「Musa bersama TUHAN selama empat puluh hari dan empat puluh malam」
Oleh Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Keluaran 34:27-28 [TB2])
27 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 「Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini Aku mengikat perjanjian dengan engkau dan Israel.」 28 Musa berada di sana bersama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Ia tidak makan roti maupun minum air. Ia menulis pada loh-loh itu kata-kata perjanjian, Kesepuluh Firman.
Kedua ayat ini menjadi tema renungan kita selama dua minggu pertama Masa Prapaskah, yaitu tentang Musa yang berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam di Gunung Sinai dan menerima hukum Taurat dari Allah.
Ayat 27 menekankan bahwa Musa di hadapan TUHAN menuliskan 「firman ini (kata-kata)」 (הדברים האלה êl·leh had·də·ḇā·rîm), 「firman ini」 muncul dua kali dalam ayat 27, dan kata 「kata-kata」 (דבר diḇ·rê) juga muncul dua kali dalam ayat 28, totalnya empat kali (ayat 27-28), yang menunjukkan bahwa inilah titik beratnya. Apa sebenarnya kata-kata ini? Ayat 27 menjelaskan bahwa 「segala firman ini (kata-kata)」 harus ditulis oleh Musa, dan bahwa TUHAN akan membuat perjanjian dengan Musa dan orang Israel berdasarkan 「segala firman ini (kata-kata)」. Dapat dilihat bahwa 「firman perkataan-perkataan ini」 berhubungan dengan perjanjian dan harus dipahami sebagai syarat-syarat perjanjian. Sama seperti sepasang suami istri membutuhkan kata-kata sumpah untuk menandai ikrar pernikahan mereka, demikian pula ketika TUHAN membuat perjanjian dengan umat- Nya, Ia menyatakan 「kata-kata ini」 untuk menjadi syarat dan janji dalam perjanjian tersebut. Dengan demikian, Musa menjadi pengantara antara TUHAN dan orang Israel.
Kedua, ayat 28 menjelaskan bahwa 「kata-kata ini」 adalah 「kata-kata perjanjian」 (דברי הברית hab·bə·rîṯ diḇ·rê), dan juga menjelaskan bahwa ini adalah 「Sepuluh Firman」 (עשרת הדברים had·də·ḇā·rîm ‘ă·śe·reṯ). Kesepuluh Firman ini adalah Sepuluh Perintah yang kita kenal. Dari sini kita memahami bahwa hakikat dari Sepuluh Perintah adalah perkataan-perkataan perjanjian, yang merupakan sepuluh kalimat yang diterima atas dasar perjanjian antara Allah dan umat. Kesepuluh kalimat ini tidak semuanya adalah perintah, banyak yang merupakan pesan positif, yang mengharuskan orang Israel atas dasar perjanjian ini untuk tidak memiliki ilah lain, juga tidak boleh berhala patung, dll.. Semua ini adalah tanggapan wajar sebagai komitmen dan janji dari kedua belah pihak terhadap perjanjian tersebut.
Di sini, demi di hadapan Allah menerima kata-kata perjanjian dan Sepuluh Perintah Allah, Musa tidak makan dan minum selama empat puluh hari empat puluh malam di hadapan TUHAN. Itu adalah pengalaman getir dan puasa, ini mungkin karena peristiwa anak lembu emas yang terjadi sebelumnya, yang menyebabkan Musa berpuasa dengan getir dan puasa di hadapan Allah untuk mewakili umat Allah memperbarui perjanjian dengan TUHAN. Pengalaman Musa untuk hidup bagi orang lain, menjadi contoh kita selama masa Prapaskah (masa sebelum penderitaan Kristus). Musa (salah satu prafigur Yesus Kristus) menderita menggantikan umat Allah, sehingga umat Allah dapat memasuki hubungan perjanjian dengan TUHAN.
Refleksi:
Kita terikat perjanjian dengan Tuhan. Apa makna perjanjian ini bagi saya? Bagaimana cara mengamalkan menghidupi firman perjanjian tersebut? Sebuah perjanjian membutuhkan komitmen dan kesetiaan. Dapatkah saya menemukan kedua unsur ini dalam diri saya?
Renungan Pra-Paskah (Er Dao)
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Musa di Gunung Sinai ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Maret 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
