Tag Archives: Berkat dan Kutuk

Yehezkiel 4:9-17

Mematahkan tongkat makanan

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 4:9-17 [ITB])
9 Selanjutnya ambillah gandum, jelai, kacang merah besar, kacang merah kecil, jawan dan sekoi dan taruhlah dalam satu periuk dan masaklah itu menjadi roti bagimu.
Itulah makananmu selama engkau berbaring pada sisimu, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari.
10 Dan makananmu yang harus kaumakan akan ditentukan timbangannya, yakni dua puluh syikal satu hari; makanlah itu pada waktu-waktu tertentu.
11 Air minumpun bagimu akan ditentukan, seperenam hin banyaknya; minumlah itu pada waktu-waktu tertentu.
12 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka.
13 Selanjutnya TUHAN berfirman: Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana.
14 Maka kujawab: Aduh, Tuhan ALLAH, sesungguhnya, aku tak pernah dinajiskan dan dari masa mudaku sampai sekarang tak pernah kumakan bangkai atau sisa mangsa binatang buas; lagipula tak pernah masuk ke mulutku ini daging yang sudah basi.
15 Lalu firman-Nya kepadaku: Lihat, kalau begitu Aku mengizinkan engkau memakai kotoran lembu ganti kotoran manusia dan bakarlah rotimu di atasnya.
16 Sesudah itu Ia berfirman kepadaku: Hai, anak manusia, sesungguhnya, Aku akan memusnahkan persediaan makanan di Yerusalem dan mereka akan memakan roti yang tertentu timbangannya dengan hati yang cemas; juga mereka akan meminum air dalam ukuran terbatas dengan hati yang gundah-gulana 17 dengan maksud, supaya mereka kekurangan makanan dan minuman dan mereka semuanya menjadi gundah-gulana, sehingga mereka hancur di dalam hukumannya.

Paragraf ini mencatat bagian lain dari drama profetik, menjelaskan makanan yang dimakan Yehezkiel saat dia berbaring miring selama 390 hari, dan tema pematahan tongkat makanan dijelaskan di berbagai tempat dalam deskripsinya.

Pertama-tama, ayat 9 mencatat enam tumbuhan sebagai makanan, yang merupakan tanaman umum di Timur Dekat kuno. Allah berpesan kepada Yehezkiel untuk memakan makanan campuran ini, ini tidak melanggar tuntutan hukum Taurat, Imamat 19:19 hanya memerintahkan untuk tidak menabur dua benih di lahan yang sama, tetapi tidak melarang orang untuk makan campur. Lalu, Allah memerintahkan Yehezkiel untuk makan ini untuk menunjukkan bahwa makanan campuran ini biasanya dimakan ketika kota sedang diserang dan dikepung, ini adalah karena keadaan kekurangan makanan, tidak mungkin bagi orang-orang di kota untuk menemukan cukup makanan dari jenis yang sama, sehingga hanya bisa makan campuran.

Kedua, di ayat 12, TUHAN memerintahkan Yehezkiel untuk menggunakan kotoran manusia untuk memanggang makanan, meskipun menggunakan kotoran untuk memanggang makanan adalah cara memasak yang umum di Timur Dekat kuno, namun menggunakan kotoran manusia untuk memanggang adalah najis, karena hukum Taurat menyatakan bahwa orang setelah membuang hajat harus ditimbuni tanah, untuk menghindari kenajisan (Ulangan 23:12-14, Di luar perkemahan itu haruslah ada bagimu suatu tempat ke mana engkau pergi untuk kada hajat. Di antara perlengkapanmu haruslah ada padamu sekop kecil dan apabila engkau jongkok kada hajat, haruslah engkau menggali lubang dengan itu dan menimbuni kotoranmu …). Di sini Allah memerintahkan Yehezkiel menggunakan kotoran manusia untuk memasak, yang berarti bahwa ketika Yerusalem dikepung, tidak ada bahan bakar untuk memasak dan hanya kotoran manusia yang bisa digunakan. Akan tetapi, Yehezkiel mengeluarkan suara mengaduh sedih, menyatakan bahwa sebagai seorang imam, dalam hidupnya dia pernah belum makan apapun yang najis (ayat 14), maka TUHAN memaklumi perasaan dia dan memintanya untuk mengganti kotoran manusia dengan kotoran sapi.

Terakhir, ayat 16 menjelaskan makna dari drama profetik ini, yaitu TUHAN akan mematahkan tongkat makanan Yerusalem (dan ITB, RCUV persediaan makanan, KJV the staff of bread). Frasa ini diambil dari Imamat 26:26 Jika Aku memusnahkan persediaan makananmu, maka sepuluh perempuan akan membakar roti di dalam satu pembakaran. Mereka akan mengembalikan rotimu menurut timbangan tertentu, dan kamu akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang, ditegaskan bahwa ketika bangsa Israel melanggar perintah, ketetapan, dan hukum Allah, maka Ia akan mematahkan tongkat makanan. Ini adalah metafora bahwa makanan adalah tongkat yang menopang kehidupan. Itu berasal dari kebiasaan pada zaman itu orang akan menggunakan tongkat kayu untuk mengangkut makanan. Dengan demikian, seluruh drama profetik adalah untuk menyampaikan pesan penghakiman Allah atas Yerusalem, dan untuk menjelaskan bahwa penghakiman yang membinasakan ini adalah sisi kutuk dari syarat perjanjian, yang merupakan janji dari TUHAN mematahkan tongkat makanan (Imamat 26:26 ). Dengan cara ini, Kitab Suci membawakan penjelasan teologis atas kehancuran Yerusalem dan orang-orang tidak memiliki makanan, alasannya bukanlah karena kemenangan orang Babel, bukan karena nasib buruk orang Israel, tetapi karena orang-orang itu melanggar perintah Allah. Sesuai dengan janji dalam perjanjian, Allah memberikan kutukan kepada orang Israel dan menghukum mereka sesuai dengan klausul (ketentuan tersendiri dari suatu perjanjian).

Renungkan:
Kutukan bagian dari perjanjian adalah fokus dari paragraf ini. Orang-orang Israel adalah umat perjanjian, di sinilah identitas mereka berada, ketika mereka mematuhi perintah Allah, maka Allah menjanjikan berkat, tetapi ketika mereka melanggar perintah, Allah berjanji untuk menurunkan kutuk (Im. 26). Ketentuan berkat dan kutuk dalam perjanjian ini membawakan berkat dan disiplin bagi orang Israel. Teologi perjanjian ini membawakan tafsir teologis tentang penderitaan dan kehancuran yang mereka alami, sehingga mereka sangat mendalam memahami bahwa penderitaan yang mereka hadapi adalah disiplin perjanjian Allah, seperti halnya seorang ayah yang mencintai anak-anaknya maka mendisiplinkan anak-anaknya sendiri. Apakah kita semua menganggap diri kita sendiri sebagai warga perjanjian? Jika kita sedang menerima disiplin, dapatkah kita juga memahami dan menghargai bahwa disiplin adalah kehendak Allah? Bagaimana saat dalam disiplin bisa membantu diri sendiri mendapatkan hikmat bijak untuk hormat takut akan Allah?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 1- 11 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Januari 202 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 1 (Ulangan 30:1-6)

「Pengharapan dalam Perjanjian」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ulangan 30:1-6 [ITB])
1 Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, 2 dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
3 maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau.
Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. 4 Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau.
5 TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula.
Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu.
6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup

Kemarin, telah ditunjukkan bahwa Ratapan Yeremia mengidentifikasi penderitaan langsung sebagai kutukan seperti yang ditentukan dalam perjanjian, menunjukkan bahwa alasan mengapa orang Israel ditawan adalah karena mereka melanggar hukum dan ketetapan Allah, sehingga akhirnya TUHAN (Yahweh) menggunakan Babilon untuk menawan umat-Nya. Akan tetapi, teologi perjanjian tidak hanya berhenti sampai di situ, jika tidak maka orang Israel akan hidup dalam keputusasaan. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian bukan hanya penjelasan teologis atas penderitaan, atau hanya penjelasan atas sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian mengandung unsur-unsur pertobatan dan pengakuan dosa (Ul. 30:1-6), sehingga orang Israel yang masih ditawan dalam pengasingan dapat memiliki kemungkinan untuk bertobat, dan agar mereka memiliki harapan untuk mengubah kutukan menjadi berkat. Dan yang paling penting, ratapan Yeremia percaya pada harapan perjanjian ini (Ratapan 3:19-27, klik untuk membaca).

Ulangan 30:1-6 mengilustrasikan janji penting Allah dalam perjanjian, yakni bahwa ketika orang Israel ditawan ke pengasingan, dalam keadaan mengalami kutuk mereka akan mengingat keadaan masa lalu yang diberkati, mengingat janji berkat dalam klausa perjanjian (Ulangan 28:1-14, klik untuk membaca), dan mereka bersedia untuk kembali kepada TUHAN (Yahweh) Allah mereka dengan segenap hati dan jiwa, serta bersedia untuk bertobat dan mengakui dosa-dosa mereka. Allah berjanji kepada mereka bahwa bahkan jika mereka terserak sampai di ujung dunia, Allah pasti akan dapat mengumpulkan kembali mereka, dan kembali ke Yerusalem, sehingga mereka sekali lagi memperoleh tanah Kanaan sebagai warisan mereka. Dengan demikian, pengakuan dosa dan penyesalan menjadi syarat untuk mengubah kutuk menjadi berkat, syarat ini bukan untung-untungan, tetapi janji TUHAN kepada umat-Nya, yang mendefinisikan harapan dalam penderitaan (definisi: artinya ada kepastian). Ternyata harapan sejati bukanlah tentang kesombongan kepercayaan diri, mengubah kutukan dengan kekuatan sendiri, harapan sejati datang dari pengakuan dosa dalam kerendahan hati, mengakui bahwa hakikat diri kita telah berdosa terhadap Allah, dan dalam kenyataan ini melihat janji agung dari TUHAN (Yahweh). Sehingga berkat yang akan kita dapatkan di masa yang akan datang bukanlah karena kemampuan diri kita sendiri, melainkan anugerah dan pemberian dalam kedaulatan Allah. Dengan demikian, harapan yang didefinisikan dalam ketentuan perjanjian memungkinkan umat Allah untuk kembali ke kemanusiaan yang sesungguhnya, yakni kemanusiaan yang takut akan Allah dan yang menjauh dari kejahatan. Itu juga kemanusiaan yang tidak berani sombong dan memandang diri mampu di hadapan Allah, yaitu kemanusiaan yang bertobat mengaku dosa dengan rendah hati. Inilah yang menjadi inti iman orang Israel, itulah yang menjadi definisi dari integritas keutuhan diri mereka.

Yeremia percaya pada janji terkait pertobatan pengakuan dosa dalam Perjanjian yang didefinisikan dalam Ulangan, dan penyair Ratapan percaya pada kesetiaan Allah terhadap Perjanjian ini (Ratapan 3:22-23, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!), jadi penyair Ratapan menengadahkan kepala berharap kepada Allah (Ratapan 3:24-25, TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia), penyair Ratapan bersedia untuk mengakui dosa-dosanya dan bertobat (Ratapan 3:40 Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN), dan percaya bahwa sesuatu yang baru akan datang setiap pagi (Ratapan 3:23), yaitu hal-hal yang mengubah kutukan menjadi berkat pasti akan datang, ini bukan ilusi pengagum kehebatan diri, tetapi kebenaran dari janji TUHAN (Yahweh).

Renungkan:
Sifat manusia adalah menolak untuk mengaku dosa, tidak menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, atau untuk tidak memandang dosa seperti yang didefinisikan oleh Allah. Orang akan mengarang alasan untuk diri mereka sendiri dan menggambarkan dosa sebagai sesuatu lain yang bisa dimaklumi. Singkatnya, orang selalu menolak untuk mengakui hakikat diri. Janji dalam Ulangan 30:1-6 menyampaikan sesuatu yang menjungkirbalikkan apa yang diyakini manusia, ini memutarbalikkan pemahaman kita tentang berkat, manusia percaya bahwa berkat datang dari upaya dan kualifikasi kemampuan kita sendiri, dan kita harus meningkatkan nilai diri untuk mendapatkannya, namun ternyata berkat-berkat yang datang dari Allah membutuhkan kerendahan hati dan pertobatan penyesalan atas dosa. Ketika seseorang mengenali hakikat diri yang sebenarnya dari manusia yang berdosa, matanya dapat terbuka, memahami bahwa semua materi dan damai bukan datang karena sudah seharusnya, jika tidak ada perjanjian dan janji Allah, semua ini adalah tidak ada. Apakah Anda bersedia untuk bertobat dari dosa-dosa Anda, menganggap Allah sebagai Allah, menganggap manusia sebagai manusia, percaya bahwa janji Allah atas harapan ini tidak pernah berubah? Apakah Anda bersedia untuk bertobat di bawah disiplin didikan Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Imamat 26:14-33

Hidup terkutuk

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 26:14-33 [ITB])
14 Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu, 15 jikalau kamu menolak ketetapan-Ku dan hatimu muak mendengar peraturan-Ku, sehingga kamu tidak melakukan segala perintah-Ku dan kamu mengingkari perjanjian-Ku, 16 maka Akupun akan berbuat begini kepadamu, yakni Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu, batuk kering serta demam, yang membuat mata rusak dan jiwa merana; kamu akan sia-sia menabur benihmu, karena hasilnya akan habis dimakan musuhmu. 17 Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, dan mereka yang membenci kamu akan menguasai kamu, dan kamu akan lari, sungguhpun tidak ada orang mengejar kamu.
18 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, maka Aku akan lebih keras menghajar kamu sampai tujuh kali lipat karena dosamu, 19 dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan dan akan membuat langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga. 20 Maka tenagamu akan habis dengan sia-sia, tanahmu tidak akan memberi hasilnya dan pohon-pohonan di tanah itu tidak akan memberi buahnya.
21 Jikalau hidupmu tetap bertentangan dengan Daku dan kamu tidak mau mendengarkan Daku, maka Aku akan makin menambah hukuman atasmu sampai tujuh kali lipat setimpal dengan dosamu. 22 Aku akan melepaskan kepadamu binatang liar yang akan memunahkan anak-anakmu dan yang akan melenyapkan ternakmu, serta membuat kamu menjadi sedikit, sehingga jalan-jalanmu menjadi sunyi.
23 Jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mau Kuajar, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 24 maka Akupun akan bertindak melawan kamu dan Aku sendiri akan menghukum kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 25 dan Aku akan mendatangkan ke atasmu suatu pedang, yang akan melakukan pembalasan oleh karena perjanjian itu; bila kamu berkumpul kelak di kota-kotamu, maka Aku akan melepas penyakit sampar ke tengah-tengahmu dan kamu akan diserahkan ke dalam tangan musuh. 26 Jika Aku memusnahkan persediaan makananmu, maka sepuluh perempuan akan membakar roti di dalam satu pembakaran. Mereka akan mengembalikan rotimu menurut timbangan tertentu, dan kamu akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang.
27 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 28 maka Akupun akan bertindak keras melawan kamu dan Aku sendiri akan menghajar kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 29 dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan. 30 Dan bukit-bukit pengorbananmu akan Kupunahkan, dan segala pedupaanmu akan Kulenyapkan. Aku akan melemparkan bangkai-bangkaimu ke atas bangkai-bangkai berhalamu dan hati-Ku akan muak melihat kamu. 31 Kota-kotamu akan Kubuat menjadi reruntuhan dan tempat-tempat kudusmu akan Kurusakkan dan Aku tidak mau lagi menghirup bau persembahanmu yang menyenangkan. 32 Aku sendiri akan merusakkan negeri itu, sehingga musuhmu yang tinggal di situ akan tercengang karenanya. 33 Tetapi kamu akan Kuserakkan di antara bangsa-bangsa lain dan Aku akan menghunus pedang di belakang kamu, dan tanahmu akan menjadi tempat tandus dan kota-kotamu akan menjadi reruntuhan.

Gaya penulisan Imamat 26:14-33 sangat mirip dengan perikop sebelumnya, tetapi ayat 14 adalah kebalikan ayat 3, ayat 3 menyatakan bahwa jika orang Israel taat maka akan ada hasil yang baik, ayat 14 menunjukkan bahwa jika mereka tidak taat perintah Allah maka ada akibat yang buruk. Khususnya kalimat pada ayat 14 Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu … Hal itu diulangi dalam ayat 18, 21, 23, dan 27. Ada beberapa cara penulisan yang berbeda dari Ulangan 28: dalam Kitab Ulangan, berkat dan kutukan berkorespondensi, yaitu satu kalimat berkat berkorespondensi dengan satu ucapan kutukan, misalnya: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang (Ul. 28:3) berkorespondensi dengan Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang (Ul. 28:16). Tetapi dalam perikop kitab Imamat ini tidak ada korespondensi seperti itu.

Imamat 26:14-33 menyebutkan lima kutukan yang datang karena tidak menaati perintah Allah.
• Kutukan pertama: malapetaka sakit (ayat 14-17), sakit menjadi kutukan dari Allah. Akar kata di ayat 16-17 ini sesuai dengan tema pengejaran pada ayat 6-8 (… Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang …), kata-kata yang digunakan semuanya adalah pemakaian yang khas, biasanya digunakan untuk menggambarkan akibat dari ketidaktaatan seseorang terhadap firman Allah.

• Kutukan kedua: hukuman tujuh kali lipat (ayat 18-20), membuat kita memikirkan Kejadian 4:15 Firman TUHAN kepadanya: Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.』」 dan Kejadian 4:24 sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. Kata ini tujuh terkait erat dengan sumpah, misalnya, dalam Kejadian 26:33 mendeskripsikan Bersyeba berarti sumur sumpah (well of swearing), di antaranya kata sumpah (swearing) dapat diartikan sebagai membuat diri menjadi tujuh (to be seven self). Karena itu, Allah seperti bersumpah akan menghukum dengan tujuh kali lebih keras.

• Kutukan ketiga: berjalan buas (ayat 21-22), di ayat 21 muncul lagi deskripsi tujuh kali lipat, dan ada juga deskripsi setimpal dengan dosamu. Kutukan itu menggambarkan binatang buas akan datang memakan anak-anak dan membunuh orang, kebalikan dengan gambaran keharmonisan antara manusia dan hewan dalam Mazmur 104:20-23 dan Yesaya 65, bahkan binatang buas seperti ini tidak ada dalam Sepuluh Tulah.

• Kutukan keempat: kutukan kota (ayat 23-26), bagian ini berisi kata-kata yang umum digunakan dalam Perjanjian Lama untuk kutukan, termasuk pedang, wabah, dan kelaparan, kata-kata ini juga terdapat dalam 2 Tawarikh 29:8; Yeremia 15:4, 29:18, 34:17 dan sebagainya, terdapat suatu jenis teologi penawanan, menjelaskan hal-hal yang akan dihadapi ketika datangnya penawanan, ini melambangkan kutukan terburuk yang dihadapi Israel.

• Kutukan kelima: penawanan (ayat 27-33). Ayat 31-33 tampaknya menandakan penawanan, ada keterangan kota menjadi reruntuhan tempat tandus, juga deskripsi diserakkan tersebar di antara bangsa-bangsa, yang juga merupakan deskripsi khas tentang tawanan (Yes. 44:26, 49:19, 50:9, 58:12).

Ayat 25 Aku akan mendatangkan ke atasmu suatu pedang, yang akan melakukan pembalasan oleh karena perjanjian itu … secara khusus menyebutkan pembalasan perjanjian (covenantal vengeance), yang merupakan deskripsi yang sangat khusus, ayat 15 mengacu pada mengingkari perjanjian-Ku dan ayat 9 mengacu pada Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu. Di bagian ini perlu diberikan perhatian pada dua poin: (1) mengingkari perjanjian berarti hubungan antara Allah dan manusia telah dirusak parah, karena di bawah perjanjian anugerah, orang Israel menerima hubungan dua sisi antara berkat dan kutuk, dan orang Israel berdosa menyembah berhala sebenarnya telah meninggalkan hubungan antara berkat dan kutuk, orang Israel tidak mau menerima berkat dan kutuk, sepenuhnya merobohkan hubungan perjanjian, mengkhianati tuntutan perjanjian anugerah serta hubungan berkat dan kutukan. Ini adalah situasi pelanggaran perjanjian; (2) teks memakai kata mengkhianati (violate), menunjukkan perjanjian seperti orang yang memiliki pribadi, sebagai simbol Allah itu sendiri, mengkhianati perjanjian juga mewakili mengkhianati Allah.

Renungkan:
Apakah hidup saya mengkhianati Allah? Mulai hari ini, bertekad untuk bertobat!


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Imamat 26:3-13

x

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 26:3-13 [ITB])
3 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, 4 maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. 5 Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram.
6 Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu. 7 Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang. 8 Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang.
9 Dan Aku akan berpaling kepadamu dan akan membuat kamu beranak cucu serta bertambah banyak dan Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu.
10 Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau, dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru.
11 Aku akan menempatkan Kemah Pertemuan-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu. 12 Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. 13 Akulah Allah, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak.

Imamat 26-27 adalah penutup di akhir dari kitab ini, dan kalimat terakhir dari dua pasal ini adalah sebagai berikut: Itulah ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan serta hukum-hukum yang diberikan TUHAN, berlaku di antara Dia dengan orang Israel, di gunung Sinai, dengan perantaraan Musa (Im. 26:46), Itulah perintah-perintah yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai untuk disampaikan kepada orang Israel (Im. 27:34). Ini menekankan peran Musa sebagai seorang nabi, dia adalah wakil Allah yang menyampaikan hukum semua pengorbanan ritual, dan hukum ini adalah perintah yang diberikan di kaki Gunung Sinai, yaitu latar belakang didirikannya perjanjian untuk memahami hukum-hukum ini.

Ketika kita menggunakan latar belakang didirikannya perjanjian ini untuk memahami hukum-hukum ini, kita juga harus memahami bahwa perjanjian itu mengandung berkat dan kutuk. Umat di bawah perjanjian tidak dapat hanya menuntut berkat sebagai konsekuensi dari perjanjian dan tidak mau konsekuensi kutukan dari perjanjian, yang menaati perintah TUHAN maka Allah akan memberikan berkat-Nya, dan siapa yang tidak menaati perintah TUHAN maka Allah akan memberikan kutukan.

Format berkat dan kutukan adalah yang paling umum di antara format perjanjian (treaty) Timur Dekat kuno. Di sini berkat dan kutuk dalam Kitab Imamat sangat mirip dengan Ulangan 28, berkat (Ulangan 28:1-14) dan kutukan (Ulangan 28:15-68) proporsinya juga sangat mirip, berkat relatif lebih sederhana, kutukannya relatif panjang dan kompleks.

Janji pertama: Im. 26:3-5 menyatakan bahwa ada makanan, situasinya berlawanan dengan Kej. 3:17-19 firman-Nya kepada manusia itu: 『Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu』. Dan dalam Imamat 26:3-5, kondisi berkat dikaitkan dengan ketaatan. Ketika Kitab Imamat merangkumnya dalam format Kitab Ulangan, dari sudut pandang penulisan sastra tidak diragukan lagi bahwa peraturan tentang pengorbanan, penahiran, dan moralitas yang disebutkan di teks sebelumnya atas adalah syarat untuk memperoleh berkat.

Janji kedua: Im. 26:6-8 berkali-kali menyebutkan kata pedang, yang melambangkan kekuatan agresif eksternal, adalah jenis yang sama dengan binatang buas yang disebutkan. Di sini menjelaskan perang defensif dapat diubahkan menjadi perang berkemenangan melawan orang lain, ini adalah apa yang diharapkan semua orang dalam perang.

Janji ketiga: Im. 26:9-13 menunjukkan beranak cucu banyak dan memiliki makanan baru, Allah akan meneguhkan perjanjian-Nya dan menyertai Israel, menunjukkan hubungan perjanjian yang erat dengan Allah.

Renungkan:
Umat Israel adalah umat anugerah, TUHAN adalah Allah mereka, dan mereka adalah umat Allah. Kelangsungan hidup dan identitas mereka berada di atas titik ini. Karena itu, mereka harus mengakui bahwa sumber segala berkat dalam hidup adalah TUHAN.
Apakah Anda hidup dalam keadaan lancar? Mohon Allah untuk membuat kita percaya bahwa ini adalah anugerah dari Allah dan bukan sesuatu yang dapat dicapai oleh manusia sekadar dengan bekerja keras saja.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.