Tag Archives: Mengejar Kekudusan

1 Petrus 1:14-16

「Kekudusan adalah Relasi Ketundukan Bawahan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:14-16 [ITB])
14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

(Terjemahan penulis)
14 Sebagai anak-anak yang taat, jangan meniru keinginan nafsu keinginan bodoh kamu sekalian yang dahulu,
tetapi seperti Yang Kudus memanggil engkau, dalam setiap tindakan, engkau kudus
karena demikian, tertulis di Kitab Suci: Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus.

Jika hanya melihat perikop ini saja dan mengabaikan teks sebelumnya, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam diskusi yang sekadar etika moralitas, berpikir bahwa ini menghendaki setiap perilaku orang percaya harus menjadi kudus (secara moral saja), dan tidak memiliki batasan moral sama sekali. Ya, dalam berbagai kategori kita harus hidup menjadi contoh yang sempurna. Namun, mungkin pengalaman hidup kita memberi tahu kita betapa buruknya kita, hanya sepenuhnya karena perlindungan anugerah saja yang mencegah kita terpeleset kaki kita, alih-alih hanya mengandalkan kesempurnaan kita sendiri.

Seperti yang dibahas dalam renungan selama 13 hari ini, inti terpenting bukan sekadar moralitas dan etika, ini memaksa kita untuk merenungkan kembali: tema teologis utama apa yang hendak dibawakan kalimat Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus yang dikutip dari kitab Imamat dalam Perjanjian Lama? Supaya kita bisa memahami lebih dalam apa yang dimaksud ayat ini.

Bayangkan kehidupan orang-orang Ibrani yang masih hidup di Mesir, mereka mungkin harus mengikuti instruksi para Fir’aun pada zaman mereka, tidak peduli apa pun, gaya hidup mereka harus mengikuti perintah orang bangsa lain, tetapi ketika mereka ingin menjalani kehidupan baru, menjadi umat Allah, mereka harus meletakkan apa yang telah mereka teladani taati, dan belajar baru bagaimana menjadi umat Tuhan. Situasi ini adalah konsep yang diterapkan Petrus kepada orang-orang percaya yang tersebar di Asia Kecil, mereka harus belajar baru, cara menjadi umat Tuhan di lingkungan aniaya.

Tetapi dalam pengalaman Keluaran dari Mesir, banyak umat Tuhan terus mencobai Tuhan dan berharap untuk kembali ke Mesir, dan menginginkan untuk kembali ke lingkungan lama yang mereka kenal, bahkan mereka tidak ragu-ragu jika hidup ini harus tunduk menaati perlakuan kekejaman Firaun lagi; mereka juga mencobai pemimpin — Musa yang diutus oleh Tuhan — untuk menantang otoritas dan kepemimpinan Tuhan, atau terinfeksi tertular bangsa-bangsa asing, perlahan-lahan menjauh dari Allah sejati yang membawa mereka keluar dari Mesir. Oleh karena itu, pernyataan kitab Imamat ini bukan berfokus sekadar menyangkut masalah moral, tetapi menitikberatkan bagaimana umat Allah hendak memandang kehidupan baru mereka, hidup yang baru, awal yang baru, atau apakah mereka berpikir bahwa kemabukan itu yang dinamakan kesadaran?

Ternyata dalam kitab Imamat, konsep kudus adalah konsep ketundukan pihak yang lebih rendah (subordinate) kepada pihak yang tinggi, yaitu menyatakan hidup adalah milik Allah. Apakah itu adalah dewa di Mesir, ataukah Allah keselamatan? Apakah itu ketundukan pada nafsu diri, atau apakah itu didasarkan pada rencana Allah sebelumnya (lih. 1 Petrus 1:2)?

Renungkan:
Ilustrasi apa yang dapat digunakan sebagai ringkasan renungan hari ini? Saya kira itu olahraga, atau bagaimana seorang pria berusia empat puluhan memandang olahraga (saya mengambil contoh diri saya sendiri), saya akan mengatakan bahwa saya adalah seorang yang berolahraga, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa saya seorang olahragawan. Secara teori seharusnya melakukan olahraga, tetapi setiap kali saya harus berusaha keras dan memaksa diri untuk berolahraga, sekadar memenuhi tuntutan saja, lalu menyangka bahwa saya seorang olahragawan, tetapi sebenarnya saya tidak pernah termasuk dalam kategori olahragawan (sejenis penundukan diri memenuhi kriteria olahragawan).

Bukankah sering kali demikian itu pengalaman kita sebagai umat Allah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 65:1-7

「Diriku lebih Suci daripada Engkau」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 65:1-7 [ITB])
1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: Ini Aku, ini Aku! kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. 2 Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri; 3 suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku, dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata; 4 yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di dalam gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka; 5 yang berkata: Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku! Semuanya ini seperti asap yang naik ke dalam hidung-Ku, seperti api yang menyala sepanjang hari. 6 Sesungguhnya, telah ada tertulis di hadapan-Ku: Aku tidak akan tinggal diam, malah Aku akan mengadakan pembalasan, ya, pembalasan terhadap diri mereka, 7 atas segala kesalahan mereka sendiri, maupun atas kesalahan nenek moyangnya, semuanya serentak, firman TUHAN. Sebab mereka telah membakar korban di atas gunung-gunung dan mengaibkan Aku di atas bukit-bukit. Memang Aku akan menakar ke dalam jubah mereka upah untuk perbuatan-perbuatan mereka yang dahulu!

Yesaya 65 dapat dibagi menjadi dua paragraf besar. Enam belas ayat yang pertama (Yes. 65:1-16) seharusnya dipahami sebagai jawaban TUHAN atas pertanyaan orang-orang dalam pasal 63 – 64 (klik untuk membaca), delapan ayat berikutnya (Yes. 65:17-25) mencatat langit yang baru dan bumi yang baru dari hari akhir, jadi dua paragraf ini menuliskan dua tema yang berbeda, yang pertama adalah respons terhadap situasi saat ini dan yang kedua adalah melihat ke depan kepada keadaan hari akhir. kita akan merenungkan dua paragraf besar ini dalam empat hari.

Yesaya 65:1-7 adalah paragraf pertama dari bagian besar pertama. Paragraf ini menunjukkan bahwa Allah akan menghukum mereka yang berpikir bahwa diri mereka suci. Pertama-tama, ayat 1 menunjukkan bahwa rahmat anugerah Tuhan akan datang kepada mereka yang tidak mencari dan memohon kepada Tuhan, dan menyatakan kehadiran-Nya kepada negara-negara yang tidak memanggil nama Tuhan. Ini sebenarnya semacam sindiran ironi bagi Israel, mengatakan bahwa bangsa-bangsa yang tidak pernah mencari Allah memberikan respons kepada Allah lebih baik daripada Israel yang adalah umat Allah, sehingga ayat 2 sebaliknya menunjukkan bahwa orang-orang Israel adalah umat pemberontak, mereka mengikuti pikiran sendiri (bukan pikiran Allah) menjalankan jalan yang tidak baik, sebagai umat Tuhan ternyata lebih buruk daripada bangsa-bangsa yang tidak mencari Tuhan. Karena itu, ketika orang-orang Israel mempertanyakan mengapa Allah tidak menyelamatkan mereka, Allah ingin mereka mengerti bahwa wajah asli mereka sendiri adalah pemberontak (hakikat asli), dan bahwa karena dosa mereka mendatangkan hal buruk di depan mereka, dan Yerusalem akan menjadi belantara tandus.

Ayat 3-4 secara konkret menjelaskan bagaimana umat Allah ini melakukan hal-hal buruk. Masalah utama mereka adalah kesombongan dan kemunafikan, di sini ditunjukkan bahwa umat ini memang tidak memandang berat hukum Taurat, mereka menyembah dewa-dewa palsu (ayat 3), memanggil roh-roh jahat, makan daging yang najis, dan melakukan ritual pengorbanan kepada dewa asing (ayat 4), tetapi setelah mereka melakukan semua ini, ayat 5 menunjukkan bahwa mereka terlalu menganggap diri mereka tinggi dan bahkan mengatakan bahwa diri mereka terlalu suci, sehingga orang lain tidak boleh mendekati mereka (Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku!). Ternyata orang-orang yang tidak menghormati hukum Taurat dan tidak takut akan Allah telah menganggap diri mereka yang paling suci, mereka yang secara moral bangkrut bahkan mengatakan bahwa diri mereka bangsawan moral, kita melihat kesombongan dan kemunafikan secara paralel. Ini adalah dosa umat manusia yang terbesar dan paling serius. Sebagai orang-orang Kristen atau pemimpin gereja, apakah kita akan menjadi munafik dan menjadi seperti orang demikian?

Ayat 6-7 menjelaskan bahwa TUHAN tidak diam, menanggapi pertanyaan dalam Yes. 64:12, dan pada saat yang sama juga menjelaskan: Allah bukan berdiam diri, tidak hanya akan mengubah gurun menjadi yang baik, tetapi terlebih dahulu akan menangani dosa-dosa umat. Allah peduli dengan kehidupan manusia jauh melebihi upaya pencitraan, Dia lebih peduli pada karakter manusia daripada keindahan Kota Suci. Allah akan melaksanakan pembalasan, Ia akan mengadakan pembalasan atas segala kesalahan mereka sendiri, maupun atas kesalahan nenek moyang mereka, maka respons Allah terhadap orang jahat adalah pembalasan. Karena itu, ketika kehidupan kita menghidupi kesombongan dan kemunafikan, Tuhan akan membalas semua ini, tetapi itu hanya masalah cepat atau lambat waktunya saja.

Renungkan:
Kita harus selalu mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang mendapatkan anugerah, ketika kita menganggap diri kita terlalu tinggi dan berpikir bahwa kita terlalu suci kudus, dan lalu memandang orang lain rendah, kita mulai jatuh ke dalam kesombongan dan kemunafikan. Salah satu dosa yang paling umum dalam gereja adalah bahwa seorang pemimpin menggunakan apa yang disebut penampilan saleh dirinya untuk melakukan apa yang menurut hukum Allah adalah tidak bermoral, dan kemudian menggunakan penampilan rohani sebagai jubah penutup. Tuhan akan menghakimi orang-orang seperti itu. Dan apakah saya juga termasuk salah satunya? Kiranya Tuhan berbelas kasih kepada kita.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 4:1-8 (2)

「Jauhi Perzinaan」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 4:1-8 [ITB])
1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

Paulus tidak meninggalkan tuntutan menjadi suci dan menjauhi perzinaan hanya pada level prinsip atau slogan, ia menekankan bahwa orang percaya tahu bagaimana menjaga tubuh mereka dengan kekudusan, yang harus dilaksanakan menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Teks asli tubuh adalah bejana, kadang-kadang dipahami sebagai istri, tetapi lebih umum diterjemahkan sebagai tubuh, karena di 2 Kor. 4:7 Paulus pernah menyebut tubuh kita sebagai bejana tanah liat. Ada juga orang yang mengusulkan untuk menafsirkannya sebagai alat kelamin laki-laki. Terlepas dari makna spesifiknya, permintaan Paulus jelas: hendaklah mengendalikan tubuh dengan kekudusan dan kehormatan, dan jangan biarkan itu dipimpin oleh nafsu.

Dalam 4:6 supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. Paulus tampaknya menunjuk sesuatu yang berbeda, ia tidak hanya ia umumnya mengatakan bahwa orang Kristen hendaklah tidak melakukan hubungan seks di luar nikah, termasuk pelacur, tetapi juga secara khusus menyebutkan bahwa mereka tidak boleh memiliki hubungan di luar nikah dengan istri saudara, ini bukan sudah melampaui batas yang atur oleh Tuhan, juga menindas memperdaya saudaranya. Tuhan sangat tidak menyukai dengan perbuatan jahat seperti itu dan pasti akan membalasnya.

Tidak jelas apakah gereja di Tesalonika terdapat perbuatan jahat seperti itu. Mungkin ini adalah ada hal yang demikian, Paulus diberitahu oleh Timotius, ditangani sendiri oleh Paulus. Tetapi Paulus menekankan bahwa pelajaran ini telah disampaikan kepada mereka sebelumnya, dan dia telah dengan sungguh-sungguh mengatakannya lebih dari satu kali (seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu), maka itu tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, lagi pula, Paulus belum melihat mereka sekitar satu tahun.

Dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini mungkin telah terjadi sebelum Paulus menginjili mereka. Ada pria dan wanita yang memiliki hubungan di luar nikah menerima iman Kristen. Paulus segera menasihati mereka untuk berpisah, kembali ke hubungan perkawinan masing-masing, dan memperingatkan kedua pihak bahwa perbuatan yang buruk seperti itu tidak bisa ditoleransi oleh kekristenan.Kita tidak perlu memperkirakan bahwa pria dan wanita yang berselingkuh pada akhirnya tidak mengikuti saran Paulus dan terus melakukan perzinaan. Jika moral mereka begitu rusak, akan sulit membayangkan bahwa mereka akan mempertahankan iman mereka dan tetap setia kepada Tuhan di tengah-tengah bencana; gereja yang menoleransi dosa tidak akan dapat bertahan lama menghadapi serangan musuh. Mungkin di sini Paulus hanya menyebutkan ulang kisah lama, satu salah dari kasus yang pernah ia tangani sebagai contoh.

Paulus kembali ke ajaran prinsip Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu (4:7-8). Allah adalah Tuhan yang cemburu, orang-orang yang telah Ia pilih dan Ia panggil, orang-orang yang Ia pakai, tidak Ia toleransi untuk tercemar, tetapi menuntut mereka menjadi kudus. Paulus menegaskan kembali bahwa tuntutan kudus suci ini datang langsung dari Tuhan, bukan dari manusia, oleh karena itu, siapa pun yang menolak untuk menerima permintaan ini, mereka bukan menolak ajaran manusia, tetapi mereka menolak Allah, dan itu adalah menolak mematuhi Roh Kudus yang ditempatkan Allah di dalam hati untuk membimbing orang.

Renungkan:
Perintah menjaga kekudusan dalam Alkitab bukanlah bertapa menutup diri di balik pintu, juga bukan menuntut tindakan spektakuler yang tidak dapat dilakukan orang lain (seperti puasa selama empat puluh hari, berdoa tanpa tidur tanpa henti tiga hari dan tiga malam), tetapi apa yang patut dilakukan dan jangan lakukan dalam hubungan antar personal. Ada beberapa hal yang bagaimanapun keadaannya harus kita lakukan, dan ada beberapa hal yang lebih baik mati tidak boleh kita lakukan. Memilih tegar tengkuk keras kepala melakukan kebaikan dan tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan.
Kita menjadi orang kudus di tengah orang banyak. Karena itu, makna orang-orang kudus bersifat sosial dan etis.
Etika seksual Kristen sebenarnya sangat sederhana, ada dua kalimat: tidak berhubungan seks sebelum menikah, dan tidak memiliki hubungan seks di luar nikah setelah menikah. Upaya keras menjaga tubuh sendiri, tidak membiarkan keinginan erotis dalam hati meluap, dan tidak menjadi sasaran godaan eksternal. Selain itu, hormati semua orang di sekitar kita, jangan menganggap lawan jenis sebagai simbol seks dan alat pemuas, atau menjajah kepentingan orang lain, dan puas dengan batasan dan tugas yang telah Tuhan tetapkan bagi kita sendiri.
Namun, kebenaran sederhana seperti itu tidak mudah diikuti. Saat ini kita berada dalam era di mana nafsu berlebihan, dan kebebasan individu dijunjung tinggi sebagai prinsip tertinggi, nafsu dianggap alami, dan segala sesuatu yang alami adalah wajar dan manusiawi, dan mengendalikan keinginan nafsu dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Mengapa tidak boleh? ini pertanyaan yang sering kita ajukan dan juga menjadi alasan bagi ketidaktaatan kita pada tuntutan kekudusan.
Kita harus mengingat ajaran 4:7-8: tuntutan kekudusan adalah berasal dari Tuhan, menolak tuntutan kekudusan sama dengan menolak Tuhan. Ini bukan penolakan atas tradisi, atau moral puritan yang sudah ketinggalan zaman, atau dominasi kekuasaan diktator dari paham monogami, tetapi menolak perintah langsung dari Allah.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 6:1-2

「Tinggalkan Hal-hal Dunia, Menjadi Milik Tuhan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 6:1-2 [ITB])
1 TUHAN berfirman kepada Musa: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, mengucapkan nazar khusus, yakni nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN

Bilangan pasal 6 (klik untuk membaca). Ada orang yang bersedia menjalani kehidupan yang mengkhususkan dirinya bagi TUHAN di dalam masyarakat sekuler, dan mereka berbeda dari orang banyak pada umumnya. Mereka dikenang oleh Allah dan manusia, bukan karena pencapaian dan perbuatan mereka yang hebat, tetapi karena sikap mereka terhadap kehidupan dan kesaksian hidup mereka. Sebenarnya, karakter spiritual mereka yang luar biasa dan kaya berkelimpahan adalah pelayanan yang paling kuat. Orang-orang semacam itu dalam Perjanjian Lama secara khusus disebut orang nazir.

Kata orang nazir (nezer) berasal dari kata dipisahkan (nāzar) adalah sebuah nazar yang terdapat dalam Alkitab yang disediakan untuk orang secara sukarela menjalani kehidupan suci yang setara dengan kehidupan seorang imam. Bilangan pasal 6 mencatat tentang orang-orang nazir : (1) Boleh pria maupun wanita: mungkin termasuk para pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (Kel. 38:8). Kontras dibandingkan dengan imam-imam yang dibatasi hanya untuk keturunan laki-laki Harun. (2) Boleh hanya untuk suatu tenggat waktu atau seumur hidup untuk Tuhan: namun, untuk menghindari ketidakseriusan, tradisi Yahudi mensyaratkan bahwa nazar kaum nazir setidaknya satu bulan. (3) Meninggalkan hal-hal dunia: dalam kehidupan dan penampilan, mereka berbeda dari orang pada umum. (4) Menjadi milik Tuhan: yang terlebih penting adalah menjalani kehidupan yang mengikuti kehendak Tuhan, dan hidup hanya untuk Tuhan. Ini adalah nazar hidup, bukan nazar pekerjaan. Tidak peduli apa yang dilakukan, tetapi peduli apa yang tidak dilakukan.

Ada tiga tidak dari nazar kaum nazir:

1) Larangan anggur: merupakan kesediaan untuk menjalani kehidupan sederhana. Anggur melambangkan sukacita yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi orang-orang nazir tidak menginginkan sukacita di dalam dosa atau kesenangan dunia, tetapi hanya senang akan Allah.

2) Larangan cukur rambut: artinya kepatuhan mutlak kepada Tuhan. Orang-orang nazir harus seperti imam besar, dengan tanda yang mudah terlihat di kepala mereka. Imam besar memiliki patam suatu lempengan emas semacam mahkota di dahi dan tertulis kata-kata Kudus (dikhususkan) bagi TUHAN. Orang nazir harus membiarkan rambut mereka tumbuh sepanjang-panjangnya, tidak peduli sebulan atau tiga atau tiga puluh tahun, tidak peduli nyaman atau tidak, apalagi layak atau tidak secara sopan santun. Kepala mewakili pendapat pribadi, dan seseorang yang bahkan tidak memiliki pendapat tentang rambutnya sendiri, mewakili taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Mencintai apa yang Tuhan cintai, membenci apa yang Tuhan benci, dan patuh absolut pada Tuhan. Ini adalah tanda paling menarik mata dari orang-orang nazir, berjalan sampai di mana, bersaksi sampai di sana.

3) Larangan menyentuh mayat: melambangkan kehidupan kudus, karena kematian berasal dari dosa. Dia harus mengikuti standar imam besar, dan dia tidak boleh menyentuh orang mati kapan saja, bahkan ketika kerabat dekatnya sendiri mati (Bil. 6:7; Im. 21:11). Dosa tidak diperbolehkan mencemari kehidupannya

Renungkan:

Terlebih dahulu ada keberadaan (being) lalu melakukan (doing), apakah Anda ingin menjalani kehidupan yang dikhususkan untuk Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

11 April 2019 ● Kamis Minggu Kelima Pra Paskah

Berjuang demi Kekudusan … Allah kita adalah api yang menghanguskan

Ibrani 12:14-29
14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. 17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
18 Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, 19 kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka, 20 Sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: “Bahkan jika binatang pun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu.” 21 Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: “Aku sangat ketakutan dan sangat gementar.” 22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, 23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, 24 dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel.
25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? 26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” 27 Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. 28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. 29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Renungan

Dunia yang kita tinggali saat ini menawarkan banyak godaan yang tidak suci untuk memikat kita dari kehidupan yang disucikan untuk Tuhan: pornografi dan pelacuran yang mudah diakses, gaya hidup pribadi yang berlebihan, berjudi dalam banyak bentuk dan tempat, mungkin bahkan menyamar dengan lapisan kehormatan. Tetapi bukan hanya pencobaan tidak bermoral yang berusaha untuk menggoda kita. Kita tergoda oleh cara-cara dunia. Cara dunia melakukan hal-hal yang berbeda jauh dengan cara Tuhan, tetapi begitu banyak dari kita memilih cara dunia dalam bisnis dan bahkan dalam Gereja. Kadang-kadang cara kita berurusan dengan staf gereja, misionaris dan pendeta, cara kita membuat keputusan, cara kita merencanakan, tidak ada hubungannya dengan rahmat atau Tuhan.

Perikop hari ini mengakui bahwa di Gereja, ada orang-orang yang gagal mendapatkan anugerah Allah. Orang-orang ini mungkin ada di gereja pada hari Minggu, mungkin bahkan melayani di pelayanan, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Mereka tetap berada di luar Kerajaan-Nya.

Bahkan di dalam umat Tuhan, mereka yang mengenal Tuhan, mungkin ada “akar kepahitan” yang menyebabkan pertikaian dan menyebarkan racun. Misalnya, satu pemimpin gereja dapat menjelek-jelekkan pemimpin lain atau gereja lain, atau membuat klaim yang dirancang untuk mempromosikan diri sendiri atau gerejanya sambil meremehkan gereja lain. Orang-orang mungkin tampak suci dari luar, tetapi di dalam batin mereka tidak suci dan mereka membahayakan Gereja secara keseluruhan. Bisakah mereka melanjutkan apa yang mereka lakukan?

Perikop hari ini mengingatkan kita bahwa kita sudah menjadi warga “Kerajaan yang tidak dapat digoyahkan!” Kerajaan ini diperintah oleh Yesus Hakim yang adil yang akan membuat segalanya menjadi benar, yang akan mengguncang bumi dan langit. Sebagai warga negara Kerajaan ini dan sebagai pihak yang akan menghadapi Hakim yang benar ini, kita harus berjuang untuk kekudusan, menjadi kudus seperti Allah kita yang adalah kudus. Tuhan mengijinkan kita untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya. Jadi kita perlu mengejar kekudusan, itu tidak berjalan dengan mudah. Tidak mudah dengan adanya godaan dunia ini.

Tetapi hidup kudus itu, persembahan tubuh kita, itulah ibadah kita yang dapat diterima berkenan. Apa lagi yang dapat kita tawarkan?

Doa

Ya Tuhan, Bapa surgawi, saya tahu bahwa saya kadang-kadang tersesat. Saya tidak selalu memilih cara-Mu. Saya tahu Engkau ingin saya menjadi lebih baik, menjadi suci. Jadi tolonglah saya berjuang demi kekudusan, agar saya tidak menolak Engkau atau cara-Mu, agar saya bersyukur karena menerima Kerajaan yang tidak dapat digoyahkan. Biarkan saya tidak terguncang oleh cara-cara dunia ini. Tetapi biarkan saya menjadi suci, seperti Engkau adalah kudus.

Tindakan
Pertimbangkan apakah ada bagian dari hidup Anda yang tidak kudus dan bertobatlah! Tinggalkan semua kehidupan tidak sesuai moral dan tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat Anda lakukan untuk menjadi lebih suci.

Oleh
Rev Dr Chiang Ming Shun
Dean of Students and Lecturer in Church History
Trinity Theological College

Keluaran 20:15-17

Rasa hormat dan kepuasan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:15-17 [ITB])
15 Jangan mencuri.
16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Perintah kedelapan, jangan mencuri (lō’ tignōb), membahas kekudusan hak milik. Setiap bentuk perampasan kepemilikan: pencurian, penipuan, perampokan, menculik lalu menjual orang sebagai budak, dll (Kel. 21:16), harus dihentikan. Pencurian menyebabkan kerugian secara harta kepemilikan, merusak kepercayaan interpersonal, merusak ketertiban umum, membahayakan keamanan nasional dan terlebih melanggar Allah. Hari ini, kita harus menghormati hak kekayaan intelektual (pengetahuan ?).

Perintah kesembilan, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu, berbicara tentang kekudusan reputasi nama baik. Terutama di pengadilan, saksi palsu dapat membuat orang mati, kejahatan serius terhadap Allah dan masyarakat. Oleh karena itu, sebagian besar negara memiliki undang-undang yang menghukum kejahatan saksi palsu dan tuduhan palsu.

Reputasi nama baik adalah kehidupan kedua seseorang, bahkan banyak orang menganggap reputasi lebih penting daripada kehidupan, dan mereka tidak ragu untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dengan kematian. Terlepas dari fitnah pribadi atau publik, desas-desus yang disengaja atau penyebaran yang tidak disengaja, itu adalah kerusakan besar pada reputasi pribadi, bahkan jika dapat diklarifikasi kelak, sulit untuk menyembuhkan hati yang sudah terluka.

Perintah kesepuluh, jangan serakah (lō’ taḥmōd), membahas kekudusan motivasi. Perintah keenam hingga kesembilan adalah tentang perilaku lahiriah, sedangkan perintah kesepuluh adalah tentang motivasi batin. Ini menunjukkan bahwa Allah memandang penting hati dan pikiran orang, dan merupakan pendahuluan bagi Khotbah di Bukit dari Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru, memberi orang motivasi yang lebih dalam dan standar yang lebih tinggi.

Arti asli dari keserakahan adalah iri hati, nafsu, dan mencintai, dan juga digunakan untuk merujuk pada ketamakan dan keserakahan. Perintah kesepuluh melarang hawa nafsu yang tidak patut, mencintai istri orang lain (menghina kekudusan pernikahan), menginginkan rumah orang lain, mencintai hamba orang lain, lembu dan keledai, dan sebagainya milik orang (tidak menghormati kekudusan kepemilikan). Selain itu, Alkitab berbicara tentang objek keinginan, termasuk tanah, emas dan perak, dan berhala.

Untuk menghindari keserakahan, maka harus selalu bersyukur dan menikmati rasa aman di dalam Allah. Jangan khawatir tentang hari esok, tetapi milikilah prioritas yang tepat untuk hidup. Menghargai dan menghormati keberhasilan orang lain, rela berbagi dengan orang lain, tidak meminta imbalan apa pun, belajar bahwa memberi lebih berbahagia merupakan berkat daripada menerima.

Renungkan:
(1) Sepuluh Perintah dimulai dengan aspek iman (Perintah Pertama: percaya satu Allah yang benar), tetapi juga diakhiri dengan aspek iman (Perintah Kesepuluh: memiliki Allah adalah kebahagiaan, bersyukur, tahu puas diri).
(2) Menaati atau melanggar perintah Allah tidak dimulai dari perilaku yang sebenarnya, tetapi dimulai dari motivasi dan pikiran hati orang tersebut.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.