Tag Archives: Bangsa Asing

1 Petrus 2:13-17 (1)

Tunduk dahulu kepada Allah ataukah Manusia? (I)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [ITB])
13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

(Terjemahan penulis)
Karena untuk Allah, hendaklah kita mematuhi semua sistem manusia,
entah adalah raja sebagai pemegang kuasa, atau utusan raja yang memegang posisi
menghukum yang berbuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik.
Karena ini adalah kehendak Allah, buatlah itu baik untuk menutup mulut ketidaktahuan orang bodoh,
jadilah yang seperti orang bebas, jangan gunakan kebebasan untuk menutup-nutupi kejahatan,
hendaknya menjadi budak Allah
Hormati semua orang, kasihi komunitas orang percaya
hormat takuti Allah, hormati raja

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Untuk memahami ayat Alkitab ini, kita harus memahami apa yang kita bicarakan di teks sebelumnya di atas dan apa yang patut kita perhatikan ketika Petrus mengutip ayat Alkitab Perjanjian Lama (silakan tinjau ulang renungan sepuluh hari terakhir), karena jika kita tidak memperhatikan alur pikir seluruh paragraf ayat-ayat Alkitab ini, kita akan mengabaikan poin penting yang utama dan mempengaruhi pemahaman kita atas satu ayat Alkitab hari ini.

Tulisan Petrus sampai di titik ini, kira-kira pesan yang ingin disampaikan dia adalah: orang percaya di Asia Kecil telah mengalami penderitaan, ditolak manusia, dan tidak mudah untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang memusuhi mereka, tetapi Petrus menasihati mereka bahwa ini sebenarnya adalah pemilihan Allah dan malahan mereka sangat berharga bagi Allah. Petrus menghabiskan begitu banyak kata-kata dan bahasa agar orang-orang percaya Asia Kecil menerima identitas mereka, ditambah ia menggunakan pengalaman orang Israel keluar dari Mesir terserak di padang belantara, dan juga deskripsi tentang Daud yang terpaksa berpura-pura menjadi gila dan hidup sebagai penumpang di bawah raja asing non Israel, juga pengalaman orang Israel ditawan ke tempat bangsa-bangsa asing, dan contoh bagaimana Abraham menumpang tinggal di tanah Kanaan dan membeli tanah serta bermasyarakat di sana, dengan jelas memberitahukan kepada Anda dan saya bahwa para murid Tuhan selalu dalam keadaan ditolak manusia tetapi dipilih Allah, seperti hidup di bawah tarikan tegangan yang tampaknya bertentangan, sehingga pengalaman-pengalaman ini bukanlah hal yang asing dan baru, agar orang-orang percaya di abad pertama tahu bahwa ini adalah keadaan normal yang senantiasa dialami umat Tuhan. Apakah orang-orang percaya di tempat kita tahu?

Tetapi pada saat yang sama, apa yang ayat Alkitab Perjanjian Lama nyatakan tentang bagaimana menghadapi raja-raja bangsa asing?

Firaun dari Kitab Keluaran karena dia tidak tahu bagaimana cara membalas yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat, dan memperlakukan Israel dengan buruk, berakhir dengan hukuman sepuluh tulah dari Allah.

Meskipun Daud terpaksa berpura-pura gila agar lolos dari pengejaran Saul, tetapi Allah oleh Diri-Nya sendiri yang mempersiapkan jalan bagi Daud, dan akhirnya orang fasik jatuh ke perangkap jerat dirinya sendiri.

Setelah orang-orang Yahudi ditawan dan terserak di negeri asing, bukankah Allah melalui para nabi telah menyatakan kejahatan para penawan dan menghakimi kejahatan mereka?

Meskipun Abraham menumpang tinggal di Kanaan, dalam pertempuran serangan empat raja terhadap lima raja, kehadiran Tuhan membuatnya menang dan menyelamatkan Lot, keponakannya.

Dapat dilihat bahwa ketika umat Allah hidup sebagai penumpang di zaman periode dan tempat yang berbeda, akhir dari raja-raja penguasa yang memusuhi melawan Allah, yang tidak tahu bertobat, jika mereka tidak memiliki rasa takut hormat kepada Allah, maka akhir dari mereka akan menyedihkan. Petrus membawa kita selain melihat identitas umat Allah melalui Perjanjian Lama, terlebih juga melalui kitab Hosea yang mengumumkan bahwa belas kasihan Allah datang kepada orang-orang non umat Allah, mengumumkan kepada dunia bahwa semua kuasa pemerintahan ada di tangan Allah, Kitab Suci Perjanjian Lama tidak pernah malu untuk mengungkapkan siapa yang merupakan Terang yang sejati bagi dunia, mereka yang sombong, raja-raja yang keras kepala memegang tradisi pola pikir dunia, akhirnya hanya memiliki jalan menuju kebinasaan dan menerima penghakiman.

Renungkan:
Tuhan adalah Cahaya yang sejati bagi dunia, akankah para petinggi kekuatan politik dan orang-orang yang mempermainkan kekuasaan masih membuat orang-orang percaya panik? Sebenarnya memang membuat takut, namun bukankah identitas yang ditolak manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata Allah mengingatkan kita bahwa ini adalah jalan yang harus dilewati, jalan yang diberkati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:11-12

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (III)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [ITB])
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

(Terjemahan penulis)
yang kekasih, aku menasihatimu, sebagai orang asing dan penumpang,
menjauhlah dari keinginan daging, keinginan daging ini akan berperang dengan jiwa,
milikilah perilaku baik di antara bangsa-bangsa asing, sehingga ketika mereka memfitnah kamu sekalian sebagai orang jahat,
tetapi karena melihat perilaku baik kamu sekalian, maka memuliakan Allah di hari Allah melawat

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Kemarin, ayat dari kitab Hosea mengingatkan kita untuk berupaya keras di masa tinggal di diaspora, bersaksi tentang rahmat anugerah Tuhan, tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita percaya bahwa Tuhan telah memberkati kita dan akan menyimpan banyak rahmat dan kejutan bagi kita, menghendaki kita teguh percaya atas identitas diri kita sebagai orang-orang diaspora dan tetap hidup dengan cemerlang berkenan kepada Tuhan.

Ayat Alkitab hari ini melanjutkan pengajaran ayat kemarin, membuat kita lebih memahami bagaimana mempraktikkannya dalam lingkungan nyata, agar bangsa-bangsa lain juga dapat memuliakan Allah.

Pertama, Petrus menggunakan sepasang kata-kata yang serupa orang asing dan penumpang (παροίκους καὶ παρεπιδήμους paroíkous kaí parepidímous) untuk menekankan penjelasannya tentang identitas orang percaya (ITB terjemahkan sebagai pendatang dan perantau KJV: strangers and pilgrims). Lalu, ketika kita membaca Kejadian 23:4 dalam terjemahan Septuaginta (LXX), pasangan kedua kata ini persis digunakan pada diri Abraham, di antara orang Het ia menunjukkan identitasnya sebagai orang yang dipanggil dari Ur Kasdim ke tanah Kanaan sebagai orang asing dan penumpang. Karena itu, Petrus menggunakan tipologi Perjanjian Lama untuk memberikan pengajaran kepada saudara-saudari, dan sekali lagi menjelaskan bahwa pengalaman sebagai orang yang terserak (berada di diaspora) ini konsisten, dan bukan merupakan kejutan baru. Dan dalam berbagai tipologi Perjanjian Lama yang berbeda, rahmat anugerah Allah dinyatakan pada Abraham dan keturunannya, orang Israel dalam Keluaran, Daud yang dipaksa melarikan diri, dan umat Allah yang terserak di kerajaan utara dan selatan? Dan keselamatan Allah tidak pernah absen.

Lalu, ketika ayat Kejadian 23 yang dikutip di sini, itu adalah catatan tentang setelah Sarah meninggal, Abraham membeli tanah dari orang Het untuk menguburkan juga keturunannya kelak. Di antaranya dicatat bagaimana Abraham bergaul dengan penduduk setempat dan berurusan jual beli dengan mereka, agar di antara penduduk setempat, bisa mempertahankan nama baik, dan menjaga hubungan yang langgeng dan baik. Ini tepat menjelaskan dua ayat Alkitab yang dibaca hari ini, yaitu agar orang dapat melihat perilaku baik diri kita, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah.

Menurut pandangan yang salah dari Suetonius seorang sejarawan Yunani Romawi terhadap murid-murid Kristus, orang-orang Kristen itu percaya takhayul yang berperilaku kacau (mischievous superstition. Nero 16). Tacitus salah memahami dan memandang Kekristenan adalah agama yang berbahaya dan takhayul, komunitas yang suka mempraktikkan magis (Annals 144). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa besar tekanan yang diterima orang Kristen dan pada taraf yang begitu mengerikan (penuh fitnah dan provokasi).

Pengajaran Rasul Petrus di ayat ini bukan berseru-seru demi nafsu keinginan diri sendiri dan demi saling menentang dengan yang lain, bukan demi melindungi diri sendiri, tetapi dengan sepenuh hati, dia memanggil mereka yang tidak memiliki tipu daya agar saling mengasihi, bersatu hati membangun sebuah Bait rohani dan saling melindungi.

Renungkan:
Sifat manusia dari manusia umum adalah mudah diprovokasi oleh orang lain, dan demi nafsu keinginan mereka saling membenci, tetapi ini hanya demi keuntungan daging, tetapi sama sekali tidak berfaedah untuk jiwa rohani. Dengan sudut pandang lain, ketika orang lain sibuk, menghabiskan waktu dan pikiran beserta tradisi kebiasaan pola pikir spiritual yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia untuk menyerang dan memfitnah Anda, tetapi Anda dapat berdiri di atas batu karang Tuhan dan tidak digoyahkan, Anda akan menyaksikan sekelompok orang bebal yang berlarian ke sana ke sini, mereka tidak akan mendapatkan apa pun di Kerajaan Allah, dan akhirnya mereka hanya akan memakan buah kejahatan yang dihasilkan jerat mereka sendiri, bisakah hati Anda menenangkan diri dan hati? Atau apakah kita perlu memperebutkan memperjuangkan lebih banyak?

Pada hari Tuhan melawat (day of visitation), akankah musuh memuliakan Tuhan karena Anda, apakah saya sudah cukup? Sudah bolehkah?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:10

Sulit Membuat Garis Pebeda Baik dan Jahat (II)
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:10 [ITB])
10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

(Terjemahan penulis)
dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah
dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan

dahulu kamu bukan umat, sekarang umat milik Allah

Dua hari yang lalu, kita berbicara tentang tema teologis dari Perjanjian Lama – ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, sehingga umat Tuhan jangan takut untuk hidup dalam penolakan dan kesulitan, Tuhan akan menjadi Raja di antara mereka, dan menunjukkan jalan yang dilalui setiap orang. Hidup dalam situasi dan keadaan ini, barulah menemukan bahwa iman itu realitas nyata dan betapa berharganya anugerah, dan barulah bersedia untuk tidak terjerat tradisi kebiasaan rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang ada di dunia. Saling mengasihi tanpa tipu daya, satu hati membangun komunitas ini.

Tetapi tiba di hari ini, Petrus telah menggunakan bagian lain dari Perjanjian Lama untuk melanjutkan penjelasan pemahaman, dan bagian yang ia kutip ini membuat tulisannya ini begitu indah, membawakan pesan yang sangat kaya melimpah.

Secara sekilas pandang, kitab Hosea memang berbicara tentang pengkhianatan umat Israel terhadap Allah, meninggalkan anugerah pengajaran Allah, tetapi tiba di Hosea 2:23 menyebutkan bahwa bahkan jika orang Israel benar-benar mengkhianati Allah, tetapi anugerah Allah tidak akan gagal sia-sia, sebaliknya, rahmat anugerah-Nya akan mendatangi orang-orang yang bukan umat Allah, dan mendeklarasikan bahwa orang-orang non umat Allah, sekarang sudah terhitung sebagai umat Allah.

Tetapi ketika kita dengan lebih terperinci mempelajari latar belakang situasi kitab Hosea, kita akan menemukan bahwa orang-orang yang semula adalah milik Allah ini dihukum oleh Allah karena menyembah berhala, sehingga dihukum dibuang terserak ke penawanan, dan situasi orang Israel zaman Hosea sebagai penumpang ini dipakai Petrus sebagai tipologi dikenakan dalam situasi orang percaya abad 1 ini. Mungkin alasan di balik keadaan terserak berbeda, tetapi fakta bahwa mereka hidup sebagai penumpang di diaspora adalah sama, dan yang menjadi fokus Petrus adalah dahulu, kamu sekalian bukan umat, sekarang justru menjadi umat milik Allah; dahulu tidak memiliki belas kasihan, sekarang justru memiliki belas kasihan. Ini menunjukkan bahwa orang Israel yang terserak dalam diaspora jika mau bertobat dan berbalik, mau menerima ditolak, tetapi justru adalah dipilih Allah dan berharga di mata Allah, maka karya dan kesetiaan Allah di antara mereka tidak hanya menggerakkan hati orang, tetapi yang lebih penting adalah bahkan orang-orang non Yahudi yang bukan umat Allah akan melihat anugerah dan kasih Allah sehingga tergerak hatinya untuk berbalik kepada Allah yang sejati. Dan belas kasihan Allah juga akan datang ke atas diri mereka, mengakui identitas umat Allah.

Di Asia Kecil, setelah melalui kerja keras Paulus dan orang-orang percaya lainnya, maka Injil telah diberitakan menyebar di antara mereka, jadi Petrus mengutip pesan kitab Hosea ini tidak merupakan halangan, justru ia meneruskan pengajaran Hosea. Ternyata orang-orang percaya mengalami pengasingan terserak, sepatutnya hidup dengan cara baik di tanah asing, sebaik-baiknya melanjutkan menerima perintah Tuhan, bekerja keras dalam tugas sebagai imam, dan bersaksi bahwa kuasa Tuhan juga datang di antara mereka, apalagi Injil sudah ada di daerah-daerah ini, maka bukankah orang percaya bersama-sama dengan orang percaya non Yahudi setempat dapat terlebih lagi bekerja keras mengobarkan Injil?

Renungkan:
Ayat Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa ketika kita menghadapi keadaan sulit, kita dengan cepat terperangkap seluruh kesulitan, dan tidak mudah bagi kita akhirnya menyadari apa identitas orang Kristen itu — yakni walaupun ditolak, tetapi dipilih Tuhan dan berharga di mata Tuhan, tetapi ketika kita perlahan-lahan menerima penempatan peranan kita ini, tiba-tiba akan menemukan bahwa Tuhan telah mempersiapkan orang-orang yang juga sama-sama menerima belas kasihan Allah bagi kita, berjalan bersama Anda di sepanjang jalan surgawi, ternyata di masa yang tidak mudah, Tuhan telah lama mempersiapkan bagi kita, membuat kita terkejut di luar dugaan kita.

Jika Israel jatuh, sehingga orang-orang asing akan menerima belas kasihan!

Jadi hari ini pandangan gereja kita kehilangan fokus, atau gereja di tempat kita menghadapi situasi dianiaya dan diserakkan, tolong percayalah bahwa Tuhan pasti akan sekali lagi membawakan kejutan sukacita besar!


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 56:3-8

「Rumah Doa bagi Segala Bangsa」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 56:3-8 [ITB])
3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya; dan janganlah orang kebiri berkata: Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering. 4 Sebab beginilah firman TUHAN: Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama — itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan–, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.

Ternyata bahwa memelihara hari Sabat bukanlah hak monopoli orang Yehuda, berkat ini juga terbuka untuk bangsa-bangsa lain.

Ayat 56:3 mencatat perkataan orang dari bangsa asing, mereka melihat bahwa orang Yehuda yang kembali dari penawanan mendapatkan pemeliharaan Allah, terlebih merasa iri bahwa di belakang mereka ada TUHAN, pada waktu itu nama TUHAN terkenal, sehingga bangsa-bangsa lain ingin menjadi umat Allah, tetapi mereka tahu bahwa mereka bukan orang-orang yang termasuk di dalam perjanjian itu. Mereka berpikir bahwa TUHAN memisahkan bangsa-bangsa lain dari umat-Nya, merasa diri mereka adalah pohon mati. Namun, TUHAN menguatkan mereka melalui Yesaya ketiga, bahwa mereka tidak dikecualikan dari perjanjian, tetapi memiliki bagian dalam perjanjian, ayat 4 menyatakan bahwa jika mereka seperti orang Yehuda memelihara Sabat dan menjaga perjanjian (56:4, 6), maka nama mereka akan diingat (56:5). Karena itu, Yesaya ketiga menerima bangsa-bangsa asing dengan lapang dada, selama mereka menghargai hari Sabat dan memelihara perjanjian, mereka juga dapat menjadi bagian dari umat Allah, tidak apa pembedaan satu sama lain. (Lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat)

Orang bangsa asing tidak hanya dapat menjadi umat Allah dengan memelihara Sabat dan perjanjian, mereka terlebih juga dapat memasuki Bait Suci dan beribadah dalam jemaat TUHAN, ini menjadi kebalikan dari Ulangan 23:2-9. Dengan demikian, Bait Suci kedua yang dibangun di Yerusalem mendefinisikan ulang identitas umat perjanjian, melalui Bait Suci sebagai pusat ibadah, dibuka untuk semua bangsa-bangsa, mereka semua boleh datang ke Bait Suci ini untuk menyembah dan berdoa. Allah ingin menuntun bangsa-bangsa keluar untuk datang ke gunung Allah yang kudus (56:7), tuntunan ini seperti bimbingan kepada domba yang hilang, memimpin domba-domba liar di luar perjanjian datang ke gunung Allah yang kudus. Kitab Suci menggunakan gambar seorang gembala untuk menjelaskan bahwa Allah adalah Gembala Besar dari semua bangsa-bangsa. Dia memimpin semua jenis orang ke Bait Suci Allah untuk bersukacita, dan berkenan menerima korban bakaran dan korban sembelihan yang mereka persembahan, dan menunjukkan bahwa Bait Suci seharusnya disebut Rumah doa bagi segala bangsa (56:7). Ketika kita meneliti teks bahasa aslinya, terjemahan yang tepat adalah: Bait-Ku adalah Bait doa untuk berseru bagi semua bangsa, artinya, hakikat Bait ini adalah diperuntukkan bangsa-bangsa berseru melalui doa. Pengaturan untuk doa orang non-Yahudi ini sudah ada dalam doa Salomo (1 Raj. 8:41-43), jadi definisi Bait Allah dalam Yesaya 56:7 bukanlah definisi baru, melainkan mewariskan definisi Bait Suci dalam doa Salomo di masa dahulu: Bait Suci terbuka bagi semua orang untuk berdoa dan berseru. Oleh karena itu, orang Yehuda di Yerusalem yang bertanggung jawab atas Bait Suci kedua, tidak dapat memonopoli Bait Suci menjadi milik mereka sendirian. Mereka harus berbagi Bait Suci dengan orang-orang non Israel, dan di antara mereka yang pulang kembali dari penawanan (ayat 8: yang terbuang), Allah akan memanggil orang-orang lain (bangsa-bangsa asing) untuk bergabung.

Renungkan:
Bait Allah adalah untuk semua bangsa-bangsa untuk berdoa, dan gereja juga untuk semua orang. Apakah kita telah memprivatisasi gereja dan menjadi klub milik sekelompok orang, seolah-olah kita memerlukan kartu keanggotaan untuk masuk, dan mengecualikan mereka yang tidak kita sukai sebagai orang bangsa asing di luar pintu? (Mungkin jubah luar pekerjaan kita sudah meng-asing-kan orang lain ataupun diri kita di luar pintu Gereja, menjadi tidak lagi 「sama seperti engkau」, lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat). Berdoa mohon Tuhan membantu kita melihat sifat keterbukaan Bait Suci bagi segala bangsa segala orang, dengan hati yang terbuka untuk melepaskan prasangka bias kita, mengikuti Gembala Besar TUHAN, membawa semua jenis domba untuk datang menyembah di Bait Suci. Apakah Anda punya kerinduan seperti itu?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yeremia 47:1-7

「Nubuat atas Filistin」
Oleh 曾錫華 (Céng Xī Huá)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yer. 47:1-7 [ITB])
1 Firman TUHAN yang datang kepada nabi Yeremia mengenai orang Filistin, sebelum Firaun mengalahkan Gaza.
2 Beginilah firman TUHAN: Lihat, air yang meluas mengamuk dari utara menjadi sungai yang membanjir, membanjiri negeri serta isinya, kota serta penduduknya. Manusia akan berteriak, dan seluruh penduduk negeri akan meratap, 3 mendengar bunyi derap kuku kudanya, mendengar derak-derik keretanya, kertak-kertuk rodanya. Para ayah tidak lagi berpaling menoleh kepada anak-anak, sebab tangan mereka sudah lemas, 4 oleh karena telah tiba harinya untuk membinasakan semua orang Filistin, dan melenyapkan bagi Tirus dan Sidon setiap penolong yang masih tinggal. Sungguh, TUHAN akan membinasakan orang Filistin, yakni sisa orang yang datang dari pulau Kaftor.
5 Gaza telah menjadi gundul, Askelon telah menjadi bungkam; hai Asdod, sisa orang Enak, berapa lama lagi engkau menoreh-noreh diri?
6 Ah, pedang TUHAN, berapa lama lagi baru engkau berhenti? Masuklah kembali ke dalam sarungmu, jadilah tenang dan beristirahatlah! 7 Tetapi bagaimana ia dapat berhenti? Bukankah TUHAN memerintahkannya? Ke Askelon dan ke tepi pantai laut, ke sanalah Ia menyuruhnya!

Yer. 47:1-7 adalah pesan kedua yang Yeremia nyatakan kepada bangsa-bangsa lain, ditujukan kepada orang Filistin. Orang-orang Filistin awalnya adalah sekelompok orang yang hidup mengandalkan laut yang tinggal pulau Kaftor, sekarang disebut pulau Kreta, mereka kemudian pindah ke pesisir pantai Palestina dan menduduki dataran Yehuda di Laut Mediterania. Setelah orang Israel menaklukkan tanah perjanjian, mereka selalu membawa banyak gangguan dan kesulitan kepada orang Israel. Orang Filistin memiliki lima kota (lih. Yosua 13:3; 1 Sam. 6:4, 18).Gaza dan Ashkelon adalah dua di antaranya.

Setiap kali orang Filistin kuat, mereka akan memperluas dan menyerang tempat-tempat milik Yehuda. Di masa awal banyak hakim dan raja Israel melawan agresi orang Filistin, seperti Simson, Samuel, Saul, dan Daud dll. Pada akhirnya, orang Filistin ditundukkan oleh raja Daud dan menjadi bawahan Yehuda (2 Sam. 8:1). Tetapi di era ketika Israel terpecah menjadi kerajaan Utara dan Selatan, orang Filistin dapat meninggalkan kendali Yehuda dan mendapatkan kembali kedaulatan.

Yer. 47:1 mengatakan Firman TUHAN yang datang kepada nabi Yeremia mengenai orang Filistin, sebelum Firaun mengalahkan Gaza. Meskipun teks itu tidak memberikan tanggal pasti nubuat itu, di dalam nubuat ini disebutkan Askelon akan musnah, dan memang Askelon dihancurkan oleh Nebukadnezar pada akhir 604 SM, jadi mungkin nabi Yeremia mengumumkan nubuat ini adalah pada tahun609 SM ketika Firaun Mesir sekalian menyerang Gaza saat melewati tanah Filistin dalam perjalanan mereka menuju ke utara untuk bertempur dengan orang Babel.

Adapun hari penggenapan nubuat ini, mungkin pada tahun 605 SM. Pada saat itu, untuk mencegah Babel meluaskan kekuasaannya di Palestina dan mempengaruhi kepentingan nasionalnya, maka Mesir mengirim pasukan untuk menyerang Babel. Akibatnya, ia dikalahkan di Karkemis (lih. 46:2). Kemudian tentara Babel pergi ke selatan juga menyerang orang Filistin, membuat kerusakan besar, sebagaimana dicatat dalam pasal ini.

Ayat 3 memakai kata-kata derap kuku kudanya, mendengar derak-derik keretanya, kertak-kertuk rodanya untuk menggambarkan betapa hebatnya pasukan Babel. Reaksi orang Filistin adalah bahwa Para ayah tidak lagi berpaling menoleh kepada anak-anak, sebab tangan mereka sudah lemas. Ini adalah deskripsi tentang ketakutan dan ketidakberdayaan yang ekstrem.

Teks puisi ini, menggambarkan kota-kota orang Filistin, akan dihancurkan oleh musuh-musuh dari utara seperti banjir, yakni oleh orang Babel, yang akan menjadi alat Allah untuk menghukum orang Filistin. Kitab Suci mengatakan membinasakan semua orang Filistin, … membinasakan orang Filistin, yakni sisa orang yang datang dari pulau Kaftor (ayat 4). Penghakiman Tuhan seperti air bah besar yang menghancurkan sampai puncak tertinggi, membawa kehancuran yang total dan menyeluruh.

Dalam ayat 6 ada suara berseru, Ah, pedang TUHAN, berapa lama lagi baru engkau berhenti? Masuklah kembali ke dalam sarungmu, jadilah tenang dan beristirahatlah Seruan siapa ini? Mungkin itu adalah seruan orang-orang Filistin di kota Gaza dan Askelon, atau nabi Yeremia yang melihat keadaan tragis mereka, memohon ampun kepada Allah untuk hentikan pedang. Tetapi tidak peduli siapa yang berteriak, pedang dan kehancuran tidak berhenti, karena ayat 7 mengatakan, Tetapi bagaimana ia dapat berhenti? Bukankah TUHAN memerintahkannya? Ke Askelon dan ke tepi pantai laut, ke sanalah Ia menyuruhnya (ayat 7), penghakiman Allah terhadap orang Filistin di kedua kota Gaza dan Ashkelon adalah keras dan tidak ada belas kasihan. Jelas betapa besar dosa kedua kota itu di mata Allah.

Renungkan:

Kota-kota dan orang-orang yang ditentukan oleh Allah untuk menerima penghakiman dan penghancuran sangat mengerikan! Seperti apakah keadaan masyarakat dan kelompok tempat Anda tinggal sekarang di mata Tuhan? Adakah kebenaran dan kekudusan yang diinginkan Tuhan? Adakah kejahatan dan dosa yang dibenci Tuhan?
Tolong doakan masyarakat dan kelompok di mana Anda tinggal!


Renungan pemahaman kitab Yeremia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yeremia 40-52 ditulis oleh 曾錫華 (Céng Xī Huá) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

17 April 2019 ● Rabu Pekan Suci

Di Dalam Nama-Nya Semua Bangsa-bangsa akan Berharap

Matius 12:15-21
15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, 17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 18 “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. 19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. 20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. 21 Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”

Renungan

Kata “kafir” mungkin telah merugikan pembaca modern mengingat banyak dari kita yang tidak akrab dengan istilah tersebut. Istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa latin yang berarti ‘bangsa-bangsa’. Ketika makna ini disisipkan kembali di teks, arti dari bagian teks itu menjadi jelas.

Yesus melayani di Israel. Kehadiran-Nya di sana membawa berkat besar bagi bangsa Yahudi. Hal ini dapat meninggalkan kesan bagi sebagian dari kita iri pada bangsa Yahudi, dan membuat kita berpikir : “Andaikan saja kita termasuk dalam kelompok yang diberkati itu”. Namun demikian Matius mencegah semua pikiran ini dengan mengutip Yesaya 42:1-4, dan dengan demikian menunjukkan bahwa apa yang dimaksud dengan bangsa Yahudi juga dimaksudkan untuk segala bangsa. Tidak ada satu bangsapun yang dibuang (yang tidak masuk hitungan); batas-batas kebangsaan tidak menjadi masalah lagi pada saat kita berurusan dengan berkat Tuhan yang besar! Dalam nama Yesus semua bangsa dan warga negara manapun di dunia ini boleh mempunyai pengharapan.

Dengan melakukan demikian, Yesus menggenapi Perjanjian Lama. Walaupun Perjanjian lama terutama tentang Tuhan dan bangsa Yahudi, kita menemukan beberapa bagian – khususnya bagian-bagian yang berbicara mengenai rencana akhir Tuhan – yaitu memperluas jangkauan untuk menjangkau seluruh bangsa-bangsa. Artinya selalu merupakan maksud Tuhan untuk memberkati semua bangsa-bangsa tanpa pengecualian ras atau bahasa. Ini disampaikan dalam cara yang sangat nyata melalui Yesus Kristus.

Bacaan ini juga menunjukkan kalau rencana Yesus tidak akan gagal. Keadilan dan kebenaran akan memenangkan segalanya. Apa yang dimunculkan menjadi keajaiban yang lebih besar adalah cara bagaimana itu diwujudkan. Yesus tidak akan berteriak keras atau berseteru; buluh yang terkulai tak dipatahkan-Nya. Segala kuasa Tuhan dilakukan dengan lembut pada kita! Akhir dari tujuan kita bukan di mana kita jatuh dalam malapetaka, tapi pada kelembutan tangan Tuhan yang memegang kita. Kalau kita hanya mempercayai ini dan melepaskan segala keamanan dunia, dan sebaliknya membiarkan diri kita beristirahat di dalam pelukan tangan-Nya yang abadi.

Doa

Aku seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, tapi di dalam Engkau ya Tuhan, aku masih berharap. Aku tahu Engkau tidak akan mengingkari janji-Mu, dan oleh karena itu pengharapanku pada-Mu tidak akan pernah mengecewakan. Ajari aku untuk mempercayakan pada-Mu segala hal yang aku lakukan sepanjang hidupku. Amin.

Tindakan

Lepaskan hal-hal duniawi yang Anda yakini tidak dapat Anda lakukan tanpa hal-hal tersebut, tetapi percayalah sepenuhnya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Anda akan menemukan kebebasan sejati. Cobalah hari ini dengan memulai dengan satu hal.

Oleh
Dr Tan Kim Huat
Academic Dean
Trinity Theological College