Daniel 2:24-35

「Rahasia Dipecahkan」

Hanya ada satu, Dia yang kepada-Nya Daniel bersandar.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:24-35 [ITB])
24Sebab itu pergilah Daniel kepada Ariokh yang telah ditugaskan raja untuk melenyapkan orang-orang bijaksana di Babel; maka pergilah ia serta berkata kepadanya, demikian: “Orang-orang bijaksana di Babel itu jangan kaulenyapkan! Bawalah aku menghadap raja, maka aku akan memberitahukan kepada raja makna itu!”
25Ariokh segera membawa Daniel menghadap raja serta berkata kepada raja demikian: “Aku telah mendapat seorang dari antara orang-orang buangan dari Yehuda, yang dapat memberitahukan makna itu kepada raja.”
26Bertanyalah raja kepada Daniel yang namanya Beltsazar: “Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?”
27Daniel menjawab, katanya kepada raja:
“Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum.
28Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang.
Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:
29Sedang tuanku ada di tempat tidur, ya tuanku raja, timbul pada tuanku pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan Dia yang menyingkapkan rahasia-rahasia telah memberitahukan kepada tuanku apa yang akan terjadi. 30Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.
31Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan. 32Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, 33sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.
34Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. 35Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Daniel melalui doa, mendapatkan penyataan yang dari atas. Ia terlebih dahulu menaikkan pujian kepada Dia yang mengaruniakan hikmat pengetahuan, Allah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, kemudian barulah ia pergi menemui Ariokh sang pemimpin pengawal raja. Daniel tidak memohon apa-apa bagi diri sendiri, tetapi meminta pengampunan bagi orang-orang berilmu Babel. Berada di antara bangsa asing, Daniel tidak pernah memandang penganut agama yang lain dari dirinya sebagai musuh, justru sebaliknya mengkuatirkan keamanan mereka, berinisiatif bertindak bagi mereka.

Demikian juga, saat raja Nebukadnezar menuntut penjelasan mimpi, Daniel tidak memakai kesempatan minta jasa, sebaliknya mengkoreksi titik berat raja, ia menunjukkan bahwa 「di Sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia」 (Daniel 2:28). Penjelasan terjemahan CUVT 「hanya ada satu pribadi Allah di Sorga yang mampu menyingkapkan rahasia-rahasia」adalah sangat memiliki makna. Karena dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno, orang-orang secara umum memiliki konsep politeisme (allah yang banyak), hanya umat Israel yang hormat dan menyembah Allah tunggal yang sejati. Daniel menekankan 「hanya ada satu」, dengan tepat menjawab perkataan orang-orang berilmu Babel: 「selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia, tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja.」 (Daniel 2:11)

Mimpi yang dinyatakan Allah adalah menyangkut 「apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang」 (Daniel 2:28). Nebukadnezar bermimpi melihat sebuah patung amat besar, rupanya dahsyat, material dan strukturnya juga aneh tiada banding. Patung amat besar ini, kepalanya dari emas, dada dan lengan adalah perak, perut dan pinggang adalah tembaga, paha adalah besi, kaki adalah setengah besi setengah tanah liat (Daniel 2:32-33). Dalam karya sastra zaman kuno, tidak ditemukan patung dengan rupa yang demikian aneh seperti itu ataupun penggambaran yang serupa. Peneliti Alkitab menunjukkan patung ini memiliki beberapa ciri khusus:

  1. Materialnya dari emas sampai perak, tembaga, besi, nilai harganya dari bagian  atas turun ke bawah terus berkurang, sebagai simbol bahwa kerajaan di antara manusia tiada henti runtuh, berakhir menuju kebinasaan.
  2. Tingkat kekerasan materialnya justru terbalik dari atas sampai bawah tiada henti bertambah; yang makin berharga, emas sifat materialnya makin lunak.
  3. Sepotong batu yang tidak diketahui asalnya, 「terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia」, menimpa kaki patung, seluruh patung besar itu dalam sekejap runtuh remuk, debu bertebaran lebur seperti asap, dihembus angin tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Kemudian, batu ini menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (Daniel 2:34-36).

Penyataan Allah dalam mimpi Nebukadnezar ini terkait erat dengan penglihatan 「empat binatang」 di fasal tujuh, dan penglihatan 「kambing jantan dan domba jantan」 di fasal delapan, depan belakang saling bersambut. Akan dijelaskan secara detil di saatnya.

Renungkan: semua orang bijaksana di negeri Babel kehilangan akal untuk mengetahui apa isi mimpi, paling akhir dipecahkan oleh Daniel — seorang tawanan muda. Titik berat perikop ini, bukan Daniel mampu melakukan apa yang orang lain tidak mampu, atau tahu lebih dahulu hal yang tidak terduga, tetapi adalah Allah Pemegang kendali atas sejarah yang kepada-Nya Daniel bersandar. Tepat seperti pujian yang dinaikkan Daniel: 「Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian; Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya (terang tinggal bersama-Nya)」 (Daniel 2:21-22). Allah melalui hamba-Nya, menyatakan hal yang akan digenapi kelak kepada raja yang diangkat oleh tangan-Nya. Ini adalah Allah Pemegang kendali atas hari esok, apakah merupakan pribadi yang kepada-Nya kita bersandar dengan segenap hati?

Dari diri Daniel dapat terlihat kebajikan rohaninya. Ia mengasihi Allah, semua kemuliaan pujian merupakan milik Allah, sama sekali tidak mencuri kemuliaan Allah. Ia mengasihi orang, tidak memandang orang-orang berilmu Babel sebagai musuh (walaupun sebentar lagi kita akan membaca bagaimana orang-orang berilmu ini bertindak ingin menghabisi Daniel), ia berusaha segenap tenaga memohon ampun bagi nyawa mereka. (lihat Kel. 23:4-5; Luk. 6:27 “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”). Kiranya kita belajar dari teladan teladan Daniel, dalam situasi apapun tetap bersandar kepada Allah, tekun berbuat nyata mengasihi Tuhan dan mengasihi orang.