「Kekudusan adalah Relasi Ketundukan Bawahan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Petrus 1:14-16 [ITB])
14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: 「Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.」
(Terjemahan penulis)
14 Sebagai anak-anak yang taat, jangan meniru keinginan nafsu keinginan bodoh kamu sekalian yang dahulu,
tetapi seperti Yang Kudus memanggil engkau, dalam setiap tindakan, engkau kudus
karena demikian, tertulis di Kitab Suci: 「Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus.」
Jika hanya melihat perikop ini saja dan mengabaikan teks sebelumnya, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam diskusi yang sekadar etika moralitas, berpikir bahwa ini menghendaki setiap perilaku orang percaya harus menjadi kudus (secara moral saja), dan tidak memiliki batasan moral sama sekali. Ya, dalam berbagai kategori kita harus hidup menjadi contoh yang sempurna. Namun, mungkin pengalaman hidup kita memberi tahu kita betapa buruknya kita, hanya sepenuhnya karena perlindungan anugerah saja yang mencegah kita terpeleset kaki kita, alih-alih hanya mengandalkan kesempurnaan kita sendiri.
Seperti yang dibahas dalam renungan selama 13 hari ini, inti terpenting bukan sekadar moralitas dan etika, ini memaksa kita untuk merenungkan kembali: tema teologis utama apa yang hendak dibawakan kalimat 「Kamu sekalian kudus, karena Aku adalah kudus」 yang dikutip dari kitab Imamat dalam Perjanjian Lama? Supaya kita bisa memahami lebih dalam apa yang dimaksud ayat ini.
Bayangkan kehidupan orang-orang Ibrani yang masih hidup di Mesir, mereka mungkin harus mengikuti instruksi para Fir’aun pada zaman mereka, tidak peduli apa pun, gaya hidup mereka harus mengikuti perintah orang bangsa lain, tetapi ketika mereka ingin menjalani kehidupan baru, menjadi umat Allah, mereka harus meletakkan apa yang telah mereka teladani taati, dan belajar baru bagaimana menjadi umat Tuhan. 「Situasi」 ini adalah konsep yang diterapkan Petrus kepada orang-orang percaya yang tersebar di Asia Kecil, mereka harus belajar baru, cara menjadi umat Tuhan di lingkungan aniaya.
Tetapi dalam pengalaman Keluaran dari Mesir, banyak umat Tuhan terus mencobai Tuhan dan berharap untuk kembali ke Mesir, dan menginginkan untuk kembali ke lingkungan lama yang mereka kenal, bahkan mereka tidak ragu-ragu jika hidup ini harus tunduk menaati perlakuan kekejaman Firaun lagi; mereka juga mencobai pemimpin — Musa yang diutus oleh Tuhan — untuk menantang otoritas dan kepemimpinan Tuhan, atau terinfeksi tertular bangsa-bangsa asing, perlahan-lahan menjauh dari Allah sejati yang membawa mereka keluar dari Mesir. Oleh karena itu, pernyataan kitab Imamat ini bukan berfokus sekadar menyangkut masalah moral, tetapi menitikberatkan bagaimana umat Allah hendak memandang kehidupan baru mereka, hidup yang baru, awal yang baru, atau apakah mereka berpikir bahwa kemabukan itu yang dinamakan kesadaran?
Ternyata dalam kitab Imamat, konsep kudus adalah konsep ketundukan pihak yang lebih rendah (subordinate) kepada pihak yang tinggi, yaitu menyatakan hidup adalah milik Allah. Apakah itu adalah dewa di Mesir, ataukah Allah keselamatan? Apakah itu ketundukan pada nafsu diri, atau apakah itu didasarkan pada rencana Allah sebelumnya (lih. 1 Petrus 1:2)?
Renungkan:
Ilustrasi apa yang dapat digunakan sebagai ringkasan renungan hari ini? Saya kira itu olahraga, atau bagaimana seorang pria berusia empat puluhan memandang olahraga (saya mengambil contoh diri saya sendiri), saya akan mengatakan bahwa saya adalah seorang yang berolahraga, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa saya seorang olahragawan. Secara teori seharusnya melakukan olahraga, tetapi setiap kali saya harus berusaha keras dan memaksa diri untuk berolahraga, sekadar memenuhi tuntutan saja, lalu menyangka bahwa saya seorang olahragawan, tetapi sebenarnya saya tidak pernah termasuk dalam kategori olahragawan (sejenis penundukan diri memenuhi kriteria olahragawan).
Bukankah sering kali demikian itu pengalaman kita sebagai umat Allah?
Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.