Tag Archives: Kitab Keluaran

Keluaran 3:1-12

「Bukti」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Keluaran 3:1-12 [ITB])
1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu? 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: Musa, Musa! dan ia menjawab: Ya, Allah. 5 Lalu Ia berfirman: Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus. 6 Lagi Ia berfirman: Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.
11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir? 12 Lalu firman-Nya: Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 1:15-21

「Penyelamat tanpa nama」

Oleh Rev. Chén Shū Yú(陳淑愉)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 1:15-21 [TB])
15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 16 Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup. 17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.
18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu? 19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin. 20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. 21 Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.
22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.

Keluaran 1:1-7 mengulang daftar keturunan Yakub, menghubungkannya dengan Kejadian pasal 50, dan menekankan bahwa bangsa Israel di Mesir beranak cucu dan bertambah banyak, dan menjadi sangat kuat, memenuhi negeri itu. Keluaran 1:8 menyatakan, Seorang raja baru muncul dan memerintah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Namun, Alkitab tidak secara eksplisit menyatakan berapa lama raja ini berkuasa. Dari perspektif struktur sastra, ini adalah lompatan waktu, beralih dari kebaikan dan kedudukan generasi Yusuf, yang secara singkat memperkenalkan pertumbuhan penduduk Israel, ke rezim baru yang sama sekali tidak mengenal atau mengakui kontribusi Yusuf. Titik baliknya adalah bentrokan antara rezim baru dan peningkatan populasi Israel. Meskipun populasi yang besar umumnya bermanfaat bagi suatu bangsa, ketakutan dan ketidakpercayaan memicu kebencian dan niat membunuh dalam diri raja baru tersebut. Keluaran 1:9-10 menyatakan, Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi … Ini dengan jelas mengungkapkan rasa ancaman yang ditimbulkan oleh peningkatan populasi.

Besarnya populasi Israel sebenarnya merupakan penggenapan bertahap dari janji Allah. Orang Israel dapat melihat berkat ini, tetapi raja baru tidak mengakuinya sebagai kehendak Allah dan malah menggunakan tipu daya manusia untuk menekannya, mengeluarkan dekrit untuk membunuh bayi. Dua bidan Ibrani, yang menolong perempuan Ibrani mendapat perintah dari raja baru untuk menjadi pembunuh, tetapi mereka memiliki kedamaian dan iman karena mereka berdua hormat takut akan Allah. Kedua bidan itu bernama Sifra dan Pua, tetapi setelah nama mereka muncul sekali, selanjutnya dalam pasal ini Alkitab menyebut mereka dengan gelar profesi mereka, bidan. Berapa banyak orang yang mengingat nama mereka ketika berbicara tentang bidan Ibrani? Mengapa penulis menggambarkan mereka seperti ini? Mungkin penulis ingin pembaca memberikan perhatian khusus pada profesi mereka dalam konteks ini. Dibandingkan dengan Firaun baru, kedua bidan itu, yang menghadapi aturan hukum jahat — bahwa bayi laki-laki harus dibunuh sementara bayi perempuan dapat diselamatkan — mereka tidak merasa takut. Mereka menggunakan alasan sehingga menyelamatkan nyawa bayi laki-laki, dan selamat dari seluruh proses dengan damai. Hal ini menunjukkan ketidakpercayaan mereka kepada Firaun dan iman mereka yang teguh kepada Allah, karena keduanya hormat takut akan Allah, yang membentuk kontras yang mencolok dengan raja baru tersebut.

Merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa Allah tidak menyetujui kebohongan kita. Para bidan tahu bahwa hidup adalah milik Allah dan tidak dapat diambil sesuka hati oleh siapa pun, oleh karena itu, pada saat itu, mereka tidak secara lengkap mengatakan kebenaran. (Kedua bidan mengkhinati dosa dan menolak kejahatan demi menjalani kebenaran Allah, ayat 17 bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.) Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci apakah para bidan kemudian mengaku dan bertobat kepada Allah atas perbuatan ini, ayat 20 Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu, menunjukkan bahwa mereka melakukannya, dan bahwa mereka menerima pengampunan Allah.

Perikop ini menunjukkan kontras yang mencolok antara keduabidan dan Firaun. Para bidan lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia, sedangkan Firaun sebaliknya. Para bidan tidak hanya mengorbankan diri mereka untuk menaati Allah, tetapi mereka bahkan mungkin akan mengorbankan nyawa mereka karena tidak menaati Firaun! Para bidan menaati Allah karena takut kepada-Nya; Firaun, di sisi lain, menuruti keinginan jahatnya sendiri karena takut kepada manusia.

Pendudukan Jerman Nazi di Denmark pada Perang Dunia II, tentara Jerman merencanakan penangkapan massal orang Yahudi Denmark dan pemindahan mereka ke kamp konsentrasi. Namun, pada awal Oktober 1943, berita itu bocor secara tak terduga. Dalam beberapa hari, puluhan ribu raktat jelata Denmark — nelayan, perawat, guru, dan tetangga—mengambil risiko dieksekusi oleh tentara Jerman untuk menyelundupkan sekitar 7.000 orang Yahudi ke pantai dan mengangkut mereka ke Swedia yang netral dengan perahu nelayan kecil. Selama Perang Dunia II, sebagian besar warga Denmark secara nominal beragama Kristen. Beberapa berpartisipasi dalam penyelamatan karena keyakinan agama, sementara yang lain bertindak karena pertimbangan kemanusiaan. Terlepas dari itu, sebagian besar individu pemberani ini tidak pernah tercatat namanya dalam buku sejarah. Mereka bukanlah politisi atau jenderal, tetapi orang biasa yang tidak dikenal. Mengapa orang-orang Kristen ini mempertaruhkan nyawa mereka? Diyakini bahwa mereka semua bertekad untuk mematuhi ajaran Alkitab. Kekuatan datang dari Allah dan dapat mengatasi ancaman apa pun.

Refleksi:
Apakah kita taat kepada Allah? Bagaimana perasaan kita jika Tuhan memakai peran kita untuk bekerja dalam kehidupan sehari-hari kita, tetapi pada akhirnya tidak ada yang mengingat nama kita?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Chén Shū Yú(陳淑愉) yang dipublikasi pada bulan Februari 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 18:17-27

「Ciri-ciri kepemimpinan (3) – Membangun tim dan mendelegasikan tugas」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 18:17-27 [TB])
17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya. 24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. 25 Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 26 Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. 27 Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya.

Selama dua hari terakhir, kita telah melihat kualitas kepemimpinan Musa dari Keluaran 18. Kita telah melihat bagaimana ia berinteraksi dengan keluarganya, bersaksi tentang kuasa Allah di hadapan keluarganya, dan mendengarkan nasihat ayah mertuanya. Kita telah mempelajari tiga hal:
Pelajaran 1: Cintailah keluargamu, tetapi jangan biarkan cinta kepada keluargamu lebih besar dari pada kepada Tuhan.
Pelajaran 2: Memperkenalkan yang terbaik yakni TUHAN — kepada keluarga Anda
Pelajaran 3: Pemimpin hebat masih dengan rendah hati mendengarkan nasihat bijak orang lain

Hari ini, kita akan terus melihat bagaimana Musa berhasil mengatasi keterbatasan dan membangun tim. Nasihat dari ayah mertua Musa adalah:
Tetapi mertua Musa menjawabnya: Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya. (Kel. 18:17-23)

Pelajaran 4: Membangun tim dan memilih orang-orang berkualitas untuk berbagi tanggung jawab
Solusi pertama dari Yitro: Menunjukkan akar masalahnya – Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

Solusi kedua dari Yitro: Sampaikan keinginan memberikan masukan – Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Lihatlah apakah pihak lain bersedia mendengarkan Anda. Baru setelah itu Anda dapat melanjutkan. Jika tidak, itu hanya membuang-buang waktu!

Solusi ketiga dari Yitro: Bersikaplah tegas dalam pendapat Anda – jangan hanya menyatakan beberapa prinsip dan konsep secara samar-samar, tetapi juga usulkan rencana terperinci pada saat yang sama. Lihat apa yang dikatakan Yitro? Engkau wakililah bangsa itu di hadapan Allah, hadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah, mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, pekerjaan yang harus dilakukan; dari kriteria sumber daya manusia carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap yaitu: takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap, organisasi yang jelas: tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang, delegasi tugas yang jelas: sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa. Jika Anda ingin mencari bantuan dari orang lain, ingatlah untuk mencari beberapa orang yang dapat memberi Anda hikmat, prinsip, dan langkah-langkah dengan cara ini!

Solusi keempat dari Yitro: Desentralisasikan kekuasaan dan prioritaskan – Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. Ini melibatkan dua aspek. Pertama, bersedia untuk mendistribusikan kekuasaan Anda, yang melibatkan rasa aman pemimpin, dan seperti yang dikatakan ayah mertua, terlebih dahulu ajarilah dengan cermat orang-orang yang diberi wewenang; kedua, ketahuilah cara memprioritaskan, dan bertanggung jawab atas hal-hal penting dan sulit! Apa yang diusulkan Yitro kepada Musa untuk direformasi? Dengan cara ini, ada pemimpin ribuan, pemimpin ratusan, pemimpin lima puluh, dan pemimpin sepuluh, serta sistem peradilan dan administrasi secara resmi ditetapkan. Tanpa orang, tidak ada yang bisa dilakukan; tanpa struktur, tidak ada yang bisa dipertahankan.

Solusi kelima dari Yitro: Daftarkan hasilnya – Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya. Ketika orang dapat menanggungnya, ia tidak akan kehabisan tenaga! Seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya berarti masalah telah terpecahkan!

Pada saat ini, kuncinya adalah respons Musa. Apakah ia akan mendengarkan? Apakah ia akan menerima setelah mendengarkan? Apakah ia bersedia berubah jika ia menerima? Lihatlah: Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya (Kel. 18:24) Musa bukan saja mendengarkan, tetapi juga bertindak sesuai dengan itu. Ini membawa babak baru!

Bagaimana dia melakukannya? Ia memilih orang-orang yang berkualitas.

Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. (Kel. 18:25-26)

Musa mengikuti nasihat ayah mertuanya dan tidak asal-asalan memilih orang. Ia memilih orang untuk menjadi pemimpin untuk melaksanakan tugas. Kualitas yang dibutuhkan meliputi: cakap, takut akan Allah, jujur dan dapat diandalkan, dan membenci keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak sah (tentu saja, ini belum mencakup semua kualitas, dan kualitas lainnya disebutkan kemudian dalam Kitab Bilangan dan Ulangan). Ia mendelegasikan kekuasaan dan menetapkan posisi mereka di depan umum, menetapkan jenis pekerjaan dengan jelas, dan menanggung sendiri pekerjaan yang sulit!

Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya (Kel. 18:27)

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?

2. Pendapat apa yang saya dengar akhir-akhir ini? Apakah saya perlu mengubah diri sendiri? Kehidupan, keluarga, gereja, dan perusahaan membutuhkan perubahan yang berbeda pada waktu yang berbeda untuk bekerja sama dan berkembang menuju tujuan selanjutnya. Elemen-elemen yang membawa saya ke sini (tujuan ini) tidak dapat membawa saya ke sana (tujuan berikutnya). (Marshall Goldsmith) Apakah saya memiliki sesuatu untuk diubah?

3. Apakah saya memberi nasihat kepada orang lain? Apakah ada yang meminta nasihat saya? Bagaimana cara saya memberi nasihat? Apakah saya dengan teliti memberikan masukan kepada orang lain?

4. Bagaimana cara membangun tim? Apakah saya membutuhkannya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 18:13-23

「Ciri-ciri kepemimpinan (2) – Terus menerus belajar dan bertumbuh secara berkelanjutan」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 18:13-23 [TB2])
13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang? 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah. 17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.

Kemarin, kita mulai mencermati kualitas kepemimpinan Musa dari Keluaran 18. Kita melihat bagaimana ia berinteraksi dengan keluarganya dan bersaksi tentang kuasa Allah di hadapan mereka. Kita mempelajari dua hal:
Pelajaran 1: Cintailah keluargamu, tetapi jangan biarkan cinta kepada keluargamu lebih besar dari pada kepada Tuhan.
Pelajaran 2: Memperkenalkan yang terbaik yakni TUHAN — kepada keluarga Anda

Hari ini kita akan lebih lanjut melihat bagaimana Musa sebagai pemimpin terus belajar dan bertumbuh serta menerobos keterbatasan.

Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang? (Kel. 18:13-14)

Kunjungan Yitro ini bukan hanya sekadar melihat-lihat atau bertemu untuk makan-makan, tetapi seharian penuh mengawasi dan menemani menantunya bekerja dan mengamati. Selama waktu itu, ayah mertua ini menemukan sesuatu yang salah! Apa masalah yang ditemukannya?

Akar masalah: Sendirian!
Lebih dari dua juta orang memiliki masalah, perselisihan, tuntutan hukum, perlu diberikan putusan pengadilan … apakah Musa satu-satunya yang harus menangani semuanya sendiri? Ini adalah masalah khas seorang pemimpin yang belum dewasa. Dia bekerja sangat keras dan sangat sibuk, tetapi dia tidak tahu bagaimana mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain!

Kata Musa kepada mertuanya itu: Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah. (Kel. 18:15-16)

Kita melihat poin penting lain dalam masalah ini: aku – hanya aku yang bisa melakukannya! Datang kepada aku … datang kepada akuaku mengadili antara yang seorang dan yang lain … aku memberitahukan mereka …!

Banyak pemimpin juga memiliki masalah besarnya aku yang khas, yaitu berpikir bahwa hanya ia yang dapat melakukannya! Namun, Musa adalah orang yang rendah hati, ia bukan seperti masalah kesombongan besarnya aku, ia bersedia mendengarkan pendapat. Oleh karena itu, kunjungan ayah mertuanya menolong dia. Jika tidak, tidak ada gunanya membawa putri dan cucunya. Musa akan sibuk sepanjang hidupnya.

Pelajaran 3: Pemimpin hebat tetapi masih dengan rendah hati mendengarkan nasihat bijak orang lain
Tetapi mertua Musa menjawabnya: Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya. (Kel. 18:17-23)

Ayah mertua Musa memberikan peringatan dan saran kepada Musa. Kita akan melihat rinciannya besok. Hari ini, mari kita lihat reaksi pemimpin besar Musa. Bagaimana reaksi Musa? Apakah ia berkata …Apa urusannya denganmu? Hadapi saja dengan acuh tak acuh? Bukan demikian! Dia memilih untuk mendengarkan, berpikir, dan memberikan tanggapan! Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya (Kel. 18:24)

Tidak semua orang tahu bagaimana cara mendengarkan orang lain. Kitab Amsal menyebutkan satu jenis orang yang disebut bebal, tidak ada gunanya bagi mereka ini untuk mendengar hikmat orang lain. Mereka hanya akan membencinya: Jangan berbicara di telinga orang bebal, sebab ia akan meremehkan kata-katamu yang bijak (Amsal 23:9)

Kitab Amsal juga menyebutkan tipe orang lain yang tahu bagaimana memilih untuk memperoleh hikmat dan bertindak sesuai dengan itu:
Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Amsal 13:20)
Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat (Amsal 28:26)

Kita semua pernah mendengar seseorang dikritik karena terlalu banyak bicara. Kapan Anda pernah mendengar seseorang dikritik karena terlalu banyak mendengarkan? (Norm Augustine)

Alkitab mengajarkan kita untuk belajar cepat mendengar, lambat berbicara … Tentu saja, kita tidak mendengarkan semua orang. Untuk mendengarkan perkataan orang bijak, kita perlu menganalisis dan membedakan mana yang harus didengarkan dan mana yang tidak!

Tidak semua orang ingin atau memiliki keberanian untuk mendengarkan, tidak semua orang ingin atau memiliki keberanian untuk belajar, tidak semua orang ingin atau memiliki keberanian untuk berubah! Setelah sejumlah pengalaman dalam hidup, setiap orang memiliki kerangka kerja mereka sendiri sampai batas tertentu. Untuk melepaskan pendapat Anda sendiri dan berubah serta melangkah maju, Anda membutuhkan keinginan dan keberanian. Anda harus memiliki keberanian untuk melepaskan kerangka kerja Anda sendiri agar dapat terhubung dan melangkah maju!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apakah saya bersedia dengan rendah hati mendengarkan nasihat atau pendapat bijak orang lain?
3. Apakah saya memiliki orang bijak di sekitar saya yang dapat saya minta nasihatnya?
4. Apakah saya berani melepaskan pola pikir saya sendiri, untuk berubah dan bertumbuh?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 18:1-12

「Ciri-ciri Kepemimpinan (1) – Interaksi dengan anggota keluarga」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 18:1-12 [TB2])
1 Kedengaranlah kepada Yitro, imam di Midian, mertua Musa, segala yang dilakukan Allah kepada Musa dan kepada Israel, umat-Nya, yakni bahwa TUHAN telah membawa orang Israel keluar dari Mesir. 2 Lalu Yitro, mertua Musa, membawa serta Zipora, isteri Musa–yang dahulu disuruh Musa pulang– 3 dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing, 4 dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun. 5 Ketika Yitro, mertua Musa, beserta anak-anak dan isteri Musa sampai kepadanya di padang gurun, tempat ia berkemah dekat gunung Allah, 6 disuruhnyalah mengatakan kepada Musa: Aku, mertuamu Yitro, datang kepadamu membawa isterimu beserta kedua anaknya. 7 Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah. 8 Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. 9 Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. 10 Lalu kata Yitro: Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. 11 Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka. 12 Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah.

Dalam tiga hari berikut ini, kita akan melihat kualitas kepemimpinan Musa dari Keluaran 18. Latar belakang perikop ini adalah bahwa setelah melalui banyak kesulitan, Musa berhasil memimpin orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan mengalahkan orang Amalek. Sebagai pemimpin besar dari dua juta orang, bagaimana ia berinteraksi dengan keluarganya, terus belajar, dan mengatasi keterbatasan? Apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari bagian ini?

Pelajaran 1: Cintailah keluargamu, tetapi jangan biarkan cinta kepada keluargamu lebih besar dari pada kepada Tuhan.
Kedengaranlah kepada Yitro, imam di Midian, mertua Musa, segala yang dilakukan Allah kepada Musa dan kepada Israel, umat-Nya, yakni bahwa TUHAN telah membawa orang Israel keluar dari Mesir. Lalu Yitro, mertua Musa, membawa serta Zipora, isteri Musa -yang dahulu disuruh Musa pulang- dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing, dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun. Ketika Yitro, mertua Musa, beserta anak-anak dan isteri Musa sampai kepadanya di padang gurun, tempat ia berkemah dekat gunung Allah, disuruhnyalah mengatakan kepada Musa: Aku, mertuamu Yitro, datang kepadamu membawa isterimu beserta kedua anaknya. (Kel. 18:1-6)

Ketika Musa berperang melawan Firaun, pemimpin negara terbesar saat itu, nyawanya terancam setiap saat. Demi menjaga keselamatan istri dan kedua putranya, Musa memisahkan diri dari mereka untuk beberapa waktu, dan tinggal dengan ayah mertuanya, Yitro. Kitab Suci tidak menyebutkan kapan mereka berpisah. Dalam situasi apa pun, Musa dapat memilih untuk tetap tinggal bersama keluarganya di Midian dan menolak menerima tugas itu; atau memilih bekerja untuk Allah, membayar harga, dan mengesampingkan keluarganya untuk sementara waktu. Ia memilih bekerja untuk Allah. Keluarga yang indah sebenarnya adalah anugerah Tuhan, tetapi ini tidak dapat menghalangi orang untuk melayani Tuhan. Sekarang semuanya telah stabil, maka ayah mertua membawa istri dan kedua anak laki-laki Musa pergi mencari dia, dan bertemu lagi di Gunung Allah (yaitu Gunung Horeb). Momen reuni itu pasti sangat membahagiakan.

Banyak saudara-saudari berdoa memohon berkat Tuhan, berharap memiliki keluarga yang baik dan pekerjaan yang baik. Begitu Tuhan memberikannya, mereka mengganti Tuhan dengan hal-hal ini itu yang menjadi berhala mereka. Berbagai kesibukan, membawa anak-anak mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, memperluas perusahaan, mengembangkan bisnis baru, dll., secara bertahap menjauh dari Tuhan, menjauh dari ibadah, persekutuan, pelayanan, kunjungan, kepedulian terhadap orang lain, kepedulian terhadap orang miskin … Ketika kita melakukan pekerjaan Tuhan, apakah kita bersedia membayar harga dan mengatur prioritas? Semua yang kita miliki adalah anugerah kasih karunia yang diberikan oleh Tuhan, dan anugerah kasih karunia tidak dapat lebih besar dari Tuhan!

Pelajaran 2: Memperkenalkan yang terbaik yakni TUHAN — kepada keluarga Anda
Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah. Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir.」(Kel. 18:7-11)

Musa, seorang pemimpin dan pahlawan bangsa yang hebat, menunjukkan rasa hormat yang besar saat bertemu dengan ayah mertuanya dan sujud kepadanya. Ini adalah contoh yang baik, mengajarkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua dan memperlakukan anggota keluarga kita dengan baik, tidak peduli seberapa sukses kita di tempat kerja, seberapa hebat kita, dan seberapa besar kita mengasihi Tuhan.

Ketika Musa menceritakan semua yang telah ia capai, ia dengan jelas memuliakan Allah, semua itu adalah yang dilakukan TUHAN. Ini berarti sama dengan membagikan kesaksian dan memberitakan Injil! Hal ini membuat ayah mertuanya mengakui kuasa TUHAN. Sebagai seorang imam Midian, ayah mertua juga mengakui kebesaran Allah TUHAN: Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka. Banyak orang melupakan Allah ketika mereka memperoleh sedikit keberhasilan ketika mereka bekerja untuk Tuhan atau berjuang di tempat kerja! Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka memuliakan Allah dan bersyukur kepada-Nya, tetapi mereka diam-diam bermegah dalam hati mereka. Ini seharusnya tidak dilakukan. Kita belajar dari Musa bahwa ia dengan jelas menceritakan seluruh prestasi yang luar biasa itu kepada ayah mertuanya, sehingga orang-orang dapat memahami kuasa Allah TUHAN di baliknya. Oleh karena itu, ayah mertuanya tidak menyembah ilah-ilah lain, tetapi mempersembahkan kurban kepada Allah TUHAN, Yitro, mertua Musa, mempersembahkan kurban bakaran dan beberapa kurban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah (Kel. 18:12)

Lita akan melanjutkan besok!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Bagaimana Allah memberkati keluarga dan pekerjaan saya? Apakah berkat-berkat ini menjadi berhala bagi saya, yang menghambat pertumbuhan saya di gereja dan melayani Tuhan?
3. Apakah saya bersedia membayar harga demi untuk melayani Tuhan?
4. Kesaksian hidup apa yang saya miliki untuk dibagikan? Apakah saya pernah membuat orang percaya kepada Tuhan dan menyembah Allah Tritunggal yang sejati? Kapan terakhir kali saya membagikan kesaksian saya dan memberitakan Injil kepada keluarga saya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 17:8-16 (3)

「Pertempuran pertama (3) – Berseru memohon pertolongan Tuhan dan bekerja sama sesama anggota menuju kemenangan」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 17:8-16 [TB2])
8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. 9 Musa berkata kepada Yosua, Pilihlah sejumlah orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku.
10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek, sementara Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit. 11 Lalu terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 12 Tetapi, tangan Musa menjadi penat. Sebab itu, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam. 13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan pasukannya dengan mata pedang.
14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa, Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan bacakanlah bagi Yosua bahwa Aku akan menghapuskan segala ingatan akan Amalek dari kolong langit.
15 Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya, TUHANlah panji-panjiku! 16 Sebab Ia berkata, Tangan di atas panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.

Menghadapi serangan mendadak bangsa Amalek, selama dua hari terakhir ini kita telah belajar untuk memeriksa kelemahan kita sendiri dan mengambil tindakan tepat waktu, termasuk:
Pelajaran 1: Waspadai serangan mendadak, kenali diri sendiri dan musuh Anda
Pelajaran 2: Maju dengan segenap kekuatan, bukan dengan menggerutu

Hari ini mari kita lanjutkan dan melihat apa lagi yang dapat kita pelajari dari pertempuran ini?

Sebelumnya kita telah melihat tanggapan Musa terhadap musuhnya, orang Amalek: Musa berkata kepada Yosua, Pilihlah sejumlah orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku. Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek, sementara Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit (Kel. 17:9-10)

Di satu sisi, Yosua harus memilih orang-orang untuk bertempur bersamanya di garis depan yang berbahaya; di sisi lain, Musa mengambil tongkat yang selalu digunakannya dan pergi ke puncak gunung untuk berdoa. Sebagian orang mungkin berkata, bagaimana bisa Anda pergi ke puncak gunung untuk berdoa dengan selamat, sedangkan saya harus berjuang keras di garis depan! Di sini, kita harus memahami bahwa setiap orang memiliki kedudukannya masing-masing. Sebagai atasan, Anda harus membedakan kemampuan bawahan Anda, dan sebagai bawahan, Anda harus mempercayai penempatan dari atasan, jika tidak, Anda tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Misi ini juga untuk melihat karakter hidup dan semangat tim Yosua, selain itu, melihat apakah ia pengikut yang baik? Seorang pemimpin yang baik harus memulai dengan menjadi pengikut yang baik! Seperti yang disebutkan kemarin, pelatihan pemimpin adalah proses jangka panjang, kemampuan pemimpin harus diuji, dan setiap orang harus berpegang teguh pada tanggung jawab jabatannya! Apakah Anda setuju? Dalam keluarga dan tempat kerja Anda saat ini, bagaimana Anda menempatkan orang dan membangun kerja sama?

Pelajaran 3: Berseru memohon kepada Tuhan dan bekerja sama sesama anggota
Lalu terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek (Kel. 17:11)

Hasilnya adalah bahwa setiap kali Musa mengangkat tangannya, orang Israel menang; setiap kali ia menurunkan tangannya, orang Amalek menang! Bukankah menakjubkan bahwa doa mendukung tim yang berjuang di garis depan? Menggunakan restoran sebagai analogi, doa seperti dapur dan garis depan adalah pelayan, bekerja sama dengan lancar. Apakah Anda melihat pentingnya doa? Ketika mereka pergi ke puncak gunung untuk berseru kepada Tuhan, apakah Anda memperhatikan apa yang dipegang Musa di tangannya? … aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku, itu adalah tongkat Allah. Musa telah menggunakan tongkat ini untuk membelah Laut Merah dan mengeluarkan air dari batu. Pada saat ini, apa yang dapat dilakukan tongkat Allah? Tongkat di puncak gunung melambangkan kehadiran otoritas dan kuasa Allah. Musa tahu bahwa Allahlah yang berkuasa, jadi dia dengan rendah hati meminta Allah untuk campur tangan. Posisi Yosua adalah menjadi pemimpin pasukan Israel, menyerang di garis depan, mempertaruhkan nyawanya. Pada saat yang sama, ada tiga pemimpin rohani di puncak gunung yang melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilihat orang. Selama Musa berdoa di puncak gunung, ada saat ketika ia tiba-tiba mengalami aturan yang ajaib: setiap kali Musa mengangkat tongkat Allah di tangannya, bangsa Israel berada di atas angin; setiap kali ia menurunkan tangannya, keadaan berbalik dan bangsa Amalek berada di atas angin.

Pertempuran ini tidak berlangsung selama tiga atau tiga puluh menit, tetapi selama sehari penuh, lebih dari sepuluh jam. Bagaimana seseorang dapat mengangkat tongkat Allah terus-menerus? Cobalah untuk mengangkat kedua tangan. Bahkan jika Anda tidak memegang apa pun, angkatlah selama satu jam, dan Anda akan tahu betapa lelahnya itu! Ketika Musa lelah dan tangannya terasa berat, ia tahu bahwa tangannya tidak dapat diturunkan. Apa yang harus mereka lakukan? Maka Harun dan Hur, yang berada di sampingnya, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan pasukannya dengan mata pedang (Kel. 17:12-13)

Untuk melaksanakan rencana Allah, kita harus berdoa bersama. Allah sedang berperang untuk umat-Nya! Ketika seseorang lemah, orang lain perlu segera mendukungnya! Selain itu, kita harus menyadari bahwa siapa pun yang menyerang umat Allah adalah musuh Allah! Jika kita berjalan di jalan Allah, kita tidak perlu takut.

Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa, Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan bacakanlah bagi Yosua bahwa Aku akan menghapuskan segala ingatan akan Amalek dari kolong langit. Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya, TUHANlah panji-panjiku! Sebab Ia berkata, Tangan di atas panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun. (Kel. 17:14-16)

Ketika Anda memenangkan pertempuran, apa yang pertama kali harus dilakukan? Ketika para pemimpin dunia memenangkan pertempuran, mereka mungkin membangun patung perunggu atau monumen untuk mengenang kebesaran mereka sendiri. Bagaimana dengan Musa? Ia membangun sebuah mezbah untuk bersyukur kepada Tuhan dan menyatakan bahwa TUHANlah panji-panjiku! Musa ingin bersaksi kepada generasi mendatang bahwa kemenangan orang Israel sepenuhnya adalah pekerjaan TUHAN. Hal ini dicatat dalam sebuah kitab sebagai peringatan agar orang tidak menyombongkan diri.

Berdoa bukan hanya tentang mengungkapkan kebutuhan Anda kepada Allah, tetapi yang lebih penting lagi, berdoa adalah tentang menaati perintah dan pengutusan-Nya, serta melaksanakan rencana-Nya.

Berdoa bukanlah meminta sesuatu, tetapi menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan, membiarkan Dia mengatur segala sesuatunya, dan mendengarkan suara-Nya di lubuk hati Anda. (Bunda Teresa)

Mari kita lihat lebih banyak ajaran tentang doa:
Jangan meremehkan kekuatan doa. Yesus mengajarkan kita untuk … harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1)
Doa adalah usaha tim, saling mendukung, saling menguatkan, dan saling belajar. Yesus mengajarkan kita, … Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga (Matius 18:19)

Kadang-kadang doa kita kehilangan arah. Pada saat ini, kita harus meminta pertolongan Roh Kudus. Tuhan mengingatkan kita, Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26)

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apakah saya orang yang suka berdoa? Apakah saya melihat pentingnya doa?
3. Atau saya yang berada di garis depan? Pentingkah untuk membanding-bandingkan satu sama lain kedudukan yang berbeda?
4. Apa yang saya perjuangkan di garis depan saat ini? Saya harus mulai dengan berdoa dan memohon kekuatan kepada Tuhan.


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 17:8-16 (2)

「Pertempuran pertama (2) – Tanggapi dengan segenap kekuatan, jangan dengan gerutu」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 17:8-16 [TB2])
8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. 9 Musa berkata kepada Yosua, Pilihlah sejumlah orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku.
10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek, sementara Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit. 11 Lalu terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 12 Tetapi, tangan Musa menjadi penat. Sebab itu, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam. 13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan pasukannya dengan mata pedang.
14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa, Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan bacakanlah bagi Yosua bahwa Aku akan menghapuskan segala ingatan akan Amalek dari kolong langit.
15 Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya, TUHANlah panji-panjiku! 16 Sebab Ia berkata, Tangan di atas panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.

Menghadapi serangan mendadak bangsa Amalek, kemarin kita belajar untuk memeriksa kelemahan kita sendiri:
Pelajaran 1: Waspadai serangan mendadak, kenali diri sendiri dan musuh Anda

Hari ini kita melanjutkan dan melihat apa lagi yang dapat kita pelajari dari pertempuran ini?
Respons Musa menanggapi musuhnya, orang Amalek: Musa berkata kepada Yosua, Pilihlah sejumlah orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku. Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek, sementara Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit. (Kel. 17:9-10)

Pelajaran 2: Maju dengan segenap kekuatan dan jangan dengan menggerutu
Bangsa Israel belum pernah berperang sebelumnya. Menghadapi musuh yang kuat, Amalek, bagaikan petinju kelas ringan melawan petinju kelas berat! Jika bangsa Israel kalah, mereka mungkin akan kembali menjadi budak dan jatuh ke jurang lagi. Banyak orang akan mengeluh, takut, dan menggerutu ketika menghadapi kejadian yang tidak terduga, tetapi Musa tidak. Ia memilih untuk berjuang sekuat tenaga dan tidak pernah menggerutu. Mungkin ia tahu bahwa hidup ini penuh dengan tantangan, dan menghadapinya dengan emosi negatif adalah sia-sia.

Musa memiliki pandangan mata yang baik. Pertama-tama ia menemukan seorang pria yang memiliki kemampuan memimpin, yaitu Yosua, dan menugaskannya untuk memilih prajurit-prajurit yang akan berperang. Allah menyediakan Yosua, seorang jenderal yang tangguh, bagi mereka. Ini adalah pertama kali ia tampil, saat itu usianya sekitar 40 tahun (lihat Kel. 33:11) dan merupakan pemimpin suku Efraim (Bil. 1:10). Musa memilih orang yang tepat! Ternyata bukan suatu kebetulan bahwa Yosua menggantikan Musa 40 tahun kemudian. Ia mengikuti Musa selama 40 tahun dan juga merupakan pemimpin pertama yang memiliki nama di sini. Ia memiliki kemampuan yang jelas untuk melakukan berbagai hal! Menghadapi perang, Musa tidak secara pribadi memilih para pejuang untuk berperang, tetapi berkata kepada Yosua: Pilihlah sejumlah orang bagi kita, …, ini menunjukkan bahwa Yosua mengenal orang banyak dan memiliki kemampuan memimpin. Setelah itu, berkali-kali Yosua dengan setia membantu Musa dan menjadi asisten Musa. Misalnya, ia terlihat ketika naik ke Gunung Sinai, melayani di Kemah Pertemuan, dan memata-matai tanah Kanaan (Kel. 24:13, 33:11; Bilangan 13). Yosua mengalami banyak tempaan dan ujian, dan kemudian menjadi penerus Musa. Ia memimpin orang Israel ke Kanaan (lihat Yosua 1:1-2), nama harum yang ia sandang memang sesuai kenyataan.

Ketika ada krisis, temukan peluang! Kali ini, ada pertempuran, ada peluang menang! Tak hanya itu, pertempuran ini sebenarnya merupakan pemanasan bagi Yosua untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran-pertempuran berikutnya.

Yosua pun melakukan hal yang sama setelah menerima instruksi dari pemimpin rohaninya, Musa. Ia langsung melakukannya tanpa mengeluh. Bahkan, ia bisa saja bereaksi dengan berbagai cara, seperti: Aku? Aku pergi bertempur? Tidak mungkin?, Kau yang mengatakannya?, Aku yang turun ke dalam pertempuran, sedangkan engkau akan naik ke gunung?, Mengapa tidak berganti posisi?, atau menggunakan nada rohani favorit kita – Aku akan berdoa dulu! Tidak! Alkitab memberi tahu kita bahwa Yosua melakukan apa yang dikatakan Musa kepadanya dan memilih para pejuang untuk melawan orang Amalek. Tidak heran Allah memilihnya untuk menjadi pengganti Musa di masa mendatang. Pelatihan para pemimpin adalah proses jangka panjang, dan kemampuan para pemimpin harus diuji! Apakah kita melihatnya?

Musa tidak ragu-ragu, dan Yosua tidak bertanya-tanya meragukan. Betapa indah dan tegasnya gambaran itu!

Ketika suatu situasi terjadi, manusia harus menanggapinya dengan cara Allah, Ia akan memberikan manusia hikmat dan kemampuan untuk menanggapinya. Jika Allah tidak memiliki cara dan tidak memiliki hikmat untuk menghadapinya, mintalah kepada-Nya, dan Tuhan akan membantu kita. Allah akan memberikan manusia hikmat yang mereka butuhkan untuk menghadapi tempaan dalam hidup. Ini bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dari belajar atau mengajar, tetapi hanya dapat dipelajari dari berlutut:
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya (Yakobus 1:5)
TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mazmur 118:6)

Kita lanjutkan finalnya besok!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Bagaimana saya menanggapi situasi yang tidak terduga? Apakah saya mengeluh dan menggerutu? Apakah itu membantu? Bagaimana saya memperoleh kebijaksanaan dan cara untuk menghadapinya?
3. Pengembangan pemimpin merupakan proses yang panjang dan kemampuan pemimpin harus diuji. Apa artinya ini bagi saya?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 17:8-16 (1)

「Pertempuran pertama (1) – Waspadalah terhadap serangan mendadak, kenali diri Anda dan kenali musuh Anda」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 17:8-16 [TB2])
8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. 9 Musa berkata kepada Yosua, Pilihlah sejumlah orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit dengan tongkat Allah di tanganku.
10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek, sementara Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit. 11 Lalu terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 12 Tetapi, tangan Musa menjadi penat. Sebab itu, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam. 13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan pasukannya dengan mata pedang.
14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa, Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan bacakanlah bagi Yosua bahwa Aku akan menghapuskan segala ingatan akan Amalek dari kolong langit.
15 Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya, TUHANlah panji-panjiku! 16 Sebab Ia berkata, Tangan di atas panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.

Perikop ini mencatat bahwa setelah orang Israel meninggalkan Mesir dan menyeberangi Laut Merah untuk memperoleh kebebasan, mereka menghadapi tantangan baru di padang gurun. Apakah itu? Berperang! Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim (Kel. 17:8)

Musa memimpin orang Israel untuk menghadapi pertempuran pertama mereka. Orang Israel belum pernah berperang sebelumnya. Di masa lalu, ketika mereka menghadapi tentara Mesir, mereka selalu melarikan diri dan membiarkan Allah TUHAN membantu mereka mengatasi krisis! Orang Amalek adalah musuh pertama yang dihadapi orang Israel setelah meninggalkan Mesir. Mereka akan berperang melawan orang Israel. Siapakah orang Amalek? Mereka adalah musuh asing, keturunan Esau (lihat Kejadian 36:12), yang tinggal di padang gurun, … Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek (Bil. 24:20), bangsa yang kuat dan berkuasa. Kitab Ibrani menggambarkan Esau seperti ini: Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (Ibrani 12:16), menasihati siapa pun agar tidak menjadi orang yang bersundal dan tidak mengenal Allah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepotong makanan. Esau bukan sekadar berpikiran duniawi, tetapi juga durhaka, menjadi orang duniawi yang tidak mengenal Allah. Ia meremehkan hak kesulungannya karena kesenangannya yang sementara. Setelah berburu, ia merasa lelah dan lapar, jadi ia menjual hak kesulungannya untuk membeli sup bubur merah yang sangat murah yang terbuat dari kacang lentil dan nasi (lihat Kejadian 25:30-33). Keturunan Esau, orang Amalek, juga orang-orang yang tidak bertuhan, dan mereka berperang melawan umat Allah selama bertahun-tahun (Bilangan 14:43-45; 1 Samuel 15, 30; 1 Tawarikh 4:43).

Lihat apa yang kita pelajari dari pertempuran ini?

Pelajaran 1: Waspadai serangan mendadak, kenali diri sendiri dan musuh Anda
Ketika orang Israel berbaris menuju tujuan hidup mereka, Tanah Perjanjian, Kitab Ulangan menggambarkan orang Amalek seperti ini: engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah (Ulangan 25:18) Orang-orang lemah pada barisan belakangmu adalah orang tua, wanita, anak-anak, orang cacat, dan mereka yang berjalan paling lambat. Orang Amalek bukan hanya kuat, tetapi juga licik dan tidak takut kepada Allah. Mereka mungkin takut kepada orang Israel karena jumlah mereka sangat banyak. Mereka mengira orang Israel ingin bersaing untuk mendapatkan sumber air atau oasis, jadi mereka ingin menyerang terlebih dahulu sebelum orang Israel menjadi kuat. Mereka tidak berunding dengan orang Israel terlebih dahulu. Faktanya, orang Israel hanya lewat, dan orang-orang Amalek tidak berani secara resmi menyatakan perang kepada orang Israel, mereka berani menyerang bagian terlemah dari orang-orang itu dari belakang! Orang Israel telah meninggalkan Mesir dan melarikan diri dari orang Mesir. Mereka telah berjalan selama berhari-hari, kekurangan sumber daya, dan kelelahan. Ketika mereka berada pada titik terlemah mereka, orang Amalek menyerang kelompok terlemah mereka. Ketika orang Israel bergerak menuju tujuan Allah, musuh yang tidak saleh, Amalek, datang menyerang mereka, menyerang bagian terlemah orang Israel pada saat terlemah mereka, mencegah umat Allah menyelesaikan rencana Allah.

Hari ini, meskipun kita tidak menghadapi serangan fisik yang dibawa oleh perang, tetapi emosi, pikiran, dan tubuh jasmani kita akan diserang dan dicobai oleh iblis. Ketika kita sedang bergerak menuju tujuan Tuhan, berhati-hatilah agar musuh yang tidak saleh itu diam-diam menyerang bagian terlemah kita ketika kita tidak waspada. Bagian terlemah itu mungkin adalah bagian hati kita yang belum bertumbuh, atau bahkan bagian yang bukan milik Tuhan, bagian yang tidak percaya kepada Tuhan, bagian yang tamak akan dunia, bagian yang berdosa … Serangan diam-diam musuh ini menghalangi kita untuk menyelesaikan rencana kita di dalam Tuhan. Kita harus mengenali musuh dan bagian yang lemah pada waktunya, dan mengandalkan Tuhan untuk berubah dan menang!

Apa yang bisa menjadi bagian terlemah? Kesombongan, ketakutan, kemalasan, kematian, nafsu, kecemburuan, keserakahan, kerakusan, amarah, membanding-bandingkan, tidak mau memaafkan, dll. Kita harus menghadapinya!

Kiranya kata-kata berikut dapat memberi kita sedikit pencerahan tentang kelemahan:
• Kesombongan bisa menjadi musuh terburuk seorang pemimpin! (Henry Blackaby)
• Kesombongan mengubah malaikat menjadi setan, kerendahan hati mengubah manusia menjadi malaikat. (Augustinus)
• Karakter adalah jati diri Anda ketika dalam kegelapan. (Moody)

Sesaat sebelum meninggal di usia enam puluh dua tahun, Moody menyatakan: Suatu hari nanti Anda akan membaca di koran bahwa Moody meninggal. Jangan percaya. Saat itu saya akan lebih hidup daripada sekarang. Empat bulan kemudian, saat Moody terbaring sekarat, dia berkata: Bumi surut di hadapanku, dan surga terbuka di hadapanku! … Jika ini adalah kematian, itu manis. Tuhan memanggilku, dan aku harus pergi. Jangan panggil aku kembali! … Tidak ada rasa sakit, tidak ada kesedihan, ini adalah kebahagiaan.

Kelemahan apa yang harus kita hadapi dan ubah? Perubahan dimulai dengan menyadari masalah, berfokus pada memahami kebenaran di baliknya, dan berpusat pada bertransformasi menjadi pribadi yang jujur dan murni. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya (Amsal 2:7)

Marilah kita cermati secara mendalam titik-titik lemah kehidupan kita saat ini!

Kita akan melanjutkan besok!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apakah ada musuh yang menyerang saya? Apa bagian terlemah dalam hidup saya? Bagaimana cara mengatasinya?
3. Apakah ada musuh yang menghalangi rencana saya bersama Tuhan?
4. Saat kita bergerak menuju tujuan hidup, apakah saya tetap waspada? Bagaimana saya bisa tetap waspada?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 5:1-23

「Kenali panggilan Anda dan jangan takut dengan kesulitan」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 5:1-23 [TB2])
1 Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya, Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun. 2 Tetapi, Firaun berkata, Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Aku tidak kenal TUHAN itu dan aku juga tidak akan membiarkan orang Israel pergi. 3 Lalu kata mereka, Allah orang Ibrani, telah menjumpai kami. Izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah kami, supaya Ia jangan mendatangkan sampar atau pedang. 4 Tetapi, raja Mesir berkata kepada mereka, Musa dan Harun, mengapakah kamu membuat bangsa itu melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu! 5 Firaun berkata lagi, Lihat, sekarang bangsa itu sudah terlalu banyak di negeri ini, dan kamu mau menghentikan mereka dari kerjanya! 6 Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengawas-pengawas kerja paksa atas bangsa itu dan kepada mandor-mandor mereka sendiri, 7 Kamu tidak boleh lagi memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti selama ini. Biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami. 8 Tetapi, jumlah batu bata yang harus mereka buat selama ini tetap dibebankan kepada mereka, jangan dikurangi, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan kurban kepada Allah kami. 9 Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat padanya dan jangan mempedulikan janji dusta. 10 Pengawas kerja paksa bangsa itu beserta mandornya pun pergi dan berkata kepada mereka, Beginilah kata Firaun: Aku tidak memberi jerami lagi kepadamu. 11 Pergi dan carilah sendiri jerami, entah di mana kamu mendapatnya, namun hasil pekerjaanmu tidak boleh kurang sedikit pun. 12 Lalu bangsa itu menyebar ke seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan batang gandum sebagai pengganti jerami. 13 Pengawas-pengawas kerja paksa itu mendesak mereka dengan berkata, Selesaikan kerjamu yang dibebankan untuk sehari, sama seperti pada waktu ada jerami. 14 Lalu pengawas-pengawas kerja paksa Firaun memukul mandor-mandor Israel, yang mereka angkat, sambil bertanya, Mengapa hari ini kamu tidak menyelesaikan jumlah batu bata yang harus kamu buat seperti selama ini? 15 Sesudah itu mandor-mandor Israel pergi kepada Firaun dan berseru kepadanya, Mengapakah tuanku bertindak seperti itu terhadap hamba-hambamu ini? 16 Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini. Walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Lihatlah, hamba-hambamu ini dipukuli, padahal orang-orang tuankulah yang bersalah. 17 Tetapi, ia berkata, Pemalas kamu, dasar pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan kurban kepada TUHAN! 18 Sekarang pergi, bekerjalah! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi batu bata yang sama jumlahnya harus kamu serahkan. 19 Mandor-mandor Israel menyadari betapa sulitnya keadaan mereka, karena dikatakan kepada mereka, Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata yang ditetapkan kepadamu untuk tiap hari. 20 Waktu mereka meninggalkan Firaun, mereka berjumpa dengan Musa dan Harun yang sedang menantikan mereka. 21 Lalu mereka berkata kepada keduanya, Kiranya TUHAN melihat dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan pegawai-pegawainya. Dengan demikian, kamu memberikan pedang kepada mereka untuk menghabisi kami. 22 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN dan berkata, Tuhan, mengapakah Engkau mendatangkan sengsara pada umat ini? Untuk apa Engkau mengutus aku? 23 Sebab, sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, ia sudah menyengsarakan umat ini, dan Engkau sama sekali tidak melepaskan umat-Mu.

Kemarin kita melihat bahwa ketika mereka yang diutus Tuhan memiliki pertanyaan, Allah menyediakan pertolongan yang lebih dari cukup: identitas, konfirmasi, senjata ajaib, mukjizat, tenaga kerja, sumber daya … dan yang paling penting, Allah menyertai Musa!

Hari ini, Musa resmi berangkat!

Pelajaran 1: Ada saat-saat baik dan buruk dalam proses memenuhi panggilan
Lalu Musa beserta Harun pergi dan mengumpulkan semua tua-tua Israel. Harun mengucapkan segala firman yang telah diucapkan TUHAN kepada Musa, dan membuat mukjizat-mukjizat itu di depan bangsanya. Lalu percayalah bangsa itu. Ketika mereka mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan orang Israel dan melihat kesengsaraan mereka, mereka berlutut dan sujud menyembah (Kel. 4:29-31)

Allah memberikan Musa dan Harun kuasa untuk melakukan mukjizat, yang membuat orang Israel percaya dan tahu bahwa Allah peduli dengan kesulitan mereka, dan mereka segera bersujud menyembah! Sejauh ini, semuanya baik-baik saja.

Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya, Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun. 』」 Tetapi, Firaun berkata, Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Aku tidak kenal TUHAN itu dan aku juga tidak akan membiarkan orang Israel pergi (Kel. 5:1-3)

Musa mendapatkan kuasa melakukan mukjizat dan dukungan dari bangsanya sendiri. Ia pergi menemui Firaun dengan keyakinan dan keberanian, meminta agar Firaun membebaskan bangsa itu dan membiarkan mereka menyembah Allah. Tanpa diduga, Firaun menjawab bahwa ia tidak mengenal Allah Musa dan tidak akan membiarkan orang Israel pergi! Jadi Musa memperingatkan Firaun bahwa Allah akan menghajar dengan tulah dan bentuk hajaran lainnya!

Bagaimana tanggapan Firaun?
Tetapi, raja Mesir berkata kepada mereka, Musa dan Harun, mengapakah kamu membuat bangsa itu melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu! Firaun berkata lagi, Lihat, sekarang bangsa itu sudah terlalu banyak di negeri ini, dan kamu mau menghentikan mereka dari kerjanya! Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengawas-pengawas kerja paksa atas bangsa itu dan kepada mandor-mandor mereka sendiri, Kamu tidak boleh lagi memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti selama ini. Biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami. Tetapi, jumlah batu bata yang harus mereka buat selama ini tetap dibebankan kepada mereka, jangan dikurangi, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan kurban kepada Allah kami. Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat padanya dan jangan mempedulikan janji dusta. (Kel. 5:4-9)

Jika tidak ada budak-budak Israel yang banyak ini, seluruh negeri akan lumpuh. Firaun percaya bahwa mereka malas maka mereka berbohong seperti itu! Oleh karena itu, Firaun tidak menyediakan bahan untuk membuat batu bata bagi orang Israel, tetapi jumlah batu bata yang harus dibuat tetap sama. Seperti yang kita semua tahu, bangunan paling terkenal di Mesir pada saat itu adalah piramida besar, yang membutuhkan banyak bahan untuk menyelesaikannya. Tidak memberi mereka bahan-bahan tetapi meminta jumlah yang sama berarti mereka akan bekerja lebih keras, membuat mereka tidak mungkin melawan!

Ketika pejabat Firaun memerintahkan orang Israel untuk bekerja lebih keras, orang Israel pun pergi memohon kepada Firaun, tetapi Firaun menjawab bahwa mereka hanya membuat alasan seperti itu karena mereka malas. Tidak ada kompromi, keputusan akhir sudah ditetapkan! (Lihat Keluaran 5:13-19)

Pelajaran 2: Untuk memenuhi panggilan, orang harus selalu terhubung dengan Allah
Bagaimana perasaan Anda jika Anda adalah Musa saat itu? Anda seharusnya terbebas dari kesulitan, tetapi Anda malah dihadapkan dengan kesulitan yang lebih besar. Musa pasti sangat frustrasi dan bahkan merasa bersalah! Tidak hanya itu, orang Israel pun bereaksi terhadap Musa seperti ini:

Waktu mereka meninggalkan Firaun, mereka berjumpa dengan Musa dan Harun yang sedang menantikan mereka. Lalu mereka berkata kepada keduanya, Kiranya TUHAN melihat dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan pegawai-pegawainya. Dengan demikian, kamu memberikan pedang kepada mereka untuk menghabisi kami. Lalu Musa kembali menghadap TUHAN dan berkata, Tuhan, mengapakah Engkau mendatangkan sengsara pada umat ini? Untuk apa Engkau mengutus aku? Sebab, sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, ia sudah menyengsarakan umat ini, dan Engkau sama sekali tidak melepaskan umat-Mu. (Kel. 5:20-23)

Bangsa Israel mengatakan kepada Musa bahwa ia telah menyakiti mereka dan bahkan membunuh mereka. Musa mengira bahwa Allah akan menghakimi orang Mesir, tetapi hasilnya adalah bangsa Israel meminta Allah untuk menghakimi Musa. Empat puluh tahun yang lalu, bangsa Israel memiliki pendapat bias tentang Musa, dan mereka berbalik untuk mendukung Musa beberapa hari yang lalu. Hari ini, mereka sangat tidak puas dengannya. Ini seperti roller coaster. Benar-benar tidak nyaman. Misi untuk menghadapi kejahatan pasti akan mendatangkan serangan balik dari kejahatan. Jika misinya tidak memiliki panggilan Gunung Horeb, itu hanya akan menjadi “mencari penderitaan untuk diri sendiri”! Seseorang hanya dapat memenuhi misinya berdasarkan panggilannya, jika tidak, itu tidak dapat dicapai. Dan untuk melaksanakan panggilan tersebut, orang harus selalu kembali kepada Allah, berbicara kepada Allah, dan memperoleh kekuatan! Apakah kita mengerti?

Misi yang diemban Musa sebenarnya adalah panggilannya. Allah memilih Musa untuk menanggapi kebutuhan zaman. Hati Musa yang benar dan karakternya telah dinyatakan empat puluh tahun yang lalu. Inilah keberadaannya: sebagai seorang pangeran, ia menegakkan keadilan dan membunuh orang Mesir; ketika ia dalam pelarian, ia mengusir para gembala yang menindas para wanita; sekarang ia kembali ke Mesir untuk membebaskan orang Israel. Panggilan itu dapat dijalani melalui berbagai identitas dan profesi. Apakah Musa seorang pangeran, seorang buronan, atau seorang gembala, ia terbakar dengan semangat untuk membantu dan membebaskan yang tertindas. Menjalani panggilan itu adalah hal yang paling membahagiakan dan paling memuaskan dalam hidup. Sebaliknya, hidup jika tidak dipenuhi, dan apa pun yang Anda miliki, Anda tidak akan benar-benar terpuaskan. Kita harus menjalani kehidupan yang diciptakan-Nya dengan hati yang bersyukur dan penuh hormat. Panggilan kita adalah menjadi diri kita sendiri sebagaimana adanya.
Apalah Anda tahu apa panggilan Anda?

Besok kita akan terus merenungkan proses pertempuran!

Refleksi:
1. Apa yang diajarkan perikop ini kepada saya?
2. Apa misi saya dalam hidup? Apakah ini panggilan saya dari Allah?
3. Bagaimana saya menghadapi kesulitan?
4. Apakah saya selalu kembali kepada Allah dan terhubung dengan Allah?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 2:23-4:31 (4)

「Undangan yang mengejutkan (4) – Tuhan dengan penuh perhatian membersihkan keraguan kita」

Oleh Rev. Dr. Chén Chuán Huá (陳傳華)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Keluaran 2:23-4:31 [TB2])
4:10 Lalu Musa berkata kepada TUHAN, Maaf, Tuhan, dari dahulu, maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini, aku bukan orang yang pandai bicara, sebab aku berat lidah, tidak lancar berbicara. 11 Tetapi, TUHAN berfirman kepadanya, Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? 12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menolong lidahmu berbicara dan mengajarkan apa yang harus kaukatakan.
13 Namun, Musa berkata, Maaf, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang akan Kauutus. 14 Lalu murka TUHAN menyala-nyala terhadap Musa dan Ia berfirman, Bukankah ada abangmu, Harun, orang Lewi itu? Aku tahu bahwa ia pandai bicara. Lagi pula, ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, hatinya akan bersukacita. 15 Engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya: Aku akan menolong lidahmu dan lidahnya berbicara. Aku akan mengajarkan apa yang harus kamu lakukan. 16 Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu. Dengan demikian, ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. 17 Bawalah tongkat ini di tanganmu, yang akan kaupakai untuk membuat tanda-tanda mukjizat.

Bagian kitab suci ini mencatat proses Allah memanggil Musa. Sejak beberapa hari yang lalu, kita telah dari berbagai perspektif merenungkan dan menjelajahi kasih abadi Allah, serta empat tanggapan dan keraguan tidak dari Musa terhadap panggilan Allah, yang terdapat dalam Keluaran 3:11, 4:1, 4:10, dan 4:13: tentang kegagalan di masa lalu, hilangnya iman, keraguan tentang kemampuan, dan ambiguitas tentang identitas dan panggilan.

Kemarin kita melihat bahwa ketika orang menghadapi ancaman dan merasa takut, selain memilih fight (respons melawan), flight (respons melarikan diri) atau freeze (respons membeku), juga harus memilih follow (respons mengikuti). Ini berarti bahwa sebelum atau selama respons melawan, melarikan diri atau membeku, harus mengikuti tuntunan Allah. Hari ini kita akan terus merenungkan bagaimana Allah menjawab keraguan Musa dengan penuh perhatian, dan belajar darinya, mengikuti tuntunan-Nya, dan bertumbuh!

Pertanyaan Musa yang kedua: sahut Musa, Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?』」 (Kel. 4:1)

Pelajaran 3: Allah memberikan orang kekuatan — ia seharusnya tidak meremehkan apa yang mereka miliki saat ini
TUHAN bertanya kepadanya, Apa yang ada di tanganmu itu? Jawab Musa, Tongkat. Firman TUHAN, Lemparkanlah tongkat itu ke tanah. Ketika Musa melemparkannya ke tanah, tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi, firman TUHAN kepada Musa, Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya. Lalu Musa mengulurkan tangannya, menangkapnya, dan ular itu menjadi tongkat di tangannya , Lakukanlah itu supaya mereka percaya bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu. (Kel. 4:2-5)

Allah mengajukan pertanyaan yang sangat menarik: Apa yang ada di tanganmu? Bagaimana mungkin Allah tidak tahu apa yang dipegang Musa?! Itu seperti seseorang melihat kita memegang telepon dan bertanya apa yang ada di tangan kita. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk memberi tahu Musa identitasnya dan apa yang dimilikinya saat ini. Identitas Musa sebagai seorang gembala memberi gambaran bahwa ia akan menjadi seorang gembala yang memimpin orang Israel di masa depan. Meskipun apa yang dipegangnya di tangannya hanyalah tongkat gembala yang paling umum, tongkat itu bisa menjadi sesuatu yang berbeda di tangan Allah, menjadi tongkat Allah dan menghasilkan kekuatan yang luar biasa! Ternyata Allah dapat menggunakan apa pun di tangan kita untuk menjadi alat yang hebat. Jangan remehkan apa yang ada di tangan kita, itu bisa menjadi periuk milik Allah, rumah Allah, pena Allah, mulut Allah, dan tangan Allah.

Firman TUHAN kepadanya lagi, Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu. Lalu Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Setelah menariknya keluar, tangannya kena penyakit kulit, putih seperti salju. Sesudah itu Ia berfirman, Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu. Lalu Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya. Setelah ia menariknya keluar, tangan itu pulih seperti bagian badan yang lain. Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak menangkap pesan dari mukjizat yang pertama, mereka akan percaya kepada pesan mukjizat yang kedua. Jika mereka tidak juga percaya kepada kedua mukjizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, engkau harus mengambil air dari Sungai Nil dan mencurahkannya di tanah yang kering. Air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu. (Kel. 4:6-9).

Kemudian, Allah memberinya dua kekuatan ajaib tambahan: tangannya terkena kusta, menjadi putih, lalu sembuh; air sungai berubah menjadi darah, yang menjadi bukti identitasnya. Dari perspektif lain, jika kita ditunjuk pada posisi tertentu, Allah pasti akan memberi kita sejumlah kekuatan tertentu agar kita dapat menyelesaikan tugas tersebut. Jangan lupa bahwa Musa bekerja di tempat kerja, dia bukan pendeta penuh waktu, jadi jika Allah menunjuk kita untuk melakukan pekerjaan apa pun di tempat kerja, kita harus tahu bahwa identitas pekerjaan di tempat kerja juga kudus, dan Allah pasti akan memberi kita kekuatan untuk menyelesaikannya. Jika kita merasa tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikannya, kita harus berdoa dan meminta kepada Allah! Rasul Petrus mengatakan ini kepada setiap murid: Namun, kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

Pertanyaan Musa ke-3: lalu Musa berkata kepada TUHAN, Maaf, Tuhan, dari dahulu, maupun sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini, aku bukan orang yang pandai bicara, sebab aku berat lidah, tidak lancar berbicara. … Namun, Musa berkata, Maaf, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang akan Kauutus. (Kel. 4:10, 4:13)

Pelajaran 4: Allah memberikan orang kata-kata dan sumber daya – ia tidak akan kehilangan pertolongan
Tetapi, TUHAN berfirman kepadanya, Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menolong lidahmu berbicara dan mengajarkan apa yang harus kaukatakan. … Lalu murka TUHAN menyala-nyala terhadap Musa dan Ia berfirman, 「Bukankah ada abangmu, Harun, orang Lewi itu? Aku tahu bahwa ia pandai bicara. Lagi pula, ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, hatinya akan bersukacita. … Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu. Dengan demikian, ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. 17 Bawalah tongkat ini di tanganmu, yang akan kaupakai untuk membuat tanda-tanda mukjizat. (Kel. 4:11-12, 14, 16-17)

Allah tahu betapa sulitnya tugas ini, jadi Dia memberi Musa penegasan dan senjata lain. Penegasan itu adalah bahwa Sang Pencipta akan memberi Musa kefasihan berbicara. Musa takut tidak bisa berkata-kata, tetapi Allah akan menolongnya. Selain itu, Allah memberikan Harun, saudaranya, sebagai senjata lain untuk menolongnya. Pada saat yang sama, Allah telah berbicara kepada Harun, menyuruhnya pergi menemui Musa!

Apa yang kita lihat dari sini? Ketika orang-orang yang diutus Allah memiliki keraguan, Allah akan memberikan bantuan lebih dari cukup: identitas, konfirmasi, senjata ajaib, mukjizat, kefasihan, tenaga manusia, kekuatan… dan yang terpenting, Allah menyertai Musa!

Allah yang begitu penuh perhatian dan kepedulian, apa yang Anda takutkan?

Refleksi:
1. Inspirasi apa yang saya peroleh dari bacaan ini?
2. Bantuan dan sumber daya apa yang telah Allah berikan kepada saya dalam kesulitan di masa lalu?
3. Apa yang saya miliki yang dapat saya persembahkan kepada Allah untuk digunakan-Nya?
4. Apa yang kurang dalam pelayanan saya saat ini? Apa yang saya takutkan? Mintalah pertolongan Allah sekarang!


Renungan pemahaman Kitab Kejadian – Keluaran

Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain



Renungan untuk Kalangan Kristen.