Tag Archives: Tanah

Imamat 25:23-28

TUHAN adalah pemilik tanah

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 25:23-28 [ITB])
18 Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram. 19 Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tenteram.
20 Apabila kamu bertanya: Apakah yang akan kami makan dalam tahun yang ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami? 21 Maka Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu dalam tahun yang keenam, supaya diberinya hasil untuk tiga tahun. 22 Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama.
23 Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku. 24 Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah.
25 Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu.
26 Apabila seseorang tidak mempunyai penebus, tetapi kemudian ia mampu, sehingga didapatnya yang perlu untuk menebus miliknya itu, 27 maka ia harus memasukkan tahun-tahun sesudah penjualannya itu dalam perhitungan, dan kelebihannya haruslah dikembalikannya kepada orang yang membeli dari padanya, supaya ia boleh pulang ke tanah miliknya. 28 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya.

Imamat 25:23-24 menjelaskan bahwa itu adalah konsep yang agak khusus: tidak boleh memiliki tanah pribadi, karena satu-satunya pemilik tanah adalah Allah, dan orang Israel akan selalu melihat diri mereka sebagai orang asing dan pendatang, ini adalah sama dengan pengakuan identitas dari mereka sendiri: kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan (1 Taw. 29:15). Ketika kita berpikir bahwa di bawah hukum dunia kita memiliki kemampuan untuk membeli rumah dan memiliki properti pribadi, namun kita tidak dapat menyangkal TUHAN adalah pemilik atas tanah karena alam semesta adalah ciptaan Allah, manusia adalah tamu yang lewat menumpang di bumi. Bagaimana hidup kita yang sementara itu bisa memiliki tanah yang panjang usianya? Bumi hanya layak dimiliki oleh Allah yang kekal, dan hanya Dia yang dapat memiliki hak dan kemampuan untuk memiliki tanah.

Imamat 25:25-28 dapat dibaca bersama-sama dengan kitab Rut dan Nehemia 5:1-5. Orang-orang yang tidak memiliki tanah dan properti secara tingkat sosial berada dalam kondisi yang relatif tidak memadai, mereka hanya bisa memilih untuk bersandar pada pengurangan tahunan sebesar 2% untuk menebus tanah dengan harga yang relatif rendah, atau mereka harus bergantung pada tahun Yobel lima puluh tahun satu kali untuk pemutihan semua hutang, barulah demikian mendapatkan jaminan perlindungan.

Kata kaummu / saudaramu muncul berkali-kali (Im. 25:25, 35, 36, 39, 46, 47, 48), artinya bukan hanya saudara saja, tetapi juga berarti bahwa orang ini sama dengan orang Israel lainnya yakni memiliki iman yang sama, mereka semua adalah anggota dari umat perjanjian, yang menjadi alasan mengapa setiap orang tidak boleh saling menindas. Karena, umat anugerah bisa menjadi umat Allah karena keluaran dari Mesir, bangsa Israel meninggalkan tempat perbudakan dan mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka sangat memahami identitas sebagai orang asing dan pendatang yang menumpang tinggal, ketika mereka memasuki Kanaan seharusnya bisa mencerna perkataan Allah bahwa Akulah pemilik tanah itu (Im. 25:23). Ketika seseorang menjadi kaya dan memiliki kemampuan untuk membeli tanah saudaranya, mereka juga harus memahami bahwa penjualan seperti itu tidak akan menghilangkan identitas mereka sebagai orang asing dan pendatang, sehingga mereka tidak boleh merugikan saudara-saudaranya dalam proses jual beli. Dengan demikian, konsep bahwa tanah adalah milik Allah menetapkan sifat asli orang Israel sebagai orang asing, dan menjadi alasan teologis bagi mereka untuk memperlakukan satu sama lain secara adil.

Renungkan:
Apakah Anda mengakui identitas Anda sebagai tamu? Jangan sekali-kali kita dengan sepenuh hati mengejar harta benda dan sesuatu yang bukan milik kita, barang-barang tersebut hanya bernilai sementara dan tidak dapat dibawa setelah kematian. Sebaliknya, kita harus mengakui status kita sebagai orang asing dan menumpang tinggal di dunia, percaya bahwa rumah yang sebenarnya ada di surga, alih-alih berada di tanah ini, dengan demikian, kita tidak akan menindas orang lain dan membuat orang menderita karena berpegang bahwa kita adalah pemilikan properti di bumi. Marilah mulai hari ini, kita akan menyesuaikan tujuan yang kita kejar dalam hidup dan mengidentifikasi diri kita sebagai tamu.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.