Daniel 3:1-7

「Pilihan atas Mati atau Hidup」

Lihatlah deretan pejabat dan alat-alat musik diulang sampai tiga kali. Setiap kali dibunyikan bagaikan pedang yang menusuk di uluh hati disertai sorotan mata para pekabat yang berderet. Seberat apa tantangan iman dan keadaan yang dihadapi?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:1-7 [ITB])
1Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
2Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
4Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
5demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
6siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
7Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.

Selama masa Nebukadnezar memerintah, terjadi peristiwa yang lain. Nebukadnezar mendirikan sebuah patung emas di dataran Dura di wilayah Babel, memerintahkan rakyat harus sesuai waktu berdasarkan petunjuk suara alat musik menyembah. Patung emas tingginya enam puluh hasta (kira-kira 27 meter), lebarnya enam hasta (kira-kira 2.7 meter), perbandingannya 1:10, adalah sebuah bentuk seperti manusia yang sangat kurus panjang. Tujuan raja mendirikan patung emas, mungkin adalah hendak melalui patung emas memamerkan pencapaiannya, juga mungkin adalah hendak melalui penyembahan patung emas yang berskala nasional, yang bersifat pemaksaan, agar dikagumi dan ditakuti rakyat.

Apakah sulit mentaati perintah menyembah patung emas? Babel selalu memiliki kebudayaan menyembah banyak dewa, rakyat hendak hormat dan menyembah tambahan sebuah patung emas pasti tidak akan terlalu sulit; terlebih lagi, berdasarkan konsep saat itu, raja Babel menjalankan pemerintahan adalah mewakili dewa yang ia sembah, tidak menyembah patung emas sama dengan menolak melayani dewanya, melawan perintah raja adalah kesalahan yang harus dihukum mati: 「harus seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala」 (Daniel 3:6), bagaimana bisa memiliki alasan tidak menuruti perintah? Tetapi, bagi sekelompok umat Israel yang ditawan, perintah menyembah patung emas justru secara langsung adalah terjangan atas iman mereka: tidak boleh hormat dan sembah allah lain selain Allah, tidak boleh menyembah dan melayani patung berhala (lihat Kel. 20:2-5) ini adalah perintah yang sangat mereka jaga dengan teliti ─ hal ini tentu sangat dipahami musuh yang iri terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tentu saja orang-orang berilmu menangkap erat kesempatan besar dan baik membasmi orang yang berbeda dari diri mereka.

Perikop ini menggambarkan detil dengan teliti dan berulang. Di antaranya tiga kali menjabarkan tingkatan pejabat istana Babel dari atas sampai bawah: para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah (Daniel 3:2, 3, 27). Di balik rangkaian panjang jabatan ini, mewakili sekelompok kekuatan permusuhan yang membenci Sadrakh, Mesakh, Abednego; dan pengulangan ini adalah menonjolkan betapa bahayanya kondisi tiga orang yang berjumlah sedikit menghadapi musuh yang banyak. Sebutan nama alat musik juga sederetan: sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian (Daniel 3:5, 7, 10, 15) dalam fasal tiga muncul berulang. Alat-alat musik ini begitu dibunyikan, orang-orang harus segera meletakkan semua, sujud hormat dan sembah patung emas, orang yang melanggar akan segera dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. yang mentaati perintah raja dan yang tidak mentaati perintah raja, dapat dibedakan segera saat alat-alat musik bersuara. Bagi umat Allah, setiap kali alat musik dibunyikan, adalah satu kali tantangan iman, terlebih lagi adalah terkait mati hidupnya mereka. (Lihat bagaimana penekanannya, deretan nama alat-alat musik yang diulang tiga kali.)

Renungkan: lebih lanjut setelah pengalaman di fasal pertama 「dididik」, 「diganti nama」, 「dicekok minum dan makan」, beberapa orang muda yang saleh ini sekali lagi menghadapi tantangan iman ─ apakah hendak bertekuk-lutut di hadapan berhala? Ini adalah sebuah pilihan yang menyangkut mati atau hidup. Perikop mengingatkan kita, semua tantangan ini akan tiada henti muncul dalam perjalanan surgawi orang Kristen. Hari ini kita juga sama, tidak bisa tidak, harus menghadapi berbagai pilihan yang besar ataupun yang kecil atas iman. Mungkin kita mempertahankan iman, berperang atas dosa kejahatan, sementara masih belum sampai tahap meneteskan darah (Ibrani 12:4); mungkin secara umum dalam kelemahan adalah belum berperang sudah menyerah terlebih dahulu, terlalu mudah kompromi dan diasimilasi. Teladan Sadrakh, Mesakh, Abednego sangat tampak berharga: mereka tidak bersedia memakai alasan “terpaksa keadaan, bukan keinginan saya sendiri”, memilih setia kepada Allah, juga siap sedia membayar harga yang paling berat untuknya: yaitu nyawa sendiri. Saudara dan saudari, apakah kita sudah melakukan persiapan, setiap kali saat dihadapkan pada pilihan iman, berteguh-hati berdiri di pihak Allah?


Tambahan Penerjemah:

Tantangan iman dapat berbentuk kesulitan ekonomi, kegagalan dalam pekerjaan, perbuatan buruk orang lain terhadap kita (bahkan dari sesama orang Kristen) menjadi alasan untuk mempersalahkan Allah lalu menjauhkan iman dari Tuhan Kita Yesus Kristus.

Ataupun bentuk bentuk keinginan atau pemikiran yang sepertinya normal bagi masyarakat umum namun dapat mengalihkan iman kesetiaan kita bergeser tanpa disadari, yang membuat kita menjauh dari Tuhan Yesus.

Bandingkan dengan Sadrakh, Mesakh, Abednego.