「Keberanian Mengatakan Tidak」
Katakan selagi bisa, adakalanya tidak ada kesempatan untuk mengatakan 「tidak」.
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Daniel 3:8-15 [ITB])
8Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. 9Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: 「Ya raja, kekallah hidup tuanku!
10Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, 11dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
12Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.」
13Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, 14berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: 「Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」
Nebukadnezar mendirikan patung emas memerintahkan rakyat seluruh negeri menyembah, pelanggar akan mati. Beberapa orang Kasdim segera menggunakan kesempatan hendak memusnahkan musuh mereka. Perhatikan cara mereka menuduh dan bahasa yang dipakai: 「Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh, Abednego …」 (Daniel 3:12) orang Kasdim sengaja menekankan 「orang Yahudi」, terlebih dahulu mengingatkan raja jangan lupa identitas mereka adalah tawanan, selanjutnya menyebutkan jabatan ketiga orang; ada alasan percaya bahwa Daniel, Hananya, Misael dan Azary dalam masa pelatihan di istana sudah sangat menonjol berbeda, sampai pelatihan selesai, dibandingkan orang yang lain lebih cepat naik ke posisi yang sangat tinggi, maka mendatangkan iri.
Orang Kasdim membidik bahwa perintah penyembahan patung emas tepat merupakan kesempatan besar dan baik mencabut duri yang ada di dalam mata, sehingga sengaja memprovokasi raja: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 (Daniel 3:12) 「Tiga tidak」 gugatan ini nyata effisien, Nebukadnezar mendengar ternyata ada orang bernyali besar mengatakan tidak terhadap raja, secara terbuka menantang wibawa raja, menolak setia, bagaimana mungkin tidak marah besar? Semuanya ada dalam perkiraan orang Kasdim.
Nebukadnezar segera memanggil Hananya, Misael dan Azarya. Patut diperhatikan, saat Nebukadnezar terbakar dalam api kemarahan, tidak seperti ketentuan yang sudah diberlakukan 「segera」mencampakkan ketiga orang ke dalam perapian menyala-nyala, justru lebih dahulu memastikan gugatan itu apakah sungguh, terlebih lagi bersedia memberi ketiga orang satu kali lagi kesempatan: saat alat musik dibunyikan, jika ketiga orang bersedia berlutut menyembah, maka tetap boleh memiliki nyawa. Kehendak Nebukadnezar sangat jelas: pilihan hidup atau mati diletakkan di hadapan tiga orang, mau menuruti perintah mencari keselamatan, atau tidak dapat menghindari mati. 「Ada dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?」 (Daniel 3:15). Pertanyaan raja adalah pertanyaan retorik, artinya secara fundamental tidak ada dewa yang mampu menyelamatkan mereka. Nebukadnezar yang tidak pernah terpikir adalah, pertanyaan retorik ini membawakan topik teologi yang paling inti di fasal tiga. Tepat sama seperti dalam fasal dua, orang-orang berilmu dalam ketidak-tahuan, mengatakan kebenaran 「tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia」 (Daniel 2:11).
Renungkan: 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja, mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.」 Tuduhan ini merupakan dakwaan mati bagi Hananya, Misael dan Azarya. Beberapa orang muda Yahudi yang saleh ini, di Babel menempati kedudukan tinggi, tetapi promosi naik jabatan tidak merubah iman mereka; bagi mereka, waspada menjaga perintah Allah jauh lebih penting dibandingkan mentaati perintah raja. (Kis. 5:29 “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”) Hananya, Misael dan Azarya bukan tidak tahu akibat dari menolak menyembah patung emas, tetapi mereka bersikeras memilih setia kepada Allah. Jika dilihat dari sebuah sudut yang lain, 「orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja, mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan」 adalah pujian tertinggi terhadap sekelompok umat Allah yang gigih menjaga iman. Saudara dan saudari, apakah engkau memiliki tekat berteguh-hati mengatakan 「tidak」 terhadap hal yang berlawan dan melanggar iman? Seandainya harus membayar harga, apakah engkau tetap akan memberikan prioritas paling tinggi bagi kemuliaan Allah?
Tambahan Penerjemah:
Ada saatnya kita berani mengatakan pasti akan membayar harga bahkan nyawa sekalipun demi iman, Petrus dan murid-murid yang lain juga mengatakan keyakinan yang sama. Kiranya Tuhan Yesus yang memberikan kita keberanian dan kegigihan membayar harga bahkan nyawa sekalipun dalam menjaga iman.
Adakalanya tidak ada kesempatan untuk mengatakan 「tidak」 karena musuh penggeser iman sudah melakukannya diam-diam terjadi tanpa kita sadari. Kiranya kita memohon pertolongan Roh Kudus menerangi hati dan pikiran kita.