Tag Archives: Tipologi

1 Petrus 2:13-17 (1)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (I)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Untuk memahami ayat Alkitab ini, kita harus memahami apa yang kita bicarakan di teks sebelumnya di atas dan apa yang patut kita perhatikan ketika Petrus mengutip ayat Alkitab Perjanjian Lama (silakan tinjau ulang renungan sepuluh hari terakhir), karena jika kita tidak memperhatikan alur pikir seluruh paragraf ayat-ayat Alkitab ini, kita akan mengabaikan poin penting yang utama dan mempengaruhi pemahaman kita atas satu ayat Alkitab hari ini.

Tulisan Petrus sampai di titik ini, kira-kira pesan yang ingin disampaikan dia adalah: orang percaya di Asia Kecil telah mengalami penderitaan, ditolak manusia, dan tidak mudah untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang memusuhi mereka, tetapi Petrus menasihati mereka bahwa ini sebenarnya adalah pemilihan Allah dan malahan mereka sangat berharga bagi Allah. Petrus menghabiskan begitu banyak kata-kata dan bahasa agar orang-orang percaya Asia Kecil menerima identitas mereka, ditambah ia menggunakan pengalaman orang Israel keluar dari Mesir terserak di padang belantara, dan juga deskripsi tentang Daud yang terpaksa berpura-pura menjadi gila dan hidup sebagai penumpang di bawah raja asing non Israel, juga pengalaman orang Israel ditawan ke tempat bangsa-bangsa asing, dan contoh bagaimana Abraham menumpang tinggal di tanah Kanaan dan membeli tanah serta bermasyarakat di sana, dengan jelas memberitahukan kepada Anda dan saya bahwa para murid Tuhan selalu dalam keadaan ditolak manusia tetapi dipilih Allah, seperti hidup di bawah tarikan tegangan yang tampaknya bertentangan, sehingga pengalaman-pengalaman ini bukanlah hal yang asing dan baru, agar orang-orang percaya di abad pertama tahu bahwa ini adalah keadaan normal yang senantiasa dialami umat Tuhan. Apakah orang-orang percaya di tempat kita tahu?

Tetapi pada saat yang sama, apa yang ayat Alkitab Perjanjian Lama nyatakan tentang bagaimana menghadapi raja-raja bangsa asing?

Firaun dari Kitab Keluaran karena dia tidak tahu bagaimana cara membalas yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat, dan memperlakukan Israel dengan buruk, berakhir dengan hukuman sepuluh tulah dari Allah.

Meskipun Daud terpaksa berpura-pura gila agar lolos dari pengejaran Saul, tetapi Allah oleh Diri-Nya sendiri yang mempersiapkan jalan bagi Daud, dan akhirnya orang fasik jatuh ke perangkap jerat dirinya sendiri.

Setelah orang-orang Yahudi ditawan dan terserak di negeri asing, bukankah Allah melalui para nabi telah menyatakan kejahatan para penawan dan menghakimi kejahatan mereka?

Meskipun Abraham menumpang tinggal di Kanaan, dalam pertempuran serangan empat raja terhadap lima raja, kehadiran Tuhan membuatnya menang dan menyelamatkan Lot, keponakannya.

Dapat dilihat bahwa ketika umat Allah hidup sebagai penumpang di zaman periode dan tempat yang berbeda, akhir dari raja-raja penguasa yang memusuhi melawan Allah, yang tidak tahu bertobat, jika mereka tidak memiliki rasa takut hormat kepada Allah, maka akhir dari mereka akan menyedihkan. Petrus membawa kita selain melihat identitas umat Allah melalui Perjanjian Lama, terlebih juga melalui kitab Hosea yang mengumumkan bahwa belas kasihan Allah datang kepada orang-orang non umat Allah, mengumumkan kepada dunia bahwa semua kuasa pemerintahan ada di tangan Allah, Kitab Suci Perjanjian Lama tidak pernah malu untuk mengungkapkan siapa yang merupakan Terang yang sejati bagi dunia, mereka yang sombong, raja-raja yang keras kepala memegang tradisi pola pikir dunia, akhirnya hanya memiliki jalan menuju kebinasaan dan menerima penghakiman.

Renungkan:
Tuhan adalah Cahaya yang sejati bagi dunia, akankah para petinggi kekuatan politik dan orang-orang yang mempermainkan kekuasaan masih membuat orang-orang percaya panik? Sebenarnya memang membuat takut, namun bukankah identitas yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Allah mengingatkan kita bahwa ini adalah jalan yang harus dilewati, jalan yang diberkati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:11-12

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (III)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [ITB])
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

(Terjemahan penulis)
yang kekasih, aku menasihatimu, sebagai orang asing dan penumpang,
menjauhlah dari keinginan daging, keinginan daging ini akan berperang dengan jiwa,
milikilah perilaku baik di antara bangsa-bangsa asing, sehingga ketika mereka memfitnah kamu sekalian sebagai orang jahat,
tetapi karena melihat perilaku baik kamu sekalian, maka memuliakan Allah di hari Allah melawat

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin, ayat dari kitab Hosea mengingatkan kita untuk berupaya keras di masa tinggal di diaspora, bersaksi tentang rahmat anugerah Tuhan, tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita percaya bahwa Tuhan telah memberkati kita dan akan menyimpan banyak rahmat dan kejutan bagi kita, menghendaki kita teguh percaya atas identitas diri kita sebagai orang-orang diaspora dan tetap hidup dengan cemerlang berkenan kepada Tuhan.

Ayat Alkitab hari ini melanjutkan pengajaran ayat kemarin, membuat kita lebih memahami bagaimana mempraktikkannya dalam lingkungan nyata, agar bangsa-bangsa lain juga dapat memuliakan Allah.

Pertama, Petrus menggunakan sepasang kata-kata yang serupa orang asing dan penumpang (παροίκους καὶ παρεπιδήμους paroíkous kaí parepidímous) untuk menekankan penjelasannya tentang identitas orang percaya (ITB terjemahkan sebagai pendatang dan perantau KJV: strangers and pilgrims). Lalu, ketika kita membaca Kejadian 23:4 dalam terjemahan Septuaginta (LXX), pasangan kedua kata ini persis digunakan pada diri Abraham, di antara orang Het ia menunjukkan identitasnya sebagai orang yang dipanggil dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan sebagai orang asing dan penumpang. Karena itu, Petrus menggunakan tipologi Perjanjian Lama untuk memberikan pengajaran kepada saudara-saudari, dan sekali lagi menjelaskan bahwa pengalaman sebagai orang yang terserak (berada di diaspora) ini konsisten, dan bukan merupakan kejutan baru. Dan dalam berbagai tipologi Perjanjian Lama yang berbeda, rahmat anugerah Allah dinyatakan pada Abraham dan keturunannya, orang Israel dalam Keluaran, Daud yang dipaksa melarikan diri, dan umat Allah yang terserak di kerajaan utara dan selatan? Dan keselamatan Allah tidak pernah absen.

Lalu, ketika ayat Kejadian 23 yang dikutip di sini, itu adalah catatan tentang setelah Sarah meninggal, Abraham membeli tanah dari orang Het untuk menguburkan juga keturunannya kelak. Di antaranya dicatat bagaimana Abraham bergaul dengan penduduk setempat dan berurusan jual beli dengan mereka, agar di antara penduduk setempat, bisa mempertahankan nama baik, dan menjaga hubungan yang langgeng dan baik. Ini tepat menjelaskan dua ayat Alkitab yang dibaca hari ini, yaitu agar orang dapat melihat perilaku baik diri kita, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah.

Menurut pandangan yang salah dari Suetonius seorang sejarawan Yunani Romawi terhadap murid-murid Kristus, orang-orang Kristen itu percaya takhayul yang berperilaku kacau (mischievous superstition. Nero 16). Tacitus salah memahami dan memandang Kekristenan adalah agama yang berbahaya dan takhayul, komunitas yang suka mempraktikkan magis (Annals 144). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa besar tekanan yang diterima orang Kristen dan pada taraf yang begitu mengerikan (penuh fitnah dan provokasi).

Pengajaran Rasul Petrus di ayat ini bukan berseru-seru demi nafsu keinginan diri sendiri dan demi saling menentang dengan yang lain, bukan demi melindungi diri sendiri, tetapi dengan sepenuh hati, dia memanggil mereka yang tidak memiliki tipu daya agar saling mengasihi, bersatu hati membangun sebuah Bait rohani dan saling melindungi.

Renungkan:
Sifat manusia dari manusia umum adalah mudah diprovokasi oleh orang lain, dan demi nafsu keinginan mereka saling membenci, tetapi ini hanya demi keuntungan daging, tetapi sama sekali tidak berfaedah untuk jiwa rohani. Dengan sudut pandang lain, ketika orang lain sibuk, menghabiskan waktu dan pikiran beserta tradisi kebiasaan pola pikir spiritual yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia untuk menyerang dan memfitnah Anda, tetapi Anda dapat berdiri di atas batu karang Tuhan dan tidak digoyahkan, Anda akan menyaksikan sekelompok orang bebal yang berlarian ke sana ke sini, mereka tidak akan mendapatkan apa pun di Kerajaan Allah, dan akhirnya mereka hanya akan memakan buah kejahatan yang dihasilkan jerat mereka sendiri, bisakah hati Anda menenangkan diri dan hati? Atau apakah kita perlu memperebutkan memperjuangkan lebih banyak?

Pada hari Tuhan melawat (day of visitation), akankah musuh memuliakan Tuhan karena Anda, apakah saya sudah cukup? Sudah bolehkah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:10

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (II)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:10 [ITB])
10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

(Terjemahan penulis)
dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah
dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Dua hari yang lalu, kita berbicara tentang tema teologis dari Perjanjian Lama – ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, sehingga umat Tuhan jangan takut untuk hidup dalam penolakan dan kesulitan, Tuhan akan menjadi Raja di antara mereka, dan menunjukkan jalan yang dilalui setiap orang. Hidup dalam situasi dan keadaan ini, barulah menemukan bahwa iman itu realitas nyata dan betapa berharganya anugerah, dan barulah bersedia untuk tidak terjerat tradisi kebiasaan rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang ada di dunia. Saling mengasihi tanpa tipu daya, satu hati membangun komunitas ini.

Tetapi tiba di hari ini, Petrus telah menggunakan bagian lain dari Perjanjian Lama untuk melanjutkan penjelasan pemahaman, dan bagian yang ia kutip ini membuat tulisannya ini begitu indah, membawakan pesan yang sangat kaya melimpah.

Secara sekilas pandang, kitab Hosea memang berbicara tentang pengkhianatan umat Israel terhadap Allah, meninggalkan anugerah pengajaran Allah, tetapi tiba di Hosea 2:23 menyebutkan bahwa bahkan jika orang Israel benar-benar mengkhianati Allah, tetapi anugerah Allah tidak akan gagal sia-sia, sebaliknya, rahmat anugerah-Nya akan mendatangi orang-orang yang bukan umat Allah, dan mendeklarasikan bahwa orang-orang non umat Allah, sekarang sudah terhitung sebagai umat Allah.

Tetapi ketika kita dengan lebih terperinci mempelajari latar belakang situasi kitab Hosea, kita akan menemukan bahwa orang-orang yang semula adalah milik Allah ini dihukum oleh Allah karena menyembah berhala, sehingga dihukum dibuang terserak ke penawanan, dan situasi orang Israel zaman Hosea sebagai penumpang ini dipakai Petrus sebagai tipologi dikenakan dalam situasi orang percaya abad 1 ini. Mungkin alasan di balik keadaan terserak berbeda, tetapi fakta bahwa mereka hidup sebagai penumpang di diaspora adalah sama, dan yang menjadi fokus Petrus adalah dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah; dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan. Ini menunjukkan bahwa orang Israel yang terserak dalam diaspora jika mau bertobat dan berbalik, mau menerima ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, maka karya dan kesetiaan Allah di antara mereka tidak hanya menggerakkan hati orang, tetapi yang lebih penting adalah bahkan orang-orang non Yahudi yang bukan umat Allah akan melihat anugerah dan kasih Allah sehingga tergerak hatinya untuk berbalik kepada Allah yang sejati. Dan belas kasihan Allah juga akan datang ke atas diri mereka, mengakui identitas umat Allah.

Di Asia Kecil, setelah melalui kerja keras Paulus dan orang-orang percaya lainnya, maka Injil telah diberitakan menyebar di antara mereka, jadi Petrus mengutip pesan kitab Hosea ini tidak merupakan halangan, justru ia meneruskan pengajaran Hosea. Ternyata orang-orang percaya mengalami pengasingan terserak, sepatutnya hidup dengan cara baik di tanah asing, sebaik-baiknya melanjutkan menerima perintah Tuhan, bekerja keras dalam tugas sebagai imam, dan bersaksi bahwa kuasa Tuhan juga datang di antara mereka, apalagi Injil sudah ada di daerah-daerah ini, maka bukankah orang percaya bersama-sama dengan orang percaya non Yahudi setempat dapat terlebih lagi bekerja keras mengobarkan Injil?

Renungkan:
Ayat Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa ketika kita menghadapi keadaan sulit, kita dengan cepat terperangkap seluruh kesulitan, dan tidak mudah bagi kita akhirnya menyadari apa identitas orang Kristen itu — yakni walaupun ditolak, tetapi dipilih Tuhan dan berharga di mata Tuhan, tetapi ketika kita perlahan-lahan menerima penempatan peranan kita ini, tiba-tiba akan menemukan bahwa Tuhan telah mempersiapkan orang-orang yang juga sama-sama menerima belas kasihan Allah bagi kita, berjalan bersama Anda di sepanjang jalan surgawi, ternyata di masa yang tidak mudah, Tuhan telah lama mempersiapkan bagi kita, membuat kita terkejut di luar dugaan kita.

Jika Israel jatuh, sehingga orang-orang asing akan menerima belas kasihan!

Jadi hari ini pandangan gereja kita kehilangan fokus, atau gereja di tempat kita menghadapi situasi dianiaya dan diserakkan, tolong percayalah bahwa Tuhan pasti akan sekali lagi membawakan kejutan sukacita besar!


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:6-8

「Persekutuan Orang Kudus (III)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:6-8 [ITB])
6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

(Terjemahan penulis)
Karena ini tertulis dalam Kitab Suci:
Lihat! Aku meletakkan sebuah batu di Sion, sebuah batu penjuru yang terpilih dan yang berharga
siapa pun yang percaya dia, tidak akan malu (Yesaya 28:16)
yang berharga adalah orang yang percaya,
tetapi yang tidak percaya,
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22)
juga menjadi
batu sandungan dan batu karang yang membuat orang tersandung (Yesaya 8:14-15)
mereka jatuh tersandung, adalah tidak taat Firman ini, mereka akan menjadi seperti itu.

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, dasar persekutuan orang-orang kudus.

Kemarin, kita berbicara tentang bahwa kita adalah batu yang hidup, karena Kristus Yesus sendiri adalah batu yang hidup, kita harus bersambung gandeng satu sama lain, saling mengasihi tanpa kasih yang tipu muslihat, dan menjadi para imam yang rajani (imamat yang rajani), sehingga karena komunitas iman ini yang tidak berdaya dan lemah membuat orang-orang bersama-sama meninggikan nama Tuhan dan menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan benar-benar ada di antara kita.

Dalam perikop Alkitab hari ini, kita akan menemukan bahwa Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama (Yesaya 28:16; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14-15 klik untuk membaca) untuk membahas batu hidup ini, jelas dia adalah iIngin menegaskan tipologi dari Perjanjian Lama. Selain dari 5 Kitab Taurat Musa (Torah), ada juga Yesaya dari kelompok kitab Nabi-nabi (Prophets), juga Mazmur dari kelompok Tulisan (Writings), Kitab Suci orang Yahudi terdiri dari kelompok Lima Kitab, Kitab Para Nabi, dan Kitab Tulisan-tulisan, bahkan seluruh Perjanjian Lama adalah interpretasi dari tipologi ini – bahwa yang ditolak adalah benar-benar yang dipilih oleh Allah dan berharga di mata Allah. Bagi orang-orang percaya yang terserak di abad pertama, meskipun mereka menghadapi kesulitan besar dan ditolak manusia, tetapi identitas mulia mereka tidak pernah hilang, apalagi dipermalukan.

Petrus menggunakan kutipan Yesaya pasal 28 dan pasal 8. Menurut uraian pasal 28, umat Allah menolak untuk mendengarkan Firman-Nya (bahkan walaupun Firman datang ke dunia dan menjelma jadi manusia), dan secara semaunya sendiri berpikir bahwa penafsiran mereka benar (Yes. 28:5-15), sehingga Allah menaruh batu di Gunung Sion, yakni umat Allah akan dikalahkan musuh dan bahkan ditawan (Yes. 28:16-19). Oleh karena itu, penempatan batu ini adalah untuk membuat orang tahu bahwa ditawan, dibuang (ditolak) ini adalah tindakan Allah, agar orang-orang di tahap ini masih dapat melihat bahwa Allah memiliki rahmat anugerah.

Dalam Yesaya pasal delapan, dengan nada yang sama juga ditempatkan di sini, yaitu, Allah akan menolak orang-orang Yahudi dan akan menjadi batu sandungan, batu karang yang membuat orang jatuh, sehingga orang tidak mau menerima cara keselamatan ini. Tetapi nabi Yesaya mendorong, agar kita menunggu Allah yang menyembunyikan wajah-Nya dari keluarga Yakub (Yes. 8:12-17), metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini secara konsisten terdapat dalam kitab Yesaya dan merupakan benang merah yang menembus menyambung seluruh sejarah Israel.

Adapun Mazmur 118, puisi tentang naik tahta yang terkenal, di hari minggu Palem (Palm Sunday, minggu memperingati Tuhan Yesus naik keledai memasuki Yerusalem, awal dari minggu penderitaan-Nya) kita akan sering menggunakan frasa diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (lihat Mat. 21:9), tetapi yang datang atas nama Tuhan ini juga mengalami ancaman kematian dan serangan dengan orang lain, bahkan menjadi yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan (Mazmur 118:17-22), tetapi pengalaman ini oleh Allah dibuat jadi batu penjuru yang sejati. Dengan cara yang sama, metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini sekali lagi muncul disajikan dalam Mazmur, saling bergandengan bertanggapan dengan kitab- kitab Perjanjian Lama lainnya.

Tepat karena hal ini, sampai zaman Perjanjian Baru, yang ditolak ini justru dipilih Allah dan berharga di mata Allah ini tidak memudar, juga tidak hilang, sebaliknya telah dipahami menjadi jelas secara menyeluruh dalam diri Yesus Kristus.

Renungkan:
Kemarin, kita bertanya: apa pandangan kita tentang gereja? Hari ini, melalui kitab Yesaya yang mewakili kitab Nabi-nabi, Mazmur yang mewakili kumpulan Tulisan (kitab-kitab Puisi), dan bagian yang mengutip 5 Kitab Taurat yang telah kita renungkan selama beberapa hari yang lalu, menghendaki kita agar bersedia untuk mengambil jalan yang ditolak oleh orang lain, agar gereja mengulangi kebenaran yang tampaknya kontradiktif ini, agar apa yang kita lihat bukanlah tindakan manusia, tetapi tindakan dan kemuliaan Allah dinyatakan di hadapan manusia.

Hari ini, kita menghadapi jalan di depan, segala macam gesekan dan tantangan membuat kita harus mengakui bahwa kita akan memasuki situasi penuh penolakan, tetapi ini adalah pandangan sebenarnya dari gereja yang telah kita renungkan dalam beberapa hari terakhir, bukankah demikian? ! Ini juga merupakan waktu yang sangat baik bagi orang percaya untuk melihat bahwa itu sebenarnya bukan tindakan manusia, bukan tangan kendali agama, tetapi tangan tindakan Allah yang hidup di antara orang percaya, agar kita dapat bersama mengalami apa yang pernah dialami orang-orang kudus terdahulu. Bukankah ini persekutuan orang-orang kudus? !


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:4-5 (2)

「Persekutuan Orang Kudus (II)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-5 [ITB])
4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

(Terjemahan penulis)
Datang ke hadapan-Nya, yakni batu hidup, di satu sisi ditolak oleh manusia.
di satu sisi dipilih oleh Tuhan dan berharga.
Mereka seperti batu hidup, dibangun menjadi rumah rohani menjadi imam kudus
melalui Yesus Kristus mempersembahkan korban rohani yang berkenan diterima Allah

Dari ayat Alkitab kemarin, kita memahami bahwa definisi pemberitaan kebenaran dan definisi batu hidup adalah: akan ditolak oleh orang, tetapi sebaliknya dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata-Nya. Pemberita harus mempersiapkan hatinya sendiri, bahwa seumur hidup memberitakan kebenaran hanya akan mendatangkan serangan dari banyak orang, tetapi ini tidak menjadi masalah, Kristus telah memberikan kita contoh teladan.

Dalam ayat kelima, kita juga seperti batu hidup, dan kasih kita satu sama lain, yaitu, yang tulus, yang penuh antusias untuk mengasihi, yang tanpa tipu daya, membuat kita tersambung membentuk sebuah bait, yakni bait yang ada Roh di dalamnya. Kata roh (πνευματικὸς pnevmatikós) dimaksudkan: bahwa setelah pembersihan dikuduskan Roh Kudus (lih. 1:22), kita menjadi kelompok bait yang penuh dengan kebenaran – ini adalah kelompok bangunan yang akan ditolak oleh manusia tetapi juga berharga di mata Allah.

Lalu teks menggunakan Perjanjian Lama (Keluaran 19:5-6) untuk menggambarkan bait rohani ini, yakni yang menjadi imamat yang kudus (kumpulan imam / imam-imam yang kudus) dan untuk mempersembahkan korban. Deskripsi ini mengingatkan kita akan kutipan kitab Imamat terkenal yang disebutkan Petrus sebelumnya, Kuduslah kamu, sebab Aku kudus, yang menunjukkan ketundukan hamba (subordinate) kepada Allah, orang-orang Ibrani yang keluar dari Mesir menghadapi pengejaran orang Mesir dan ada juga penolakan dari tujuh bangsa Kanaan di padang belantara, mereka adalah orang-orang yang dipilih dan berharga tetapi jatuh ke dalam penolakan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, konsep imamat yang kudus bukan hanya sebuah kedudukan, tetapi adalah satu kesaksian demi kesaksian yang lain, untuk menunjukkan bagaimana saat di dalam keadaan musuh mengepung di semua sisi, namun dapat melampaui dan melewatinya dengan setia menyatakan bahwa diri kita adalah milik Allah, yang juga adalah komunitas umat Allah yang rela tidak memiliki kemunafikan dan kedengkian, hidup bersama di bawah tekanan yang penuh ketegangan dan rasa takut ini, dan penuh sukacita mempersembahkan korban untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa di lingkungan atau keadaan yang demikian Allah menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku

Tipologi Keluaran dari Mesir didasarkan pada hukum baru yang dianugerahkan di gunung Sinai, dan orang Ibrani akan menjadi umat baru dan imamat yang rajani dari Allah (kumpulan imam / imam-imam yang melayani Raja), dan umat Allah akan bersama-sama mengatakan Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan (lihat Kel. 19:7-8). Dalam Surat 1 Petrus, umat Allah terserak di mana-mana, diserang dan dilukai, tetapi menjadi umat baru melalui Kristus (tidak lagi melalui hukum Taurat, karena Kristus telah menggenapi memenuhi tuntutan hukum Taurat), tetapi juga menjalani kembali konsep tentang imamat yang rajani yang sudah terjadi dahulu sebelumnya (dahulu saat keluaran dari Mesir di zaman Musa), menyaksikan keselamatan dan kasih karunia Kristus, dan meninggikan nama Tuhan di antara bangsa-bangsa asing.

Mungkin kita semua berpikir bahwa kutipan ayat-ayat Perjanjian Lama mengingatkan kita untuk tidak berpikir bahwa hidup kita sedang dipukuli, dan tidak ada yang peduli, berkali-kali jatuh! Tidak! Imamat yang rajani adalah untuk bersaksi kepada dunia bahwa kita tidak lagi dipimpin dengan tradisi kebiasaan pola pikir agama yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, atau yang kuat, atau yang penuh kebanggaan, tetapi teladan dari yang lemah, tak berdaya dan mengasihi dengan tulus mencintai.

Renungkan:
Renungan hari ini mendorong kita untuk mengambil konsep gereja yang bagaimana? Komunitas Perjanjian Lama pada dasarnya adalah esensi gereja saat ini, yang juga merupakan realitas dan substansi kita (dasar esensi kita). Dalam situasi epidemi, kita memikirkan kembali tentang apakah gereja itu sebenarnya. Setelah pengalaman beberapa bulan terakhir, janganlah kita terburu-buru mengembalikan praktik masa lalu, biarkan pengalaman bulan-bulan ini mengajarkan kita untuk mempertimbangkan kembali apa pembaruan dan transformasi yang dibutuhkan untuk pandangan gereja kita, apa jalan berikutnya yang harus kita lewati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:23-25

「Kasih yang Pura-pura, Banyakkah? (3)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:23-25 [ITB])
23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
24 Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, 25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

(Terjemahan penulis)
dilahirkan kembali tidak datang dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak dapat rusak, melalui Firman Allah yang hidup dan yang kekal
… karena daging seperti rumput, semua kemuliaan seperti bunga di atas rumput
… saat rumput layu kering, bunganya mati.
Tetapi firman Allah akan tetap selamanya
ini adalah berita sukacita diberitakan kepada engkau

rumput menjadi kering dan bunga gugur

Dua hari yang lalu, ketika kita berbicara tentang menghadapi situasi penderitaan dan penganiayaan, menyesuaikan iman kembali dengan kekristenan Perjanjian Baru, mengasihi dengan tulus satu sama lain, tidak ada kemunafikan, semua itu adalah kunci untuk menghadapi kesulitan, atau mengatakan: tulus, kasih yang penuh semangat kehangatan barulah kita dapat mengatasi kesulitan dan penganiayaan dunia ini.

Hari ini, ayat Alkitab ini menggunakan tata bahasa bentuk sudah terjadi (perfect) untuk mengungkapkan suatu poin penting, yang sangat mirip dengan kata menyucikan kemarin, yakni kata dilahirkan kembali (ἀναγεννήσας anagennísas), kata kerja bentuk sudah terjadi ini mengungkapkan jiwa yang telah mengalami penyucian, dimulai baru dari awal, dan kata ini sama dengan kata dilahirkan kembali di ayat 3 (… yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati …, lihat ayat 23 … kamu telah dilahirkan kembali … oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal), yang menekankan siapa yang melahirkan kita kembali, yaitu Yesus Kristus Sang Firman Allah yang bangkit dari kematian membuat kita dapat dilahirkan kembali, kelahiran kembali ini mendefinisikan identitas unik umat Allah.

Lalu ayat Kitab Suci ini lebih lanjut mengungkapkan di mana letak nilai berharganya kelahiran kembali ini, bahwa pengalaman kelahiran kembali ini tidak akan dapat rusak lagi, karena ini adalah datang dari benih yang kekal – bukankah itu adalah Kristus, Juruselamat, yang telah bangkit dari kematian, selamanya duduk bersama Allah Bapa?

Dan Sang Firman kebenaran Allah itu hidup dan kekal abadi, dan sampai hari ini, Firman itu masih hidup, dan masih membawakan buah hasil, tidak jatuh terjerat tradisi kebiasaan rohani yang hanya berpusat pada dunia, masih berbicara, membuat semua orang tunduk pada Firman kebenaran ini.(Firman adalah perkataan Allah yang masih berbicara, sebab Firman itu hidup, sebab Firman itu adalah bagian dari Allah, Firman itu adalah Allah sendiri)

Kemudian, Petrus menggunakan Yesaya 40:4-5 untuk membuat ringkasan.

Kita perlu memahami Yesaya pasal 40 adalah tonggak penting bagi keseluruhan kitab, yaitu, orang-orang Yahudi ditawan ke pengasingan dan diceraiberaikan terserak di Babel (tepat seperti situasi Surat 1 Petrus ini), mereka sedang menunggu keselamatan Tuhan yang akan datang, tetapi satu generasi berlalu demi satu generasi (setiap generasi berlalu dengan cepat seperti rumput dan bunga gugur dengan cepat), mereka menemukan bahwa keselamatan belum datang, tetapi mereka juga percaya kepada Firman Allah dan suatu hari keselamatan yang dijanjikan pasti akan datang, jadi mereka menyatakan firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya tidak akan gagal (Yes. 40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya). Tipologi dalam kitab Yesaya ini diulangi terjadi dalam komunitas pembaca Surat Petrus (bukankah juga terjadi ulang pada diri kita?) (Tipologi adalah figur atau peristiwa dalam Perjanjian Lama yang merupakan lambang yang kelak terulang dalam Perjanjian Baru memiliki kesesuaian makna rohani terkait Mesias Yesus Kristus. Tipologi merupakan bentuk nubuat tidak diucapkan, saat penggenapan utamanya terjadi barulah kita bisa melihat dan memahami apa yang dimaksud Allah). Komunitas pembaca Surat Petrus juga terserak di tempat diaspora, dalam keputusasaan, melihat generasi diri sendiri akan segera berlalu, dan harapan bahwa Tuhan datang kembali masih belum terpenuhi, apakah hendak menyerah saja dan kembali ke kehidupan sebelumnya serta model agama kelompok Yahudi yang lama? Ataukah hendak teguh bertahan dan memberi tahu generasi berikutnya bahwa Firman Allah yang hidup dan yang kekal, dan dengan kehidupan terus mengalami realitas kenyataan dari janji ini?

Renungkan:
Ketika jalan di depan dan situasi mungkin sukar, atau bahkan telah melihat bahwa jalan di depan hanya akan semakin dijalani semakin sempit, dapatkah kita memberikan harapan kita kepada generasi berikutnya dan melakukan yang terbaik bagi mereka, yakni mewariskan kekuatan Injil yang melahirkan kembali itu dan saling mengasihi kepada mereka? Jangan terbelenggu berbagai macam pembatasan dunia, bahkan terbelenggu oleh gesekan internal, dan saling membenci, mari kita fokus kembali pada Firman Allah yang hidup dan yang kekal untuk membawakan daya pengaruh kepada generasi demi generasi orang-orang kudus.

Agar ketika kegelapan datang, kita dapat melihat bahwa generasi kita berikutnya dapat saling mengasihi dengan tulus, tanpa tipu daya, tanpa kemunafikan, dan bekerja sama untuk menghadapi kejahatan yang datang.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:13 (1)

「Gereja Perlu Lakukan Hal Baru」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:13 [ITB])
13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus..

(Terjemahan penulis)
Karena itu, ikatlah pinggang hatimu,
sepenuhnya waspada,
Menempatkan harapan dalam kasih karunia, yaitu waktu penyataan Yesus Kristus
datang di antara kamu sekalian

ikatlah pinggang hatimu

Dalam pembukaan pembicaraan Petrus, ia mengingatkan identitas orang percaya adalah perkembangan kehidupan baru, tidak seperti harapan Yahudi akan Mesias antara dua perjanjian, berharap bahwa Yesus Sang Mesias akan membawa kebangkitan negara Yahudi, membawa pembaruan dan perubahan dalam politik. Tetapi sebaliknya, orang-orang terpilih yang mengikuti iman Kristen dipanggil untuk terserak (diaspora) dan dipaksa untuk hidup di Asia Kecil. Pengakuan atas identitas ini penuh dengan tantangan, tidak mudah diterima, tetapi Petrus telah menunjukkan bahwa identitas ini tidak pernah merupakan hal baru yang asing, dan sudah seperti ini sejak dahulu zaman para nabi Perjanjian Lama. Ini hanyalah pewarisan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan ini adalah kegigihan iman tidak bersedia terjerat dalam tradisi pola pikir yang seperti rohaniah tetapi hanya berpusat pada hal-hal yang ada di dunia.

Karena seperti yang dikatakan di atas, di ayat 13 Petrus menggunakan kata karena itu (διό dio) untuk membuka paragraf baru, dengan jelas menunjukkan bahwa identitas kita sama sekali tidak kabur (campur baur / ambigu), dipilih tetapi terserak tersebar di antara bangsa-bangsa, ini adalah kehendak Allah bagi umat-Nya, kita sepatutnya mempersiapkan diri kita untuk menanggapi tantangan zaman (generasi) terhadap kita.

Kemudian Petrus menggunakan sebuah idiom untuk menjelaskan bagaimana kita harus mempersiapkan diri – mengikat pinggang ini adalah budaya kelompok etnis Timur, mengenakan jubah panjang, dan untuk agar bisa bekerja tanpa terganggu dan berkonsentrasi pada pekerjaan, maka menggunakan tali mengikat jubah di pinggang sehingga terdapat ruang gerak kaki yang lebih besar (ITB secara fungsional gunakan kata “siapkanlah”, KJV “gird up loins“). Petrus menggunakan idiom mengikat pinggang untuk menunjukkan bahwa identitas baru ini adalah untuk bangkit dan memberikan respons, bekerja untuk Tuhan, bukan hanya untuk menikmati harapan kehidupan baru. Selain itu, dalam Keluaran 12:11 (Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN), frasa ini juga digunakan untuk mengingatkan orang-orang Yahudi yang terbiasa tinggal di tanah asing (Mesir), jangan tenggelam menikmati berbagai gaya hidup di Gosyen, tetapi hendaklah bangkit dan pergi memasuki Tanah Perjanjian dan dengan identitas baru pergi menerima panggilan dan melayani Tuhan. Ini menghasilkan sebuah seruan panggilan Keluaran dari Mesir baru (New Exodus Motif) kepada pembaca surat Petrus, agar mereka benar-benar seperti yang dialami di Perjanjian Lama, Allah melakukan hal besar, yakni keselamatan besar diulang di antara mereka (Tambahan penerjemah: tentang tipologi, lihat renungan kemarin dulu dan kemarin, juga http://www.sarapanpagi.org/tipologi-vt1235.html).

Lalu, yang harus kita pikirkan adalah: Seperti apa model seorang manusia yang baru? Terutama dalam krisis ekonomi, mata pencaharian masyarakat dan ekonomi dalam keadaan sulit, apakah kita sudah mengikat pinggang dan melakukan hal-hal yang berbeda bagi Tuhan dalam generasi baru? Atau apakah tetap bersikukuh tidak ingin berubah, mempertahankan pengalaman sendiri sebagai dasar sehingga melupakan kebutuhan dan perbedaan generasi baru ini?

Renungkan:
Bapa gereja mula-mula, Uskup abad kedua, Polycarp, juga menggunakan frasa ikatlah pinggang (Pol. Phil. 2.1) untuk memotivasi orang-orang percaya di Filipi, tetapi ia sendiri akhirnya diikat di tiang, dibakar mati sebagai martir. Mungkin kita tidak ingin menekankan mati sebagai martir, tetapi apakah seseorang bersedia berkorban untuk Tuhan, atau sekadar peduli diri sendiri, atau mencari kedudukan yang terbaik bagi diri sendiri, ini adalah ujian siapakah hamba Tuhan yang sejati dan yang pantas berpadanan dengan identitas hidup yang baru, bukankah demikian?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:10-12 (2)

「Pakai Hati, Sabar, Melayani Generasi Berikut」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:10-12 [ITB])
10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. 11 Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. 12 Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

Terjemahan penulis:Nabi-nabi menubuatkan tentang kasih karunia di antara kamu, mencari dengan terperinci memeriksa tentang keselamatan. Roh Kristus dinyatakan di antara mereka, melalui meneliti siapa yang dimaksud
Roh Kristus mewahyukan di antara mereka, bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi bagi kamu sekalian, untuk melayani hal-hal ini. Hal-hal ini sekarang diberitakan oleh Kristus kepada mereka melalui Roh Kudus yang diutus dari surga untuk mengabarkan Injil kepada kamu sekalian, hal-hal ini, para malaikat juga ingin sekali menyelidiki

(Tambahan penerjemah renungan: Tipologi adalah prafigur atau pra peristiwa, atau sesuatu dalam Perjanjian Lama yang merupakan lambang yang memiliki kesesuaian makna rohani terkait Mesias Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Tipologi merupakan bentuk nubuat (tidak diucapkan), saat penggenapan utamanya terjadi barulah kita bisa melihat dan memahami apa yang dimaksud Allah. Klik untuk membaca penjelasan lebih lengkap.)

Kemarin, kita berbicara tentang bagaimana tipologi di masa Perjanjian Lama dinyatakan lagi (digenapi) pada diri Yesus dan diri orang-orang percaya yang terserak di mana-mana, yang mengikuti teladan Yesus menderita, tetapi masih memiliki pengharapan atas kemuliaan di masa depan. Ini juga tiada henti menantang orang percaya di masa kini, apakah masih bersedia mewarisi dan mewariskan tipologi tradisional ini, sehingga Injil Kristus dapat diturunkan dari generasi ke generasi, tidak terjerat tradisi kebiasaan berpikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia.

Dalam ayat 12, secara khusus disebutkan apa yang menjadi fokus dari penyataan rohani (pewahyuan) Kristus, menunjukkan bahwa pewahyuan ini tidak pernah untuk para nabi itu sendiri (οὐχ ἑαυτοῖς ouch eaftoís), tetapi adalah untuk orang yang lain (ὑμῖν δὲ ymín dé) (mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu), sekali lagi dapat dilihat betapa pentingnya pewarisan dan kebenaran yang membangun orang ini, dan di dalam hati Petrus, pewarisan Injil bukan demi mendapatkan identitas dan status terhormat demi dirinya di kalangan gereja, tetapi untuk membina generasi baru untuk menghadapi tantangan terhadap generasi mereka, ini adalah prioritas utama Injil.

Alkitab mengingatkan kita untuk melayani atas hal-hal ini (διηκόνουν αὐτά diikónoun aftá), tetapi apakah hal-hal ini? Ternyata tidak pernah merupakan hal-hal yang mudah dan enteng. Adakala, kita berkonsentrasi dalam hal pewarisan bagi orang lain, tetapi ternyata pihak lain tidak memahami sedikit pun, namun kadang-kadang upaya yang tampaknya tidak ada efek atau buah hasilnya, tetapi entah bagaimana justru menghasilkan buah yang tidak terduga.

Semua ini bukan sesuatu yang bisa kita kontrol, tetapi apa yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah semua itu untuk kepentingan orang lain, atau demi reputasi (kemuliaan) diri sendiri? Ini bukan sesuatu yang dapat dipahami sekilas di permukaan saja, kecuali ada introspeksi diri yang mendalam dan cambuk peringatan tulus dari orang lain. Dari sisi sejati sifat manusia, kebanyakan orang-orang adalah demi keuntungan mereka sendiri yang merupakan motif paling sesungguhnya.

Oleh karena demikian maka perikop Alkitab terus mengingatkan kita bahwa segala sesuatu adalah karena Roh Kristus yang terlebih dahulu bekerja dan mengingatkan, itu adalah titik awal dan dasar dari pelayanan kita, karena … yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu… barulah orang mampu memahami dan mengetahui hal-hal ini. Dapat dilihat Petrus berulang kali ingin mengingatkan kita bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati manusia untuk membangun orang, inilah pengalaman umum dan yang sejati dari orang Kristen. Apakah orang memiliki pembangunan diri yang hanya merupakan penyamaran yang dangkal, ataukah kehadiran penyertaan Roh, pelayanan yang memberi efek kepada orang lain, kedua hal memiliki perbedaan besar dan hasil yang berbeda.

Terakhir, hal-hal ini, para malaikat juga ingin sekali menyelidiki, frasa ini mungkin diambil dari tulisan Yahudi 1 Henokh 9:1, para malaikat memeriksa semua penderitaan dan kegembiraan di dunia, tetapi para malaikat melihat semua ini dari sudut kemenangan, namun sebaliknya justru penderitaan dan kebangkitan Yesus menjungkirbalikkan semua pemikiran, ternyata bahwa keselamatan ini melampaui pemahaman yang ada di alam semesta.

Renungkan:
Ternyata bahkan melampaui pengetahuan malaikat di alam semesta, bukankah karya Roh Kudus saja yang dapat membuat hati manusia berubah, bersedia menerima jalan sempit yang tidak disukai manusia, untuk mewarisi dan mewariskan tipologi yang sejati kepada generasi berikutnya? Apakah Anda bersedia? Apakah ini menakutkan?

Jika para nabi, Yesus, para rasul, dan orang-orang beriman semuanya mengalami hal ini, dapatkah tipologi ini disukai oleh orang percaya? Dalam generasi (zaman) yang tinggi saleh dan mulia, dapatkah kita memahami jalan yang harus dilalui oleh orang percaya? Dan tidak berkompromi berdamai dengan tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia?

Tambahan penerjemah renungan tentang tipologi disadur dari http://www.sarapanpagi.org/tipologi-vt1235.html


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:10-12 (1)

「Tipologi yang Terjadi Berulang」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:10-12 [ITB])
10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. 11 Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. 12 Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

Terjemahan penulis:Nabi-nabi menubuatkan tentang kasih karunia di antara kamu, mencari dengan terperinci memeriksa tentang keselamatan. Roh Kristus dinyatakan di antara mereka, melalui meneliti siapa yang dimaksud
Roh Kristus mewahyukan di antara mereka, bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi bagi kamu sekalian, untuk melayani hal-hal ini. Hal-hal ini sekarang diberitakan oleh Kristus kepada mereka melalui Roh Kudus yang diutus dari surga untuk mengabarkan Injil kepada kamu sekalian, hal-hal ini, para malaikat juga ingin sekali menyelidiki

Beberapa hari yang lalu, kita telah memakai waktu untuk membahas kunci utama dalam hal pewarisan komunitas gereja dan kebenaran yang membangun orang. Bagi Petrus, misi Injil adalah terkait hidup dan mati, sama seperti Yesus menghabiskan tiga tahun mengajar dan berkhotbah melalui hidup dan perkataan, sampai saat krusial, sebelum ayam berkokok tiga kali Petrus masih tiga kali menyangkal Yesus yang dapat ia lihat (bandingkan ayat 8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya, bandingkan dengan Simon, anak Yohanes, … apakah engkau mengasihi Aku … Yoh. 21:15), tetapi Yesus dengan lembut menasihati Petrus: kuatkanlah saudara-saudaramu (Lukas 22:32), Gembalakanlah domba-domba-Ku (Yoh. 21:15) (Bandingkan 1 Petrus 5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu …), Yesus meyakinkan dia untuk tidak bergantung pada kekuatan dan kemampuannya sendiri, tetapi bergantung pada anugerah Tuhan barulah bisa mewarisi keselamatan yang digenapi oleh Yesus. Petrus dahulu memiliki mimpi Mesias dari masa lalu, berharap untuk duduk bersama Yesus menikmati kekuasaan dan kekayaan, diubah menjadi kesediaan untuk menerima semua penganiayaan dan penderitaan bagi Kristus yang mati dan bangkit itu.

Dapat dilihat bahwa bagi Petrus, di samping pengalamannya sendiri, dari 3 ayat ini dapat menunjukkan bahwa bagi dia pewarisan Perjanjian Lama juga merupakan unsur yang sangat diperlukan tidak boleh tidak ada, kita bahkan dapat mengatakan bahwa dalam pembicaraan ayat-ayat berikutnya Perjanjian Lama menjadi dasar tulisannya dan panduan penentuan posisi identitas Kristus.

Dalam ayat 10 dan 11, Petrus dengan jelas menunjukkan bahwa para nabi dalam Perjanjian Lama telah mencari dan memeriksa secara terperinci (ἐξεζήτησαν καὶ ἐξηραύνησαν exezítisan kaí exirávnisan) tentang inti keselamatan ini, oleh karena itu, para nabi yang menderita dan hidup dalam kesulitan tampaknya telah terlebih dahulu mencicipi pengalaman penderitaan Kristus (προμαρτυρόμενον τὰ εἰς Χριστὸν παθήματα promartyrómenon tá eis Christón pathímata), dan menyadari bahwa penderitaan hamba-hamba Tuhan adalah tahap yang harus dialami, karena Mesias yang akan datang lagi kelak itu bukankah telah bersedia berkorban di atas salib, barulah masuk ke dalam kemuliaan?

(Tambahan penerjemah renungan: Tipologi adalah prafigur atau pra peristiwa, atau sesuatu dalam Perjanjian Lama yang merupakan lambang yang memiliki kesesuaian makna rohani terkait Mesias Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Tipologi merupakan bentuk nubuat (tidak diucapkan), saat penggenapan utamanya terjadi barulah kita bisa melihat dan memahami apa yang dimaksud Allah.) Karena itu, tipologi dari penderitaan hingga masuk ke dalam kemuliaan dialami ulang terlebih dahulu oleh para nabi Perjanjian Lama hingga terjadi pada diri Yesus Kristus, jadi kita tidak perlu terkejut! Karena itu, kita sebagai murid Tuhan Yesus, tipologi ini juga terjadi kepada murid-murid yang tersebar di mana-mana, Petrus ingin menyampaikan tipologi ini untuk menunjukkan bahwa pengalaman penderitaan orang-orang percaya hari ini tidak mengejutkan, kita hanya mewarisi jalan yang harus dilewati orang-orang yang mewarisi jalan kebenaran Tuhan Yesus.

Renungkan:
Petrus, seperti Anda dan saya, mengharapkan kehidupan yang aman tenang dan baik, berpikir setelah percaya pada Yesus, ia akan diberkati dan menjalani kehidupan yang tenang, tetapi pengalaman tiga kali menyangkal Tuhan dan perintah Gembalakanlah domba-domba-Ku mengingatkan dia: hendak mewariskan Firman kebenaran yang membangun orang maka akan mengalami tempaan dan merasakan rasa ditolak orang (disangkal orang).

Jika para nabi, Yesus, para rasul, dan orang-orang beriman semuanya mengalami hal ini, dapatkah tipologi ini disukai oleh orang percaya? Dalam generasi (zaman) yang tinggi saleh dan mulia, dapatkah kita memahami jalan yang harus dilalui oleh orang percaya? Dan tidak berkompromi berdamai dengan tradisi kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia?

Tambahan penerjemah renungan tentang tipologi disadur dari http://www.sarapanpagi.org/tipologi-vt1235.html


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 7:10-17(2)

「Imanuel」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 7:10-17 [ITB])
10TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11「Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.」
12Tetapi Ahas menjawab: 「Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.」
13Lalu berkatalah nabi Yesaya: 「Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
14Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (「Imanuel」 maknanya adalah 「Allah beserta dengan kita」). 15Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda–yakni raja Asyur.」

Ayat 14 adalah bagian yang paling mendapatkan perhatian, karena perkataan ini dikutip oleh Injil Matius 1:23, sebenarnya bagaimana seharusnya kita memahami pengutipan ini? Jika ayat 14 dipahami sesuai latar belakang kitab Yesaya, maka janji Imanuel menunjuk kepada janji kehancuran tentara gabungan dua kerajaan, maka ini adalah nubuat prediksi atas peristiwa yang akan terjadi. Dan identitas anak laki ini mungkin adalah Hizkia anak laki dari Ahas, atau mungkin anak laki nabi Yesaya, bukan menunjuk kepada Yesus Kristus (anak laki yang lahir 700 tahun kemudian ), karena isi nubuat menjelaskan bahwa sebelum anak laki ini 「tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong」, dapat dilihat ini bukan menunjuk kepada Yesus Kristus.

Jika ayat 14 dipahami sesuai latar belakang kitab Yesaya, kita memakai sudut pandang nubuat prediksi maka pengutipan ayat ini dalam Injil Matius 1:23 terlihat aneh. Tetapi jika kita memakai sudut pandang tipologi (figur pendahuluan atau simbol), maka terlihat sangat masuk akal, penulis Injil Matius melakukan pelimpahan konsep teologis dalam kitab Yesaya kepada bayi Yesus. Bayi dalam kitab Yesaya adalah lemah, bayi Yesus juga adalah lemah; bayi kitab Yesaya adalah tanda, bayi Yesus juga adalah tanda; tanda bayi kitab Yesaya menunjuk kepada keselamatan, bayi Yesus juga menunjuk kepada anugerah keselamatan. Pelimpahan konsep teologis ini membuat pembaca Injil Matius dapat melihat keselamatan dalam Yesus Kristus, Dia dengan kondisi yang lemah datang ke dunia, berada di dalam palungan adalah tanda atas yang lemah, justru paling akhir menunjuk kepada anugerah keselamatan semua manusia. Oleh karena itu, kita bisa berkata ini adalah 「penggenapan berganda」, pertanda bayi di dalam kitab Yesaya pasal 7 adalah semacam nubuat, tetapi di dalam pengutipan Injil Matius adalah semacam tipologi (figur pendahuluan atau simbol).

Renungkan: nama 「bayi」 ini adalah Imanuel, maknanya adalah penyertaan Allah. 「Bayi」 muncul sebagai sebuah pertanda, tidak menunjukkan keajaiban apapun, hanya merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada keselamatan yang sesungguhnya bagi Ahas, tentara gabungan dibunuh dan ia diselamatkan. Pada saat yang sama juga menunjuk kepada Yesus Kristus, membawakan anugerah keselamatan bagi semua manusia. Mohon Tuhan menyatakan pertanda-Nya, tanda bayi yang sangat biasa, tanda yang menunjuk kepada anugerah keselamatan kekal, keselamatan bagi manusia. Sudahkah engkau melihat? Silahkan menyerahkan kuasa kedaulatan atas hidupmu kepada-Nya.