Tag Archives: Batu Sandungan

1 Korintus 8:7-13

Bagaimana jika makan? Bagaimana jika tidak makan? Bagaimana jika sedikit pengetahuan? Tapi harus membangun orang dalam segala hal!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 8:7-13 [ITB])
7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.
8 Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan. 9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. 10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai pengetahuan, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?
11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena pengetahuan mu. 12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus. 13 Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

【Referensi ayat】
[NIV] 7 But not everyone knows this. Some people are still so accustomed to idols that when they eat such food they think of it as having been sacrificed to an idol, and since their conscience is weak, it is defiled. 8 But food does not bring us near to God; we are no worse if we do not eat, and no better if we do.
[ESV] 9 But take care that this right of yours does not somehow become a stumbling block to the weak.

Paulus menggunakan ungkapan engkau yang mempunyai pengetahuan dan orang yang lemah hati nuraninya untuk menggambarkan dua faksi gereja Korintus: pertama, orang percaya yang berpikir bahwa mereka memiliki pengetahuan, hak, dan pengetahuan Alkitab untuk memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala; kedua, orang percaya yang masih dipengaruhi oleh pandangan spiritual masa lalu dan tidak berani makan daging yang telah dikorbankan kepada berhala. Ungkapan engkau yang mempunyai pengetahuan tampaknya menyiratkan bahwa mereka adalah pemimpin gereja, lebih berpengetahuan dalam pengetahuan teologi yang diberikan Paulus sebelumnya, atau dalam penguasaan pengetahuan alkitabiah mereka sendiri! Mereka seperti orang yang paham, mereka merasa memiliki kebebasan dan hak yang tidak bertentangan dengan Alkitab, tetapi kata-kata dan perbuatan ini justru membuat orang lemah, orang yang tidak memiliki pengetahuan Alkitab yang begitu luas menjadi jatuh Bagaimana gereja menghadapi ketegangan ini? Bagaimana seorang gembala menyikapinya? Paulus tidak secara sederhana benar atau salah untuk menangani perselisihan kecil ini! Paulus pertama-tama benar-benar menganalisis situasinya, menganalisis mentalitas dan keyakinan orang-orang yang berbeda, dan kemudian di satu sisi mengemukakan teologi yang benar, tetapi di sisi lain mengusulkan menggunakan kasih dan menghargai saudara dan saudari, sebuah prinsip bertindak, mengelola gereja, memberi contoh, dan membangun saudara dan saudari!

Pertama-tama, Paulus mengemukakan perbedaan pengetahuan tentang keyakinan setiap orang: Tetapi bukan semua orang yang mempunyai 『pengetahuan itu』. Artinya: berhala tidak benar-benar ada! Tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa! (ayat 4). Segala sesuatu diciptakan oleh Allah, kita dapat dinikmati dengan benar! Pengetahuan teologi ini masih belum sepenuhnya dipahami dan dipraktikkan oleh beberapa orang lemah! Jika mereka memakan daging yang telah dikorbankan kepada berhala, mereka akan merasa telah bersalah kepada Allah, hidup mereka hancur, tercemar, dan dikendalikan! Kedua, Paulus mengemukakan prinsip lain: tidak penting makan atau tidak makan, Tidak akan merugikan jika tidak memakannya, dan tidak akan bermanfaat jika memakannya. Ketiga, kita harus ingat: jangan menjadi batu sandungan bagi saudara-saudari lebih penting daripada makan atau tidak Tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudari lebih penting daripada siapa yang lebih tahu dan pengetahuan teologi tentang memakan makanan yang telah dikorbankan untuk berhala! Keempat, kita harus tahu bahwa orang lemah adalah saudara-saudari kita yang berharga, dan mereka juga ditebus oleh Tuhan Yesus yang berkorban. Oleh karena itu, ketika berhadapan dengan perselisihan dan perbedaan, yang paling penting bukan Siapa yang lebih memiliki pengetahuan tentang kebenaran 『memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala』? Kunci penting adalah jangan sampai saudara-saudari tersandung! Dalam 1 Korintus 8:9, Paulus menarik kesimpulan singkat: Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

Salah satu cara untuk menangani perselisihan: jangan terlalu membual tentang benar dan salah tentang detail kecil! Detail kecil adalah detail kecil, dan sedikit pengetahuan adalah sedikit pengetahuan! Sedikit pengetahuan tetap ada benar dan salah, tetapi masih merupakan detail kecil! Apakah Anda benar atau salah? Apa aku salah padamu? Apakah itu sangat penting? Kuncinya adalah: menghargai saudara dan saudari, berkenan kepada Allah dalam segala hal, dan membangun manusia dalam segala hal! Apa masalah jika makan? Apa masalah jika tidak makan? Sedikit pengetahuan tidak mengerti, jadi apa masalah? Tapi saya harus membangun orang dalam segala hal!

Renungkan:
• Ada banyak perbedaan dalam persepsi sedikit pengetahuan di gereja, serta tradisi dari budaya yang berbeda, pendidikan dan kepercayaan sebelum percaya! Berkenaan dengan sedikit pengetahuan, kita mungkin memiliki studi dan pengetahuan alkitabiah yang lebih akurat daripada saudara-saudari lainnya, tetapi jika tidak ada kasih, kita meninggikan sedikit pengetahuan dalam segala hal, dan dengan meninggikan sedikit pengetahuan untuk merendahkan saudara-saudara, dan untuk meninggikan kebanggaan bahwa kita memiliki sedikit pengetahuan, apakah kita sedang membangun orang? Atau malah sering membuat orang jatuh? Apakah ini sering terjadi di gereja?
• Kadang-kadang, pemimpin orang percaya yang menyalahgunakan sedikit pengetahuan yang membuat orang percaya baru tersandung!Apa yang mengingatkan Anda pada pengajaran Paulus hari ini?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Korintus 6:1-10

「Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 6:1-10 [ITB])
1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
2 Sebab Allah berfirman:
………Pada waktu Aku berkenan,
………………Aku akan mendengarkan engkau,
………dan pada hari Aku menyelamatkan,
………………Aku akan menolong engkau.
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu;
sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu:
………dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
………5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan,
………dalam berjerih payah,
………dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
………6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati;
………dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
………7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah;
dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
………8 ketika dihormati dan ketika dihina;
………ketika diumpat atau ketika dipuji;
………ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,
………9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal;
………sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup;
………sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
………10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita;
………sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang;
………sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Dalam perikop panjang di atas (2:14-5:21), Paulus telah membuat eksposisi teologis atas pelayanannya, menunjukkan bahwa pelayanan Perjanjian Baru adalah mulia dan penuh pengharapan, bahkan jika orang-orang yang terlibat dalam pelayanan ini sering mengalami pukulan kesulitan, dan kesengsaraan, pada saat yang sama mereka harus menghadapi permusuhan yang meragukan mempertanyakan, fitnah, dan tuduhan dari orang lain. Menjadi utusan khusus Kristus adalah penuh tantangan, tidak semudah dan romantis seperti yang dibayangkan, harus bertahan terus berjalan dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepadanya, orang yang melayani yang harus memiliki dukungan dan kepercayaan dari rekan sepelayanan, secara pikiran harus menyadari apa yang telah dilakukan ── apa yang Allah ingin capai melalui kita? Apa rencana, niat, dan harapan Allah? Apa yang akan menjadi hasilnya? Ketika pelayan-pelayan mulai memikirkan masalah ini, wacana teologis mulai bekerja membantu kita memikiran berbagai isu berkaitan dengan Injil, dan mencoba untuk memberikan jawaban yang konsisten dan koheren didasarkan pada Alkitab. Setiap pelayan yang memberitakan Firman Tuhan perlu memiliki pemahaman teologis yang solid sehingga dia lebih dekat setiap saat pada Allah Tritunggal, jika yakin semuanya berasal dari Allah maka apapun yang dihadapi tidak akan merasa takut.

Meski iman teguh dan tahu bahwa semuanya berasal dari Allah, Paulus juga perlu membuat pembelaan atas perjalanan, pengalaman, integritas, dan kualifikasi dirinya, agar dia tidak menjadi batu sandungan penghalang bagi orang lain didamaikan dengan Allah. Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela (6:3). Ya, karena segala sesuatu adalah berasal dari Allah, tidak ada yang dapat menghalangi pekerjaan Tuhan. Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40) Namun, Allah juga senang agar orang berpartisipasi dalam pelayanan dan melakukan sesuatu untuk-Nya. Segala sesuatu berasal dari Allah dan Sebagai teman-teman sekerja, … kami adalah pelayan Allah (6:1) ini adalah dua hal yang tidak bertentangan. Ada pepatah yang mengatakan seratus persen kasih karunia Allah, juga seratus persen pekerjaan manusia. Menurut pendapat saya, perkataan ini meskipun mengakui bahwa orang menjadi rekan kerja Allah, tetapi mengatakan juga seratus persen pekerjaan manusia ini terlalu dilebih-lebihkan, seakan-akan manusia ikut kontribusi bersama Allah dalam keselamatan. Bagi Paulus, semuanya sepenuhnya kasih karunia Allah, manusia bisa menjadi rekan kerja Allah itu juga sepenuhnya kasih karunia Allah, oleh karena itu untuk membalas kasih karunia Allah maka Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima (6:1) Kasih karunia apa yang telah mereka terima? Di ayat 6:2 Paulus mengutip Yesaya 49:8 Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau, ketika kita membaca Yesaya 49 Allah memberikan janji kepada hamba-Nya Israel, mengatakan bahwa Ia akan melindunginya (mereka), dan Ia juga akan melalui dia (mereka) untuk melakukan keselamatan dan menjadi terang bagi semua bangsa. Namun, bagaimana hamba tuhan melihat dirinya sendiri? Di hadapan Tuhan, dia berkata: Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku (Yesaya 49:4), dapat dilihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, hanya kasih karunia Allah saja, tidak ada sedikitpun karena pekerjaan manusia. Di dalam kasih karunia Allah maka orang memiliki kesempatan untuk ikut melakukan sesuatu dalam karya keselamatan Allah, tetapi tidak peduli seberapa banyak upaya yang dilakukan orang itu, jika bukan karena kasih kemurahan Allah, semua usaha manusia bekerja sekeras apapun hanyalah sia-sia. Agar tidak membuat kasih karunia Allah menjadi sia-sia, orang perlu melakukan sesuatu untuk Tuhan (atas kesempatan yang Tuhan anugerahkan), tetapi bukan berarti ketika tangan dan kaki manusia berhenti, maka rencana keselamatan Allah terhalang atau dihancurkan. Karya Allah dan tindakan manusia ada pada tingkat level yang berbeda.

Untuk membalas kasih karunia kebaikan Allah, Paulus tidak hanya bekerja keras melakukan yang terbaik untuk menghilangkan (dan tidak menjadi) batu sandungan (ayat 3), dalam segala hal melakukan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa dia adalah pelayan Allah. Di teks sebelumnya di atas Paulus telah menuliskan pembelaan atas pelayanan dan karakter dirinya, itu adalah semacam pernyataan. Di sini, Paulus menuliskan sederetan istilah yang berbeda, untuk menunjukkan dalam aspek apa saja ia merupakan hamba Allah, beberapa terkait aspek penderitaan (dera, penjara dan kerusuhan, jerih payah, berjaga-jaga / tidak bisa tidur, dan berpuasa / kelaparan), ada yang terkait aspek kualitas karakter (kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik), dan ada pula yang berhubungan dengan aspek pelayanan (memberitakan kebenaran dan kekuasaan Allah, menggunakan senjata-senjata keadilan, dihormati dan dihina, diumpat atau dipuji). Paulus mengatakan semua ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah hamba Allah, dan dapat dilihat semua orang. Singkatnya, jangan melihat dari penampilan luar dianggap sebagai penipu, namun dipercayai; sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati(6:9-10). Siapa sebenarnya yang merupakan hamba Allah? Apakah itu Paulus? Atau mereka yang merekomendasikan diri mereka sendiri dan menyombongkan diri berdasarkan penampilan mereka? Paulus menggunakan pengalamannya di sini untuk membuat jemaat Korintus melihat dengan jelas, dan secara tidak langsung menantang mereka yang mempertanyakan dia agar menunjukkan surat rekomendasi yang sama dan membandingkannya (supaya pelayanan kami jangan sampai dicela, dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung)

Renungkan:
Allah senang agar anak-anak-Nya bekerja bersama dengan-Nya, apakah saya bersedia untuk memberikan diri bagi Tuhan? Demi Injil Yesus Kristus, bagaimana saya dapat menghindari melakukan hal-hal yang menghalangi dan menjadi sandungan bagi orang lain? Dengan cara apa saya dapat menunjukkan bahwa saya adalah hamba Allah? Apakah saya memiliki wacana teologis yang jelas tentang pelayanan Perjanjian Baru?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:6-8

「Persekutuan Orang Kudus (III)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:6-8 [ITB])
6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

(Terjemahan penulis)
Karena ini tertulis dalam Kitab Suci:
Lihat! Aku meletakkan sebuah batu di Sion, sebuah batu penjuru yang terpilih dan yang berharga
siapa pun yang percaya dia, tidak akan malu (Yesaya 28:16)
yang berharga adalah orang yang percaya,
tetapi yang tidak percaya,
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22)
juga menjadi
batu sandungan dan batu karang yang membuat orang tersandung (Yesaya 8:14-15)
mereka jatuh tersandung, adalah tidak taat Firman ini, mereka akan menjadi seperti itu.

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, dasar persekutuan orang-orang kudus.

Kemarin, kita berbicara tentang bahwa kita adalah batu yang hidup, karena Kristus Yesus sendiri adalah batu yang hidup, kita harus bersambung gandeng satu sama lain, saling mengasihi tanpa kasih yang tipu muslihat, dan menjadi para imam yang rajani (imamat yang rajani), sehingga karena komunitas iman ini yang tidak berdaya dan lemah membuat orang-orang bersama-sama meninggikan nama Tuhan dan menyatakan kepada dunia bahwa Tuhan benar-benar ada di antara kita.

Dalam perikop Alkitab hari ini, kita akan menemukan bahwa Petrus menggunakan tiga ayat Perjanjian Lama (Yesaya 28:16; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14-15 klik untuk membaca) untuk membahas batu hidup ini, jelas dia adalah iIngin menegaskan tipologi dari Perjanjian Lama. Selain dari 5 Kitab Taurat Musa (Torah), ada juga Yesaya dari kelompok kitab Nabi-nabi (Prophets), juga Mazmur dari kelompok Tulisan (Writings), Kitab Suci orang Yahudi terdiri dari kelompok Lima Kitab, Kitab Para Nabi, dan Kitab Tulisan-tulisan, bahkan seluruh Perjanjian Lama adalah interpretasi dari tipologi ini – bahwa yang ditolak adalah benar-benar yang dipilih oleh Allah dan berharga di mata Allah. Bagi orang-orang percaya yang terserak di abad pertama, meskipun mereka menghadapi kesulitan besar dan ditolak manusia, tetapi identitas mulia mereka tidak pernah hilang, apalagi dipermalukan.

Petrus menggunakan kutipan Yesaya pasal 28 dan pasal 8. Menurut uraian pasal 28, umat Allah menolak untuk mendengarkan Firman-Nya (bahkan walaupun Firman datang ke dunia dan menjelma jadi manusia), dan secara semaunya sendiri berpikir bahwa penafsiran mereka benar (Yes. 28:5-15), sehingga Allah menaruh batu di Gunung Sion, yakni umat Allah akan dikalahkan musuh dan bahkan ditawan (Yes. 28:16-19). Oleh karena itu, penempatan batu ini adalah untuk membuat orang tahu bahwa ditawan, dibuang (ditolak) ini adalah tindakan Allah, agar orang-orang di tahap ini masih dapat melihat bahwa Allah memiliki rahmat anugerah.

Dalam Yesaya pasal delapan, dengan nada yang sama juga ditempatkan di sini, yaitu, Allah akan menolak orang-orang Yahudi dan akan menjadi batu sandungan, batu karang yang membuat orang jatuh, sehingga orang tidak mau menerima cara keselamatan ini. Tetapi nabi Yesaya mendorong, agar kita menunggu Allah yang menyembunyikan wajah-Nya dari keluarga Yakub (Yes. 8:12-17), metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini secara konsisten terdapat dalam kitab Yesaya dan merupakan benang merah yang menembus menyambung seluruh sejarah Israel.

Adapun Mazmur 118, puisi tentang naik tahta yang terkenal, di hari minggu Palem (Palm Sunday, minggu memperingati Tuhan Yesus naik keledai memasuki Yerusalem, awal dari minggu penderitaan-Nya) kita akan sering menggunakan frasa diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (lihat Mat. 21:9), tetapi yang datang atas nama Tuhan ini juga mengalami ancaman kematian dan serangan dengan orang lain, bahkan menjadi yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan (Mazmur 118:17-22), tetapi pengalaman ini oleh Allah dibuat jadi batu penjuru yang sejati. Dengan cara yang sama, metode keselamatan yang tampaknya kontradiktif ini sekali lagi muncul disajikan dalam Mazmur, saling bergandengan bertanggapan dengan kitab- kitab Perjanjian Lama lainnya.

Tepat karena hal ini, sampai zaman Perjanjian Baru, yang ditolak ini justru dipilih Allah dan berharga di mata Allah ini tidak memudar, juga tidak hilang, sebaliknya telah dipahami menjadi jelas secara menyeluruh dalam diri Yesus Kristus.

Renungkan:
Kemarin, kita bertanya: apa pandangan kita tentang gereja? Hari ini, melalui kitab Yesaya yang mewakili kitab Nabi-nabi, Mazmur yang mewakili kumpulan Tulisan (kitab-kitab Puisi), dan bagian yang mengutip 5 Kitab Taurat yang telah kita renungkan selama beberapa hari yang lalu, menghendaki kita agar bersedia untuk mengambil jalan yang ditolak oleh orang lain, agar gereja mengulangi kebenaran yang tampaknya kontradiktif ini, agar apa yang kita lihat bukanlah tindakan manusia, tetapi tindakan dan kemuliaan Allah dinyatakan di hadapan manusia.

Hari ini, kita menghadapi jalan di depan, segala macam gesekan dan tantangan membuat kita harus mengakui bahwa kita akan memasuki situasi penuh penolakan, tetapi ini adalah pandangan sebenarnya dari gereja yang telah kita renungkan dalam beberapa hari terakhir, bukankah demikian? ! Ini juga merupakan waktu yang sangat baik bagi orang percaya untuk melihat bahwa itu sebenarnya bukan tindakan manusia, bukan tangan kendali agama, tetapi tangan tindakan Allah yang hidup di antara orang percaya, agar kita dapat bersama mengalami apa yang pernah dialami orang-orang kudus terdahulu. Bukankah ini persekutuan orang-orang kudus? !


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yudas 11-13

「Tiga Orang yang Tidak Saleh」

Perlu berhari-hati dalam kehidupan iman agar tidak tersesat dan hancur binasa.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Yudas ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yudas 11-13 [ITB])
11Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.
12Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali.
13Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya.

Yudas dalam putaran pertama, telah memakai tiga cuplikan Perjanjian Lama untuk membawakan kesalahan 「orang-orang itu」 (Yudas 1:5-7), sekarang dalam putaran kedua, ia memberikan contoh kegagalan tiga tokoh Perjanjian Lama sebagai peringatan (ayat 11). Saat Yudas mengajukan peristiwa tentang Kain, Bileam dan Korah, orang kudus yang dikasihi akan segera terpikir kejatuhan tiga tokoh tersebut dalam tutur kata perbuatan.

  1. Kain (Kej. 4), ia menunjukkan iri hati, amarah, bahkan membunuh orang. Ia tidak hanya menolak bertobat, terlebih lagi menolak TUHAN, menyebabkan akhir dari dirinya adalah menerima penghukuman.
  2. Nabi Bileam (Bil. 22-24), karena uang dan serakah, mempersembahkan rancangan daya upaya kepada raja Balak musuh Israel menyebabkan orang Israel berdosa dan dihukum TUHAN (Bil. 31:16).
  3. Korah, ia aslinya adalah orang Lewi, melayani Allah di Bait Suci (Bil. 16:8). Namun ia bersama 250 orang yang lain mengugat Musa dan Harun berkata : 「Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?」 (Bil. 16:3). Korah tidak hanya tidak menaati hukum, ia juga menantang kuasa Musa, meragukan tindakan Musa, dan tidak mau menerima hukum yang diperintahkan Musa yang berasal dari TUHAN. Tindakan Korah adalah memprovokasi, menciptakan perselisihan, berakibat menjadi perpecahan dan terang-terangan melawan hukum, akibatnya adalah mendapatkan penghakiman dan kebinasaan. Apa yang ia perbuat adalah 「berkumpul sepakat melawan TUHAN」 (Bil. 27:3).

Dari sini dapat dilihat bahwa Kain, Bileam dan Korah mewakili pembunuh yang penuh iri hati, nabi yang serakah dan pemimpin yang tidak taat. Tingkah laku ketiga orang yang tidak saleh ini, sekarang justru muncul di dalam gereja, Yudas menunjukkan: 「Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu」 (ayat 12). Apa kesamaan dari ketiga orang ini dan 「orang-orang itu」 yang disebut dalam Yudas 1:5-7? Yakni kehidupan dan tutur kata perbuatan mereka akan merusak kemurnian gereja dan persatuan.

Yudas dalam ayat 12-13 telah memakai 5-6 perumpamaan untuk menggambarkan kerusakan akibat dari「orang-orang itu」. CCV dan CNV menerjemahkan sebagai lima macam perumpamaan: 1. Noda (KJV, ITB) / dapat diterjemahkan sebagai karang tersembunyi (CUVT, ESV, NET, HCSB), 2. Awan, 3. Pohon, 4. Gelombang, dan 5. Bintang. Yudas menunjukkan lima gejala alam untuk menggambarkan kehidupan dan pengaruh 「orang tertentu」. Di sini dengan mengambil contoh karang tersembunyi yang berbahaya (ayat 12, ITB 「noda」), Yudas mengingatkan orang kudus bahwa 「orang-orang itu」 adalah 「karang berbahaya yang tersembunyi dalam perjamuan kasihmu」. Mereka walaupun duduk bersama-sama dengan orang percaya, berbagi dan terlihat mirip memiliki iman yang sama, namun adalah berbahaya di dalam gereja, karena mereka seperti karang tersembunyi, tidak tahu kapan waktunya, orang percaya terbentur karang, seluruh kehidupan mungkin jadi hancur! (Kita perlu berhati-hati dalam kehidupan iman jangan tersandung karang sehingga hancur dalam kebinasaan kekal. Kenalilah karang penghancur yang berlawanan dengan Kristus Yesus Juruselamat.)

Apakah ada perumpamaan keenam? Terjemahan RCUV (juga CUVT, NIV, ESV) mengajukan yang keenam: mereka di dalam komunitas kelihatan seperti 「gembala」 (「shepherds」 NIV) (ITB terjemahkan sebagai 「melahap」atau 「feeding」dalam NET). Mereka kelihatannya seperti penggembala, namun tidak seperti Yesus「TUHAN Sang Gembala」 (Maz. 23), mereka bukan gembala yang sesungguhnya, hanya tahu 「mementingkan dirinya sendiri」 (ayat 12). TUHAN juga pernah menegur sekelompok penggembala, mereka 「menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan」 (Yeh. 34:3). Penghakiman dari Allah kepada mereka adalah: 「Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu」 (Yeh. 34:10).

Yudas memakai perumpamaan ini, adalah hendak menunjukkan 「orang-orang itu」 tidak dapat diandalkan seperti awan, pohon yang tidak berbuah, ombak yang tidak mau menerima dikendalikan, dan bintang-bintang yang  tidak memberikan arah yang tetap (asteres planetai  oleh ITB diterjemahkan hanya sebagai bintang-bintang, dalam terjemahan CUVT, KJV, ESV, NET adalah 「wandering stars bintang-bintang pengembara, atau straying stars / bintang yang kehilangan arah」 seharusnya memberikan arah yang benar kepada para pelaut namun bintang-bintang ini tidak menentu arahnya, ia sendiri kehilangan arah, tidak dapat diandalkan sehingga membawakan bencana, lihat ayat 12 bahaya terbentur batu karang tersembunyi.) Tiga tokoh dan enam perumpamaan telah menunjukkan kesalahan dan bahaya mereka, sepatutnya menghindari bencana dari mereka. (Kita perlu berhati-hati dalam kehidupan iman jangan tersandung karang karena mengikuti bintang penyesat sehingga diri kita hancur dalam kebinasaan kekal.)

Renungkan: (1) Kesalahan orang yang terdahulu menjadi pelajaran bagi kita, mohon Tuhan membantu saya agar tidak mengulang jalan kesalahan orang dahulu; (2) Darah mulia Juruselamat telah membersihkan dosa saya, mohon Roh Kudus tidak hentinya melindungi saya senantiasa memiliki tangan yang bersih dan hati yang jernih.