Tag Archives: Kitab Daniel

Daniel 3:19-30

「Iman yang Tidak Musnah Dibakar」

Apa pelajaran bagi kita dari iman yang tidak musnah dibakar penderitaan atau kesulitan yang datang bertubi-tubi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:19-30 [ITB])
19Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 21Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
25Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
26Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.
28Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
29Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
30Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Pengakuan iman Hananya, Misael dan Azarya, secara besar-besaran membuat marah Nebukadnezar. Raja dengan geram memerintahkan agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 「Tujuh」 adalah sebagai angka simbolis, maksudnya adalah agar perapian yang menyala-nyala dibuat sampai tidak bisa lebih panas lagi, sampai tingkat yang paling maksimal, bahkan sampai orang yang mengangkat mereka ikut terbakar mati lidah api yang menyembur dari perapian. Hananya, Misael dan Azarya dalam keadaan terikat dilemparkan ke dalam perapian. Pada masa itu perapian biasanya memiliki lubang angin atau lubang untuk memasukkan bahan pembakaran, diperkirakan Nebukadnezar melihat dari mulut lubang sebuah pemandangan ajaib, melihat ada empat orang dengan leluasa berjalan di dalam api, orang yang keempat rupanya seperti anak dewa (Daniel 3:25). Perikop tidak dengan jelas menunjukkan siapa 「orang」 keempat ini, sangat mungkin adalah utusan Allah. Tidak peduli bagaimana, adalah Allah yang memberikan penyelamatan, tiga orang sama sekali tidak terluka sedikitpun pasti adalah sebuah muzizat.

「Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15) telah muncul jawabannya. Allah hendak Nebukadnezar memahami, siapa yang memegang kendali atas semuanya sampai akhir. Bukan raja Babel yang memaksa rakyat hormat dan sembah patung emas dengan kekerasan (walaupun Allah menyingkapkan bahwa ia adalah 「kepala emas」 itu), tetapi adalah TUHAN. Tepat seperti yang pernah Dia nyatakan sendiri: 「Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku」 (Ul. 32:39). TUHAN pernah menyelamatkan umat-Nya keluar dari Mesir, ini adalah pengalaman umat Israel yang nyata sungguh (lihat Ul. 4:20). Di hadapan muzizat ini, tidak hanya Hananya, Misael dan Azarya yang mengalami sendiri TUHAN adalah Penyelamat yang Maha Mampu, termasuk Nebukadnezar, para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, dan semua para penggugat, semua bersama-sama menyaksikan perbuatan Allah ajaib.

Dari peristiwa dimulainya sebuah perintah, dan berakhir dengan sebuah perintah yang lain. Perintah yang paling awal: 「orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!」 (Daniel 3:4-6). Paling akhir perintah ini digantikan: 「setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.」 (Daniel 3:29). Aslinya tuduhan yang memusuhi ketiga orang: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) paling akhir dirubahkan menjadi pujian raja: 「melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 」 (Daniel 3:28). Meresponi pertanyaan retoriknya sendiri 「dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 Nebukadnezar tidak bisa tidak mengakui bahwa tidak ada Allah lain yang mampu menjalankan penyelamatan yang demikian. Ia tidak hanya mengakui TUHAN adalah Allah Maha Tinggi, memerintahkan seluruh negeri harus menghormati Dia, ia juga setuju ketiga orang gigih menjaga iman sendiri adalah hal yang tepat, taat kepada Allah yang demikian, sudah sepatutnya dibandingkan taat kepada manusia. (lihat Kis. 5:29)

Renungkan: mimpi di fasal dua, menunjukkan bahwa kuasa kerajaan di antara manusia semakin bergerak menurun. Bagaimanakah sepatutnya umat Allah menempatkan diri? Dalam fasal tiga, penulis kitab melalui kesaksian Hananya, Misael dan Azarya, mengingatkan umat Allah bagaimana sepatutnya hidup saat ada dalam tekanan dan situasi dicelakai. Tiga orang terhindarkan pederitaan perapian menyala-nyala, mengalami penyertaan Allah (lihat Yes. 43:2), mengalami diselamatkan, paling akhir mendapatkan pengangkatan dari Nebukadnezar dan hadiah. Tetapi titik beratnya bukan pada 「naik tinggi (diberi kedudukan tinggi)」 (Daniel 3:30), justru adalah pada hati yang setia sampai mati dari ketiga orang (Jika titik berat kita adalah “naik tinggi” sebuah peninggian diri maka akan sama dengan Nebukadnezar).

Mereka menjunjung tinggi kuasa besar Allah, juga sujud tunduk di bawah kedaulatan Tuhan; mereka telah bersiap sedia jika hendak membayar harga paling berat: jika seandainya tidak (jikalaupun tidak), tetap percaya Allah sedang memegang kendali, sampai mati tetap menjunjung tinggi nama Allah.

Saudara dan saudari, apakah engkau dari dalam hati percaya, bahwa ada kehadiran Allah dalam segala hal yang dialami di kehidupan, baik yang lancar atau tidak? Ada kala kita tidak sesuai keinginan dapat segera terlepas dari beban penderitaan, lalu dalam keadaan berbeda-beda, engkau pernah menunjukkan hati yang setia, iman dan keberanian, membuat orang lain terheran, sehingga memuliakan Allah?

Daniel 3:16-18

「Jikalaupun Demikian – Jika Seandainya Tidak」

Suatu waktu dalam hidup setiap orang pasti terdapat perapian menyala-nyala, apa yang akan kita lakukan?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:16-18 [ITB])
16Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: 「Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.」

Menghadapi desakan pertanyaan raja: 「Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Apakah sengaja?」 (“Apakah sengaja?” tidak ada dalam ITB, penekanan dalam CUVT) (Daniel 3:14), mereka sama sekali tidak mundur, menjawab: 「Nebukadnezar, tidak perlu kami memberi jawab kepada engkau.」 (Sesuai CUVT, juga KJV menggunakan kata “tidak perlu” juga memakai kata “engkau”. Namun dalam ITB nada jawaban terasa agak lembut “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini”) (Daniel 3:16). Jawaban ini menyatakan dengan jelas mereka tidak berencana melakukan pembelaan apapun bagi diri sendiri, lebih lagi dengan jelas mengatakan, mereka berpendapat sebenar-benarnya tidak perlu menjelaskan alasan kepada raja, karena mereka dahulu tidak menyembah patung emas, dan sekarang, kelak juga tidak akan bertekuk lutut. Jawaban ini terdengar sangat tidak hormat, di baliknya memerlukan keberanian yang sedemikian besar dan keteguhan hati.

Hananya, Misael dan Azarya percaya secara mendalam bahwa Allah yang mereka layani, pasti memiliki kekuatan menolong mereka keluar perapian menyala-nyala; dan pada saat yang sama, hati mereka sudah siap sedia, Allah memiliki kedaulatan-Nya sendiri, tidak harus memilih menolong mereka. Dengan kata lain, tiga orang mengetahui dirinya memiliki kemungkinan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tetapi dibandingkan ini semua, yang terlebih penting adalah mereka tetap bertekat tidak menyembah patung emas.

Dari diri Hananya, Misael, Azarya, dapat dilihat iman dan tekat mereka:

  1. Kesetiaan hati. Tiga orang dengan gigih menolak untuk hormat dan menyembah patung emas, demi mempertahankan identitas sebagai umat Allah, secara absolut tidak bertekuk-lutut terhadap patung emas yang mewakili dewa Babel (lihat Dan. 3:12, 14, 18, 28). Mereka tidak melakukan pembelaan apapun bagi sendiri melalui perkataan, semata-mata hanya dengan tindakan yang jelas menyatakan kesetiaan hati terhadap Allah, dan lebih baik membayar harga. Dalam satu kali lagi kesempatan yang diberikan Nebukadnezar, tampak dengan menonjol bahwa mereka memiliki kesetiaan hati, yang sungguh dan tidak palsu, lebih baik melepaskan kesempatan paling akhir menyelamatkan nyawa, tetap setia kepada Allah dan mati, juga tidak bersedia murtad demi mencuri kesempatan untuk hidup. Tepat seperti yang dialami pemazmur: 「Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; …」 (Maz. 63:3)
  2. Bersandar. Apa yang ditampilkan Hananya, Misael, Azarya bukan saja keberanian yang luar biasa, tetapi juga memiliki iman yang kokoh tidak bergeser terhadap Allah. Mereka percaya secara mendalam jika Tuhan menghendaki, pasti bisa menolong mereka, karena Dia adalah Allah yang memiliki kemampuan besar. Walaupun dihadapkan ancaman mati, iman mereka kepada Allah juga tidak pernah goyah; atau dari sudut lain, iman kepada Allah adalah rahasia mereka mampu berdiri dengan kokoh di hadapan ujian yang berat sekali.
  3. Ketaatan. Hananya, Misael, Azarya dalam menghadapi dakwaan raja, di awal dan di penutupan jawaban menggunakan kata 「Jikalaupun demikian」 (Daniel 3:17) dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」 (Daniel 3:18) . Kedua perkataan ini memiliki suara yang nyaring sepenuhnya menyatakan ketaatan total mereka terhadap kedaulatan Tuhan Allah. Tidak peduli pada akhirnya Allah akan menyelamatkan, atau mengijinkan mereka mati dalam perapian, walaupun tidak memahami bagaimana kehendak Allah, Hananya, Misael, Azarya tidak memiliki sedikitpun sungut-sungut atau keraguan terhadap Allah yang mereka sembah. 「Jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」bukanlah kalimat untuk mendinginkan suasana agar menguntungkan diri mereka sendiri, justru sebaliknya, perkataan ini adalah pengakuan iman, dengan berani di hadapan musuh memproklamasikan: 「Tidak peduli bagaimana kehendak Allah, mau hidup atau mau mati, kami pasti tidak akan pernah bertekuk-lutut kepada berhala, karena hanya ada Satu saja yang kepada-Nya kita bersandar dan setia.」

Renungkan: saudara dan saudari, apakah 「jikalaupun demikian」 dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」juga adalah keyakinan anda? Perkembangan keadaan mungkin tidak seperti yang kita harapkan, terlebih lagi kehendak Allah bukan hal yang kita mampu pahami, namun tetap meninggikan kedaulatan Allah Tuhan dan bertekat taat bersandar kepada-Nya. Di baliknya adalah kepastian penuh beriman kepada kemampuan besar Allah dan kasih setia-Nya; Jika tidak demikian, mungkin terdapat kekurangan pengenalan kita terhadap Allah. Hananya, Misael, Azarya memakai nyawa mereka untuk memproklamasikan: 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah. 」

Permintaan Yesus Kristus terhadap pengikut-Nya adalah: 「Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.」 (Wahyu 2:10)


Tambahan Penerjemah:

Penyakit, malapetaka, bencana, “kurang berhasil” atau “kurang kaya” juga merupakan perapian menyala-nyala, jika itu yang sedang ada dihadapan kita, apakah kita bersedia mengatakan 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah」?

Daniel 3:8-15

「Keberanian Mengatakan Tidak」

Katakan selagi bisa, adakalanya tidak ada kesempatan untuk mengatakan 「tidak」.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:8-15 [ITB])
8Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. 9Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: 「Ya raja, kekallah hidup tuanku!
10Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, 11dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
12Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.」
13Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, 14berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: 「Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」

Nebukadnezar mendirikan patung emas memerintahkan rakyat seluruh negeri menyembah, pelanggar akan mati. Beberapa orang Kasdim segera menggunakan kesempatan hendak memusnahkan musuh mereka. Perhatikan cara mereka menuduh dan bahasa yang dipakai: 「Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh, Abednego …」 (Daniel 3:12) orang Kasdim sengaja menekankan 「orang Yahudi」, terlebih dahulu mengingatkan raja jangan lupa identitas mereka adalah tawanan, selanjutnya menyebutkan jabatan ketiga orang; ada alasan percaya bahwa Daniel, Hananya, Misael dan Azary dalam masa pelatihan di istana sudah sangat menonjol berbeda, sampai pelatihan selesai, dibandingkan orang yang lain lebih cepat naik ke posisi yang sangat tinggi, maka mendatangkan iri.

Orang Kasdim membidik bahwa perintah penyembahan patung emas tepat merupakan kesempatan besar dan baik mencabut duri yang ada di dalam mata, sehingga sengaja memprovokasi raja: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) 「Tiga tidak」 gugatan ini nyata effisien, Nebukadnezar mendengar ternyata ada orang bernyali besar mengatakan tidak terhadap raja, secara terbuka menantang wibawa raja, menolak setia, bagaimana mungkin tidak marah besar? Semuanya ada dalam perkiraan orang Kasdim.

Nebukadnezar segera memanggil Hananya, Misael dan Azarya. Patut diperhatikan, saat Nebukadnezar terbakar dalam api kemarahan, tidak seperti ketentuan yang sudah diberlakukan 「segera」mencampakkan ketiga orang ke dalam perapian menyala-nyala, justru lebih dahulu memastikan gugatan itu apakah sungguh, terlebih lagi bersedia memberi ketiga orang satu kali lagi kesempatan: saat alat musik dibunyikan, jika ketiga orang bersedia berlutut menyembah, maka tetap boleh memiliki nyawa. Kehendak Nebukadnezar sangat jelas: pilihan hidup atau mati diletakkan di hadapan tiga orang, mau menuruti perintah mencari keselamatan, atau tidak dapat menghindari mati. 「Ada dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15). Pertanyaan raja adalah pertanyaan retorik, artinya secara fundamental tidak ada dewa yang mampu menyelamatkan mereka. Nebukadnezar yang tidak pernah terpikir adalah, pertanyaan retorik ini membawakan topik teologi yang paling inti di fasal tiga. Tepat sama seperti dalam fasal dua, orang-orang berilmu dalam ketidak-tahuan, mengatakan kebenaran 「tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia」 (Daniel 2:11).

Renungkan: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja, mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.」 Tuduhan ini merupakan dakwaan mati bagi Hananya, Misael dan Azarya. Beberapa orang muda Yahudi yang saleh ini, di Babel menempati kedudukan tinggi, tetapi promosi naik jabatan tidak merubah iman mereka; bagi mereka, waspada menjaga perintah Allah jauh lebih penting dibandingkan mentaati perintah raja. (Kis. 5:29 “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”) Hananya, Misael dan Azarya bukan tidak tahu akibat dari menolak menyembah patung emas, tetapi mereka bersikeras memilih setia kepada Allah. Jika dilihat dari sebuah sudut yang lain, 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja, mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 adalah pujian tertinggi terhadap sekelompok umat Allah yang gigih menjaga iman. Saudara dan saudari, apakah engkau memiliki tekat berteguh-hati mengatakan 「tidak」 terhadap hal yang berlawan dan melanggar iman? Seandainya harus membayar harga, apakah engkau tetap akan memberikan prioritas paling tinggi bagi kemuliaan Allah?


Tambahan Penerjemah:
Ada saatnya kita berani mengatakan pasti akan membayar harga bahkan nyawa sekalipun demi iman, Petrus dan murid-murid yang lain juga mengatakan keyakinan yang sama. Kiranya Tuhan Yesus yang memberikan kita keberanian dan kegigihan membayar harga bahkan nyawa sekalipun dalam menjaga iman.
Adakalanya tidak ada kesempatan untuk mengatakan 「tidak」 karena musuh penggeser iman sudah melakukannya diam-diam terjadi tanpa kita sadari. Kiranya kita memohon pertolongan Roh Kudus menerangi hati dan pikiran kita.

Daniel 3:1-7

「Pilihan atas Mati atau Hidup」

Lihatlah deretan pejabat dan alat-alat musik diulang sampai tiga kali. Setiap kali dibunyikan bagaikan pedang yang menusuk di uluh hati disertai sorotan mata para pekabat yang berderet. Seberat apa tantangan iman dan keadaan yang dihadapi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:1-7 [ITB])
1Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
2Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
4Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
5demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
6siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
7Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.

Selama masa Nebukadnezar memerintah, terjadi peristiwa yang lain. Nebukadnezar mendirikan sebuah patung emas di dataran Dura di wilayah Babel, memerintahkan rakyat harus sesuai waktu berdasarkan petunjuk suara alat musik menyembah. Patung emas tingginya enam puluh hasta (kira-kira 27 meter), lebarnya enam hasta (kira-kira 2.7 meter), perbandingannya 1:10, adalah sebuah bentuk seperti manusia yang sangat kurus panjang. Tujuan raja mendirikan patung emas, mungkin adalah hendak melalui patung emas memamerkan pencapaiannya, juga mungkin adalah hendak melalui penyembahan patung emas yang berskala nasional, yang bersifat pemaksaan, agar dikagumi dan ditakuti rakyat.

Apakah sulit mentaati perintah menyembah patung emas? Babel selalu memiliki kebudayaan menyembah banyak dewa, rakyat hendak hormat dan menyembah tambahan sebuah patung emas pasti tidak akan terlalu sulit; terlebih lagi, berdasarkan konsep saat itu, raja Babel menjalankan pemerintahan adalah mewakili dewa yang ia sembah, tidak menyembah patung emas sama dengan menolak melayani dewanya, melawan perintah raja adalah kesalahan yang harus dihukum mati: 「harus seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala」 (Daniel 3:6), bagaimana bisa memiliki alasan tidak menuruti perintah? Tetapi, bagi sekelompok umat Israel yang ditawan, perintah menyembah patung emas justru secara langsung adalah terjangan atas iman mereka: tidak boleh hormat dan sembah allah lain selain Allah, tidak boleh menyembah dan melayani patung berhala (lihat Kel. 20:2-5) ini adalah perintah yang sangat mereka jaga dengan teliti ─ hal ini tentu sangat dipahami musuh yang iri terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tentu saja orang-orang berilmu menangkap erat kesempatan besar dan baik membasmi orang yang berbeda dari diri mereka.

Perikop ini menggambarkan detil dengan teliti dan berulang. Di antaranya tiga kali menjabarkan tingkatan pejabat istana Babel dari atas sampai bawah: para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah (Daniel 3:2, 3, 27). Di balik rangkaian panjang jabatan ini, mewakili sekelompok kekuatan permusuhan yang membenci Sadrakh, Mesakh, Abednego; dan pengulangan ini adalah menonjolkan betapa bahayanya kondisi tiga orang yang berjumlah sedikit menghadapi musuh yang banyak. Sebutan nama alat musik juga sederetan: sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian (Daniel 3:5, 7, 10, 15) dalam fasal tiga muncul berulang. Alat-alat musik ini begitu dibunyikan, orang-orang harus segera meletakkan semua, sujud hormat dan sembah patung emas, orang yang melanggar akan segera dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. yang mentaati perintah raja dan yang tidak mentaati perintah raja, dapat dibedakan segera saat alat-alat musik bersuara. Bagi umat Allah, setiap kali alat musik dibunyikan, adalah satu kali tantangan iman, terlebih lagi adalah terkait mati hidupnya mereka. (Lihat bagaimana penekanannya, deretan nama alat-alat musik yang diulang tiga kali.)

Renungkan: lebih lanjut setelah pengalaman di fasal pertama 「dididik」, 「diganti nama」, 「dicekok minum dan makan」, beberapa orang muda yang saleh ini sekali lagi menghadapi tantangan iman ─ apakah hendak bertekuk-lutut di hadapan berhala? Ini adalah sebuah pilihan yang menyangkut mati atau hidup. Perikop mengingatkan kita, semua tantangan ini akan tiada henti muncul dalam perjalanan surgawi orang Kristen. Hari ini kita juga sama, tidak bisa tidak, harus menghadapi berbagai pilihan yang besar ataupun yang kecil atas iman. Mungkin kita mempertahankan iman, berperang atas dosa kejahatan, sementara masih belum sampai tahap meneteskan darah (Ibrani 12:4); mungkin secara umum dalam kelemahan adalah belum berperang sudah menyerah terlebih dahulu, terlalu mudah kompromi dan diasimilasi. Teladan Sadrakh, Mesakh, Abednego sangat tampak berharga: mereka tidak bersedia memakai alasan “terpaksa keadaan, bukan keinginan saya sendiri”, memilih setia kepada Allah, juga siap sedia membayar harga yang paling berat untuknya: yaitu nyawa sendiri. Saudara dan saudari, apakah kita sudah melakukan persiapan, setiap kali saat dihadapkan pada pilihan iman, berteguh-hati berdiri di pihak Allah?


Tambahan Penerjemah:

Tantangan iman dapat berbentuk kesulitan ekonomi, kegagalan dalam pekerjaan, perbuatan buruk orang lain terhadap kita (bahkan dari sesama orang Kristen) menjadi alasan untuk mempersalahkan Allah lalu menjauhkan iman dari Tuhan Kita Yesus Kristus.

Ataupun bentuk bentuk keinginan atau pemikiran yang sepertinya normal bagi masyarakat umum namun dapat mengalihkan iman kesetiaan kita bergeser tanpa disadari, yang membuat kita menjauh dari Tuhan Yesus.

Bandingkan dengan Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Daniel 2:46-49

「Allah di  atas segala allah」

Di dalam hati kita bagaimanakah Allah yang kita yakini?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:46-49 [ITB])
46Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan kepadanya.
47Berkatalah raja kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.”
48Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.
49Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.

Di antara orang berilmu di Babel, hanya Daniel mampu mengatakan isi mimpi dan menjelaskannya. Nebukadnezar takluk sujud menyembah dengan lima anggota tubuh menyentuh tanah, memuji TUHAN yang dihormati dan disembah Daniel. Raja menemukan Allah di balik Daniel menang jauh atas para dewa yang disembah orang-orang berilmu seluruh negeri. Tentu saja, Nebukadnezar bukan memutuskan hendak ganti beriman kepada TUHAN. Dalam kebiasaan umum kebudayaan Babel yang banyak dewa, Nebukadnezar mengalami TUHAN adalah satu dewa asing yang spesial hebat, itu saja. Dari catatan kitab Daniel yang selanjutnya, dapat dilihat raja belum ganti beriman kepada TUHAN sebagai satu-satunya Allah yang sejati.

Tidak peduli bagaimana, seorang raja yang keberhasilannya menggemparkan di zaman dahulu dan yang tetap berkilauan bagi zaman sekarang, sampai sujud di hadapan seorang tawanan berbangsa asing yang rendah, menghormat tinggi Allah pihak dia (Daniel), ini adalah sebuah pemandangan yang sulit dibayangkan. Saat itu melalui hal ini, umat Israel yang ditawan di tempat asing sekali lagi diingatkan: segala sesuatu dalam genggaman kendali Allah, sejarah umat manusia juga tidak terkecuali. Sejarah bukan merupakan sebuah siklus berulang, tetapi memiliki titik mulai dan titik akhir, bergerak maju berdasarkan rencana Allah; dan titik akhirnya adalah kebinasaan kuasa kerajaan di antara manusia, datangnya Kerajaan Allah. Umat Allah walaupun ditawan, bekerja melayani bangsa asing, tetapi ini bukan perhentian akhir, sampai waktunya, Allah akan menghantam runtuh semua kekuatan yang mencengkeram mereka.

Nebukadnezar karena Daniel berjasa memecahkan mimpi, mempromosikan dia naik kedudukan tinggi. Daniel justru tidak lupa ketiga teman-teman yang bersama dia bersatu hati berdoa, tidak bersedia sendirian menerima jasa, memohon raja bagi mereka, paling akhir tiga orang mendapatkan pengangkatan. Tetapi jabatan empat orang ini justru menjadi sumbu terpendam mendapatkan kebencian dan pencelakaan dari sesama pejabat di kemudian hari.

Renungkan: dalam perikop ini Nebukadnezar dan Daniel, potret yang saling berhadapan dari dua orang ini berharga bagi kita untuk direnungkan mendalam.

  • Nebukadnezar terhormat sebagai raja penguasa kerajaan Babel, bertakhta memiliki kuasa di bawah langit, kedudukan, kekayaan, sepertinya tidak kekurangan satu hal apapun, justru oleh sebuah mimpi dibuat tidur dan makan tidak tenteram, bahkan kehilangan kontrol sampai hendak membunuh besar-besaran. Orang yang mengejar banyak kekuasaan, kedudukan, kekayaan sebagai target pencarian, juga tidak tentu dapat menikmati dan memiliki seberapa besar rasa puas kedamaian tenteram.
  • Daniel sebagai yang ditawan, mati atau hidup tidak dapat ia putuskan sendiri, justru dalam kondisi paling bahaya, tidak panik tidak kalang-kabut, ia menyelamatkan keadaan besar.

Titik kuncinya adalah Daniel bersandar Allah, bersama teman-teman bersatu hati memohon, sehingga mendapatkan hikmat yang yang datang dari atas, menyelesaikan sebuah bahaya krisis. Daniel tidak hanya menyelamatkan nyawa diri sendiri dan sekelompok orang berilmu, terlebih lagi dapat bersaksi tentang kemampuan dan hikmat besar TUHAN di antara bangsa asing. Ia memberikan sebuah teladan dalam situasi apapun bersikeras setia terhadap Allah .

Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia.」 Saudara dan saudari, apakah ini merupakan keyakinan kokoh dari iman anda? Dalam jatuh bangun di kehidupan, apa yang jadi sandaran dalam hati kita? Hormat kepada Allah dan keyakinan kita untuk bersandar kepada-Nya, apakah cukup bagi kita bertahan menyambut berbagai macam bahaya krisis dan ujian?


Tambahan Penerjemah:

Apakah sebutan Allah adalah sebuah identitas saja? Pembeda identitas kita sebagai orang Kristen, itu saja? Apakah di dalam hati kita Ia benar-benar adalah  Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja? Sehingga dengan hati yang hormat dan penuh kerinduan kita datang ke hadiratnya setiap saat, benar-benar  segenap hati bersandar kepada-Nya?

Daniel 2:36-45

「Runtuhnya Kerajaan」

Apa yang engkau cari dalam hidup? Kuasa kerajaan manusia silih berganti runtuh, hanya Satu yang tetap.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:36-45 [ITB])
36Itulah mimpi tuanku, dan sekarang maknanya akan kami katakan kepada tuanku raja:
37「Ya tuanku raja, raja segala raja, yang kepadanya oleh Allah semesta langit telah diberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan, 38dan yang ke dalam tangannya telah diserahkan-Nya anak-anak manusia, di manapun mereka berada, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan yang dibuat-Nya menjadi kuasa atas semuanya itu–tuankulah kepala yang dari emas itu.
39Tetapi sesudah tuanku akan muncul suatu kerajaan lain, yang kurang besar dari kerajaan tuanku; kemudian suatu kerajaan lagi, yakni yang ketiga, dari tembaga, yang akan berkuasa atas seluruh bumi.
40Sesudah itu akan ada suatu kerajaan yang keempat, yang keras seperti besi, tepat seperti besi yang meremukkan dan menghancurkan segala sesuatu; dan seperti besi yang menghancurluluhkan, maka kerajaan ini akan meremukkan dan menghancurluluhkan semuanya. 41Dan seperti tuanku lihat kaki dan jari-jarinya sebagian dari tanah liat tukang periuk dan sebagian lagi dari besi, itu berarti, bahwa kerajaan itu terbagi; memang kerajaan itu juga keras seperti besi, sesuai dengan yang tuanku lihat besi itu bercampur dengan tanah liat. 42Tetapi sebagaimana jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan menjadi keras sebagian dan rapuh sebagian. 43Seperti tuanku lihat besi bercampur dengan tanah liat, itu berarti: mereka akan bercampur oleh perkawinan, tetapi tidak akan merupakan satu kesatuan, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat.」
44「Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya, 45tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu.
Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai.」

Mimpi Nebukadnezar menyangkut hal yang akan digenapi kelak, menyingkapkan arah gerak sejarah umat manusia. Mimpi ini juga sangat erat berkaitan dengan diri Nebukadnezar sendiri, karena ia adalah 「kepala yang dari emas itu」 (Daniel 2:38), mendominasi bagian badan patung yang lain-lain. Sebagai raja yang melampaui raja lain, kerajaan, kuasa, kekuatan, dan kemuliaan terkumpul pada dirinya seorang, seluruh yang hidup yang bernafas ada di dalam kuasa tangannya, Nebukadnezar justru harus memahami dua hal: Pertama, semua kuasa ini seluruhnya berasal dari Allah; Kedua, dalam rencana Tuhan atas sejarah, kepala emas pada akhirnya akan digantikan.

Selain kepala emas, mengenai setiap bagian patung besar yang lain (perak, tembaga, besi, setengah besi setengah tanah liat) mewakili kerajaan apa, tidak terdapat pengertian yang sama dari para peneliti Alkitab, ini juga terkait pendapat yang berbeda-beda atas tanggal penulisan dan identitas penulis kitab Daniel. Di antara perbedaan pendapat yang paling besar adalah bagian kelima (jari kaki yang setengah besi setengah tanah liat) sebenarnya menunjuk suatu kuasa kerajaan yang ada di atas bumi, atau adalah sebuah kerajaan rohaniah. Berharga diperhatikan adalah bahwa pengelihatan mimpi ini pada saat itu justru menunjuk masa depan, dan Daniel hanya memberikan uraian yang jelas terhadap bagian kepala emas atas patung besar itu, sengaja tidak mengatakan dengan terang bagian yang lain-lain adalah mewakili kerajaan yang mana. Berdasarkan sifat karakter khusus sastra apokaliptik, kita tidak berhalangan memahaminya dengan cara ini: seluruh patung besar adalah perwakilan semua kerajaan di bawah langit, sebagai simbol arah gerak peristiwa dalam sejarah umat manusia. Patung besar sebagai sebuah keseluruhan (Daniel 2:35, 44), setiap bagian mewakili kuasa politik dan kerajaan yang memusuhi Allah yang ada di antara umat manusia di berbagai masa dan dinasti, pada akhirnya akan dihantam musnah oleh Kerajaan Allah (sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia) (Daniel 2:34-35), akan datang pada waktunya sebuah Kerajaan kekal milik Allah akan didirikan.

Pengelihatan mimpi Nebukadnezar, membawakan dua macam penyingkapan penting:

  1. Pertama, kuasa kerajaan di antara manusia keadaannya makin menurun. Emas digantikan perak, perak digantikan tembaga, tembaga digantikan besi, besi digantikan setengah besi setengah tanah liat yang makin lemah, nilai harganya tiada henti berkurang. Mulai dari kerajaan Babel, sampai kuasa kerajaan yang paling akhir terulang digantikan, satu dinasti akan tidak dapat dibandingkan dinasti sebelumnya. Patung besar megah mulia dengan emas sebagai kepala, justru dengan yang lemah lunak tidak tahan satu hantaman sebagai akhir.
  2. Kedua, Kerajaan Allah akan memenuhi di bawah langit. Patung amat besar yang dibuat tangan manusia, pada akhirnya dihantam hancur musnah oleh sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia. Sebuah batu ini sebagai simbol Kerajaan Allah, selamanya tidak kalah rusak, akan tetap untuk selama-lamanya (Daniel 2:44). Dalam pengelihatan mimpi Nebukadnezar, sepotong batu ini akan menjadi gunung besar; maknanya kerajaan manusia pada akhirnya akan berakhir selesai, tetapi Kerajaan Allah akan dengan besar berkembang, memenuhi di bawah langit.

Bagi sekelompok umat Allah yang ditawan sebagai budak, ini adalah sebuah berita pengharapan. Kuasa kerajaan di antara manusia tidak peduli seberapa kuat jaya, juga hanyalah yang sementara saja, pada akhirnya semua akan bertebaran seperti debu, hilang seperti asap, hanya Kerajaan Allah tetap kekal selama-lamanya. Benar demikian adanya, sejarah ada di dalam genggaman tangan kendali Allah, Dia telah memiliki rencana yang sepenuhnya, siatuasi zaman bergerak maju berdasarkan kehendak Dia.

Renungkan: Kitab Daniel menjabarkan kepada kita sebuah konsep sejarah dan konsep dunia (pandangan dunia) yang jelas. Tidak peduli kuasa kerajaan apapun di antara manusia yang sedang berkuasa, jangan lupa Allah tetap memegang kendali, semua ada dalam rencana dan kehendak Dia. Tidak peduli kuasa kerajaan di atas bumi yang bagaimana penuh dosa melimpah, memusuhi Allah, tetap menerima batasan masa waktu yang ditentukan Allah; dan pada akhirnya, kuasa kerajaan di antara manusia harus seperti debu bertebaran hilang seperti asap, Kerajaan Allah hendak penuh di bawah langit, sampai selama-lamanya.

Saudara dan saudari, menyaksikan kejahatan kuasa kerajaan, masyarakat yang kehilangan hukum yang bersuka-ria atas kejahatan, banyak nilai kebajikan yang sedang hilang dengan cepat, kita mudah putus asa kehilangan tekat. Kitab Daniel justru mengingatkan kita: Allah tetap memegang kendali, kejahatan kuasa kerajaan di antara manusia tidak mampu tetap kekal, pada akhirnya akan digantikan kerajaan Allah yang kekal. Bagaimanakah kedudukan Kerajaan Allah di dalam hati engkau? Dalam zaman yang bengkok dan sesat ini, bagaimanakah engkau menghidupi gaya hidup umat Allah?


Tambahan Penerjemah:

(Markus 4:19 [ITB]) “lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Zaman ini penghimpit firman itu, penipu daya itu yang dicari diagungkan: kecantikan, ketampanan, kehebatan, kejayaan, kekayaan. Semua akan berlalu, hancur seperti debu, lenyap seperti asap. Hanya Dia yang tetap selama-lamanya yang patut dicari dan diagungkan dalam hidup ini.

 

Daniel 2:24-35

「Rahasia Dipecahkan」

Hanya ada satu, Dia yang kepada-Nya Daniel bersandar.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:24-35 [ITB])
24Sebab itu pergilah Daniel kepada Ariokh yang telah ditugaskan raja untuk melenyapkan orang-orang bijaksana di Babel; maka pergilah ia serta berkata kepadanya, demikian: “Orang-orang bijaksana di Babel itu jangan kaulenyapkan! Bawalah aku menghadap raja, maka aku akan memberitahukan kepada raja makna itu!”
25Ariokh segera membawa Daniel menghadap raja serta berkata kepada raja demikian: “Aku telah mendapat seorang dari antara orang-orang buangan dari Yehuda, yang dapat memberitahukan makna itu kepada raja.”
26Bertanyalah raja kepada Daniel yang namanya Beltsazar: “Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?”
27Daniel menjawab, katanya kepada raja:
“Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum.
28Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang.
Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:
29Sedang tuanku ada di tempat tidur, ya tuanku raja, timbul pada tuanku pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan Dia yang menyingkapkan rahasia-rahasia telah memberitahukan kepada tuanku apa yang akan terjadi. 30Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.
31Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan. 32Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, 33sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.
34Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. 35Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Daniel melalui doa, mendapatkan penyataan yang dari atas. Ia terlebih dahulu menaikkan pujian kepada Dia yang mengaruniakan hikmat pengetahuan, Allah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, kemudian barulah ia pergi menemui Ariokh sang pemimpin pengawal raja. Daniel tidak memohon apa-apa bagi diri sendiri, tetapi meminta pengampunan bagi orang-orang berilmu Babel. Berada di antara bangsa asing, Daniel tidak pernah memandang penganut agama yang lain dari dirinya sebagai musuh, justru sebaliknya mengkuatirkan keamanan mereka, berinisiatif bertindak bagi mereka.

Demikian juga, saat raja Nebukadnezar menuntut penjelasan mimpi, Daniel tidak memakai kesempatan minta jasa, sebaliknya mengkoreksi titik berat raja, ia menunjukkan bahwa 「di Sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia」 (Daniel 2:28). Penjelasan terjemahan CUVT 「hanya ada satu pribadi Allah di Sorga yang mampu menyingkapkan rahasia-rahasia」adalah sangat memiliki makna. Karena dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno, orang-orang secara umum memiliki konsep politeisme (allah yang banyak), hanya umat Israel yang hormat dan menyembah Allah tunggal yang sejati. Daniel menekankan 「hanya ada satu」, dengan tepat menjawab perkataan orang-orang berilmu Babel: 「selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia, tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja.」 (Daniel 2:11)

Mimpi yang dinyatakan Allah adalah menyangkut 「apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang」 (Daniel 2:28). Nebukadnezar bermimpi melihat sebuah patung amat besar, rupanya dahsyat, material dan strukturnya juga aneh tiada banding. Patung amat besar ini, kepalanya dari emas, dada dan lengan adalah perak, perut dan pinggang adalah tembaga, paha adalah besi, kaki adalah setengah besi setengah tanah liat (Daniel 2:32-33). Dalam karya sastra zaman kuno, tidak ditemukan patung dengan rupa yang demikian aneh seperti itu ataupun penggambaran yang serupa. Peneliti Alkitab menunjukkan patung ini memiliki beberapa ciri khusus:

  1. Materialnya dari emas sampai perak, tembaga, besi, nilai harganya dari bagian  atas turun ke bawah terus berkurang, sebagai simbol bahwa kerajaan di antara manusia tiada henti runtuh, berakhir menuju kebinasaan.
  2. Tingkat kekerasan materialnya justru terbalik dari atas sampai bawah tiada henti bertambah; yang makin berharga, emas sifat materialnya makin lunak.
  3. Sepotong batu yang tidak diketahui asalnya, 「terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia」, menimpa kaki patung, seluruh patung besar itu dalam sekejap runtuh remuk, debu bertebaran lebur seperti asap, dihembus angin tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Kemudian, batu ini menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (Daniel 2:34-36).

Penyataan Allah dalam mimpi Nebukadnezar ini terkait erat dengan penglihatan 「empat binatang」 di fasal tujuh, dan penglihatan 「kambing jantan dan domba jantan」 di fasal delapan, depan belakang saling bersambut. Akan dijelaskan secara detil di saatnya.

Renungkan: semua orang bijaksana di negeri Babel kehilangan akal untuk mengetahui apa isi mimpi, paling akhir dipecahkan oleh Daniel — seorang tawanan muda. Titik berat perikop ini, bukan Daniel mampu melakukan apa yang orang lain tidak mampu, atau tahu lebih dahulu hal yang tidak terduga, tetapi adalah Allah Pemegang kendali atas sejarah yang kepada-Nya Daniel bersandar. Tepat seperti pujian yang dinaikkan Daniel: 「Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian; Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya (terang tinggal bersama-Nya)」 (Daniel 2:21-22). Allah melalui hamba-Nya, menyatakan hal yang akan digenapi kelak kepada raja yang diangkat oleh tangan-Nya. Ini adalah Allah Pemegang kendali atas hari esok, apakah merupakan pribadi yang kepada-Nya kita bersandar dengan segenap hati?

Dari diri Daniel dapat terlihat kebajikan rohaninya. Ia mengasihi Allah, semua kemuliaan pujian merupakan milik Allah, sama sekali tidak mencuri kemuliaan Allah. Ia mengasihi orang, tidak memandang orang-orang berilmu Babel sebagai musuh (walaupun sebentar lagi kita akan membaca bagaimana orang-orang berilmu ini bertindak ingin menghabisi Daniel), ia berusaha segenap tenaga memohon ampun bagi nyawa mereka. (lihat Kel. 23:4-5; Luk. 6:27 “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”). Kiranya kita belajar dari teladan teladan Daniel, dalam situasi apapun tetap bersandar kepada Allah, tekun berbuat nyata mengasihi Tuhan dan mengasihi orang.

Daniel 2:14-23

「Menyatakan Rahasia」

Hal pertama yang sepatutnya dilakukan.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:14-23 [ITB])
14Lalu berkatalah Daniel dengan cerdik dan bijaksana kepada Ariokh, pemimpin pengawal raja yang telah pergi untuk membunuh orang-orang bijaksana di Babel itu,
15katanya kepada Ariokh, pembesar raja itu: “Mengapa titah yang begitu keras ini dikeluarkan oleh raja?” Lalu Ariokh memberitahukan hal itu kepada Daniel.
16Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepada raja.
17Kemudian pulanglah Daniel dan memberitahukan hal itu kepada Hananya, Misael dan Azarya, teman-temannya, 18dengan maksud supaya mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel.
19Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam.
Lalu Daniel memuji Allah semesta langit. 20Berkatalah Daniel: “Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!
21Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;
22Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.
23Ya Allah nenek moyangku, kupuji dan kumuliakan Engkau, sebab Engkau mengaruniakan kepadaku hikmat dan kekuatan, dan telah memberitahukan kepadaku sekarang apa yang kami mohon kepada-Mu: Engkau telah memberitahukan kepada kami hal yang dipersoalkan raja.”

Nebukadnezar sampai sangat terganggu oleh mimpinya sendiri. Di istana tidak ada seorang berilmu pun yang mampu mengatakan isi mimpinya, apalagi menjelaskan arti mimpinya. Dalam api kemarahannya, raja memerintahkan hendak membinasakan semua orang bijaksana di negeri. Ariokh, pemimpin pengawal raja mendapatkan tugas ini, maka ia mendapatkan Daniel. Setelah Daniel mengetahui awal muasal hal ini, maka ia memohon kepada raja untuk diberi waktu. Kemudian satu hal yang ia segera lakukan berikutnya, adalah berdoa. Selain ia sendiri bersungguh-sungguh berdoa, juga mencari ketiga teman Hananya, Misael, Azarya bersama-sama memohon kepada Allah.

Dari sini dapat dilihat, Daniel adalah seorang yang memandang berharganya doa, dan penuh memiliki iman. Dalam keadaan krisis, Daniel tidak putus asa kehilangan keberanian, malahan percaya dengan sungguh bahwa Allah pasti menjawab permohonan mereka. Orang berilmu Babel berkata: 「Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.」 (Daniel 2:11). Perkataan mereka hanya benar separo. Mereka tidak mengetahui TUHAN yang kepada-Nya Daniel dan tiga teman bersandar, adalah Allah yang jauh melampaui segala, juga adalah Allah yang beserta manusia, Allah yang mendengarkan doa. Keempat orang muda yang saleh ini bersatu hati dengan sungguh memohon TUHAN 「menyatakan tentang rahasia itu」 (Daniel 2:18).

Perikop segera melanjutkan: 「Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam」 (Daniel 2:19). Pada malam itu juga, TUHAN mengungkapkan kepada Daniel tentang mimpi Nebukadnezar dan penjelasan yang terkait. Daniel setelah mendapatkan penyingkapan, pada saat pertama bukan pergi mencari raja untuk meminta jasa, tetapi menaikkan pujian kepada Allah di Sorga. Daniel 2:20-23 mencatat isi ucapan syukur Daniel. Titik berat pujian berfokus pada dua sifat Allah:

  1. Allah Maha Kuasa: raja Babel Nebukadnezar berkemampuan besar, menguasai dunia, hidup atau mati Daniel dan teman-temannya sepertinya ada di dalam genggaman tanganya. Tetapi, Daniel dengan jelas mengetahui, hanya TUHAN Pemegang kendali atas semua, pergantian waktu dan musim, pergantian dinasti dan raja (termasuk kerajaan Babel dan raja Nebukadnezar ), semua ada dalam tangan-Nya (Daniel 2:21).
  2. Hikmat Allah: hikmat dan kemampuan adalah milik Dia, kebijaksanaan orang dan pengetahuan juga adalah dari Dia yang mengaruniakan (Daniel 2:20). Daniel mengetahui dengan sedalam-dalamnya, isi mimpi yang ia dapatkan dan pemahaman atas makna isi mimpi, bukan mengandalkan hikmat diri sendiri atau pengetahuan yang dipelajari di Babel, tetapi berasal dari penyingkapan TUHAN. Hanya Allah 「Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya (terang tinggal di dalam Dia)」 (Daniel 2:22). Maka, hikmat yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh orang kepunyaan Allah. Sesungguhnya ini adalah akar masalah mengapa orang-orang berilmu Babel tidak dapat menjelaskan mimpi raja. Pujian Daniel dibuka dengan「hikmat dan kekuatan」 TUHAN (Daniel 2:20), juga ditutup dengan Dia mengaruniakan 「 hikmat dan kekuatan」 (Daniel 2:23).

Renungkan: saat engkau jatuh dalam keadaan sulit atau bahaya krisis, apa yang akan engkau lakukan di saat pertama? Dari diri Daniel, kita melihat sebuah teladan saleh dan penuh hikmat:

  1. Daniel segera berdoa kepada Allah;
  2. Daniel mengajak teman-teman bersama-sama satu hati berdoa;
  3. Daniel mengenal Allah, ini adalah dasar permohonan dan pujiannya.

Saudara dan saudari, tidak peduli keadaan apapun, harap penuh keyakinan beriman kepada Allah yang kepada-Nya kita bersandar, Yang memiliki kekuatan kemampuan Maha Besar, penuh berhikmat, terlebih lagi dengan senang hati mendengarkan permohonan anak-anak-Nya. 「Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.」 (Ibrani 4:16)


Tambahan Penerjemah:

Mungkinkah tanpa sadar kita merasa diri penuh kehebatan, kepandaian, dan penuh hikmat sehingga memandang rendah orang lain? Atau mungkinkah tanpa sadar kita terperangkap pada pengagungan pikiran kita sendiri? Jika kita telah tahu Allah adalah Sumber segala Hikmat, apakah kita bersedia datang dengan kerendahan hati berlutut di hadapan-Nya memohon Ia menerangi kita agar mampu memeriksa hati kita sendiri?

Daniel 2:1-13

「Allah yang tidak Tinggal Bersama Manusia Dunia」

Hanya Allah, Dia yang bukan seperti manusia di dunia.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:1-13 [ITB])
1Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar bermimpilah Nebukadnezar; karena itu hatinya gelisah dan ia tidak dapat tidur. 2Lalu raja menyuruh memanggil orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim, untuk menerangkan kepadanya tentang mimpinya itu; maka datanglah mereka dan berdiri di hadapan raja.
3Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.”
4Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): “Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya.”
5Tetapi raja menjawab para Kasdim itu: “Aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan dipenggal-penggal dan rumah-rumahmu akan dirobohkan menjadi timbunan puing; 6tetapi jika kamu dapat memberitahukan mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan menerima hadiah, pemberian-pemberian dan kehormatan yang besar dari padaku. Oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku mimpi itu dengan maknanya!”
7Mereka menjawab pula: “Silakan tuanku raja menceriterakan mimpi itu kepada hamba-hambanya ini, maka kami akan memberitahukan maknanya.”
8Jawab raja: “Aku tahu benar-benar, bahwa kamu mencoba mengulur-ulur waktu, karena kamu melihat, bahwa aku telah mengambil keputusan, 9yakni jika kamu tidak dapat memberitahukan kepadaku mimpi itu, maka kamu akan kena hukuman yang sama; dan aku tahu bahwa kamu telah bermufakat untuk mengatakan kepadaku hal-hal yang bohong dan busuk, sampai keadaan berubah. Oleh sebab itu ceriterakanlah kepadaku mimpi itu, supaya aku tahu, bahwa kamu dapat memberitahukan maknanya juga kepadaku.”
10Para Kasdim itu menjawab raja: “Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. 11Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.”
12Maka raja menjadi sangat geram dan murka karena hal itu, lalu dititahkannyalah untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel.
13Ketika titah dikeluarkan supaya orang-orang bijaksana dibunuh, maka Daniel dan teman-temannyapun terancam akan dibunuh.

Pada masa raja Babel Nebukadnezar memerintah, telah terjadi sebuah peristiwa aneh. Berdasarkan tradisi orang Babel, tahun seorang raja naik takhta tidak dihitung sebagai tahun pertama, sehingga「tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar」 secara tidak langsung adalah menunjuk tahun ketiga Daniel ditawan. Dalam perikop dicatat, saat itu Nebukadnezar bermimpi yang membuat ia terganggu dan kesulitan, maka memanggil semua orang-orang berilmu di istana. Orang-orang berilmu ini dihadapkan pada ujian yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Secara normal, raja seharusnya terlebih dahulu memberitahukan mimpinya kepada penafsir mimpi, mereka baru mampu memberikan penjelasan, Nebukadnezar justru dengan gigih menolak membocorkan isi mimpinya. Ini sesungguhnya adalah permintaan yang tidak masuk akal, membuat sekelompok orang yang ahli dalam ilmu tenung, meramal, 「pakar」 sihir tidak berdaya. Sebuah catatan samping, mulai dari fasal 2:4 sampai 7:28 kitab Daniel ini beralih dituliskan dalam bahasa Aram; bahasa Aram pada saat itu adalah bahasa yang dipakai umum di daerah Timur Tengah, juga merupakan bahasa resmi negara Babel dan Persia.

Perikop ini tidak memberitahukan mengapa Nebukadnezar tidak bersedia mengatakan isi mimpi. Dari sikap raja yang tidak masuk akal dan bersikeras ini dapat dimengerti bahwa ia tahu di balik mimpi ini terdapat berita yang sangat tidak biasa, maka tidak mau orang-orang berilmu tersebut sembarangan mengarang (Daniel 2:9), dan mungkin aslinya tidak percaya atas kejujuran mereka, berpendapat bahwa mereka pasti 「saling bermufakat」 merencanakan membohongi raja. Dalam kemarahan, raja mengalihkan kemurkaannya kepada semua orang-orang berilmu di seluruh negeri, memerintahkan agar dibunuh semua. Daniel dan ketiga teman yang belum punya kesempatan bekerja dan melayani di hadapan raja, telah ikut kena getah, tidak berbuat salah namun ikut terlibat.

Yang paling berharga diperhatikan dalam perikop ini, adalah respon orang-orang berilmu ini terhadap raja: 「Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. 11Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.」 (Daniel 2:10-11). Permintaan raja memang benar-benar tidak masuk akal, tidak sesuai keadaan normal, karena hikmat orang dunia yang memiliki batas memang benar-benar tidak dapat menjelaskan sebuah mimpi yang belum diberitahukan. Penulis Alkitab melalui mulut kelompok ahli sihir tenung yang selama ini menyembah para dewa Babel, orang-orang berilmu yang tidak mengenal TUHAN ini, membawakan inti penting dari fasal ini: hanya Allah sejati, yang memahami kebenaran di balik misteri ini, juga hanya Allah yang Maha Melampaui segala, yang mampu memberikan jawaban atas hal-hal yang tidak kuasa dipahami dan dijelaskan orang dunia. Bagi sekelompok umat Israel yang ditawan menjadi budak, berita ini adalah peringatan yang sangat penting. Mereka walaupun terpaksa tunduk dalam kekuasaan raja Babel, tetapi raja tetap hanyalah manusia, ia sebagai manusia tidak bisa terlepas dari berbagai macam kesulitan ganguan dan keterbatasan; tetapi TUHAN Allah yang mereka kenal yang mereka hormat dan sembah, adalah Yang memegang kendali atas segalanya. (Demikian juga bagi kita, penindas kita baik itu merupakan pribadi manusia, penderitaan ataupun keadaan sulit, ada batasnya, tidak akan lebih besar dari TUHAN Allah kita)

Renungkan: 「Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.」

Dalam perjalanan panjang kehidupan terdapat banyak hal-hal yang tidak dapat kita pahami dan mengerti. Sebagai orang Kristen, apakah engkau dengan tegas penuh keyakinan percaya bahwa Allah sedang memegang kendali, Dia adalah Tuhan atas segala yang ada, Tuhan alfa dan omega? Walaupun jatuh dalam keadaan sulit, walaupun di depan adalah sedemikian banyaknya hal yang tidak diketahui dan ketidak-pastian, kiranya kita teguh yakin beriman bahwa hidup kita ada dalam pimpinan dan perlindungan Allah, sehingga mampu dengan penuh keberanian, tanpa takut, berserah diri kepada Tuhan.

Daniel 1:17-21

「Sumber Hikmat」

Hasil dari orang yang mengandalkan Allah Sang Sumber Hikmat.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 1:17-21 [ITB])
17Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.
18Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar.
19Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja.
20Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.
21Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.

Yang memegang kendali bukan Nebukadnezar, tetapi adalah Allah. Kinerja keempat orang yang menonjol ini bukan berasal dari pendidikan khusus istana Babel, tetapi datang dari Allah yang mengaruniakan pengetahuan dan hikmat. Ini adalah berita yang menonjol dari Kitab Daniel fasal 1 yang memiliki warna sastra hikmat.

Masa pendidikan tiga tahun telah penuh, Daniel dan ketiga teman dibawa ke hadapan Nebukadnezar. Dalam percakapan, raja mendapatkan keempat orang melampaui yang lain-lain dengan sangat mengesankan, tidak hanya jauh di atas para pemuda elite yang dididik bersama, bahkan jauh melebihi semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaan (Daniel 1:20); Perlu diketahui, orang-orang ini percaya kepada dewa-dewa Babel, mereka berpendapat bahwa kemampuan meramal, ilmu tenung, mengartikan mimpi adalah berasal daripara dewa, atau mungkin berasal dari kuasa kegelapan. Keempat orang jauh melebihi semua orang berilmu. Bagi orang-orang lain yang melihat, Daniel dan tiga teman mungkin adalah beruntung, bisa mendapatkan perlakuan yang baik dari kepala kasim; mungkin karena kepandaian milik mereka yang melampaui orang, sehingga mendapatkan hadiah jabatan dari raja. Hanya empat orang ini saja yang memahami dalam hati, semua adalah datang dari Allah, yang kepada-Nya mereka bersandar, semua terjadi disebabkan oleh perbuatan Allah. Allah memegang kendali atas semua, ini adalah berita dalam fasal satu yang sekali lagi muncul: adalah Allah yang menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangan Nebukadnezar; adalah Allah yang menyuruh penjenang (mandor pengawas) ambil resiko memenuhi permintaan Daniel tidak makan santapan raja; adalah Allah yang membuat perawakan keempat orang tumbuh lebih sehat dan lebih baik dibandingkan pemuda yang lain; adalah Allah yang membuat keempat orang dalam ilmu pengetahuan, dalam hikmat jauh melampaui para elite yang lain, mendapatkan perhatian Nebukadnezar (lihat Daniel fasal 2, 3, 5).

Kata penutup yang sederhana 「Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.」 (Daniel 1:21) sangat mempunyai makna. Tahun ketiga Yoyakim memerintah (Daniel 1:1) merupakan permulaan ditawannya umat Allah, juga merupakan mulainya kehidupan pelayanan Daniel; dan tahun pertama pemerintahan raja Koresh adalah penutup akhir fasal pertama. Daniel walaupun sebagai tawanan, seumur hidupnya melalui keseluruhan masa penawanan, mengalami pergantian dinasti, ia hidup lebih panjang umur lebih lama dibandingkan musuhnya. Tidak peduli keadaan apapun, Allah tetap memegang kendali! Ini adalah berita yang dibawakan oleh pembukaan dan akhir fasal yang saling bersambut tersebut. Bagi umat Israel yang dalam tawanan, adalah penghiburan dan dorongan semangat yang besar sekali. (Juga bagi kita!) Walaupun ditawan ke tempat bangsa asing, umat Allah tetap berkehendak penuh keyakinan beriman bahwa Allah memegang kendali, Dia hendak menggenapkan kehendak dan rencana-Nya oleh Dia sendiri; dan kewajiban umat adalah mempertahankan iman dan kesetiaan suci kepada Allah.

Renungkan: Allah tidak hanya Pemegang kendali, Dia juga adalah Yang Setia, sangat berharga orang bersandar secara total kepada-Nya. Daniel dan ketiga teman mengalami kehancuran bangsa kehilangan keluarga, ditawan ke tempat bangsa asing, dalam pandangan manusia ini sungguh nasib jelek. Mereka boleh bersungut-sungut, atau memilih untuk hidup membius diri sendiri seumur hidup. Tetapi keempat pemuda justru bertekat mengandalkan iman secara total menyerahkan kehidupan mereka sendiri kepada Allah, sehingga mengalami perlindungan dan pemeliharaan Allah. Apakah kita juga memiliki iman penuh keyakinan yang demikian? Ambil tekat beriman kepada Tuhan adalah tindakan dalam tempo singkat, tetapi menghadapi berbagai macam tantangan dan pilihan di dalam jalan kehidupan, hendaklah mempertahankan iman sampai akhir, dengan kegigihan hati hanya mengandalkan Tuhan yang setia ini saja. (Allah adalah sumber hikmat, hanya Ia yang dapat diandalkan.) Percaya bagaimana dahulu Allah memelihara Daniel dan ketiga teman, hari ini Dia sama dengan senang hati menganugerahkan kasih kemurahan-Nya kepada orang yang bersandar kepada Dia.