Tag Archives: Tantangan Iman

Daniel 3:19-30

「Iman yang Tidak Musnah Dibakar」

Apa pelajaran bagi kita dari iman yang tidak musnah dibakar penderitaan atau kesulitan yang datang bertubi-tubi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:19-30 [ITB])
19Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 21Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
25Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
26Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.
28Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
29Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
30Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Pengakuan iman Hananya, Misael dan Azarya, secara besar-besaran membuat marah Nebukadnezar. Raja dengan geram memerintahkan agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 「Tujuh」 adalah sebagai angka simbolis, maksudnya adalah agar perapian yang menyala-nyala dibuat sampai tidak bisa lebih panas lagi, sampai tingkat yang paling maksimal, bahkan sampai orang yang mengangkat mereka ikut terbakar mati lidah api yang menyembur dari perapian. Hananya, Misael dan Azarya dalam keadaan terikat dilemparkan ke dalam perapian. Pada masa itu perapian biasanya memiliki lubang angin atau lubang untuk memasukkan bahan pembakaran, diperkirakan Nebukadnezar melihat dari mulut lubang sebuah pemandangan ajaib, melihat ada empat orang dengan leluasa berjalan di dalam api, orang yang keempat rupanya seperti anak dewa (Daniel 3:25). Perikop tidak dengan jelas menunjukkan siapa 「orang」 keempat ini, sangat mungkin adalah utusan Allah. Tidak peduli bagaimana, adalah Allah yang memberikan penyelamatan, tiga orang sama sekali tidak terluka sedikitpun pasti adalah sebuah muzizat.

「Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15) telah muncul jawabannya. Allah hendak Nebukadnezar memahami, siapa yang memegang kendali atas semuanya sampai akhir. Bukan raja Babel yang memaksa rakyat hormat dan sembah patung emas dengan kekerasan (walaupun Allah menyingkapkan bahwa ia adalah 「kepala emas」 itu), tetapi adalah TUHAN. Tepat seperti yang pernah Dia nyatakan sendiri: 「Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku」 (Ul. 32:39). TUHAN pernah menyelamatkan umat-Nya keluar dari Mesir, ini adalah pengalaman umat Israel yang nyata sungguh (lihat Ul. 4:20). Di hadapan muzizat ini, tidak hanya Hananya, Misael dan Azarya yang mengalami sendiri TUHAN adalah Penyelamat yang Maha Mampu, termasuk Nebukadnezar, para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, dan semua para penggugat, semua bersama-sama menyaksikan perbuatan Allah ajaib.

Dari peristiwa dimulainya sebuah perintah, dan berakhir dengan sebuah perintah yang lain. Perintah yang paling awal: 「orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!」 (Daniel 3:4-6). Paling akhir perintah ini digantikan: 「setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.」 (Daniel 3:29). Aslinya tuduhan yang memusuhi ketiga orang: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) paling akhir dirubahkan menjadi pujian raja: 「melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 」 (Daniel 3:28). Meresponi pertanyaan retoriknya sendiri 「dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 Nebukadnezar tidak bisa tidak mengakui bahwa tidak ada Allah lain yang mampu menjalankan penyelamatan yang demikian. Ia tidak hanya mengakui TUHAN adalah Allah Maha Tinggi, memerintahkan seluruh negeri harus menghormati Dia, ia juga setuju ketiga orang gigih menjaga iman sendiri adalah hal yang tepat, taat kepada Allah yang demikian, sudah sepatutnya dibandingkan taat kepada manusia. (lihat Kis. 5:29)

Renungkan: mimpi di fasal dua, menunjukkan bahwa kuasa kerajaan di antara manusia semakin bergerak menurun. Bagaimanakah sepatutnya umat Allah menempatkan diri? Dalam fasal tiga, penulis kitab melalui kesaksian Hananya, Misael dan Azarya, mengingatkan umat Allah bagaimana sepatutnya hidup saat ada dalam tekanan dan situasi dicelakai. Tiga orang terhindarkan pederitaan perapian menyala-nyala, mengalami penyertaan Allah (lihat Yes. 43:2), mengalami diselamatkan, paling akhir mendapatkan pengangkatan dari Nebukadnezar dan hadiah. Tetapi titik beratnya bukan pada 「naik tinggi (diberi kedudukan tinggi)」 (Daniel 3:30), justru adalah pada hati yang setia sampai mati dari ketiga orang (Jika titik berat kita adalah “naik tinggi” sebuah peninggian diri maka akan sama dengan Nebukadnezar).

Mereka menjunjung tinggi kuasa besar Allah, juga sujud tunduk di bawah kedaulatan Tuhan; mereka telah bersiap sedia jika hendak membayar harga paling berat: jika seandainya tidak (jikalaupun tidak), tetap percaya Allah sedang memegang kendali, sampai mati tetap menjunjung tinggi nama Allah.

Saudara dan saudari, apakah engkau dari dalam hati percaya, bahwa ada kehadiran Allah dalam segala hal yang dialami di kehidupan, baik yang lancar atau tidak? Ada kala kita tidak sesuai keinginan dapat segera terlepas dari beban penderitaan, lalu dalam keadaan berbeda-beda, engkau pernah menunjukkan hati yang setia, iman dan keberanian, membuat orang lain terheran, sehingga memuliakan Allah?

Daniel 3:1-7

「Pilihan atas Mati atau Hidup」

Lihatlah deretan pejabat dan alat-alat musik diulang sampai tiga kali. Setiap kali dibunyikan bagaikan pedang yang menusuk di uluh hati disertai sorotan mata para pekabat yang berderet. Seberat apa tantangan iman dan keadaan yang dihadapi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:1-7 [ITB])
1Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
2Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
4Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
5demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
6siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
7Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.

Selama masa Nebukadnezar memerintah, terjadi peristiwa yang lain. Nebukadnezar mendirikan sebuah patung emas di dataran Dura di wilayah Babel, memerintahkan rakyat harus sesuai waktu berdasarkan petunjuk suara alat musik menyembah. Patung emas tingginya enam puluh hasta (kira-kira 27 meter), lebarnya enam hasta (kira-kira 2.7 meter), perbandingannya 1:10, adalah sebuah bentuk seperti manusia yang sangat kurus panjang. Tujuan raja mendirikan patung emas, mungkin adalah hendak melalui patung emas memamerkan pencapaiannya, juga mungkin adalah hendak melalui penyembahan patung emas yang berskala nasional, yang bersifat pemaksaan, agar dikagumi dan ditakuti rakyat.

Apakah sulit mentaati perintah menyembah patung emas? Babel selalu memiliki kebudayaan menyembah banyak dewa, rakyat hendak hormat dan menyembah tambahan sebuah patung emas pasti tidak akan terlalu sulit; terlebih lagi, berdasarkan konsep saat itu, raja Babel menjalankan pemerintahan adalah mewakili dewa yang ia sembah, tidak menyembah patung emas sama dengan menolak melayani dewanya, melawan perintah raja adalah kesalahan yang harus dihukum mati: 「harus seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala」 (Daniel 3:6), bagaimana bisa memiliki alasan tidak menuruti perintah? Tetapi, bagi sekelompok umat Israel yang ditawan, perintah menyembah patung emas justru secara langsung adalah terjangan atas iman mereka: tidak boleh hormat dan sembah allah lain selain Allah, tidak boleh menyembah dan melayani patung berhala (lihat Kel. 20:2-5) ini adalah perintah yang sangat mereka jaga dengan teliti ─ hal ini tentu sangat dipahami musuh yang iri terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tentu saja orang-orang berilmu menangkap erat kesempatan besar dan baik membasmi orang yang berbeda dari diri mereka.

Perikop ini menggambarkan detil dengan teliti dan berulang. Di antaranya tiga kali menjabarkan tingkatan pejabat istana Babel dari atas sampai bawah: para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah (Daniel 3:2, 3, 27). Di balik rangkaian panjang jabatan ini, mewakili sekelompok kekuatan permusuhan yang membenci Sadrakh, Mesakh, Abednego; dan pengulangan ini adalah menonjolkan betapa bahayanya kondisi tiga orang yang berjumlah sedikit menghadapi musuh yang banyak. Sebutan nama alat musik juga sederetan: sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian (Daniel 3:5, 7, 10, 15) dalam fasal tiga muncul berulang. Alat-alat musik ini begitu dibunyikan, orang-orang harus segera meletakkan semua, sujud hormat dan sembah patung emas, orang yang melanggar akan segera dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. yang mentaati perintah raja dan yang tidak mentaati perintah raja, dapat dibedakan segera saat alat-alat musik bersuara. Bagi umat Allah, setiap kali alat musik dibunyikan, adalah satu kali tantangan iman, terlebih lagi adalah terkait mati hidupnya mereka. (Lihat bagaimana penekanannya, deretan nama alat-alat musik yang diulang tiga kali.)

Renungkan: lebih lanjut setelah pengalaman di fasal pertama 「dididik」, 「diganti nama」, 「dicekok minum dan makan」, beberapa orang muda yang saleh ini sekali lagi menghadapi tantangan iman ─ apakah hendak bertekuk-lutut di hadapan berhala? Ini adalah sebuah pilihan yang menyangkut mati atau hidup. Perikop mengingatkan kita, semua tantangan ini akan tiada henti muncul dalam perjalanan surgawi orang Kristen. Hari ini kita juga sama, tidak bisa tidak, harus menghadapi berbagai pilihan yang besar ataupun yang kecil atas iman. Mungkin kita mempertahankan iman, berperang atas dosa kejahatan, sementara masih belum sampai tahap meneteskan darah (Ibrani 12:4); mungkin secara umum dalam kelemahan adalah belum berperang sudah menyerah terlebih dahulu, terlalu mudah kompromi dan diasimilasi. Teladan Sadrakh, Mesakh, Abednego sangat tampak berharga: mereka tidak bersedia memakai alasan “terpaksa keadaan, bukan keinginan saya sendiri”, memilih setia kepada Allah, juga siap sedia membayar harga yang paling berat untuknya: yaitu nyawa sendiri. Saudara dan saudari, apakah kita sudah melakukan persiapan, setiap kali saat dihadapkan pada pilihan iman, berteguh-hati berdiri di pihak Allah?


Tambahan Penerjemah:

Tantangan iman dapat berbentuk kesulitan ekonomi, kegagalan dalam pekerjaan, perbuatan buruk orang lain terhadap kita (bahkan dari sesama orang Kristen) menjadi alasan untuk mempersalahkan Allah lalu menjauhkan iman dari Tuhan Kita Yesus Kristus.

Ataupun bentuk bentuk keinginan atau pemikiran yang sepertinya normal bagi masyarakat umum namun dapat mengalihkan iman kesetiaan kita bergeser tanpa disadari, yang membuat kita menjauh dari Tuhan Yesus.

Bandingkan dengan Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Daniel 1:8-16

「Saat Saya Berbeda dengan Dunia」

Daniel dan ketiga teman, dalam keadaan iman mengalami terjangan arus sama sekali tidak memakai alasan 「dipaksa keadaan」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 1:8-16 [ITB])
8Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
9Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;
10tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.”
11Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:
12“Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; 13sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.”
14Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. 15Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.
16Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.

Daniel dan ketiga teman yang ditawan ke Babel, terpilih untuk menerima pendidikan khusus. Sebagai tawanan, mereka tidak berhak mengatakan “tidak”, harus mereka taati belajar bahasa, huruf dan tulisan, serta pengetahuan Babel; dipaksa memakai nama Babel, mereka hanya bisa diam menerima. Mungkin bagi keempat pemuda yang saleh, belajar bahasa huruf tulisan Babel tidak akan mengoyahkan iman mereka, diberi nama Babel juga tidak dapat memutuskan hubungan mereka dengan TUHAN. Sampai pada dituntut makan santapan raja, mereka dengan serta merta menolak. Dengan hal ini, penulis Alkitab hendak memberitahukan kepada kita, keempat orang ini aslinya sama sekali tidak pernah melupakan identitas diri sendiri sebagai umat Israel, mereka dengan gigih menolak untuk kompromi atas iman, dengan jelas mengetahui apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan. 「Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.」 (Daniel 1:8)

Menghadapi tantangan baru atas iman ini, cara Daniel menghadapi adalah nada rendah dan damai meminta kepala kasim mengijinkan mereka tidak makan santapan raja. Sebenarnya bertindak demikian adalah sangat berresiko, dari reaksi kepala kasim dapat diketahui seriusnya keadaan: 「Aku takut, kalau-kalau tuanku raja,… sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.」 (Dalam terjemahan CUV atau Inggris 「Aku takut, kalau-kalau tuanku raja,… sehingga kamu membahayakan kepalaku di hadapan raja.」 ) (Daniel 1:10). Tidak hanya demikian, siapa tahu kepala kasim tidak akan menggugat bahwa mereka melawan perintah raja? Tetapi penulis kitab sejak awal menunjukkan: 「Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu」 (Daniel 1:9). Ayat ini sekali lagi membawakan berita Kitab Daniel: adalah Allah yang memegang kendali, bukan raja Babel serta pejabatnya.

Walaupun permintaan Daniel ditolak kepala kasim, tetapi ia belum putus asa, sebaliknya memohon kepada penjenang (mandor pengawas) yang diangkat oleh kepala kasim agar memberikan sepuluh hari 「masa percobaan」 (Daniel 1:12-13). Kali ini Daniel pada akhirnya dengan hikmat meyakinkan pengawas, sehingga mereka selama sepuluh hari hanya makan sayuran dan minum air biasa, hasilnya luar biasa, ini nyata adalah sebuah muzizat. Dengan hikmat dan iman, Daniel dan tiga teman, juga sang penjenang, bersama-sama menyaksikan perbuatan Allah yang ajaib. Muzizat ini membuat keempat orang selama masa pendidikan tiga tahun, telah terhidarkan penajisan dari makanan dan minuman.

Di dalam Alkitab terdapat tidak sedikit contoh jatuh tersandung karena nafsu atas makanan (lihat Kej.2:16-17; 3:6; 25:29-34; Bil. 11). Sangat beralasan untuk percaya bahwa santapan raja dan anggur pasti jauh lebih enak sedap dimakan dibandingkan sayuran dan air biasa; ditambah lagi ini adalah perintah raja, bagaimana mungkin menolak. Tetapi, apa yang lebih dipandang berharga oleh Daniel dan ketiga teman, adalah identitas diri sendiri sebagai umat Allah. Dalam situasi yang tidak mengijinkan kehendak mereka sendiri, mereka tetap bersandar Allah, memakai hikmat yang datang dari atas, mempertahankan kesetiaan kesucian.

Renungkan: jika seorang Kristen tidak terlihat ada perbedaan yang besar dengan orang belum percaya, salah satu penyebab biasanya adalah tidak cukup memandang berharga identitas sendiri sebagai anak-anak Allah, kurang tekat mempertahankan iman. Terutama pada saat berada di antara oramg-orang belum percaya, mungkin takut ditertawakan, atau tidak rela rugi sehingga dengan mudah melepaskan prinsip iman, atau bahkan tidak berani mengakui identitas sendiri sebagai orang Kristen. Daniel dan ketiga teman, dalam keadaan iman mengalami terjangan arus sama sekali tidak memakai alasan 「dipaksa keadaan」, sebaliknya dengan berani berbeda dengan pemuda lain yang sama-sama ditawan, berjuang bersikeras menjaga kesetiaan kesucian terhadap TUHAN, bertekat “dipisahkan untuk dikuduskan”, maka mengalami penyertaan dan berkat Allah.

Saudara dan saudari saat menghadapi terjangan arus dunia (ataupun tantangan atas iman), apakah engkau sejak awal sebelum bertempur sudah menyerah, atau sama seperti Daniel, mencintai identitas diri, bertekat menjaga diri tidak dinajiskan, dan bersiap-sedia membayar harga demi mempertahankan iman? (Ambillah tekat dan minta pertolongan Tuhan Yesus, tanpa henti.)

Daniel 1:3-7

「Tantangan atas Iman」

Daniel bersama tiga teman menghadapi pemaksaan cuci otak, ganti identitas, ganti iman. Apakah terdapat tantangan yang sama di hadapan kita?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 1:3-7 [ITB])
3Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,
4yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
5Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.
6Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.
7Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.

Mulai dari 1:3, titik berat kitab ini mulai berfokus pada diri Daniel. Nebukadnezar memerintahkan kepala kasim, harus memilih dengan teliti beberapa pemuda terbaik dari dalam kelompok orang Israel yang ditawan, untuk dididik, diajari menguasai dengan benar-benar berbagai macam ilmu pengetahuan Babel, agar kelak dapat bekerja kepada raja di istana. Daniel dan tiga teman yang lain memenuhi seluruh tuntutan Nebukadnezar: dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, berusia muda, tidak ada cacat, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak, maka mereka terpilih untuk dididik secara khusus. Pada kenyataannya, pendidikan khusus tiga tahun ini selain memperlengkapi beberapa pemuda unggulan ini menjadi orang elite berkemampuan tinggi di istana Babel, sepertinya juga tersembunyi tujuan lain.
Terlebih dahulu, empat orang harus sepenuhnya menerima pencucian kebudayaan Babel. Mereka belajar semua bahasa Kasdim, tulisan pengetahuan (juga termasuk ilmu tenung dan meramal).

Kemudian, mereka 「diberi makan minum」. Selama masa pelatihan, keempat orang setiap hari harus makan santapan raja, minum anggur raja. Santapan raja dapat dibayangkan pasti jauh melimpah lebih sedap dibandingkan santapan biasa. Tetapi, orang Israel selalu sangat menjaga aturan minum makan Yahudi (Kosher), santapan serta anggur raja Babel sangat besar kemungkinan adalah makanan yang telah dipakai menyembah berhala; maka bagi keempat pemuda ini, makan santapan raja menjadi sebuah ujian atas iman.

Paling akhir, 「diganti nama」. Dalam kebudayaan saat itu, nama menandakan iman dan identitas seseorang. Ganti nama, adalah pemaksaan mengenakan agama dan identitas yang lain dengan kekerasan kepada orang. Daniel (berarti: Allah adalah Hakim ku) oleh kepala kasim diganti nama menjadi Beltsazar (kiranya dewi melindungi), Hananya (kasih kemurahan TUHAN) diganti nama menjadi Sadrakh (saya menghormati dewa), Misael (siapa seperti Allah) diganti nama menjadi Mesakh (saya sama sekali tidak berharga), Azarya (TUHAN adalah Penolong ku) diganti nama menjadi Abednego (hamba dewa「Nebo」). Nama asli Daniel dan ketiga teman mencerminkan hubungan mereka dengan TUHAN; dengan 「ganti」 nama baru, adalah tindakan merengut putus mereka seketika dari TUHAN, dialihkan terhubung bersama para dewa Babel, untuk mengingatkan mereka bahwa iman yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka telah diganti dengan paksa.

Dari sini dapat dilihat, pendidikan khusus di istana Babel, tujuannya tidak hanya membina kelompok pemuda yang ditawan ini agar menjadi orang-orang elite berkemampuan tinggi di istana, tetapi secara tersembunyi adalah hendak merombak mereka secara total, sengaja memotong putus identitas bangsa dan iman mereka yang asli, dicuci otak dan diasimilasi secara paksa, memaksa mereka secara total setia kepada raja Babel.

Renungkan: Daniel bersama tiga teman sebagai tawanan, diperintahkan belajar huruf tulisan Babel, bahasa, kebudayaan, dipasangkan nama Babel, bahkan ditentukan makanan minuman yang merupakan kebutuhan sehari-hari. Melihat keadaan saat itu, keempat orang ini sepertinya tidak ada pilihan lain, hanya dapat diam-diam menerima semua pengaturan dari 「tuhan」 yang baru. Berapa sering kita menghadapi perubahan situasi, terjangan arus dunia, kita merasa tanpa pertolongan, sepertinya mau tidak mau harus menerima kenyataan. Tetapi dengan teliti renungkan: apakah kita pernah lupa identitas diri kita sendiri? Siapa yang adalah 「Tuhan」? Apakah benar-benar tidak ada pilihan lagi?


Tambahan Penerjemah:

Apakah hal serupa dengan apa yang dialami Daniel dan ketiga teman juga kita alami walau bukan secara harafiah? Bagaimanakah sepatutnya sikap dan tindakan kerohanian kita menghadapi abrasi asimilasi yang menerjang iman kita dan anak-anak kita?

Perlukah kita waspada dan bertindak atas apa yang mungkin dihadapi oleh anak-anak kita baik di lingkungan pergaulan ataupun pedidikan di sekolah? Materialisme, atheisme, skeptisme, individualisme, evolusionisme, dan berbagai isme-isme ataupun ajaran-ajaran sesat yang bertentangan dengan iman kita?