「Iman yang Tidak Musnah Dibakar」
Apa pelajaran bagi kita dari iman yang tidak musnah dibakar penderitaan atau kesulitan yang datang bertubi-tubi?
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Daniel 3:19-30 [ITB])
19Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 21Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
25Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
26Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.
28Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
29Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
30Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.
Pengakuan iman Hananya, Misael dan Azarya, secara besar-besaran membuat marah Nebukadnezar. Raja dengan geram memerintahkan agar perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 「Tujuh」 adalah sebagai angka simbolis, maksudnya adalah agar perapian yang menyala-nyala dibuat sampai tidak bisa lebih panas lagi, sampai tingkat yang paling maksimal, bahkan sampai orang yang mengangkat mereka ikut terbakar mati lidah api yang menyembur dari perapian. Hananya, Misael dan Azarya dalam keadaan terikat dilemparkan ke dalam perapian. Pada masa itu perapian biasanya memiliki lubang angin atau lubang untuk memasukkan bahan pembakaran, diperkirakan Nebukadnezar melihat dari mulut lubang sebuah pemandangan ajaib, melihat ada empat orang dengan leluasa berjalan di dalam api, orang yang keempat rupanya seperti anak dewa (Daniel 3:25). Perikop tidak dengan jelas menunjukkan siapa 「orang」 keempat ini, sangat mungkin adalah utusan Allah. Tidak peduli bagaimana, adalah Allah yang memberikan penyelamatan, tiga orang sama sekali tidak terluka sedikitpun pasti adalah sebuah muzizat.
「Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15) telah muncul jawabannya. Allah hendak Nebukadnezar memahami, siapa yang memegang kendali atas semuanya sampai akhir. Bukan raja Babel yang memaksa rakyat hormat dan sembah patung emas dengan kekerasan (walaupun Allah menyingkapkan bahwa ia adalah 「kepala emas」 itu), tetapi adalah TUHAN. Tepat seperti yang pernah Dia nyatakan sendiri: 「Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku」 (Ul. 32:39). TUHAN pernah menyelamatkan umat-Nya keluar dari Mesir, ini adalah pengalaman umat Israel yang nyata sungguh (lihat Ul. 4:20). Di hadapan muzizat ini, tidak hanya Hananya, Misael dan Azarya yang mengalami sendiri TUHAN adalah Penyelamat yang Maha Mampu, termasuk Nebukadnezar, para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, dan semua para penggugat, semua bersama-sama menyaksikan perbuatan Allah ajaib.
Dari peristiwa dimulainya sebuah perintah, dan berakhir dengan sebuah perintah yang lain. Perintah yang paling awal: 「orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!」 (Daniel 3:4-6). Paling akhir perintah ini digantikan: 「setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.」 (Daniel 3:29). Aslinya tuduhan yang memusuhi ketiga orang: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) paling akhir dirubahkan menjadi pujian raja: 「melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 」 (Daniel 3:28). Meresponi pertanyaan retoriknya sendiri 「dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 Nebukadnezar tidak bisa tidak mengakui bahwa tidak ada Allah lain yang mampu menjalankan penyelamatan yang demikian. Ia tidak hanya mengakui TUHAN adalah Allah Maha Tinggi, memerintahkan seluruh negeri harus menghormati Dia, ia juga setuju ketiga orang gigih menjaga iman sendiri adalah hal yang tepat, taat kepada Allah yang demikian, sudah sepatutnya dibandingkan taat kepada manusia. (lihat Kis. 5:29)
Renungkan: mimpi di fasal dua, menunjukkan bahwa kuasa kerajaan di antara manusia semakin bergerak menurun. Bagaimanakah sepatutnya umat Allah menempatkan diri? Dalam fasal tiga, penulis kitab melalui kesaksian Hananya, Misael dan Azarya, mengingatkan umat Allah bagaimana sepatutnya hidup saat ada dalam tekanan dan situasi dicelakai. Tiga orang terhindarkan pederitaan perapian menyala-nyala, mengalami penyertaan Allah (lihat Yes. 43:2), mengalami diselamatkan, paling akhir mendapatkan pengangkatan dari Nebukadnezar dan hadiah. Tetapi titik beratnya bukan pada 「naik tinggi (diberi kedudukan tinggi)」 (Daniel 3:30), justru adalah pada hati yang setia sampai mati dari ketiga orang (Jika titik berat kita adalah “naik tinggi” sebuah peninggian diri maka akan sama dengan Nebukadnezar).
Mereka menjunjung tinggi kuasa besar Allah, juga sujud tunduk di bawah kedaulatan Tuhan; mereka telah bersiap sedia jika hendak membayar harga paling berat: jika seandainya tidak (jikalaupun tidak), tetap percaya Allah sedang memegang kendali, sampai mati tetap menjunjung tinggi nama Allah.
Saudara dan saudari, apakah engkau dari dalam hati percaya, bahwa ada kehadiran Allah dalam segala hal yang dialami di kehidupan, baik yang lancar atau tidak? Ada kala kita tidak sesuai keinginan dapat segera terlepas dari beban penderitaan, lalu dalam keadaan berbeda-beda, engkau pernah menunjukkan hati yang setia, iman dan keberanian, membuat orang lain terheran, sehingga memuliakan Allah?