「Jikalaupun Demikian – Jika Seandainya Tidak」
Suatu waktu dalam hidup setiap orang pasti terdapat perapian menyala-nyala, apa yang akan kita lakukan?
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Daniel 3:16-18 [ITB])
16Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: 「Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.」
Menghadapi desakan pertanyaan raja: 「Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Apakah sengaja?」 (“Apakah sengaja?” tidak ada dalam ITB, penekanan dalam CUVT) (Daniel 3:14), mereka sama sekali tidak mundur, menjawab: 「Nebukadnezar, tidak perlu kami memberi jawab kepada engkau.」 (Sesuai CUVT, juga KJV menggunakan kata “tidak perlu” juga memakai kata “engkau”. Namun dalam ITB nada jawaban terasa agak lembut “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini”) (Daniel 3:16). Jawaban ini menyatakan dengan jelas mereka tidak berencana melakukan pembelaan apapun bagi diri sendiri, lebih lagi dengan jelas mengatakan, mereka berpendapat sebenar-benarnya tidak perlu menjelaskan alasan kepada raja, karena mereka dahulu tidak menyembah patung emas, dan sekarang, kelak juga tidak akan bertekuk lutut. Jawaban ini terdengar sangat tidak hormat, di baliknya memerlukan keberanian yang sedemikian besar dan keteguhan hati.
Hananya, Misael dan Azarya percaya secara mendalam bahwa Allah yang mereka layani, pasti memiliki kekuatan menolong mereka keluar perapian menyala-nyala; dan pada saat yang sama, hati mereka sudah siap sedia, Allah memiliki kedaulatan-Nya sendiri, tidak harus memilih menolong mereka. Dengan kata lain, tiga orang mengetahui dirinya memiliki kemungkinan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tetapi dibandingkan ini semua, yang terlebih penting adalah mereka tetap bertekat tidak menyembah patung emas.
Dari diri Hananya, Misael, Azarya, dapat dilihat iman dan tekat mereka:
- Kesetiaan hati. Tiga orang dengan gigih menolak untuk hormat dan menyembah patung emas, demi mempertahankan identitas sebagai umat Allah, secara absolut tidak bertekuk-lutut terhadap patung emas yang mewakili dewa Babel (lihat Dan. 3:12, 14, 18, 28). Mereka tidak melakukan pembelaan apapun bagi sendiri melalui perkataan, semata-mata hanya dengan tindakan yang jelas menyatakan kesetiaan hati terhadap Allah, dan lebih baik membayar harga. Dalam satu kali lagi kesempatan yang diberikan Nebukadnezar, tampak dengan menonjol bahwa mereka memiliki kesetiaan hati, yang sungguh dan tidak palsu, lebih baik melepaskan kesempatan paling akhir menyelamatkan nyawa, tetap setia kepada Allah dan mati, juga tidak bersedia murtad demi mencuri kesempatan untuk hidup. Tepat seperti yang dialami pemazmur: 「Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; …」 (Maz. 63:3)
- Bersandar. Apa yang ditampilkan Hananya, Misael, Azarya bukan saja keberanian yang luar biasa, tetapi juga memiliki iman yang kokoh tidak bergeser terhadap Allah. Mereka percaya secara mendalam jika Tuhan menghendaki, pasti bisa menolong mereka, karena Dia adalah Allah yang memiliki kemampuan besar. Walaupun dihadapkan ancaman mati, iman mereka kepada Allah juga tidak pernah goyah; atau dari sudut lain, iman kepada Allah adalah rahasia mereka mampu berdiri dengan kokoh di hadapan ujian yang berat sekali.
- Ketaatan. Hananya, Misael, Azarya dalam menghadapi dakwaan raja, di awal dan di penutupan jawaban menggunakan kata 「Jikalaupun demikian」 (Daniel 3:17) dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」 (Daniel 3:18) . Kedua perkataan ini memiliki suara yang nyaring sepenuhnya menyatakan ketaatan total mereka terhadap kedaulatan Tuhan Allah. Tidak peduli pada akhirnya Allah akan menyelamatkan, atau mengijinkan mereka mati dalam perapian, walaupun tidak memahami bagaimana kehendak Allah, Hananya, Misael, Azarya tidak memiliki sedikitpun sungut-sungut atau keraguan terhadap Allah yang mereka sembah. 「Jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」bukanlah kalimat untuk mendinginkan suasana agar menguntungkan diri mereka sendiri, justru sebaliknya, perkataan ini adalah pengakuan iman, dengan berani di hadapan musuh memproklamasikan: 「Tidak peduli bagaimana kehendak Allah, mau hidup atau mau mati, kami pasti tidak akan pernah bertekuk-lutut kepada berhala, karena hanya ada Satu saja yang kepada-Nya kita bersandar dan setia.」
Renungkan: saudara dan saudari, apakah 「jikalaupun demikian」 dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」juga adalah keyakinan anda? Perkembangan keadaan mungkin tidak seperti yang kita harapkan, terlebih lagi kehendak Allah bukan hal yang kita mampu pahami, namun tetap meninggikan kedaulatan Allah Tuhan dan bertekat taat bersandar kepada-Nya. Di baliknya adalah kepastian penuh beriman kepada kemampuan besar Allah dan kasih setia-Nya; Jika tidak demikian, mungkin terdapat kekurangan pengenalan kita terhadap Allah. Hananya, Misael, Azarya memakai nyawa mereka untuk memproklamasikan: 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah. 」
Permintaan Yesus Kristus terhadap pengikut-Nya adalah: 「Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.」 (Wahyu 2:10)
Tambahan Penerjemah:
Penyakit, malapetaka, bencana, “kurang berhasil” atau “kurang kaya” juga merupakan perapian menyala-nyala, jika itu yang sedang ada dihadapan kita, apakah kita bersedia mengatakan 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah」?
Pingback: Daniel 5:13-31 | Lukas Leo's Blog