Tag Archives: New Exodus

1 Petrus 1:13 (2)

「Gereja Bertahanlah! Lakukan Hal Baru!」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:13 [ITB])
13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus..

(Terjemahan penulis)
Karena itu, ikatlah pinggang hatimu,
sepenuhnya waspada,
Menempatkan harapan dalam kasih karunia, yaitu waktu penyataan Yesus Kristus
datang di antara kamu sekalian

Ikatlah pinggang, sepenuhnya waspada

Kemarin kita berbicara tentang interpretasi dan latar belakang untuk memahami bagian pertama dari ayat ini, sehingga kita dapat mengerti bagaimana umat Tuhan memahami identitas baru umat dari kitab Keluaran (New Exodus motif), di antara orang-orang percaya di abad pertama atau hari ini sama-sama mengalami masa-masa sulit yang sama untuk menghidupi identitas baru umat. Bukan hanya berkutat merindukan hal-hal masa lalu, tetapi terus mewarisi melakukan hal-hal baru karya Tuhan di generasi baru (zaman yang baru).

Lalu, frasa pertama kemarin: ikatlah pinggang hatimu merupakan klausa partisipatif (participle clause) , bersama-sama dengan partisip kedua sepenuhnya waspada melengkapi frasa utama: menempatkan harapan dalam kasih karunia, yaitu waktu penyataan Yesus Kristus datang di antara kamu sekalian, dapat dilihat bahwa sepenuhnya waspada mengendalikan diri merupakan upaya persiapan hendaknya meletakkan harapan di bawah penyataan Yesus Kristus (BIMK: pada waktu Yesus Kristus datang nanti), jadi harapan ini harus diletakkan pada hari akhir, bukan hanya melihat apa yang kita miliki di dunia saat ini.

Kemudian, dalam partisip kedua sepenuhnya waspada sepatutnya bagaimana saling melengkapi dan berhubungan dengan frasa pertama ikatlah pinggang hatimu? Kita katakan bahwa ikatlah pinggang hatimu merupakan gambaran simbolis (symbolic imagery), maka kata waspada merupakan instruksi dan pengajaran praktis. Kata waspada (νήφοντες nífontes) umumnya digunakan untuk hal-hal yang dilakukan orang ketika mereka mabuk, tidak lagi berhati-hati, dan mudah menyebabkan banyak masalah dan kesalahan; tetapi ditempatkan pada komunitas Kristus, kata ini adalah untuk menggambarkan bahwa kita masih berkutat merindukan hidup masa lalu kita, tidak ada tindakan sebagai manusia baru. Ini termasuk penafsiran iman kekristenan oleh diri kita yang merasa benar, seperti para ahli Taurat dan tradisi kepercayaan gaya Farisi, berpikir bahwa dirinya umat terpilih itu adalah penuh kesuksesan dan kemuliaan. Namun tidak tahu bahwa sebenarnya yang terpilih akan terserakan dan tinggal di antara bangsa-bangsa asing. Apakah orang akan berpikir bahwa kelompok yang pertama adalah yang mabuk dan kelompok yang belakang adalah yang sadar diri tidak mabuk?

Saudara dan saudari, apakah kita pikir kita selalu dalam keadaan sadar diri? Apakah kita sadar bahwa tanpa pembaharuan Roh Kudus dan menaruh harapan pada penyataan Yesus Kristus saat Ia datang di hari akhir maka kita tidak memiliki satu hari pun penuh sadar diri tidak mabuk? Selama bertahun-tahun, kita berpikir bahwa kebenaran yang sederhana dan realitas sepatutnya mudah dipahami orang, namun siapa tahu bahwa kita dimusuhi dan ditertawakan orang dianggap mabuk, tidak punya kesadaran. Mungkin kita akan jadi ragu, dan tidak mengerti, sebenarnya apa itu kebenaran dan realitas nyata, jadi perikop Alkitab ini mengingatkan kita untuk sepenuhnya (τελείως teleíos) sadar diri tidak mabuk (sepenuhnya waspada), dan iman itu adalah walau ditertawakan orang tetapi juga tetap mempertahankan hati yang paling awal. Lalu perlu sepenuhnya secara absolut waspada agar tidak terpengaruh oleh kata-kata palsu teknik cara-cara dan kebiasaan rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, sehingga membuat hati kita penuh keraguan dan pergumulan terhadap iman kita.

Renungkan:
Dalam perjalanan menghidupi iman, apakah keadaan kita adalah setengah sadar dan setengah mabuk? Pembicaraan tentang akhir zaman (eskatologi) tidak pernah semata-mata berbicara dan memberi tahu kita bagaimana perkembangan arah hari akhir, atau sekadar bersifat nubuat memberi tahu tentang masa depan kita dan akhirnya. Tidak! Pembicaraan tentang akhir zaman (eskatologi) adalah untuk membantu kita agar tidak melarikan diri dari realitas nyata yang penuh kekejaman, tetapi tetap menjalankan tugas dan panggilan kita, bukan berpura-pura tidur atau sadar yang pura-pura. Berani memakai sudut pandang akhir zaman untuk menghadapi kebenaran roh jahat yang terlihat seperti bagus di dunia sekarang ini, agar tidak tertipu dalam hidup kita maka haruslah sepenuhnya waspada!

Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan, tetapi harus sepenuhnya waspada mengingatkan orang-orang percaya untuk tidak tertipu, dengan berani menolak bujukan bohong, bersuara untuk kebenaran, dan melakukan hal-hal baru untuk Tuhan walau dalam segala kesedihan.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:13 (1)

「Gereja Perlu Lakukan Hal Baru」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:13 [ITB])
13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus..

(Terjemahan penulis)
Karena itu, ikatlah pinggang hatimu,
sepenuhnya waspada,
Menempatkan harapan dalam kasih karunia, yaitu waktu penyataan Yesus Kristus
datang di antara kamu sekalian

ikatlah pinggang hatimu

Dalam pembukaan pembicaraan Petrus, ia mengingatkan identitas orang percaya adalah perkembangan kehidupan baru, tidak seperti harapan Yahudi akan Mesias antara dua perjanjian, berharap bahwa Yesus Sang Mesias akan membawa kebangkitan negara Yahudi, membawa pembaruan dan perubahan dalam politik. Tetapi sebaliknya, orang-orang terpilih yang mengikuti iman Kristen dipanggil untuk terserak (diaspora) dan dipaksa untuk hidup di Asia Kecil. Pengakuan atas identitas ini penuh dengan tantangan, tidak mudah diterima, tetapi Petrus telah menunjukkan bahwa identitas ini tidak pernah merupakan hal baru yang asing, dan sudah seperti ini sejak dahulu zaman para nabi Perjanjian Lama. Ini hanyalah pewarisan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan ini adalah kegigihan iman tidak bersedia terjerat dalam tradisi pola pikir yang seperti rohaniah tetapi hanya berpusat pada hal-hal yang ada di dunia.

Karena seperti yang dikatakan di atas, di ayat 13 Petrus menggunakan kata karena itu (διό dio) untuk membuka paragraf baru, dengan jelas menunjukkan bahwa identitas kita sama sekali tidak kabur (campur baur / ambigu), dipilih tetapi terserak tersebar di antara bangsa-bangsa, ini adalah kehendak Allah bagi umat-Nya, kita sepatutnya mempersiapkan diri kita untuk menanggapi tantangan zaman (generasi) terhadap kita.

Kemudian Petrus menggunakan sebuah idiom untuk menjelaskan bagaimana kita harus mempersiapkan diri – mengikat pinggang ini adalah budaya kelompok etnis Timur, mengenakan jubah panjang, dan untuk agar bisa bekerja tanpa terganggu dan berkonsentrasi pada pekerjaan, maka menggunakan tali mengikat jubah di pinggang sehingga terdapat ruang gerak kaki yang lebih besar (ITB secara fungsional gunakan kata “siapkanlah”, KJV “gird up loins“). Petrus menggunakan idiom mengikat pinggang untuk menunjukkan bahwa identitas baru ini adalah untuk bangkit dan memberikan respons, bekerja untuk Tuhan, bukan hanya untuk menikmati harapan kehidupan baru. Selain itu, dalam Keluaran 12:11 (Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN), frasa ini juga digunakan untuk mengingatkan orang-orang Yahudi yang terbiasa tinggal di tanah asing (Mesir), jangan tenggelam menikmati berbagai gaya hidup di Gosyen, tetapi hendaklah bangkit dan pergi memasuki Tanah Perjanjian dan dengan identitas baru pergi menerima panggilan dan melayani Tuhan. Ini menghasilkan sebuah seruan panggilan Keluaran dari Mesir baru (New Exodus Motif) kepada pembaca surat Petrus, agar mereka benar-benar seperti yang dialami di Perjanjian Lama, Allah melakukan hal besar, yakni keselamatan besar diulang di antara mereka (Tambahan penerjemah: tentang tipologi, lihat renungan kemarin dulu dan kemarin, juga http://www.sarapanpagi.org/tipologi-vt1235.html).

Lalu, yang harus kita pikirkan adalah: Seperti apa model seorang manusia yang baru? Terutama dalam krisis ekonomi, mata pencaharian masyarakat dan ekonomi dalam keadaan sulit, apakah kita sudah mengikat pinggang dan melakukan hal-hal yang berbeda bagi Tuhan dalam generasi baru? Atau apakah tetap bersikukuh tidak ingin berubah, mempertahankan pengalaman sendiri sebagai dasar sehingga melupakan kebutuhan dan perbedaan generasi baru ini?

Renungkan:
Bapa gereja mula-mula, Uskup abad kedua, Polycarp, juga menggunakan frasa ikatlah pinggang (Pol. Phil. 2.1) untuk memotivasi orang-orang percaya di Filipi, tetapi ia sendiri akhirnya diikat di tiang, dibakar mati sebagai martir. Mungkin kita tidak ingin menekankan mati sebagai martir, tetapi apakah seseorang bersedia berkorban untuk Tuhan, atau sekadar peduli diri sendiri, atau mencari kedudukan yang terbaik bagi diri sendiri, ini adalah ujian siapakah hamba Tuhan yang sejati dan yang pantas berpadanan dengan identitas hidup yang baru, bukankah demikian?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amos 9:11-15

「Kebangunan Masa Depan: Pondok Daud Dipulihkan」
Oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amos 9:11-15 [ITB])
11 Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala, 12 supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku, demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini.

13 Sesungguhnya, waktu akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran. 14 Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. 15 Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, firman TUHAN, Allahmu.

Sesungguhnya, waktu akan datang

Tiba-tiba, fokus pena Amos beralih dan membawa pembaca ke Hari TUHAN, keadaan yang pasti terjadi setelah penghakiman akhir. Penghakiman seperti membawakan putus asa paling hebat (ultima), lalu ketika penghakiman adil benar berakhir, akan tiba hari saatnya rahmat anugerah dan belas kasihan Allah datang kembali, dan Allah akan mengingat perjanjian dengan Israel.

Allah yang mengambil inisiatif untuk membangun kembali, pertama-tama Ia akan membangun kembali kemah Daud yang runtuh, sehingga kerajaan Daud dapat dipulihkan kembali. Allah pasti mengingat janji yang diberikan kepada Daud melalui nabi Natan (2 Sam. 7:5, 16, klik untuk membaca), ketika Daud melihat bahwa tabut Allah masih berada di tabernakel, Daud rindu membangun Bait Suci bagi Tuhan, tetapi Allah melalui nabi Natan menjawab Daud dengan janji untuk membangun kemah permanen selama-lamanya, sebuah kerajaan yang permanen selama-lamanya, ini merupakan nubuat Mesias akan datang dari keturunan Daud. Kemah Daud di hari akhir akan didirikan kembali, namun itu bukan merupakan kerajaan Yehuda atau kerajaan Israel, tetapi kembali seperti saat kerajaan belum terbelah, tidak ada perpecahan menjadi utara dan selatan karena perilaku manusia, seperti pada zaman dahulu kala. Kedua, adalah bahwa Tuhan akan menutup pecahan dindingnya, belahan tembok ini (Amos 4:3) merupakan kehancuran yang memungkinkan umat Allah ditawan keluar dan dibawa ke tanah pengasingan, mereka ditawan karena mereka tidak memiliki keadilan dan kebenaran karena tidak melakukan perintah Allah, Allah akan datang memperbaiki oleh diri-Nya sendiri, membangun oleh diri-Nya sendiri, untuk menciptakan ulang oleh diri-Nya sendiri, Mesias akan datang, memulihkan kemuliaan umat Allah seperti sebelumnya di zaman dahulu kala.

Edom adalah keturunan dari Esau, dan Edom mulai dari awal sejak dari leluhur Esau sudah bertengkar saling berebut dengan Yakub, Edom digunakan sebagai simbol untuk mengekspresikan permusuhan dunia terhadap kerajaan Allah, Edom dijungkirbalikkan menunjukkan / mengacu pada keadaan semua kekuatan pemberontak sepenuhnya berakhir. Nabi Amos melihat bahwa di masa akhir, sisa Edom dan semua bangsa yang atasnya Nama Allah disebut (milik Allah) akan diberikan diambil alih Israel, membentuk Israel baru. Di gereja mula-mula, rasul Yakobus mengutip Amos untuk menjelaskan bahwa keselamatan orang-orang non Yahudi merupakan kehendak Allah: Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula』」(Kis. 15:14-18), apa yang Yakobus maksudkan bahwa nabi Amos telah menunjukkan adalah rencana Allah bahwa bangsa-bangsa asing akan menjadi milik Allah, orang percaya non Yahudi maupun orang Yahudi dapat menjadi umat Allah.

Renungkan:
Dari kegelapan penghakiman tiba-tiba berpindah ke cahaya keselamatan semua bangsa-bangsa, tidak disebutkan faktor manusia ─ apa yang harus dilakukan oleh para pendengar? Tidak ada, tidak ada sama sekali! Tidakkah ini sama dengan orang Israel dipilih, untuk keluar dari Mesir masuk ke tanah Kanaan? Tetapi ketika mereka menjadi umat Allah, Allah itu kudus, mereka harus menjadi kudus; Allah itu adil benar, dan mereka harus menjadi adil benar; Allah penuh belas kasihan, dan mereka juga harus memiliki belas kasihan kepada orang yang tidak berdaya; umat Allah harus hidup menaati sesuai dengan firman Allah dan meninggikan serta menghormati Dia. Allah mengutus Tuhan Yesus Kristus ke dunia dari surga dan menjelma jadi manusia, Ia menjadi seorang hamba, yang memiliki hati yang taat, bahkan sampai mati, di kayu salib. Manusia hanya perlu menerima, percaya saja maka akan menerima keselamatan, tidak ada yang perlu dilakukan untuk menerima keselamatan. Tetapi bagaimana setelah percaya? Jangan ulangi kesalahan yang sama, jangan hidup di jalan orang Israel zaman nabi Amos!


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Amos


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amos ditulis oleh 張美薇 (Zhāng Měi Wēi) yang dipublikasi pada bulan April 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 42:14-25

「Menapak Jalan Tak Dikenal」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 42:14-25 [ITB])
14 Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap. 15 Aku mau membuat tandus gunung-gunung dan bukit-bukit, dan mau membuat layu segala tumbuh-tumbuhannya; Aku mau membuat sungai-sungai menjadi tanah kering dan mau membuat kering telaga-telaga.
16 Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.
17 Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang dan mendapat malu, yaitu orang-orang yang berkata kepada patung tuangan: Kamulah allah kami!
18 Dengarkanlah, hai orang-orang tuli, pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta! 19 Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN? 20 Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar. 21 TUHAN telah berkenan demi penyelamatan-Nya untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia; 22 namun mereka suatu bangsa yang dijarah dan dirampok, mereka semua terjebak dalam geronggang-geronggang dan disembunyikan dalam rumah-rumah penjara; mereka telah menjadi jarahan dan tidak ada yang melepaskan, menjadi rampasan dan tidak ada yang berkata: Kembalikanlah! 23 Siapakah di antara kamu yang mau memasang telinga kepada hal ini, yang mau memperhatikan dan mendengarkannya untuk masa yang kemudian? 24 Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN?
Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar. 25 Maka Ia telah menumpahkan kepadanya kepanasan amarah-Nya dan peperangan yang hebat, yang menghanguskan dia dari sekeliling, tetapi ia tidak menginsafinya, dan yang membakar dia, tetapi ia tidak memperhatikannya.

Ada dua jenis kegelapan yang disebutkan dalam perikop Alkitab yang dibaca hari ini: jenis kegelapan yang pertama adalah rumah-rumah penjara (42:7, 22), jenis kegelapan yang kedua adalah kebutaan (42:7, 16, 18, 19). Apa yang dimaksud orang di penjara gelap? Apa yang dimaksud orang buta? Mereka sebenarnya adalah jenis orang yang sama, yaitu, orang yang tidak memiliki pengenalan (42:16), orang-orang ini tidak kenal jalan Allah, mereka juga tidak mengerti jalan belantara yang dipimpin oleh Allah, tapi sekarang TUHAN Yahweh hendak memimpin orang-orang ini menapak di jalan yang mereka tidak kenal, ini selain menunjukkan bahwa ini adalah pengalaman baru, juga menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak memiliki minat dan antusiasme untuk mengetahui (mengenal) jalan yang dipimpin oleh Allah, karena sudah dinyatakan dalam ayat 25 bahwa bahkan jika mereka mengalami murka dan kepanasan amarah Allah, mereka masih tidak tahu, mereka tidak keberatan, mereka tidak memiliki pengenalan (pengetahuan), sehingga mereka memiliki pengetahuan yang terbatas tentang tindakan Allah. Pemahaman secara literal, orang buta dan orang dipenjara ini dapat merujuk pada orang-orang yang ditawan yang tertahan di Babel, dan secara penjelasan makna rohani yang terkandung, kebutaan tersebut dapat merujuk pada mata rohani orang-orang ini, dan penjara mereka mungkin mengacu pada kehidupan makmur Babel, yang menggiurkan di mata dunia, tetapi justru merupakan penjara dalam sudut pandang Allah. Orang-orang Israel yang tertawan ini perlu menghilangkan kebutaan mereka untuk melihat bahwa dunia subur penuh bunga di depan mereka bukanlah pengejaran utama mereka. Hanya dengan usaha meninggalkan area nyaman di Babel dengan iman mereka barulah dapat menghilangkan kebutaan mereka dan mengalami keselamatan Keluaran baru dari Mesir, melangkah ke janji Kota Suci Yerusalem.

Allah melalui Yesaya kedua menuntun orang-orang yang tertawan menapak jalan padang gurun, jalan kepulangan kembali, Dia memberikan tantangan kepada mata umat Allah, karena apa yang mereka lihat dengan mata jasmani memberi tahu mereka bahwa tidak ada kondisi eksternal yang bisa meyakinkan mereka untuk menapak jalan kepulangan kembali, tetapi Yesaya kedua menantang mata orang untuk melihat apakah mereka dapat melihat jalan belantara yang dipimpin oleh Allah. Kesan umum yang diberikan padang gurun adalah kematian dan kutukan. Sekarang, seperti keluaran yang pertama kali dari Mesir, umat Allah dipimpin oleh Allah untuk berjalan di jalan belantara, itu tampak seperti kutukan, tetapi itu justru adalah keselamatan.

Ayat-ayat Yes. 42:18-25 tepat menanggapi pertanyaan dan ratapan orang-orang kepada Allah dalam Yes. 40:27 (klik untuk membaca), menunjukkan bahwa TUHAN tidak menyembunyikan diri, bukan tidak memelihara umat-Nya, tetapi bahwa orang-orang itu sendiri buta dan tuli, mereka tidak mengenal jalan TUHAN.

Renungkan:

Menghadapi kegelapan dan kesulitan, kita akan bertanya, Hidupku (jalanku) tersembunyi dari TUHAN? (Yes. 40:27), kita bertanya TUHAN mengabaikan dan tidak tahu betapa sulitnya jalanku, tetapi menjawab pertanyaan tersebut Yes. 42:16 Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.

Bukan karena Tuhan tidak tahu jalan kita, tetapi kita buta dan tidak tahu jalan Tuhan. Ini berarti bahwa jalan yang Tuhan pimpin adalah jalan yang mengejutkan orang (di luar dugaan) ketika melewati jalan ini, tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita dapat yakin bahwa Tuhan mengetahui jalan-Nya, hanya saja kita tidak tahu!


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 40:1-8

「Membuka Jalan di Padang Gurun jalan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 40:1-8 [ITB])
1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, 2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.
3 Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! 4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; 5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.
6 Ada suara yang berkata: Berserulah! Jawabku: Apakah yang harus kuserukan? Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. 7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. 8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.

Di awal perikop ini memakai kata-kata hiburkanlah sebagai pembukaan, yang menunjukkan bahwa telah berakhir keadaan orang Yehuda sebagai tawanan yang diakibatkan oleh dosa mereka, dan ayat ini mengatakan perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.Hendak menunjukkan bahwa Allah akan mengubah semua hukuman menjadi penghiburan dan mendorong Yehuda untuk mengambil jalan yang diberkati, ini adalah hal yang penuh sukacita. Namun, Kitab Suci mengatakan bahwa jalan ini adalah jalan di padang gurun dan di padang pasir (Yes. 40:3). Padang gurun adalah tempat bangsa Israel bertemu Allah, mengalami tiang awan dan tiang api, dan pemeliharaan melalui manna, adalah di padang gurun, tetapi padang gurun pada saat yang sama juga merupakan tempat yang berbahaya dan sulit. Ternyata jalan kepulangan kembali yang disiapkan Allah bagi Yehuda adalah jalan di padang belantara. Kali ini padang belantara adalah padang belantara Arab antara Babel dan Yerusalem, Yahweh memandang kepulangan kembali ke Yerusalem kali ini sebagai Keluaran baru (the new Exodus), agar orang Israel sekali lagi mengalami keajaiban yang dialami oleh nenek moyang mereka. Dengan demikian, penghiburan yang ada dalam hati Yahweh yaitu agar generasi yang ditawan ini mengalami Keluaran Mesir, dan membiarkan mereka meninggalkan zona nyaman Babel dan memasuki zona bahaya di hutan belantara, di sinilah wilayah mengalami Allah. Jadi penghiburan dan padang gurun yang tampaknya bertolak belakang dalam pandangan manusia, tetapi justru adalah identik dalam pandangan Allah.

Umat yang tertawan akan berdasarkan iman mengikuti jalan ini, dengan mata jasmani yang terlihat oleh mereka hanya padang belantara yang kasat mata, tetapi mereka perlu melihat janji yang tidak terlihat mata jasmani; langkah berat berikutnya yang penuh kesulitan tampaknya akan mewujudkan langkah selanjutnya di jalan yang diberkati; tidak ada langkah di padang gurun maka tidak ada langkah lebih lanjut untuk membangun kembali Yerusalem. Hidup tampaknya harus bersusah-susah dahulu, barulah dapat merasakan buah yang manis sesudahnya, dalam putus asa datang pertolongan yang tidak terduga. Dalam suasana hati yang ragu-ragu ini, TUHAN (Yahweh) menganugerahkan harapan-Nya: Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yes. 40:8). Rumput adalah perumpamaan atas umat Allah, dan bunga metafora gambaran atas keindahan, ini menunjukkan bahwa kemampuan, kekuatan, dan kecantikan manusia akan berlalu, jika umat tertawan berharap untuk tinggal di Babel, menikmati hidup yang singkat, mempertahankan hal-hal indah yang mereka miliki, mereka hanya akan menemukan bahwa suatu hari kehidupan dan keindahan ini akan layu dan berguguran. Sebaliknya, jika mereka dengan iman percaya kepada Firman Allah, melaluinya mereka akan tersambung secara kekal dengan Firman Allah (Firman Allah akan bertahan selamanya). Bayangkan betapa ini merupakan anugerah bahwa hidup yang singkat dapat tersambung dengan kekekalan. Mungkin ketika kita melihat kesulitan saat ini dengan pandangan kekekalan, hati kita dapat melampaui batasan dan kabut hutan belantara, dan menyimpan pengharapan kekal bagi diri kita sendiri.

Renungkan:

Kita berpikir bahwa tinggal di zona nyaman Babel adalah pilihan yang cerdas. Kita selalu berpikir bahwa itu adalah bodoh dan tidak praktis untuk mengambil jalan hutan belantara, tetapi Babel yang ramai ini hanya akan membuat orang tenggelam. Jika bukan karena kita meletakkan nostalgia indah atasnya dan memulai perjalanan ziarah bersandarkan iman, kita masih akan menganggap Keluaran dari Mesir hanyalah ide murni teoritis, bukan gairah yang mentransformasikan hidup kita. Semoga Tuhan membantu kita meninggalkan zona nyaman yang seperti peti mati dan masuk ke zona bahaya mengalami Allah, barulah kita dapat melangkah di jalan ziarah untuk membangun kembali Yerusalem, langkah demi langkah, menapak jalan anugerah.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 12:13-17

「Kejam Padang Belantara, Bahagia Penyertaan Tuhan」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 12:13-17 [ITB])
13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.
14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

Pasal 12 dapat dibagi menjadi tiga bagian kecil, dalam setiap bagian terlihat bahwa naga merah dilemparkan, tetapi fokus penekanan pada setiap bagian tidak sama. Bagian pertama, ayat 4b: setelah naga dilemparkan ke bumi, hendak menelan Sang Anak, yakni ingin membinasakan Yesus Kristus. Bagian kedua ayat 9: naga bertempur melawan penghulu malaikat Mikhael, kalah, dilemparkan ke bumi, karena itu setan tidak bisa menang atas Kritus. Bagian ketiga, ayat 13 dari perikop renungan hari ini: fokusnya adalah penganiayaan Setan terhadap Gereja, karena pada awal bagian ini dikatakan, ia (naga) telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu (menganiaya) perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu, kita melanjutkan membacanya dapat melihat gambaran tentang penganiayaan dari naga: ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu (ayat 15), menunjukkan bahwa niat utama naga itu adalah untuk membinasakan Gereja Kristus. Air yang menyembur seperti sungai, air besar adalah simbol bencana dalam Perjanjian Lama, misalnya, air yang meluas mengamuk dari utara menjadi sungai yang membanjir menggambarkan musuh (Yer. 47:2), dan banjir besar adalah metafora untuk kesengsaraan. (Mzm. 32:6). Bencana seperti itu keluar dari mulut naga, menggambarkan tipu daya Setan, menyerang, memfitnah, menuduh, menggunakan kebohongan, menggunakan kata-kata jahat, dan ajaran guru palsu untuk mencoba mengambil orang-orang percaya dan membuat mereka meninggalkan serta mencampakkan Allah, atau memecah-belah gereja, berserakan seperti disembur deras sungai, bahkan mencelakai, memfitnah, menindas, menenggelamkan gereja. Namun, jangan takut, bumi … membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu (ayat 16), metafora ini berasal dari nyanyian Musa di kitab Keluaran, yang berarti bahwa Allah melakukan mukjizat untuk menghancurkan musuh, sama seperti Allah membuat tentara Mesir ditelan habis saat mengejar umat Allah (Kel. 15:12)!

Dalam paragraf pertama, perempuan itu melarikan diri ke padang gurun telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah (ayat 6). Dalam bagian ketiga ini, dituliskan deskripsi yang lebih terperinci tentang pelarian perempuan itu ke padang belantara: diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, sehingga ia mampu terbang ke tempatnya di padang gurun (ayat 14). Gambar ini juga berasal dari Keluaran Mesir, menggambarkan betapa menakjubkan orang Israel ketika mereka keluar dari Mesir, seolah-olah mereka didukung dan digendong di atas sayap rajawali yang besar serta dapat terbang, ini sebenarnya adalah keselamatan Allah (lih. Kel. 19:4; Ul. 32:11-12).

Ini mirip dengan pengalaman kita saat ini. Orang yang melayani Tuhan sering mengalami pemeliharaan khusus dari Tuhan dalam keadaan sulit. Kadang-kadang sangat sukar untuk dijelaskan, bagaimana bersukacita di tahun-tahun penuh penderitaan yang sulit, untuk menikmati kelimpahan hidup, seperti ada Manna untuk makan, itu ajaib luar biasa, itu adalah dipelihara oleh Tuhan (ayat 6, 14). Juga, di dalam kekosongan hutan belantara yang tidak menyediakan apapun, Tuhan telah mempersiapkan tempatnya bagi kita, ini tidak merujuk pada sebuah ruangan tempat, tetapi menunjuk pada kehadiran Allah di mana saja, kapan saja, untuk jauh dari tempat ular itu hindarkan kita dari yang jahat, tempat teraman adalah di mana Allah berada (ayat 14b)!

Renungkan:

Orang-orang Israel melarikan diri dari Mesir, berjalan melalui padang belantara, melewati tempaan, dan akhirnya memasuki Kanaan. Pengalaman mereka dicatat dalam Alkitab dan berulang kali dikutip sebagai pelajaran bagi umat Allah. Pelajaran apa yang dapat saya lihat dalam ayat-ayat hari ini?

Ketika orang menghadapi penderitaan, mereka dapat mencoba bermain untuk gembira dalam kepahitan, tetapi hanya mereka yang memiliki iman kepada Tuhan yang dapat mengalami berkat dalam penderitaan. Apakah Anda mencoba bermain untuk gembira dalam kepahitan, ataukah Anda sudah mengalami berkat dalam penderitaan?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 35:1-4

「Jalan Padang Gurun」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 35:1-4 [ITB])
1 Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; 2 seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.
3 Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. 4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: 「Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!」

Latar belakang Yesaya pasal 34 dan 35 mungkin adalah sebelum kepulangan kembali dari penawanan, mungkin dituliskan oleh murid-murid Yesaya selama lebih dari seratus tahun setelah kematiannya, berdasarkan pemikiran teologis Yesaya menuliskan bagian kedua kitab Yesaya (Yesaya 40 sampai 55), dan membukukannya di belakang Yesaya pertama (Yesaya 1 hingga 39). Dalam prosesnya, mereka juga menulis pasal 34 dan 35. Karena itu, kita dapat menemukan pemikiran teologis dari Yesaya kedua dalam pasal 34 dan 35 yang sesuai dengan tema 「mempersiapkan jalan di padang gurun」 (Yes. 40:3-5), ini adalah belantara yang dilewati saat dari Babel pulang kembali menuju Yerusalem.

Padang gurun adalah memori kolektif yang tak terhapuskan bagi orang Israel. Dahulu setelah mereka keluar dari Mesir, berjalan di gurun belantara selama empat puluh tahun. Padang belantara melambangkan kesulitan dan penderitaan, juga pada saat yang sama itu adalah tempat mengalami pemeliharaan TUHAN (manna) dan mukjizat (air memancar keluar dari batu karang); membuat orang-orang memahami bahwa di masa yang paling sulit dalam hidup, justru merupakan momen mengalami hadirat dan rahmat Allah. Tiang awan dan tiang api yang telah Dia berikan itu adalah bukti terbaik. Sekarang, orang-orang Israel yang dalam tawanan diberikan dorongan semangat dalam Yesaya bagian kedua ini untuk pulang kembali ke Yerusalem, situasinya seperti 「sekali lagi keluaran dari Mesir」, Babel dan Mesir sendiri adalah tempat penindasan, tempat yang dituju dari kedua keluaran adalah Yerusalem dan tanah Kanaan, keduanya juga melewati padang gurun. Sebenarnya, bagaimana Yesaya bagian kedua ini mendorong semangat orang-orang untuk pergi berjalan ke padang belantara?

Perikop menyebutkan (ayat 1-2) bahwa ketika orang Israel berjalan ke padang gurun, elemen-elemen alam akan bersukacita karena hal ini, dan karenanya orang-orang akan melihat kemuliaan TUHAN (ayat 2). Kemuliaan TUHAN melambangkan kehadiran penyertaan TUHAN, sama seperti dahulu kehadiran penyertaan dalam tiang awan dan tiang api. Orang Israel hanya jika bersedia menempuh jalan pulang, meninggalkan Babel yang tampaknya nyaman, memasuki padang belantara yang sulit, barulah mereka akan dapat melihat kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah disiapkan bagi mereka yang bersedia menapak kaki mengikuti dengan iman. Oleh karena itu, nabi Yesaya mendorong tangan yang lemah agar diperkuat dan meneguhkan lutut yang lemah (ayat 3), ketangguhan tubuh orang-orang telah ditelantarkan di Babel yang nyaman untuk waktu yang lama. Mereka mungkin juga khawatir tentang jalan di depan dan tidak berani pergi, tetapi Kitab Suci (ayat 4) mendorong mereka untuk tidak takut, hendaknya bangkit menjadi kuat, untuk melihat keselamatan Allah.

Renungkan:
Apakah Anda bersedia meninggalkan area nyaman dengan iman dan memasuki hutan belantara yang telah Tuhan persiapkan untuk Anda? Hanya jika kita bersedia mau melangkah ke masa depan yang tampaknya tidak bisa kita kendalikan, jika tidak maka kita masih akan berpijak dan berada di tempat yang sama, tidak dapat mengalami Tuhan yang sejati, dan kita juga tidak dapat melihat kemuliaan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Yesaya 24 – 39 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 8:13-9:11

「Racun dan Belenggu Dosa」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 8:13-9:11 [ITB])
13 Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: 「Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.」
9:1 Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut. 2 Maka dibukanyalah pintu lobang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari lobang itu bagaikan asap tanur besar, dan matahari dan angkasa menjadi gelap oleh asap lobang itu. 3 Dan dari asap itu berkeluaranlah belalang-belalang ke atas bumi dan kepada mereka diberikan kuasa sama seperti kuasa kalajengking-kalajengking di bumi.
4 Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya. 5 Dan mereka diperkenankan bukan untuk membunuh manusia, melainkan hanya untuk menyiksa mereka lima bulan lamanya, dan siksaan itu seperti siksaan kalajengking, apabila ia menyengat manusia.
6 Dan pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.
7 Dan rupa belalang-belalang itu sama seperti kuda yang disiapkan untuk peperangan, dan di atas kepala mereka ada sesuatu yang menyerupai mahkota emas, dan muka mereka sama seperti muka manusia, 8 dan rambut mereka sama seperti rambut perempuan dan gigi mereka sama seperti gigi singa, 9 dan dada mereka sama seperti baju zirah, dan bunyi sayap mereka bagaikan bunyi kereta-kereta yang ditarik banyak kuda, yang sedang lari ke medan peperangan. 10 Dan ekor mereka sama seperti kalajengking dan ada sengatnya, dan di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa mereka untuk menyakiti manusia, lima bulan lamanya. 11 Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion.

Ayat 8:13 adalah bagian terakhir dari pasal 8, sekilas ini terlihat seperti akhir dari sangkakala 1 hingga 4 di paragraf sebelumnya, tetapi sebenarnya adalah pengantar dari teks di bawahnya, karena berdasarkan ayat ini, burung nasar di udara mengumumkan dengan keras: 「Celaka, celaka, celakalah …」 Tiga kali seruan 「celaka」 tepat merupakan pengantar bagi tiga sangkakala berikutnya. Ayat ini secara terbuka menyatakan bahwa sangkakala yang tersisa ditujukan kepada 「mereka yang diam di atas bumi」 — 「yang diam di atas bumi」 adalah frasa yang sering dipakai dalam kitab Wahyu, merujuk pada mereka yang menjadi milik dunia, keras hati, tidak mau percaya, dan pemberontak (Why. 6:10, 15; 11:10; 13:8, 12, 14; 17:2, 8, 18; 18:3, 9, 11, 23; 19:19).

Setelah pengantar ayat 8:13, adalah pasal 9 yang menggambarkan malaikat kelima dan keenam meniupkan sangkakalanya (9:1-11, 9:12-21). Hari ini kita membaca sangkakala kelima. Batas bagian ini sangat jelas, karena awal dan akhir saling korespondensi, di ayat 9:1 dan 9:11, menyebutkan 「lobang jurang maut.」 Jurang maut ini adalah tempat di mana roh-roh jahat dipenjara dalam tradisi Yahudi (lih. Luk. 8:31), dan juga merupakan tempat kekuatan jahat (lih. sastra Yahudi kitab 1 Henokh 6-9). Adapun bintang yang muncul di awal, ia sama dengan bintang sebelumnya yang disebut Absintus (Why. 8:11). Ia adalah malaikat yang jatuh dari langit, di bawah kedaulatan Allah, ia diberikan kunci untuk membuka lobang jurang maut (9:1), maka 「malaikat jurang maut」 disebutkan di akhir (9:11), ia adalah raja kekuatan jahat, kepala malaikat yang jatuh, Setan!

Ketika jurang maut dibuka, keluar asap yang berasal dari jurang sumber kejahatan, seperti asap tungku besar, yang membuat matahari dan langit gelap (9:2). Tungku api ini, dan gelapnya hari ini adalah metafora penghakiman (lih. Yoel 2:10, 31; 3:15), metafora ini mengambarkan keadaan sangat nyata akhir zaman, yaitu: di bawah penghakiman Allah, Setan menyerang dunia, membutakan orang-orang keras kepala yang ada di bumi dengan kejahatan, seperti kalajengking meracuni mereka, sebagaimana namanya Abadon atau Apolion (9:11), artinya hendak membuat orang 「hancur binasa」 (destruction).

Di bagian tengah paragraf ini, ayat 3 – 10, adalah deskripsi terperinci dari situasi konkret akhir zaman ini. Di sini menggunakan wabah belalang untuk menggambarkan kerusakan yang disebabkan oleh kuasa jahat, ini perlu dipahami dari sudut pandang metaforis, karena ayat 4 menyatakan bahwa belalang tidak boleh merusak rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, tetapi hanya boleh merusakkan 「manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya,」 dapat dipahami itu bukan belalang yang sesungguhnya, tetapi bencana penghakiman yang ditujukan pada diri orang-orang murtad pemberontak. Bayangkan bahwa orang-orang di dunia dibelenggu oleh dosa, terjebak kepahitan dan penderitaan yang mereka alami, bukankah membuat orang merasa putus asa, atau bahkan lebih baik mati (ayat 6)? Belalang ini seperti kuda perang, memakai mahkota emas, dan baju besi (ayat 7-9), bukankah itu menggambarkan adegan kekejaman pertempuran dan kekerasan yang dipicu oleh kejahatan?

Wabah belalang juga merupakan salah satu dari sepuluh bencana di Keluaran dari Mesir. Ini membuat kita mengerti bahwa perang akhir zaman ini seperti keluaran dari Mesir, dan akhirnya adalah keselamatan. Tuhan berperang melawan Setan dan menyelamatkan umat-Nya keluar, maka kita tidak ingin tinggal di Mesir dan menjadi apa yang disebut 「mereka yang diam di atas bumi」(8:13) sehingga dibelenggu oleh Firaun, dibutakan dan diracuni oleh Setan. Belalang biasanya hanya hidup selama lima bulan (ayat 10), mewakili bahwa orang-orang di tanah terluka oleh kejahatan, mungkin tidak sampai mati maka hendaknya mereka harus cepat-cepat bertobat. Jangan biarkan yang jahat dan kepahitan menjerat Anda dan mendorong Anda sampai mencapai titik keputusasaan dan kepunahan.

Renungkan:

Orang-orang dibuat sengsara oleh yang jahat. Hal-hal semacam itu ada di mana-mana — penyalahgunaan obat-obatan, kesombongan, penyiksaan, perjudian, tidak tahu berterima kasih, tidak peduli tanggung jawab, dan sebagainya. Melihat sekeliling masyarakat ini atau orang yang saya kenal, apakah ada situasi seperti itu? Kerabat dan teman mana yang sudah terperangkap dalam serangan Setan dan perlu saya doakan?

Apakah saya sudah jatuh ke dalam yang jahat? Sudahkah bertobat dari dosa? Pernahkah saya terlibat dalam dosa orang lain, dan terkena penderitaan? Apakah oleh karena itu jadi mengenali wajah Setan dan belajar untuk hidup menjaga kekudusan diri sendiri dan waspada?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 1:39-56

「Pembalikan Bergantung pada Ketaatan!」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 1:39-56 [ITB])
39Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42lalu berseru dengan suara nyaring: 「Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.」
46Lalu kata Maria: 「Jiwaku memuliakan Tuhan, 47dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
50Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
51Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
52Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
53Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
54Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
55seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.」
56Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Dalam Injil Lukas pasal 1- 2, Puji-pujian Maria (Mary’s Magnificat) merupakan sebuah perikop yang sangat penting, membawakan keluar pokok utama dari keseluruhan kitab Injil ini, namun justru kurang dibicarakan orang.

Banyak topik dalam 《Nyanyian pujian Maria》 yang memiliki titik persamaan dengan 《Mazmur raja Salomo》 yang dituliskan di masa tenggang antara dua Perjanjian: 「hormat takut Allah」, 「Israel hamba」, 「keturunan Abraham」, 「kesombongan」, 「kaya dan miskin」, 「kuasa Allah」, 「lengan Allah」, 「Allah melihat, menolong, mengingat」 dll. Tetapi jika kita melihat dari keadaan kedua tulisan, hal yang mereka bicarakan dan yang ditujukan adalah berbeda keseluruhannya. Apa yang dibicarakan dalam 《Mazmur raja Salomo》 adalah kerajaan Allah hendak sekali lagi datang di antara muka bumi, tetapi berita yang terkandung di dalamnya, terutama di pasal 17-18 dari 《Mazmur raja Salomo》 semuanya menunjuk kemenangan militer, seperti yang dahulu di zaman Musa, Allah memakai kekuatan dan kuasa-Nya yang besar menenggelamkan tentara Mesir di laut Merah, sejak saat itu orang Israel bisa mendapatkan pelepasan dan kebebasan. Ini mungkin merupakan harapan umum orang terpelajar Yahudi di zaman antara dua Perjanjian, yang mereka pikirkan dan mohon semua pada umumnya mempunyai pola 「keluaran baru dari Mesir」, pola yang diletakkan dalam permohonan dan pengharapan dari orang Israel setelah penawanan.

Tetapi, penggambaran Lukas nyata menonjol bukan didasarkan pada keadaan yang demikian ini, ia memahami dan mengerti Yesus adalah Mesias yang 「sungguh benar」, oleh karena itu Lukas tidak meletakkan inti tulisannya pada aspek militer atau kuasa politik. Tetapi pada rahasia Allah yang tersembunyi berabad-abad, yakni Anak Kekasih-Nya sendiri dipaku di atas salib, sebagai satu-satunya cara keselamatan, dan digenapinya cara keselamatan ini yakni dimulai dengan seorang anak dara.

Oleh karena itu, sesungguhnya inti 《Nyanyian pujian Maria》 bukan mewarisi topik dan keadaan dari 《Mazmur raja Salomo》, tetapi merupakan satu pewarisan lintas generasi yang sama dengan doa Hana (lihat 1 Sam. 2:1-10) — orang yang sukarela, hati yang bersedia, yang berkata-kata dengan jujur tulus sesuai isi hati, menggenapkan rencana penebusan dari Allah yang unik tiada tanding. Juga menyatakan, puji-pujian yang sungguh-sungguh benar bukan dinaikkan karena kenyataan telah mendapatkan solusi dan pelepasan dari keadaan yang dialami, Maria secara dasar tidak mengetahui hal apa yang akan terjadi kelak, ia di tengah keadaan sulit, mengandung dalam keadaan belum menikah, juga belum tahu bagaimana Allah akan menyelesaikannya, tetapi ia di dalam hati sukarela, bersedia, dan taat tunduk perintah Allah. Maka inilah letak dari makna dan intisari sesungguhnya yang terkandung dari topik Pembalikan di Akhir Zaman (eschatological reversal motif) (Lihat Luk 1:52-53 「Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa」)

Renungkan: tidak peduli orang di zaman penawanan, ataupun orang percaya di abad 1, bahkan gereja hari ini, kebanyakan kita dikarenakan tekanan keadaan sulit dan penderitaan, barulah mengharapkan datangnya akhir zaman sehingga bisa mendapatkan Pembalikan di Akhir Zaman (eschatological reversal motif), tetapi isi pujian Maria bukan menunjuk penggenapan yang baru akan terjadi di akhir zaman, menyatakan orang-orang yang dengan sukarela senang hati taat tunduk kepada Firman Allah, yang akan mendapatkan kebahagiaan 「Pembalikan」. Di dalam kitab Injil, mereka yang bersedia percaya mengikut Yesus, benar-benar mengalami 「Pembalikan akhir zaman」.

(Kiranya kita tetap bersandar kepada pemeliharaan Tuhan, bukan pada kekayaan, karena Ia menurunkan orang-orang yang meninggikan diri dan meninggikan orang-orang yang rendah hati; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang merasa kaya oleh dirinya untuk pergi dengan tangan hampa.)

Doa: Tuhan! Mohon Engkau membuat saya percaya kehidupan yang sungguh dibalikkan, tidak hanya agar mendapatkan pelepasan dari keadaan sulit, tetapi tetap mempertahankan iman dan dengan kepastian menyiarkan lengan-Mu dari dahulu tidak pernah meninggalkan, keadaan buruk dari dahulu tidak pernah membuat saya menjadi hina karena saya tetap merupakan yang dikasihi dan diperhatikan Allah.