Imamat 11:1-8

「Makanan yang tahir suci」

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 11:1-8 [ITB])
1 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: 2 「Katakanlah kepada orang Israel, begini:
Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi:
3 setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan.
4 Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
5 Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
6 Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Membaca sampai Imamat 11, kita akan memiliki banyak pertanyaan, mengapa beberapa hewan tergolong halal (tahir), tetapi beberapa hewan najis, dan Israel tidak boleh makan hewan najis, hendaknya mereka memandangnya sebagai kekejian (najis)? Peneliti yang berbeda memberikan penjelasan yang berbeda, ada beberapa mulai dari sudut pandang medis masa kini, berpikir bahwa hewan najis menyebabkan beberapa penyakit, dan beberapa menjelaskannya secara spiritual, beberapa peneliti berpikir bahwa hewan najis adalah metafora kegelapan spiritual, ada yang berpikir bahwa penggolongan ini tidak mengikuti dasar apapun. Mengapa binatang yang berkuku belah dan yang memamah biak boleh dimakan (11:1-8)? Mengapa yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air tidak boleh dimakan (11:9-19)? Mengapa memiliki sayap tetapi yang merayap dengan keempat kaki adalah kekejian (11:20)?

Salah satu penjelasan yang lebih meyakinkan adalah keprihatinan atas sifat kesempurnaan / keutuhan (completeness), alasan mengapa hewan-hewan ini digolongkan sebagai tahir (halal) dan najis, adalah apakah mereka dapat melambangkan kesempurnaan / keutuhan atau tidak. Sifat kesempurnaan / keutuhan berarti bahwa sesuatu dapat secara sempurna sepenuhnya diklasifikasikan tanpa campur aduk, tanpa kebingungan, dan itu juga berarti kemungkinan dapat melambangkan kekudusan. Tahir (halal) atau najis seekor hewan tidak ada hubungannya dengan baik atau buruknya moralitas, tetapi ada hubungannya dengan sifat keutuhan hewan tersebut. Segala hewan yang diciptakan oleh Allah, semua adalah baik (Kej. 1), tetapi hewan yang diciptakan baik tidak berarti mereka semua melambangkan keutuhan, itu tergantung pada apakah mereka dapat diklasifikasikan secara sepenuhnya. Binatang memamah biak yang berkuku belah adalah sepenuhnya hewan merumput, maka termasuk golongan memiliki keutuhan (completeness); ikan yang tidak bersirip dan tidak bersisik membuat orang tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah ikan atau ular; hewan yang memiliki sayap tetapi yang merayap dengan keempat kaki membuat orang tidak bisa mengatakan apakah itu adalah binatang di tanah atau di langit, maka mereka kehilangan sifat keutuhan (completeness) dan tidak dapat dibedakan sepenuhnya, sehingga mereka dikategorikan sebagai najis (sebagai kekejian). Dengan demikian, hewan yang tahir (halal) memiliki sifat keutuhan (completeness), tetapi hewan yang tidak halal memiliki arti yakni campur aduk membingungkan dan tidak mudah dibedakan.

Israel adalah bangsa yang kudus, melalui makanan yang tahir setiap saat mengingatkan mereka untuk hidup dalam kekudusan, mereka harus melihat diri mereka utuh sepenuhnya milik Allah, melalui keutuhan (completeness) merespons kekudusan Allah, sehingga mereka memancarkan kemuliaan Allah, dan memiliki perbedaan kekhususan dengan semua bangsa-bangsa yang lain.

Renungkan:
Apakah kita orang Kristen juga memiliki keutuhan seperti itu? Di zaman Perjanjian Baru, kategori makanan halal atau haram sudah tidak berlaku lagi, pengalaman Petrus di rumah Kornelius mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang dinyatakan halal oleh Allah dapat dimakan, tetapi tidak berlakunya kategori makanan halal atau haram ini juga membuat kita tidak lagi melalui makanan sehari-hari mengingat panggilan kudus kita. Memohon Tuhan membantu kita untuk mengingat bahwa kita adalah komunitas yang dipisahkan untuk dikuduskan, tidak berkompromi dengan dunia, dan tidak memandang panggilan Allah sebagai tidak realistis, tetapi hendaknya membawa kehidupan yang berbeda ke dalam zaman yang gelap dan membingungkan, di tengah-tengahnya memancarkan cahaya kemuliaan kudus!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.