Tag Archives: Kitab Imamat

Imamat 25:8-13

Tahun Yobel

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:8-13 [ITB])
8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. 9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu.
10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.
11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya.
12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang.
13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.

Setelah setiap tujuh tahun Sabat, yakni setelah total empat puluh sembilan tahun, yaitu tahun kelima puluh, orang Israel harus memiliki tambahan satu tahun Yobel, dan peraturan Imamat tentang Yobel didasarkan pada peraturan hari Sabat. Cara yang telah ditetapkan agar tanah mendapat istirahat dan memelihara orang miskin pada tahun Sabat, juga diberlakukan sama di tahun Yobel. Selain itu, mereka perlu melakukan satu hal lagi, yaitu setiap orang masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya (Im. 25:10).

Kita dapat menggunakan struktur berbentuk kipas (chiastik) untuk memahami ayat-ayat Imamat 25:10-13
A: Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu (a jubilee it shall be for you), dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya (ayat 10)
B: Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu (a jubilee it shall be for you), jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya (ayat 11)
B’: Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu (it is a jubilee, sacred it shall be for you); hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang (ayat 12)
A’: Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya (ayat 13)

Penggabungan B-B’ menekankan dua hal: (1) Yobel adalah tahun kudus, karena definisi kekudusan adalah ranah Allah, maka Yobel adalah tahun Allah, tahun milik Allah, dan umat Israel sudah sepatutnya memelihara tahun ini dalam hormat takut akan kepada Allah; (2) Yobel adalah tahun bagimu (it is a jubilee, sacred it shall be for you), yang berarti bahwa tahun Yobel tidak hanya untuk Allah, tetapi juga untuk umat Israel, dalam tahun ini harus mengingat orang yang berhutang dan orang pendatang di antara umat itu, agar mereka mendapatkan kebebasan. Kombinasi dari B-B’ (ayat 11 dan 12) menunjukkan bahwa di satu sisi Yobel adalah tahun yang kudus bagi Allah, di sisi lain adalah perayaan pembebasan. Kebebasan apa yang dirayakan?

A-A’ (ayat 10, 13) menjelaskan bahwa kebebasan adalah setiap orang kembali pada tanah miliknya sendiri, yang berarti bahwa semua hutang dengan jaminan tanah dalam 50 tahun dapat dihapuskan, dan tidak perlu membayar kembali hutang dan dapat bebas kembali ke tanahnya sendiri. Perlu kita pahami bahwa pendekatan ini memiliki asumsi bahwa jangka waktu 50 tahun telah memberikan waktu yang cukup untuk melunasi hutang mereka, jika tidak itu artinya pada dasarnya sudah tidak memiliki kemampuan membayar hutang. Dengan demikian, Yobel akan menjadi satu-satunya harapan dalam hidup seseorang untuk boleh tidak membayar lunas hutangnya (artinya memang sudah tidak mampu dilunasi)) dan mendapatkan kembali tanah warisan miliknya.

Renungkan:
Tahun Yobel tidak hanya memberikan jaminan tahun istirahat (Sabat) bagi orang miskin dan orang asing, tetapi juga kemungkinan membalik nasib bagi yang berhutang. Inilah makna tahun Yobel menjadi kudus dan bagimu, yaitu tahun kudus ini adalah tahun milik Allah, dan juga merupakan tahun bagi manusia untuk dibebaskan, sehingga kebebasan mereka terhubung dengan kekudusan Allah, dan umat Israel dengan memelihara tahun Yobel menjadi umat yang kudus. Sering kali kita berpikir bahwa pengaturan seperti itu tidak sejalan dengan keuntungan ekonomi modern. Kita percaya bahwa setiap perusahaan harus menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin. Kita tidak tahu bahwa mentalitas semacam ini justru merupakan mentalitas yang tidak kudus, ketika kita mampu merawat mereka yang membutuhkan, kita harus meninggalkan praktik bisnis yang tidak adil dan memasuki ekologi bersama yang kudus, sehingga lebih banyak orang akan diberkati. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 25:1-7

Tahun Sabat

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:1-7 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka:
Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi Allah. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Allah.
Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu.
6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Imamat 25:1-7 menjelaskan peraturan Sabat, yang mencerminkan fokus Peraturan Kekudusan terhadap hari-hari yang dikhususkan dan konteksnya dalam masyarakat pertanian. Imamat 25:2 menuliskan Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, menyatakan dua dasar memelihara tahun Sabat: (1) hanya ketika orang-orang Israel telah mendapatkan tanah Kanaan barulah harus menjaga tahun Sabat, diasumsikan bahwa kehidupan menggembalakan ternak yang mengembara telah menetap menjadi masyarakat pertanian; (2) tanah Kanaan adalah anugerah dari Allah, artinya tanah itu bukan milik suatu suku atau orang tertentu saja, hak kepemilikan tanah adalah kepunyaan TUHAN, Ia yang memberikan dan membagi tanah tersebut kepada suku-suku Israel, jadi ketika seseorang berani merampas tanah orang lain, itu sama saja dengan menantang kedaulatan TUHAN atas pembagian tanah. Dengan demikian, alasan teologis Israel memelihara tahun Sabat adalah bahwa tanah itu adalah milik Allah, maka mereka harus memperlakukan tanah sesuai dengan perintah Allah.

Bagaimana perintah memelihara tahun Sabat dapat membantu orang Israel memperlakukan tanah dengan baik? Pertama, mereka harus dengan rajin bercocok tanam selama enam tahun dan mengumpulkan hasil tanah (Im. 25:3); kedua, pada tahun ketujuh, tanah harus beristirahat dengan tenang, yang berarti mereka tidak dapat mengolah, memanen, dan apa yang ditumbuhkan oleh tanah sendiri, untuk diri sendiri, hamba, pekerja, orang asing yang menumpang tinggal dan hewan (Im. 25:4-7), tuaian tahun ini terutama bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain yang bukan tuan tanah, sehingga orang-orang ini dapat memiliki jaminan masyarakat. Ketiga, ketika pemilik tanah melakukan ini, maka pada tahun keenam tanah itu akan memproduksi tuaian tiga tahun, cukup untuk mereka nikmati dalam dua tahun ke depan (Im. 25:21-22). Ketika pemilik tanah dengan iman memelihara tahun Sabat, di satu sisi dia dapat memberikan jaminan sosial bagi orang miskin, dan di sisi lain memberkati dirinya sendiri, sehingga dia dapat membuat tanah itu tidak tandus, berbaik hati kepada dirinya sendiri, orang lain dan tanah.

Renungkan:
Sering kali, ketika kita menjalankan bisnis kita, kita sering berpikir bahwa mendapatkan laba sampai semaksimalnya adalah hal yang biasa. Kita akan menggunakan semua sumber daya yang kita miliki untuk mencapai keuntungan terbaik. Ketika kita melakukan ini, kita akan sangat mengabaikan kemiskinan di sekitar kita. Walau, sekarang kita tidak semua hidup dalam masyarakat pertanian, tetapi kepedulian terhadap orang miskin yang diperintahkan dalam aturan tahun Sabat tetap harus menjadi perhatian kita, ketika kita memiliki kemampuan, kita harus menyisakan sebagian dalam bisnis kita sendiri dan bersedia menggunakan apa yang kita miliki, yang telah kita peroleh untuk membantu mereka yang membutuhkan, agar orang-orang ini diberkati, dan diri kita juga mendapatkan berkat lebih lagi dari Allah. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 24:5-9

Roti sajian dan korban api-apian

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 24:5-9 [ITB])
5 Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar dari padanya, setiap roti bundar harus dibuat dari dua persepuluh efa; 6 engkau harus mengaturnya menjadi dua susun, enam buah sesusun, di atas meja dari emas murni itu, di hadapan Allah. 7 Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi Allah.
8 Setiap hari Sabat ia harus tetap mengaturnya di hadapan Allah; itulah dari pihak orang Israel suatu kewajiban perjanjian untuk selama-lamanya. 9 Roti itu teruntuk bagi Harun serta anak-anaknya dan mereka harus memakannya di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus baginya dari segala korban api-apian Allah; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.

Imamat 24:5-9 menyebutkan bahwa anak-anak Harun akan menempatkan roti sajian di atas meja emas murni di tempat kudus. Ayat 24:5-6 menjelaskan secara rinci bagaimana membuat roti sajian ini, dan ayat 24:7 menjelaskan dua makna yang disimbolkan oleh roti sajian.

Pertama, harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun, menjadi bagian ingat-ingatan (memorial portion), yaitu lambang untuk memperingati perjanjian antara Allah dan manusia, ingat-ingatan ini sama caranya dengan korban sajian, ingat-ingatan dengan kemenyan hanya boleh dipersembahkan kepada Allah.

Kedua, kemenyan yang merupakan bagian ingat-ingatan roti itu, harus menjadi korban api-apian bagi Allah. Kata korban api-apian berasal dari kata api, yang secara teoritis berhubungan dengan api. Namun ada beberapa korban yang tidak memerlukan api tetapi disebut korban api, yaitu korban curahan (Bil. 15:10) dan roti sajian (Im. 24:7, 9) Khususnya roti sajian, Kitab Suci tidak mengatakan roti sajian dipersembahkan di atas mezbah dengan api, melainkan ditempatkan di tempat kudus untuk dimakan imam (Im. 24:9). Sebaliknya, ada beberapa korban yang terkait dengan api namun tidak disebut korban api-apian, seperti korban penghapus dosa itu sendiri (semua korban adalah korban api, kecuali korban penghapus dosa). Bagaimana kita memahami situasi ini?

Salah satu penjelasan yang lebih baik adalah bahwa korban api-apian itu sendiri terkait dengan konsep persembahan hadiah, Jacob Milgrom sarjana Imamat otoritatif berpendapat korban api-apian adalah persembahan makanan (food gift) (lihat ESV 「a food offering to the LORD」), ini tidak berarti bahwa Allah perlu makan, tetapi makanan digunakan untuk melambangkan suatu persembahan kepada Allah, dan karena korban penghapus dosa itu sendiri bukanlah suatu persembahan hadiah, maka tidak disebut korban api, tetapi korban lain yang disebut korban api memiliki konsep persembahan hadiah, ini efektif menjelaskan mengapa korban penghapus dosa itu sendiri bukanlah korban api-apian tetapi korban lainnya termasuk sebagai korban api-apian.

Saat ini umat Kristiani tidak perlu lagi mempersembahkan korban api-apian, namun makna simbolisnya telah menjadi pengingat bagi umat Kristiani. Peraturan korban api-apian mengingatkan kita bahwa hidup itu sendiri adalah anugerah bagi Allah, hendaknya yang terbaik dipersembahkan kepada Allah.

Renungkan:
TU


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 24:13-23

Mata ganti mata, gigi ganti gigi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 24:13-23 [ITB])
10 Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki, ibunya seorang Israel sedang ayahnya seorang Mesir, di tengah-tengah perkemahan orang Israel; dan orang itu berkelahi dengan seorang Israel di perkemahan. 11 Anak perempuan Israel itu menghujat nama Allah dengan mengutuk, lalu dibawalah ia kepada Musa. Nama ibunya ialah Selomit binti Dibri dari suku Dan. 12 Ia dimasukkan dalam tahanan untuk menantikan keputusan sesuai dengan firman Allah.
13 Lalu berfirmanlah Allah kepada Musa: 14 Bawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan dan semua orang yang mendengar haruslah meletakkan tangannya ke atas kepala orang itu, sesudahnya haruslah seluruh jemaah itu melontari dia dengan batu.
15 Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Setiap orang yang mengutuki Allah harus menanggung kesalahannya sendiri. 16 Siapa yang menghujat nama Allah, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama Allah, haruslah dihukum mati.
17 Juga apabila seseorang membunuh seorang manusia, pastilah ia dihukum mati.
18 Tetapi siapa yang memukul mati seekor ternak, harus membayar gantinya, seekor ganti seekor.
19 Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: 20 patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya.
21 Siapa yang memukul mati seekor ternak, ia harus membayar gantinya, tetapi siapa yang membunuh seorang manusia, ia harus dihukum mati.
22 Satu hukum berlaku bagi kamu, baik bagi orang asing maupun bagi orang Israel asli, sebab Akulah Allah, Allahmu.
23 Demikianlah Musa menyampaikan firman itu kepada orang Israel,
lalu dibawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan, dan dilontarilah dia dengan batu. Maka orang Israel melakukan seperti yang diperintahkan Allah kepada Musa.

Imamat 24:10-12 menggambarkan anak seorang wanita Israel yang menghujat nama Allah. Bagaimana orang ini menghujat Allah? Entahlah, mungkin sengaja tidak dituliskan informasi konkretnya, karena penistaan menghujat nama Allah itu sendiri adalah hal yang berbahaya, bahkan catatan konkret pun berbahaya. Selain itu, pada zaman dahulu berbicara itu membawa kuasa, apakah itu berbicara tentang berkat atau kutukan, pasti ada semacam efek, sehingga konsekuensinya sangat serius.

Kita dapat menggunakan struktur engsel chiastik untuk memahami Imamat 24:13-23

A Allah berbicara kepada Musa (13)
B membawa laki-laki yang mengutuk nama Kudus itu keluar dari perkemahan. Setiap orang yang mendengarnya harus meletakkan tangan mereka di atas kepalanya; seluruh jemaah akan melontari dia dengan batu (14)
C Engkau harus mengatakan kepada orang Israel (15)
D Siapa pun mengutuk Allah, harus menanggung dosanya … orang asing maupun orang Israel asli … (15b-16)
E membunuh manusia pasti dihukum mati (17)
F membunuh ternak harus membayar ternak, nyawa ganti nyawa (18)
G membuat tubuh sesamanya cacat, seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya (19)
X patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi (20a)
G’ seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya (20b)
F’ memukul mati seekor ternak, harus membayar gantinya (21a)
E’ membunuh seorang manusia, ia harus dihukum mati (21b)
D’ orang asing maupun bagi orang Israel asli, satu hukum. Akulah TUHAN, Allahmu (22)
C’ Musa menyampaikan firman itu kepada orang Israel (23aa)
B’ dibawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan, melontari dia dengan batu (23ab)
A’ Orang Israel melakukan seperti yang diperintahkan Allah kepada Musa (23b)

Dari struktur sastra di atas dapat dilihat, pusat pesan sentralnya adalah patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi dalam ayat 20. Secara permukaan dipahami sebagai balas dendam, tetapi sebenarnya intinya adalah semacam hukuman yang setimpal (equal punishments) (Lex Talionis), ini mungkin mencerminkan budaya pada zaman itu. Jika seseorang bertindak merugikan orang dari keluarga yang lain, harus ditangani dengan kompensasi dan hukuman yang setimpal. Tujuannya adalah untuk memulihkan perdamaian satu sama lain, jangan mencari pembalasan yang lebih. Jadi ini adalah peraturan untuk mengurangi hukuman dan menghentikan balas dendam, bukan untuk meningkatkan pembalasan dendam. Contoh lain dari hukuman yang setimpal adalah Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu (Bil. 14:34) Selanjutnya, pada zaman itu raja-raja Timur Dekat kuno menyalahgunakan hukuman mati tanpa pengadilan dan menggunakan hukuman yang tidak setara untuk menangani kejahatan yang relatif kecil. Oleh karena itu, hukuman yang setimpal dalam hukum Israel menjadi kesaksian kepada zaman itu bahwa hukum Allah adalah adil dan benar.

Renungkan:
Apakah kita memperlakukan mereka yang menyinggung kita dengan sikap balas dendam? Mungkin kita akan menyimpan dendam dan berpikir bahwa kesalahan pihak lain membutuhkan lebih banyak pembalasan sebagai kompensasi kerugian kita, kita menuntut lebih, meminta pembalasan yang lebih daripada hukuman yang setimpal, kita mengurung diri dalam kebencian. Oleh karena itu, mulai hari ini, lepaskan segala macam mentalitas balas dendam terhadap orang lain, agar kita bisa melepaskan orang lain dan memperlakukan diri dengan baik. Terlebih, dalam Perjanjian Baru, Yesus menuntut kita untuk mengasihi musuh kita, perintah ini tidak hanya menggenapi hukum Taurat, tetapi juga melampaui hukum Taurat. Ini adalah contoh yang perlu dipelajari orang Kristen sepanjang hidup.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 24:1-4

Menyalakan cahaya lampu dan menyediakan minyak

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 24:1-4 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu minyak zaitun tumbuk yang tulen untuk lampu, supaya lampu dapat dipasang dan tetap menyala. 3 Harun harus tetap mengatur lampu-lampu itu di depan tabir yang menutupi tabut hukum, di dalam Kemah Pertemuan, dari petang sampai pagi, di hadapan Allah. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. 4 Di atas kandil dari emas murni haruslah tetap diaturnya lampu-lampu itu di hadapan Allah.

Tanpa cahaya, kehidupan tidak dapat lahir.

Ketika Allah menciptakan dunia, hal pertama yang diciptakan adalah terang (Kejadian 1:3-5) menjelaskan bahwa TUHAN menerangi dunia yang gelap dan kacau dengan cahaya yang Dia perintahkan, dan dunia yang kacau ini melambangkan kekuatan jahat, kekuatan yang mengancam keberadaan kehidupan dan membawa kecemasan serta kekacauan. Namun, Allah menggunakan kuasa-Nya untuk memerintahkan cahaya datang, cahaya ini membawa kehidupan ke dalam kegelapan, membawa harapan ke dalam kegelisahan. Cahaya juga melambangkan sifat Allah. Allah adalah Allah yang memberi kehidupan. Dia pertama-tama memberi cahaya agar dunia penuh kehidupan.

Imamat 24:1-4 menyatakan bahwa di dalam Kemah Pertemuan di depan tabir yang menutupi tabut hukum, dari malam hingga pagi Harun di hadapan Allah harus mengatur lampu-lampu itu. Ini menunjukkan bahwa lampu di tempat kudus tidak boleh padam, dan Harun melambangkan seperti Allah, di tempat kudus terus menerangi yang gelap, mengusir kegelapan. Kita harus melihat dari apa yang dikatakan dalam Kejadian 1 untuk memahami terang cahaya di tempat kudus ini, terang melambangkan kuasa Allah dan penciptaan, dan juga melambangkan kehidupan. Terang inilah yang menang atas kekacauan dan kegelapan. Dan Imamat 24:1-4 menyatakan bahwa harus ada lampu yang selalu menyala, yang melambangkan cahaya kekal (eternal light). Fokus lainnya adalah pada minyak, yang melambangkan pemeliharaan Allah, yang berarti bahwa hanya energi yang dianugerahkan Allah yang dapat bersinar untuk tempat kudus.

Tanggung jawab menyalakan pelita itu ada pada imam, sebagai perantara antara Allah dan umat-Nya, setiap tindakan imam memiliki makna simbolis dari ritual tersebut, dan sekarang imam perlu menyalakan pelita dan menyediakan minyaknya, membuat orang dapat melihat bahwa kemuliaan Allah itu kekal, melambangkan bahwa imam mewakili Allah untuk membawa cahaya terang bagi dunia. Tidak peduli seberapa besar kegelapan dunia, seberapa dalamnya dosa, dan seberapa besar kekerasan, tidak ada yang dapat menyangkal terang yang dibawakan oleh Allah, karena penyalaan pelita oleh imam adalah ketetapan kekal dari generasi ke generasi (zaman ke zaman), dan mewakili pelayanan yang kekal. Cahaya terang kekal membutuhkan pelayanan kekal, dan pelayanan kekal ini menyatakan bahwa meskipun kegelapan itu hebat, tetapi kegelapan itu berumur pendek, dan cahaya terang hidup merupakan suatu yang kekal, yang merupakan harapan hidup bagi manusia.

Renungkan:
Apakah hidup Anda gelap? Apakah lingkungan Anda penuh dengan kegelapan dosa? Apakah dunia yang Anda lihat penuh kekerasan? Apakah Anda melihat bahwa ada banyak orang jahat? Harap percayalah bahwa ini hanya sementara. Dalam Perjanjian Baru, kita sebagai imamat yang rajani harus selalu menyalakan pelita untuk bersinar bagi Allah, membuat dunia melihat cahaya kehidupan ada di mana-mana, agar kegelapan melihat akhir dirinya, agar kehidupan kelabu menjadi cerah, dan biarkan masa depan tanpa harapan berubah menjadi langit baru dan bumi baru yang penuh harapan. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 23:4-8

Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 23:4-8 [ITB])
4 Inilah hari-hari raya yang ditetapkan Allah, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
5 Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi Allah.
6 Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi Allah; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. 7 Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. 8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada Allah tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Paskah (Passover) berasal dari kata Ibrani pěsăh, yang memiliki tiga arti utama: (1) melewati dan memasuki tahun yang baru (passing over into new year); (2) mengacu pada persembahan korban Paskah; (3) Mengacu pada perayaan Paskah itu sendiri.

Paskah adalah salah satu dari tiga hari raya besar Yahudi. Orang-orang merayakan hari raya itu setiap tahun mulai dari tanggal 15 bulan pertama (bulan Nisan, yang merupakan bulan Maret sampai April dalam kalender Barat), selama tujuh hari (saat berada di Israel) atau delapan hari (saat tidak berada di Israel). Dalam beberapa hari ini tidak boleh makan apa pun yang mengandung ragi, jadi Paskah juga dikenal sebagai hari raya Roti Tidak Beragi, dan persembahan korban yang paling penting adalah mengorbankan domba Paskah. Jadi makna utama dari hari raya Paskah adalah mengorbankan domba Paskah, memasuki tahun baru dan memelihara hari raya.

Ketika kita membaca kitab Keluaran, kita tahu bahwa bani Israel telah menjadi budak di tanah Mesir selama lebih dari empat ratus tahun. Allah memanggil Musa dan Harun untuk memimpin bani Israel keluar dari Mesir. Setelah 9 bencana yang diturunkan, TUHAN menurunkan bencana ke sepuluh pembunuhan anak sulung untuk memaksa Firaun mengizinkan orang Israel meninggalkan Mesir. Allah melalui Musa dan Harun memerintahkan orang Israel untuk mempersiapkan Paskah sebelum mereka meninggalkan Mesir (Keluaran 12:1-20) dan menetapkan bulan ini sebagai bulan pertama. Saat senja tanggal 14 bulan ini, yaitu, sebelum malaikat yang membunuh anak sulung datang, setiap rumah orang Israel harus menyembelih seekor domba tanpa cacat, dan dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dengan hisop dibubuhkan darah itu pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya, dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga, pinggang berikat, kasut pada kaki dan tongkat di tangan, makan dengan buru-buru siap untuk pergi.

Pertama-tama, alasan mereka menjadi orang Israel bukan karena keturunan darah mereka, tetapi karena mereka adalah umat perjanjian, mereka dipanggil untuk meninggalkan Mesir, semua yang percaya bahwa ini adalah panggilan TUHAN harus mengikuti Musa untuk meninggalkan Mesir. Karena itu, hanya mereka yang percaya yang akan memelihara Paskah seperti yang diperintahkan, mereka yang percaya yang akan menyembelih domba ini. Sampai Keluaran pasal 19, kita membaca bahwa TUHAN datang di Gunung Sinai, membuat perjanjian kasih karunia dengan Israel dan memberikan hukum Allah. Hanya mereka yang dapat meninggalkan Mesir yang dapat membuat perjanjian dengan TUHAN di Gunung Sinai dan menjadi umat perjanjian. Dengan demikian kita melihat urutan langkah: TUHAN menyelamatkan dahulu, lalu membuat perjanjian, artinya, orang Israel terlebih dahulu mengalami keselamatan dan kemudian menerima permintaan hukum. Oleh karena itu, mereka yang merayakan hari raya Paskah harus terlebih dahulu menerima anugerah keselamatan Allah, kemudian menjadi umat perjanjian Allah, yaitu mereka yang percaya akan panggilan keselamatan Allah dan mengingat perbuatan-Nya.

Kedua, berharga diperhatikan adalah penggunaan darah, para ahli umumnya berpendapat bahwa kata darah yang digunakan dalam Keluaran 12:7 memiliki dua arti utama: (1) artinya penahiran penyucian, karena darah disapukan memakai hisop melambangkan penahiran, menahirkan rumah; (2) artinya melindungi dari bahaya (apotropaic), darah ini dapat melindungi orang-orang di rumah dari bencana pembunuhan. Kedua makna ini sekaligus melambangkan keselamatan Allah. Di bawah perlindungan darah, umat Allah akan dihindarkan dari penghakiman Allah.

Renungkan:
Melalui Paskah, orang Israel mengingat status mereka sebagai umat perjanjian. Hidup mereka tidak ditentukan oleh materi dan orang lain, tetapi oleh perjanjian dengan Allah. Bahkan jika mereka menghadapi kesulitan, mereka akan yakin bahwa TUHAN tidak akan pernah meninggalkan mereka. Dan apakah Anda juga percaya bahwa diri Anda adalah umat perjanjian kasih karunia? Apakah Anda percaya bahwa Allah memiliki perjanjian yang kekal dengan Anda?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 23:1-3

Hari Sabat sebagai hari pertemuan kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 23:1-3 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Hari-hari raya yang ditetapkan Allah yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan yang Kutetapkan, adalah yang berikut.
3 Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi Allah di segala tempat kediamanmu.
4 Inilah hari-hari raya yang ditetapkan Allah, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
5 Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi Allah.
6 Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi Allah; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. 7 Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. 8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada Allah tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Imamat pasal 23 dan pasal 25 mencatat kekudusan dalam dimensi waktu, yaitu dari antara tujuh hari dalam seminggu, dan dari antara sepanjang tahun, ada hari-hari tertentu kudus daripada yang lain, ini tidak berarti bahwa hari itu sendiri telah berubah esensinya, tetapi berarti bahwa orang Israel harus memandang kepada TUHAN yang Kudus, mengkhususkan hari-hari kudus tertentu untuk mengingat bahwa mereka adalah umat perjanjian dan bahwa TUHAN adalah Allah mereka. Imamat 23:2 menggunakan hari-hari raya yang ditetapkan Allah sebagai pendahuluan, mengangkat tema seluruh pasal 23: hari raya kudus.

Hari Sabat pertama kali dicatat dalam Imamat 23:3. Beberapa peneliti berpendapat bahwa tata cara hari Sabat menjadi dasar dari tahun Sabat (7 tahun), tahun Yobel (tahun ke-50), dan hari raya lainnya, dan karena itu merupakan hari yang sangat penting. Akan tetapi, jika kita berbicara tentang hari Sabat, sering kali kita hanya berbicara tentang hari libur dan istirahat, tetapi penetapan hari Sabat bukan untuk hari libur, melainkan termasuk peraturan tentang bekerja dan peraturan istirahat.

Dalam hal peraturan kerja, Imamat 23:3 mengharuskan orang Israel untuk melakukan pekerjaan dalam enam hari, tetapi Keluaran 20:9 menyatakan enam hari bekerja keras dan melakukan semua pekerjaan, yang berarti bahwa orang Israel tidak boleh bermalas-malasan dalam enam hari, dan harus bekerja dengan tekun. Kata bekerja dapat diartikan sebagai karir, yang berarti bahwa orang Israel harus melakukan yang terbaik untuk mengelola karir mereka sendiri dalam enam hari.

Mengenai peraturan istirahat Sabat, Imamat 23:3 mengharuskan untuk tidak melakukan pekerjaan apa pun. Ini tidak berarti bahwa tidak dapat melakukan apa-apa, yang dibatasi tidak boleh dilakukan adalah pada karier (juga kata pekerjaan). Dengan demikian, pada hari Sabat Jangan melakukan hal-hal tentang karier, tetapi dapat melakukan hal-hal yang bukan karier. Selain itu, hari Sabat adalah hari kudus, ada pertemuan kudus, orang Israel harus mengesampingkan karier mereka dan memisahkan hari ini khusus untuk dikuduskan bagi TUHAN, dan sekali lagi dalam pertemuan kudus mengakui TUHAN sebagai Allah mereka.

Renungkan:
Kita hidup dalam kesibukan di kota yang tersibuk di dunia, sedikit atau bayak kita mendefinisikan nilai-nilai kita berdasarkan seberapa sibuk kita, dan bahkan membiarkan diri kita sibuk tujuh hari seminggu, sehingga kita dan orang lain merasa bahwa kita adalah orang penting. Namun, peraturan Sabat membuat kita melihat bahwa nilai kita tidak terletak pada karier kita tetapi pada hubungan kudus kita dengan Allah. Ketika Allah menetapkan hari Sabat sebagai hari kudus, itu sama dengan membuat agar orang Israel menyatakan bahwa diri mereka sepenuhnya memasuki ranah kekudusan, dengan demikian, itu menjadi penentu arah kehidupan. Bahkan jika karier selama 6 hari seakan-akan dapat mewujudkan diri, itu tidak dapat dibandingkan dengan keberadaan kudus hari ketujuh. Dan apakah Anda mendefinisikan diri Anda sebagai orang yang sibuk, Anda membuat kehilangan diri dalam pekerjaan?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 21:1-4

Para imam janganlah menajiskan diri

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 21:1-4 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya, 2 kecuali kalau yang mati itu adalah kerabatnya yang terdekat, yakni: ibunya, ayahnya, anaknya laki-laki atau perempuan, saudaranya laki-laki, 3 saudaranya perempuan, yang masih perawan dan dekat kepadanya karena belum mempunyai suami, dengan mereka itu bolehlah ia menajiskan diri. 4 Sebagai suami janganlah ia menajiskan diri di antara orang-orang sebangsanya dan dengan demikian melanggar kekudusannya.
5 Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya.
6 Mereka itu harus kudus bagi Allahnya dan janganlah mereka melanggar kekudusan nama Allahnya, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian Allah, santapan Allah mereka, dan karena itu haruslah mereka kudus.
7 Janganlah mereka mengambil seorang perempuan sundal atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, karena imam itu kudus bagi Allahnya.
8 Dan kamu harus menganggap dia kudus, karena dialah yang mempersembahkan santapan Allahmu. Ia harus kudus bagimu, sebab Aku, Allah, yang menguduskan kamu adalah kudus.
9 Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api.
10 Imam yang terbesar di antara saudara-saudaranya, yang sudah diurapi dengan menuangkan minyak urapan di atas kepalanya dan yang ditahbiskan dengan mengenakan kepadanya segala pakaian kudus, janganlah membiarkan rambutnya terurai dan janganlah ia mencabik pakaiannya. 11 Janganlah ia dekat kepada semua mayat, bahkan janganlah ia menajiskan diri dengan mayat ayahnya atau ibunya. 12 Janganlah ia keluar dari tempat kudus, supaya jangan dilanggarnya kekudusan tempat kudus Allahnya, karena minyak urapan Allahnya, yang menandakan bahwa ia telah dikhususkan, ada di atas kepalanya; Akulah Allah.
13 Ia harus mengambil seorang perempuan yang masih perawan. 14 Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya, 15 supaya jangan ia melanggar kekudusan keturunannya di antara orang-orang sebangsanya, sebab Akulah Allah, yang menguduskan dia.

Imamat pasal 21 – 22 adalah dua pasal yang sangat khusus, terutama menjelaskan kualifikasi untuk menjadi seorang imam dan syarat dalam mempersembahkan korban. M. Hildenbrand menunjukkan struktur chiastik (berbentuk engsel) atas dua pasal ini:

A Syarat menjadi imam mempersembahkan korban dan kerabatnya (21:1-15)
………B. Orang yang cacat tidak boleh menjadi imam (21:16-23)
………………X Bagaimana seharusnya imam mencegah pencemaran benda-benda kudus (22:1-16)
………B’ Hewan yang cacat tidak boleh menjadi persembahan korban (22:17-25)
A’ Syarat menjadi persembahan korban dan kerabatnya (22:26-28)

Dari struktur berbentuk engsel di atas, terlihat bahwa syarat menjadi imam memiliki korespondensi dengan syarat menjadi persembahan korban, imam dan korban itu sendiri tidak boleh cacat, terdapat kesamaan syarat antara imam dan korban. Ayat ini bukan untuk mendiskriminasi imam yang memiliki cacat tubuh, mereka tidak dapat melayani di tempat kudus bukan karena kenajisan moral (moral impurity), tetapi untuk menunjukkan manusia dan korban yang lengkap (tidak cacat) adalah simbol keutuhan, tahir ritual (ritual purity). Korban yang tidak cacat melambangkan persembahan korban yang terbaik, orang tidak boleh mempersembahkan korban yang kualitas rendah kepada Allah, tetapi mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Demikian pula, seorang imam yang tidak cacat melambangkan orang yang utuh, dapat mewakili orang Israel mempersembahkan korban. (Zaman ini tidak lagi membutuhkan ibadah di Kemah Pertemuan, jadi tuntutan imam yang tidak cacat tidak lagi berlaku)

Bilangan 19:18-19 menunjukkan bahwa rakyat Israel harus menahirkan diri setelah menyentuh mayat, bahkan warga sipil harus memperhatikan kenajisan akibat menyentuh mayat, apalagi dengan imam. Karena imam menyentuh mayat tidak hanya membahayakan hidupnya saat melayani, tetapi juga mempengaruhi kesejahteraan seluruh Israel. Karena itu, imam adalah kepala bagi umat (Im. 21:4), janganlah menajiskan diri sendiri. Walaupun imam membahayakan hidupnya jika menyentuh mayat, tetapi mereka dapat menangani kerabat terdekat yang mati (Im 21:2-3), karena jika tidak melakukan penguburan untuk orang mati adalah kejahatan besar (Ul. 21:23), ini lebih jahat daripada menyebabkan kenajisan pada diri imam itu.

Renungkan:
Para imam menjadi wakil umat Israel, mengabdikan diri pada penanganan benda-benda kudus dan korban, sehingga harus tidak cacat. Demikian juga, korban tang dipersembahkan harus tidak cacat. Apakah kita mempersembahkan kehidupan dan hal-hal kualitas rendah kepada Allah? Sering kali, di hati kita posisi Allah lebih rendah, kita berpikir bahwa selama kita mengorbankan sebagian dari hidup kita, kita dapat bersembunyi dari surga dan secara permukaan sudah memberi yang terbaik, menjadi kesalehan palsu untuk memenangkan tepuk tangan orang lain. Siapa tahu ini setara dengan mempersembahkan cacat kekurangan kepada Allah dan menyimpan yang bauk untuk diri sendiri. Mohon Tuhan membantu kita agar mempersembahkan yang terbaik kepada Allah sebagai respons atas kasih-Nya yang telah mengorbankan hidup untuk kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 20:10-21

Keseriusan tindakan seksual yang najis

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 20:10-21 [ITB])
10 Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.
11 Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang isteri ayahnya, jadi ia melanggar hak ayahnya, pastilah keduanya dihukum mati, dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. 12 Bila seorang laki-laki tidur dengan menantunya perempuan, pastilah keduanya dihukum mati; mereka telah melakukan suatu perbuatan keji, maka darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
13 Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. 14 Bila seorang laki-laki mengambil seorang perempuan dan ibunya, itu suatu perbuatan mesum; ia dan kedua perempuan itu harus dibakar, supaya jangan ada perbuatan mesum di tengah-tengah kamu.
15 Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itupun harus kamu bunuh juga. 16 Bila seorang perempuan menghampiri binatang apapun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
17 Bila seorang laki-laki mengambil saudaranya perempuan, anak ayahnya atau anak ibunya, dan mereka bersetubuh, maka itu suatu perbuatan sumbang, dan mereka harus dilenyapkan di depan orang-orang sebangsanya; orang itu telah menyingkapkan aurat saudaranya perempuan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.
18 Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang perempuan yang bercemar kain, jadi ia menyingkapkan aurat perempuan itu dan membuka tutup lelerannya sedang perempuan itupun membiarkan tutup leleran darahnya itu disingkapkan, keduanya harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya. 19 Janganlah kausingkapkan aurat saudara perempuan ibumu atau saudara perempuan ayahmu, karena aurat seorang kerabatnya sendirilah yang dibuka, dan mereka harus menanggung kesalahannya sendiri. 20 Bila seorang laki-laki tidur dengan isteri saudara ayahnya, jadi ia melanggar hak saudara ayahnya, mereka mendatangkan dosa kepada dirinya, dan mereka akan mati dengan tidak beranak. 21 Bila seorang laki-laki mengambil isteri saudaranya, itu suatu kecemaran, karena ia melanggar hak saudaranya laki-laki, dan mereka akan tidak beranak.

Im. 20:10-21 sekali lagi menyebutkan kekudusan tindakan seksual seperti Im. 18:6-23, melarang semua tindakan seksual di luar pernikahan, termasuk tindakan seksual sesama jenis, inses, dan kebinatangan. Pada dasarnya, larangan ini semua mengulang Im. 18:6-23, tidak banyak hal baru. Apa perbedaan antara kedua perikop Kitab Suci?

Im. 20:10-21 mengulangi larangan Im. 18:6-23 tentang seks di luar nikah, tetapi dalam banyak larangan menambahkan deskripsi dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. Di antaranya darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri dapat memiliki arti menumpahkan darah / pembunuhan (bloodguilt), yang artinya juga untuk mengatakan, ketika seseorang membuat inses, seks homoseksual dan kebinatangan, dosa-dosa mereka akan sama saja dengan dosa pembunuhan dan menumpahkan darah, tidak heran setelah itu perlu menggunakan dihukum mati sebagai hukuman, ini sebenarnya adalah hukuman retribusi (measure-for-measure), yaitu, ketika seseorang membunuh, maka harus dibunuh sebagai balasan setimpalnya.

Dengan demikian, Im. 20:10-21menyatakan keseriusan perbuatan incest, homoseksual seks dan seksual kebinatangan dibawa ke tingkat sama dengan pembunuhan, karena seksualitas dan kemanusiaan saling terkait secara timbal balik. Seks bukan hanya tindakan seks (sex act), ini adalah tentang manifestasi perwujudan sifat kemanusiaan seseorang. Manusia selalu berada sebagai laki-laki atau wanita, pertemuan antara manusia dengan manusia, didasarkan dan berjalan dalam keberadaan sebagai laki-laki atau wanita, karena itu jenis kelamin (gender) dan seksualitas (sexuality) tidak hanya ada / signifikan sejenak saja saat terjadi hubungan seksual, tetapi itu ada dalam sifat hubungan interpersonal (co-humanity), mendefinisikan esensi mendasar mengapa seseorang adalah manusia. Perilaku seksual adalah perilaku antara suami dan istri yang memiliki keintiman relasi dalam hubungan perjanjian sebagai perwujudan kemanusiaan, sehingga perlu komitmen perjanjian pernikahan untuk dapat dengan aman dan menghormati satu sama lain. Dengan demikian, jika seseorang terlibat dalam inses, perilaku seksual sesama jenis, dan kebinatangan di luar pernikahan, itu sama saja dengan menyangkal perjanjian, menyangkal kemanusiaan, setara dengan membunuh pasangannya, sehingga diperlukan hukuman berat.

Renungkan:
Dalam masyarakat saat ini, kita tidak akan menjatuhkan hukuman mati untuk inses, perilaku seksual sesama jenis, dan kebinatangan, dan gereja tidak memiliki hak untuk menghukum mati di masyarakat. Namun, Alkitab sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya kekudusan dalam perilaku seksual. Jika kita gagal melindungi tubuh kita dan membiarkan nafsu mengendalikan kita, kita tidak akan bisa menjalani perilaku yang seharusnya dimiliki oleh umat kudus di hadapan Allah. Kita tidak bisa melestarikan kemanusiaan sejati untuk diri kita sendiri dan orang lain. Pada titik ini, kita setara dengan membunuh diri kita sendiri dan orang lain. Kematian ini mungkin belum tentu kematian kehidupan manusia, tetapi kematian kodrat manusia. Kita harus berhati-hati.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 20:1-5

Tidak boleh mengorbankan anak kepada Molokh

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 20:1-5 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 「Engkau harus berkata kepada orang Israel:
Setiap orang, baik dari antara orang Israel maupun dari antara orang asing yang tinggal di tengah-tengah orang Israel, yang menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, pastilah ia dihukum mati, yakni rakyat negeri harus melontari dia dengan batu. 3 Aku sendiri akan menentang orang itu dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya, karena ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, dengan maksud menajiskan tempat kudus-Ku dan melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus.
4 Tetapi jikalau rakyat negeri menutup mata terhadap orang itu, ketika ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, dan tidak menghukum dia mati, 5 maka Aku sendiri akan menentang orang itu serta kaumnya dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya dan semua orang yang turut berzinah mengikuti dia, yakni berzinah dengan menyembah Molokh.

Ketika kitab Imamat sedang menuliskan kekudusan perilaku seksual dan kekudusan keadilan sosial, tiba-tiba di pasal 20 beralih kepada jenis peraturan lain: tidak boleh mengorbankan anak kepada Molokh. Bagaimana seharusnya kita memahami peraturan ini? Pengingat apa untuk hidup kita?

Pertama-tama, apa sebenarnya Molokh itu? Ketika kita memeriksa literatur dan belajar tentang dewa-dewa dari Timur Dekat kuno, kita tidak menemukan adanya dewa Molokh, sehingga nama ini tampaknya tidak mengacu pada satu dewa yang spesifik, tetapi mengacu pada sesuatu yang lain. Beberapa ahli dengan bukti yang menyakinkan menunjukkan bahwa Molokh (Molech) adalah kombinasi dari dua kata bahasa Ibrani, yakni kata raja dan hina, itu adalah mengambil vokal raja dan kombinasi dengan kata hina, sehingga Molokh mungkin berarti raja yang hina memalukan, yaitu, jika seorang raja mengorbankan anak-anaknya sebagai korban bakaran kepada dewa-dewa, raja itu adalah raja yang hina memalukan. Di masa itu, banyak raja Timur Dekat Kuno mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban kepada para dewa. Di satu sisi, mereka berharap mencoba untuk menyenangkan para dewa dan mengungkapkan pengorbanan diri mereka. Di sisi lain, juga cenderung menjadi alat politik, agar rakyat bisa melihat betapa saleh diri mereka dan penuh pengorbanan, mendorong rakyat untuk melakukan pengorbanan yang sama, ini adalah alat politik yang efektif dalam budaya saat itu. Namun, umat Israel tidak boleh melakukannya, tidak boleh mengikuti arus utama budaya Timur Dekat kuno, dan bahkan itu adalah teknik politik yang sering dipakai dan efektif, tidak boleh ditiru. Orang Israel harus berbeda dari bangsa-bangsa, harus menghidupi kualitas hidup kudus.

Dengan demikian, tuntutan tidak boleh mempersembahkan anak-anak kepada Molokh sebenarnya merupakan tuntutan untuk tidak meniru bangsa-bangsa mempergunakan anak-anak mereka sendiri sebagai sarana politik, di satu sisi, menunjukkan rasa hormat dan berharga bagi kehidupan manusia, dan di sisi lain, itu juga menunjukkan bahwa orang Israel harus berbeda dari bangsa-bangsa. Orang Israel sering tergoda kebiasaan bangsa-bangsa asing. Mereka sering tergoda untuk memerintah negaranya sendiri dengan apa yang menurut bangsa asing adalah cara yang efektif. Terkadang ketika mereka melihat negara lain kuat, mereka cenderung menggunakan tangan orang lain untuk memerintah. Dan ternyata, raja Ahas dari Yehuda membakar anak-anaknya sebagai korban dalam api (2 Taw. 28:3), dan tindakannya jelas dipengaruhi oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, penulis Imamat harus dengan jelas menyatakan larangan ini dalam 20:1-5.

Jika orang Israel atau orang asing yang tinggal di tengah-tengah melakukan ini, maka rakyat negeri harus melontari dia dengan batu sampai mati (20:2), untuk menghapus kejahatan dari umat itu, dan Allah sendiri akan menentang orang itu dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya (20:3) artinya orang itu bukan lagi bagian dari umat anugerah. Selanjutnya, jika seseorang melihat ada orang yang melakukan ini namun menutup mata, ia juga harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (20:4, 5), menunjukkan bahwa ini adalah salah satu kejahatan paling serius, dan pelakunya harus menerima hukuman.

Renungkan:
Pernahkah Anda tergoda untuk mencapai tujuan Anda dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Dahulu, Allah melarang orang Israel untuk berasimilasi dengan kebiasaan bangsa-bangsa asing, hari ini, apakah Anda secara bertahap berasimilasi dengan praktik orang lain? Berdoa memohon agar Allah membantu kita untuk mengingat perintah Allah dan tidak melakukan dosa.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.