Tag Archives: Sepuluh Hukum

Roma 13:6-7

「Bayarlah Pajak yang Harus Dibayar. Hormatilah yang Berhak Menerima」
Oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 13:6-7 [ITB])
6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Lukas 3:12-14
Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: Guru, apakah yang harus kami perbuat? Jawabnya: Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.
Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: Dan kami, apakah yang harus kami perbuat? Jawab Yohanes kepada mereka: Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.

Di Rom. 13:6-7, Paulus membahas topik yang sangat konkret, yaitu masalah membayar pajak. Dia membawakan dua prinsip penting: bayarlah pajak yang harus dibayar! Berikan penghormatan kepada orang yang berhak menerima hormat! Di Roma pasal 13 ini, Paulus berbicara tentang prinsip-prinsip dasar, ia tidak berbicara tentang masalah dan ketegangan yang umum dialami, misal: 1) Jika ada pejabat meminta pembayaran pajak melampaui ketentuan yang seharusnya? 2) Apakah pajak yang ditetapkan oleh pemerintah terlalu berat? Injil Lukas mencatat peringatan Yohanes Pembaptis kepada para pemungut cukai untuk tidak menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan, dan prajurit-prajurit tidak menindas rakyat. Alkitab di bagian kitab nabi-nabi memiliki banyak ayat yang berurusan dengan masalah menarik pajak yang berlebihan atau penyalahgunaan kekuasaan. Yesaya mengecam ketidakadilan:Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri! Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa seperti dengan tali gerobak … yang membenarkan orang fasik karena suap dan yang memungkiri hak orang benar(Yes. 5:8, 18, 23)

Berkenaan dengan prinsip-prinsip perpajakan alkitabiah, beberapa ahli telah mengusulkan enam prinsip yang berharga sebagai referensi kita. 1) prinsip otorisasi: pejabat hanya dapat bertindak sesuai dengan hak yang diberikan, jika petugas dipilih oleh rakyat, akan ada pemeriksaan, keseimbangan dan pengawasan. Pejabat adalah pelayan publik rakyat, bukan tuan raja, mereka tidak bisa menarik pajak berlebihan, juga tidak bisa secara sewenang-wenang menyita harta kepemilikan orang lain. 2) prinsip kasih dan kemurahan hati: kita harus memberikan ruang bagi orang miskin untuk bertahan hidup secara wajar, seperti halnya Rut dapat pergi kepada Boas untuk mengumpulkan gandum di sudut ladang. Peraturan pajak pemerintah juga harus bisa mendorong orang untuk melakukan lebih banyak perbuatan amal. 3) sesuai dengan prinsip kebutuhan pendanaan: pemerintah bukan raja penguasa, tidak bisa menarik pajak berlebihan, merancang pajak sesuai dengan kebutuhan pengeluaran yang masuk akal. 4) sesuai dengan prinsip keadilan: Setiap orang dilahirkan sama, pajak tidak dapat dibagi ke dalam kasta atau kesukuan. 5) manajemen multi-fungsi: Allah membangun manajemen duniawi dan spiritual, sistem perpajakan pemerintah harus memungkinkan kelompok-kelompok agama memiliki ruang hidup yang wajar. 6) prinsip kesederhanaan dan kepedulian untuk generasi masa depan: tidak boros, tidak berhutang berlebihan, tidak terlalu berambisi, agar tidak menyebabkan kebutuhan menarik pajak yang berlebihan, memberatkan generasi sekarang dan masa depan.

Berilah rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima! Ini juga merupakan prinsip etika Kristen yang sangat penting. Ketika Calvin menggunakan kerangka Sepuluh Perintah untuk melihat etika Kristen, ia mempelajari berbagai peraturan Taurat Musa dan menempatkan ajaran yang relevan dalam kerangka Sepuluh Perintah. Ketika sampai pada perintah kelima berbakti kepada orang tua, pemikiran Reformed menempatkan hubungan antara dua generasi anak dan orang tua, hubungan antara tuan dan pelayan, hubungan antara pejabat dan rakyat dalam satu perintah yang sama ini. Calvin berkata: Prinsip inti adalah bahwa tatanan dan persyaratan yang sah, harus kita hormati. Tetapi di luar yang layak, itu menjadi ilegal, tidak seharusnya dihormati, dan harus ditegur. Raja Ahab melanggar batas kebun anggur Nabot, dikutuk dan dituntut tanggung jawabnya oleh Allah. Oleh karena itu, para pejabat tidak dapat menyalahgunakan kekuasaan, mereka juga tidak bisa membengkokkan hukum demi keserakahan mereka! Ada sebuah kalimat terkenal dalam sejarah kekristenan: Hukum yang Tidak Adil bukanlah Hukum sama sekali (An Unjust Law is No Law At All.)

Calvin berkata dengan baik: Para petugas harus mempelajari apa panggilan dan tanggung jawab mereka, karena mereka tidak memerintah demi kepentingan mereka sendiri, tetapi untuk kepentingan semua orang, dan mereka tidak diberi kekuasaan tidak terbatas, tetapi demi kepentingan warganya, tujuan inilah membatasi kekuasaan mereka; secara sederhana, mereka bertanggung jawab kepada Tuhan dan kepada orang lain ketika mereka menggunakan kekuasaan mereka. Dapat memilih pejabat yang saleh, bijaksana, disiplin diri, mencintai rakyat, tidak sombong, terawasi, dan ada pergantian, ini adalah sistem yang diberkati dan yang alkitabiah. Kita berharap bahwa pemerintah dan rakyat takut akan Tuhan, masing-masing melakukan bagiannya, untuk memungkinkan rakyat hidup serta bekerja dalam kedamaian dan ketentraman, rakyat dapat memiliki kebebasan beragama untuk mencari dan menyembah Tuhan.

Renungkan:

Ketika berbicara tentang perpajakan, prinsip perpajakan apa yang Anda rasakan lebih masuk akal dan mana yang tidak masuk akal?

Ketika orang Kristen menghadapi perpajakan, beberapa orang akan mencari lubang untuk secara legal menghindari pajak. Bagaimana Anda melihat perilaku ini?

Bayarlah pajak yang harus dibayar! Berikan penghormatan kepada orang yang berhak menerima hormat. Apakah Anda setuju? Apakah Anda setuju dengan enam prinsip pajak tersebut di atas?


Renungan pemahaman Surat Roma (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Roma pasal 12-16 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan November 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

16 Maret 2019 ● Sabtu Minggu Pertama Pra Paskah

Engkau Akan Menjadi Umat Yang Kudus Bagi Tuhan Allahmu

Ulangan 26:16-19
16 “Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. 17Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.
18 Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, 19dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.”

Renungan

Kekudusan adalah panggilan tertinggi bagi umat perjanjian-Nya. Tuhan Allah menghendaki pesan ini disampaikan sebelum Dia memberikan taurat-Nya kepada bangsa Israel. “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Kel. 19:6)

Ini adalah panggilan kolektif bagi umat yang telah ditebus-Nya dan bersamaan dengan itu muncul identitas dan martabat baru. – “Bangsa yang kudus dan milik Allah yang berharga.” Mereka di masa lalu adalah bangsa tanpa identitas dan martabat. Allah yang memberikan hak istimewa kepada mereka yang dibawah perbudakan selama bergenerasi. Semata-mata karena anugerah-Nya! Sebagai umat Allah mereka dipanggil untuk memiliki dan menjaga identitas ini. Hal ini akan memberikan mereka motivasi yang cukup untuk maju menuju Tanah Perjanjian. Tetapi mereka akan melewati bangsa-bangsa kafir. Sebagai umat tebusan, adalah tantangan untuk melindungi perbedaan mereka selagi mereka berjalan di padang belantara. Walaupun terlantar mereka tidak dipermalukan.

Mereka menyadari bahwa kekudusan mereka berakar di dalam kekudusan Allah. Bukan semata-mata kemurnian eksternal yang dari luar, melainkan dari dalam. Kebenaran Allah sekali lagi mengingatkan mereka, ‘Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2, 1 Petrus 1:16)

Penebusan Israel memiliki tujuan yang lebih hebat untuk dipenuhi. Mereka dipisahkan untuk tujuan Allah. Gaya hidup mereka yang disucikan akan menggemakan “Tuhanlah Allah kami”. Dalam berbuat demikian, ketaatan umat Allah dan kesetiaan kepada YHWH akan jelas. Apakah yang dapat diperbuat umat pilihan-Nya lebih baik dari hal ini? Kesepuluh Hukum Allah bukan hanya untuk dihafalkan dan disimpan di dalam hati mereka. Mereka harus menaatinya. Camkan kata-kata – “serta melakukan semuanya itu dengan teliti”; Allah memberikan kebebasan yang memerlukan mereka untuk menaati-Nya. Benar, ketaatan pada Allah adalah kriteria yang sangat penting! Tetapi mereka perlu melakukan lebih dari sekedar secara ketat mengikuti ketetapan-ketetapan tersebut. Ketaatan mereka hendaklah spontan, memancarkan kasih dan kesetiaan pada Allah. Sekali lagi camkan kata-kata, “dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu “. Ini hanya mungkin jika ada keinginan untuk menyenangkan-Nya dengan kesetiaan yang tak terbagi-bagi.

Hadiah ketaatan datang dari Allah. Lihatlah janji Allah, “Dia akan memberimu pujian dan kemasyhuran dan penghormatan tinggi di atas segala bangsa yang telah Dia buat, dan bahwa kamu akan menjadi bangsa yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang Dia janjikan.” Umat Allah adalah imam kerajaan yang menyatakan pujian-Nya untuk Bangsa-Bangsa. Sungguh menakjubkan melihat bagaimana Allah menggenapi tujuan misi-Nya melalui umat-Nya yang telah ditebus. (1 Pet 2:9 -10)

Doa

Allah yang Kudus! Terima kasih telah memanggil kami menjadi umat-Mu yang kudus. Kami sangat berterima kasih karena Engkau telah menebus kami dengan darah-Mu yang berharga. Kami mengerti tantangan dan harapan-Mu. Dunia di sekeliling kami penuh dengan praktek tak memiliki Tuhan dan korupsi. Berikan kami tekad untuk menjaga kekudusan hidup selagi kami hidup di bumi.

Kami bersandar pada anugerah-Mu bukan kekuatan kami. Tolonglah kami untuk tidak kehilangan kehendak-Mu menjadi kudus. Ingatkan kami untuk panggilan tertinggi menjadi bangsa yang menghargai bahwa kami adalah umat kepunyaan-Mu di dalam perjalanan kami sehari-hari.

Tindakan

Ini adalah dunia pengejar kesuksesan. Filsafat “bagaimanapun” dan “seperti apapun” mengabaikan cara Allah. Di dalam proses mencapai kesuksesan kita mungkin saja korupsi.

Marilah kita bertekad hidup di dalam jalan dan cara Allah selagi kita melayani-Nya.
Marilah kita mencari persetujuan Allah bukan penghargaan manusia di dalam perjalanan hidup sehari-hari kita.

Oleh

Rev Ranganathan Prabhu
Pastor
The Methodist Church in Singapore

Keluaran 21:12-17

Kejahatan berat dan hukuman mati

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 21:12-17 [ITB])
12 Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.
13 Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.
14 Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu dari mezbah-Ku, supaya ia mati dibunuh.
15 Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati.
16 Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati.
17 Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati.

Kel. 21:12-17 khusus menyebutkan tiga jenis kejahatan yang dihukum mati, termasuk pembunuhan, memukul ayahnya atau ibunya, dan perdagangan manusia, merupakan kejahatan serius, sesuai dengan perintah kelima, keenam, delapan.

Pembunuhan yang disengaja, termasuk penggunaan senjata mematikan, pembunuhan dengan motivasi (dendam hati), dengan sengaja berusaha membunuh, dll, harus dihukum mati (Bil. 35:16-21). Jika itu bukan pembunuhan yang disengaja, tetapi kecelakaan, Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari, yaitu mezbah yang dibicarakan di ayat 14 selanjutnya, yang merupakan pendahulu dari kota perlindungan kelak.

Memukul ayahnya atau ibunya, bahkan walaupun tidak menyebabkan cedera fatal, tetap merupakan kejahatan pembangkangan yang serius, karena menyangkal asal kelahiran dirinya dan menyerang otoritas yang ditetapkan Allah dalam keluarga.

Perdagangan manusia adalah kejahatan ketiga yang dihukum mati, karena merampas identitas diri seseorang, dan memotong hubungan dengan keluarganya, lebih berat daripada pencurian harta, ataupun menduduki tanah orang lain.

Hukuman mati adalah penghormatan terhadap hidup. Pada awal Allah telah memberikan berkat kepada Nuh, Allah sudah menetapkan kriteria sebagai berikut: Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri (Kej. 9:6). Prinsip Allah sangat jelas: (1) Ia tidak mengizinkan pembunuhan, (2) Jika seseorang membunuh nyawa orang lain, ia harus membayar nyawanya, (3) Hal ini didasarkan pada prinsip penciptaan oleh Allah, karena manusia adalah gambar dan rupa Allah, membunuh orang lain berarti menghancurkan gambar dan rupa Allah.

Renungkan:
Allah sangat menghargai nyawa kehidupan, kehidupan keluarga, dan hak hidup orang. Bagaimana Anda hendak melaksanakan prinsip ini dalam kehidupan Anda?


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:15-17

Rasa hormat dan kepuasan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:15-17 [ITB])
15 Jangan mencuri.
16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Perintah kedelapan, jangan mencuri (lō’ tignōb), membahas kekudusan hak milik. Setiap bentuk perampasan kepemilikan: pencurian, penipuan, perampokan, menculik lalu menjual orang sebagai budak, dll (Kel. 21:16), harus dihentikan. Pencurian menyebabkan kerugian secara harta kepemilikan, merusak kepercayaan interpersonal, merusak ketertiban umum, membahayakan keamanan nasional dan terlebih melanggar Allah. Hari ini, kita harus menghormati hak kekayaan intelektual (pengetahuan ?).

Perintah kesembilan, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu, berbicara tentang kekudusan reputasi nama baik. Terutama di pengadilan, saksi palsu dapat membuat orang mati, kejahatan serius terhadap Allah dan masyarakat. Oleh karena itu, sebagian besar negara memiliki undang-undang yang menghukum kejahatan saksi palsu dan tuduhan palsu.

Reputasi nama baik adalah kehidupan kedua seseorang, bahkan banyak orang menganggap reputasi lebih penting daripada kehidupan, dan mereka tidak ragu untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dengan kematian. Terlepas dari fitnah pribadi atau publik, desas-desus yang disengaja atau penyebaran yang tidak disengaja, itu adalah kerusakan besar pada reputasi pribadi, bahkan jika dapat diklarifikasi kelak, sulit untuk menyembuhkan hati yang sudah terluka.

Perintah kesepuluh, jangan serakah (lō’ taḥmōd), membahas kekudusan motivasi. Perintah keenam hingga kesembilan adalah tentang perilaku lahiriah, sedangkan perintah kesepuluh adalah tentang motivasi batin. Ini menunjukkan bahwa Allah memandang penting hati dan pikiran orang, dan merupakan pendahuluan bagi Khotbah di Bukit dari Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru, memberi orang motivasi yang lebih dalam dan standar yang lebih tinggi.

Arti asli dari keserakahan adalah iri hati, nafsu, dan mencintai, dan juga digunakan untuk merujuk pada ketamakan dan keserakahan. Perintah kesepuluh melarang hawa nafsu yang tidak patut, mencintai istri orang lain (menghina kekudusan pernikahan), menginginkan rumah orang lain, mencintai hamba orang lain, lembu dan keledai, dan sebagainya milik orang (tidak menghormati kekudusan kepemilikan). Selain itu, Alkitab berbicara tentang objek keinginan, termasuk tanah, emas dan perak, dan berhala.

Untuk menghindari keserakahan, maka harus selalu bersyukur dan menikmati rasa aman di dalam Allah. Jangan khawatir tentang hari esok, tetapi milikilah prioritas yang tepat untuk hidup. Menghargai dan menghormati keberhasilan orang lain, rela berbagi dengan orang lain, tidak meminta imbalan apa pun, belajar bahwa memberi lebih berbahagia merupakan berkat daripada menerima.

Renungkan:
(1) Sepuluh Perintah dimulai dengan aspek iman (Perintah Pertama: percaya satu Allah yang benar), tetapi juga diakhiri dengan aspek iman (Perintah Kesepuluh: memiliki Allah adalah kebahagiaan, bersyukur, tahu puas diri).
(2) Menaati atau melanggar perintah Allah tidak dimulai dari perilaku yang sebenarnya, tetapi dimulai dari motivasi dan pikiran hati orang tersebut.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:12-14

Keluarga dan kehidupan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:12-14 [ITB])
12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
13 Jangan membunuh.
14 Jangan berzinah.

Perintah kelima, agar menghormati ayah dan ibu. Kata kerja kabbēd (bentuk bahasa yang diperkuat) digunakan untuk menjunjung tinggi menghormati / memuliakan Allah, agar manusia dengan sikap hormat kepada Allah untuk berbakti dan menghormati orang tua. Orang tua adalah wakil yang dibentuk oleh Allah dalam setiap keluarga, anak-anak menghormati orang tua mereka dan dengan demikian belajar menghormati Allah. Kitab Ulangan dalam interpretasinya terhadap Sepuluh Hukum, ketika berbicara tentang hukum kelima, menyebutkan hakim, raja, imam dan nabi (Ulangan pasal 13 – 18), mereka adalah wakil Allah di bumi, karena mereka menyampaikan Firman (nabi), mengajakan Firman (imam), melaksanakan (raja), dan menjaga mempertahankan Firman (hakim), dan memanifestasikan kewenangannya, yang sama dengan otoritas orang tua di rumah.

Pepatah Mandarin mengatakan: 100 kebajikan yang paling utama berbakti menghormati orang tua, Sepuluh Hukum juga mengajarkan bahwa menghormati Allah dan mengasihi sesama manusia dimulai dari berbakti kepada orang tua, ini merupakan nilai yang universal. Sebagai anak orang, sepatutnya di dalam Tuhan menaati orang tua, menghormati mereka, mendukung mereka, membuat mereka bahagia, dan bahkan harus peduli apakah orang tua percaya kepada Tuhan.

Perintah keenam berbicara tentang nyawa hidup adalah sakral, melarang merampas nyawa manusia di luar batas yang ditetapkan oleh Allah (misalnya, perang atau eksekusi hukuman mati). Jangan membunuh (lō’ tirṣāḥ), dalam terjemahan Yunani dari Septuaginta LXX diterjemahkan sebagai phoneuō pembunuhan. Ketika Perjanjian Baru berbicara tentang Sepuluh Hukum, digunakan kata bahasa Yunani yang sama (Roma 13:9). Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26), siapa pun yang merampas kehidupan orang lain akan menghancurkan gambar Allah (Kejadian 9:5-6). Penghormatan terhadap nyawa kehidupan tidak hanya secara pasif tidak mencelakai kehidupan, tetapi juga secara aktif meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan manusia, serta mendukung orang tua, orang lemah, orang sakit, dan orang cacat.

Perintah ketujuh Jangan berzina berbicara tentang kekudusan pernikahan. Pernikahan adalah sistem sosial pertama yang didirikan Allah (Kej. 24), dari awal adalah satu pria dengan satu wanita, monogami seumur hidup (Kej. 2:18-25). Perceraian dan pernikahan kembali, atau perselingkuhan, merusak perjanjian pernikahan (Maleakhi 2:14). Perselingkuhan seseorang terhadap pasangannya juga melambangkan pelanggaran terhadap perjanjian komitmen kepada Allah, dan dianggap sebagai dosa yang serius. Bukan saja kita tidak boleh menghancurkan pernikahan, tetapi kita harus melakukan yang terbaik untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pernikahan.

Renungkan:
(1) Memelihara hari Sabat satu minggu demi satu minggu, membangun keluarga berkembang biak generasi demi generasi, keduanya adalah pusat Sepuluh Hukum, agar melanjutkan kehidupan, kehidupan yang berkembang.
(2) Alkitab sering menggunakan kasih antara suami dan istri, serta kasih sayang yang mendalam antara ayah dan anak untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:3-6

Hormat dan menyembah Allah

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:3-6 [ITB])
3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,
sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Setidaknya ada beberapa karakteristik dari Sepuluh Hukum: (1) bersifat universal (universality) dan sifat partikular (particularity), (2) kesederhanaan (simplicity) dan kompleksitas (complexity), (3) harus diajarkan, (4) sifat aktif (perintah) dan sifat larangan, (5) membentuk kehidupan moral dan etika, (6) mempengaruhi etika beribadah di gereja.

Perintah pertama Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku, pertama-tama berbicara tentang kepada siapa penyembahan kita, satu-satunya Allah yang sejati. Perintah ini berbicara tentang sifat keunikan Allah dan pentingnya percaya kepada TUHAN. Dalam hidup tidak boleh ada allah lain, hanya satu Allah saja. Keunikan Allah tiada yang lain adalah dasar tuntutan kesetiaan total terhadap Allah. Ul. 6:4- 5 adalah bentuk positif dari perintah ini: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Mengasihi Allah adalah manifestasi dari kesetiaan menjaga perjanjian, memiliki antusias yang kuat, dari dalam mengalir keluar, dan berkomitmen sepenuhnya kepada Allah. Merealisasikan iman di semua aspek kehidupan, mempengaruhi lingkaran kehidupan, termasuk keluarga, tempat kerja dan kehidupan sosial. Iman diwariskan dalam keluarga dan diimplementasikan dalam mengasuh dan mendidik anak.

Perintah kedua berbicara tentang cara beribadah: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, jangan membuat berhala, jangan menyembah berhala apa pun. Kemudian, Musa secara khusus menjelaskan perintah ini (Ulangan 4), yang menyerupai apapun yang ada di langit adalah mengacu pada matahari, bulan, bintang, atau burung. Lalu yang menyerupai apapun yang ada di bumi mengacu pada semua jenis hewan dan binatang melata. Dan yang menyerupai apapun yang ada di air mengacu pada semua jenis ikan. Tentu juga termasuk melarang patung menyerupai laki-laki atau perempuan untuk disembah sebagai allah.

Ini bukan saja mencakup patung-patung bangsa dan agama asing, bahkan tidak boleh membuat patung bagi TUHAN. Karena Allah dari tidak menampilkan gambar apapun dari-Nya sendiri (Ul. 4:15-16), tidak pernah memakai patung untuk mewakili Allah, yang membuat Allah Pencipta direndahkan menjadi ciptaan. Calvin mengatakan: Setiap patung atau gambar apapun untuk mewakili Allah tidak berkenan kepada Dia, karena merupakan penodaan bagi martabat Allah.

Renungkan:
(1) Semua hukum yang lain berakar pada iman terhadap satu Allah yang benar, tanpa hukum pertama maka tidak ada hukum perintah yang lain.
(2) Percaya kepada satu-satunya Allah yang benar, dan beribadah menurut cara yang telah Dia tetapkan, bukan menurut imajinasi manusia, apalagi dengan cara kafir.
(3) Saat ini, orang percaya mungkin tidak memiliki berhala yang berwujud, tetapi harus menghilangkan berhala di dalam hati, segala yang menggantikan posisi Allah, termasuk ketenaran, status, kekuasaan, anak, dan sebagainya.


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:1-2

Mengadakan perjanjian dan mengadakan hukum ketetapan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:1-2 [ITB])
1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 2 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

TUHAN membuat perjanjian dengan umat Israel di Gunung Sinai, catatan Alkitab menunjukkan bahwa format perjanjian tersebut mirip dengan format perjanjian orang Het di Timur Dekat kuno pada abad ke-15 SM, termasuk:
• kata pengantar (kata-kata perjanjian dari raja penguasa suzerain // Akulah TUHAN, Allahmu)
• pendahuluan sejarah (latar belakang perjanjian // membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan)
• persyaratan dasar (menjelaskan hubungan masa depan antara pihak-pihak yang membuat perjanjian, menekankan kesetiaan // Sepuluh Perintah)
• syarat-syarat terperinci (menjelaskan secara terperinci tentang mematuhi perjanjian // kitab perjanjian dan hukum Imamat)
• Berkat dan Kutukan (melanggar perjanjian akan menerima hukuman bencana, memelihara perjanjian akan menerima berkat // Imamat pasal 26, lebih dahulu berbicara tentang berkat baru kemudian berbicara tentang kutuk)
• aturan ketetapan tambahan atas perjanjian (teks perjanjian, disimpan di kuil milik kedua pihak, secara teratur dibaca // dua loh menuliskan Sepuluh perintah yang ditempatkan di dalam tabut perjanjian, karena Allah tidak pernah akan melanggar perjanjian)
• saksi atas perjanjian (tidak ada dalam Alkitab, karena Dia adalah satu-satunya Allah yang sejati dan benar).

Ada empat perjanjian dalam Perjanjian Lama: Perjanjian Nuh, Perjanjian Abraham, Perjanjian Sinai, Perjanjian Daud, dan janji Perjanjian Baru (Yer. 31:31-34). Semua perjanjian dibuat oleh Allah atas inisiatif aktif-Nya, menekankan kasih karunia. Semua perjanjian dibuat dan dijalankan dalam kerangka sejarah, menekankan keselamatan. Kedua pihak yang mengadakan perjanjian adalah independen, menekankan kebebasan. Kedua belah pihak mengadakan perjanjian masuk ke dalam hubungan baru, menekankan komitmen. Perjanjian Abraham dan perjanjian Daud, adalah hadiah Raja yang agung, menekankan janji. Perjanjian Sinai adalah perjanjian Raja yang agung, menekankan kesetiaan.

Allah membuat perjanjian dengan orang Israel dan di Sinai mengumumkan Sepuluh Perintah. Nama Sepuluh Perintah berasal dari Alkitab itu sendiri, terjemahan literal dari bahasa aslinya (‘ăśeret haddəbārîm) adalah sepuluh perkataan atau sepuluh Firman (Kel. 34:28). Karena sebagian besar dari sepuluh Firman adalah larangan, disebut juga sepuluh perintah.

Sepuluh Perintah adalah hukum (tôrâ), arti aslinya adalah petunjuk, ini adalah kunci mengikuti petunjuk firman Allah dan diberkati. Sepuluh Perintah adalah garis besar umum dari etika alkitabiah, berdasarkan sifat kudus Allah dan kehendak baik untuk memberkati. Objek dari Sepuluh Perintah adalah Anda, mengacu pada setiap orang yang berada dalam umat perjanjian. Menekankan pentingnya setiap individu menaati menjalankan hukum ketetapan adalah hal yang penting bagi seluruh umat perjanjian dalam menjaga perjanjian.

Renungkan:
(1) Israel dibebaskan dari Mesir, dan Allah membuat perjanjian dengan mereka, membagikan hukum ketetapan.
(2) hukum ketetapan Allah adalah pedoman, bukan menjajah, tujuannya agar oleh karenanya orang dapat menikmati berkat Allah yang lebih melimpah.
(3) Hari ini, orang percaya dalam Kristus juga memiliki hukum ketetapan yang dianugerahkan Kristus, Khotbah di Bukit, agar orang hidup sesuai dengan kehendak Allah, agar dapat menikmati berkat yang telah Allah persiapkan sebelum penciptaan (Ef. 1:4).


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:1-2

Mengadakan perjanjian dan mengadakan hukum ketetapan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:1-2 [ITB])
1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 2 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

TUHAN membuat perjanjian dengan umat Israel di Gunung Sinai, catatan Alkitab menunjukkan bahwa format perjanjian tersebut mirip dengan format perjanjian orang Het di Timur Dekat kuno pada abad ke-15 SM, termasuk:
• kata pengantar (kata-kata perjanjian dari raja penguasa suzerain // Akulah TUHAN, Allahmu)
• pendahuluan sejarah (latar belakang perjanjian // membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan)
• persyaratan dasar (menjelaskan hubungan masa depan antara pihak-pihak yang membuat perjanjian, menekankan kesetiaan // Sepuluh Perintah)
• syarat-syarat terperinci (menjelaskan secara terperinci tentang mematuhi perjanjian // kitab perjanjian dan hukum Imamat)
• Berkat dan Kutukan (melanggar perjanjian akan menerima hukuman bencana, memelihara perjanjian akan menerima berkat // Imamat pasal 26, lebih dahulu berbicara tentang berkat baru kemudian berbicara tentang kutuk)
• aturan ketetapan tambahan atas perjanjian (teks perjanjian, disimpan di kuil milik kedua pihak, secara teratur dibaca // dua loh menuliskan Sepuluh perintah yang ditempatkan di dalam tabut perjanjian, karena Allah tidak pernah akan melanggar perjanjian)
• saksi atas perjanjian (tidak ada dalam Alkitab, karena Dia adalah satu-satunya Allah yang sejati dan benar).

Ada empat perjanjian dalam Perjanjian Lama: Perjanjian Nuh, Perjanjian Abraham, Perjanjian Sinai, Perjanjian Daud, dan janji Perjanjian Baru (Yer. 31:31-34). Semua perjanjian dibuat oleh Allah atas inisiatif aktif-Nya, menekankan kasih karunia. Semua perjanjian dibuat dan dijalankan dalam kerangka sejarah, menekankan keselamatan. Kedua pihak yang mengadakan perjanjian adalah independen, menekankan kebebasan. Kedua belah pihak mengadakan perjanjian masuk ke dalam hubungan baru, menekankan komitmen. Perjanjian Abraham dan perjanjian Daud, adalah hadiah Raja yang agung, menekankan janji. Perjanjian Sinai adalah perjanjian Raja yang agung, menekankan kesetiaan.

Allah membuat perjanjian dengan orang Israel dan di Sinai mengumumkan Sepuluh Perintah. Nama Sepuluh Perintah berasal dari Alkitab itu sendiri, terjemahan literal dari bahasa aslinya (‘ăśeret haddəbārîm) adalah sepuluh perkataan atau sepuluh Firman (Kel. 34:28). Karena sebagian besar dari sepuluh Firman adalah larangan, disebut juga sepuluh perintah.

Sepuluh Perintah adalah hukum (tôrâ), arti aslinya adalah petunjuk, ini adalah kunci mengikuti petunjuk firman Allah dan diberkati. Sepuluh Perintah adalah garis besar umum dari etika alkitabiah, berdasarkan sifat kudus Allah dan kehendak baik untuk memberkati. Objek dari Sepuluh Perintah adalah Anda, mengacu pada setiap orang yang berada dalam umat perjanjian. Menekankan pentingnya setiap individu menaati menjalankan hukum ketetapan adalah hal yang penting bagi seluruh umat perjanjian dalam menjaga perjanjian.

Renungkan:
(1) Israel dibebaskan dari Mesir, dan Allah membuat perjanjian dengan mereka, membagikan hukum ketetapan.
(2) hukum ketetapan Allah adalah pedoman, bukan menjajah, tujuannya agar oleh karenanya orang dapat menikmati berkat Allah yang lebih melimpah.
(3) Hari ini, orang percaya dalam Kristus juga memiliki hukum ketetapan yang dianugerahkan Kristus, Khotbah di Bukit, agar orang hidup sesuai dengan kehendak Allah, agar dapat menikmati berkat yang telah Allah persiapkan sebelum penciptaan (Ef. 1:4).


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.