Tag Archives: Abraham

Kejadian 12:10-13:4

Krisis Abram di Mesir

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 12:10-13:4 [ITB])
6 … Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.
8 Kemudian ia pindah dari situ …
9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.
11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.
14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.
18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah! 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.
13:1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.

Melanjutkan ayat 9 di atas, saat sampai di bagian selatan Tanah Perjanjian, Abram menghadapi dua bahaya yang membayangi janji-janji Allah ── (1) Kelaparan hebat di Kanaan menyebabkan Abram meninggalkan Tanah Perjanjian beralih pergi ke Mesir; (2) Di Mesir Sarai dibawa ke istana Firaun, dan pada akhirnya hanya campur tangan Allah yang dapat menyelamatkan Abram dan Sarai dari kekuasaan Firaun sehingga mereka dapat bersama kembali ke Kanaan.

Menghadapi kelaparan, Abram memilih untuk pergi ke tanah Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing (terjemahan The Message:Abram went down to Egypt to live … / Abram pergi ke Mesir untuk hidup …); kata tinggal sebagai orang asing(gûr) dalam CUV Mandarin atau ITL menumpang, beberapa sarjana Perjanjian Lama percaya bahwa kemungkinan besar Abram berencana untuk bermigrasi ke tanah Mesir untuk menetap di sana, yang justru bertentangan dengan janji TUHAN (Yahweh) kepadanya di ayat 7.

Bagaimana seharusnya kita memahami perjalanan hati Abram dari kelaparan hendak pergi ke Mesir?
Sebenarnya, ayat 6 sudah memberitahu kita bahwa ketika keluarga Abram tiba di tanah Kanaan, waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.. Oleh karena itu, meskipun TUHAN meyakinkan dia tentang pemenuhan janji ini dalam ayat 7, dan Alkitab mencatat bahwa Abram membangun sebuah mezbah bagi TUHAN, perhatikan bahwa ayat 9 mengingatkan kita: Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb (ITL … menuju ke sebelah selatan, KJV … going on still toward the south) — semakin jauh dari Tanah Perjanjian. Mungkin, karena orang Kanaan masih tinggal di sana, keluarga Abram tidak bisa menetap di sana dan tampak tidak berdaya, tidak tahu bagaimana seharusnya. Jadi dia membawa keluarganya makin jauh berjalan ke selatan.

Abram di dalam kebingungan, malah mengalami kelaparan hebat. Ini bukan hanya pertanyaan tentang ke mana harus pergi, tetapi kebutuhan untuk kelangsungan hidup seluruh keluarga. Jadi mereka tidak punya pilihan selain langsung pergi ke Mesir, dan mereka bahkan mungkin mempertimbangkan di mana mereka ingin tinggal menetap jangka panjang!

Di Mesir, Abram menghadapi tantangan bertahan hidup lainnya ── apakah orang Mesir akan membunuh Sarai karena kecantikannya? Terlebih lagi, meskipun krisis ditangani dengan kebohongan, Alkitab tidak mencatat pandangan Sarai tentang nasihat suaminya, dan di dalam keseluruhan peristiwa TUHAN tidak secara langsung menegur Abram. Tentu saja, tulah yang hebat (ayat 17) dari Allah membuktikan kepada Firaun bahwa kebohongan Abram tidak dapat diterima di mata Allah. Namun, Firaun sebagai pihak yang tertipu yang akan ditimpa tulah yang hebat Allah, bukan Abram yang pelaku penipuan, bagaimana menjelaskannya?

Mungkin penulis Kejadian tidak ingin kita fokus pada benar dan salah dari kebohongan Abram; sebenarnya, respons Allah sudah berbicara sendiri. Penulis Alkitab meminta kita untuk berhati-hati: tidak peduli seberapa lemah Abram dalam menghadapi krisis, janji Allah tidak berubah ── ia menerima semua kekayaan dari Firaun (12:16; 13:2). Mulai ayat 12:8 tercatat Abram membangun mezbah bagi TUHAN Allah, kemudian ia membawa Sarai dan yang lainnya ke selatan, sampai akhir peristiwa, 13:3-4 mencatat bahwa mereka sekeluarga bepergian dari selatan ke Betel dan ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN, kita tampaknya melihat keluarga Abram telah berputar satu lingkaran dalam rencana perjalanan mereka. Namun, yang lebih penting adalah dalam berputar satu lingkaran ini, ia mengalami krisis, bahaya dan kelemahan, tetapi janji Allah tetap tidak berubah.

Renungkan:
Dalam janji Allah yang tidak berubah, mungkin kita semua pernah terguncang seperti Abram. Dari pengalaman Abram, kita dapat menyadari bahwa janji Allah tidak pernah berubah karena kelemahan manusia. Dalam proses pertumbuhan kehidupan, kita juga memiliki kemungkinan gagal, namun meskipun kita gagal, tetapi janji Allah tetap tidak berubah. Oleh karena itu, selama di dalam kegagalan kita dapat menemukan kehendak dan bimbingan Allah, kita masih bisa berjalan maju!


Catatan tambahan: Kej. 12:9 (BIMK) Kemudian ia meneruskan lagi perjalanannya dari satu tempat ke tempat berikutnya, menuju ke bagian selatan tanah Kanaan.
Catatan NET: The Hebrew verb נָסַע (nasaʿ) means “to journey”; more specifically it means to pull up the tent and move to another place. The construction here uses the preterite of this verb with its infinitive absolute to stress the activity of traveling. But it also adds the infinitive absolute of הָלַךְ (halakh) to stress that the traveling was continually going on. Thus “Abram journeyed, going and journeying” becomes “Abram continually journeyed by stages.”


Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-35 ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan Maret 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Kejadian 12:1-9

Panggilan janji dan ketaatan Abram

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 12:1-9 [ITB])
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.
6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.
7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu. Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Kejadian 12:1 mencatat bahwa Abram dipanggil oleh TUHAN Allah: Tinggalkan negerimu, sanak saudaramu, dan rumah ayahmu, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Lalu, ayat 11:31 mencatat Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan. Namun anehnya, Terah hanya pergi ke Haran, sampailah di sana mereka lalu menetap tinggal. Penulis Kejadian tidak menjelaskan mengapa Terah membawa keluarganya ke tanah Kanaan, mungkin karena di Ur Allah telah memanggil Terah pergi ke sana; selain itu, kita tidak tahu mengapa Terah berhenti untuk tinggal menetap ketika dia sampai di Haran, tidak berjalan lebih lanjut, dan dia akhirnya meninggal di Haran; tetapi bagaimanapun juga, dari masa lalu ketika Terah yang membawa (lāqaḥ), hingga pasal 12 Abram yang … membawa… (lāqaḥ) dapat membuktikan pengalihan peran kepemimpinan keluarga. Mulai dari pasal 12 dan seterusnya, tugas memasuki tanah Kanaan telah menjadi tugas untuk diselesaikan Abram!

Kejadian pasal 12 ini dapat dibagi menjadi dua bagian narasi: panggilan TUHAN (Yahweh) kepada Abram (ayat 1-3) dan ketaatan Abram (ayat 4-9). Ayat 1-3 dapat dikatakan sebagai inti dari keseluruhan cerita patriarki, yang memuat tiga dari janji ilahi, yang menjadi inti dari perkembangan selanjutnya dari Kitab Kejadian dan menjadi tema penting Pentateukh.

Tiga janji ilahi ini meliputi: tanah, benih, dan berkat. Namun, kita harus berhati-hati bahwa sebelum tiga janji ilahi ini datang kepada Abram, Allah memberinya perintah – Pergilah (12:1), dan Abram tidak merespons dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan merealisasikan ketaatan kepada perintah Allah (12:4).

Pentingnya Kejadian pasal 12 tidak hanya dalam janji TUHAN (Yahweh) kepada Abram, tetapi sebenarnya, di balik janji itu adalah keselamatan bagi semua suku bangsa di bumi. Bagimana bisa mengatakan demikian?

Ayat 11:6-7 firman TUHAN, Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing. Setelah kata-kata penghakiman Tuhan Yahwe dalam Peristiwa Menara Babel, apa yang dikatakan Allah kepada Abram di sini dalam pasal 12 adalah untuk pertama kali Allah berbicara setelah Peristiwa Menara Babel. Sebenarnya, ayat 3, … dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat menunjukkan dengan tepat apa rencana TUHAN (Yahweh) untuk keselamatan semua bangsa-bangsa adalah – melalui cara menjadikan Abram bangsa besar dan berkat (ayat 2), dengan demikian melaluinya menyelamatkan bangsa-bangsa yang tercerai-berai.

Abram, yang mendapatkan keberanian karena menerima firman Allah TUHAN yang setia dan dapat diandalkan, memulai perjalanan suci ini. Ketika dia tiba di ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More, ayat 7 TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berbicara kepadanya lagi, yang dapat dikatakan sebagai konfirmasi TUHAN atas ketaatan Abram dan konfirmasi atas janji-Nya. Dan bagaimana respons tanggapan Abram? Ia membangun mezbah — yang pertama dari antara banyak mezbah.

Renungkan:
Pergilah – ini bukan keputusan yang mudah, dan bahkan jika kita yakin bahwa Tuhan akan selalu memimpin, seringkali kita masih bergumul ketika akan bertindak. Sebenarnya, pelajaran ketaatan sama sekali tidak mudah. Sekalipun terdapat banyak kesaksian di hadapan kita, itu juga merupakan pengalaman dari rahmat anugerah yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu, hanya saja harus pergi meninggalkan zona nyaman, atau dengan kata lain, masuk ke jalan yang kita tidak tahu, kita masih ragu tidak mengambil keputusan.
Ketaatan Abram adalah kepercayaan mutlak pada janji Allah, dan meskipun dia tidak yakin tentang hari esok, dia melakukannya seperti yang Allah perintahkan (ayat 4). Bagaimana dengan kita? Dalam pelajaran ketaatan ini, bagaimana kita bisa belajar dari tindakan Abram?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-35 ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan Maret 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:13-17 (1)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (I)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Untuk memahami ayat Alkitab ini, kita harus memahami apa yang kita bicarakan di teks sebelumnya di atas dan apa yang patut kita perhatikan ketika Petrus mengutip ayat Alkitab Perjanjian Lama (silakan tinjau ulang renungan sepuluh hari terakhir), karena jika kita tidak memperhatikan alur pikir seluruh paragraf ayat-ayat Alkitab ini, kita akan mengabaikan poin penting yang utama dan mempengaruhi pemahaman kita atas satu ayat Alkitab hari ini.

Tulisan Petrus sampai di titik ini, kira-kira pesan yang ingin disampaikan dia adalah: orang percaya di Asia Kecil telah mengalami penderitaan, ditolak manusia, dan tidak mudah untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang memusuhi mereka, tetapi Petrus menasihati mereka bahwa ini sebenarnya adalah pemilihan Allah dan malahan mereka sangat berharga bagi Allah. Petrus menghabiskan begitu banyak kata-kata dan bahasa agar orang-orang percaya Asia Kecil menerima identitas mereka, ditambah ia menggunakan pengalaman orang Israel keluar dari Mesir terserak di padang belantara, dan juga deskripsi tentang Daud yang terpaksa berpura-pura menjadi gila dan hidup sebagai penumpang di bawah raja asing non Israel, juga pengalaman orang Israel ditawan ke tempat bangsa-bangsa asing, dan contoh bagaimana Abraham menumpang tinggal di tanah Kanaan dan membeli tanah serta bermasyarakat di sana, dengan jelas memberitahukan kepada Anda dan saya bahwa para murid Tuhan selalu dalam keadaan ditolak manusia tetapi dipilih Allah, seperti hidup di bawah tarikan tegangan yang tampaknya bertentangan, sehingga pengalaman-pengalaman ini bukanlah hal yang asing dan baru, agar orang-orang percaya di abad pertama tahu bahwa ini adalah keadaan normal yang senantiasa dialami umat Tuhan. Apakah orang-orang percaya di tempat kita tahu?

Tetapi pada saat yang sama, apa yang ayat Alkitab Perjanjian Lama nyatakan tentang bagaimana menghadapi raja-raja bangsa asing?

Firaun dari Kitab Keluaran karena dia tidak tahu bagaimana cara membalas yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat, dan memperlakukan Israel dengan buruk, berakhir dengan hukuman sepuluh tulah dari Allah.

Meskipun Daud terpaksa berpura-pura gila agar lolos dari pengejaran Saul, tetapi Allah oleh Diri-Nya sendiri yang mempersiapkan jalan bagi Daud, dan akhirnya orang fasik jatuh ke perangkap jerat dirinya sendiri.

Setelah orang-orang Yahudi ditawan dan terserak di negeri asing, bukankah Allah melalui para nabi telah menyatakan kejahatan para penawan dan menghakimi kejahatan mereka?

Meskipun Abraham menumpang tinggal di Kanaan, dalam pertempuran serangan empat raja terhadap lima raja, kehadiran Tuhan membuatnya menang dan menyelamatkan Lot, keponakannya.

Dapat dilihat bahwa ketika umat Allah hidup sebagai penumpang di zaman periode dan tempat yang berbeda, akhir dari raja-raja penguasa yang memusuhi melawan Allah, yang tidak tahu bertobat, jika mereka tidak memiliki rasa takut hormat kepada Allah, maka akhir dari mereka akan menyedihkan. Petrus membawa kita selain melihat identitas umat Allah melalui Perjanjian Lama, terlebih juga melalui kitab Hosea yang mengumumkan bahwa belas kasihan Allah datang kepada orang-orang non umat Allah, mengumumkan kepada dunia bahwa semua kuasa pemerintahan ada di tangan Allah, Kitab Suci Perjanjian Lama tidak pernah malu untuk mengungkapkan siapa yang merupakan Terang yang sejati bagi dunia, mereka yang sombong, raja-raja yang keras kepala memegang tradisi pola pikir dunia, akhirnya hanya memiliki jalan menuju kebinasaan dan menerima penghakiman.

Renungkan:
Tuhan adalah Cahaya yang sejati bagi dunia, akankah para petinggi kekuatan politik dan orang-orang yang mempermainkan kekuasaan masih membuat orang-orang percaya panik? Sebenarnya memang membuat takut, namun bukankah identitas yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Allah mengingatkan kita bahwa ini adalah jalan yang harus dilewati, jalan yang diberkati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:11-12

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (III)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [ITB])
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

(Terjemahan penulis)
yang kekasih, aku menasihatimu, sebagai orang asing dan penumpang,
menjauhlah dari keinginan daging, keinginan daging ini akan berperang dengan jiwa,
milikilah perilaku baik di antara bangsa-bangsa asing, sehingga ketika mereka memfitnah kamu sekalian sebagai orang jahat,
tetapi karena melihat perilaku baik kamu sekalian, maka memuliakan Allah di hari Allah melawat

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin, ayat dari kitab Hosea mengingatkan kita untuk berupaya keras di masa tinggal di diaspora, bersaksi tentang rahmat anugerah Tuhan, tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita percaya bahwa Tuhan telah memberkati kita dan akan menyimpan banyak rahmat dan kejutan bagi kita, menghendaki kita teguh percaya atas identitas diri kita sebagai orang-orang diaspora dan tetap hidup dengan cemerlang berkenan kepada Tuhan.

Ayat Alkitab hari ini melanjutkan pengajaran ayat kemarin, membuat kita lebih memahami bagaimana mempraktikkannya dalam lingkungan nyata, agar bangsa-bangsa lain juga dapat memuliakan Allah.

Pertama, Petrus menggunakan sepasang kata-kata yang serupa orang asing dan penumpang (παροίκους καὶ παρεπιδήμους paroíkous kaí parepidímous) untuk menekankan penjelasannya tentang identitas orang percaya (ITB terjemahkan sebagai pendatang dan perantau KJV: strangers and pilgrims). Lalu, ketika kita membaca Kejadian 23:4 dalam terjemahan Septuaginta (LXX), pasangan kedua kata ini persis digunakan pada diri Abraham, di antara orang Het ia menunjukkan identitasnya sebagai orang yang dipanggil dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan sebagai orang asing dan penumpang. Karena itu, Petrus menggunakan tipologi Perjanjian Lama untuk memberikan pengajaran kepada saudara-saudari, dan sekali lagi menjelaskan bahwa pengalaman sebagai orang yang terserak (berada di diaspora) ini konsisten, dan bukan merupakan kejutan baru. Dan dalam berbagai tipologi Perjanjian Lama yang berbeda, rahmat anugerah Allah dinyatakan pada Abraham dan keturunannya, orang Israel dalam Keluaran, Daud yang dipaksa melarikan diri, dan umat Allah yang terserak di kerajaan utara dan selatan? Dan keselamatan Allah tidak pernah absen.

Lalu, ketika ayat Kejadian 23 yang dikutip di sini, itu adalah catatan tentang setelah Sarah meninggal, Abraham membeli tanah dari orang Het untuk menguburkan juga keturunannya kelak. Di antaranya dicatat bagaimana Abraham bergaul dengan penduduk setempat dan berurusan jual beli dengan mereka, agar di antara penduduk setempat, bisa mempertahankan nama baik, dan menjaga hubungan yang langgeng dan baik. Ini tepat menjelaskan dua ayat Alkitab yang dibaca hari ini, yaitu agar orang dapat melihat perilaku baik diri kita, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah.

Menurut pandangan yang salah dari Suetonius seorang sejarawan Yunani Romawi terhadap murid-murid Kristus, orang-orang Kristen itu percaya takhayul yang berperilaku kacau (mischievous superstition. Nero 16). Tacitus salah memahami dan memandang Kekristenan adalah agama yang berbahaya dan takhayul, komunitas yang suka mempraktikkan magis (Annals 144). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa besar tekanan yang diterima orang Kristen dan pada taraf yang begitu mengerikan (penuh fitnah dan provokasi).

Pengajaran Rasul Petrus di ayat ini bukan berseru-seru demi nafsu keinginan diri sendiri dan demi saling menentang dengan yang lain, bukan demi melindungi diri sendiri, tetapi dengan sepenuh hati, dia memanggil mereka yang tidak memiliki tipu daya agar saling mengasihi, bersatu hati membangun sebuah Bait rohani dan saling melindungi.

Renungkan:
Sifat manusia dari manusia umum adalah mudah diprovokasi oleh orang lain, dan demi nafsu keinginan mereka saling membenci, tetapi ini hanya demi keuntungan daging, tetapi sama sekali tidak berfaedah untuk jiwa rohani. Dengan sudut pandang lain, ketika orang lain sibuk, menghabiskan waktu dan pikiran beserta tradisi kebiasaan pola pikir spiritual yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia untuk menyerang dan memfitnah Anda, tetapi Anda dapat berdiri di atas batu karang Tuhan dan tidak digoyahkan, Anda akan menyaksikan sekelompok orang bebal yang berlarian ke sana ke sini, mereka tidak akan mendapatkan apa pun di Kerajaan Allah, dan akhirnya mereka hanya akan memakan buah kejahatan yang dihasilkan jerat mereka sendiri, bisakah hati Anda menenangkan diri dan hati? Atau apakah kita perlu memperebutkan memperjuangkan lebih banyak?

Pada hari Tuhan melawat (day of visitation), akankah musuh memuliakan Tuhan karena Anda, apakah saya sudah cukup? Sudah bolehkah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kejadian 22:1-18

30 Mar 2018 – Jumat Agung

Karena Engkau Telah Mematuhi Suara-Ku

(Kejadian 22:1-18)
1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” 2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” 3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” 13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16 kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

Renungan
Bagaimana anda bereaksi ketika orang lain membuat permintaan dari anda? Apa yang terjadi ketika Allah meminta anda untuk melakukan sesuatu yang sulit?
Abraham “percaya kepada Tuhan, dan ia menganggap itu sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6), ketika masih sebagai Abram, ia berkata kepada Tuhan, “Lihatlah engkau tidak memberikan keturunan kepadaku,” dan firman dari Tuhan meyakinkan dia, “anakmu sendiri yang akan menjadi pewarismu.“ (Kejadian 15:2-3).

Abraham telah menyerahkan masa lampau dalam pemutusan hubungan yang bersih dengan Ur dan Haran (Kejadian 11:3 – 12:4). Dia telah menyerahkan masa kini ketika ia mengijinkan keponakannya Lot untuk memilih tanah yang lebih subur (13:8-12). Tetapi sekarang, perintah untuk mempersembahkan Ishak, anak kandungnya dan pewarisnya (vv 1-2) adalah ujian terbesar, termasuk penyerahan akan masa depannya.

Setiap janji Allah sepertinya berpusat kepada Ishak (Ibrani 11:17-19) dan perintah itu menjadi lebih menyiksa karena Abraham sendirilah yang menjadi algojonya. Bagaimana ia dapat pada saat yang bersamaan patuh dan mempertahankan imannya kepada janji Allah [“melalui Ishak keturunanmu akan dinamai. ” (Kejadian 21:12); “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. ” (Kejadian 17:7)]?

Sekarang Abraham menghadapi ujian tertinggi dari iman – tetapi Allah telah memberikan Ishak, dan adalah merupakan hak-Nya untuk mengambilnya dari Abraham (Ayub 1:21). Iman Abraham kepada Allah tidak goyah – perhatikan jawabannya yang segera (22:3, 12) tanpa penundaan atau perdebatan. Allah telah berjanji, Dia tidak dapat gagal, dan masa depan dapat dengan aman dipercayakan ke dalam tangan Allah yang pasti. Apakah kita tetap sama konstan dan puas, terutama jika yang dipertaruhkan adalah ambisi diri dan anak-anak kita? Anak sulung yaitu Ishak secara khusus dikuduskan untuk Tuhan (Keluaran 13:1-2). Hasilnya: Allah menyediakan seekor domba jantan (ayat 13) sebagai pengganti, karena itu nama yang diberikan kepada tempat itu adalah ‘Jehovah Jireh’ – ‘Allah akan menyediakan’.

Tanah Muriah (ayat 2 – 2 Tawarikh 3:1; 1 Tawarikh 21:15-22:1) adalah tempat dimana tempat ibadah tersebut dibangun di Yerusalem dan sangat dekat dengan lokasi di mana Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai pengorbanan untuk dosa-dosa kita (Yohanes 1:29; 2 Korintus 5:21; Roma 5:8).

Doa
Bapa, aku mengaku,
‘Tidak ada cara lain, Allah yang Kasih dapat menemukan
Untuk merekonsiliasi dunia dan menyelamatkan kemanusiaan yang tersesat;
Dibutuhkan kematian dari Anak-Nya sendiri.
Tidak ada cara lain, selain Kalvari.
Kekayaan seluruh dunia tidak dapat menebus kita;
Juga perbuatan-perbuatan kita yang lemah – demikian besar harganya!
Pengharapan kita hanya di dalam darah Yesus –
Darah yang dicurahkan demi kita dalam pengorbanan.‘ Amen.

Tindakan
Sementara Bapa Surgawi kita menyediakan Abraham seekor domba jantan untuk menggantikan Ishak, Dia “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua.“ (Roma 8:32). Kiranya kita menjadi seperti Abraham dan khususnya Yesus yang “hidup (dalam ketaatan)… untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.“ (2 Korintus 5:15)

Revd. Canon Dr. Louis Tay
Auxiliary Priest
St. Andrew’s Cathedral

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Ibrani 7:1-10

8 Mar 2018 – Hari Kamis Minggu ketiga, Pra Paskah

Kepada Melkisedek, Abraham Memberikan Perpuluhan

(Ibrani 7:1-10)
1 Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. 2 Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. 3 Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.
4 Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik.
5 Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham.
6 Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji.
7 Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.
8 Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup.
9 Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, 10 Sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu.

Renungan
Perikop ini membuat setting bagi keseluruhan pasal 7, di mana keimaman Yesus dikatakan menyerupai Melkisedek. Tetapi sebelum kita tiba di sana, marilah kita melihat lebih dekat pada Melkisedek.

Mungkin tampak misteri, tetapi perikop tentang Melkisedek ini sebenarnya menyatakan sebuah poin sederhana tentang dia: tidak seorangpun tahu dari mana dia memperoleh keimamannya. Melkisedek tidak mewarisi keimaman dari ayah, ibu atau siapapun dalam keluarganya, dan tidak ada penjelasan apakah keimamannya dimulai dengan kelahiran atau berakhir dengan kematian. Ini adalah hal dasar yang dikatakan ayat 3.

Ini kemudian dikontraskan dengan keimaman secara hukum Imamat, yang menunjukkan bahwa keimanan Melkisedek adalah lebih tinggi. Melkisedek adalah imam kepala yang lebih tinggi bagi Abraham, karena Abraham “memberikan 1/10 dari segala kepunyaannya. ” Dia juga lebih tinggi dari posisi Lewi, karena Lewi keturunan dari Abraham.

Tetapi ayat 2 menuliskan dengan jelas bahwa Melkisedek adalah raja (namanya secara literal berarti “raja kebenaran.”) Raja-raja Israel datang dari keturunan Yudah, bukan Lewi. Bagaimana seorang raja juga seorang imam?

Tentu saja kita mengetahui kesimpulannya: “Yesus adalah raja dan imam kita. Dia jauh lebih tinggi dari pada suku Lewi manapun. Yesus adalah imam yang sesungguhnya, tidak mewarisi keimaman-Nya dari keluarga. Dialah Imam abadi kita, yang keimaman-Nya tidak diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Keimaman-Nya kekal, demikian juga kesetiaan-Nya.

Apakah yang harus kita lakukan dengan Seorang Imam-Rajani yang demikian?

Kita harus menempatkan iman dan pengharapan kita kepada-Nya. Tidak seorangpun yang lebih berharga. Yesus adalah seorang imam, kita dapat berbicara dengan penuh keyakinan dan untuk penghiburan. Kita dapat selalu percaya kepada Kuasa-Nya sebagai Raja kita dan bergantung pada kesetiaan-Nya.

Adakah yang mengganggumu yang perlu engkau tanggalkan?
Beberapa masalah atau bahkan dosa tersembunyi yang perlu engkau akui? Bawalah kepada Yesus. Bicaralah dengan-Nya. Layani Dia dengan sepenuh hati sebagai raja-Mu. Lihatlah perubahan di depanmu.

Doa
Yesus yang terkasih, siapakah yang aku memiliki di surga selain Engkau? Tidak ada seorangpun yang kuingini di bumi selain Engkau. Engkaulah Rajaku dan Imamku. Ajarlahku menjadi hamba-Mu. Ajarlahku untuk berbicara pada-Mu dengan penuh keyakinan dan teratur. Bantulah aku lebih percaya kepada Mu karena aku menyadari Engkau memegang masa depanku di dalam tangan-Mu. Ketika aku jatuh atau kehilangan arah, bawalah aku kembali kepada-Mu.

Tindakan
Akuilah dosa (yang tidak berhenti atau yang tersembunyi) kepada Yesus hari ini, dan mintalah pertolongan-Nya untuk mengubah, mengetahui bahwa dengan pertolongan-Nya, engkau mampu.

Rev Dr Chiang Ming Shun
Dosen Trinity Theological College

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Kejadian 12:10, 17, 20

「Meninggalkan dan mencari tempat」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 12:10-20 [ITB])
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.
11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.
14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.
18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah! 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.

Abraham disebut bapak iman, tetapi kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Dari awal perjalanan imannya, panggilan untuk pergi ke tanah perjanjian, hingga mempersembahkan Ishak, untuk mencapai puncak iman, ada gunung dan lembah, iman itu ada tinggi dan rendah. Paragraf ini adalah catatan saat dia kurang beriman.

(1) Pergi ke Mesir (ayat 10-13). Tanpa bertanya meninggalkan tanah perjanjian, pergi ke Mesir, mengungkapkan sifat manusia yang suram. Sepertinya di luar dugaan manusia bahwa ada kelaparan di tanah yang dijanjikan Allah. Yang lebih tidak terduga bagi para pembaca adalah bahwa tanpa bertanya kepada Allah, dia membawa keluarga dan tanggungannya meninggalkan tanah perjanjian dan mencari perlindungan di Mesir (ayat 10). Hal ini juga mempengaruhi Ishak (Kejadian 26) dan Elimelekh (Kitab Rut), mereka belajar dari contoh.

Dalam ayat 11, akan masuk ke Mesir artinya belum memasuki Mesir, tetapi Abram tiba-tiba merasa takut dan meminta Sarai agar berkata kepada orang lain bahwa dia adalah saudara perempuannya, bukan istrinya, untuk menghindari kemungkinan pembunuhan. Ini menunjukkan bahwa rencana Abram untuk pergi ke Mesir adalah buruk dan alasannya tidak kuat. Juga melihat sisi gelap kemanusiaan, yang tidak terbuka. Faktanya, kekhawatiran yang sama tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di Kanaan, insiden Abimelekh di Kejadian 20 adalah replika dari kejadian ini.

(2) Tiba di Mesir (ayat 14-17). Di Mesir, membiarkan orang mengambil istrinya dan menerima harta tanpa merasa malu. Hukum Murphy: Ketika orang takut dengan apa yang terjadi, hasilnya akan benar-benar terjadi. Orang Mesir melihat wanita itu sangat cantik, dan sangat merekomendasikannya kepada Firaun. Firaun membawanya ke istana dan memberi Abram sejumlah besar harta, tetapi Abram tanpa malu menerimanya. Jika bukan karena TUHAN (Yahweh) yang mengirimkan tulah kepada Firaun dan menghentikannya, kisah tentang keluarga Abram mungkin akan berakhir di sini, dan rencana Allah juga akan terhalang.

(3) Meninggalkan Mesir (ayat 18-20). Firaun menuduh Abram, mengembalikan istrinya, dan mengusir mereka keluar dari Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa moralitas Firaun Mesir jauh lebih tinggi dari pada moralitas Abram, tidak hanya Abram tidak menjadi berkat bagi semua orang, tetapi malah menjadi kutukan bagi orang lain, karena perbuatannya ia membawa malapetaka bagi orang lain.

Renungkan:
Setiap orang hebat memiliki masa lalu yang tidak bagus, tetapi setiap orang berdosa juga dapat memiliki masa depan yang cerah. Allah tidak menunggu seseorang menjadi lebih baik sebelum memilihnya, tetapi membuatnya lebih baik setelah dia dipilih. Dan Abraham pergi ke Mesir, di Mesir, dan keluar dari Mesir, juga menjadi tipologi kelak orang Israel pergi ke Mesir dan keluar dari Mesir. (Tipologi: Seseorang atau sesuatu di dalam Perjanjian Lama yang menjadi bayangan seseorang atau sesuatu yang hadir di dalam Perjanjian Baru. Peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, atau pernyataan-pernyataan dalam Perjanjian Lama dipandang sebagai tipe yang kembali timbul atau dilampaui oleh peristiwa, antitipe, atau aspek Kristus atau wahyu-Nya yang dideskripsikan dalam Perjanjian Baru. Contohnya, Yunus dipandang sebagai tipe Kristus saat ia keluar dari perut ikan dan kemudian tampak bangkit dari kematian.)


Renungan pemahaman Kitab Kejadian 12-26

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-26 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) dipublikasi pada bulan Maret 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Kejadian 12:1-3

「Panggilan dan respons」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 12:1-3 [ITB])
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

TUHAN (Yahweh) memanggil Abram untuk pergi ke tempat yang ingin Allah tunjukkan, dan itu adalah awal dari perjanjian Allah dengannya. Sebenarnya, hal itu telah dicatat di pasal sebelumnya, Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana(Kejadian 11:31)

Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan: (1) Saat itu Terah adalah orang tua dan pemimpin rombongan migrasi itu, bukan Abram. (2) Tidak disebutkan panggilan Allah, tetapi tindakan manusia. (3) Lot secara spesifik disebutkan, tetapi Abram belakangan ingin melepaskan diri dari dia. (4) Mereka akan pergi ke Kanaan, tetapi mereka berhenti di Haran, yang sekarang berada di bagian timur Turki, dekat hulu Mesopotamia.

Ur di Kasdim, di Irak selatan masa kini dan dekat Kuwait, adalah tempat di mana peradaban berada pada puncaknya dan pusat penyembahan berhala. Belakangan Yosua juga mencatat Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain (Yosua 24:2) Penyembahan kepada Allah sejati adalah dimulai dari Abraham.

Kejadian 12:1-3 adalah setelah Terah meninggal, Allah secara langsung memanggil Abram, dan barulah Abram menjadi pemimpin keluarga. Meski banyak orang mengatakan bahwa perjanjian Abraham adalah perjanjian yang dijanjikan dan tidak menekankan perilaku, tetapi masih ada syarat dalam perjanjian ini yang harus ditaati. Syarat dari panggilan pertama ini adalah bahwa dia harus Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Janji Allah kepadanya mencakup tiga aspek, bangsa yang besar, membuat namanya masyhur; dan menjadi berkat Dan Allah berjanji bahwa Aku akan memberkati orang-orang (jamak) yang memberkati engkau, dan mengutuk orang (tunggal) yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesuai ayat dalam Surat Ibrani, itu adalah kehendak Allah agar semua bangsa-bangsa di muka bumi akan diberkati oleh Abraham; dan mereka yang mengutuk Abraham akan dihukum atas tindakan individual orang tersebut. Allah memilih dan memberkati Abraham tidak hanya untuk dia dan keturunannya, tetapi hendak melalui mereka memberkati semua orang di dunia.

Renungkan:
Perjalanan iman Abraham yang luar biasa dimulai dengan ketaatan pada panggilan Allah. Kiranya Tuhan berbicara kepada Anda dalam studi renungan Alkitab bulan ini dan memulai perjalanan iman yang baru.


Renungan pemahaman Kitab Kejadian 12-26

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-26 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) dipublikasi pada bulan Maret 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.