Tag Archives: imamat kudus

1 Petrus 2:9

「Sulit Membuat Garis Pembeda Baik dan Jahat (I)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:9 [ITB])
9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

(Terjemahan penulis)
Tetapi kamu sekalian adalah kaum yang dipilih, para imam yang rajani,
adalah bangsa yang suci, umat milik Allah.
Agar kamu sekalian memberitakan kebajikan Ia yang memanggil kamu sekalian keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang yang indah

Kemarin kita merenungkan bagian di mana Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama untuk menjelaskan: penderitaan dan penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Kristen di dunia, pengalaman ditolak oleh orang lain, tetapi di mata Tuhan itu adalah pemilihan Allah dan keselamatan. Ini membuat kita memikirkan kembali nilai iman kita, bagaimana kita seharusnya memahami pandangan gereja yang sebenarnya? Atau apakah kita adalah batu mati yang munafik dan dengki?

Kemudian dalam ayat Alkitab hari ini, muncul kembali kata pilih, yang mengingatkan kita pada kata pilih di ayat 1:2 yang mengacu pada status sebagai pendatang (penumpang) dan yang tersebar di diaspora, bukanlah seperti yang kita pikirkan sebagai pemilihan yang penuh kemuliaan. Di antara dua zaman perjanjian, kata itu terlebih digunakan sebagai tanda Mesias, tetapi bangsa yang terpilih ini hidup dalam lingkungan yang sulit, ini adalah esensi dasar dari pandangan gereja Kristen, dan adalah keadaan yang senantiasa dialami komunitas Kristen.

Namun, imamat yang rajani – sebagaimana dinyatakan beberapa hari lalu – adalah tugas yang menjadi saksi kemuliaan Tuhan, yakni bahkan dalam banyak kesulitan, dalam lingkungan di mana musuh ada di semua sisi, tetapi tetap dengan sukacita mempersembahkan korban, menyatakan kepada dunia dan bangsa-bangsa bahwa Dia adalah Allah Tuhan atas dunia, dan semua bangsa patut datang di hadapan-Nya, bersama-sama mempersembahkan korban, dan mengakui bahwa Tuhan adalah Terang yang sebenarnya. Petrus menasihati orang-orang percaya yang tersebar bahwa tidak ada yang bisa menghentikan Tuhan untuk bersaksi di antara umat-Nya dan meninggikan nama-Nya sendiri.

Bangsa yang kudus bukan sekadar arahan moral dan etika, ini adalah konsep ketundukan umat kepunyaan Allah yang harus menyatakan: tidak peduli hidup di lingkungan apa pun, dapat dalam kesulitan pun, tetap masih dapat bersuara dengan lantang bahwa diri kita adalah milik Allah, sesungguhnya apakah ini mudah? Jadi ayat Alkitab menambahkan sebuah frasa pendek untuk melengkapi betapa pentingnya hal ini yakni umat khusus untuk Allah(λαὸς εἰς περιποίησιν laós eis peripoíisin) (lihat terjemahan KJV atau BIMK … khusus untuk Allah, umat Allah sendiri …, ITB secara fungsional … umat kepunyaan Allah sendiri… ), terjemahan literal adalah umat adalah untuk menjadi milik, dapat kita lihat bahwa dalam lingkungan yang tidak mudah tetap tunduk dan merupakan milik Allah, bukan karena lingkungan sehingga membuang iman (menolak iman), inilah subordinasi yang benar (ketundukan sebagai milik Allah).

Begitu saja sebenarnya sudah merupakan langkah dan iman yang luar biasa untuk tidak ragu-ragu tentang identitas seseorang walau bangkit dan jatuh di hari yang sulit seperti ini. Tetapi tuntutan dalam ayat 10 bahkan lebih sulit!

Ayat 10 meminta kita untuk berbagi memberitakan apa yang kita alami. Sebenarnya, sangat mungkin untuk memberitakan keselamatan dari Tuhan, kita harus memberitakan hal ini sebagai kebajikan (perbuatan-perbuatan yang besar) dari Allah, membawa kita meninggalkan kegelapan dan memasuki terang, ini bukan hal yang mudah. Bagi sifat manusia, meninggalkan zona nyaman dan stabil untuk memasuki penganiayaan, itu bukan hal yang mudah, bagi manusia itu adalah masuk ke dalam kegelapan, tetapi kita sebaliknya menyebutnya sebagai masuk ke dalam terang dan kita harus bergegas meninggalkan situasi yang disebut orang sebagai hal yang terang. Karena sejatinya itu adalah yang gelap.

Tanpa kita menegaskan dan mengakui identitas diri kita sendiri, tidaklah mudah untuk menyatakan apa itu kegelapan atau terang, mungkin kita hanya hidup dalam ambiguitas ketidakjelasan dan kebingungan, asal saja menjalani kehidupan sebagai orang percaya.

Renungkan:
Apa pandangan gereja kita?

Menilai dari apa yang terjadi baru-baru ini, apakah itu terang atau gelap? Apakah kita bersedia untuk hidup dalam kebingungan dan hanya mau berkeras dalam tradisi pandangan Gereja seperti yang dahulu biasa kita lakukan? Atau apakah bersedia dengan sikap ditolak tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Tuhan untuk memperlengkapi semua orang kudus menyambut zaman yang tidak bisa kita prediksi ini?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:6-8

「Persekutuan Orang Kudus (III)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:6-8 [ITB])
6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

(Terjemahan penulis)
Karena ini tertulis dalam Kitab Suci:
Lihat! Aku meletakkan sebuah batu di Sion, sebuah batu penjuru yang terpilih dan yang berharga
siapa pun yang percaya dia, tidak akan malu (Yesaya 28:16)
yang berharga adalah orang yang percaya,
tetapi yang tidak percaya,
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22)
juga menjadi
batu sandungan dan batu karang yang membuat orang tersandung (Yesaya 8:14-15)
mereka jatuh tersandung, adalah tidak taat Firman ini, mereka akan menjadi seperti itu.

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, dasar persekutuan orang-orang kudus.

Kemarin, kita berbicara tentang bahwa kita adalah batu yang hidup, karena Kristus Yesus sendiri adalah batu yang hidup, kita harus bersambung gandeng satu sama lain, saling mengasihi tanpa kasih yang tipu muslihat, dan menjadi para imam yang rajani (imamat yang rajani), sehingga karena komunitas iman ini yang tidak berdaya dan lemah membuat orang-orang bersama-sama meninggikan nama Tuhan dan menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan benar-benar ada di antara kita.

Dalam perikop Alkitab hari ini, kita akan menemukan bahwa Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama (Yesaya 28:16; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14-15 klik untuk membaca) untuk membahas batu hidup ini, jelas dia adalah iIngin menegaskan tipologi dari Perjanjian Lama. Selain dari 5 Kitab Taurat Musa (Torah), ada juga Yesaya dari kelompok kitab Nabi-nabi (Prophets), juga Mazmur dari kelompok Tulisan (Writings), Kitab Suci orang Yahudi terdiri dari kelompok Lima Kitab, Kitab Para Nabi, dan Kitab Tulisan-tulisan, bahkan seluruh Perjanjian Lama adalah interpretasi dari tipologi ini – bahwa yang ditolak adalah benar-benar yang dipilih oleh Allah dan berharga di mata Allah. Bagi orang-orang percaya yang terserak di abad pertama, meskipun mereka menghadapi kesulitan besar dan ditolak manusia, tetapi identitas mulia mereka tidak pernah hilang, apalagi dipermalukan.

Petrus menggunakan kutipan Yesaya pasal 28 dan pasal 8. Menurut uraian pasal 28, umat Allah menolak untuk mendengarkan Firman-Nya (bahkan walaupun Firman datang ke dunia dan menjelma jadi manusia), dan secara semaunya sendiri berpikir bahwa penafsiran mereka benar (Yes. 28:5-15), sehingga Allah menaruh batu di Gunung Sion, yakni umat Allah akan dikalahkan musuh dan bahkan ditawan (Yes. 28:16-19). Oleh karena itu, penempatan batu ini adalah untuk membuat orang tahu bahwa ditawan, dibuang (ditolak) ini adalah tindakan Allah, agar orang-orang di tahap ini masih dapat melihat bahwa Allah memiliki rahmat anugerah.

Dalam Yesaya pasal delapan, dengan nada yang sama juga ditempatkan di sini, yaitu, Allah akan menolak orang-orang Yahudi dan akan menjadi batu sandungan, batu karang yang membuat orang jatuh, sehingga orang tidak mau menerima cara keselamatan ini. Tetapi nabi Yesaya mendorong, agar kita menunggu Allah yang menyembunyikan wajah-Nya dari keluarga Yakub (Yes. 8:12-17), metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini secara konsisten terdapat dalam kitab Yesaya dan merupakan benang merah yang menembus menyambung seluruh sejarah Israel.

Adapun Mazmur 118, puisi tentang naik tahta yang terkenal, di hari minggu Palem (Palm Sunday, minggu memperingati Tuhan Yesus naik keledai memasuki Yerusalem, awal dari minggu penderitaan-Nya) kita akan sering menggunakan frasa diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (lihat Mat. 21:9), tetapi yang datang atas nama Tuhan ini juga mengalami ancaman kematian dan serangan dengan orang lain, bahkan menjadi yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan (Mazmur 118:17-22), tetapi pengalaman ini oleh Allah dibuat jadi batu penjuru yang sejati. Dengan cara yang sama, metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini sekali lagi muncul disajikan dalam Mazmur, saling bergandengan bertanggapan dengan kitab- kitab Perjanjian Lama lainnya.

Tepat karena hal ini, sampai zaman Perjanjian Baru, yang ditolak ini justru dipilih Allah dan berharga di mata Allah ini tidak memudar, juga tidak hilang, sebaliknya telah dipahami menjadi jelas secara menyeluruh dalam diri Yesus Kristus.

Renungkan:
Kemarin, kita bertanya: apa pandangan kita tentang gereja? Hari ini, melalui kitab Yesaya yang mewakili kitab Nabi-nabi, Mazmur yang mewakili kumpulan Tulisan (kitab-kitab Puisi), dan bagian yang mengutip 5 Kitab Taurat yang telah kita renungkan selama beberapa hari yang lalu, menghendaki kita agar bersedia untuk mengambil jalan yang ditolak oleh orang lain, agar gereja mengulangi kebenaran yang tampaknya kontradiktif ini, agar apa yang kita lihat bukanlah tindakan manusia, tetapi tindakan dan kemuliaan Allah dinyatakan di hadapan manusia.

Hari ini, kita menghadapi jalan di depan, segala macam gesekan dan tantangan membuat kita harus mengakui bahwa kita akan memasuki situasi penuh penolakan, tetapi ini adalah pandangan sebenarnya dari gereja yang telah kita renungkan dalam beberapa hari terakhir, bukankah demikian? ! Ini juga merupakan waktu yang sangat baik bagi orang percaya untuk melihat bahwa itu sebenarnya bukan tindakan manusia, bukan tangan kendali agama, tetapi tangan tindakan Allah yang hidup di antara orang percaya, agar kita dapat bersama mengalami apa yang pernah dialami orang-orang kudus terdahulu. Bukankah ini persekutuan orang-orang kudus? !


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:4-5 (2)

「Persekutuan Orang Kudus (II)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-5 [ITB])
4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

(Terjemahan penulis)
Datang ke hadapan-Nya, yakni batu hidup, di satu sisi ditolak oleh manusia.
di satu sisi dipilih oleh Tuhan dan berharga.
Mereka seperti batu hidup, dibangun menjadi rumah rohani menjadi imam kudus
melalui Yesus Kristus mempersembahkan korban rohani yang berkenan diterima Allah

Dari ayat Alkitab kemarin, kita memahami bahwa definisi pemberitaan kebenaran dan definisi batu hidup adalah: akan ditolak oleh orang, tetapi sebaliknya dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata-Nya. Pemberita harus mempersiapkan hatinya sendiri, bahwa seumur hidup memberitakan kebenaran hanya akan mendatangkan serangan dari banyak orang, tetapi ini tidak menjadi masalah, Kristus telah memberikan kita contoh teladan.

Dalam ayat kelima, kita juga seperti batu hidup, dan kasih kita satu sama lain, yaitu, yang tulus, yang penuh antusias untuk mengasihi, yang tanpa tipu daya, membuat kita tersambung membentuk sebuah bait, yakni bait yang ada Roh di dalamnya. Kata roh (πνευματικὸς pnevmatikós) dimaksudkan: bahwa setelah pembersihan dikuduskan Roh Kudus (lih. 1:22), kita menjadi kelompok bait yang penuh dengan kebenaran – ini adalah kelompok bangunan yang akan ditolak oleh manusia tetapi juga berharga di mata Allah.

Lalu teks menggunakan Perjanjian Lama (Keluaran 19:5-6) untuk menggambarkan bait rohani ini, yakni yang menjadi imamat yang kudus (kumpulan imam / imam-imam yang kudus) dan untuk mempersembahkan korban. Deskripsi ini mengingatkan kita akan kutipan kitab Imamat terkenal yang disebutkan Petrus sebelumnya, Kuduslah kamu, sebab Aku kudus, yang menunjukkan ketundukan hamba (subordinate) kepada Allah, orang-orang Ibrani yang keluar dari Mesir menghadapi pengejaran orang Mesir dan ada juga penolakan dari tujuh bangsa Kanaan di padang belantara, mereka adalah orang-orang yang dipilih dan berharga tetapi jatuh ke dalam penolakan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, konsep imamat yang kudus bukan hanya sebuah kedudukan, tetapi adalah satu kesaksian demi kesaksian yang lain, untuk menunjukkan bagaimana saat di dalam keadaan musuh mengepung di semua sisi, namun dapat melampaui dan melewatinya dengan setia menyatakan bahwa diri kita adalah milik Allah, yang juga adalah komunitas umat Allah yang rela tidak memiliki kemunafikan dan kedengkian, hidup bersama di bawah tekanan yang penuh ketegangan dan rasa takut ini, dan penuh sukacita mempersembahkan korban untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa di lingkungan atau keadaan yang demikian Allah menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku

Tipologi Keluaran dari Mesir didasarkan pada hukum baru yang dianugerahkan di gunung Sinai, dan orang Ibrani akan menjadi umat baru dan imamat yang rajani dari Allah (kumpulan imam / imam-imam yang melayani Raja), dan umat Allah akan bersama-sama mengatakan Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan (lihat Kel. 19:7-8). Dalam Surat 1 Petrus, umat Allah terserak di mana-mana, diserang dan dilukai, tetapi menjadi umat baru melalui Kristus (tidak lagi melalui hukum Taurat, karena Kristus telah menggenapi memenuhi tuntutan hukum Taurat), tetapi juga menjalani kembali konsep tentang imamat yang rajani yang sudah terjadi dahulu sebelumnya (dahulu saat keluaran dari Mesir di zaman Musa), menyaksikan keselamatan dan kasih karunia Kristus, dan meninggikan nama Tuhan di antara bangsa-bangsa asing.

Mungkin kita semua berpikir bahwa kutipan ayat-ayat Perjanjian Lama mengingatkan kita untuk tidak berpikir bahwa hidup kita sedang dipukuli, dan tidak ada yang peduli, berkali-kali jatuh! Tidak! Imamat yang rajani adalah untuk bersaksi kepada dunia bahwa kita tidak lagi dipimpin dengan tradisi kebiasaan pola pikir agama yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, atau yang kuat, atau yang penuh kebanggaan, tetapi teladan dari yang lemah, tak berdaya dan mengasihi dengan tulus mencintai.

Renungkan:
Renungan hari ini mendorong kita untuk mengambil konsep gereja yang bagaimana? Komunitas Perjanjian Lama pada dasarnya adalah esensi gereja saat ini, yang juga merupakan realitas dan substansi kita (dasar esensi kita). Dalam situasi epidemi, kita memikirkan kembali tentang apakah gereja itu sebenarnya. Setelah pengalaman beberapa bulan terakhir, janganlah kita terburu-buru mengembalikan praktik masa lalu, biarkan pengalaman bulan-bulan ini mengajarkan kita untuk mempertimbangkan kembali apa pembaruan dan transformasi yang dibutuhkan untuk pandangan gereja kita, apa jalan berikutnya yang harus kita lewati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.