Tag Archives: Kedaulatan Allah

Amsal 16:23-33

Pengendalian diri
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 16:23-33 [ITB])
23 Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi,
………dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan.
24 Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu,
………manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
25 Ada jalan yang disangka lurus,
………tetapi ujungnya menuju maut.
26 Rasa lapar bekerja untuk seorang pekerja,
………karena mulutnya memaksa dia.
27 Orang yang tidak berguna menggali lobang kejahatan,
………dan pada bibirnya seolah-olah ada api yang menghanguskan.
28 Orang yang curang menimbulkan pertengkaran,
………dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.
29 Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya,
………dan membawa dia di jalan yang tidak baik.
30 Siapa memejamkan matanya, merencanakan tipu muslihat;
………siapa mengatupkan bibirnya, sudah melakukan kejahatan.
31 Rambut putih adalah mahkota yang indah,
………yang didapat pada jalan kebenaran.
32 Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan,
………orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.
33 Undi dibuang di pangkuan,
………tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.

Ayat 16:23-30 menunjukkan dua gaya hidup dan konsekuensinya. Alkitab menunjukkan bahwa orang bijak berkata-kata dengan hati-hati, sehingga tepat sesuai dan seperti madu membawa kesembuhan (ayat 23-24). Lalu, ayat 25-30 menunjukkan ada tiga jenis sifat buruk orang, yang membuat orang menempuh jalan maut, mereka adalah pengikut kejahatan, penuh kekejaman. Kerusakan mereka mulai dari pikiran (merancang tipu muslihat, menyesatkan), sampai juga dalam perkataan (menyebarkan perselisihan, menyebarkan fitnah), dan perilaku (membuat jerat godaan, melakukan kejahatan), semuanya bersifat menghancurkan hubungan, melukai sesama, dan mengadu domba teman dekat. Mereka bukan hanya melakukan kejahatan, tetapi juga mendorong orang lain untuk mengambil jalan yang tidak baik jalan kejahatan (ayat 29). Orang-orang jahat ini seperti yang dikatakan Paulus: … mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (Roma 1:32).

Ayat 16:32 adalah penggunaan yang terakhir atas perbandingan paralel yang berbentuk lebih baik / melebihi …, Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota, apa hubungan antara amarah dengan pahlawan, dan temperamen dengan merebut kota? Tindakan bijak atau kebajikan apa yang hendak ditunjukkan orang bijak? Kemarahan dan temperamen pengendalian diri adalah perasaan pribadi dan kondisi emosional internal; sementara pejuang dan kota berada di luar, objek yang harus ditaklukkan atau dikalahkan. Titik kesamaan dari keduanya adalah kontrol, kendali diri dan kendali atas orang lain. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa menaklukkan diri lebih baik daripada menaklukkan orang lain (conquest of self is better than conquest of others). Orang yang hilang kendali diri tidak bisa mengendalikan emosi atau perilakunya. Orang pasti ada saat bisa marah, tetapi mereka dapat mengurangi dampak amarah pada tubuh, atau bahkan mencegah amarah menentukan perilaku mereka. Panjang sabar adalah sifat atribut Allah. Anak-anak hikmat bisa berkata seperti yang dikatakan Yakobus: Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yak. 1:19-20).

Bagian terakhir dari pasal ini menanggapi ayat 1, adalah tentang perencanaan. Membuang undi di ayat 33 bagi orang-orang modern adalah konsep probabilitas (kemungkinan). Dalam Perjanjian Lama, undi adalah cara membuat keputusan. Orang Israel memakai undi untuk membagi tanah perjanjian (Yos. 14:1-2), membuang undi untuk memutuskan siapa yang bertugas pelayanan ibadah (1 Taw. 25:8) dan contoh-contoh lainnya. Penggunaan terakhir adalah ketika para rasul membuang undi untuk memilih Matias untuk menggantikan Yudas sebagai rasul (Kis. 1:26). Sejak itu, gereja tidak lagi menggunakan metode membuang undi untuk membuat keputusan. Rencana di hati manusia, semua keputusannya berasal dari pada TUHAN. Semua orang percaya yang menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Allah pengendali kehidupan, Roh Kudus tidak hanya berdiam di dalam hidup mereka, tetapi juga membimbing hidup mereka (Roma 8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah).

Renungkan:
(1) Apakah mudah bagi Anda untuk tidak mudah marah? Buatlah rencana praktis untuk diri Anda sendiri;
(2) Apakah menurut pikiran dan rencana pribadi di dalam hati orang terkait dengan kedaulatan tangan kendali Allah?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amsal 16:1-11

Kasih dan kesetiaan
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 16:1-11 [ITB])
1 Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati,
………tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.
2 Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri,
………tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
3 Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN,
………maka terlaksanalah segala rencanamu.
4 TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing,
………bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.
5 Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN;
………sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.
6 Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni,
………karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.
7 Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang,
………maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia.
8 Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran,
………dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.
9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
………tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
10 Keputusan dari Allah ada di bibir raja,
………kalau ia mengadili mulutnya tidak berbuat salah.
11 Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan TUHAN,
………segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya.

Dari 16:1 sampai 22:16 merupakan paruh kedua dari Amsal bagian kumpulan kedua (10:1 – 22:16), paruh kedua ini berbeda dalam banyak hal dari paruh pertama sebelumnya. Sebagian besar perikop 10:1 – 15:33 yang telah kita renungkan, satu ayat adalah satu unit yang terdiri dari 2 kalimat paralel yang memiliki makna yang berlawanan. Tetapi di bagian kedua ini (16:1 – 22:16), orang bijak menggunakan kalimat paralel yang terdiri dari 2 kalimat dengan makna sinonim atau makna yang diperluas, yaitu konsep dalam kalimat pertama dan berikut adalah sama; atau kalimat kedua melanjutkan pelajaran dari kalimat pertama. Kedua, jika paruh pertama sebelumnya (10:1 – 15:33) topik raja hanya muncul di 14:28 dan 14:35, maka di paruh kedua (16:1 – 22:16) topik raja muncul di setiap pasal, kecuali pasal 18 dan 22. Ketiga, di paruh pertama, beberapa kali kita telah merenungkan kalimat berbentuk lebih baik …, dalam perikop ke depan, kita akan menemukan 10 kali munculnya kalimat bentuk ini. Orang bijak mengingatkan pembaca untuk berpikir dengan hati-hati, teliti memeriksa segala sesuatu, dan menetapkan prioritas hidup.

Kita telah menyebutkan dalam renungan sebelumnya Amsal 15:1-10 bahwa nama TUHAN (Yahweh) paling banyak muncul di kumpulan bagian kedua, dan lebih terkonsentrasi di pasal 15 dan 16, dan di pasal 16 saja sudah muncul 10 kali. Dari ayat 15:33 sampai 16:7, setiap ayat terdapat nama TUHAN, yang muncul 8 kali berturut-turut. Dan kita juga menemukan bahwa ayat-ayat 16:2-6 terlebih merupakan inti pusat dari 《Kitab Amsal》. Oleh karena itu, beberapa peneliti mengatakan 15:33 – 16:9 bukan saja merupakan merupakan inti dari bagian kumpulan ini, bahkan terlebih lagi merupakan inti dari teologis seluruh 《Kitab Amsal》, bahwa sikap hidup dan perilaku manusia serta keberadaannya, bukan saja terkait dengan Allah, tetapi tidak bisa melepaskan diri dari lingkup pandangan Allah.

Dalam ayat 1-9 yang akan kita renungkan hari ini, selain ayat 8, kita melihat hubungan antara kedaulatan Allah dengan kemampuan dan keterbatasan manusia. Ayat 1 dan 9 masing-masing menyebutkan tentang perencanaan. Seperti kata pepatah Mandarin: Manusia membuat rencana, dan terserah Tuhan yang membuat sesuatu terjadi. Di sini orang bijak menunjukkan bahwa Allah menguji hati manusia (ayat 2), oleh karena itu, manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, membuat perencanaan jalan hidupnya, semua berada dalam ruang lingkup kedaulatan tangan Allah. Dalam 9 ayat ini, orang bijak menggunakan hati manusia (4 kali) dan perencanaan (3 kali), serta jalan / perbuatan / langkah (total 5 kali) untuk menunjukkan pikiran dalam dan tindakan luar manusia terkait langsung. Seorang yang takut hormat akan Allah memperlakukan orang dan Allah dengan kasih dan kesetiaan. Dalam Perjanjian Lama kasih dan kesetiaan bukan saja sering digunakan bersama, tetapi juga menunjuk pada atribut sifat TUHAN. Allah memberkati mereka yang setia dan jujur terhadap orang lain. Sama seperti Daud menunjukkan kasih dan kesetiaan kepada Saul dan keturunannya, ia berkata kepada mereka yang menguburkan Saul: Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian (2 Sam. 2:6).

Renungkan:
(1) Pakar Perjanjian Lama Bruce Waltke berkata: Manusia membuat pemikiran, Allah melaksanakan; manusia membuat rencana, Allah menegaskan; manusia pengaturan, Allah membuatnya efektif; manusia mengajukan usulan, Allah mengendalikan. Manusia berpikir bagaimana hendak berbicara, merencanakan bagaimana bertindak, tetapi ketetapan kehendak Allah yang kekal menentukan segalanya, mari merenungkan inspirasi apa yang Anda dapatkan.
(2) Yesus berkata: … yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan … (Matius 23:23), tiga kualitas ini adalah yang disebutkan orang bijak dalam ayat 16:6 dan 8, marilah merenungkan: apakah ini tiga kualitas ini nyata dalam hidup saya?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Roma 9:22-24

「Tukang Periuk Punya Hak! Terlebih Lagi Allah Punya Hak! Allah Punya Penghakiman, Juga Punya Keselamatan!」

Ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 9:22-24 [ITB])
22Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan– 23justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, 24yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain,

Terjemahan literal dari Rom. 9:22-24 adalah 「jika Allah bersedia demi menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, dengan banyak kesabaran yang dalam jangka lama dengan bertahan menerima bejana murka, yakni yang siap untuk dibinasakan, dan untuk menyatakan kemuliaan-Nya yang kaya, dinyatakan dalam bejana belas kasihan, yakni yang sudah disiapkan-Nya untuk mendapatkan kemuliaan, yakni kita yang dipanggil-Nya, tidak hanya dari orang-orang Yahudi tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain.」

Di ayat 22-24, Paulus melanjutkan penggunaan perumpamaan tentang tukang periuk dan bejana untuk berbicara tentang penghukuman Allah yang adil dan pemilihan Allah yang penuh belas kasihan. Tuhan akan menghakimi, dan Tuhan akan menyelamatkan; Allah akan menghukum orang-orang jahat dengan murka, dan dengan cuma-cuma memilih untuk menyelamatkan mereka yang Ia berbelas kasihan! Paulus menunjukkan bahwa Tuhan memiliki dua kebenaran: kebenaran penghakiman yang adil benar dan kebenaran rahmat anugerah. Tuhan memiliki kebenaran-Nya yang adil benar ketika Ia tidak memilih orang-orang berdosa tertentu, dan Ia memiliki kasih sayang yang berlimpah dalam menyelamatkan orang berdosa lainnya. Allah dalam dua aspek kebenaran ini adalah hal yang tidak dapat kita sangkal!

Paulus secara khusus menggunakan istilah 「kesabaran yang besar (yang dalam jangka lama)」 untuk menekankan bahwa Allah berlapang hati terhadap manusia. Di dalam aspek tanggung jawab manusia, Tuhan benar-benar memberikan manusia begitu banyak kesempatan untuk bertobat. Ketika Musa menghadapi Firaun, Allah memberikan banyak kesempatan kepada Firaun. Sebenarnya apakah kita boleh berbicara kepada Tuhan, atau dalam setiap percakapan menentang Allah? Martin Luther mengatakan: 「Sekarang jika ada orang degan hati takut, rendah hati dan saleh, berkata kepada Tuhan 『Mengapakah engkau membentuk aku demikian? 』 Hal ini tidak berdosa! Bahkan imannya mendapatkan pukulan yang begitu keras sehingga mungkin menghujat Allah, ia juga tidak akan binasa. Karena Tuhan kita bukan Allah yang tidak sabar atau kejam, bahkan kepada orang-orang yang tidak saleh sekalipun. Saya mengatakan ini untuk menghibur orang-orang yang sering disiksa oleh karena pernah memiliki pikiran yang menghujat, dan kini berada dalam rasa tidak aman yang sangat ekstrim.」 Kita bisa berbicara kepada Tuhan, tetapi kuncinya adalah jangan membiarkan hati yang tidak mau bertobat dan racun bersungunt-sungut memenuhi hati kita. Ayub yang dalam penderitaan besar berinisiatif berdialog dengan Tuhan, dalam sakit penderitaannya mengucapkan kata-kata yang ia tidak mengerti dan yang tidak patut, tetapi Allah tidak menolak dia, tetapi mencintai dia sampai akhir.

Kita jangan berspekulasi terlalu banyak pada pertanyaan tentang pemilihan Allah, kita tidak tahu siapa apakah yang dipilih oleh Allah, bukan hal yang dapat kita perkirakan. Ada orang yang membuat sebuah perumpamaan, tindakan Tuhan memilih dan respon manusia terhadap pemilihan Allah adalah seperti dua utas tali yang menembus langit-langit dan bagaimana mereka terkait satu sama lain di atas langit-langit yang tidak kelihatan, adalah hal yang kita tidak dapat lihat dengan jelas. Tanggung jawab orang Kristen adalah mengasihi Allah, mengabarkan Injil, bersandar percaya kepada Jesus dan memiliki banyak buah. Meskipun Paulus mengajarkan teologi pilihan, tetapi ia juga tidak peduli diri sendiri dengan rajin memberitakan Injil: 「… aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara merek.」 (1 Kor. 9:22) Ketika mengabarkan Injil, Paulus tidak tahu siapakah yang merupakan orang pilihan! Ketika Lukas mencatat Paulus berkhotbah, ia meninggalkan sepatah kata terkenal: 「… dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.」 (Kis. 13:48)

Dari ketulusan iman seseorang percaya, barulah kita dapat mengenali bahwa mereka adalah umat pilihan Allah! Petrus mengingatkan kita bahwa kita harus terus bergerak maju dalam iman dan terus tiada henti rajin berbuah, dengan demikian kita akan tahu bahwa kita adalah yang dipiliha dan menjadi lebih 「teguh tidak bergeser」 (2 Pet. 1:10). Alkitab menyatakan kehendak Tuhan memilih, bukan menghendaki kita berspekulasi, tapi agar kita beriman untuk mengandalkan Tuhan, dan jangan sombong, bukan membanggakan diri. Pemilihan adalah tindakan Tuhan, dan tugas orang Kristen adalah untuk memberitakan Injil kepada lebih banyak orang, dan tanggung jawab orang yang masih simpatisan adalah untuk benar-benar percaya dan bertobat. Tugas orang percaya adalah harus senantiasa di dalam Tuhan, dan menghasilkan buah yang banyak. Dengan ketulusan iman dan buah yang dihasilkan, kami lebih yakin bahwa kita adalah orang-orang yang disiapkan untuk kemuliaan!

Renungkan: Orang-orang yang disiapkan untuk kemuliaan adalah orang-orang yang dengan sungguh hati benar-benar percaya kepada Yesus dan yang membawa hati yang takut akan Allah, yang berusaha keras untuk menghasilkan buah setiap hari!

Orang yang sungguh hati percaya kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan seumur hidup, dan senantiasa di dalam Tuhan, juga berusaha keras untuk senantiasa berbuah yang baik dan indah!

Di dalam gereja juga ada orang-orang munafik, ilalang dan kambing gunung ini, janganlah kami iri kepada mereka! Jika mereka tidak sungguh hati benar-benar bertobat dan percaya Tuhan, nasib mereka akan sangat menyedihkan, dan mereka harus menanggung murka Allah!


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Roma 9-12 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan Juni 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Roma 9:19-21

「Manusia Hanyalah Manusia! Biarlah Allah Sebagai Allah! Manusia Sebagai Manusia!」

Ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 9:19-21 [ITB])
19Sekarang kamu akan berkata kepadaku: 「Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?」
20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: 「Mengapakah engkau membentuk aku demikian?」 21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Dalam Rom. 9:19-29, Paulus membincangkan tuduhan yang sangat berat: karena Allah menentukan siapa maka bermurah hati kepada siapa, Allah menentukan siapa maka menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya, lalu mengapa Allah masih 「menyalahkan」 orang? Ada orang menggugat 「Karena Tuhan memiliki hak kedaulatan untuk memilih orang, dan orang tidak dapat menolak kehendak Tuhan, dan apa Tuhan kehendaki pasti menjadi kenyataan, maka mengapa Tuhan ingin 『meminta tanggung jawab』 kepada orang-orang?」 Paulus memiliki tiga tanggapan yang penting. Berikut adalah yang pertama: tukang periuk memiliki hak kedaulatan, dan Tuhan mempunyai hak kedaulatan, dari gumpalan tanah yang sama membuat benda-benda yang berbeda (ayat 19-21)

Terjemahan literal ayat 19-21 adalah 「demikian, engkau akan berkata kepada aku: 『 maka, Ia masih menyalahkan? Karena siapa yang pernah menindas kehendak-Nya?』 Hai manusia, tetapi siapakah engkau? Engkau berdebat dengan Tuhan! Ciptaan yang dibentuk tidak akan berkata kepada Penciptanya: 『Mengapa membentuk aku seperti ini?』 Apakah tukang periuk tidak punya kedaulatan menggunakan tanah liat, dari gumpalan tanah liat yang sama, membuat sebuah benda yang berharga dan satu yang tidak berharga?」 Di ayat 20 terdapat frasa 「yang dibentuk tidak akan berkata kepada yang membentuknya」 yang dikutip dari Yes. 29:16 yang berbunyi 「Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: 『Bukan dia yang membuat aku』; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: 『Ia tidak tahu apa-apa』? 」

Paulus menggunakan tiga kontras: manusia dan Allah; ciptaan dan Tuhan Pencipta; tanah liat dan tukang periuk. Paulus menggunakan untaian tiga perbandingan ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan memiliki hak kedaulatan atas gumpalan tanah yang sama, sesuai dengan kedaulatan memberikan anugerah cuma-cuma-Nya memilih mereka, dan sesuai dengan penghakiman-Nya yang adil benar tidak menyelamatkan orang berdosa lainnya. John Stott mengatakan dengan baik, ketika orang membantah Tuhan, orang-orang cenderung 「memutarbalikkan keadaan,」 「mereka tidak hanya tidak memandang Allah sebagai Allah, tetapi juga mencoba untuk bertukar peran, memutarbalik tukang periuk menjadi benda bikinan, dan benda bikinan menjadi tukang periuk.」

Paulus mengingatkan kita:「Allah adalah Allah, kita hanya manusia!」 Ketika memikirkan pemilihan, sumber dosa awal, penentuan awal (Predestinasi) dan berbagai teologi yang sulit, kita harus menerima bahwa kita hanyalah manusia, kita tidak bisa mengatur tindakan Tuhan!「Mengapa」 Allah memilih seseorang bukan seseorang yang lain? Terhadap hal ini kita tertarik ingin tahu, tetapi Allah tidak harus menjawab! Pada kenyataannya, ketika Allah membuat pilihan ini, ada dimanakah kita? Kita masih tidak ada!

Dalam Kitab Ayub, Ayub tidak memahami alasan pekerjaan Tuhan, tetapi ketika Allah menampakkan diri kepadanya, Tuhan tidak menjawab dia secara langsung, tetapi menantangnya: 「Pendebat, apakah bisa berebut debat dengan yang Mahakuasa?」 Tuhan tiada henti terus bertanya: 「Ada di mana engkau ketika Aku membuat dunia? Apakah engkau tahu bagaimana mengurus dunia alam semesta lebih daripada Aku? Apakah engkau lebih mampu bertanggung jawab atas alam semesta daripada Aku?」 Akhirnya Ayub dapat hanya dengan rendah hati mengatakan: 「Apa yang saya katakan adalah saya tidak mengerti, hal-hal ini terlalu luar biasa, saya tidak tahu.」 Sebuah keyakinan inti seorang reformis Martin Luther: 「Biarlah Tuhan menjadi Tuhan!」 (Let God be God!) . Teolog ortodoks mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah baik, adil benar, Mahakuasa dan Maha Hikmat, dan semua yang Allah pilih, segala yang Ia rencanakan dan segala yang Ia kerjakan, adalah penuh dengan hikmat dan indah baik. Meskipun banyak hal kita tidak mengerti, tapi sepatutnya kita tidak meragukan kebaikan hati Tuhan, dan hendaknya tidak karena racun bersungut-sungut meninggalkan Allah.

Konsep bahwa 「kita adalah gumpalan lumpur yang sama」 mengingatkan kita bahwa kita semua aslinya adalah orang berdosa yang tidak layak. Jika Tuhan tidak memilih orang, tidak mengutus Kristus untuk menyelamatkan kita dan untuk mengirim utusan Injil untuk memberitakan Injil, kita tidak bisa menyalahkan Allah, karena semua manusia di dunia adalah orang berdosa. Jika Allah tidak memilih kita itu adalah adil adanya, dan jika Allah memilih kita itu adalah anugerah! Ketika kita tidak mengerti, mari kita merendahkan diri, mempercayai Allah!

Corrie ten Boom hampir mati disiksa di sebuah kamp Revensbruck era Nazi, dan akhirnya hanya tersisa dia sendirian. Setelah Perang Dunia II, Allah menggerakkan hatinya untuk memberitakan 「Pengampunan Tuhan」 kepada mereka yang pernah menjadi tentara Nazi, dan seorang mantan tentara Nazi yang pernah menyiksa dia datang kepadanya dan berkata 「Aku adalah mantan penjaga penjara di sana. Aku adalah mantan penjaga penjara di sana. Saya tahu Tuhan telah mengampuni saya karena dosa-dosa yang saya lakukan di sana, tapi aku masih berharap aku bisa mendengar anda mengatakannya kepada saya!」 Saat ia dengan enggan mengulurkan tangan berjabat tangan dengan orang itu, aliran hangat dituangkan ke dalam hatinya dan matanya penuh air mata. Dengan air mata ia berkata 「Aku memaafkan anda, saudaraku! Aku memaafkan anda dengan sepenuh hati.」 Corrie ten Boom memiliki sebuah kalimat terkenal: 「Jangan takut mempercayakan masa depan yang tidak diketahui kepada Allah yang kita tahu!」

Renungkan: ketika kita merenungkan dosa manusia, kita akan dapat tahu lebih baik: ketika Ia menghakimi manusia, Allah nyata adil, dan Tuhan penuh belas kasihan ketika Ia murah hati kepada manusia! Hak kedaulatan atas langit dan bumi ada pada Allah, hak kedaulatan atas bagaimana cara menyelamatkan orang berdosa juga ada pada Tuhan! Biarlah Tuhan menjadi Tuhan! Biarkan orang menjadi orang! Setiap hari cinta Tuhan dan manusia dengan memberitakan Injil, itu adalah tugas bagian kita!


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Roma 9-12 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan Juni 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Roma 9:17-18

「Allah Berdaulat Menghukum Orang Berdosa! Orang Berdosa Tanggung Sendiri Kekerasan Hatinya!」

Ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 9:17-18 [ITB])
17Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: 「Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.」 18Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.

Terjemahan literal dari ayat 17-18 adalah「karena Kitab Suci mengatakan kepada Firaun:『Demi hal ini, Aku pernah membangkitkan engkau, sehingga Aku dapat menyatakan kuasa-Ku di atas dirimu dan Aku membuat nama-Ku dinyatakan di seluruh bumi. 』 Dengan demikian dapat dilihat, Ia menetapkan siapa maka berbelas kasihan kepada siapa, dan Ia menetapkan siapa maka membuat keras hati siapa. 」

Berdasarkan ayat 15, lalu ayat 18 menambahkan kalimat berikut: 「Ia menetapkan siapa maka mengeraskan hati siapa.」 Ini adalah sebuah ayat yang sangat sulit, beberapa teolog keliru menafsirkan kalimat yang berbentuk aktif ini, melihat Tuhan seolah-olah Ia secara langsung terlibat dalam kejahatan orang jahat. Satu contoh ekstrim adalah Ulrich Zwingli. Ulrich Zwingli saat mengajarkan tentang kedaulatan Allah, ia telah menggunakan interpretasi penafsiran yang sangat ekstrim. Ulrich Zwingli pada saat berbicara tentang bagian Alkitab yang berkaitan dengan ketegaran hati, berkata: 「Pemeliharaan Allah ini telah melakukan segala hal. Ini tidak hanya mempengaruhi dan mendorong orang sampai terjadinya pembunuhan … Secara sederhana, Allah menyemangati pembunuhan… Dan Dia penyemangat, walaupun telah mendorong tetapi tidak dikenakan segala kecurigaan sebagai tersangka pelaku kejahatan, karena Ia tidak di bawah hukum.」 Ajaran ekstrim semacam ini memberi orang kesan bahwa Allah langsung terlibat dalam kejahatan manusia, ini adalah apa yang ditentang oleh para teolog ortodoks dari segala zaman. Ulrich Zwingli salah, karena hanya melihat tata bahasa kalimat bentuk aktif lalu membuat kesimpulan bahwa Allah langsung mendorong orang berdosa untuk melakukan kejahatan. Jadinya ia menggambarkan Allah sebagai seorang tirani yang tidak menjaga aturan moral; Sebaliknya, para teolog ortodoks menekankan bahwa kebaikan Allah akan memastikan bahwa semua tindakan Allah adil benar dan baik. Ketika orang berdosa berbuat jahat, Allah tidak memiliki partisipasi apapun secara langsung dalam kejahatan orang fasik, orang berdosa melakukan kejahatan adalah berdasarkan pertimbangan nafsu diri sendiri. Ekspresi dari beberapa kalimat bentuk aktif dalam Alkitab hanya menunjukkan bahwa Allah masih berdaulat pada saat Ia mengijinkan orang jahat berbuat dosa, dan bahwa kelak Allah akan menghakimi mereka lebih keras di masa depan, dan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, seperti Kitab Kejadian Ia memelihara Yusuf.

Para teolog ortodoks melihat bahwa 「Ia menetapkan siapa maka mengeraskan hati siapa」 adalah sejenis kedaulatan dalam memberikan ijin, tetapi juga merupakan bentuk lain dari penghakiman dan hukuman. Tepat seperti dalam Roma pasal 1, Paulus tiga kali menggunakan kata 「membiarkan,」 dalam teks asli memiliki makna 「mengusir keluar」 atau 「menyerahkan.」 (ITB menggunakan kata 「menyerahkan.」) Ketika Adam jatuh ke dalam dosa, Tuhan 「mengusir keluar」 orang berdosa dari Taman Eden. Ketika orang-orang berdosa karena memiliki dosa maka bersembunyi jauh menghindar dari Allah, tidak lagi dapat berjalan bersama dengan Tuhan, maka mereka lebih lagi semau hati berbuat dosa tanpa ada yang membatasi, maka makin mendatangkan penghakiman dan hukuman yang ketat dan adil benar. (Maka berkat dan kebahagiaan terbesar adalah berjalan bersama dengan Allah.)

Allah mengijinkan penjahat sombong untuk terus mengeraskan hati, adalah memberikan mereka hukuman yang lebih berat di masa depan. Ketika orang-orang jahat menjadi makin tegar hati, sebagai Allah yang 「adil, ketat」 akan memberikan hukuman yang lebih serius bagi mereka. Dalam Kitab Keluaran, karena Firaun berulang kali berdosa, mengeraskan hati sendiri, menolak untuk benar-benar bertobat, Tuhan mengunakan 10 tulah menghukum ketegaran hatinya, dan membuat orang di seluruh negeri tahu: TUHAN adalah Allah yang Empunya Pengendali alam semesta, yang memberi pahala kepada yang baik dan menghukum yang jahat! Ketika Allah menyelamatkan dan memberikan anugerah kepada orang-orang berdosa, Ia menunjukkan kuasa besar dari kasih karunia-Nya. Ketika Allah memberikan ijin dan mengalah orang-orang fasik mengeraskan hati, Ia siap mewujudkan kuasa besar dari keadilan kebenaran-Nya. Paulus mengajarkan kepada orang percaya bahwa Allah memiliki dua kebenaran: bahwa Tuhan memiliki pengadilan yang benar, bahwa Allah memiliki rahmat anugerah yang diberikan cuma-cuma, dan bahwa keduanya mengungkapkan kuasa besar Allah.

Pemazmur memiliki pemahaman mendalam: 「aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. … sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka … Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.」(Maz. 73) Sebuah perkataan terkenal Herodotus sejarawan Yunani kuno: 「Tuhan ingin seseorang binasa, maka terlebih dahulu membuat ia gila.」 Perkataan ini aslinya adalah 「Orang-orang harus melihat akhir dari segalanya dan melihat hasil akhir. Karena Tuhan mungkin membiarkan banyak orang memiliki berkat jangka pendek, tetapi tujuan akhir adalah untuk secara total menggulingkan mereka.」 Ketika kita melihat orang-orang berdosa yang makmur dalam dosa dan melakukan apapun sekehendak hati mereka, jangan tawar hati atau iri kepada mereka, karena mereka akan disambut dengan hukuman lebih keras dan jalan kematian tenggelam kekal. Jika seorang Kristen jatuh ke dalam nafsu gelap, jangan melanjutkan semau hati sendiri, segera bertobatlah! Jikalau tidak demikian, maka saatnya Allah menghukum dengan berat, kita akan berkabung dan mengeratkan gigi dalam sengsara. Mari kita tidak iri kepada orang fasik — ketika orang-orang fasik sombong, menunjukkan bahwa hukuman Tuhan sudah tidak jauh dari mereka!

Renungkan: dahulu orang Kristen dan para hamba karena melihat kesombongan orang fasik lalu merasa sesak dan bersungut-sungut! Apakah engkau pernah karena kesombongan orang jahat sehingga merasa tidak berdaya, merasa sangat tidak dapat memahami dan bersungut-sungut kepada Allah? Apakah engkau iri kepada orang fasik?
Apakah engkau percaya Allah akan menghakimi orang jahat?
Apakah engkau percaya Allah berkuasa atas alam semesta?
Apakah engkau pernah merenungkan akhir dari mereka?
Bagaimana dengan dirimu? Apalah engkau pernah jatuh dalam berbuat dosa sekehendak hati sendiri?

Bertobat adalah berkat kebahagiaan, orang yang diberkati adalah yang tidak berbuat sekehendak hati!


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Roma 9-12 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan Juni 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Roma 9:14-16

「Allah Berdaulat! Bermurah Hati kepada Siapa Ia Mau!」

Ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 9:14-16 [ITB])
14Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!
15Sebab Ia berfirman kepada Musa: 「Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.」
16Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Dalam perikop ini, Paulus menjawab tuduhan kedua: 「Apakah ada ketidakadilan (tidak benar) pada Allah?」 「Ketidakbenaran」 (adikia) diterjemahkan sebagai 「tidak adil」 dalam CUVT (demikian juga ITB). 「Ketidakbenaran」 adalah terjemahan yang lebih sesuai. Seperti disebutkan di atas, Allah 「lebih mencintai」 Yakub, 「kurang mencintai」 Esau. Pemilihan adalah kehendak Allah, mungkin membuat orang ada yang merasa bahwa dengan demikian tidak ada 「kesamarataan」 dan 「keadilan」 yang mutlak. Tetapi Paulus menanyakan: Allah memiliki kedaulatan memilih, apakah terdapat 「ketidakadilan」 pada Allah? Sebagai contoh, kita memiliki pilihan untuk memberikan amal, kita dapat memberikan sedekah kepada seorang pengemis, tetapi tidak memberikan sedekah kepada pengemis yang lain, lalu apakah bisa dikatakan melakukan 「ketidakadilan」?

Ungkapan 「absolut tidak! (Mustahil)」 (me genoito) muncul 10 kali dalam Surat Roma, dan digunakan saat menyangkal ajaran sesat! Di ayat 15 Paulus mengutip Kel. 33:19, untuk menunjukkan bahwa Tuhan hak berdaulat memperlakukan dengan anugerah kepada siapa Ia mau. Ayat 15 diterjemahkan literal adalah 「Aku akan mengasihani mereka yang Aku sekarang berbelas kasihan, dan Aku akan bermurah hati orang-orang yang sekarang Aku bermurah hati.」 Pertama-tama ada hati 「belas kasih, kasih karunia」 dari Allah, maka kemudian ada tindakan 「belas kasih, kasih karunia」. Hanya karena ada kemurahan hati Tuhan sehingga kita bisa menerima anugerah Allah.

Terjemahan literal ayat 16 adalah 「dalam pandangan ini, itu tidak peduli tentang ia yang berkeinginan, atau ia yang berlari mengusahakan, tetapi peduli Allah yang berbelas kasihan.」 Paulus bukan membuat kontras perbandingan 「belas kasihan」 dengan 「berkeinginan, atau berlari mengusahakan」, tetapi membuat kontras perbandingan 「『dia』 orang yang mempunyai keinginan」 dengan 「『dia』 orang yang berlari mengusahakan」 dengan 「『Ia 』 Allah yang berbelas kasihan」, ini adalah kontras antara 「manusia」 dengan 「Allah」. Faktor yang benar-benar menentukan dalam pemilihan adalah 「Allah」 bukan 「manusia」.

Ketika Allah berkata kepada Musa bahwa Ia 「ingin berbelas kasihan pada siapa, maka berbelas kasihan kepada siapa,」 tolong tanya bukankah Israel ini penuh dengan 「keras kepala, jahat, berdosa」 (Ul. 9:27)? Sebagian orang Israel diselamatkan pasti bukan karena mereka 「keras kepala, jahat, berdosa」,tetapi hanya karena 「Allah」 dan anugerah cuma-cuma dari Dia. Dunia seharusnya diadili dan dihukum untuk dosa-dosanya, dan apakah adalah 「tidak benar」 ketika Tuhan tidak memilih orang berdosa? Berulang Paulus menekankan: Allah memiliki penghakiman yang 「benar」, Allah juga memiliki anugerah dan belas kasihan cuma-cuma yang 「benar」! Tuhan menghakimi orang, tidak ada 「tidak benar」! Tuhan tidak memilih orang berdosa, tidak ada 「tidak benar (tidak adil)」! Tetapi ketika Allah memilih dari antara orang berdosa, Tuhan memberikan 「anugerah」 kepada kita yang sama sekali tidak layak! Allah memberikan seseorang tambahan yakni 「anugerah」, dan membiarkan orang yang lain menanggung hukuman yang memang sepatutnya ditanggung manusia, tidak ada 「ketidakadilan (tidak benar)」 pada Allah!

Saya berpikir akan sebuah metafora (perumpamaan) dalam refleksi tentang hak kedaulatan 「mengasihani kepada siapa yang ingin dikasihani」. Jika suatu hari saya melihat seorang pengemis, karena belas kasihan lalu saya bersedia menolongnya, memberinya pakaian, makanan dan tempat tinggal; tapi kemudian pengemis di seluruh dunia datang dan menggugat dakwaan kepada saya: mengapa tidak memberi 「fasilitas」yang sama kepada mereka? Belas kasihan saya ternyata dirubah menjadi 「tidak adil」 dan 「tidak benar」! Apakah menurut anda masuk akal? Ketika 「anugerah」 dipandang sebagai 「hak keharusan」, 「fasilitas」 dan 「hak istimewa」, segalanya menjadi bengkok terdistorsi, 「kasih Allah」 dihakimi dan dicela oleh manusia! Kasih karunia adalah anugerah, dan kasih karunia tidak pernah merupakan hak keharusan atau hak istimewa. C. S. Lewis mengatakan 「Orang Kristen bukan beriman bahwa Tuhan mengasihi saya karena kita baik, tetapi karena Tuhan mengasihi kita, maka Tuhan ingin kita menjadi baik.」 Ada perkataan Luther yang populer:「Tuhan mengasihi kita bukan karena kita memiliki nilai, karena Allah mengasihi kita maka kita menjadi berharga. 」 Seumur hidup orang Kristen haruslah tidak lupa dan berbelas kasih kepada orang lain dalam hidup. (Pada saat kita mengatakan 「tidak adil jika Allah memilih sebagian orang untuk diselamatkan,」 maka kita telah memandang keselamatan bukanlah anugerah tetapi fasilitas yang harus diberikan Allah kepada semua orang, seakan-akan manusia yang berdosa semua patut menuntut hak fasilitasnya, maka Allah disangkal hak kedaulatan-Nya dalam memberikan anugerah kepada siapa Ia menghendaki.)

Renungkan: 「hak」, 「hak istimewa」 dan 「keadilan」 adalah apa yang dunia perjuangkan! Dunia memandang penting 「perebutan mendapatkan」, tetapi tidak memandang penting 「belas kasih, kebaikan dan anugerah cuma-cuma.」 Tuhan terus-menerus 「berbelas kasih, bermurah hati」 kepada orang, kita harus meniru Allah, apakah kita menjadi orang yang seumur hidup 「penuh anugerah, bersyukur dan berbelas kasih」?


(silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Roma 9-12 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan Juni 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Daniel 5:13-31

「Senantiasa Hormat dan Takut」

Sikap seorang yang mendapat mandat dari Allah?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 5:13-31 [ITB])
13Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: 「Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? 14Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa.
15Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu.
16Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.」
17Kemudian Daniel menjawab raja: 「Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.」
18「Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. 19Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya.
20Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. 21Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu.」
22「Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. 23Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 24Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini.」
25Maka inilah tulisan yang tertulis itu: 『Mene, mene, tekel ufarsin.』
26Dan inilah makna perkataan itu:
「Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri;
27Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan;
28Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.」
29Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.
30Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.
31Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun.

Sampai fasal kelima, Daniel sekali lagi terlibat bahaya krisis di istana. Daniel adalah berdasarkan mandat Yang Mahatinggi menjelaskan dari mana datangnya jari-jari tangan dan arti tulisan, maka ia menolak hadiah Belsyazar (Daniel 5:17), tentu saja ia sejak awal telah paham apa yang dinamakan hadiahsekejap mata akan berubah sedikitpun tidak punya nilai harganya (Daniel 5:31).

Terdapat ciri spesial dari catatan dalam perikop ini, yakni sebelum Daniel menjelaskan huruf tulisan, lebih dahulu menegur Belsyazar. Salah satu tanggung jawab dari seorang nabi, adalah saat raja berbuat dosa, bersalah kepada Allah, hendak berdasarkan nama Tuhan memberikan teguran dan peringatan (lihat 1 Sam. 13; 1 Sam. 15; 2 Sam. 12; 1 Raj. 18; Yer 36). Daniel memakai Nebukadnezar sebagai contoh, langsung menunjuk dosa Belsyazar. Nebukadnezar jauh agung berwibawa dibandingkan Belsyazar, tetapi saat Allah menghadapi ia yang 「tinggi hati, keras kepala tidak menerima pendapat orang, perbuatannya penuh kesombongan」 (Daniel 5: 20), ia mengerti untuk merendahkan hati, akhirnya memahami 「Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu」 (Daniel 5:21). Sedangkan Belsyazar yang jauh tidak bisa dibandingkan Nebukadnezar, justru tidak saja belum belajar dari pengalaman nenek moyangnya (Daniel 5: 22), ia bahkan melanggar penistaan yang lebih lagi serius: penajisan bejana-bejana Bait Suci, dipakai sebagai alat menyembah berhala (Daniel 5:23). Inilah penyebab munculnya jari-jari tangan yang mengumumkan penghukuman (Daniel 5:24).

「Mene, mene, tekel ufarsin」 adalah tiga kata benda dalam bahasa Aram. Kata「mene」diulang satu kali, memiliki makna penekanan. Ketiga kata benda adalah satuan uang, diterjemahkan secara langsung adalah 「mina, mina, syikal, separuh」 (berdasarkan teks sebelum dan sesudahnya kira-kira maksudnya adalah menunjuk setengah syikal). Hal yang paling istimewa, adalah Daniel menggunakan tiga kata benda dalam bentuk kata kerja pasif , maknanya berubah menjadi 「menghitung」 (jumlah kuantiti), 「menimbang」 (berat), dan「dipisahkan setengah」: 「Mene adalah masa pemerintahan engkau dihitung oleh Allah dan telah diakhiri. Syikal (tekel) adalah engkau ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Peres (sinonim ufarsin) adalah kerajaanmu dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.」 (Daniel 5:26-28) (Perhatikan bahwa terjemahan ITB bernada lunak dengan penggunaaan kata “tuanku” sedangkan KJV serta mayoritas terjemahan Inggris, dan CUVT Mandarin semua menggunakan kata “engkau” sehingga nada teguran lebih keras. Namun kata “tuanku” juga mempunyai keunggulan mengingatkan siapa Tuan yang sebenarnya. Lihat juga renungan Daniel 3:16-18 juga terdapat kontras yang sama.)

Semua ada dalam pegangan kendali Allah. Babel pernah satu kali kerajaan kuat tanpa tanding di seluruh muka bumi, tetapi hanya terbatas dalam batasan waktu yang ditentukan Allah. Sudah tiba waktunya, dinasti raja harus berakhir selesai, digantikan oleh Persia dan Media. Tepat karena Media Persia mendapatkan kekuasaan, kemudian hari barulah ada perintah Cyrus (Koresh) (Ezra 1:1-4), yang mengijinkan umat Israel kembali pulang tanah air, membangun ulang Bait Suci. Allah berdasarkan kehendak-Nya memimpin sejarah bergerak maju. Berita ini sekali lagi membawakan penghiburan dan pengharapan bagi umat yang ditawan.

Pengalaman Nebukadnezar dan Belsyazar, dengan jelas menunjukkan bahwa Allah berdasarkan kehendak-Nya sendiri mengaruniakan kekuasaan kepada raja penguasa di atas bumi; dan pada saat yang sama, Allah meminta mereka menjalankan keadilan dan penuh kebenaran, belas kasihan (Daniel 4:27). Saat raja penguasa berjalan serong di jalan sendiri, Allah akan melalui mimpi, penglihatan berbagai penyataan, memberikan peringatan melalui hamba Allah yang setia. Sayang sekali, Nebukadnezar dan Belsyazar belum meletakkan perintah Allah di dalam mata, orang pertama memandang kejayaan Babel sebagai jasa dirinya sendiri (Daniel 4:30), orang kedua terlebih lagi angkuh sampai secara terbuka menista Allah (Daniel 5:1-4). Ujung fasal lima mencatat akhir dari Belsyazar: 「Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu. Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun」 (Daniel 5:30-31). Ini adalah akhir dari seorang penghina penistaan Allah dan penyembah berhala, juga menyambung seruan berita utama kitab Daniel: Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu (Daniel 4:17, 25, 32; 5:21). Raja yang berkuasa di bawah langit (termasuk 「kepala emas」), pasti ada di bawah kedaulatan absolut Tuhan Allah, juga hanya dapat menuruti rencana-Nya dalam mengangkat dan menurunkan, memegang kuasa hanya dalam masa periode yang Dia tentukan.

Renungkan: angkuh, merasa diri istimewa, tidak hormat takut akan Allah, bukan merupakan hak patent orang yang diluar kepercayaan iman. Pada kenyataannya, orang Kristen sangat mudah terjerumus dalam dosa ini dan tidak menyadarinya. Dengan mulut menyebutkan Yesus sebagai Tuhan, berseru tinggi Allah memegang kendali, dalam tingkah laku justru memandang pikiran diri sendiri sebagai patokan, tidak pernah tunduk di dalam kedaulatan Allah; bergembira atas kesuksessan, merasa diri lebih saleh lebih giat lebih hebat dibandingkan orang percaya yang lain, lupa bahwa semua berkat dan hal yang baik adalah datang dari Allah (Maz. 16:2 “Engkaulah Tuhanku, semua yang baik milik ku tidak ada di luar Engkau!” CUVT). Mohon Tuhan membantu kita, senantiasa memiliki hati yang hormat dan gentar akan Dia, agar kita terhindar dari kesalahan tanpa disadari dalam perkataan, perbuatan, atau pikiran memandang rendah Tuhan, kehilangan hormat dan gentar yang sepatutnya harus ada terhadap Dia (lihat Mat. 21:13; 1 Kor. 10:21-24; 11:17-18, 27-29; Kis. 5:1-5).


Tambahan Penerjemah:

Pengalaman Nebukadnezar dan Belsyazar bukan hanya pelajaran bagi orang yang menjadi pemimpin, tetapi bagi siapapun. Karena setiap orang adalah hamba dari Allah dalam bidang pekerjaan masing-masing.

Daniel 3:16-18

「Jikalaupun Demikian – Jika Seandainya Tidak」

Suatu waktu dalam hidup setiap orang pasti terdapat perapian menyala-nyala, apa yang akan kita lakukan?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 3:16-18 [ITB])
16Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: 「Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.」

Menghadapi desakan pertanyaan raja: 「Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Apakah sengaja?」 (“Apakah sengaja?” tidak ada dalam ITB, penekanan dalam CUVT) (Daniel 3:14), mereka sama sekali tidak mundur, menjawab: 「Nebukadnezar, tidak perlu kami memberi jawab kepada engkau.」 (Sesuai CUVT, juga KJV menggunakan kata “tidak perlu” juga memakai kata “engkau”. Namun dalam ITB nada jawaban terasa agak lembut “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini”) (Daniel 3:16). Jawaban ini menyatakan dengan jelas mereka tidak berencana melakukan pembelaan apapun bagi diri sendiri, lebih lagi dengan jelas mengatakan, mereka berpendapat sebenar-benarnya tidak perlu menjelaskan alasan kepada raja, karena mereka dahulu tidak menyembah patung emas, dan sekarang, kelak juga tidak akan bertekuk lutut. Jawaban ini terdengar sangat tidak hormat, di baliknya memerlukan keberanian yang sedemikian besar dan keteguhan hati.

Hananya, Misael dan Azarya percaya secara mendalam bahwa Allah yang mereka layani, pasti memiliki kekuatan menolong mereka keluar perapian menyala-nyala; dan pada saat yang sama, hati mereka sudah siap sedia, Allah memiliki kedaulatan-Nya sendiri, tidak harus memilih menolong mereka. Dengan kata lain, tiga orang mengetahui dirinya memiliki kemungkinan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tetapi dibandingkan ini semua, yang terlebih penting adalah mereka tetap bertekat tidak menyembah patung emas.

Dari diri Hananya, Misael, Azarya, dapat dilihat iman dan tekat mereka:

  1. Kesetiaan hati. Tiga orang dengan gigih menolak untuk hormat dan menyembah patung emas, demi mempertahankan identitas sebagai umat Allah, secara absolut tidak bertekuk-lutut terhadap patung emas yang mewakili dewa Babel (lihat Dan. 3:12, 14, 18, 28). Mereka tidak melakukan pembelaan apapun bagi sendiri melalui perkataan, semata-mata hanya dengan tindakan yang jelas menyatakan kesetiaan hati terhadap Allah, dan lebih baik membayar harga. Dalam satu kali lagi kesempatan yang diberikan Nebukadnezar, tampak dengan menonjol bahwa mereka memiliki kesetiaan hati, yang sungguh dan tidak palsu, lebih baik melepaskan kesempatan paling akhir menyelamatkan nyawa, tetap setia kepada Allah dan mati, juga tidak bersedia murtad demi mencuri kesempatan untuk hidup. Tepat seperti yang dialami pemazmur: 「Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; …」 (Maz. 63:3)
  2. Bersandar. Apa yang ditampilkan Hananya, Misael, Azarya bukan saja keberanian yang luar biasa, tetapi juga memiliki iman yang kokoh tidak bergeser terhadap Allah. Mereka percaya secara mendalam jika Tuhan menghendaki, pasti bisa menolong mereka, karena Dia adalah Allah yang memiliki kemampuan besar. Walaupun dihadapkan ancaman mati, iman mereka kepada Allah juga tidak pernah goyah; atau dari sudut lain, iman kepada Allah adalah rahasia mereka mampu berdiri dengan kokoh di hadapan ujian yang berat sekali.
  3. Ketaatan. Hananya, Misael, Azarya dalam menghadapi dakwaan raja, di awal dan di penutupan jawaban menggunakan kata 「Jikalaupun demikian」 (Daniel 3:17) dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」 (Daniel 3:18) . Kedua perkataan ini memiliki suara yang nyaring sepenuhnya menyatakan ketaatan total mereka terhadap kedaulatan Tuhan Allah. Tidak peduli pada akhirnya Allah akan menyelamatkan, atau mengijinkan mereka mati dalam perapian, walaupun tidak memahami bagaimana kehendak Allah, Hananya, Misael, Azarya tidak memiliki sedikitpun sungut-sungut atau keraguan terhadap Allah yang mereka sembah. 「Jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」bukanlah kalimat untuk mendinginkan suasana agar menguntungkan diri mereka sendiri, justru sebaliknya, perkataan ini adalah pengakuan iman, dengan berani di hadapan musuh memproklamasikan: 「Tidak peduli bagaimana kehendak Allah, mau hidup atau mau mati, kami pasti tidak akan pernah bertekuk-lutut kepada berhala, karena hanya ada Satu saja yang kepada-Nya kita bersandar dan setia.」

Renungkan: saudara dan saudari, apakah 「jikalaupun demikian」 dan 「jika seandainya tidak (jikalaupun tidak)」juga adalah keyakinan anda? Perkembangan keadaan mungkin tidak seperti yang kita harapkan, terlebih lagi kehendak Allah bukan hal yang kita mampu pahami, namun tetap meninggikan kedaulatan Allah Tuhan dan bertekat taat bersandar kepada-Nya. Di baliknya adalah kepastian penuh beriman kepada kemampuan besar Allah dan kasih setia-Nya; Jika tidak demikian, mungkin terdapat kekurangan pengenalan kita terhadap Allah. Hananya, Misael, Azarya memakai nyawa mereka untuk memproklamasikan: 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah. 」

Permintaan Yesus Kristus terhadap pengikut-Nya adalah: 「Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.」 (Wahyu 2:10)


Tambahan Penerjemah:

Penyakit, malapetaka, bencana, “kurang berhasil” atau “kurang kaya” juga merupakan perapian menyala-nyala, jika itu yang sedang ada dihadapan kita, apakah kita bersedia mengatakan 「Tidak peduli keadaan apapun, tetap setia kepada Allah, sampai mati tidak berubah」?