Tag Archives: Siap Sedia

Daniel 7:13-28

「Tetap Setia Berapapun Harga yang Dibayar」

Jalan yang harus dilalui umat kudus Allah untuk menuju dan mencapai …

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 7:13-28 [ITB])
13Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 14Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
15Maka aku, Daniel, terharu karena hal itu, dan penglihatan-penglihatan yang kulihat itu menggelisahkan aku. 16Lalu kudekati salah seorang dari mereka yang berdiri di sana dan kuminta penjelasan tentang semuanya itu. Maka berkatalah ia kepadaku dan diberitahukannyalah kepadaku maknanya:
17Binatang-binatang besar yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi; 18sesudah itu orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan, dan mereka akan memegang pemerintahan itu sampai selama-lamanya, bahkan kekal selama-lamanya.
19Lalu aku ingin mendapat penjelasan tentang binatang yang keempat itu, yang berbeda dengan segala binatang yang lain, yang sangat menakutkan, dengan gigi besinya dan kuku tembaganya, yang melahap dan meremukkan dan menginjak-injak sisanya dengan kakinya; 20dan tentang kesepuluh tanduk yang ada pada kepalanya, dan tentang tanduk yang lain, yakni tanduk yang mempunyai mata dan yang mempunyai mulut yang menyombong, yang tumbuh sehingga patahlah tiga tanduk, dan yang lebih besar rupanya dari tanduk-tanduk yang lain.
21Dan aku melihat tanduk itu berperang melawan orang-orang kudus dan mengalahkan mereka, 22sampai Yang Lanjut Usianya itu datang dan keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi dan waktunya datang orang-orang kudus itu memegang pemerintahan.
23Maka demikianlah katanya:
Binatang yang keempat itu ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi, yang akan berbeda dengan segala kerajaan dan akan menelan seluruh bumi, menginjak-injaknya dan meremukkannya.
24Kesepuluh tanduk itu ialah kesepuluh raja yang muncul dari kerajaan itu. Sesudah mereka, akan muncul seorang raja; dia berbeda dengan raja-raja yang dahulu dan akan merendahkan tiga raja. 25Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
26Lalu Majelis Pengadilan akan duduk, dan kekuasaan akan dicabut dari padanya untuk dimusnahkan dan dihancurkan sampai lenyap. 27Maka pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka.
28Sekianlah berita itu. Adapun aku, Daniel, pikiran-pikiranku sangat menggelisahkan aku, sehingga aku menjadi pucat; dan aku menyimpan hal itu dalam ingatanku.”

Malaikat Allah menjelaskan makna penglihatan kepada Daniel yang gelisah: empat binatang adalah empat raja yang akan bangkit, mereka sepertinya berkuasa memegang kendali di atas bumi, tetapi akhirnya yang akan mendapatkan Kerajaan sampai selama-lamanya adalah 「umat kudus dari Yang Maha Tinggi」 (lihat Rom. 1:7; 1Kor. 1:2; Fil 1:1). Umat yang setia kepada Allah, teguh menjaga iman adalah yang paling akhirnya akan memperoleh kemenangan, tetapi sebelum ini terjadi, umat kudus lebih dahulu menerima aniaya dari tanduk kecil, bersabar menderita, sampai Dia Yang Lanjut Usianya datang bagi mereka memberikan pembalasan dan keadilan, baru memasuki Kerajaan kekal.

Selama ini terdapat penjelasan yang berbeda-beda atas empat kerajaan yang disimbolkan dengan empat binatang. Sebenarnya empat kerajaan boleh dimengerti sebagai sebuah kesatuan yang memusuhi Allah dan umat-Nya, tepat sama seperti empat macam metal yang membentuk patung besar di fasal dua, boleh dipandang sebagai simbol sebuah kesatuan kuasa kerajaan di atas bumi, yang berbanding dengan Kerajaan kekal Allah. Malaikat selangkah lebih konkrit menjelaskan kebenaran tentang binatang yang keempat dan tanduk kecil kepada Daniel, yakni adalah kerajaan keempat dan raja yang bangkit kemudian. Raja ini hendak membuang iman ritual umat Allah, digantikan dengan membuat satu set ajaran dan aturan baru yang lain; dengan lain kata, umat kudus akan dipaksa bertekuk-lutut terhadap allah lain. Dalam kitab Daniel pasal 3, pengalaman ketiga teman dipaksa menyembah patung emas, adalah penjelasan yang paling konkrit.

Kemuliaan di kemudian, hinaan terlebih dahulu. Sebelum umat kudus menerima Kerajaan kekal terlebih dahulu harus bersabar menerima siksaan dan aniaya selama suatu waktu periode, Malaikat gambarkan sebagai 「satu masa dan dua masa dan setengah masa」 (Dan. 7:25, 12:7). Berdasarkan ciri khas sastra apokaliptik, satu masa dan dua masa dan setengah masa bukanlah makna secara literal tiga tahun setengah, tetapi menunjuk satu periode waktu yang tertentu. Walaupun di sini memakai bahasa simbolis, tetapi beritanya justru jelas: umat kudus hendaknya memiliki persiapan di dalam hati, menderita karena iman, dan teguh bertahan satu periode waktu, sampai saat Allah sendiri turun tangan secara langsung, memusnahkan raja tersebut; Kemudian barulah umat kudus menerima Kerajaan kekal (Dan. 7:26-27). Dalam mimpi Nebukadnezar, patung besar (bangsa-bangsa di antara manusia) pada akhirnya ditimpa sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia, dan patung itu digantikan olehnya (Dan. 2:44); selaras dengan berita yang disampaikan penglihatan di fasal tujuh atas binatang dan tanduk. Ternyata, memegang erat pengharapan ini, teguh bersabar dalam kesulitan aniaya sampai akhir, adalah jalan yang harus dilewati umat kudus menuju Kerajaan kekal dan kemuliaan.

Kitab Daniel pasal tujuh tidak hanya merupakan perpanjangan pasal dua, juga merupakan titik berat keseluruhan kitab Daniel, berita yang dibawakannya menjadi benang merah bagi keseluruhan kitab: kerajaan di antara manusia yang memusuhi melawan Allah pasti akan dihantam runtuh, Kerajaan yang didirikan Allah tetap kekal selama-lamanya; tanduk kecil (Anti-Kristus) melawan Yang Maha Tinggi, menganiaya umat kudus akan muncul di waktu akhir, menyiksa dengan brutal selama satu periode yang tertentu (satu masa dan dua masa dan setengah masa), paling akhir justru harus dikalahkan, dan Kerajaan kekal Allah akan ditegakkan.

Renungkan: berita dalam kitab Daniel pasal 7, sekali lagi mendorong semangat umat yang ditawan harus setia. Di hari akhir zaman, Anti-Kristus (lihat 1 Yoh. 2:18) pasti datang, umat kudus milik Allah pasti akan menderita menerima celaka dari tangannya, iman mengalami ujian yang demikian berat sekali. Berita dari kitab Daniel, justru bukan untuk membuat kita putus asa kehilangan nyali, sebaliknya mengingatkan kita bahwa ini adalah rencana yang Allah tentukan bagi akhir zaman. Sebagai umat Allah, satu-satunya respon yang patut adalah bersiap-sedia menderita, memegang teguh pengharapan, gigih bertahan sampai akhir; dengan demikian, pada akhirnya pasti akan mampu menerima Kerajaan yang merupakan milik Allah dan umat kudus-Nya dari tangan Dia 「Seorang seperti anak manusia」 (lihat Yes. 9:7; 11:1-9). Tepat seperti apa yang Daniel temui dalam penglihatan: 「Yang Lanjut Usianya itu datang dan keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi dan waktunya datang orang-orang kudus itu memegang pemerintahan」 (Dan. 7:22). Dia 「Seorang seperti anak manusia」 (Dan. 7:13-14), dia adalah Messias yang dinantikan umat Israel, adalah Yesus Kristus yang menebus kita keluar dari gelap masuk ke dalam terang; Dia berdasarkan kehendak Allah mendapatkan kekuasaan, kemuliaan, Kerajaan, dan bangsa-bangsa akan mejadi milik Dia (lihat Kej. 49:8-12; Maz. 2).

Kiranya kita bersama rasul Yohanes satu hati berdoa: 「Amin, datanglah, Tuhan Yesus!」 (Why. 22:20)


(Kej. 49:8 [ITB])
8Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.
9Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?
10Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.
11Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.
12Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu.

Daniel 6:10-18

「Seperti yang Biasa Dilakukannya」

Ia bisa bersembunyi ke tempat yang lain untuk berdoa, atau di dalam hati saja, bahkan sementara berhenti berdoa, bukankah itu penyelesaian sementara yang lebih menguntungkan, logis dan waras? Untuk apa ia lakukan?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 6:10-18 [ITB])
10Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
11Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.
12Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”
13Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”
14Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.
15Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”
16Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”
17Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.
18Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.

Daniel setelah mendengar perintah raja, seperti biasa pulang rumah, sampai di kamar  loteng atas, menghadap ke arah Yerusalem berlutut berdoa mengucapkan syukur. Yerusalem adalah tempat Bait Suci berada. Bait Suci adalah sebagai tempat yang di janjikan di mana nama Allah akan tinggal di sana, di tengah-tengah tempat itu Dia mendengarkan doa umat-Nya (1 Raj. 8:29-30). Di zaman Daniel, Bait Suci telah dihancurkan, tetapi orang Yahudi yang ditawan belum lupa doa Solomon saat mempersembahkan Bait Suci: 「Apabila langit tertutup, sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu mereka berdoa menghadap ke arah tempat ini (toward this place) dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya, sebab Engkau telah menindas mereka」(mengikuti KJV dan mayoritas terjemahan Inggris) (1 Raj. 8:35-36) (ITB menggunakan “berdoa di tempat ini”) . Berdoa memohon menghadap ke arah Yerusalem, adalah keyakinan pasti terhadap janji Allah, melalui cara ini mewakili pengharapan umat di dalam hati. Daniel tidak dikacaukan oleh adanya perintah raja tersebut, tetap seperti biasa satu hari tiga kali berdoa kepada Allah.

Masa berlaku perintah itu hanya 30 hari. Dalam masa tidak biasa ini, Daniel mengapa tidak bersembunyi ke tempat yang lain untuk berdoa, atau di dalam hati saja, bahkan sementara berhenti berdoa, sebagai penyelesaian sementara yang menguntungkan? Penulis Alkitab tidak menyebutkan reaksi dan pemikiran Daniel pada saat itu, hanya dengan singkat mencatat tindakannya: tidak dengan berkoar-koar menyiarkan dirinya melanggar larangan, namun juga tidak dengan kesengajaan harus menutup jendela, hanya seperti biasanya berdekatan dengan Allah. 「Seperti yang biasa dilakukannya」 adalah sebuah frasa yang menggambarkannya dengan ringan saja, namun kita tidak dapat bayangkan, pada saat itu di bawah tegangan yang berat sekali, memerlukan keberanian dan iman sebesar apa, bersiap sedia membayar harga yang seperti itu, baru mampu melakukan pilihan 「taat kepada Allah, bukan taat kepada manusia」? (Kis. 5:29) Tanpa diragukan, Daniel sejak awal telah melakukan persiapan yang baik, menyambut akibat apapun yang mungkin terjadi.

Tindakan Daniel, membuat ia jatuh tepat ke dalam pelukan para perancang yang ingin mencelakaan dia (Daniel 6:12, 15). Hanya raja yang 「sangat sedih」 (Daniel 6:14), karena berdasarkan hukum Media Persia, larangan itu pasti tidak boleh diubah, walaupun ia menyayangkan Daniel, juga menemukan dirinya sendiri diperalat, justru harus segera menjalankan penghukuman, melemparkan Daniel ke dalam lubang singa. Tetapi perebutan dalam istana ini, akan sekali lagi menonjol fokus utama kitab Daniel: tidak peduli apapun keadaannya, Allah tetap memegang kendali. Penulis Alkitab terlebih lagi melalui mulut Darius, membawakan sebuah berita penting: 「Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau」 (ITB) (Daniel 6:16)

Renungkan: Daniel menempati kedudukan tinggi, sepertinya lancar segala-galanya, tiba-tiba ditimpah bahaya krisis. Di balik sikap yang tidak panik walau keadaan berubah, adalah ketahanan menjaga iman dan keberanian yang datang dari atas. Rohani yang tahan uji, bukan hal satu malam, tetapi berasal dari Daniel pelatihan dalam doa hari demi hari. Saat ada di hadapan bahaya kesulitan, Daniel tidak hanya memiliki kekuatan terus berlanjut datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, terlebih lagi mampu dari dasar hati mengucapkan syukur. Orang senantiasa berdekatan dengan Allah, yakni adalah 「orang berhikmat」 dalam Perjanjian Lama; dengan cara setetes demi setetes membangun hubungan, makin mengenal Tuhan dan kehendak-Nya, juga dari antaranya belajar mengerti untuk bersandar (Daniel 6:23) dan mengucap syukur.

Saudara dan saudari, bagi engkau apakah datang ke hadapan Tuhan adalah kebiasaan engkau, atau sebuah hal yang sudah lama tidak dijumpai? Seandainya engkau sehari-hari biasa tidak membaca Alkitab, berdoa, bagaimana bisa membangun hubungan dengan-Nya? Begitu datang keadaan sulit dan bahaya krisis dalam kehidupan, juga dari mana datangnya iman dan keberanian untuk menghadapinya? Mohon Tuhan mengaruniakan kita sebuah hati yang rindu berdekatan dengan Dia, selalu datang ke hadapan Dia, membangun hubungan kasih yang kekal, mendalam.


Tambahan Penerjemah:

Jika engkau ada dalam keraguan iman atau dalam pergumulan, datanglah kepada-Nya setiap hari dalam doa dan saat teduh membaca Firman perkataan-Nya, itu adalah satu-satunya obat. Janganlah menjauh dari doa dan Firman karena itu yang akan membuat engkau menjauh dari-Nya, seperti bola salju yang makin mengelinding makin membesar.

Daniel 3:1-7

「Pilihan atas Mati atau Hidup」

Lihatlah deretan pejabat dan alat-alat musik diulang sampai tiga kali. Setiap kali dibunyikan bagaikan pedang yang menusuk di uluh hati disertai sorotan mata para pekabat yang berderet. Seberat apa tantangan iman dan keadaan yang dihadapi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:1-7 [ITB])
1Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
2Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
4Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
5demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
6siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
7Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.

Selama masa Nebukadnezar memerintah, terjadi peristiwa yang lain. Nebukadnezar mendirikan sebuah patung emas di dataran Dura di wilayah Babel, memerintahkan rakyat harus sesuai waktu berdasarkan petunjuk suara alat musik menyembah. Patung emas tingginya enam puluh hasta (kira-kira 27 meter), lebarnya enam hasta (kira-kira 2.7 meter), perbandingannya 1:10, adalah sebuah bentuk seperti manusia yang sangat kurus panjang. Tujuan raja mendirikan patung emas, mungkin adalah hendak melalui patung emas memamerkan pencapaiannya, juga mungkin adalah hendak melalui penyembahan patung emas yang berskala nasional, yang bersifat pemaksaan, agar dikagumi dan ditakuti rakyat.

Apakah sulit mentaati perintah menyembah patung emas? Babel selalu memiliki kebudayaan menyembah banyak dewa, rakyat hendak hormat dan menyembah tambahan sebuah patung emas pasti tidak akan terlalu sulit; terlebih lagi, berdasarkan konsep saat itu, raja Babel menjalankan pemerintahan adalah mewakili dewa yang ia sembah, tidak menyembah patung emas sama dengan menolak melayani dewanya, melawan perintah raja adalah kesalahan yang harus dihukum mati: 「harus seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala」 (Daniel 3:6), bagaimana bisa memiliki alasan tidak menuruti perintah? Tetapi, bagi sekelompok umat Israel yang ditawan, perintah menyembah patung emas justru secara langsung adalah terjangan atas iman mereka: tidak boleh hormat dan sembah allah lain selain Allah, tidak boleh menyembah dan melayani patung berhala (lihat Kel. 20:2-5) ini adalah perintah yang sangat mereka jaga dengan teliti ─ hal ini tentu sangat dipahami musuh yang iri terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tentu saja orang-orang berilmu menangkap erat kesempatan besar dan baik membasmi orang yang berbeda dari diri mereka.

Perikop ini menggambarkan detil dengan teliti dan berulang. Di antaranya tiga kali menjabarkan tingkatan pejabat istana Babel dari atas sampai bawah: para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah (Daniel 3:2, 3, 27). Di balik rangkaian panjang jabatan ini, mewakili sekelompok kekuatan permusuhan yang membenci Sadrakh, Mesakh, Abednego; dan pengulangan ini adalah menonjolkan betapa bahayanya kondisi tiga orang yang berjumlah sedikit menghadapi musuh yang banyak. Sebutan nama alat musik juga sederetan: sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian (Daniel 3:5, 7, 10, 15) dalam fasal tiga muncul berulang. Alat-alat musik ini begitu dibunyikan, orang-orang harus segera meletakkan semua, sujud hormat dan sembah patung emas, orang yang melanggar akan segera dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. yang mentaati perintah raja dan yang tidak mentaati perintah raja, dapat dibedakan segera saat alat-alat musik bersuara. Bagi umat Allah, setiap kali alat musik dibunyikan, adalah satu kali tantangan iman, terlebih lagi adalah terkait mati hidupnya mereka. (Lihat bagaimana penekanannya, deretan nama alat-alat musik yang diulang tiga kali.)

Renungkan: lebih lanjut setelah pengalaman di fasal pertama 「dididik」, 「diganti nama」, 「dicekok minum dan makan」, beberapa orang muda yang saleh ini sekali lagi menghadapi tantangan iman ─ apakah hendak bertekuk-lutut di hadapan berhala? Ini adalah sebuah pilihan yang menyangkut mati atau hidup. Perikop mengingatkan kita, semua tantangan ini akan tiada henti muncul dalam perjalanan surgawi orang Kristen. Hari ini kita juga sama, tidak bisa tidak, harus menghadapi berbagai pilihan yang besar ataupun yang kecil atas iman. Mungkin kita mempertahankan iman, berperang atas dosa kejahatan, sementara masih belum sampai tahap meneteskan darah (Ibrani 12:4); mungkin secara umum dalam kelemahan adalah belum berperang sudah menyerah terlebih dahulu, terlalu mudah kompromi dan diasimilasi. Teladan Sadrakh, Mesakh, Abednego sangat tampak berharga: mereka tidak bersedia memakai alasan “terpaksa keadaan, bukan keinginan saya sendiri”, memilih setia kepada Allah, juga siap sedia membayar harga yang paling berat untuknya: yaitu nyawa sendiri. Saudara dan saudari, apakah kita sudah melakukan persiapan, setiap kali saat dihadapkan pada pilihan iman, berteguh-hati berdiri di pihak Allah?


Tambahan Penerjemah:

Tantangan iman dapat berbentuk kesulitan ekonomi, kegagalan dalam pekerjaan, perbuatan buruk orang lain terhadap kita (bahkan dari sesama orang Kristen) menjadi alasan untuk mempersalahkan Allah lalu menjauhkan iman dari Tuhan Kita Yesus Kristus.

Ataupun bentuk bentuk keinginan atau pemikiran yang sepertinya normal bagi masyarakat umum namun dapat mengalihkan iman kesetiaan kita bergeser tanpa disadari, yang membuat kita menjauh dari Tuhan Yesus.

Bandingkan dengan Sadrakh, Mesakh, Abednego.