「Allah di atas segala allah」
Di dalam hati kita bagaimanakah Allah yang kita yakini?
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Daniel 2:46-49 [ITB])
46Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan kepadanya.
47Berkatalah raja kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.”
48Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.
49Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.
Di antara orang berilmu di Babel, hanya Daniel mampu mengatakan isi mimpi dan menjelaskannya. Nebukadnezar takluk sujud menyembah dengan lima anggota tubuh menyentuh tanah, memuji TUHAN yang dihormati dan disembah Daniel. Raja menemukan Allah di balik Daniel menang jauh atas para dewa yang disembah orang-orang berilmu seluruh negeri. Tentu saja, Nebukadnezar bukan memutuskan hendak ganti beriman kepada TUHAN. Dalam kebiasaan umum kebudayaan Babel yang banyak dewa, Nebukadnezar mengalami TUHAN adalah satu dewa asing yang spesial hebat, itu saja. Dari catatan kitab Daniel yang selanjutnya, dapat dilihat raja belum ganti beriman kepada TUHAN sebagai satu-satunya Allah yang sejati.
Tidak peduli bagaimana, seorang raja yang keberhasilannya menggemparkan di zaman dahulu dan yang tetap berkilauan bagi zaman sekarang, sampai sujud di hadapan seorang tawanan berbangsa asing yang rendah, menghormat tinggi Allah pihak dia (Daniel), ini adalah sebuah pemandangan yang sulit dibayangkan. Saat itu melalui hal ini, umat Israel yang ditawan di tempat asing sekali lagi diingatkan: segala sesuatu dalam genggaman kendali Allah, sejarah umat manusia juga tidak terkecuali. Sejarah bukan merupakan sebuah siklus berulang, tetapi memiliki titik mulai dan titik akhir, bergerak maju berdasarkan rencana Allah; dan titik akhirnya adalah kebinasaan kuasa kerajaan di antara manusia, datangnya Kerajaan Allah. Umat Allah walaupun ditawan, bekerja melayani bangsa asing, tetapi ini bukan perhentian akhir, sampai waktunya, Allah akan menghantam runtuh semua kekuatan yang mencengkeram mereka.
Nebukadnezar karena Daniel berjasa memecahkan mimpi, mempromosikan dia naik kedudukan tinggi. Daniel justru tidak lupa ketiga teman-teman yang bersama dia bersatu hati berdoa, tidak bersedia sendirian menerima jasa, memohon raja bagi mereka, paling akhir tiga orang mendapatkan pengangkatan. Tetapi jabatan empat orang ini justru menjadi sumbu terpendam mendapatkan kebencian dan pencelakaan dari sesama pejabat di kemudian hari.
Renungkan: dalam perikop ini Nebukadnezar dan Daniel, potret yang saling berhadapan dari dua orang ini berharga bagi kita untuk direnungkan mendalam.
- Nebukadnezar terhormat sebagai raja penguasa kerajaan Babel, bertakhta memiliki kuasa di bawah langit, kedudukan, kekayaan, sepertinya tidak kekurangan satu hal apapun, justru oleh sebuah mimpi dibuat tidur dan makan tidak tenteram, bahkan kehilangan kontrol sampai hendak membunuh besar-besaran. Orang yang mengejar banyak kekuasaan, kedudukan, kekayaan sebagai target pencarian, juga tidak tentu dapat menikmati dan memiliki seberapa besar rasa puas kedamaian tenteram.
- Daniel sebagai yang ditawan, mati atau hidup tidak dapat ia putuskan sendiri, justru dalam kondisi paling bahaya, tidak panik tidak kalang-kabut, ia menyelamatkan keadaan besar.
Titik kuncinya adalah Daniel bersandar Allah, bersama teman-teman bersatu hati memohon, sehingga mendapatkan hikmat yang yang datang dari atas, menyelesaikan sebuah bahaya krisis. Daniel tidak hanya menyelamatkan nyawa diri sendiri dan sekelompok orang berilmu, terlebih lagi dapat bersaksi tentang kemampuan dan hikmat besar TUHAN di antara bangsa asing. Ia memberikan sebuah teladan dalam situasi apapun bersikeras setia terhadap Allah .
「Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia.」 Saudara dan saudari, apakah ini merupakan keyakinan kokoh dari iman anda? Dalam jatuh bangun di kehidupan, apa yang jadi sandaran dalam hati kita? Hormat kepada Allah dan keyakinan kita untuk bersandar kepada-Nya, apakah cukup bagi kita bertahan menyambut berbagai macam bahaya krisis dan ujian?
Tambahan Penerjemah:
Apakah sebutan Allah adalah sebuah identitas saja? Pembeda identitas kita sebagai orang Kristen, itu saja? Apakah di dalam hati kita Ia benar-benar adalah Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja? Sehingga dengan hati yang hormat dan penuh kerinduan kita datang ke hadiratnya setiap saat, benar-benar segenap hati bersandar kepada-Nya?