Tag Archives: Pendatang

1 Petrus 2:13-17 (2)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (2)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin kita dengan terperinci membaca konteks pasal 1 dan 2 dari Surat 1 Petrus, khususnya penggunaan Perjanjian Lama oleh Petrus (The Use of Old Testament in First Peter) untuk memahami pemikiran teologi yang ada di baliknya. Ternyata identitas sebagai yang ditolak, justru adalah identitas sebagai yang dipilih Allah, ada pemeliharaan oleh Allah, jika pemerintah-pemerintah di bumi tidak bertobat dan tidak mau belajar untuk menghargai yang baik dan menghukum yang jahat, penghakiman Allah cepat atau lambat akan datang, dan dalam kisah yang dicatat dalam Perjanjian Lama, dapat dilihat bahwa Allah saja yang memegang kuasa secara kekal, dan tidak ada raja atau pemerintah yang bisa bermegah mulut membesarkan diri di depan Allah Sang Pencipta.

Karena benang merah teologi Perjanjian Lama yang menyambung ini, sebagai dasar kita memahami ayat di atas, bagian depan ayat 13 merupakan bentuk kalimat perintah (imperative), di mana kata karena Allah (διὰ τὸν Κύριον diá tón Kýrion) (berbentuk prepositional clause) ini justru yang merupakan inti dari seluruh paragraf. Bagaimana menafsirkan frasa Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia ini? Apa hubungan antara karena untuk Allah dan mematuhi semua sistem manusia?

Berdasarkan diskusi kemarin dan bagian pertama paragraf ini, kita percaya bahwa Petrus menempatkan frasa karena untuk Allah di sini adalah untuk menunjukkan bahwa ketika tunduk kepada semua lembaga manusia, selama-lamanya ada Allah yang selalu merupakan Pribadi yang memegang kekuasaan, karena itu semua lembaga manusia terlebih dahulu harus menjadikan karena untuk Allah sebagai dasar mereka. Dalam pemikiran teologi di Perjanjian Lama, mematuhi sistem lembaga manusia itu menyatakan bahwa Allah adalah Terang sejati bagi dunia, dengan acuan standar ini barulah dapat menaati sistem lembaga manusia, karena walau di periode yang berbeda di Perjanjian Lama tetapi kesaksian para perantau yang menumpang hidup di diaspora semuanya adalah sama bahwa ─ tidak peduli pemerintah macam apa, semua ada di bawah kedaulatan kuasa Allah, semuanya adalah kekosongan tidak ada yang dapat bertahan selamanya. Maka, karena untuk Allah dengan jelas menunjukkan bahwa di bawah anugerah keselamatan Kristus, tidak ada yang bisa menghalangi pemberitaan Injil, karena Allah dapat melakukan hal-hal indah ajaib di bawah sistem manusia yang bagaimana pun.

Apa yang dituju oleh Petrus adalah bahwa kita harus berbuat yang baik itu adalah bagian keharusan kita, dan kejahatan orang lain tidak akan memprovokasi kita melakukan kejahatan. Ayat Alkitab mengatakan dengan eksplisit: jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan, artinya jelas, yakni jangan karena ketidakadilan pemerintah atau rezim sehingga kita melakukan hal-hal jahat secara bebas, karena kita ditebus mendapat kebebasan adalah untuk subordinasi kepada Allah (sebagai hamba tunduk kepada Allah), menjadi hamba-Nya (bahasa Yunani: budak Allah), artinya semuanya yang menjadi tujuan dan dasar kita adalah kehendak Allah.

Jelas tidak banyak yang ditulis tentang bagaimana orang Kristen berpartisipasi dalam politik, Petrus hanya membawakan secara sekilas saja. Kejahatan tidak bisa menjadi sarana dan cara bagi orang percaya, tetapi harus berbuat yang baik melakukan bagian tugas diri kita, menurut Perjanjian Lama konsep berbuat yang baik adalah belajar membedakan antara yang merupakan kebenaran keadilan Allah dan kejahatan si jahat, mohon agar Tuhan memberkati kita orang Kristen agar dalam zaman (generasi) yang sulit ini senantiasa mengikuti teladan Tuhan, membedakan mana yang merupakan keadilan kebenaran, mana yang merupakan yang jahat, sehingga apa yang kita lakukan dapat dilihat oleh orang lain dan membungkam mulut orang lain.

Renungkan:
Alkitab tidak memberikan jawaban untuk semua pertanyaan di dunia, tetapi satu hal yang pasti: Allah adalah Tuhan (Tuan) atas sejarah, kelanjutan ataukah penggulingan para raja dan pemegang kekuasaan semuanya ada dalam ketetapan Allah. Tetapi bagaimana berjuang dan jalan mana yang harus dilalui, kita percaya bahwa setiap orang berjalan mengikuti panggilan Tuhan, yang terpenting adalah berbuat yang baik bagian diri kita, dan tidak dikalahkan oleh kejahatan, baik-baik menjaga pikiran dan hati diri kita sendiri, baik-baik introspeksi memeriksa.

Kita percaya bahwa di masa depan ada banyak ketidakpastian, tetapi teruslah berjuang, ada pengalaman penuh air mata, barulah akan dapat melihat hal-hal baru yang Tuhan ingin lakukan.

Akhirnya, terima kasih kepada saudara-saudari, percaya bahwa di masa depan akan ada lebih banyak kesempatan untuk bersama-sama lagi bersungguh-sungguh mempelajari Firman Tuhan, untuk mempersembahkan lebih banyak bagi Kerajaan Allah, dan bersama-sama melakukan hal-hal baru untuk Tuhan.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:13-17 (1)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (I)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Untuk memahami ayat Alkitab ini, kita harus memahami apa yang kita bicarakan di teks sebelumnya di atas dan apa yang patut kita perhatikan ketika Petrus mengutip ayat Alkitab Perjanjian Lama (silakan tinjau ulang renungan sepuluh hari terakhir), karena jika kita tidak memperhatikan alur pikir seluruh paragraf ayat-ayat Alkitab ini, kita akan mengabaikan poin penting yang utama dan mempengaruhi pemahaman kita atas satu ayat Alkitab hari ini.

Tulisan Petrus sampai di titik ini, kira-kira pesan yang ingin disampaikan dia adalah: orang percaya di Asia Kecil telah mengalami penderitaan, ditolak manusia, dan tidak mudah untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang memusuhi mereka, tetapi Petrus menasihati mereka bahwa ini sebenarnya adalah pemilihan Allah dan malahan mereka sangat berharga bagi Allah. Petrus menghabiskan begitu banyak kata-kata dan bahasa agar orang-orang percaya Asia Kecil menerima identitas mereka, ditambah ia menggunakan pengalaman orang Israel keluar dari Mesir terserak di padang belantara, dan juga deskripsi tentang Daud yang terpaksa berpura-pura menjadi gila dan hidup sebagai penumpang di bawah raja asing non Israel, juga pengalaman orang Israel ditawan ke tempat bangsa-bangsa asing, dan contoh bagaimana Abraham menumpang tinggal di tanah Kanaan dan membeli tanah serta bermasyarakat di sana, dengan jelas memberitahukan kepada Anda dan saya bahwa para murid Tuhan selalu dalam keadaan ditolak manusia tetapi dipilih Allah, seperti hidup di bawah tarikan tegangan yang tampaknya bertentangan, sehingga pengalaman-pengalaman ini bukanlah hal yang asing dan baru, agar orang-orang percaya di abad pertama tahu bahwa ini adalah keadaan normal yang senantiasa dialami umat Tuhan. Apakah orang-orang percaya di tempat kita tahu?

Tetapi pada saat yang sama, apa yang ayat Alkitab Perjanjian Lama nyatakan tentang bagaimana menghadapi raja-raja bangsa asing?

Firaun dari Kitab Keluaran karena dia tidak tahu bagaimana cara membalas yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat, dan memperlakukan Israel dengan buruk, berakhir dengan hukuman sepuluh tulah dari Allah.

Meskipun Daud terpaksa berpura-pura gila agar lolos dari pengejaran Saul, tetapi Allah oleh Diri-Nya sendiri yang mempersiapkan jalan bagi Daud, dan akhirnya orang fasik jatuh ke perangkap jerat dirinya sendiri.

Setelah orang-orang Yahudi ditawan dan terserak di negeri asing, bukankah Allah melalui para nabi telah menyatakan kejahatan para penawan dan menghakimi kejahatan mereka?

Meskipun Abraham menumpang tinggal di Kanaan, dalam pertempuran serangan empat raja terhadap lima raja, kehadiran Tuhan membuatnya menang dan menyelamatkan Lot, keponakannya.

Dapat dilihat bahwa ketika umat Allah hidup sebagai penumpang di zaman periode dan tempat yang berbeda, akhir dari raja-raja penguasa yang memusuhi melawan Allah, yang tidak tahu bertobat, jika mereka tidak memiliki rasa takut hormat kepada Allah, maka akhir dari mereka akan menyedihkan. Petrus membawa kita selain melihat identitas umat Allah melalui Perjanjian Lama, terlebih juga melalui kitab Hosea yang mengumumkan bahwa belas kasihan Allah datang kepada orang-orang non umat Allah, mengumumkan kepada dunia bahwa semua kuasa pemerintahan ada di tangan Allah, Kitab Suci Perjanjian Lama tidak pernah malu untuk mengungkapkan siapa yang merupakan Terang yang sejati bagi dunia, mereka yang sombong, raja-raja yang keras kepala memegang tradisi pola pikir dunia, akhirnya hanya memiliki jalan menuju kebinasaan dan menerima penghakiman.

Renungkan:
Tuhan adalah Cahaya yang sejati bagi dunia, akankah para petinggi kekuatan politik dan orang-orang yang mempermainkan kekuasaan masih membuat orang-orang percaya panik? Sebenarnya memang membuat takut, namun bukankah identitas yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Allah mengingatkan kita bahwa ini adalah jalan yang harus dilewati, jalan yang diberkati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:11-12

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (III)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [ITB])
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

(Terjemahan penulis)
yang kekasih, aku menasihatimu, sebagai orang asing dan penumpang,
menjauhlah dari keinginan daging, keinginan daging ini akan berperang dengan jiwa,
milikilah perilaku baik di antara bangsa-bangsa asing, sehingga ketika mereka memfitnah kamu sekalian sebagai orang jahat,
tetapi karena melihat perilaku baik kamu sekalian, maka memuliakan Allah di hari Allah melawat

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin, ayat dari kitab Hosea mengingatkan kita untuk berupaya keras di masa tinggal di diaspora, bersaksi tentang rahmat anugerah Tuhan, tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita percaya bahwa Tuhan telah memberkati kita dan akan menyimpan banyak rahmat dan kejutan bagi kita, menghendaki kita teguh percaya atas identitas diri kita sebagai orang-orang diaspora dan tetap hidup dengan cemerlang berkenan kepada Tuhan.

Ayat Alkitab hari ini melanjutkan pengajaran ayat kemarin, membuat kita lebih memahami bagaimana mempraktikkannya dalam lingkungan nyata, agar bangsa-bangsa lain juga dapat memuliakan Allah.

Pertama, Petrus menggunakan sepasang kata-kata yang serupa orang asing dan penumpang (παροίκους καὶ παρεπιδήμους paroíkous kaí parepidímous) untuk menekankan penjelasannya tentang identitas orang percaya (ITB terjemahkan sebagai pendatang dan perantau KJV: strangers and pilgrims). Lalu, ketika kita membaca Kejadian 23:4 dalam terjemahan Septuaginta (LXX), pasangan kedua kata ini persis digunakan pada diri Abraham, di antara orang Het ia menunjukkan identitasnya sebagai orang yang dipanggil dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan sebagai orang asing dan penumpang. Karena itu, Petrus menggunakan tipologi Perjanjian Lama untuk memberikan pengajaran kepada saudara-saudari, dan sekali lagi menjelaskan bahwa pengalaman sebagai orang yang terserak (berada di diaspora) ini konsisten, dan bukan merupakan kejutan baru. Dan dalam berbagai tipologi Perjanjian Lama yang berbeda, rahmat anugerah Allah dinyatakan pada Abraham dan keturunannya, orang Israel dalam Keluaran, Daud yang dipaksa melarikan diri, dan umat Allah yang terserak di kerajaan utara dan selatan? Dan keselamatan Allah tidak pernah absen.

Lalu, ketika ayat Kejadian 23 yang dikutip di sini, itu adalah catatan tentang setelah Sarah meninggal, Abraham membeli tanah dari orang Het untuk menguburkan juga keturunannya kelak. Di antaranya dicatat bagaimana Abraham bergaul dengan penduduk setempat dan berurusan jual beli dengan mereka, agar di antara penduduk setempat, bisa mempertahankan nama baik, dan menjaga hubungan yang langgeng dan baik. Ini tepat menjelaskan dua ayat Alkitab yang dibaca hari ini, yaitu agar orang dapat melihat perilaku baik diri kita, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah.

Menurut pandangan yang salah dari Suetonius seorang sejarawan Yunani Romawi terhadap murid-murid Kristus, orang-orang Kristen itu percaya takhayul yang berperilaku kacau (mischievous superstition. Nero 16). Tacitus salah memahami dan memandang Kekristenan adalah agama yang berbahaya dan takhayul, komunitas yang suka mempraktikkan magis (Annals 144). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa besar tekanan yang diterima orang Kristen dan pada taraf yang begitu mengerikan (penuh fitnah dan provokasi).

Pengajaran Rasul Petrus di ayat ini bukan berseru-seru demi nafsu keinginan diri sendiri dan demi saling menentang dengan yang lain, bukan demi melindungi diri sendiri, tetapi dengan sepenuh hati, dia memanggil mereka yang tidak memiliki tipu daya agar saling mengasihi, bersatu hati membangun sebuah Bait rohani dan saling melindungi.

Renungkan:
Sifat manusia dari manusia umum adalah mudah diprovokasi oleh orang lain, dan demi nafsu keinginan mereka saling membenci, tetapi ini hanya demi keuntungan daging, tetapi sama sekali tidak berfaedah untuk jiwa rohani. Dengan sudut pandang lain, ketika orang lain sibuk, menghabiskan waktu dan pikiran beserta tradisi kebiasaan pola pikir spiritual yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia untuk menyerang dan memfitnah Anda, tetapi Anda dapat berdiri di atas batu karang Tuhan dan tidak digoyahkan, Anda akan menyaksikan sekelompok orang bebal yang berlarian ke sana ke sini, mereka tidak akan mendapatkan apa pun di Kerajaan Allah, dan akhirnya mereka hanya akan memakan buah kejahatan yang dihasilkan jerat mereka sendiri, bisakah hati Anda menenangkan diri dan hati? Atau apakah kita perlu memperebutkan memperjuangkan lebih banyak?

Pada hari Tuhan melawat (day of visitation), akankah musuh memuliakan Tuhan karena Anda, apakah saya sudah cukup? Sudah bolehkah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:1-2 (2)

「Kesalahan Terdahulu sebagai Pelajaran, Menakutkankah?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:1-2 [ITB])
1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

(Terjemahan langsung)
Petrus, rasul Yesus Kristus, tujukan kepada yang terpilih, yaitu yang hidup sebagai tamu pelancong (penumpang) yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, Bitinia,
yang terpilih, yaitu menurut pengaturan yang disengaja Allah Bapa, melalui Roh Kudus dikuduskan,
sehingga yang terpilih itu patuh kepada Yesus Kristus, yang terpilih itu adalah orang yang dipercik melalui darah-Nya.

percikan darah

Dalam analisis tata bahasa Yunani, tiga frasa preposisi (prepositional phrase) digunakan untuk menggambarkan konsep terpilih (Ἐκλεκτοῖς).

Dalam frasa pertama … yang terpilih, yaitu menurut pengaturan yang disengaja Allah Bapa …, dijelaskan bahwa pemilihan kita bukan kebetulan (tidak disengaja), tetapi dari awal mulanya, bahkan sebelum manusia memahaminya, Allah sudah melakukan pengaturan yang disengaja dan sesuai kehendak-Nya (πρόγνωσιν) dan dinyatakan dalam rencana keselamatan-Nya (lih. Kisah Para Rasul 2:23). Tetapi ternyata mukjizat keselamatan Allah justru membuat umat-Nya hidup dalam diaspora. Bagi orang-orang percaya hari ini, apakah itu merupakan hal … luar biasa tidak masuk akal? Kita dapat percaya bahwa keselamatan Tuhan melampui di luar pengetahuan kita, tetapi menerima keselamatan Tuhan membuat kita hidup dalam lingkungan yang terus-menerus menganiaya orang Kristen, itu sulit diterima, benar-benar melampaui pemahaman kita. Bagi orang-orang percaya yang tersebar di Asia Kecil pada waktu itu, ini adalah keselamatan Allah yang mendahului kesadaran manusia (sebelum manusia memahaminya), dan ini merupakan pengaturan yang disengaja dan sesuai kehendak-Nya. Bagaimana kita memperlakukan kebenaran paradoks seperti itu? (Paradoks: pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran)

Sulit untuk memahami kebenaran paradoks ini. Oleh karena itu, dalam frasa kedua … yang terpilih … melalui Roh Kudus dikuduskan …, membicarakan bahwa dibutuhkan pekerjaan Roh Kudus untuk membuat orang mengerti dan tersadarkan. Dalam frasa ini, preposisi melalui (ἐν) (penggunaan instrumental / instrumental use), yang menunjukkan bahwa kehidupan yang benar-benar dipilih tidak akan pernah bisa bergantung pada kemampuan dan kebijaksanaan sendiri untuk memahami segala sesuatu yang diletakkan di depan kita ini, hanya pekerjaan kudus Roh Kudus yang dapat membuat orang memahami tindakan keselamatan Allah yang dianggap tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Sebagai murid Tuhan, bukankah kita perlu selalu meminta bantuan Roh Kudus untuk memahami sebagai yang terpilih yang dapat hidup dalam penganiayaan berat? Akankah kita karena hal ini bersyukur?

Dalam frasa terakhir … sehingga yang terpilih itu tunduk kepada Yesus Kristus, yang terpilih itu adalah orang yang dipercik melalui darah-Nya., pertama-tama kita harus memahami hubungan antara patuh dan dipercik darah dan Yesus Kristus dalam tata bahasa Yunani. Biasanya kita memahaminya dengan melihat hubungan tunduk kepada Yesus Kristus (objective genitive) dan dibersihkan darah Yesus Kristus (possessive genitive), tetapi cara memahami ini menyebabkan kesulitan menghubungkan kedua konsep ini bersama-sama. Namun, berdasarkan Keluaran 24:4-8 dan Yehezkiel 36:24-28 untuk memahami makna percikan darah, maka akan menemukan bahwa kata darah dan percikan adalah mengekspresikan perjanjian antara Allah dan umat-Nya, dan di bawah anugerah keselamatan Kristus, mengunakan darah-Nya mendirikan perjanjian baru bagi kita, sehingga kita dapat memahaminya sebagai kita sebagai yang terpilih … adalah melalui kepatuhan kepada Kristus dan perjanjian percikan darah Kristus. (Lihat Lukas 22:20 … ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu) Ini tepat melengkapi bahwa selain dibutuhkan Roh Kudus menguduskan orang, juga dibutuhkan kepatuhan dan berada di dalam perjanjian yang diadakan berdasarkan darah Kristus. Tepat karena pengorbanan Kristus maka digenapi (tercapai) anugerah keselamatan, sehingga kita dapat taat dalam kehidupan sebagai pendatang, yang tersebar dan yang penuh dengan penderitaan serta penganiayaan. Tepat karena keselamatan dari Kristus, bagaimana kita sebagai murid Tuhan dapat lebih tinggi dari pada Tuan? (Merasa lebih pintar dan menyangkal kehendak Tuhan)

Renungkan:
Masyarakat menghadapi banyak kekacauan dan keresahan, tidak ada siapa pun mampu melihat ke depan dan hanya dapat mengakui bahwa ada terlalu banyak hal yang tidak jelas di depan. Ini membuat kita merasa sangat bingung dan cemas, sehingga kita tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi dan melakukan hal-hal baru yang seharusnya. Tetapi jalan yang harus kita ambil adalah persis apa yang telah direncanakan Tuhan (yang dalam pengaturan yang sengaja dari Allah, bukan yang kebetulan), disucikan oleh Roh Kudus, memperbaharui hati kita dan meletakkan teladan Kristus di depan hadapan kita. Oleh karena itu, kita tidak dapat berkutat dalam jerat kesalahan kebiasaan pola pikir rohani dahulu yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia atau menutup diri, sepatutnya tidak takut akan serangan dan kesulitan. Bahkan jika Anda dan saya terserakkan terdiaspora di antaranya, kita seharusnya dengan pikiran sebagai tamu pelancong untuk melakukan hal-hal baru bagi Tuhan.

Perjanjian oleh Percikan Darah Kristus

Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:1-2 (1)

「Kepastian Identitas – Dipilih adalah Terserak」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:1-2 [ITB])
1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

Diaspora di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia

Surat 1 Petrus ditulis kepada murid-murid yang telah tersebar di mana-mana, di dalamnya terdapat pesan yang teliti dan harapan penuh semangat: orang-orang percaya dapat terus memelihara kebenaran untuk Tuhan dalam zaman / generasi yang sulit, dan tidak akan karena penolakan serta intimidasi dari orang luar mengacaukan hati mereka, sebaliknya tetap bersaksi bagi Tuhan, membuat orang-orang malu dan gentar.

Oleh karena itu, renungan bulan Juni adalah untuk mendorong pembaca agar terus memiliki pengharapan dalam iman Kristen dan tidak mau jatuh ke dalam kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, di masa yang tidak biasa ini, dapat melakukan hal-hal baru untuk Tuhan dan mencari jalan keluar terobosan sehingga Kristus dapat ditinggikan di zaman / generasi ini.

Dalam 30 hari berbagi renungan rohani ini, penulis akan menggunakan tata bahasa Yunani sebagai interpretasi inti, berharap bahwa Alkitab akan disajikan kepada semua orang dari sudut yang dapat dipahami oleh publik (tentu saja jika Anda pernah mengikuti beberapa pelajaran bahasa asli, Anda sudah memahami), berharap bahwa orang percaya dapat melepaskan penolakan atas bahasa asli dan berusaha untuk memasuki dunia teks asli, dan menerima kata-kata berharga yang dianugerahkan Tuhan.

Hari ini akan melihat lebih dekat pentingnya dua ayat pertama dari 1 Petrus. Dua ayat pertama diterjemahkan sesuai dengan makna kata bahasa aslinya (parafrase) sebagai berikut: Petrus, rasul Yesus Kristus, tujukan kepada yang terpilih, yaitu yang hidup sebagai tamu pelancong (penumpang) yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, Bitinia, yang terpilih, yaitu menurut pengaturan yang disengaja Allah Bapa, melalui Roh Kudus dikuduskan, sehingga yang terpilih itu tunduk kepada Yesus Kristus, yang terpilih itu adalah orang yang dipercik melalui darah-Nya.

Disebutkan dalam tulisan Kitab Suci bagaimana Petrus menyebutkan penerima suratnya: yang terpilih, yaitu yang hidup sebagai tamu pelancong (pendatang) (dative apposition). Kita mungkin bertanya mengapa menggunakan sebutan seperti itu, layak dibahas bagaimana konsep yang terpilih kaitan dengan identitas pelancong (pendatang)? Ketika kita membaca pengalaman Abraham dalam kitab Kejadian, kita akan menemukan bahwa bapa leluhur dipilih dan dipanggil oleh Tuhan, dengan identitas pendatang dan tamu berjalan memasuki tanah orang lain, di mana mereka menghadapi berbagai situasi yang sulit, Tuhan campur tangan dengan hal-hal baru, membawa keselamatan dan berkat. Atau dengan kata lain, ketika orang-orang Yahudi mengalami diaspora (masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tsb tidak memiliki negara) yang dilakukan oleh orang Babelonia, bukankah mereka harus melihat diri mereka sebagai tamu dan menjaga kehidupan sebagai penumpang, agar diri mereka suatu hari dapat kembali ke Yerusalem dan kembali memiliki status sebagai tuan rumah di Yerusalem?

Petrus memahami kesulitan dan dilema yang dihadapi oleh orang-orang Kristen pada waktu itu, jadi dia menggunakan pengalaman umum orang Yahudi akan Allah untuk menasihati semua orang percaya: hidup menghadapi kesulitan dan penganiayaan terhadap iman bukanlah hal yang baru, tetapi sebaliknya, momen mendapat penganiayaan dan kesulitan adalah saat iman mendapat introspeksi dan pembaruan. Apa yang Anda alami saat ini, bukankah itu yang dihadapi Petrus dan murid-muridnya di abad pertama?

Renungkan:
Sebenarnya, konsep terpilih sering dikaitkan dengan konsep berkemenangan, tetapi ketika konsep terpilih harus dikombinasikan dengan diaspora, pendatang, tamu pelancong, penganiayaan, stigmatisasi / fitnah, bagaimana kita akan bereaksi? Petrus dengan jelas menyatakan bahwa ini adalah arti sebenarnya dari terpilih, dan dia juga seorang rasul untuk hal ini! Jika tidak memiliki konsep identitas diri kita sendiri ini, maka kita belum siap menghadapi apa yang kita hadapi di depan, bukankah demikian?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.