「Krisis Abram di Mesir」
Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.
(Kej. 12:10-13:4 [ITB])
6 … Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.
8 Kemudian ia pindah dari situ …
9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.
11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: 「Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: 『Itu isterinya.』 Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.」
14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.
18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: 「Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: 『dia adikku』, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!」 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.
13:1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.
Melanjutkan ayat 9 di atas, saat sampai di bagian selatan Tanah Perjanjian, Abram menghadapi dua bahaya yang membayangi janji-janji Allah ── (1) Kelaparan hebat di Kanaan menyebabkan Abram meninggalkan Tanah Perjanjian beralih pergi ke Mesir; (2) Di Mesir Sarai dibawa ke istana Firaun, dan pada akhirnya hanya campur tangan Allah yang dapat menyelamatkan Abram dan Sarai dari kekuasaan Firaun sehingga mereka dapat bersama kembali ke Kanaan.
Menghadapi 「kelaparan」, Abram memilih untuk pergi ke tanah Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing (terjemahan The Message:「Abram went down to Egypt to live … / Abram pergi ke Mesir untuk hidup …」); kata 「tinggal sebagai orang asing」(gûr) dalam CUV Mandarin atau ITL 「menumpang」, beberapa sarjana Perjanjian Lama percaya bahwa kemungkinan besar Abram berencana untuk 「bermigrasi」 ke tanah Mesir untuk menetap di sana, yang justru bertentangan dengan 「janji」 TUHAN (Yahweh) kepadanya di ayat 7.
Bagaimana seharusnya kita memahami perjalanan hati Abram dari 「kelaparan」 hendak pergi ke Mesir?
Sebenarnya, ayat 6 sudah memberitahu kita bahwa ketika keluarga Abram tiba di tanah Kanaan, 「waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.」. Oleh karena itu, meskipun TUHAN meyakinkan dia tentang pemenuhan 「janji」 ini dalam ayat 7, dan Alkitab mencatat bahwa Abram membangun sebuah mezbah bagi TUHAN, perhatikan bahwa ayat 9 mengingatkan kita: 「Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb」 (ITL 「… menuju ke sebelah selatan」, KJV 「… going on still toward the south」) — semakin jauh dari Tanah Perjanjian. Mungkin, karena orang Kanaan masih tinggal di sana, keluarga Abram tidak bisa menetap di sana dan tampak tidak berdaya, tidak tahu bagaimana seharusnya. Jadi dia membawa keluarganya 「makin jauh berjalan ke selatan」.
Abram di dalam 「kebingungan」, malah mengalami 「kelaparan hebat」. Ini bukan hanya pertanyaan tentang 「ke mana harus pergi」, tetapi kebutuhan untuk kelangsungan hidup seluruh keluarga. Jadi mereka tidak punya pilihan selain langsung pergi ke Mesir, dan mereka bahkan mungkin mempertimbangkan di mana mereka ingin tinggal menetap jangka panjang!
Di Mesir, Abram menghadapi tantangan 「bertahan hidup」 lainnya ── apakah orang Mesir akan membunuh Sarai karena kecantikannya? Terlebih lagi, meskipun krisis ditangani dengan 「kebohongan」, Alkitab tidak mencatat pandangan Sarai tentang nasihat suaminya, dan di dalam keseluruhan peristiwa TUHAN tidak secara langsung menegur Abram. Tentu saja, 「tulah yang hebat」 (ayat 17) dari Allah membuktikan kepada Firaun bahwa 「kebohongan」 Abram tidak dapat diterima di mata Allah. Namun, Firaun sebagai pihak yang tertipu yang akan ditimpa 「tulah yang hebat」 Allah, bukan Abram yang 「pelaku penipuan」, bagaimana menjelaskannya?
Mungkin penulis Kejadian tidak ingin kita fokus pada 「benar」 dan 「salah」 dari 「kebohongan」 Abram; sebenarnya, respons Allah sudah berbicara sendiri. Penulis Alkitab meminta kita untuk berhati-hati: tidak peduli seberapa lemah Abram dalam menghadapi krisis, 「janji」 Allah tidak berubah ── ia menerima semua kekayaan dari Firaun (12:16; 13:2). Mulai ayat 12:8 tercatat Abram membangun mezbah bagi TUHAN Allah, kemudian ia membawa Sarai dan yang lainnya 「ke selatan」, sampai akhir peristiwa, 13:3-4 mencatat bahwa mereka sekeluarga bepergian dari selatan ke Betel dan 「ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN」, kita tampaknya melihat keluarga Abram telah 「berputar satu lingkaran」 dalam rencana perjalanan mereka. Namun, yang lebih penting adalah dalam 「berputar satu lingkaran」 ini, ia mengalami krisis, bahaya dan kelemahan, tetapi 「janji」 Allah tetap tidak berubah.
Renungkan:
Dalam 「janji」 Allah yang tidak berubah, mungkin kita semua pernah 「terguncang」 seperti Abram. Dari pengalaman Abram, kita dapat menyadari bahwa 「janji」 Allah tidak pernah berubah karena kelemahan manusia. Dalam proses pertumbuhan kehidupan, kita juga memiliki kemungkinan 「gagal」, namun meskipun kita 「gagal」, tetapi 「janji」 Allah tetap tidak berubah. Oleh karena itu, selama di dalam 「kegagalan」 kita dapat menemukan kehendak dan bimbingan Allah, kita masih bisa 「berjalan maju」!
Catatan tambahan: Kej. 12:9 (BIMK) Kemudian ia meneruskan lagi perjalanannya dari satu tempat ke tempat berikutnya, menuju ke bagian selatan tanah Kanaan.
Catatan NET: The Hebrew verb נָסַע (nasaʿ) means “to journey”; more specifically it means to pull up the tent and move to another place. The construction here uses the preterite of this verb with its infinitive absolute to stress the activity of traveling. But it also adds the infinitive absolute of הָלַךְ (halakh) to stress that the traveling was continually going on. Thus “Abram journeyed, going and journeying” becomes “Abram continually journeyed by stages.”
Renungan pemahaman Kitab Kejadian
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-35 ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan Maret 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
