Tag Archives: Tunduk kepada Allah

1 Petrus 2:4-5 (2)

「Persekutuan Orang Kudus (II)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-5 [ITB])
4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

(Terjemahan penulis)
Datang ke hadapan-Nya, yakni batu hidup, di satu sisi ditolak oleh manusia.
di satu sisi dipilih oleh Tuhan dan berharga.
Mereka seperti batu hidup, dibangun menjadi rumah rohani menjadi imam kudus
melalui Yesus Kristus mempersembahkan korban rohani yang berkenan diterima Allah

Dari ayat Alkitab kemarin, kita memahami bahwa definisi pemberitaan kebenaran dan definisi batu hidup adalah: akan ditolak oleh orang, tetapi sebaliknya dipilih oleh Tuhan dan berharga di mata-Nya. Pemberita harus mempersiapkan hatinya sendiri, bahwa seumur hidup memberitakan kebenaran hanya akan mendatangkan serangan dari banyak orang, tetapi ini tidak menjadi masalah, Kristus telah memberikan kita contoh teladan.

Dalam ayat kelima, kita juga seperti batu hidup, dan kasih kita satu sama lain, yaitu, yang tulus, yang penuh antusias untuk mengasihi, yang tanpa tipu daya, membuat kita tersambung membentuk sebuah bait, yakni bait yang ada Roh di dalamnya. Kata roh (πνευματικὸς pnevmatikós) dimaksudkan: bahwa setelah pembersihan dikuduskan Roh Kudus (lih. 1:22), kita menjadi kelompok bait yang penuh dengan kebenaran – ini adalah kelompok bangunan yang akan ditolak oleh manusia tetapi juga berharga di mata Allah.

Lalu teks menggunakan Perjanjian Lama (Keluaran 19:5-6) untuk menggambarkan bait rohani ini, yakni yang menjadi imamat yang kudus (kumpulan imam / imam-imam yang kudus) dan untuk mempersembahkan korban. Deskripsi ini mengingatkan kita akan kutipan kitab Imamat terkenal yang disebutkan Petrus sebelumnya, Kuduslah kamu, sebab Aku kudus, yang menunjukkan ketundukan hamba (subordinate) kepada Allah, orang-orang Ibrani yang keluar dari Mesir menghadapi pengejaran orang Mesir dan ada juga penolakan dari tujuh bangsa Kanaan di padang belantara, mereka adalah orang-orang yang dipilih dan berharga tetapi jatuh ke dalam penolakan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, konsep imamat yang kudus bukan hanya sebuah kedudukan, tetapi adalah satu kesaksian demi kesaksian yang lain, untuk menunjukkan bagaimana saat di dalam keadaan musuh mengepung di semua sisi, namun dapat melampaui dan melewatinya dengan setia menyatakan bahwa diri kita adalah milik Allah, yang juga adalah komunitas umat Allah yang rela tidak memiliki kemunafikan dan kedengkian, hidup bersama di bawah tekanan yang penuh ketegangan dan rasa takut ini, dan penuh sukacita mempersembahkan korban untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa di lingkungan atau keadaan yang demikian Allah menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku

Tipologi Keluaran dari Mesir didasarkan pada hukum baru yang dianugerahkan di gunung Sinai, dan orang Ibrani akan menjadi umat baru dan imamat yang rajani dari Allah (kumpulan imam / imam-imam yang melayani Raja), dan umat Allah akan bersama-sama mengatakan Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan (lihat Kel. 19:7-8). Dalam Surat 1 Petrus, umat Allah terserak di mana-mana, diserang dan dilukai, tetapi menjadi umat baru melalui Kristus (tidak lagi melalui hukum Taurat, karena Kristus telah menggenapi memenuhi tuntutan hukum Taurat), tetapi juga menjalani kembali konsep tentang imamat yang rajani yang sudah terjadi dahulu sebelumnya (dahulu saat keluaran dari Mesir di zaman Musa), menyaksikan keselamatan dan kasih karunia Kristus, dan meninggikan nama Tuhan di antara bangsa-bangsa asing.

Mungkin kita semua berpikir bahwa kutipan ayat-ayat Perjanjian Lama mengingatkan kita untuk tidak berpikir bahwa hidup kita sedang dipukuli, dan tidak ada yang peduli, berkali-kali jatuh! Tidak! Imamat yang rajani adalah untuk bersaksi kepada dunia bahwa kita tidak lagi dipimpin dengan tradisi kebiasaan pola pikir agama yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, atau yang kuat, atau yang penuh kebanggaan, tetapi teladan dari yang lemah, tak berdaya dan mengasihi dengan tulus mencintai.

Renungkan:
Renungan hari ini mendorong kita untuk mengambil konsep gereja yang bagaimana? Komunitas Perjanjian Lama pada dasarnya adalah esensi gereja saat ini, yang juga merupakan realitas dan substansi kita (dasar esensi kita). Dalam situasi epidemi, kita memikirkan kembali tentang apakah gereja itu sebenarnya. Setelah pengalaman beberapa bulan terakhir, janganlah kita terburu-buru mengembalikan praktik masa lalu, biarkan pengalaman bulan-bulan ini mengajarkan kita untuk mempertimbangkan kembali apa pembaruan dan transformasi yang dibutuhkan untuk pandangan gereja kita, apa jalan berikutnya yang harus kita lewati?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kej. 32:26-28

「Bergulat dan Berganti Nama」

(Kej. 32:26-28 [ITB])
26Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”
27Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
28Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

(Bacalah Kej. 32:22-31) Ini adalah satu malam hari yang sibuk. Mulanya adalah waktu untuk istirahat, tetapi karena di dalam hati orang ada kuatir dan takut, tidak tenang. Yakub di malam hari bangun, lebih dahulu mengirimkan para istri dan anak-anak melewati tempat penyeberangan sungai Yabok. Mulanya mereka adalah orang-orang yang ia paling cintai, tetapi saat datang kesulitan besar, ia justru mengirimkan mereka pergi ke depan menghadapi bahaya, dirinya sendiri bersembunyi di belakang agar mudah lari menyelamatkan diri. Tanpa disangka ia berjalan di paling belakang justru tiba-tiba berubah menjadi paling depan, menyangka tempat yang paling aman tiba-tiba telah menjadi tempat paling berbahaya — ada orang datang bergulat dengan dia, mulai tengah malam terus sampai pagi. Orang itu melihat tidak dapat menang melawan Yakub, maka memukul sendi pangkal pahanya, pangkal paha Yakub terpelecok jadi pincang.

Siapakah orang ini? Di dalam kisah tetap merupakan rahasia. Tetapi, kemudian Yakub berkata 「Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong」 (Kej. 33:30), ia juga memberi nama tempat itu 「Pniel」 (pǝnû’ēl), artinya adalah 「wajah Allah」. Dua puluh tahun sebelum Yakub meninggalkan rumah, mengalami penyataan Allah di dalam mimpi, memberi nama tempat itu 「Betel」 (Bait Allah), sekarang Yakub lebih maju mengenal lebih mendalam 「wajah Allah」.

Terdapat beberapa kata yang bunyinya mirip (wordplay), menonjolkan topik dari kisah. 「Yakub」 (ya‘ăqōb) di penyeberangan 「Yabok」 (yabbōq), dan 「bergulat」 (yē’ābēq) dengan orang yang tidak tahu namanya. Yakub dan Abraham sama-sama saat rohani paling rendah, bertemu dengan Allah, juga dirubah namanya oleh Allah (Kej. 17). Allah merubah nama orang, mewakili kehidupan dan karakter yang berubah, jalan hidup orang ini juga secara total berubah. Ini baru merupakan berkat paling besar.

Tengah malam paha pincang, kemudian tampaklah kepadanya matahari terbit, mewakili lembaran baru kehidupan Yakub. Ia bernama Israel, bukan lagi Yakub. Nama 「Israel」yiśrā’ēl ini adalah bermain kata, satu artinya adalah 「bergulat dengan Allah」, yang lain artinya adalah 「anak raja yang mulia」 (terjemahan langsung 「anak raja yang seperti Allah」). Oleh karena itu, di satu segi memperingati apa yang dialami Yakub di tempat penyeberangan sungai Yabok, di segi yang lain mewakili harapan Allah pada dirinya: Allah menghendaki Yakub hidup menyatakan 「kehidupan yang memuliakan」.

Renungkan: Apakah di tubuh anda terdapat tanda Allah menghadapi dirimu? Pertemuan Allah dan manusia di tempat penyeberangan sungai Yabok, tidak menunjukkan kuasa besar Allah, tetapi menunjukkan lemahnya manusia. Cacat di tubuh Yakub, justru menjadi tanda kemenangan rohani. Dalam pergulatan rohani, Allah hampir seperti lawan kita. Tetapi adalah saat Allah menang atas diri kita di tengah-tengah kehidupan kita, kita bersedia takluk dan tunduk kepada kehendak Allah, maka kita mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).