Tag Archives: Mempertahankan iman

2 Timotius 4:2, 5-7

「Baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan Injil」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 4:2, 5-7 [ITB])
2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. 7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman kalimat ini sangat akrab terdengar, tetapi sering dikutip di luar konteks, menggambarkan diri sendiri menyelesaikan berbagai jalan dalam kehidupan, seni, politik, bisnis, dll. Maksud sebenarnya dari Paulus adalah mengacu pada jalan yang ia selesaikan sepanjang hidupnya untuk memberitakan Injil dan menuntun orang kepada Tuhan. Ayat 4:6 teks aslinya memiliki kata karena: karena pertandingan hidup penginjilan Paulus sudah selesai ia jalankan, maka dia harus menyerahkan tongkat estafet kepada Timotius untuk terus bekerja keras memberitakan Injil kabar bahagia (4:2, 5). Perjanjian Baru sebenarnya sangat jelas bahwa hal terpenting dalam hidup adalah memberitakan Injil dan memimpin orang kepada Tuhan.

Tidak peduli baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan kabar bahagia Injil, selalu konsentrasi segenap hati. Pendeta Andrew Leung, hidupnya adalah gambaran terbaik dari kalimat ini. Setelah lulus dari Alliance Bible Seminary, dia awalnya ingin pergi ke barat laut Cina memberitakan Injil, tetapi pada saat itu dia tidak dapat lagi melakukan pelayanan misi ini. Kemudian, karena masalah teknis, dia tidak dapat pergi ke Indonesia, akhirnya, dia pergi ke Vietnam.

Pada tahun 1960-an, dia membawa seluruh keluarga pergi ke Vietnam untuk misi. Dalam waktu kurang dari dua tahun, perang meletus di Vietnam. Saat itu, anak-anaknya tidak bisa bersekolah di Vietnam, sehingga mereka hanya bisa tinggal di Hong Kong dan diurus oleh sanak saudara. Pendeta Leung dan Istri memilih tinggal di Vietnam untuk mengabdi, dan mereka juga membuka panti asuhan untuk mengurus jumlah besar anak yatim piatu akibat perang.

Dia berada di Vietnam selama sekitar sepuluh tahun dan mengalami semua jenis kesulitan yang tak terbayangkan. Tidak peduli baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan Injil. Putranya kemudian bersaksi: Saya dengan mata sendiri melihat ayah saya tidak pernah mengeluh di dalam semua perubahan yang terjadi dan penderitaan ini; Tidak peduli bagaimana Tuhan memimpin, dia mengikuti dan patuh dengan rela. Selama perang, sebuah panti asuhan tiga lantai tiba-tiba runtuh dalam satu malam, selusin anak yatim dan seorang guru dari Hong Kong kehilangan nyawa, pendeta Leung dan istrinya terhimpit oleh reruntuhan. Setelah itu, dia tetap terus tinggal di Vietnam untuk menggembalakan gereja.

Hidupnya tidak pernah berhenti, ia telah memberitakan Injil kabar bahagia di mana-mana dan mendirikan gereja-gereja. Dia pernah melayani di Hong Kong, Vietnam, New York, Suriname dan Panama di Amerika Tengah dan Selatan. Dia berusia 90-an masih memberitakan Injil kabar bahagia di Panama, setiap kali dia memilih untuk pergi ke situasi yang paling sulit, merintis belantara atau menanggung kesulitan demi membangun gereja. Begitu situasi gereja stabil, dia meminta untuk dikirim keluar untuk merintis belantara dan membangun gereja lain.

Renungkan:
Dalam kehidupan Pendeta Andrew Leung, mengikuti teladan rasul Paulus, ia memastikan untuk memberitakan Injil tidak peduli baik atau tidak baik waktunya. Apakah Anda bersedia untuk meniru Paulus? Tidak peduli seberapa sibuk Anda di setiap tahap kehidupan Anda, pekerjaan, keluarga , atau belajar, walau menghadapi seberapa banyak kesulitan diri Anda sendiri dan yang ada dalam masyarakat, apakah Anda bersedia untuk mengutamakan memberitakan Injil?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Bilangan 24:25-25:3

「Rencana licik dan menyerang titik lemah」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 24:25-25:3 [ITB])
24:25 Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga.
25:1 Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. 2 Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. 3 Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel;

mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan beriman asing

Bilangan 24:25 Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga. Secara permukaan, Bileam tampaknya telah pergi, tetapi sebenarnya ia meninggalkan tipu muslihat yang lebih keji, yaitu menyarankan kepada Balak, raja Moab, agar memakai wanita untuk merayu pria Israel (lihat Wahyu 2:14, klik untuk membaca). Mereka tidak hanya berzina secara fisik dengan wanita Moab, secara rohani mereka juga bersama para perempuan itu menyembah allah Moab, untuk sepenuhnya mengalahkan umat Israel. Kejahatan ini mencakup setidaknya dua aspek:

• Pelanggaran terhadap perintah ketujuh — tidak boleh perzinaan: para pria Israel ini menurut adat pada saat itu, seharusnya sudah memiliki keluarga, dan para wanita Moab ini jika bukan pelacur kuil, maka adalah wanita yang sudah menikah. Perzinaan antara pria Israel dan wanita Moab adalah perselingkuhan, yang melanggar perjanjian pernikahan asli, itu merupakan dosa besar baik dalam budaya Timur Dekat kuno dan Alkitab (Kejadian 20:9). Ini adalah pembunuh terbesar yang menghancurkan pernikahan dan keluarga, dan secara langsung merampas landasan stabilitas bagi seluruh masyarakat. Godaan seksual tidak jarang tercatat dalam Alkitab, termasuk raja Daud dan Samson, yang telah membayar harga yang tragis untuk ini, tidak hanya dalam waktu pendek menghancurkan reputasi seorang pahlawan, tetapi juga menyebabkan banyak kematian dan luka di antara orang-orang. Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus, juga secara langsung menegur Herodes. Jarang ada orang yang dapat menolak godaan seperti yang dilakukan Yusuf, orang yang sangat memelihara kesucian diri serta suka menjaga diri sendiri.

• Pelanggaran terhadap perintah pertama – hanya TUHAN (Yahweh), tidak boleh ada allah lain. Para pria Israel itu tidak hanya tergoda untuk melakukan amoralitas seksual dengan wanita Moab, tetapi juga melangkah lebih jauh bersama-sama dengan perempuan-perempuan itu mempersembahkan korban sembelihan bagi allah mereka, turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu, sehingga Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel (Bilangan 25:2-3). Hubungan antara pria dan wanita adalah bergabungnya secara intim antara roh dan daging, serta komunikasi yang mendalam antara emosi dan tubuh. Sejak awal Allah menganugerahkan dan memberkati pernikahan, memberi manusia kebahagiaan besar di dunia. Tetapi itu juga yang paling mudah digunakan oleh Setan untuk menghancurkan perjanjian anugerah Allah dengan manusia. Seperti selir asing raja Salomo, atau Izebel ratu Ahab, atau istri-istri asing dari umat Allah yang pulang dari penawanan pada masa Ezra dan Nehemia. Alkitab tidak menentang pernikahan antar suku bangsa (seperti Musa dan Zipora, Salmon dan Rahab, Boas dan Rut), tetapi menentang bersatu dengan iman yang berbeda, karena pernikahan memiliki pengaruh yang paling besar terhadap iman. Kokoh bertahan di luar, tetapi sulit untuk mengalahkan tipu muslihat keji di bantal.

Renungkan:
• Bileam tidak bisa mengutuk orang Israel, jadi dia menyarankan untuk menggunakan rencana jahat wanita cantik untuk memikat pria Israel dan merusak seluruh umat itu.
• Orang percaya hari ini harus berhati-hati atas kelemahan sifat manusia ini, dan jangan biarkan Setan menemukan titik kelemahan untuk diserang.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

2 Tes. 1:11-12

「Dianggap Layak bagi Panggilan-Nya, Kasih Karunia Berkecukupan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 1:11-12 [ITB])
11Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, 12sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.

2 Tes. 1:3-10 merupakan bagian ucapan syukur dari surat ini, dua ayat yang mengikutinya adalah sebuah bagian doa, merupakan gema dari 1 Tes. 1:2-3 ia sering berdoa dan mengucapkan syukur bagi mereka. Namun jika mengatakan kedua ayat ini adalah sebuah doa syafaat, lebih sesuai jika mengatakan ini adalah sebuah harapan. Tidak seperti di 1 Tes. 3:11-13 atau 1Tes. 5:23-24 yang pasti merupakan doa Paulus bagi mereka, sebaliknya di sini ia terlebih dahulu menyatakan sering berdoa bagi mereka, kemudian memberi tahu tujuan doanya kepada orang percaya di Tesalonika. Sepertinya Paulus ingin melalui isi doanya menggairahkan orang percaya maju mengarah kepada setidaknya 3 aspek pertumbuhan ── oleh Allah dianggap layak bagi panggilan-Nya, melalui kekuatan-Nya disempurnakan kehendak untuk berbuat baik dan disempurnakan segala pekerjaan iman mereka, dan agar Allah dimuliakan pada diri mereka.

Lebih dahulu Paulus memberikan respon atas 1 Tes. 2:12 mengingatkan perbuatan orang percaya hendaknya sesuai panggilan mereka masuk ke dalam Kerajaan dan kemuliaan Allah. Selanjutnya Paulus paham bahwa walaupun orang-orang percaya ini secara iman memiliki pertumbuhan yang baik, hati yang saling mengasihi semuanya bertambah (2 Tes. 1:3), tetapi di dalam penderitaan aniaya masih tetap akan putus asa, merasa lelah, maka Paulus berdoa agar kekuatan Allah membuat kebaikan mereka menjadi kenyataan. Di 2 Tes. 1:11 kita menemukan kerjasama yang indah serta ajaib antara Allah dan manusia, panggilan Allah datang kepada orang percaya, orang percaya dengan berbuat baik sebagai respon, tetapi orang yang bersandar diri sendiri tidak dapat memenuhinya, maka Allah akan memakai kekuatan-Nya menggenapinya.

Isi doa ini memiliki dua tujuan, aspek pertama adalah agar Allah dimuliakan pada diri orang percaya, juga agar orang percaya mendapatkan kemuliaan dari diri Allah. Paulus di 2 Kor. 3:18 menyebutkan orang percaya di dunia ini melalui Tuhan Yesus mendapatkan kemuliaan Allah, juga di Rom. 8:18 disebutkan kemuliaan yang hendak dinyatakan kepada orang percaya kelak, maka Paulus di sini mengingatkan orang percaya hendaknya memakai kemuliaan Tuhan datang lagi kelak untuk memandang kesulitan dunia yang dihadapi saat ini, maka tidak akan merasa keberatan.

Renungkan: Saat kita menghadapi kesulitan, bukanlah hal yang mudah untuk terus melanjutkan berdiri tegap dengan kokoh bagi Tuhan. Misalnya jika orang non Kristen menghina atau menertawakan engkau, pasti tidak mudah mengasihi mereka. Kita walaupun berada di sebuah dunia yang sulit, kejam dan brutal, tetapi kita seharusnya sering mengingat dengan waspada, jika kita bertahan, tidak menyerah, tidak mengijinkan diri sendiri jatuh masuk ke dalam perangkap iblis, maka Tuhan Yesus akan dimuliakan pada diri kita. Ini sungguhnya doa Rasul Paulus. Kiranya kita memiliki doa ini.
Paulus berkata, engkau juga akan mendapatkan kemuliaan! Sekarang, walaupun engkau tidak dapat melihat perubahan di dalam dirimu, tetapi suatu hari saat Yesus datang kembali, kemuliaan di dalam kita akan memancarkan sinar, pengharapan ini sesungguhnya merupakan motivasi pendorong kita masih tetap melanjutkan pekerjaan iman walau menghadapi aniaya!

Yudas 17-23

「Kokoh Mempertahankan Iman」

Iman harus dipertahankan dengan gigih, bukan dengan keraguan.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Yudas ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yudas 17-23 [ITB])
17Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
18Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” 19Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.
20Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
21Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.
22Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, 23selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Setelah melalui tiga putaran menunjukkan kesalahan 「orang-orang」 itu, Yudas berganti tujuan memberikan petunjuk kepada orang kudus yang dikasihi. Dalam perikop ini, Yudas dua kali berpesan 「yang kekasih … (kalian hendak) …lah …」 (Yudas 1:17, 20). Yudas memberikan mereka tiga aspek nasehat: 1) ingat (ayat 17); 2) pelihara (ayat 21); dan 3) Tunjukkanlah belas kasihan (ayat 22).

Bagian pertama 「ingat」, ayat 17-19 Yudas mengingatkan orang percaya yang dikasihi hendaknya 「mengingat」. Sebenarnya tidak hanya mengingat ulang, orang percaya terlebih lagi hendaknya 「senantiasa ingat (tanpa lupa)」 atau 「penuh ingatan」 atas pengajaran para rasul terkait keadaan akhir zaman (lihat 2 Tim. 3). Selain itu, orang percaya hendak ingat dengan sungguh-sungguh membangun gereja berdasarkan Firman Allah, orang percaya bersama-sama 「dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru」 (Ef. 2:20).

Bagian kedua 「peliharalah」, adalah melindungi memelihara gereja yang dibangun itu. Yudas dalam ayat 20-21 mengajukan empat prinsip membuat kokoh kesehatan internal gereja. Yakni bagaimana orang kudus yang dikasihi hidup bersama-sama? 「Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal」. Setelah diterjemahkan dari bahasa aslinya terlihat seperti ada empat kata kerja, namun sebenarnya hanya ada sebuah kata kerja perintah 「peliharalah」 dan tiga kata partisip (participles, berfungsi memberikan penjelasan lebih lanjut bagi kata kerja utama 「peliharalah」). Melalui kata kerja perintah 「peliharalah」 dalam ayat 20-21, Yudas menyatakan bahwa dalam komunitas iman mereka harus 「Peliharalah dirimu dalam kasih Allah」. Kata kerja 「pelihara」 telah dua kali muncul. Pertama kali dalam ayat 1 「dipelihara untuk Yesus Kristus」(kata kerja pasif), yakni orang percaya 「dilindungi」; namun dalam ayat 21 sebaliknya adalah 「Peliharalah diri dalam kasih Allah」, jadi orang percaya diberi perintah harus aktif berusaha keras dan berinisiatif bersekutu dengan Allah. Yesus pernah berurutan tiga kali mengingatkan orang percaya, hendaknya 「… senantiasa tinggallah di dalam kasih-Ku… senantiasa tinggallah di dalam kasih-Ku… senantiasa tinggallah di dalam kasih-Nya」 (Yoh. 15:9-10). (Ada Allah yang memelihara, namun kita juga harus berusaha keras secara aktif menjaga, mempertahankan dan memelihara.)

Melanjutkan kata kerja 「peliharalah dirimu」, Yudas memakai tiga kata partisip yang sesuai terjemahan KJV adalah: building (membangun), praying (berdoa) and looking (menantikan) untuk mendorong orang percaya bagaimana memelihara mengukuhkan gereja. Memelihara iman dengan 3 cara ini:

  1. Pertama, membangun diri sendiri dalam Firman Allah. Orang percaya dibangun dalam Firman Allah tepat seperti membangun rumah, jika rumah didirikan di atas batu karang, maka dapat berdiri kokoh, tidak takut diterjang hujan dan badai (Mat. 7:24; Ef. 4:13-14).
  2. Kedua, berdoa dalam Roh Kudus. Roh Kudus berdoa bagi orang percaya, orang percaya juga hendak dalam dorongan-Nya berdoa kepada Tuhan (Rom. 8:26-27).
  3. Ketiga, 「menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal」. Orang Kristen terus berharap rahmat Juruselamat Yesus Kristus, memasuki kekekalan, kehidupan yang terlebih indah dan yang terlebih lagi melimpah.

Bagian ketiga 「Tunjukkanlah belas kasihan」. Orang kudus yang dikasihi terhadap internal ke dalam hendaklah mengukuhkan iman komunitas, dan terhadap eksternal keluar hendaknya berusaha keras menjadi berkat bagi orang lain. Di ayat 2, Yudas memberkati orang percaya dalam 「Rahmat (belas kasihan), damai sejahtera dan kasih」 agar ditambahkan berlipat. Dalam bagian ketiga ini, adalah kesempatan membuat kasih menjadi nyata kepada anggota tubuh. Yudas khusus mengajukan ada tiga macam orang perlu mereka perhatikan. Pertama adalah orang yang di dalam hati ragu-ragu atau perdebatan (sesuai bahasa aslinya), hendaknya terhadap mereka ada rahmat belas kasihan, mungkin mereka masih bergumul dalam iman. Kedua adalah orang yang di pinggir jurang bahaya, mungkin segera mengalami penghakiman, perlu menyelamatkan mereka. Ketiga adalah yang ada dalam dosa, hendak berbelas kasih rahmat terhadap mereka. Namun saat menolong hendak berhati-hati, jangan sampai ikut ternodai menjadi tidak suci. Yudas khusus mengingatkan orang percaya hendak meningkatkan kewaspadaan, menghindari jatuh ke dalam pencobaan, atau bahkan jatuh dalam dosa.

(Iman dipertahankan bukan dengan keraguan. Tetapi dengan gigih: 1) Ingat dengan sungguh-sungguh membangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 2) Memelihara iman dengan membangun diri sendiri dalam Firman Allah, berdoa dalam Roh Kudus, terus menantikan rahmat Juruselamat Yesus Kristus atas hidup kekal. 3) Memelihara iman dengan menunjukkan belas kasihan.)

Renungkan: (1) Mohon Tuhan melindungi saya seumur hidup senantiasa ada di dalam kasih-Nya; (2) Renungkan tentang kehidupan doa saya; (3) Introspeksi diri saat saya berhubungan dengan orang yang di luar jemaat, apakah saya bisa membawa mereka kepada Tuhan.


Tambahan Penerjemah:

Marilah kita selalu berharap dan minta pertolongan Allah, karena  「Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, …」 (1 Pet. 5:10)

 

Daniel 6:19-28

「Mengatupkan Mulut Singa」

3 orang atau 1 orang, mereka sama-sama berani membayar harga yang berat untuk melakukan proklamasi iman atas pilihan diri sendiri.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 6:19-28 [ITB])
19Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; 20dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu.
Berkatalah ia kepada Daniel: 「Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?」
21Lalu kata Daniel kepada raja: 「Ya raja, kekallah hidupmu! 22Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.」
23Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.
24Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.
25Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya:
「Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! 26Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel,

sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya;
pemerintahan-Nya tidak akan binasa
dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir.
27Dia melepaskan dan menolong,
dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi,
Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.」

28Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.

Ada peneliti Perjanjian Lama yang menunjukkan, dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno, tidak jarang ditemui pelaksanaan 「Diadili dengan siksaan berat (Trial by ordeal)」 menguji orang terduga. Jika mampu tidak mati melewati air mendidih, api membara, serta media ujian lain-lain, terduga dapat dinyatakan bersih tidak bersalah. Dalam hukum Taurat umat Israel hanya ada satu buah「hukum kecemburuan」 (Bil. 5:11-31), dipakai untuk membuktikan istri apakah berbuat serong. Ritual tidak mengandung kekuatan hukum apapun, di baliknya adalah pelajaran teologis penuh keyakinan bahwa Allah Maha Tahu.

Pembelaan diri Daniel dalam lubang singa, dengan tepat menyatakan secara jelas hubungan sebab akibat ini: 「Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan」 (Daniel 6:22). Daniel terlepas dari mulut singa, cukup membuktikan bahwa hasil keputusan dari Allah adalah 「tidak bersalah」.

Utusan (malaikat) yang pernah bersama ketiga teman Daniel dalam perapian menyala-nyala (Dan. 3:25), dalam fasal enam muncul sekali lagi, melindungi Daniel terhindar cabikan singa. Pengalaman Daniel, telah membutikan perkataan raja yang dalam panik yang tidak sengaja dan yang ia sendiri juga tidak yakin: 「Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau」 (Daniel 6:16)

Kitab Daniel fasal enam dimulai dengan larangan Darius kepada rakyat untuk menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada dirinya. Tiba di akhir fasal enam, Darius menurunkan perintah kedua, yakni memerintahkan orang di seluruh negeri hendaknya takut dan gentar di hadapan Allah Daniel (Daniel 6:26)

Darius awalnya tidak mengenal Allah Daniel, kini dalam perintah menyebut Dia sebagai 「Allah yang hidup」 (Daniel 6:26), karena ia menemukan 「Allah」 ini tidak hanya sungguh-sungguh ada, Dia terlebih lagi ikut terlibat dalam dunia, dengan cara yang tidak terduga manusia menjalankan perlindungan dan penyelamatan bagi umat-Nya yang percaya dengan setia (Daniel 6:27). Bagi umat yang saat itu ditawan, mereka sekali lagi menyaksikan: tidak peduli berada dalam situasi yang sejelek dan jahat apapun, Allah tetap memegang kendali; Begitu Dia mengulurkan tangan-Nya, mampu mengubah keadaan. Ini adalah berita yang sedemikian memberikan semangat kepada orang!

Fasal enam diakhiri kalimat 「Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.」 (Daniel 6:28) sebagai penutup peristiwa ajaib di istana. Daniel dengan identitas tawanan masuk istana untuk pelatihan, mengalami pergantian dinasti, dan selama masa itu mengalami ujian iman yang berat sekali, ia tidak hanya dengan mudah dan langkah stabil mencapai kedudukan tinggi di istana bangsa asing, terlebih lagi dalam lingkungan agama asing dapat mempertahankan iman. Berkompromi untuk mencari keselamatan bukan cara menetapkan nasib, sebaliknya, hati yang setia dan bersandar kepada Allah justru adalah pilihan yang sepatunya dipertahankan dan dilakukan. Seumur hidup Daniel, tepat menjadi teladan bagi setiap orang yang memutuskan mengikuti Tuhan.

Renungkan: Kitab Daniel fasal tiga dan fasal enam memiliki sebuah persamaan. Tiga teman-teman menolak tunduk menyembah patung emas, Daniel bersikeras hormat dan menyembah Allah; mereka sama-sama harus membayar harga yang berat bagi pilihan iman mereka sendiri. Tiga orang dengan 「jikalaupun demikian」 dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」melakukan proklamasi iman; Daniel walaupun diam tidak bersuara, tekatnya tidak berbeda dengan tiga temannya. Saat mereka menolak tunduk, juga pada saat yang sama telah siap sedia membayar harga nyawa. Pengakuan iman tanpa suara yang menggentarkan hati.

Seandainya ada satu hari engkau dihadapkan pilihan iman yang terkait mati atau hidup, mana yang engkau akan pilih kompromi mengalah atau lebih baik mati tidak tunduk? Mungkin saat ini kita tidak dapat dan tidak berani membayangkannya, namun hendaknya mengetahui, tidak ada orang bisa menggantikan kita membuat keputusan, tepat seperti dahulu juga tidak ada orang yang mampu membuat keputusan bagi Daniel. Daniel telah memilih untuk mengesampingkan mati atau hidup bagi iman. Penulis surat Ibrani dari sudut iman menjelaskan kehidupan yang demikian: 「33yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, 34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.」 (Ibrani 11:33-34)

Berdiri dalam sejarah Perjanjian Lama, Daniel dalam kondisi belum sepenuhnya memahami rencana karya Penebusan Keselamatan dari Allah, telah menunjukkan teladan kehidupan iman yang setia bagi kita. Setelah sampai pada Perjanjian Baru, Anak Allah yang Tunggal Yesus Kristus datang ke dunia sebagai manusia, menderita, mati, bangkit, kembali ke Sorga sebagai Yang Maha Tinggi. Messias bukan merupakan pengharapan yang jauh tanpa titik terang, Dia telah sungguh-sungguh datang, juga akan datang lagi (Kis. 2:22-24). Ini adalah peristiwa dalam sejarah yang sungguh terjadi, terkait dengan iman para pengikut Tuhan, adalah sumber datangnya keberanian dan kekuatan. Mohon Tuhan membantu kita, tidak peduli situasi yang bagaimanapun, selalu berdiri dengan kokoh oleh karena iman.


Tambahan Penerjemah:

Sebagian orang menjual iman dan keselamatan diri sendiri bagi semangkuk kacang merah, jabatan, uang, atau kesempatan pendidikan. Demi menikmati dunia yang sementara ini membuang muka atas hasil Karya penderitaan Kristus di atas salib.

Mungkin tidak dengan cara ekstrim tetapi mungkin kita sudah melakukannya.

Daniel 3:19-30

「Iman yang Tidak Musnah Dibakar」

Apa pelajaran bagi kita dari iman yang tidak musnah dibakar penderitaan atau kesulitan yang datang bertubi-tubi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:19-30 [ITB])
19Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 21Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
25Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
26Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.
28Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
29Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
30Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Pengakuan iman Hananya, Misael dan Azarya, secara besar-besaran membuat marah Nebukadnezar. Raja dengan geram memerintahkan agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 「Tujuh」 adalah sebagai angka simbolis, maksudnya adalah agar perapian yang menyala-nyala dibuat sampai tidak bisa lebih panas lagi, sampai tingkat yang paling maksimal, bahkan sampai orang yang mengangkat mereka ikut terbakar mati lidah api yang menyembur dari perapian. Hananya, Misael dan Azarya dalam keadaan terikat dilemparkan ke dalam perapian. Pada masa itu perapian biasanya memiliki lubang angin atau lubang untuk memasukkan bahan pembakaran, diperkirakan Nebukadnezar melihat dari mulut lubang sebuah pemandangan ajaib, melihat ada empat orang dengan leluasa berjalan di dalam api, orang yang keempat rupanya seperti anak dewa (Daniel 3:25). Perikop tidak dengan jelas menunjukkan siapa 「orang」 keempat ini, sangat mungkin adalah utusan Allah. Tidak peduli bagaimana, adalah Allah yang memberikan penyelamatan, tiga orang sama sekali tidak terluka sedikitpun pasti adalah sebuah muzizat.

「Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15) telah muncul jawabannya. Allah hendak Nebukadnezar memahami, siapa yang memegang kendali atas semuanya sampai akhir. Bukan raja Babel yang memaksa rakyat hormat dan sembah patung emas dengan kekerasan (walaupun Allah menyingkapkan bahwa ia adalah 「kepala emas」 itu), tetapi adalah TUHAN. Tepat seperti yang pernah Dia nyatakan sendiri: 「Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku」 (Ul. 32:39). TUHAN pernah menyelamatkan umat-Nya keluar dari Mesir, ini adalah pengalaman umat Israel yang nyata sungguh (lihat Ul. 4:20). Di hadapan muzizat ini, tidak hanya Hananya, Misael dan Azarya yang mengalami sendiri TUHAN adalah Penyelamat yang Maha Mampu, termasuk Nebukadnezar, para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, dan semua para penggugat, semua bersama-sama menyaksikan perbuatan Allah ajaib.

Dari peristiwa dimulainya sebuah perintah, dan berakhir dengan sebuah perintah yang lain. Perintah yang paling awal: 「orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!」 (Daniel 3:4-6). Paling akhir perintah ini digantikan: 「setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.」 (Daniel 3:29). Aslinya tuduhan yang memusuhi ketiga orang: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) paling akhir dirubahkan menjadi pujian raja: 「melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 」 (Daniel 3:28). Meresponi pertanyaan retoriknya sendiri 「dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 Nebukadnezar tidak bisa tidak mengakui bahwa tidak ada Allah lain yang mampu menjalankan penyelamatan yang demikian. Ia tidak hanya mengakui TUHAN adalah Allah Maha Tinggi, memerintahkan seluruh negeri harus menghormati Dia, ia juga setuju ketiga orang gigih menjaga iman sendiri adalah hal yang tepat, taat kepada Allah yang demikian, sudah sepatutnya dibandingkan taat kepada manusia. (lihat Kis. 5:29)

Renungkan: mimpi di fasal dua, menunjukkan bahwa kuasa kerajaan di antara manusia semakin bergerak menurun. Bagaimanakah sepatutnya umat Allah menempatkan diri? Dalam fasal tiga, penulis kitab melalui kesaksian Hananya, Misael dan Azarya, mengingatkan umat Allah bagaimana sepatutnya hidup saat ada dalam tekanan dan situasi dicelakai. Tiga orang terhindarkan pederitaan perapian menyala-nyala, mengalami penyertaan Allah (lihat Yes. 43:2), mengalami diselamatkan, paling akhir mendapatkan pengangkatan dari Nebukadnezar dan hadiah. Tetapi titik beratnya bukan pada 「naik tinggi (diberi kedudukan tinggi)」 (Daniel 3:30), justru adalah pada hati yang setia sampai mati dari ketiga orang (Jika titik berat kita adalah “naik tinggi” sebuah peninggian diri maka akan sama dengan Nebukadnezar).

Mereka menjunjung tinggi kuasa besar Allah, juga sujud tunduk di bawah kedaulatan Tuhan; mereka telah bersiap sedia jika hendak membayar harga paling berat: jika seandainya tidak (jikalaupun tidak), tetap percaya Allah sedang memegang kendali, sampai mati tetap menjunjung tinggi nama Allah.

Saudara dan saudari, apakah engkau dari dalam hati percaya, bahwa ada kehadiran Allah dalam segala hal yang dialami di kehidupan, baik yang lancar atau tidak? Ada kala kita tidak sesuai keinginan dapat segera terlepas dari beban penderitaan, lalu dalam keadaan berbeda-beda, engkau pernah menunjukkan hati yang setia, iman dan keberanian, membuat orang lain terheran, sehingga memuliakan Allah?

Kolose 1:21-23

「Bertekun menjaga iman dalam Kristus 」

Kita sudah menjadi layak di hadapan Allah, sebuah permulaan yang baik. Orang percaya tidak hanya harus memiliki permulaan yang baik, juga perlu terus menerus mempertahankan dengan jelas imannya. Pembukaan adalah penting namun lebih penting lagi mempertahankan.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:21-23 [ITB])
21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Perikop in merupakan kesimpulan kecil dari Kol. 1:1-20, di antaranya banyak penggunaan kata-kata yang dipakai di teks sebelumnya, termasuk 「pendamaian 」 (Kol. 1:20), 「kudus 」 (Kol. 1:2, 4, 12), 「 iman 」 (Kol. 1:4), 「pengharapan 」 (Kol. 1:5), 「Injil 」 (Kol. 1:5), 「sorga 」 (Kol. 1:5,16,20), 「segala yang diciptakan 」 (Kol. 1:15) dan 「pelayan / majelis 」 (Kol. 1:7). Maka dapat disimpulkan Kol. 1:1-23 adalah satu perikop yang lengkap.

Paulus dalam kesimpulan kecil ini menjelaskan tiga hal. Pertama, perubahan orang percaya dalam Kristus; Kedua, harapannya kepada orang-orang percaya; Ketiga, misi yang ia tanggung di dalam Kristus. Terlebih dahulu Kol. 1:21-22 menunjukkan perubahan orang percaya dalam Kristus, dengan pemikiran yang secara ketat mengikuti teks sebelumnya. Kol. 1:13 menunjukkan, Allah menyelamatkan orang-orang kudus lepas dari kuasa kegelapan, kemudian memindahkan mereka ke dalam Kerajaan Anak Allah terkasih. Kol 1:21-22 lebih dalam lagi menunjukkan apa yang dimaksudkan dengan 「lepas dari kuasa kegelapan,」 yakni 「 kamu yang dahulu hidup jauh (terisolasi) dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat; sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya … 」. Lepas dari kuasa kegelapan menunjukkan sebuah keadaan 「diperdamaikan dengan Allah」, 「tidak lagi hidup terisolasi dari Allah」, dan keadaan ini dinyatakan melalui perbuatan dan pikiran orang percaya. Seorang yang telah diperdamaikan dengan Allah, ia mungkin adakalanya dikalahkan oleh pelanggaran (Gal. 6:1), namun pasti tidak akan secara jangka panjang melawan Allah dalam pikiran maupun perbuatannya. Paulus mengingatkan penerima surat ini, juga mengingatkan kita, bahwa melalui kematian tubuh jasmani Kristus (yakni darah yang mengalir di atas salib, Kol. 1:20), orang-orang percaya telah dikuduskan, tidak bercacat serta tidak bercela (yakni ditebus dan diampuni dosa di dalam Anak terkasih, Kol. 1:14), sehingga menjadi layak di hadapan Allah.

Di atas dasar ini, Paulus menyebutkan harapannya kepada orang-orang kudus, jelas juga merupakan harapan Allah bagi setiap orang percaya, Kol. 1:23 「asal  kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar.」 Jika melihat bagaimana Paulus tiada henti menekankan 「bertekun 」, 「teguh 」, 「tidak bergoncang 」 dan 「jangan mau digeser 」, sepertinya iman gereja Kolose sedang mendapatkan terpaan keras cobaan. Bukan berarti iman mereka sudah goyang. Dari Eprafas, Paulus mendapatkan berita tentang iman, kasih dan pengharapan mereka, terlebih lagi mengetahui bahwa Injil telah nyata kuasanya di antara mereka (Kol. 1:4-6). Namun, ini belum cukup. Orang percaya tidak hanya harus memiliki permulaan yang baik, juga perlu terus menerus mempertahankan dengan jelas imannya. Pembukaan adalah penting namun lebih penting lagi mempertahankan.

Terakhir, Paulus menyatakan dengan jelas kepada gereja Kolose, ia menjadi pelayan Injil adalah demi hal ini. Paulus menjadi pelayan Injil, tidak hanya memberitakan kepada seluruh dunia tentang kehendak Allah, karunia keselamatan dari Kristus, juga harus berusaha keras mempertahankan buah dari Injil, agar orang percaya dalam iman, kasih dan pengharapan tidak bergeser, terus bertumbuh. Mengabarkan Injil hanyalah melaksanakan sebagian dari misi dari Injil. Mungkin, pelayanan purna jual (after sales service) lebih penting dari 『menjual Injil 』. Saat Paulus mendengar bahwa gereja Kolose sedang diserang ajaran-ajaran yang sesat, walaupun ia bukan gembala pendiri gereja ini, namun sebagai rasul tetap harus memotivasi dan menguatkan mereka. Dari diri Paulus, kita bisa melihat orang yang berdamai dengan Allah, ia tidak hanya dalam pikiran dan perbuatan telah lepas dari yang jahat (perhatikan: 「bermusuhan dengan Allah 」 sama dengan 「jahat 」), terlebih lagi tiada henti di dalam pikiran dan perbuatan bersama-sama menyertai orang percaya (misal melalui doa dan komunikasi surat), bersyukur bagi mereka, lebih jauh lagi berusaha membantu mereka mempertahankan iman dan pengharapan yang dalam Kristus.

Renungkan: apa pikiran dan tindakan saya yang tidak sesuai dengan keadaan 「telah berdamai dengan Allah」? Apakah saya bersedia menjadi pelayan Injil demi bagi Tuhan? Apakah di sekitar saya ada saudara atau saudari yang sedang diserang imannya? Apa yang saya rela lakukan dalam pikiran dan tindakan untuk membantu mereka?