Tag Archives: Kitab Amsal

Amsal 31:13-31

「Isteri yang berbudi cakap (2)」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 31:13-31 [ITB])
13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.
14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.
15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.
16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.
17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.
19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.
20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.
21 Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.
22 Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.
23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.
24 Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.
25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.
26 Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.
27 Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
28 Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: 『29Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.』
30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
31 Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

Perikop 30:10-31 adalah puisi akrostik (puisi yang disusun dari tiap huruf awalan kata atau kalimat) yang menggambarkan isteri yang cakap berbudi luhur. Puisi dapat dibagi menjadi tiga bagian, dan kemarin kita merenungkan bagian pertama (ayat 10-12). Hari ini kita akan melihat dua paragraf tersisa, yang masing-masing menggambarkan kehidupan wanita ini di dalam dan di luar keluarga, dan pujian dari keluarganya.

Bagian kedua adalah dari ayat 13 sampai 27, menggambarkan istri yang cakap dalam banyak aspek. Tidak hanya mengelola dan mengorganisasi dengan baik urusan rumah, dia juga sangat berprestasi dalam masyarakat. Dalam hal pekerjaan rumah tangga, ia sangat pandai menangani berbagai hal, pertama, bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan yang dibutuhkan keluarga (ayat 15); kedua, mengoordinasikan pekerjaan kepada para pelayan perempuan di rumah (ayat 15); ketiga, sudah memperhitungkan waktu kapal akan bersandar, sehingga dapat tepat pada waktunya memesan bahan makanan (ayat 14); keempat, membeli tanah yang cocok untuk ditanami dan menanam kebun anggur (ayat 16); kelima, memiliki pikiran bisnis dan menjalankan bisnis keluarga (ayat 18); dan karena kedua tangannya tangkas menjalankan alat pemintal (ayat 19), maka dapat membuat pakaian dan ikat pinggang untuk dijualnya kepada pedagang (ayat 24); keenam, dengan pekerjaan tangan yang halus dan tangkas, dia menjahit pakaian dua lapis untuk keluarganya sehingga mereka tetap hangat di musim dingin (ayat 21). Kerja kerasnya telah diakui oleh semua orang: Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya (ayat 27).

Hati wanita yang cakap ini tidak terkekang oleh pemikiran egois dan picik tidak perlu peduli orang lain, dia tetap menjaga hubungan yang baik dengan komunitas. Partisipasinya dalam komunitas meliputi: pertama, ia membuka tangannya untuk memberi kepada yang membutuhkan, dan mengulurkan tangannya untuk membantu yang miskin (ayat 20), ia bukan hanya menyumbangkan bantuan ekonomi, ayat Alkitab menggambarkan partisipasinya dengan memberikan tangannya dan mengulurkan tangannya, menunjukkan bahwa ia bekerja keras untuk membantu mereka yang membutuhkan. Partisipasi berarti dia melakukan yang terbaik untuk membantu mereka yang membutuhkan: di musim salju hari, jadi dia tidak hanya menyediakan pakaian hangat untuk anggota keluarganya saja (ayat 21); kedua, dia adalah seorang guru kebijaksanaan: ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya (ayat 26). Di sini mengacu pada tindakan kebaikannya, memberi kepada mereka yang membutuhkan; dia mengajar orang lain untuk menyampaikan kebijaksanaan; dia memperlakukan orang lain dengan belas kasih.

Wanita itu begitu luar biasa sehingga dia bangun sebelum fajar (ayat 15), tetapi pelitanya tidak pernah padam sepanjang malam (ayat 18). Dia mengelola keluarga dengan baik, mengurus suami dan anak-anaknya, memberikan uang kepada orang miskin, dan mengajarkan ajaran yang penuh kasih sayang, dll. Dari mana energinya berasal? Ternyata dia memiliki lengan yang kuat, kekuatan dan daya tahan untuk tugas-tugasnya (ayat 17; her arms are strong for her tasks NIV), yang dikombinasikan dengan energinya yang efektif dan gigih, membuat dia berbeda dengan orang pada umumnya (ayat 25; Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan). Badannya yang kuat, hatinya yang baik dan kehidupan rohaninya menjadi landasan dan alasan penting baginya untuk membangun keluarga dan aktif di masyarakat.

Bagian ketiga adalah empat ayat terakhir. Orang bijak menunjukkan bahwa wanita cakap ini, diakui oleh anak-anaknya dan dipuji oleh suaminya. Alasan mengapa dia dikagumi bukan karena kerja keras dan kekayaannya, atau kecantikannya yang menawan, tetapi karena dia mengabdikan dirinya untuk takut akan Tuhan! (ayat 30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji)

Sampai di sini, kita telah menyelesaikan renungan seluruh Kitab Amsal empat periode, kiranya kita dibimbing oleh Roh Kudus, belajar dan merealisasikan takut akan Tuhan (1:7) sepanjang hidup kita, sehingga kita memperoleh hikmat (9:10) , dan menerima berkat kekal dari Tuhan (Ul. 5:29).

Renungkan:
1) Mari berdoa untuk ibu, saudara perempuan, istri dan anak perempuan kita, memohon kepada Tuhan untuk menjadikan mereka perempuan yang penuh kebajikan.

2) Apakah saya bersedia membuat janji tekad kepada Tuhan untuk takut akan Tuhan sepanjang hidup saya?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 31:10-12

「Isteri yang berbudi cakap (1)」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 31:10-12 [ITB])
10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
12 Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Ayat 31:10-31 adalah mazmur kedua dalam pasal ini, yang menggambarkan wanita yang berbudi luhur. Dia memiliki karakter yang mulia dan merupakan istri yang kompeten. Beberapa terjemahan Alkitab memberikan catatan kaki bahwa ini adalah bentuk puisi akrostik (puisi yang disusun dari tiap huruf awalan kata atau kalimat). Ini juga disebut puisi alfabet. Huruf pertama setiap bait ditulis dalam urutan 22 huruf abjad Ibrani, yang sama dengan cara penulisan Mazmur 119.

Perikop 31:10-31 (22 ayat) dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama (ayat 10-12) menceritakan tentang wanita saleh yang membuat suaminya aman dan menjadi pasangan yang dapat diandalkan. Bagian kedua (ayat 13-27) bagian yang terpanjang, dengan jumlah ayat 15, bagian ini menggambarkan kontribusi wanita yang berbudi luhur ini dalam keluarga dan masyarakat. Para peneliti memiliki pendapat berbeda tentang ayat mana yang membagi pekerjaan internal dan eksternalnya. Dalam bagian ini, dua kata secara khusus muncul berkali-kali, yaitu kata tangan (ayat 13, 16, 19, 20), yang menunjukkan usaha dan kerja kerasnya; kata lainnya adalah pakaian (ayat 21, 22, 24, 25), yang berarti dia mendandani keluarganya dengan baik dan membuat mereka terlihat sopan di masyarakat. Dia mampu bekerja di dapur dan dapat tampil pantas di hadapan luar sehingga suaminya dihormati di masyarakat. Karena istri yang begitu berbudi luhur, ayat 23 menggambarkan suami dari seorang wanita berbudi luhur: Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. Bagian ketiga (ayat 28-31) menggambarkan pujian terhadap wanita tersebut.

Di awal puisi ini sudah menyebutkan isteri yang cakap (ayat 10), dan frasa ini digunakan dalam 12:4 Isteri yang cakap (חַיִל chayil) adalah mahkota suaminya dan juga dalam Rut 3:11, memuji Ruth: kau adalah seorang wanita yang baik budi (חַיִל chayil) BIMK). Kata cakap (חַיִל chayil) dapat memiliki banyak terjemahan, seperti kemampuan, keberanian, karakter, kekayaan. Jika cakap (חַיִל chayil) diartikan sebagai kekayaan, maka tidak heran jika nilai dirinya yang disebutkan dalam ayat 10 Ia lebih berharga dari pada permata, tentunya penulis tidak menggunakan harga permata untuk mengukur nilainya. Selain itu, dalam berumah tangga, dia sama berharganya bagi suaminya, bukan saja tidak membuat suaminya kekurangan, tetapi juga memberi manfaat bagi suaminya. Dan ini bukan usaha jangka pendek, tapi dedikasi seumur hidupnya. Karena kemampuan dan kecakapannya, sang suami memiliki kepercayaan yang mendalam padanya dan sangat bergantung kepada dia, terlebih adalah mempercayakan hatinya padanya (entrusts his heart to her). Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pada masa kini masih ada orang Yahudi yang saleh yang membacakan puisi ini pada malam Sabat untuk memuji istri mereka.

Istri seperti itu sangat sulit ditemukan di dunia, dan mungkin menjadi keluhan banyak orang: Di mana saya bisa menemukannya? Siapa yang bisa memilikinya? Namun, orang bijak berkata dengan nada tegas: isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN (19:14). Kata-kata orang bijak membawa titik balik, mengubah keluhan tak berdaya di hati orang menjadi harapan.

Renungkan:
1) Berdoa agar pasangan atau calon pasangan Anda menjadi suami/istri yang berbudi luhur.

2) Janji dan komitmen pernikahan adalah seumur hidup, mintalah kepada Tuhan untuk membentuk Anda menjadi pasangan yang baik.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 31:1-9

「Perkataan Lemuel」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 31:1-9 [ITB])
1 Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya.
2 Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku?
3 Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja.
4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, 5 jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.
6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. 7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya.
8 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. 9 Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.

Pasal 31 adalah kumpulan Amsal ketujuh dan terakhir. Seperti kumpulan keenam, kumpulan ketujuh ini hanya memiliki satu pasal. Pasal 31 memiliki 31 ayat dan terdiri dari dua mazmur. Mazmur pertama disebut dengan kata-kata Lemuel, yang merupakan harapan dan instruksi ibunda raja Lemuel kepada putranya. Dan mazmur kedua tentang wanita yang berbudi luhur. Kita akan merenungkan kedua mazmur ini dalam tiga hari.

Mazmur pertama adalah ayat 1-9, merupakan ajaran dan pengingat dari ibunya Lemuel, raja Masa. Putranya diperoleh melalui doa, permohonan dan nazar, dia menyebutkan anakku tiga kali, berharap dia akan menjadi raja yang baik. Dalam ayat Alkitab ini, kita melihat tiga aspek permintaan. Aspek pertama adalah peringatan, dua kali menggunakan jangan. Pertama, jangan memfokuskan energi kekuatan (strength NIV) pada wanita. Sebagai raja, selain ratu, mungkin ada banyak selir. Ayat 3 ketiga kekuatan mengandung arti kemampuan dan kekuatan, dan juga dapat merujuk pada kekayaan dan materi (Kej. 34:29; Ul. 8:18). Dan yang kedua jangan mengingatkan raja untuk tidak memiliki perilaku yang membinasakan raja-raja. Jika seorang raja membenamkan diri pada wanita, dia akan binasa. Raja Salomo mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN (lihat 1 Raj. 11:1-10), dan ia menjadi bahan pengajaran yang negatif. Padahal, kekuasaan tidak untuk digunakan memuaskan diri sendiri, melainkan untuk melayani orang lain.

Permintaan kedua adalah menjaga pikiran tetap jernih. Dalam ayat 4-7, ibu Lemuel tiga kali mengatakan bahwa minuman keras itu tidak pantas. Dia tidak melarang putranya untuk minum, tetapi mengingatkan mereka untuk tidak minum terlalu banyak, jika tidak maka akan mempengaruhi dua tanggung jawab penting raja. Pertama, raja harus menetapkan, menyebarluaskan, dan melaksanakan hukum dan peraturan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat; kedua, raja harus membedakan yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, jika raja membenamkan diri mabuk alkohol, dia akan melupakan urusan negara dan melupakan tanggung jawabnya sendiri. Dalam ayat 6-7 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya. Apakah ibu ini, di satu sisi, tidak mengizinkan putranya minum alkohol, agar tidak menghambat dan merusak urusan negara (yaitu melupakan hukum), tetapi di sisi lain, mendorong yang tertekan dan miskin untuk melupakan penderitaannya dengan minum? Bisakah alkohol benar-benar menghilangkan kekhawatiran? Dan apakah ibu ini secara langsung mendorong alkoholisme? Tentu saja tidak. Sebenarnya ibu ini menggunakan permainan kata (word play) untuk mengungkapkan maksudnya, bukan untuk mendorong orang yang sedih dan miskin untuk『melupakan』 kemiskinannya, dan 『tidak lagi mengingat』 kesusahannya (ayat 7), tetapi menekankan fokus pada adanya dua jenis tingkat sosial, raja dan rakyat. Sang ibu mengingatkan anaknya untuk 『tidak melupakan』 kebijakan (hukum), juga 『tidak melupakan』 penderitaan rakyat (kesedihan rakyat). Dia mendorong raja untuk memperhatikan mereka yang menderita, mereka minum untuk melupakan rasa sakit mereka.

Permintaan ketiga Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka, adalah berbicara untuk rakyat. Dua kali dalam dua ayat terakhir ini, ibu Lemuel memberi tahu putranya, bukalah mulutmu untuk membela yang kurang beruntung. Raja tidak dapat memihak orang tertentu, dan harus membuat keputusan sesuai dengan keadilan. Namun, ketika mereka yang kurang beruntung tidak dapat menemukan jalan untuk kebutuhan mereka, raja harus menegakkan keadilan bagi yang tak berdaya, membela yang miskin dan lemah. Raja harus membela yang lemah dan yang benar, memperjuangkan martabat yang pantas mereka terima.

Renungkan:
1) Anggur dan seks adalah godaan terhadap Lemuel. Seperti yang ditunjukkan John Piper dalam buku Money, Sex and Power, ini adalah godaan terbesar orang modern. Apa yang diingatkan oleh renungan hari ini kepada Anda? Bagaimana seharusnya kita menjaga diri dari godaan?

2) Berdoa untuk orang-orang yang lemah dan miskin dalam masyarakat agar kebutuhan mereka terjawab.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 30:24-33

「Bijak dan bebal」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 30:24-33 [ITB])
24 Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan:
…..25 semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,
…..26 pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,
…..27 belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur,
…..28 cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.
29 Ada tiga binatang yang gagah langkahnya, bahkan, empat hal yang gagah jalannya, yakni:
…..30 singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.
…..31 Ayam jantan yang angkuh, atau kambing jantan, dan seorang raja yang berjalan di depan rakyatnya.
…..32 Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!
…..33 Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.

Perikop 30:24-33 mencatat dua rangkaian kalimat terakhir Agur, yaitu pengamatan di dunia binatang dan dua kata bijak. Ayat 24-28 adalah kelompok pengamatan keempat yang menggambarkan tiga … empat hal.Kelompok ini berbeda dari empat kelompok lainnya karena lebih banyak ayat yang digunakan untuk menjelaskan secara rinci setiap hewan darat kecil. Yang pertama adalah semut: semut telah lama digunakan sebagai model kerja keras (6:6-8); yang kedua adalah pelanduk: tubuhnya kecil, dan mereka juga digambarkan sebagai hewan yang lemah, tetapi mereka mampu berpindah-pindah tinggal di antara batu dan karang. Yang ketiga adalah belalang: meskipun tidak ada komandan di antara mereka, mereka terbang berkelompok dan teratur; yang keempat adalah cicak: meskipun manusia dapat menangkapnya dengan tangan kosong, mereka tidak dapat menentukan keberadaannya. Mereka bahkan memilih untuk tinggal di istana kerajaan yang mewah. Apa yang istimewa dari keempat hewan kecil ini sehingga orang bijak memilihnya sebagai contoh untuk direnungkan? kita menemukan bahwa meskipun ukurannya kecil, vitalitas mereka sangat kuat; kekuatan tenaga mereka mungkin tidak besar, tetapi mereka memiliki kebijaksanaan hidup dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Ayat 29-31 adalah kelompok terakhir dari deskripsi tiga … empat. Ada perbedaan yang sangat besar antara kelompok ini dengan keempat kelompok di atas, yaitu kelompok ini memasukkan manusia dalam penggambarannya. Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat memahami keberanian singa, tetapi apa yang unik dari ayam jantan dan kambing jantan? Apa perbandingan antara raja dan hewan-hewan itu? Ada versi yang menerjemahkannya seperti ini: Singa yang tak kenal takut; kambing jantan; ayam jantan yang perkasa; raja yang tak terkalahkan. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa ayat 30-31 membentuk struktur pasangan, yaitu, A adalah singa, B adalah ayam jantan, B’ adalah kambing, dan A’ adalah raja:
A singa
B ayam jantan
B’ kambing
A’ raja

Orang bijak ingin menunjukkan bahwa singa adalah raja binatang buas, dan demikian pula, raja adalah penguasa wilayahnya dan memimpin pasukannya. Keberanian singa membuat hewan lain merasa takut, tidak ada yang ia takuti dalam kelompok hewan. Dan gambaran ini dengan tepat menunjukkan bahwa raja memimpin pasukan, memiliki pengaruh yang menggetarkan hati orang, ini tidak perlu diragukan lagi.

Di dua ayat terakhir Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut! Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul. Agur mengingatkan pembaca untuk tidak bertindak bodoh, apalagi bersikap kasar kepada orang lain. Secara khusus, dia menggunakan dua kata ditekan dan dihasilkan untuk mengekspresikan tiga gambaran. Ada versi menerjemahkan struktur dan perumpamaan ayat 33 sebagai berikut: Jika Anda menekan sapi, Anda akan mendapat keju; jika Anda memencet hidung, Anda akan mendapat darah; jika Anda menekan amarah Anda, Anda akan bertengkar (LZZ). Pesannya jelas bahwa orang atau suatu hal jika ditekan maka akan ada reaksi pantul balik, dengan kemungkinan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Jika seperti susu yang dikocok menjadi keju, ini adalah efek positif, tetapi jika orang-orang yang tinggi diri menggunakan rancangan jahat untuk membangkitkan kemarahan orang lain, mereka hanya akan menimbulkan perselisihan. Oleh karena itu, orang bijak mengajak pembaca untuk berpikir dua kali apakah sebaiknya introspeksi dan memperbaiki perilakunya, agar tidak memencet keluar akibat negatif.

Renungkan:
1) Paulus bersaksi bahwa harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat … supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini (2 Kor. 4:8-12), mari renungkan bagaimana vitalitas hidup terwujud dalam hidup kita.

2) Apakah Anda sedang ditekan dan kehabisan napas? Mintalah kekuatan dari Tuhan, dan bersandar kasih karunia Tuhan untuk menanggungnya; dan renungkan apa yang perlu dipelajari dari antaranya.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 30:17-23

「Tidak dapat dimengerti」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 30:17-23 [ITB])
17 Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali.
18 Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: 19 jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis. 20 Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat jahat.
21 Karena tiga hal bumi gemetar, bahkan, karena empat hal ia tidak dapat tahan: 22 karena seorang hamba, kalau ia menjadi raja, karena seorang bebal, kalau ia kekenyangan makan, 23 karena seorang wanita yang tidak disukai orang, kalau ia mendapat suami, dan karena seorang hamba perempuan, kalau ia mendesak kedudukan nyonyanya.

Ayat Alkitab hari ini berisi satu kata bijak dan dua kumpulan kata bijak numerik. Ayat 17 Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali. Ayat 30:11 yang kita renungkan kemarin Ada keturunan yang mengutuki ayahnya dan tidak memberkati ibunya menegur anak-anak yang tidak berbakti kepada orang tua, dan di sini ayat 17 menggunakan nada hukuman yang sangat keras untuk menegur anak-anak yang demikian. Mereka yang tidak menghormati orang tuanya akan dihukum secara fisik. Penulis menggunakan dua jenis burung untuk menggambarkan hukuman anak yang tidak berbakti: Pertama, burung gagak mematuk mata anak yang tidak patuh, dan kemudian dimakan oleh anak rajawali. Beberapa terjemahan bahasa Mandarin dan Inggris berdasarkan terjemahan Septuaginta menerjemahkan ibu sebagai ibu tua, menekankan bahwa ibu yang sudah lanjut usia terlebih lagi perlu lebih diperhatikan. Jika anak tidak menunjukkan bakti, mereka akan dihukum berat.

Ayat 18-20 adalah empat hal yang tidak dapat dimengerti oleh penulis. Dalam ayat 18-19 menggunakan gaya penulisan pola angka tiga dan empat. Di sini digambarkan ada empat hal yang tidak dimengerti, yaitu jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis. Keempat hal ini sepertinya menggambarkan cara dan jalur mereka bergerak melalui dinamika. Tiga yang pertama merujuk pada jalur rajawali elang, jalur ular yang merayap, dan jalur air kapal, tetapi kategori keempat adalah organ wanita dalam hubungan seksual antara pria dan wanita. Ternyata penulis sengaja menggunakan aktivitas seksual untuk memunculkan cara kelima di ayat selanjutnya Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: 『Aku tidak berbuat jahat.』, yaitu: jalan perzinaan! Hubungan seksual antara suami dan istri adalah sah, tetapi ketika pria melakukannya bukan dengan pasangan pernikahannya, itu adalah percabulan, pria dan wanita itu adalah berzina. Di luar dugaan, pelaku zina ini dengan enteng menganggap perzinaan semacam ini sekadar sebagai makan saja. Ini jelas merupakan tindakan seksual yang tidak bermoral, dan kemudian setelah selesai, dia mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab: Aku tidak berbuat jahat, untuk menyangkal bahwa percabulan semacam ini adalah tindakan jahat! Orang bijak menghendaki agar pembaca menyadari bahwa hubungan pasangan suami istri adalah pengalaman dua menjadi satu (Kej. 2:25), dan itu bukan hanya sekadar aktivitas hubungan seksual tetapi merupakan pengikat hubungan antara suami dan istri,.

Ayat 21-23 seorang hamba, kalau ia menjadi raja, karena seorang bebal, kalau ia kekenyangan makan, karena seorang wanita yang tidak disukai orang, kalau ia mendapat suami, dan karena seorang hamba perempuan, kalau ia mendesak kedudukan nyonyanya, merupakan pengamatan penulis terhadap empat peristiwa mengejutkan sampai seperti terjadi gempa bumi. Apa yang bisa menyebabkan kejutan seperti itu? Pertama, seorang budak menjadi raja; kedua, seorang bebal makan kekenyangan; ketiga, seorang wanita keji menikah; dan keempat, seorang hamba perempuan menjadi nyonya. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa orang bekerja keras untuk naik ke tingkat sosial lebih tinggi dalam masyarakat, oleh karena itu, dari segi promosi, dari tingkat yang lebih rendah naik secara bertahap ke posisi sosial lebih tinggi bukan hanya hasil alami setelah kerja keras, tetapi juga menjadi inspirasi bagi orang lain. seperti yang dikatakan oleh para peneliti bahwa kejadian-kejadian di atas dengan cepat membuat tatanan dan kelas sosial kuno terbalik atau jungkir balik, yang akan menyebabkan guncangan dan keresahan sosial. Ini tidak berarti bahwa orang-orang di tingkat bawah tidak dapat terbang naik ke dahan yang tinggi dan menjadi burung phoenix. Tetapi di sini orang bijak ingin mengungkapkan bahwa setelah seorang hamba menerima perintah dan mengubah dirinya berkelakuan seperti menjadi seorang raja apakah ia memiliki wawasan dan kemampuan untuk memerintah? Hal keempat adalah gejolak rumah tangga, yaitu hamba perempuan memiliki identitas nyonya. Hal ini mengingatkan pada kisah Hagar, yang dengan jelas menggambarkan apa yang dimaksud di sini, ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu (Kej. 16:4). Maksud perenungan kita di sini adalah bahwa orang bijak menunjukkan bahwa perubahan status sosial dan status dalam keluarga dapat memiliki kemungkinan menciptakan situasi yang bergejolak.

Renungkan:
1) Seks itu sakral, anugerah dari Tuhan, untuk dinikmati hanya dalam pernikahan. Mari merenungkan apa arti 1 Korintus 6:12-20 bagi saya tentang Keduanya akan menjadi satu daging dan siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

2) Marilah berdoa untuk perubahan sosial, transformasi gereja, dan transformasi keluarga.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 30:10-16

「Orang golongan ini」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 30:10-16 [ITB])
10 Jangan mencerca seorang hamba pada tuannya, supaya jangan ia mengutuki engkau dan engkau harus menanggung kesalahan itu.
11 Ada keturunan yang mengutuki ayahnya dan tidak memberkati ibunya.
12 Ada keturunan yang menganggap dirinya tahir, tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri.
13 Ada keturunan yang berpandangan angkuh, yang terangkat kelopak matanya.
14 Ada keturunan yang giginya adalah pedang, yang gigi geliginya adalah pisau, untuk memakan habis dari bumi orang-orang yang tertindas, orang-orang yang miskin di antara manusia.
15 Si lintah mempunyai dua anak perempuan: Untukku! dan Untukku! Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: Cukup!
16 Dunia orang mati, dan rahim yang mandul, dan bumi yang tidak pernah puas dengan air, dan api yang tidak pernah berkata: Cukup!

Kemarin kita merenungkan pasal 30 yang berbicara tentang pertanyaan dan doa yang diucapkan oleh Agur. Dalam dua puluh ayat berikutnya, Agur tidak memberikan pengajaran langsung yang biasa, dia menggunakan angka untuk menantang pemikiran pembaca, mencakup lima set kata-kata bijak, yang masing-masing diilustrasikan dengan lima macam empat hal. Kita akan memakai tiga hari untuk merenungkannya.

Ayat 10 Jangan mencerca seorang hamba pada tuannya, supaya jangan ia mengutuki engkau dan engkau harus menanggung kesalahan itu (Jangan memfitnah seorang hamba pada tuannya, nanti engkau disumpahi dan dianggap bersalah BIMK). Fitnah adalah perkataan negatif yang menodai reputasi orang lain. Sebenarnya, komentar negatif jika digunakan dalam keadaan yang tepat, dan jika motivasi pengkritik adalah untuk menunjukkan kesalahan pihak lain dan memberikan saran untuk perbaikan, ini adalah hal yang baik, dan pendekatan ini bersifat konstruktif. Jadi fitnah sangat berbeda dengan kritik yang membangun. Kitab suci menunjukkan bahwa begitu seorang tuan mendengar fitnah tentang hambanya, itu akan membawa ketidakpuasan bagi tuannya; ditambah lagi hamba tidak memiliki kesempatan untuk membela diri, sehingga hamba diperlakukan tidak adil. Orang bijak mengingatkan sang tuan untuk berhati-hati dengan apa yang didengarnya, karena orang yang dikritik bisa jadi adalah korban! (Lihat Pengkhotbah 7:21-22 Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau. Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain.).

Ayat 11-14 menggambarkan empat golongan orang. Setiap kategori memiliki arti generasi dalam teks aslinya, dan memiliki format yang sama: Ada keturunan yang … dan kemudian menunjukkan masalah mereka. Sebenarnya, penjelasan lebih perinci terhadap masing-masing golongan orang ini sudah pernah muncul di bagian lain dalam Kitab Amsal, dan mereka semua dianggap merupakan golongan orang bebal. Golongan orang yang pertama adalah orang yang mengutuk orang tuanya (lihat 20:20; 30:17), mereka telah melanggar perintah kelima dalam Sepuluh Perintah (Kel. 20:12), Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati (Kel. 21:17). Golongan orang yang kedua adalah yang menganggap dirinya tahir, tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri, mereka menganggap diri mereka tahir, padahal mereka yang najis harus pergi ke luar perkemahan untuk membersihkan kotorannya sebelum mereka dapat memasuki tempat kudus (bdk. Ul. 23:12-14). Di sini mengandung makna religius, artinya orang yang menyembah Allah baru bisa bertemu dengan Allah setelah dia mempersiapkan diri. Namun, orang yang disebutkan di sini dianggap bebal karena menganggap dirinya tahir (lihat 12:15; 16:2, dll.). Golongan orang yang ketiga yang berpandangan angkuh, yang terangkat kelopak matanya adalah orang yang sombong. Hiperbola digunakan di sini untuk menggambarkan kebanggaan orang-orang seperti itu Mata mereka tumbuh di atas kepala. Golongan orang yang keempat yang giginya adalah pedang, yang gigi geliginya adalah pisau, untuk memakan habis dari bumi orang-orang yang tertindas, orang-orang yang miskin di antara manusia, adalah mereka yang mengeksploitasi orang lain. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan mereka melahap kelompok rentan dalam masyarakat dan mengambil keuntungan dari mereka dengan memeras dan menjarah. Orang bijak memperingatkan terhadap penindas yang melahap, dan akhir mereka adalah memakan buah mereka sendiri, seperti yang dikatakan 19:28 mulut orang fasik menelan dusta.

Perikop 30:15-33, disebut kata bijak angka, gaya tulisan ini juga muncul di pasal 6. Agur menggunakan angka tiga dan empat untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing kelompok. Secara total ia menjabarkan lima kelompok pengamatan. Pertama-tama mari kita perhatikan kelompok kata bijak pertama. Pertama, ayat 15 Si lintah mempunyai dua anak perempuan: 『Untukku!』 dan 『Untukku!』 Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: 『Cukup!』, penulis menggambarkan dua anak perempuan dari induk lintah yang berkata kepada ibunya, Berikan untukku. Secara umum diyakini bahwa kedua anak perempuan ini adalah metafora dari dua organ pengisap yang digunakan induk lintah untuk menghisap darah, oleh karena itu di sini lintah menghisap darah untuk menggambarkan keserakahan manusia. Kemudian di ayat 16 Dunia orang mati, dan rahim yang mandul, dan bumi yang tidak pernah puas dengan air, dan api yang tidak pernah berkata: 『Cukup!』, penulis mencantumkan empat tempat, yaitu dunia orang mati, rahim, bumi (tanah kering), dan api. Dunia orang mati adalah tempat orang berkumpul setelah kematian dan terus menerus tiada henti menampung lebih banyak orang mati; wanita mandul tiada henti mengharapkan rahim untuk mengandung; lahan kering dapat menyerap banyak air; dan perapian membutuhkan bahan bakar untuk terus menyala. Apa kesamaan dalam empat hal tersebut? Yakni tidak pernah puas. Mereka memiliki keinginan yang tak pernah henti untuk memiliki lebih dan lebih, tidak pernah merasa cukup. Orang bijak mengajarkan kepada pembaca adalah memberi, bukan mengisap darah seperti lintah, tetapi belajar untuk tahu puas.

Renungkan:
1) Mari merenungkan ayat ini Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (Efesus 4:29) Apakah ada yang diingatkan ayat ini kepada Anda?

2) Paulus memiliki sebuah kunci, yaitu ia belajar untuk berpuas diri (Filipi 4:11-12). Apakah Anda puas dengan apa yang Anda miliki sekarang? Mengapa? Mari merenungkan konsep ini.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 30:1-9

「Kata-kata bijak dari Agur」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 30:1-9 [ITB])
1 Perkataan Agur bin Yake dari Masa. Tutur kata orang itu:
Aku berlelah-lelah, ya Allah, aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku. 2 Sebab aku ini lebih bodoh dari pada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku. 3 Juga tidak kupelajari hikmat, sehingga tidak dapat kukenal Yang Mahakudus.
4 Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!
5 Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.
6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.
7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni:
8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: 『Siapa TUHAN itu?』 Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Renungan kita sudah sampai pada dua kumpulan terakhir, yang terdiri dari 2 pasal terakhir dari Amsal ditulis oleh dua penulis, Agur dan Lemuel. Kita akan merenungkan pesan-pesan dalam dua pasal ini selama tujuh hari. Para peneliti tidak tahu apa-apa tentang Agur penulis pasal 30, selain di ayat 30:1 namanya tidak dapat ditemukan di teks lain dalam Alkitab. Pengenalan diri Agur pada ayat 2-3 merupakan pengenalan diri yang sedemikian merendahkan diri sendiri. Dia mengakui bahwa dia bodoh, tidak cukup pintar, tidak terpelajar, atau bijaksana. Sepertinya dia benar-benar anak kebijaksanaan, mengakui tidak memiliki pengertian, dan mau terus mengejar pengertian.

Agur merasa bahwa dia tidak mengenal siapa Yang Mahakudus itu, maka dalam ayat 4 dia menanyakan serangkaian enam pertanyaan tentang Allah. Mungkin yang mengejutkan pembaca, dia bertanya Siapakah yang naik ke sorga lalu turun?, Siapa namanya dan siapa nama anaknya?, juga bertanya tentang penciptaan, pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berpikir. Ketika dia menanyakan nama Allah, itu mungkin untuk membimbing pembaca untuk berpikir tentang mengenal Tuhan. Ketika Ayub tidak memahami penderitaan yang dihadapinya, TUHAN Yahweh berinisiatif untuk menjawab Ayub dalam angin puyuh, dengan mengatakan, Siapakah yang mengaburkan kehendak-Ku dengan kata-kata yang tidak dimengerti? (Ayub 38:2) Melalui dialog, Ayub mengakui dirinya tidak tahu; melalui dialog dengan Allah, Ayub berkata: aku memohon kepada-Mu. Dengarkanlah, dan aku akan berbicara; aku akan bertanya kepada-Mu, dan buatlah aku mengerti (Ayub 42:3-4, IMB). Ternyata berbicara dengan Allah adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu. Jadi bertanya dan mendengarkan adalah dua alat penting untuk mencapai pengenalan.

Agur merenungkan tentang Allah dan membaca firman Allah. Firman Allah dapat merujuk pada dua kategori: perkataan Allah (speeches of God) dan tulisan firman Allah (word of God). Semua firman Allah adalah murni, Agur menggunakan kata murni untuk menggambarkan firman Allah, seperti telah melalui proses peleburan dan pemurnian, yang berarti bahwa firman Allah tidak ada kesalahan dan tanpa cacat (flawles, NIV). Agur berlindung kepada Allah dan Allah sebagai perisainya untuk melindunginya dari bencana (ayat 5 Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya).

Di ayat 7-9 Agur mengucapkan doa Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: 『Siapa TUHAN itu?』 Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku, ini jarang muncul dalam literatur hikmat. Dia berdoa kepada Yang Mahakudus untuk dua hal, yang merupakan dua tema besar Amsal. Pertama, dia berdoa untuk menjadi orang yang tulus, agar kecurangan dan kebohongan dijauhkan dari dirinya; kedua, dia meminta Allah untuk memberinya makanan yang dia butuhkan cukup agar dia bisa hidup. Kita juga melihat bahwa yang dia minta kepada Allah hanyalah kebutuhan dasar hidup saja.

Renungkan:
1) Coba renungkan dari himne Setiap Hari: Setiap hari, Tuhanku, aku mohon tiga hal: mengenal-Mu lebih dalam, mencintai-Mu lebih mendalam, mengikuti-Mu lebih dekat, setiap hari. Apakah ini bisa menjadi doa dan tindakan saya?

2) Paulus memiliki tekad ini: Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Tim. 6:8), melalui tekad Paulus ini mari kita merenungkan gaya hidup kita.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 29:22-27

「Ikut menanggung hukum」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 29:22-27 [ITB])
22 Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.
23 Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.
24 Siapa menerima bagian dari pencuri, membenci dirinya. Didengarnya kutuk, tetapi tidak diberitahukannya.
25 Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.
26 Banyak orang mencari muka pada pemerintah, tetapi dari TUHAN orang menerima keadilan.
27 Orang bodoh adalah kekejian bagi orang benar, orang yang jujur jalannya adalah kekejian bagi orang fasik.

Hari ini kita akan merenungkan lima ayat terakhir dari pasal 29, yang berisi tiga kata bijak. Ayat 24 Siapa menerima bagian dari pencuri, membenci dirinya. Didengarnya kutuk, tetapi tidak diberitahukannya (Barangsiapa berbagi dengan pencuri, membenci jiwanya sendiri, ia mendengar sumpah kutuk dan tidak memberitahukannya IMB). Kata bijak ini tentang konsekuensi serius dari kesalahan melangkah seorang. Paruh pertama dari ayat tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut membentuk kelompok untuk melakukan kejahatan mencuri, dengan melakukan itu, dia pada dasarnya kehilangan nyawanya sendiri, atau membuat pilihan yang merusak dirinya sendiri. Di mata orang bijak, perilaku pencuri adalah ekspresi kebencian jiwanya sendiri. Bagian kedua dari ayat tersebut memiliki latar belakang hukum: Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri (Imamat 5:1). Orang yang mendengar sumpah, meskipun dia bukan pencuri, ia dapat bersaksi, tetapi takut menjadi terlibat di dalamnya sehingga dia tidak berani bersaksi. Karena diam, dia menjadi kaki tangan, harus ikut menanggung hukum dan dikutuk. Orang bijak telah memperingatkan para pembaca untuk tidak bergaul dengan orang fasik (lih. 1:18-19).

Baik ayat 25 dan 26 mengacu pada TUHAN Yahweh dan dengan jelas menasihati para pembaca untuk percaya kepada Dia. Mari kita renungkan ayat 25 Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi. Kata bijak ini sangat kontras: jangan takut pada manusia, tetapi percaya dan bersandarlah pada Allah. Ketika seseorang takut akan Allah, ia tidak perlu takut pada siapa pun, seperti yang pernah dikatakan Daud kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mzm. 56:11) Pembaca bisa seperti Daud, percaya bahwa Allah akan melindungi mereka dari manusia. Di satu sisi, orang bijak menegaskan kekuatan dan perlindungan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, dia juga memahami ketakutan di hati manusia, karena dia telah jatuh ke dalam perangkap intimidasi manusia dan tidak dapat melarikan diri. Meskipun orang dan permasalahan tidak menakutkan dan tidak perlu takut, tetapi ketakutan itu sendiri mengalahkan orang, karena orang tidak tahu apa yang akan terjadi. Psikologi semacam ini memberi orang lain kesempatan untuk memasang jebakan. Oleh karena itu, orang bijak mengingatkan para pembaca untuk tidak jatuh ke dalam perangkap ketakutan, percaya dan bersandarlah kepada Tuhan, dan Anda akan selamat.

Ayat 27 Orang bodoh adalah kekejian bagi orang benar, orang yang jujur jalannya adalah kekejian bagi orang fasik. Ayat terakhir dari pasal ini sangat menarik, kita menemukan bahwa kontras antara orang benar dan jahat dalam pasal 28 dan 29 muncul kembali di sini, dan dengan sengaja menekankan ketidaksesuaian antara yang baik dan yang jahat. Di sini, kekejian adalah kutukan yang keras, terutama mengacu pada orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN (lihat 3:32; 11:1, 20; 12:22, dll.). Kata bijak ini sepenuhnya memungkinkan orang benar dan orang jahat untuk melihat posisi dan orientasi nilainya masing-masing. Sama seperti orang benar tidak dapat menerima orang yang tidak benar, demikian pula orang fasik tidak dapat menerima orang benar. Orang bijak di sini menasihati pembaca bahwa tidak ada zona abu-abu antara kebenaran dan kejahatan, seseorang harus memilih salah satu dari keduanya, dan hanya satu jalan yang dapat dipilih dan diikuti. Kita percaya bahwa bagi orang Kristen, pilihan ini mudah, dan orang bijak pasti memilih jalan kebenaran yang lurus!

Renungkan:
1) Ketika Petrus diintimidasi, dia dengan berani berkata, Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia (Kis. 5:29), memohon kepada Tuhan untuk memberi saya keberanian untuk bersaksi bagi Tuhan.

2) Kebenaran dan kefasikan tidak dapat persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6:14) Jika Anda terjebak dalam ketegangan di antara pihak-pihak yang bertentangan, mintalah Tuhan untuk menguatkan Anda sehingga Anda memiliki keberanian untuk berdiri di pihak Tuhan!


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 29:16-21

「Melihat」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 29:16-21 [ITB])
16 Jika orang fasik bertambah, bertambahlah pula pelanggaran, tetapi orang benar akan melihat keruntuhan mereka.
17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.
18 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.
19 Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya.
20 Kaulihat orang yang cepat dengan kata-katanya; harapan lebih banyak bagi orang bebal dari pada bagi orang itu.
21 Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.

10 ayat terakhir dari pasal 29 lebih fokus pada perbandingan perkataan dan sikap orang fasik dengan orang benar, juga melanjutkan pembahasan tentang raja dan Tuhan. Ayat 16 Jika orang fasik bertambah, bertambahlah pula pelanggaran, tetapi orang benar akan melihat keruntuhan mereka. Kata bertambah dan berkurang, bangkit dan binasa muncul berkali-kali dalam dua pasal ini (28:12, 28; 29:2). Kata bertambah pada paruh pertama ayat ini adalah kata yang sama, artinya kedua hal itu berhubungan langsung. Artinya ketika orang fasik bertambah, maka kejahatan jelas bertambah; ketika orang benar meningkat, hal-hal yang benar juga akan meningkat. Jika jumlah orang jahat meningkat dalam masyarakat, masyarakat akan kacau balau, dan kehidupan masyarakat tidak akan damai. Jika orang fasik memerintah (LZZ), tirani, korupsi, dan pelanggaran hukum akan mengikuti satu demi satu. Raja Ahab dapat dianggap sebagai raja yang paling korup di antara raja-raja kerajaan utara. Dia melakukan lebih banyak kejahatan daripada leluhurnya. Dia melakukan apa yang jahat di mata Allah, melayani Baal dan Asyera, membangun kuil dan mezbah Baal, dll. (lihat 1 Raj. 16:30-33). Ketika raja Ahab melakukan semua hal buruk, apa yang akan terjadi padanya? Ini adalah situasi yang disebutkan di bagian kedua kata bijak, bahwa orang benar akan melihat orang fasik tersandung dan binasa. Di sini orang bijak menyampaikan pesan peringatan dan pesan pengharapan. Bagi orang fasik, ini adalah peringatan bahwa perbuatan jahat tidak akan berlangsung selamanya, bahwa penghakiman akan datang suatu hari, dan penggulingan pada akhirnya akan datang. Merupakan penghiburan bagi orang benar bahwa, meskipun penghakiman belum tiba, kejahatan akan berakhir. Pada saat itu, orang benar akan melihat orang jahat binasa dan keadilan menang.

Ayat 18 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum. Terjemahan yang berbeda memilih kata yang berbeda untuk frasa tidak ada wahyu, misal penglihatan (RCUV Mandarin). Penglihatan sering digunakan untuk menggambarkan pengalaman pewahyuan seorang nabi. Sering kali Alkitab hanya menekankan bahwa para nabi melihat (Yes. 2:1; 13:1; Amos 1:1). Selain itu, Alkitab juga mencatat bahwa nabi Yesaya dan Mikha melihat penglihatan (Yesaya 1:1; Mikha 1:1; Habakuk 1:1) dan seterusnya. Oleh karena itu, apakah yang dilihat merupakan tujuan akhir dari penglihatan itu sendiri? Ataulah juga mencakup rencana untuk mencapai visi dan tujuan? Dengan kata lain, ketika orang tidak memiliki penglihatan, mereka tidak memiliki tujuan, atau rencana yang akan mengarahkan mereka ke masa depan. Oleh karena itu, jika seseorang melihat suatu penglihatan, itu memiliki efek normatif dan penuntun baginya. Arti dari paruh kedua kata bijak tersebut lebih jelas dan lebih pasti, menunjukkan bahwa siapa yang menuruti hukum Allah akan diberkati. Para peneliti memiliki interpretasi yang berbeda tentang apakah hukum di paruh kedua sesuai dengan wahyu / penglihatan di paruh pertama (Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum). Kata hukum bisa merujuk pada firman Tuhan atau ajaran orang bijak. Di sini yang ingin dijelaskan oleh orang bijak adalah bahwa di satu sisi hukum memiliki fungsi normatif, yaitu menjaga agar pembaca tidak menyimpang dari jalan Tuhan, di sisi lain hukum juga membimbing pembaca ke jalan yang benar.

Renungkan:
1) Di masa lalu, Abraham memohon kepada Allah bahwa jika ada orang benar di Sodom dan Gomora, hari ini kita belajar dari Abraham dan memohon kepada Tuhan untuk menambahkan lebih banyak orang benar ke tanah tempat kita tinggal!

2) Semoga himne Be Thou My Vision menjadi doa kita:
Be Thou my vision,
O Lord of my heart;
Nought be all else to me
Save that thou art

Thou my best thought
By day or by night,
Waking or sleeping
Thy presence my light


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Amsal 29:8-15

「Percaya dan mengandalkan」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 29:8-15 [ITB])
8 Pencemooh mengacaukan kota, tetapi orang bijak meredakan amarah.
9 Jika orang bijak beperkara dengan orang bodoh, orang bodoh ini mengamuk dan tertawa, sehingga tak ada ketenangan.
10 Orang yang haus akan darah membenci orang saleh, tetapi orang yang jujur mencari keselamatannya.
11 Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.
12 Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik.
13 Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar.
14 Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya.
15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Dalam perikop yang akan kita renungkan hari ini, kita akan melihat interaksi dua kelompok orang. Kelompok pertama adalah interaksi antara orang bijak dan orang bebal. Dalam ayat 8-11, orang bijak tidak hanya berbicara tentang cara berkomunikasi dengan orang bebal, tetapi juga cara mengatasi emosinya sendiri. Kitab suci berbicara tentang dua jenis orang bebal yang dihadapi oleh orang bijak. Tipe pertama adalah orang-orang sombong di ayat 8, mereka mencemooh orang lain , atau menertawakan orang lain (RCUV Mandarin). Kesamaan yang dimiliki orang-orang ini adalah bahwa mereka pembuat masalah memutarbalikkan kebenaran, bergembira dengan membangkitkan emosi orang lain, menghasut kebencian orang lain, dan membawa kegelisahan dan kemarahan ke dalam komunitas. Orang bijak tidak akan berurusan dengan orang pencemooh seperti itu, dan mencoba menasihati pembaca agar tidak jatuh ke perangkap mereka. Apa yang akan dilakukan orang bijak adalah mencoba menenangkan kemarahan orang banyak, jika tidak, begitu kemarahan meledak, itu akan membuat situasi menjadi tidak terkendali.

Tipe kedua adalah orang bebal. Ciri orang bebal adalah respons emosional ketika mengungkapkan dan mendengarkan pendapat. Seringkali selama persidangan mereka marah dan emosional, bahkan tertawa-tawa, dan tidak ada waktu yang tenang. Oleh karena itu, pemandangan seperti itu membuat orang tidak ada ketenangan (ayat 9). Selain itu, mereka mengungkapkan emosi secara tidak tepat, bahkan melampiaskan seluruh amarahnya (ayat 11). Orang bijak berusaha menyadarkan pembaca akan pentingnya mengelola emosi. Di satu sisi, orang bijak bisa menenangkan amarah (ayat 8); di sisi lain, ketika menghadapi kemarahan orang bebal yang tak terbendung, orang bijak masih bisa mengendalikan emosi dirinya, sehingga bisa menahan amarahnya sendiri (ayat 11). Sementara orang bebal kehilangan kesabaran dan menjadi marah, orang bijak memiliki pengendalian diri. Ketika orang pencemooh memprovokasi orang banyak, orang bijak bisa mengenali pikiran dan emosinya, serta mengarahkan dirinya untuk menghadapinya dengan suasana hati yang stabil. Selain itu, orang bijak lebih mampu menjadi orang yang sabar besar pengertiannya (14:29), lambat marah adalah bijak, dan kinerja mereka dapat dikatakan melampaui pahlawan (16:32).

Kelompok orang yang kedua berinteraksi, yaitu interaksi raja dengan hamba-hambanya: Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik (ayat 12). Apakah raja menjadi raja yang buruk karena mendengarkan fitnah para hambanya? Atau contoh orang yang di atas tidak tegak maka yang di bawah menjadi bengkok, para pejabat menjadi penjahat karena terpengaruh oleh ketidakadilan raja? Ayat ini diterjemahkan seperti ini dalam terjemahan NIV bahasa Inggris: Jika seorang penguasa mendengarkan kebohongan, semua pejabatnya menjadi jahat (If a ruler listens to lies, all his officials become wicked). Ketika para pejabat mengetahui bahwa raja suka mendengar kata-kata menjilat, mereka melakukan apa yang disukai raja, mengucapkan kata-kata palsu, membesar-besarkan kata-kata, dan menggunakan kebohongan untuk menyenangkan hati raja. Ketika raja tidak mau menerima nasihat, atau tidak suka mendengarkan kebenaran, para pelayannya menjadi penjahat. Perjanjian Lama mencatat bahwa para nabi di sekitar raja Ahab penuh dengan roh kebohongan, dan ketika nabi Mikha dipanggil, dia dibujuk untuk bergabung dengan raja (Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik 1 Raj. 22:13), tetapi nabi Mikha tidak mau mendengarkan ajakan tersebut. Raja Daud tahu bahwa dia membutuhkan orang-orang yang jujur untuk membantunya. Dia memiliki persyaratan berikut untuk membangun tim staf: Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku. Setiap pagi akan kubinasakan semua orang fasik di negeri; akan kulenyapkan dari kota TUHAN, semua orang yang melakukan kejahatan. (Mzm. 101:6-8). Dapat dilihat bahwa raja Daud ingin mengetahui tentang kota TUHAN yang di bawah pemerintahannya, jadi dia hendak menyingkirkan semua kejahatan dari kota itu.

Renungkan:
1) Merenungkan kecerdasan emosional pribadi saya. Bagaimana saya mengendalikan emosi saya ketika dihadapkan dengan konflik dalam hubungan? Memohon kepada Tuhan untuk memberikan emosi yang stabil, untuk dapat berekspresi dan berkomunikasi dengan baik, sehingga masalah dapat diselesaikan dengan memuaskan.

2) Dalam pekerjaan dan pelayanan Anda, mintalah kepada Tuhan untuk memberi Anda tim yang memiliki integritas.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 24-31 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Mei 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).