Daniel 2:1-13

「Allah yang tidak Tinggal Bersama Manusia Dunia」

Hanya Allah, Dia yang bukan seperti manusia di dunia.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 2:1-13 [ITB])
1Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar bermimpilah Nebukadnezar; karena itu hatinya gelisah dan ia tidak dapat tidur. 2Lalu raja menyuruh memanggil orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim, untuk menerangkan kepadanya tentang mimpinya itu; maka datanglah mereka dan berdiri di hadapan raja.
3Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.”
4Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): “Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya.”
5Tetapi raja menjawab para Kasdim itu: “Aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan dipenggal-penggal dan rumah-rumahmu akan dirobohkan menjadi timbunan puing; 6tetapi jika kamu dapat memberitahukan mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan menerima hadiah, pemberian-pemberian dan kehormatan yang besar dari padaku. Oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku mimpi itu dengan maknanya!”
7Mereka menjawab pula: “Silakan tuanku raja menceriterakan mimpi itu kepada hamba-hambanya ini, maka kami akan memberitahukan maknanya.”
8Jawab raja: “Aku tahu benar-benar, bahwa kamu mencoba mengulur-ulur waktu, karena kamu melihat, bahwa aku telah mengambil keputusan, 9yakni jika kamu tidak dapat memberitahukan kepadaku mimpi itu, maka kamu akan kena hukuman yang sama; dan aku tahu bahwa kamu telah bermufakat untuk mengatakan kepadaku hal-hal yang bohong dan busuk, sampai keadaan berubah. Oleh sebab itu ceriterakanlah kepadaku mimpi itu, supaya aku tahu, bahwa kamu dapat memberitahukan maknanya juga kepadaku.”
10Para Kasdim itu menjawab raja: “Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. 11Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.”
12Maka raja menjadi sangat geram dan murka karena hal itu, lalu dititahkannyalah untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel.
13Ketika titah dikeluarkan supaya orang-orang bijaksana dibunuh, maka Daniel dan teman-temannyapun terancam akan dibunuh.

Pada masa raja Babel Nebukadnezar memerintah, telah terjadi sebuah peristiwa aneh. Berdasarkan tradisi orang Babel, tahun seorang raja naik takhta tidak dihitung sebagai tahun pertama, sehingga「tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar」 secara tidak langsung adalah menunjuk tahun ketiga Daniel ditawan. Dalam perikop dicatat, saat itu Nebukadnezar bermimpi yang membuat ia terganggu dan kesulitan, maka memanggil semua orang-orang berilmu di istana. Orang-orang berilmu ini dihadapkan pada ujian yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Secara normal, raja seharusnya terlebih dahulu memberitahukan mimpinya kepada penafsir mimpi, mereka baru mampu memberikan penjelasan, Nebukadnezar justru dengan gigih menolak membocorkan isi mimpinya. Ini sesungguhnya adalah permintaan yang tidak masuk akal, membuat sekelompok orang yang ahli dalam ilmu tenung, meramal, 「pakar」 sihir tidak berdaya. Sebuah catatan samping, mulai dari fasal 2:4 sampai 7:28 kitab Daniel ini beralih dituliskan dalam bahasa Aram; bahasa Aram pada saat itu adalah bahasa yang dipakai umum di daerah Timur Tengah, juga merupakan bahasa resmi negara Babel dan Persia.

Perikop ini tidak memberitahukan mengapa Nebukadnezar tidak bersedia mengatakan isi mimpi. Dari sikap raja yang tidak masuk akal dan bersikeras ini dapat dimengerti bahwa ia tahu di balik mimpi ini terdapat berita yang sangat tidak biasa, maka tidak mau orang-orang berilmu tersebut sembarangan mengarang (Daniel 2:9), dan mungkin aslinya tidak percaya atas kejujuran mereka, berpendapat bahwa mereka pasti 「saling bermufakat」 merencanakan membohongi raja. Dalam kemarahan, raja mengalihkan kemurkaannya kepada semua orang-orang berilmu di seluruh negeri, memerintahkan agar dibunuh semua. Daniel dan ketiga teman yang belum punya kesempatan bekerja dan melayani di hadapan raja, telah ikut kena getah, tidak berbuat salah namun ikut terlibat.

Yang paling berharga diperhatikan dalam perikop ini, adalah respon orang-orang berilmu ini terhadap raja: 「Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. 11Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.」 (Daniel 2:10-11). Permintaan raja memang benar-benar tidak masuk akal, tidak sesuai keadaan normal, karena hikmat orang dunia yang memiliki batas memang benar-benar tidak dapat menjelaskan sebuah mimpi yang belum diberitahukan. Penulis Alkitab melalui mulut kelompok ahli sihir tenung yang selama ini menyembah para dewa Babel, orang-orang berilmu yang tidak mengenal TUHAN ini, membawakan inti penting dari fasal ini: hanya Allah sejati, yang memahami kebenaran di balik misteri ini, juga hanya Allah yang Maha Melampaui segala, yang mampu memberikan jawaban atas hal-hal yang tidak kuasa dipahami dan dijelaskan orang dunia. Bagi sekelompok umat Israel yang ditawan menjadi budak, berita ini adalah peringatan yang sangat penting. Mereka walaupun terpaksa tunduk dalam kekuasaan raja Babel, tetapi raja tetap hanyalah manusia, ia sebagai manusia tidak bisa terlepas dari berbagai macam kesulitan ganguan dan keterbatasan; tetapi TUHAN Allah yang mereka kenal yang mereka hormat dan sembah, adalah Yang memegang kendali atas segalanya. (Demikian juga bagi kita, penindas kita baik itu merupakan pribadi manusia, penderitaan ataupun keadaan sulit, ada batasnya, tidak akan lebih besar dari TUHAN Allah kita)

Renungkan: 「Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.」

Dalam perjalanan panjang kehidupan terdapat banyak hal-hal yang tidak dapat kita pahami dan mengerti. Sebagai orang Kristen, apakah engkau dengan tegas penuh keyakinan percaya bahwa Allah sedang memegang kendali, Dia adalah Tuhan atas segala yang ada, Tuhan alfa dan omega? Walaupun jatuh dalam keadaan sulit, walaupun di depan adalah sedemikian banyaknya hal yang tidak diketahui dan ketidak-pastian, kiranya kita teguh yakin beriman bahwa hidup kita ada dalam pimpinan dan perlindungan Allah, sehingga mampu dengan penuh keberanian, tanpa takut, berserah diri kepada Tuhan.