Oleh
Revd Canon Terry Wong
Vicar
St Andrew’s Cathedral
Penerjemah: Team WMC
Daniel 3:14-20, 24-25, 28
14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? 15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20 Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!” 25 Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
Renungan
“Bersujud menyembahlah atau dicampakkan ke dalam perapian”
Kita tahu apa yang diputuskan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ini merupakan cerita Sekolah Minggu yang selalu diingat, walau nama-nama mereka sulit untuk diingat. Ketiga pemuda ini berdiri di hadapan raja Babilonia yang agung itu. Mereka siap dibakar hidup-hidup, tapi yang menakjubkan, mereka berjalan di atas api dan keluar dari perapian itu. Bahkan yang lebih menakjubkan adalah adanya orang keempat yang tak bernama. Raja yang agung itu berdiri dalam ketakjuban. Seperti semua hal besar yang dilakukan dalam nama-Nya, Allah dimuliakan.
Mungkin ini adalah nyala api siksaan yang Petrus maksudkan dalam 1 Petrus 4:12. Mungkin Stefanus mengambil keberaniannya dari pemuda-pemuda Yahudi ini. Dia mati sebagai martir, menyembah dan bersujud sampai akhir hidupnya saat dia mati dirajam batu, dan saat yang bersamaan, Tuhan Yesus menatapnya dan menerimanya masuk dalam kerajaan-Nya. Kita juga dapat mencatat para Martir Uganda yang terkenal, 23 anggota Anglikan yang dikorbankan oleh raja Mwanga pada tahun 1885 karena mereka menolak, dalam nama Kristus, bujuk rayuan homoseksualnya. Pesan moralnya mirip: penyerahan diri pada kuasa raja atau pada kematian. Peristiwa ini sekarang diingat dalam hari perayaan Gereja setiap tanggal 3 Juni.
Pada tahun 2015,banyak orang Mesir dipenggal kepalanya oleh ekstrimis XXXX karena mempertahankan imannya. Cerita kuno ini masih terjadi kembali di masa kini.
Apa yang akan kita lakukan apabila kita berada di posisi yang sama? Ini sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, karena nampaknya sangat jauh dari kemungkinan hal ini terjadi pada kita. Namun demikian, setiap hari, kita menemukan diri kita di posisi di mana kita harus memilih antara tetap setia pada Tuhan atau menyerahkan diri pada keinginan-keinginan kuasa kejahatan yang lain. Terkadang harapan-harapan ini datang dari orang-orang yang penuh kekuasaan.
Seperti yang tertulis di Ibrani 12:3-4:
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak-pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.
Banyak dari kita tidak perlu membayar dengan hidup kita. Tetapi akankah kita bersedia untuk mati bagi diri kita (Matius 16:24) dalam menghadapi tantangan iman kita sehari-hari? Kita dapat dihibur dengan “Dia selalu bersama kita”, bahkan di dalam perapian (Matius 28:20b). Ketika kita melakukannya, Allah dimuliakan seperti orang-orang akan juga mengatakan, : “Terberkatilah Allah dari (masukkan nama Anda) …”. Lihat juga Matius 5:16.
Doa
Tuhan, kami berhenti sejenak hari ini untuk mengingat kesetiaan dan kesaksian dari para martir Gereja. Beri aku kekuatan setiap hari untuk hidup bagi-Mu ketika diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk menaati-Mu atau manusia. Kami sering gagal dan kami mohon pengampunan-Mu dan suatu keberanian yang diperbaharui untuk terus maju. Semoga kami meghidupi hidup kami sedemikian rupa sehingga orang lain memuji Tuhan.
Dalam nama Kristus, Dia yang menyerahkan Hidup-Nya bagi kami, Amin.
Tindakan
Selama masa Pra-Paskah, ambillah waktu sejenak untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa Anda lakukan, demi Kristus.
Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen
(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)