalah domba gembalaan-Nya.

Umat Allah adalah seperti domba, sifat domba itu dungu mudah tersesat. Oleh karena itu Tuhan sendiri turun tangan menggembalakan kita kawanan domba-Nya, Ia mengatakan “yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.”

Yesus adalah Sang Gembala yang dijanjikan Allah. Ketika Tuhan Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Kesediaan-Nya mengajarkan jalan-jalan kebenaran kepada umat-Nya, itu adalah sukacita domba-domba yang haus mengenal Yesus.

Tuhan kita Yesus Kristus yang baik datang memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya.

Ini adalah khabar sukacita yang terbesar, sayang banyak orang mulai ngantuk dan tertidur begitu khotbah ngomong soal Yesus Kristus.

Paulus mengatakan hendaknya kita memuji Allah Bapa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Sehingga di dalam Yesus Kristus dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa yang menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.

Kita domba-domba-Nya boleh tetap dijaga di dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Sehingga kita mendapatkan sukacita yang sempurna kekal.

(Slide 17) Mari kita renungkan, kata “punya Dialah kita … kawanan domba gembalaan-Nya” menekankan “punya Dialah”. Ini berbeda dengan “ia gembala punyaku”, “ia Allah ku”, hati-hati sering kali merupakan pemahaman yang salah, allah adalah milik aku, aku adalah pemilik, aku adalah tuan dari gembala, aku yang harus dipuaskan.

Puji syukur bahwa Ia adalah Tuan pemilik kita. Ibadah yang penuh sukacita dan sorak-sorai, yang tertuju kepada TUHAN, ibadah yang bersyukur bahwa kita adalah kawanan domba gembalaan-Nya.

Ibadah yang bersukacita karena bersama Allah untuk selama-lamanya

Ayat 5: kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. Apa yang Ia telah lakukan, dahulu, sekarang dan kelak, adalah tetap dalam kebaikan dan kasih yang tidak pernah akan berubah.

Ini adalah ibadah yang penuh pengharapan dan sumber kekuatan: Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi Ia menuntut kesetiaan kita fokus kepada Dia.

Penutup

(Slide 18) Sukacita rohaniah dalam Ibadah bukan berasal dari kepuasan pengunjung ibadah, bukan sukacita customer adalah raja yang menilai apakah ia dipuaskan dan merasa nyaman.

Tetapi Allah adalah empunya ibadah. Sukacita kita datang dari sukacita Allah yang berkenan atas penyembahan kita.

Allah yang menilai penyembahan kita.

Sukacita perkenan Allah dalam ibadah berasal dari penyembahan yang setia pada kodrat diri kita sebagai manusia ciptaan milik Allah, datang ke hadirat Allah di dalam kesetiaan sebagai umat milik-Nya, yang mengakui diri adalah domba milik-Nya, mengakui diri yang dungu dan lemah yang rindu bersandar pada pada Sang Gembala, haus mendengarkan suara pengajaran Yesus Kristus Sang Gembala.

Dengan demikian kita terbebaskan dari ibadah penyembahan berhala.

Maka kita akan merasakan penyembahan yang berkenan kepada Allah yang di surga dan merasakan berkat sukacita yang dicurahkan dari surga.

Kata kuncinya: sukacita karena penuh rasa syukur.

Merenungkan: Apa yang kita lihat dari masa 2 tahun ini?

Oleh Lukas Leonardo, M.Div.

(Amos 7:1-3 [ITB])
Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: tampak Ia membentuk kawanan belalang, pada waktu rumput akhir mulai tumbuh, yaitu rumput akhir sesudah yang dipotong bagi raja. Ketika belalang mulai menghabisi tumbuh-tumbuhan di tanah, berkatalah aku: “Tuhan ALLAH, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?” Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. “Itu tidak akan terjadi,” firman TUHAN.

Tidak cukup satu kali kemudian di ayat 7 dikatakan bahwa Allah Yahweh memperlihatkan lagi kepada Amos. Bahkan TUHAN meminta perhatian Amos dengan bertanya: “Apakah yang kaulihat, Amos?”
Mengapa 2 kali Allah menghendaki Amos melihat sesuatu dan bahkan bertanya apa yang sudah ia lihat? Karena ”melihat” adalah tindakan yang sangat penting. Di dalam Alkitab paling sedikit terdapat 1298 kata melihat.

Bayangkan jika kita menyeberang jalan “tanpa melihat”, apa yang terjadi jika kita menyetir mobil “tanpa melihat”? Allah menghendaki manusia tidak hidup dengan tutup mata.

Kita bukan nabi Amos, tidak diberikan penglihatan khusus. Tetapi Allah meminta kita membuka mata melihat semua yang terjadi yang kita alami, Allah bertanya: “Apakah yang kaulihat?”

Amos melihat bahwa pada musim semi ada dua kesempatan panen, setelah panen pertama sudah dikumpulkan untuk diserahkan kepada raja sebagai pajak, kini saat menunggu panen yang kedua kali untuk menjadi milik petani. Tetapi ketika tanaman kedua baru saja tumbuh, dimakan habis oleh kawanan belalang yang dibentuk Allah untuk melaksanakan tujuan-Nya, dan umat itu menjadi tidak memiliki apa-apa. Panen pertama merupakan milik raja, dan panen kedua dimakan habis oleh belalang, dan umat itu sedikitpun tidak memiliki makanan. Ini adalah krisis besar.

Amos melihat krisis besar, sebagaimana krisis besar yang kita alami selama masa Covid. Di persekutuan ini kita tidak berspekulasi apakah Covid adalah hukuman dari Allah, kita tidak campur aduk tujuan Allah dalam perikop Amos ini dengan Covid, karena tujuan spesifik Allah dalam krisis yang Amos lihat itu spesifik khusus untuk zaman Amos.

Dalam krisis covid, mungkin ada unsur hukuman Allah terhadap orang tertentu, kita tidak berspekulasi menduga-duga. Dalam krisis covid yang sama, mungkin ada ujian yang Allah berikan kepada orang tertentu. Ada tujuan spesifik pembentukan dari Allah kepada pribadi tertentu. Dalam peristiwa yang sama Allah memiliki tujuan yang spesifik dan khusus untuk masing-masing pribadi.

Namun ada prinsip iman yang generik yang dapat ditarik dari apa yang dilihat Amos, yakni “di dalam peristiwa yang terjadi ada tangan Allah yang bekerja.” Demikian juga kita perlu seperti nabi Amos memiliki kepekaan spiritual, untuk melihat bahwa di dalam masa 2 tahun Covid yang kita lewati ini, ada tangan Allah yang bekerja dalam semua peristiwa, ini adalah prinsip iman yang pasti serta tidak spekulatif. Kesamaan yang pasti harus kita lihat, bahwa apapun yang terjadi, semua peristiwa ada di dalam kendali dan kontrol tangan Allah, dan Allah bekerja di dalam setiap hal.

Allah menghendaki kita melihat penyertaan Allah dan melihat bahwa tangan Allah yang kuat tidak pernah meninggalkan kita melewati 2 tahun masa Covid. Melihat pemeliharaan Tuhan kepada kita, kita patut mengucapkan syukur atas semua makanan yang Ia berikan kepada keluarga kita melalui pekerjaan kita melewati masa-masa sulit selama 2 tahun Covid.

Ataupun jika ada keluarga kita yang meninggal saat masa Covid, marilah kita melihat penghiburan yang Allah berikan kepada kita melewati masa-masa kesedihan. Mungkin kita perlu memiliki kepekaan spiritual untuk memohon kepada Tuhan, “berikanlah kiranya pengampunan selama masa covid kami merasa kecewa kepada Tuhan”. Memohon pengampunan kepada Tuhan jika kita pernah marah kepada Tuhan karena mata kita tidak melek melihat tangan Allah tetap bekerja saat kehilangan anggota keluarga di masa-masa Covid ini.

Ada prinsip iman yang pasti dan tidak spekulatif bahwa di dalam setiap hal yang terjadi, Allah menghendaki kita umat Allah memiliki hati yang setia dan teguh memandang kepada Allah Yahweh Sang Pencipta kita. Jika hati kita telah menyimpang menjauh dari Dia, Ia menghendaki agar hati kita berbalik melihat kembali kepada Tuhan Yesus Sang Juruselamat kita.

Allah menghendaki perjalanan hidup kita dilalui dengan melihat dan mengingat karya perbuatan Allah, di masa kesedihan kita melihat ada penyertaan, penghiburan. Dan tetap ada kekuatan iman yang datang dari Tuhan di saat melalui masa sulit, bahkan saat kita kehilangan pekerjaan.

Kita melihat masa 2 tahun Covid, kekelaman itu tidak hilang dalam 1 hari, tidak selesai dalam 1 tahun, tetapi waktu yang lebih dari 2 tahun, Allah memberikan kita waktu yang lebih panjang untuk kita amati, lebih banyak peristiwa yang terpampang di hadapan kita. Dan Ia bertanya kepada kita: “Apakah yang kaulihat, Amos?”

Dan seperti Amos sadar bahwa “Bagaimanakah kami Yakub ini dapat bertahan? Bukankah kami ini kecil?” Tetapi Covid tidak lebih berkuasa daripada tangan Allah, ancaman ini berhenti sesuai waktu yang Allah kehendaki, apakah kita percaya Allah yang memegang kuasa mengendalikan kapan Covid ini selesai. Sehingga kita merenungkan kembali bahwa kita yang kecil dan tidak mampu ini harus bersandar kepada Allah yang tangan kuasa-Nya bekerja di setiap peristiwa.

Tahun depan kita mungkin akan mengalami masa-masa badai kesulitan ekonomi, yang diramalkan para ahli ekonomi sebagai yang paling parah. Marilah kita seperti nabi Amos juga memiliki kepekaan spiritual, mempersiapkan kesadaran iman kita, berkata kepada Tuhan “Bagaimanakah kita Yakub dapat bertahan? Bukankah kami ini kecil?”

Jika tahun depan badai ekonomi benar-benar terjadi, satu prinsip yang pasti bahwa kita tidak mau melewati masa-masa badai ekonomi itu tanpa berjalan bersama Tuhan Yesus. Mungkin masa-masa tahun-tahun ke depan akan sulit, penuh awan gelap, ada kesedihan, tetapi kita berkata kepada Tuhan “ya, Tuhan, kami ini kecil, kami tidak dapat bertahan, tetapi sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”

Mungkin ada lembah kematian yang tetap harus kita lalui dengan kesedihan, tetapi kita sadar bahwa ada gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Sebab aku tahu bahwa aku ini Yakub yang kecil, dan Engkau Tuhan Yesus yang telah menang atas maut, Engkau yang akan menuntun tanganku.

Marilah di dalam kilas balik masa covid 2 tahun, bukankah kita sudah melewatinya bersama Tuhan Yesus. Kini kita dapat dengan iman menjalani sisa tahun 2022, dan dengan tekad bersandar kepada Tuhan Yesus menyongsong tahun 2023.

Tidak perlu menduga-duga, tidak perlu berspekulatif, tetapi di dalam iman yang teguh bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat sudah menang atas maut, sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita, apa lagi yang perlu kita kecewa? Apa lagi kekuatiran kita? Apalagi yang bisa menakuti kita?

Dalam sebuah riset yang dijabarkan dalam The Guardian, ditemukan 60% pemuda umur 16-25 tahun yang mengalami masa Covid 2 tahun ini, mereka merasa ketakutan akan masa depan mereka. Mereka dicekam kekuatiran bahwa hidup ini di luar kendali.

Mereka butuh kekuatan iman. Marilah kita kuatkan iman kita dan beritakan kepada orang-orang di sekitar, kuatkan iman anak-anak kita, katakan: Walau tampaknya jalan di depan akan ada badai, tetapi dengan doa dan iman kita ada kepastian akan mampu melewatinya bersama dengan Tuhan kita Yesus.

Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”
Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. (Yesaya 35)

Renungkan:
Apa yang akan Anda lakukan untuk menjalani sisa akhir tahun tahun 2022, dan untuk menyongsong tahun 2023?

Seperti Amos, kita perlu lebih banyak berdoa bagi keluarga di mana kita berada, berdoa bagi lingkungan tetangga, juga bagi rekan kerja dan saudara seiman.




Peran Hikmat dalam Hidup Keselamatan

「Peran Hikmat dalam Hidup Keselamatan」
Oleh Lukas M.Div

Untuk kalangan Kristen

(1 Korintus 1:30-31 [ITB])
30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Pendahuluan
Apa sih hikmat itu? Menurut Anda apakah hikmat adalah sejenis keterampilan sosial, sikap dalam berinteraksi, berkomunikasi, membangun persahabatan, dan menangani keuangan. Prinsip yang seharusnya dimiliki dalam membuat keputusan.

Menurut saudara dan saudari, apakah orang non Kristen punya hikmat? Misal, seorang President yang baik dan bijak. Menurut Anda apakah dia punya hikmat? Tentu.
Dalam dunia ini, pasti ada orang yang bijaksana agama apapun. Misal di China zaman kuno, terdapat Confusius, seorang filsafat yang sangat bijak dan berhikmat, pengaruhnya sampai ke Korea, dan Jepang sampai di zaman kini, bahkan di Indonesia.

Ayub 12:12 “Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya“, kita bisa setuju ya? Biasanya orang yang sudah tua umurnya biasanya dianggap memiliki hikmat.

Namun apa sih bedanya hikmat orang Kristen dan hikmat yang dimiliki orang-orang dunia atau non Kristen?

Mari kita membaca apa yang dikatakan Alkitab tentang hikmat orang yang percaya pada Kristus.

Paulus mengatakan bahwa 1 Kor 1:30 “Tetapi oleh Dia, kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Orang percaya memiliki Hikmat Kristus
Paulus mengatakan bahwa “kamu berada dalam Kristus Yesus”, maksud Paulus adalah bahwa Allah telah membuat kita bersatu dengan Kristus Yesus, Sang Hikmat Allah (Sang Firman kalimatullah Allah), artinya didalam persatuan kita dengan Sang Hikmat Allah, maka kita dijadikan memiliki hikmat.

Seperti yang dikatakan Ayub 12:13 “Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” Allah adalah pemilik hikmat, Sang Firman Hikmat Allah adalah bagian dari diri Allah.

Orang percaya memiliki Hikmat, karena sudah ditebus Kristus
Kita boleh bertanya dengan cara apa Allah membuat kita bersatu dengan Kristus sehingga kita memiliki hikmat Allah?

Yakni dengan cara Yesus Sang Hikmat Allah menebus kita, melalui karya penebusan Kristus di Salib, maka kita dibenarkan, dosa-dosa kita tidak diperhitungkan lagi, dan kita dikuduskan.

Tuhan melalui Salib, menguduskan hati kita yang kotor, membentuk kita memiliki hati baru yang bersih, jiwa yang jujur lurus. Maka diri kita yang sudah dikuduskan ini siap menerima hikmat Allah (atau Sang Hikmat yakni Sang Firman Allah). Hikmat yang datang dari Allah memiliki sifat suci, hikmat yang kudus, hanya bisa ditampung hati yang sudah dikuduskan.

Inilah perbedaan yang paling mendasar antara hikmat manusia dunia dengan hikmat yang dimiliki orang yang percaya kepada Kristus.

Di dalam diri orang yang sudah ditebus dan dikuduskan Kristus, ada hati dan pikiran yang bersih dan kudus, sehingga hikmat Allah yang kudus, suci dan mulia itu datang ke dalam diri kita.

Di dalam kekudusan barulah ada hikmat yang sejati.

Hikmat dalam diri orang yang belum dicuci darah Yesus, masih merupakan hikmat yang diwarisi, yang sudah ternoda dosa karena kejatuhan Adam.

Hikmat yang masih ternoda dosa bukanlah hikmat yang murni sejati. Dosa membuat manusia memakai kecerdasannya untuk menggelapkan uang pemerintah atau uang perusahaan. Banyak orang dunia memakai kecerdasannya untuk memanipulasi milik orang lain. Ada orang yang memakai kecerdasannya untuk berselingkuh agar tidak ketahuan istri atau suaminya.

Manusia yang belum dicuci dan dikuduskan darah Yesus, mudah terjatuh memakai kepandaiannya untuk memuaskan nafsu, mungkin secara IQ hebat, namun hikmat kepandaian yang tidak didasarkan pada kekudusan Allah.

Ataupun filsafat Konfusius, ya ajaran hikmat yang penuh kebajikan, mungkin demi ketentraman keteraturan masyarakat, namun Konfusius yang belum dikuduskan oleh darah Kristus tidak akan menggunakan hikmat untuk kemuliaan kudus Kristus.

Perbedaannya: hikmat dari manusia untuk manfaat, keuntungan manusia, keteraturan sosial, itu bagus.
Hikmat manusia dunia walau itu bijak namun tidak akan membawakan orang kepada jalan keselamatan Kristus.

Tetapi hikmat dari Kristus bagi orang percaya adalah untuk kemuliaan Allah dan membawakan orang kepada jalan keselamatan Kristus.

Orang percaya memiliki Hikmat Kristus untuk memuliakan Allah
Amsal 2:6 juga mengatakan 「Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.

Jelas dikatakan bahwa sumber dan pemberi hikmat adalah Allah. Ini mengingatkan kita bahwa tanpa Allah, tidak akan ada hikmat! Dan pra-syarat dari semua hikmat adalah takut akan Tuhan!

Jika kita memakai hati kita yang sudah dikuduskan darah Yesus, untuk mendasarkan kecerdasan kita, pikiran kita pada hikmat dari Allah, hikmat yang diajarkan dalam Alkitab, dari sinilah timbul tindakan dan cara hidup yang menyatakan kekudusan, menyatakan rasa hormat dan takut kita kepada Allah.

Perbedaannya: hikmat kudus kita adalah dari Allah untuk kemuliaan Allah, efectnya: kekudusan dan kemulaiaan Allah dapat dirasakan oleh tetangga kita, rekan kerja kita, anak kita, istri atau suami kita.

Orang dapat merasakan adanya keadilan dan kebenaran, kekudusan, damai sejahtera, kasih dan sukacita yang datang dari Allah, melalui perilaku kita, keputusan yang kita ambil ataupun ketika kita menyelesaikan suatu masalah, pada saat yang sama mencerminkan kemuliaan Allah, itu akan membawakan orang kepada jalan keselamatan Kristus.

Misal bagaimana sikap terhadap rekan kerja, jika ada perbedaan pendapat, apakah kita memakai hikmat yang memiliki unsur kasih, hikmat yang adil.

Bagaimana sikap kita terhadap sesama rekan kerja yang berbeda jenis, apakah kita memakai hikmat yang kudus sehingga menghindarkan perselingkuhan?

Seperti halnya Salomo, 1 Raj. 3:28 “Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.”

1 Kor 1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan,” artinya apa yang hendak kita muliakan bukan diri sendiri, tujuan utama bukan memuliakan manusia, tetapi memegahkan Allah yakni memuliakan Allah.

Ya, memang Yesus Kristus memberikan kita hikmat yang dari Allah untuk kemuliaan Allah. Itu akan membantu saat kita membawa orang kepada jalan keselamatan Kristus.

Alangkah ajaib : hidup keselamatan ini dijalani dengan hikmat kudus, bersama Sang Hikmat Firman Allah

Apa yang karus kita lakukan?
Amsal memberitahu kita bahwa 「Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat」 (1:7),

Berdoa mohon Tuhan memberi kita hati yang hormat takut akan Tuhan, dan Roh Kudus menerangi, membantu kita dapat menghayati ajaran Alkitab sehingga mampu mengamalkannya sebagai hikmat Allah yang kudus dalam hidup sehari-hari.

Roh Kudus membimbing, menegur, sehingga hikmat yang kudus dapat kita terapkan di rumah tangga, hikmat kasih dalam berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, membangun persahabatan.
Hikmat bijaksana yang kudus dalam menangani keuangan, dengan hikmat Yesus Kristus yang kudus membuat keputusan yang adil, di kantor, di rumah.

Sehingga dapat memuliakan Allah dan memberi manfaat bagi orang lain.

Mungkin hal ini tidak mudah, mohon Tuhan membantu kita.

Janji Allah bagi orang-orang jujur yang lurus mempraktikkan hikmat dalam hidup mereka, Allah adalah perisai mereka, menjaga dan melindungi jalan mereka.


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Berani Hidup Kudus Bersih?

Untuk kalangan Kristen.

A) Pendahuluan

(Slide 2 dan 3) Menurut anda, dari tiga kelompok orang ini, kira-kira siapa lebih mungkin hidupnya saleh? Darimana anda tahu? Apakah anda kenal dia?

Masyarakat kita memandang cara berpakaian berkaitan kesalehan. Buktinya, sesorang diserang karena cara berpakaian, dipandang kurang saleh.

Orang Kristen tiap minggu rajin ikut ibadah, ikut koor paduan suara, ikut persekutuan doa, ikut komsel, ikut bezoek. Apakah itu sudah cukup saleh?

(Slide 4) Menurut anda apa sih berani hidup suci bersih? Bentuk nyatanya bagaimana?

Mari kita lihat apa yang dikatakan Alkitab.

B) Apa kata Alkitab?

(Slide 5, 6) bacalah 1 Petrus 1:13-16 (klik untuk baca)

Di ayat 15 dan 16, 「15 hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.」

Ayat ini dimulai dengan kata 「hendaklah」 artinya menjadi kudus di dalam hidup adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Allah yang kudus telah memisahkan kita dari bangsa-bangsa, memisahkan kita dari dunia, dan khusus menjadi milik Allah. Maka cara pikir, cara hidup sudah tidak cocok jika masih seperti dunia. Maka Allah memberikan pedoman cara hidup kudus bersih yang sesuai untuk umat Allah.

(Slide 7) Kudus yang seperti apa?

C) Diminta Hidup Kudus Bersih Seperti Allah

(Slide 8) Ayat 15 mengatakan 「hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus…」, juga diulang di ayat 16 「Kuduslah kamu, sebab Aku kudus」

Diminta hidup kudus seperti kekudusan Allah.

Kita perlu tahu bagaimana sifat-sifat kekudusan Allah agar bisa diterapkan di dalam seluruh hidup kita.

1) Yakni Kudus bersih di dalam dan seperti Kebenaran Keadilan Kristus

Mengapa harus bersih di dalam dan seperti Kebenaran Keadilan Kristus? Karena Yesaya mengatakan 「 … 5 sejak dahulu kala kami memberontak terhadap Engkau. 6 Demikianlah kami semua seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; …」 (Yes. 64:5-6)

(Slide 9) Ilustrasi: kain lap kotor, makin berbuat baik membersihkan kotoran tapi makin bikin kotor, “maaf wajah kamu kotor, ini kain lap bisa bersihkan wajah kamu”.

Kain lap kotor apakah bisa berbuat baik? Tidak.

Seperti kata Yesaya, kita semua adalah kain lap kotor. (Rom 3:23-24) 「23 semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24 dan hanya oleh kasih karunia kita telah dibenarkan (yakni dicuci bersih) dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.」

Yesus Sang Allah, Ia yang kudus penuh kebenaran dan keadilan yang kudus sempurna tanpa cacat. Dia dalam ketaatan kepada Bapa, Dia menegakkan keadilan menerima hukuman menggantikan orang percaya yang mau bersandar kepada Dia, dengan cara yang adil dan benar Ia menguduskan kita dari dosa.

(Slide 10) Kita kain lap kotor, butuh datang kepada Yesus mendapatkan kasih karunia disucikan oleh darah penebusan Yesus. Melalui iman percaya kepada Yesus, kita dicuci bersih dari dosa menjadi kain yang bersih.

Inilah iman kesalehan yang paling pokok. Di atas dasar pembersihan yang diberikan Yesus Kristus ini, barulah kita membangun hidup saleh yang lebih maju lagi, hidup saleh kudus dan bersih yang bertumbuh.

Orang yang mau hidup saleh namun tidak mau bertobat datang kepada Yesus Sang Allah. Ia adalah kain kotor yang membandel, “aku tidak mau dicuci bersih”, dan perbuatan yang ia anggap baik tetap membawa kenajisan.

Kesombongan bahwa aku bisa kudus bersih ngak butuh Tuhan Yesus. Kesombongan itu adalah pemberontakan terhadap Allah, itu adalah kejahatan, bagaimana ia bisa berkata aku berbuat saleh, kudus bersih?

Paulus juga seorang saleh, Kis. 22:3-4 「… Aku berhasrat memuliakan Allah dalam seluruh hidup ku, … saleh giat bekerja bagi Allah, yakni tanpa ampun aku menganiaya orang Kristen sampai mereka mati. Baik laki-laki maupun perempuan aku tangkap dan penjarakan.」

Saulus, kain lap kotor yang belum dicuci oleh darah Yesus Kristus, belum bersih dari dosa, melakukan kesalehan hasilnya kotoran, apalagi dengan hati yang memusuhi Yesus Sang Kebenaran Allah, yang ia hasilkan adalah kenajisan.

2) Kudus Benar hanya ada di dalam penyempurnaan oleh Yesus

(Slide 11) Tuntutan di ayat 15, 「… jadilah kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus …」

(Slide 12) 「… seluruh hidupmu …」 adalah tututan Kudus di dalam seluruh 100% hidupmu, tidak ada 0.1 detik pun yang tidak kudus.

Makna Kudus bersih artinya 100% bersih, jika ada sedikitpun kotoran, walau 0.01% kotoran, itu namanya tidak kudus bersih. Allah tidak mungkin menuntut kita kudus yg tidak murni 100%, karena itu kudus yg palsu.

Ini adalah tuntutan kesempurnaan.

「… seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus …」 Kudus bersih dituntut harus sempurna, (Matt 5:48) 「Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.」

Ingat kudus suci artinya tidak ada sedikitpun noda dosa. Apakah ada manusia yang mampu melakukan dengan sempurna seluruh hidup 100%? Siapa pemimpin agama yang mampu membawa engkau kepada kesucian kudus 100% tanpa noda?

Lalu untuk apa ayat itu ditulis? Manusia tidak mampu.

(Slide 13) Ibr. 10:10 「… kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.」

Ya, oleh darah Yesus maka segala ketidaksempurnaan upaya hidup saleh seumur hidup kita, tidak diingat-ingat oleh Allah, dan oleh darah Yesus maka upaya hidup kudus kita yang tidak sempurna diperhitungkan sebagai sempurna.

3) Untuk apa dituntut sempurna?

Tuntutan kesempurnaan ini diberikan, agar kita tahu diri adalah ciptaan, tidak mampu sempurna, mendorong agar kita mau berserah bersandar kepada darah penebusan Yesus yang akan menyempurnakan kekurangan kita dalam hidup kudus.

Hanya Yesus Sang Allah yang sudah melakukannya, tidak ada allah lain atau pemimpin apapun yang sudah dan buktikan mampu demikian. Sebab sama-sama manusia apa mampu menanggung ketidaksempurnaan kesalehanmu?

Kekristenan tidak butuh reinkarnasi 1 juta kali untuk mencapai kesalehan yang bersih sempurna. Cukup 1 kali dalam hidup yang sekarang ini dengan iman dan bersandar kepada Yesus, usaha keras kita untuk hidup kudus bersih yang walaupun tidak sempurna akan diperhitungkan dan disempurnakan darah Yesus sebagai kudus bersih sempurna.

Ayat 15 menunjukkan tuntutan kesempurnaan adalah tututan agar kita setia berusaha masimal menunjukkan penyempurnaan yang sudah dilakukan oleh Yesus bagi kita, mempertahankan kekudusan dengan kesetiaan,

Caranya? Yakni, menaati kebenaran yang Yesus Kristus ajarkan kepada kita. Mazmur Daud mengatakan 「9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. … 11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau」 (Maz. 119:9-12)

Walau bisa saja terdapat kekurangan, tidak sempurna dalam kekudusan, namun tidak dipandang sia-sia oleh Allah, akan disempurnakan melalui darah penebusan Yesus Kristus.

Itu menjadi dorongan kita untuk berani berusaha sekuat tenaga menjauhi nafsu, menjauhi kejahatan, tidak mau menerima sogok, tidak korupsi uang, korupsi jam kantor, tidak mau hidup berzinah.

Sama seperti Yesus, Dia yang kudus menuangkan kebenaran dan keadilan dalam tindakan nyata. Kita hidup kudus menuangkan kebenaran dan keadilan dalam sikap terhadap Allah, juga tertuang dalam tindakan kita terhadap sesama.

Bagaimana kita memperlakukan office boy di gereja atau di tempat kerja kita dengan adil dan benar? Saudari seiman di gereja atau di tetangga kita?

(Slide 14) Apa tanda kesalehan? Apa mobil ditempel stiker “B 1 BLE” atau mobil plat nomor ” …. GBU”

D) Kudus bersih disempurnakan oleh Kasih Yesus

(Slide 15) Kudus yang menjaga kebenaran dan keadilan, harus kudus yang memiliki kasih. Menegakkan keadilan dan kebenaran jika tanpa kasih, yang dihasilkan adalah kekejaman, ujung²nya tidak adil dan tidak benar.

Yesus menegakkan kekudusan kebenaran dan keadilan di dalam kasih mengorbankan diri.

Kisah seorang anak yang dituruti, dibela dengan penuh kasih namun tidak pernah dibenarkan, sampai suatu saat membawa sebuah pistol, menembak ibunya, lalu menembak dirinya sendiri.

Kasih tanpa kebenaran dan keadilan adalah pemanjaan kejahatan yang membinasakan, kasih yang demikian bukan kekudusan.

Pengampunan tidak adil jika Allah hanya bermodal mulut untuk berkata “Aku ampuni dosamu”, lalu siapa yg terima konsekuensi dan hukuman atas dosa itu? Kasih pengampunan dari Allah tetap harus di dalam keadilan dan kebenaran, hukuman tetap harus dilaksanakan.

Siapa yg tanggung hukuman itu? Yesus, Sang Allah yang tanggung, di dalam kasih pengorbanan-Nya. Ingat kembali Ibr. 10:10 「… kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus 17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.」 Itulah kasih yang menyempurnakan adalah kasih yang adil dan benar sempurna, serta adil dan benar yang penuh kasih yang sempurna.

Kasih yang tulus dan setia adil benar, bersifat membangun dan membawa orang kepada pertobatan, membawa orang kepada kebenaran dan keadilan.

Belajar sama seperti Dia yang Kudus, kita berusaha hidup Kudus yang penuh kebenaran haruslah memiliki Kasih yang tulus dan setia adil benar.

Kasih yang tulus dan setia adil benar akan menghasilkan kerelaan berusaha sekuat tenaga mempersembahkan seluruh hidup untuk Allah, bukan sebagian.

Bukan lagi bicara “urusan bisnis itu urusan dunia ngak perlu pakai kudus kasih setia. Rugi, ngak bisa bersaing.”

Toko sebelah memakai sambal kimia murah, kalau saya pakai cabe kudus (cabe asli) yang penuh kasih setia, sekilo berapa? Untung saya tipis.

Tetapi Kudus yang adil benar dan di dalam kasih adalah tulus setia sama seperti Yesus, tidak egois hanya mau untung, tetapi mengusahakan kebaikan bagi orang lain, itulah kasih Yesus yang menyempurnakan kekudusan.

Di dalam Kasih yang tulus dan setia adil benar, ada kerendahan hati tahu dirinya adalah manusia, tahu diri bahwa hidup kudus bersih bukan mengandalkan kegagahan hebat diri sendiri. Tahu diri butuh kasih penyempurnaan dari Yesus Kristus agar dapat diperhitungkan sebagai kudus bersih 100%

Ada kerendahan hati untuk meminta Roh Kudus membantu dia dalam usaha masksimal hidup kudus bersih.

E) Butuh Berani Waspada dan Memakai Akal Budi

(Slide 15) Di dalam kerendahan hati, sadar bahwa diri kita tidak mampu 100% bersih kudus, kita perlu mempersiapkan akal budi dan kewaspadaan. (1Pet 1:13-14) 「Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah …」

Butuh akal budi dan waspada untuk 「14 Hidup sebagai anak-anak yang taat」 , sebab hawa nafsu tubuh daging ini masih bisa mengancam kita, menyeret kita tidak hidup sebagai anak-anak yang taat, maka Petrus berkata waspadalah 「jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu」 karena itu adalah kebodohan yang sudah sepatutnya ditinggalkan.

Saya mengenal seorang yang bekerja di pabrik, layar komputernya tertulis “El Shadai”, namun melakukan korupsi berkolusi kerja sama dengan supplier demi mencari keuntungan diri, namun merugikan perusahaan. Ia butuh akal budi dan waspada!

Tidak hanya butuh akal budi dan waspada, tetapi ayat 13b 「… letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.」

Jika kita menetapkan cita-cita harapan seluruhnya kepada kasih karunia kebahagiaan yang akan dianugerahkan diberikan kepada kita pada waktu Yesus Kristus datang lagi. Maka hati kita tidak akan gampang tergoda pada nafsu keinginanan dunia, tidak terjebak nafsu pada paras cantik wanita atau paras tampan pria yang bertujuan membuat engkau mengkhianati iman mu kepada Tuhan Yesus. Maka engkau juga tidak tergiur menuruti godaan nafsu kekayaan harta sehingga kembali menjadi kain lap kotor.

2 Pet. 1:9 「saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung」, berusahalah sungguh-sungguh agar 「35 janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. … 39 kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa…」 (Ibr. 10:35-39)

F) Penutup

Hidup kesalehan adalah 「orang yang suci dari dalam hatinya. Berbahagialah karena mereka akan melihat Allah.」 (Mat. 5:8)

Kesalehan hidup kudus bersih, bukan sekedar tiap minggu rajin ikut ibadah, ikut aktifitas gereja. Ya, itu baik, namun harus didasarkan pada hidup yang berani berusaha maksimal sekuat tenaga untuk hidup benar dan adil sesuai ajaran Alkitab, yang kita realisasikan dengan kasih yang tulus kepada Kristus.

Tahu diri sebagai ciptaan tidak bisa sempurna, berani mau bersandar pada pertolongan Allah, mengandalkan penyempurnaan dari Yesus Kristus, setia untuk hidup kudus bersih.

Dengan berani, teguh memegang sumpah kesetiaan kepada Yesus Kristus yang sudah kita ucapkan di upacara Baptis, dengan bersandarkan pertolongan Roh Kudus setiap hari merealisasikan sumpah kesetiaan kepada Kristus melalui hidup yang kudus di dalam pengorbanan darah Kristus sehingga diperhitungkan sebagai bersih sempurna, sampai saat kita pulang kembali bertemu Tuhan Yesus.

Berani Hidup Kudus Bersih? Berani, namun bukan mengandalkan kesempurnaan diri sendiri (ujung²nya sombong, kejam, merendahkan orang lain, tidak butuh Tuhan -> lebih hebat dari Tuhan).

(Jakarta, 19-01-2020)

Renungan Natal: Tanda Vital

Tanda: penting, menunjukkan orang / sesuatu yang ditandai, ini yang benar dan vital.

Ilustrasi:

Tanda yg menunjuk kepada seseorang, penting. “Halo saya pesan Grab, ini tanda ciri saya yang dijemput, rambutnya pirang, hidungnya bulat kecil, pakai baju warna orange.” Perlu, agar tidak salah orang.

Jam atau tanggal juga merupakan tanda. Cindy tanya, hari ini tanggal 14, jam berapa mau kumpul di TDF. Kalau Cindy datang semaunya jam 09, temannya masih tidur. Wah, ini agak penting, perlu diprioritaskan.

Ada tanda² kesehatan, angka penjualan, uang di Bank, menunjuk kepada suatu situasi vital yang perlu diawasi.

Lok Yen melihat tanda² anak buahnya, kok jumlah penjualan turun, ada apa ya?


Dalam kenyataan tidak ada yang bisa hidup tanpa tanda


Tujuan:

Kita selalu menggolongkan sekian banyak tanda² yang ada dalam hidup, menjadi level kepentingan yg berbeda.

Ada tanda yang relatif kurang penting, tanda mendung agak ngak penting bagi Inuk, dia biasanya laundry, tidak jemur baju.

Tanda jam kantor, penting bagi Jos, tapi ngak penting bagi sopir Grab yang tidak terikat tanda jam kantor nya Jos.

Tapi ada tanda² yang vital, terkait mati atau hidup, misal tanda detak jantung, itu vital buat siapapun.


Adakah Tanda Lebih penting lagi di atas semua tanda² yg ada?

Tanda sedemikian vital sehinga berlaku untuk semua manusia, termasuk Anda dan saya?

“Cindy ngak usah ikut² ya”, ini untuk manusia. Lho, Cindy bukan manusia?

Apa tanda² super vital itu?


Lukas 2:10-13 (TB)
10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah …


Tanda 1:

Kata malaikat: “… aku memberitakan kepadamu …” Wah, kalau Malaikat mewakili Allah menyampaikan suatu berita, ini tanda urusan penting.

Tanda ini berita sungguhan, kan ngak mungkin Allah menggosip. Ini urusan penting.

Bayangin, bukan cuma 1 Malaikat saja, tapi sejumlah besar bala tentara sorga.

Ini tanda bahwa berita yang disampaikan super vital.


Tanda 2:

Malaikat berkata “Hari ini“, sebuah tanda waktu.

Hari ini” artinya urgensitas sekarang, bukan ramalan cuaca besok yg belum terjadi, bukan berita kemarin lupa beritahu.

Misal: Metro TV bilang “hari ini gerombolan usia Setengah Tua berkumpul di TDF” artinya sebuah kepastian, peristiwa yg benar terjadi, bukan moga².

Malaikat berkata “Hari ini“, itu tanda bahwa khabar yg ia beritahu adalah kejadian yang sungguhan real.

Tanda super vital, sungguhan terjadi, dan urgent tidak bisa tunda².


Tanda 3:

Apa sih peristiwa nya?

“telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kritus, Tuhan

Kata Juruselamat, ini artinya urusan selamat, terkait mati dan hidup, selamat atau tidak.

“Dug … Dug …. Cindy kok tiba² tidak bernafas, tolong dong, tidak ada tanda detak jantung. Harus cepat ditanggapi. Panggil dokter!” Tanda vital detak jantung diberitahu dokter.

Tapi tanda vital ilahi ini disampaikan oleh Malaikat Allah, artinya lebih vital dari dokter, super vital.

Disertai tanda waktu yang urgent dan nyata sudah terjadi, peristiwa ini benar adanya bahwa Allah sudah mengutus untuk kamu, Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan.

Tanda vital jika diabaikan bisa fatal membawakan kematian. Misal: kadar oksigen dalam darah. Orang tersebut, tidak terasa, dia tidur dengan nyenyak. (Kisah pak Daniel)

Tanda super vital ini urusan selamat atau ngak selamat kekal, maka tidak heran jika Malaikat yang memberitahu. Artinya jangan diabaikan, fatal akibatnya.

Jangan bilang “ah, itu bohong”. Wah, bilang Allah nya bohong?


Tanda 4:

Lebih perinci dan spesifik lagi.

“Itu lho, yang pakai kacamata, lulusan ITS, itu lho …..”

Perlu tanda lebih detil, agar jangan salah ketemu orang.

Akurat dan spesifik bahwa Juruselamat dari Allah sudah diperjelas “seorang bayi yang lahir di kota Daud.” Akurat di mana lahirnya, di Bethlehem, bukan di jalan Gajamada.

Passport juga ditulis tempat lahir, bagian dari identitas.

Lalu, ada tanda yang lebih spesifik, “Ia dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Nabi mana yg “lahir di kota Daud, dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” ? Musa? Eliyah? Pendeta gereja, ada?

Lalu, seluruh hidup Yesus, merupakan tanda Ia adalah Juruselamat yang datang dari Allah. Ia bukan nabi, bukan pendeta suci, Ia Juruselamat.

Ia menyembuhkan orang buta, orang tuli, orang lumpuh.

Angin badai, laut, alam, setan pun taat kepada Dia.

Ia membangkitkan orang mati yg sudah mulai busuk.

Dan begitu banyak orang melihat dengan mata sendiri bahwa Yesus bangkit setelah mati 3 hari. Kalau mati 1 jam, itu pingsan, tapi ini 3 hari.

Adakah ada orang lain yg punya tanda² itu? Siapa yg pernah berkorban mati bagimu?

Allah yang mana? Pendeta, nabi atau dewa mana yang mati 3 hari dan bangkit lagi?

Tanda² yg spesifik hanya dimiliki dan dilakukan Yesus, menunjukkan Ia adalah Juruselamat, yg berkuasa memberi kamu keselamatan.


Hari ini, siapa yang jadi Juruselamat kita?

Juruselamat lahir bagimu, yg lahir di mana?

Juruselamat dari Allah, yg datang bagimu, bukan lahir di China, bukan lahir di Mesir, atau USA, dll.

Juruselamat untuk mu, juga bukan lahir di bank BCA, tidak lahir di bursa saham.

Bukan Cindy, ia tidak lahir di Bethlehem kota Daud, Cindy tidak dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Cindy cuma patung boneka.


Hari ini, tanda vital ilahi terkait keselamatan, sudah disampaikan kepada kita, diberitahukan secara akurat terperinci, agar kita tidak salah pilih.

Vital dan fatal, terutama jika kita sudah tutup mata, tanda² vital jasmani sudah berhenti. Apakah kita pilih Yesus Sang Juruselamat yang ditunjuk oleh tanda² super vital yg ilahi?

Sambutlah Yesus Juruselamat tiap hari, karena berita “hari ini” berlaku setiap hari, bukan hari tertentu, bukan cuma tgl 14 desember.

Natal adalah memperbaruhi dan menantang ulang, “siapa yg engkau pilih jadi Juruselamat bagimu.”