Tag Archives: Powerlessness

Lukas 5:1-11

「Umat Allah — Jalan Kehidupan yang Kembali Bertobat」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 5:1-11 [ITB])
1Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
4Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: 「Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.」
5Simon menjawab: 「Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.」
6Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
8Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: 「Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.」
9Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.
Kata Yesus kepada Simon: 「Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.」
11Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Sesuai catatan Injil Lukas, Yesus selama di dunia ini selain hendak menggenapkan dan menepati janji tentang tahun rahmat Tuhan di akhir zaman, ia terlebih lagi hendak membangunkan umat bagi kerajaan Allah. Namun umat yang akan dibangunkan oleh Yesus, berbeda dengan pemahaman orang Yahudi di masa antara dua Perjanjian. Siapa yang merupakan umat kepunyaan Allah? orang Yahudi secara umum berpendapat umat Allah adalah orang yang secara kelahiran murni memiliki keturunan darah Yahudi, yakni juga adalah keturunan Abraham, orang-orang inilah yang merupakan pilihan Allah sendiri.

Tetapi dalam perikop Luk. 5:1-11 tentang pemanggilan para murid, Yesus hendak mengadakan sebuah indikator penting bagi 「umat Allah」, agar di kemudian hari Injil dapat datang di antara anak cucu Adam, pada diri orang non Yahudi. Maka definisi ulang dari Yesus tentang umat Allah (redefinition of the people of God) adalah hal yang sangat penting. Umat Allah adalah orang yang bersedia melepaskan diri sendiri, mampu melihat kelemahan dan ketidakbenaran diri sendiri, ini adalah indikator penting umat Allah, bukan semata dengan mengandalkan garis keturunan nenek moyang maka dapat menjadi umat Allah.

Tepat seperti Lukas pasal 1, malaikat datang kepada Zakharia, merupakan pola panggilan kepada nabi Perjanjian Lama (pattern of prophetic calling), di antaranya termasuk 「panggilan」, 「keraguan dan pertobatan dari yang dipanggil」, 「sekali lagi pengukuhan panggilan」. Berharga untuk diperhatikan, pola panggilan di Perjanjian Lama, biasanya adalah saat sekelompok orang Yahudi sedang melakukan tindakan dosa, atau keadaan orang bersalah kepada Allah, Allah memanggil orang untuk membangunkan dengan peringatan kepada umat-Nya, mengharapkan dapat menggerakkan masyarakat luas bersama-sama bertobat dan dengan kerinduan berpaling kembali kepada Allah. Oleh karena itu panggilan Yesus di sini terhadap Petrus dan lainnya, adalah terjadi dalam keadaan yang benar-benar mirip. Umat Yahudi selalu hanya berharap keselamatan Allah yang di waktu dahulu itu sekali lagi datang di antara mereka, justru telah lupa latar belakang di waktu yang dahulu itu bahwa kehendak Allah dari awal sampai akhir adalah terus menantikan orang berputar kembali, bertobatnya hati orang yang merupakan harapan di dalam hati Allah (lihat Yes. 6:1-10, Yer. 1:4-10).

Oleh karena itu, dalam Luk. 5:1-11, Yesus memberikan perintah kepada para murid: 「Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan mendapatkan manusia (sebagai “menjala manusia” oleh ITB) (ἀνθρώπους ἔσῃ ζωγρῶν anthropos ese zogreo)」. Dalam bahasa aslinya, kata「mendapatkan」 dapat dipahami sebagai: orang sekali lagi berada dalam penguasaan Allah. Markus 5:4 menggambarkan keadaan orang di Gerasa yang dirasuki setan, telah memakai kata ini menyatakan latar belakang yang menyedihkan orang Gerasa ini, yakni keadaan tidak ada orang yang dapat menguasainya, karena orang Gerasa ini sudah dikuasai oleh roh jahat 「Legion」. Oleh karena itu makna dari kata 「mendapatkan manusia」, adalah hendak memulihkan orang lepas dari kerajaan si jahat sekali lagi kembali kepada kerajaan Anak Kekasih yang ada dalam penguasaan Allah.

Secara rangkuman, apakah yang disebut sebagai umat Allah? Bagaimana definisi ulang identitas umat Allah dari Yesus? Yakni orang hendaknya meninggalkan kehidupan yang dahulu dikuasai oleh roh jahat dan pemusatan diri sendiri, tulus mengakui bahwa diri sendiri hanyalah merupakan orang berdosa, tunduk merebahkan diri, memohon Tuhan dengan sebesar-besarnya berbelas kasih, ini barulah merupakan pertanda identitas umat Allah (identity marker). Pada kenyataannya, ini bukan satu hal yang baru, di Perjanjian Lama seperti Yes. 40-66 berulang kali menyebutkan hal ini. Yesus dengan identitas sebagai Anak Kekasih Allah, memulihkan orang kembali memiliki pertanda identitas penting ini. (Renungkan kembali kaitan orang-orang yang mengakui kelemahan dirinya dengan topik kehidupan yang dibalikkan dalam , juga pasal sesudahnya . Silahkan klik untuk membuka.)

Renungkan: benar adanya, kita dari dahulu semuanya bukan karena identitas luar dan hal-hal yang kita bangun, untuk mengukur identitas kita sebagai umat Allah. Tetapi dengan ketulusan hati bertobat, tulus untuk berputar kembali, barulah mampu mendefinisikan diri sendiri merupakan umat Allah yang sungguh. Mohon Tuhan berbelas kasih kepada kita, tidak dengan jasa rohani diri sendiri untuk mendapatkan 「identitas anak」, tetapi dengan tulus menyatakan kepada Tuhan: 「Saya adalah orang berdosa. Dahulu adalah demikian, sekarang hanyalah seorang berdosa yang sudah mendapatkan anugerah.」

Lukas 4:14-30

「Saat Orang Lain Diberkati …」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 4:14-30 [ITB])
14Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 15Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. 16Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 17Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18「Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.」
20Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
21Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: 「Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.」
22Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: 「Bukankah Ia ini anak Yusuf?」
23Maka berkatalah Ia kepada mereka: 「Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!」24Dan kata-Nya lagi: 「Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.」
28Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Mulai dari Luk. 1:5, Lukas memakai struktur pemahaman dan penafsiran (hermeneutical framework) Perjanjian Lama dan teknik menulis Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani), untuk memimpin para pembaca memahami Yesus yang dipaku di atas salib adalah Mesias. Struktur pemahaman dan penafsiran Perjanjian Lama merupakan cara yang senantiasa dipakai oleh Lukas sang penulis. Catatan yang dibicarakan kemarin, mengenai Yesus dicobai iblis, dengan tepat membuktikan Lukas memakai teknik penulisan ini. Sampai perikop hari ini Lukas sang penulis juga tetap memakai Perjanjian Lama untuk memahami deklarasi rumusan misi Anak Allah (Yesus).

Setelah mengalami pencobaan, Yesus secara mendalam mengetahui jalan yang Ia ambil bukanlah yang diharapkan oleh orang Yahudi secara umum pada saat itu — yakni kerajaan Yehuda sekali lagi didirikan (seperti Dinasti Makabe di waktu yang dahulu). Saat Yesus mengumumkan rumusan misi-Nya, Ia telah memakai Yes. 61:1-2 dan Yes. 58:6. Di dalam kitab Yesaya, janji rencana penebusan yang merupakan milik Allah dan berasal dari Allah memiliki indikator penting, yakni mereka yang dibuang, yang dilupakan, pada akhirnya mendapatkan berkat Allah, kehidupan yang dibalikkan. Topik pembalikkan ini juga menggema dalam (Silahkan klik untuk membuka).

Namun dalam Lukas pasal 4, saat Yesus memberitakan topik pembalikkan akhir zaman (eschatological reversal motif) kepada umat Israel bahwa hari ini akan digenapi di antara mereka, maka masyarakat luas saat itu keheranan siapakah Yesus? Yesus merupakan tokoh besar apa yang dapat menggenapkan perkara ini? Mereka meragukan Yesus yang mengucapkan perkataan tersebut bukankah hanya merupakan anak laki-laki Yusuf, seorang dengan identitas dan kelahiran sangat yang biasa, bagaimana ia hendak menggenapkan janji Yesaya?

Yesus mengetahui dan memahami kecurigaan masyarakat luas, maka menjelaskan bahwa sebenarnya perbuatan masyarakat luas dari dahulu semuanya tidak menerima nabi di tempat asalnya. Di Lukas 4:23, Yesus memberikan respon: 「Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri!」 ini merupakan sebuah kalimat idiom zaman itu, artinya adalah 「 kamu lakukan urusanmu! Apa yang kamu lakukan tidak ada hubungan apapun dengan kita.」 Kita mungkin akan bertanya, mengapa masyarakat luas bisa memberikan jawaban yang demikian ini? Masyarakat luas sungguh telah mendengar apa Yesus lakukan di Kapernaum, termasuk berbagai mukjizat dan penyembuhan yang Ia lakukan, tepat seperti gambaran keadaan dalam perikop Yesaya yang baru saja Yesus beritakan. Tetapi mengapa mereka tidak menerima Yesus? Jelas bahwa pekerjaan mukjizat, penyembuhan dsb., semuanya merupakan indikator dari topik pembalikkan akhir zaman, bukankah orang Nazaret sepatutnya gembira dan sukacita! Ini karena Kapernaum merupakan sebuah kota yang relatif terhitung lebih banyak ditempati orang non Yahudi, dan pekerjaan kasih karunia Yesus ternyata juga datang pada diri orang non Yahudi, kontras dengan kota Nazaret lebih banyak ditempati orang Yahudi, pengumuman ini sungguh membuat orang Yahudi sangat tidak senang. Di dalam teologi mereka, bagaimana tindakan pembalikkan Allah bisa jatuh pada diri orang non Yahudi? Terutama janji Perjanjian Lama sepatutnya hanya jatuh pada diri orang Yahudi saja!

Renungkan: hanya melihat anugerah yang dimiliki orang lain, dan bersungut-sungut mengapa orang lain bisa mendapatkannya? Orang yang demikian ini, dari dahulu hanya membuat perhitungan mengapa orang lain memiliki anugerah yang berharga, namun lupa diri sendiri juga bisa memiliki. Tidak tahu apakah di dalam hati kita terdapat 「kekerasan hati」 hanya menginginkan dan iri atas apa yang dimiliki orang lain, namun justru lupa diri sendiri juga dapat bersandar kasih karunia Allah dan mendapatkannya?

Lukas 3:1-20

「Mengambil Jalan Bengkok, atau Jalan yang Diluruskan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 3:1-20 [ITB])
1Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, 2pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
3Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: 「Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu」, 4seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: 「Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: 『 Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. 5Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, 6dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.』」
7Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: 「Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? 8Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: 『 Abraham adalah bapa kami!』 Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! 9Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.」
10Orang banyak bertanya kepadanya: 「Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?」 11Jawabnya: 「Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.」
12Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: 「Guru, apakah yang harus kami perbuat?」 13Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.」
14Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: 「Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?」 Jawab Yohanes kepada mereka: 「Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.」
15Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, 16Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: 「Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. 17Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.」
18Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
19Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, 20raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

Permulaan Lukas pasal 3 tepat sama seperti permulaan Lukas pasal 2. Lukas pasal 2 menggambarkan raja Romawi, seorang duniawi yang memegang kuasa dan bagaimana ia mengumumkan kedaulatan (strategi menyuruh semua orang mendaftarkan di kota masing-masing). Lukas pasal 3 menggambarkan politik dan cetak biru keagamaan seorang raja daerah Yudea. Setelah Herodes Agung mati, daerah kekuasaan Herodes Agung dibagi-bagikan kepada para anak laki-lakinya untuk dikelola, di antaranya Arkhelaus yang karena kejam tidak berperasaan sehingga dipecat dari jabatannya oleh Kaisar Romawi, lalu Pilatus wali negeri Romawi langsung mengurus tanah Yudea dan Samaria. Permulaan Lukas pasal 3 selain menjelaskan situasi politik saat kelahiran Yesus, yang lebih penting adalah menggambarkan gabungan situasi kompleks keagamaan dan politik saat kelahiran Yesus. Pada kenyataannya, mulai dari kelahiran Tuhan Yesus sampai Yerusalem dihancurkan selama 70 tahun, sudah terdapat 20 sekian orang yang menjabat Imam Besar Yerusalem. Jika diperbandingkan, jabatan Imam Besar ini di zaman Perjanjian Lama mewakili kehormatan yang maha tinggi, sampai pada zaman Yesus, keadaan sudah berbeda sedemikian jauh. Imam Besar zaman Yesus, terutama diutus dan ditunjuk oleh pejabat Romawi. Oleh karena itu, para Imam Besar yang dekat dengan pemerintah Romawi secara alamiah akan bisa memangku jabatan lebih lama, dan Kayafas adalah seorang Imam Besar yang bisa memangku jabatan mencapai sepuluh tahun lebih.

Yang membuat orang terkejut, setelah Lukas pasal 3 selesai memberikan gambaran politik yang merupakan genangan air keruh bercampurnya semua keagamaan dan politik yang menjadi satu, ia memutar ujung pena beralih tertuju kepada diri Yohanes Pembaptis ─ dia yang hidup di padang gurun, seorang pemberita Firman yang tanpa kekuasaan tidak punya pengaruh. Dengan pengalihan arah ujung pena Lukas ini sekali lagi menjelaskan bahwa rencana keselamatan dari Allah bukanlah jatuh pada diri mereka yang memiliki kuasa memiliki pengaruh, Allah malah sebaliknya membangkitkan tokoh kecil – Yohanes Pembaptis, dia yang makan madu liar, yang tinggal di padang gurun, yang sama sekali menarik mata ─ untuk meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus. (Kontras antara orang yang merasa berkuasa dengan orang yang lemah akan dibawa terus sampai pasal-pasal yang selanjutnya, juga semua permasalahan jalan bengkok kontras dengan kehendak Bapa di Sorga)

Kata 「meluruskan jalan」 dalam Yes. 40, menyatakan Allah menetapkan kehendak untuk memulai berkembangnya pekerjaan penebusan-Nya, tetapi perlu ada pemberita Firman untuk mempersiapkan hati orang bagi Tuhan, agar manusia menyambut anugerah keselamatan yang akan datang ini. Selanjutnya di Luk. 3:7, Yohanes menyebutkan orang-orang yang perlu baptisan sebagai 「keturunan ular beludak」, sebenarnya frasa ini juga berasal dari Yesaya 59:5-8, 「5Mereka menetaskan telur ular beludak, dan menenun sarang laba-laba; siapa yang makan dari telurnya itu akan mati, dan apabila sebutir ditekan pecah, keluarlah seekor ular beludak. 6Sarang yang ditenun itu tidak dapat dipergunakan sebagai pakaian, dan buatan mereka itu tidak dapat dipakai sebagai kain; perbuatan mereka adalah perbuatan kelaliman, dan yang dikerjakan tangan mereka adalah kekerasan belaka. 7Mereka segera melakukan kejahatan, dan bersegera hendak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah; rancangan mereka adalah rancangan kelaliman, dan ke mana saja mereka pergi mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. 8Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai.」 Yesaya 59:8 dengan jelas menuliskan 「keturunan ular beludak」 bukanlah umat yang bersedia meluruskan jalan mempersiapkan hari orang, tetapi menunjuk orang-orang yang mengambil jalan-jalan yang bengkok, membuat diri sendiri dan orang lain paling akhir tidak mendapatkan damai sejahtera dan harapan.

Renungkan: tepat seperti yang dibicarakan kemarin, 「keagamaan」 dapat dipakai orang terjerumus dalam keadaan membuat diri benar atau realisasi diri. Selain itu, saling melebur dan saling memperalat antara politik dan keagamaan, mungkin membuat hati orang makin menghargai berbagai kesempatan yang diberikan orang lain, menimbulkan berbagai godaan yang terlihat maupun tidak. Pemimpin keagamaan (demikian juga kita sebagai orang biasa) sebenarnya akan dipaksa mengambil jalan-jalan yang bengkok, atau dapat mempertahankan diri mengambil jalan yang diluruskan?

Sejarah gereja telah memberitahu kita begitu banyak hikmat tentang aspek ini, kiranya kita mengerti bagaimana menghadapinya, karena sejarah terjadi berulang-ulang tiada henti (history always repeats itself). Mohon Tuhan memberkati kita hikmat, menolong kita dengan sebesar-besarnya.

Lukas 2:8-20

「Siapakah Juruselamat yang Benar? Siapakah yang Kita Beritakan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:8-20 [ITB])
8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: 「Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.」
13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14「Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.」
15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: 「Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.」 16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Kita telah membicarakan identitas Kaisar Agustus dan makna yang dibawakannya, ia terlihat seperti adalah juruselamat dan raja pembawa damai sejahtera. Dalam perikop hari ini, kita dapat lebih lanjut merenungkan bagaimana Ia yang lahir di palungan yang diumumkan melalui gembala kambing yang hanya memiliki identitas biasa, Dialah Sang Juruselamat dan Raja pembawa damai yang sesungguhnya yang benar.

Sebuah keadaan nyata, sesungguhnya merupakan perkara yang tidak mudah hendak melakukan perbandingan antara Agustus kaisar sebuah kerajaan yang memiliki kuasa besar politik dan militer dengan Yesus yang kelahiran-Nya rendah Sang Juruselamat yang sungguh benar. Bagi orang Yahudi zaman itu, ini sesungguhnya merupakan perkara yang membuat sulit dalam aspek apapun, mengakui dan memberitakan bahwa Tuhan Yesus barulah Sang Juruselamat, merupakan topik pembicaraan yang sangat sensitif, kapan saja bisa mendatangkan bencana dibunuh. Sebagian orang Yahudi lebih baik memilih 「hidup aman tenang」 sebagai pandangan hidup, memiliki tradisi menganggap tabu untuk menyebutkan janji Allah dalam Perjanjian Lama bahwa akan ada seorang raja akan membawakan pembaruan kebangkitan dan penyelamatan. Tetapi pada saat yang sama, sebagian orang Yahudi yang lain dengan sungguh-sungguh menjaga janji Allah, percaya semua penggenapan anugerah keselamatan pasti akan sungguh terjadi, oleh karena itu lahir organisasi ekstrim seperti kelompok Zelot.

Lukas sebagai orang Kristen abad 1 juga sebagai penulis Alkitab, berada di antara dua ekstrim ia benar-benar mencari pintu keluar, untuk memahami sifat khusus Kristus sebagai Juruselamat. Orang Kristen abad 1 dari dahulu tidak pernah menghindari kebenaran Yesus sebagai Juruselamat dan Raja damai sejahtera yang sesungguhnya (lihat Luk. 2:11, 13), mereka memakai tindakan besar Kaisar Agustus dan melalui perbandingan menjelaskan siapa yang merupakan Sang Penyelamat yang sungguh benar. Ini membuat kita percaya bahwa orang Kristen abad 1 dengan setia mengumumkan pengakuan iman bahwa Yesuslah yang merupakan Raja yang sungguh benar, mereka tidak kehilangan keberanian kepada pemerintah Romawi sehingga tidak berani membuka mulut dan memberitakannya. (Bandingkan para gembala dan orang Kristen abad 1 yang membuka mulut. Juga dengan Zakharia yang menjadi bisu.)

Oleh karena itu, dalam pengalaman para gembala dengan malaikat, terdapat begitu banyak topik tentang Mesias yang sangat mirip dengan Yesaya 11:1-7 (klik di sini untuk membacanya) 「sinar yang bercahaya」, 「sukacita」, 「melihat kemuliaan Allah」, 「kelahiran bayi」, 「keturunan Daud」, 「Kerajaan damai」 dll. Dapat dilihat bagi Lukas, kelahiran Yesus benar-benar merupakan penggenapan tradisi Perjanjian Lama raja Daud memegang kuasa. Ia penulis Alkitab tidak karena dalam lingkungan yang sulit menghindari atau tabu, malah sebaliknya melalui perikop Perjanjian Lama, dengan tulus membuktikan Dia yang 「sungguh benar」.

Militer atau kuasa politik tidak merebut menggantikan rencana penebusan Allah, berita kesukaan besar diumumkan para gembala (bukan diberitakan melalui orang terhormat dan yang memiliki kuasa) untuk menjelaskan pemahaman: ketaatan anak dara Maria dan ketulusan para gembala merupakan syarat yang harus dimiliki orang yang menerima anugerah keselamatan, dan bukan dengan kekuatan militer mencapai titik ujung penebusan. (Sekali lagi juga menegaskan keselamatan bukan didapatkan dengan usaha kekuatan kita.)

Doa: mohon Tuhan menolong kita, tidak karena nama dan keuntungan diri saya sehingga lupa memberitakan Allah, memberitakan Anak Kekasih-Nya yang merupakan Raja yang sungguh benar, Tuhan atas kehidupan. Juga memohon belas kasih Tuhan menolong kita, tidak memakai nama Tuhan sebagai alasan untuk menggenapkan pemikiran diri sendiri, sebaliknya dengan rendah hati dan tulus menjalankan kehendak Tuhan yang istimewa.

Lukas 2:1-7

「Kuasa Besar dari Yang Lemah」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:1-7 [ITB])
1Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
3Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
4Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– 5supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
6Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Perikop ini terutama membicarakan kelahiran Yesus Kristus. Tetapi pembaca mungkin akan terkejut menemukan, perikop ini tidak dengan teliti menuliskan bagaimana Yusuf menerima istrinya yang sudah mengandung sebelum dinikahinya, juga tidak dengan terperinci mencatat keadaan kelahiran Yesus Juruselamat, titik beratnya malah sebaliknya diletakkan pada perkara Kaisar Agustus memerintahkan semua orang melakukan pendaftaran diri, masing-masing di kotanya sendiri!

Ada sebuah buku yang merupakan karya sastra kira-kira tahun 2 A.D 《Kitab Apokrip Yakobus》, telah menghabiskan sangat banyak tulisan dengan perinci menggambarkan kelahiran Yesus, misal: sesaat Yesus dilahirkan bukan dibantu bidan, tetapi karena kekudusan Yesus, ada cahaya kemuliaan yang bersinar keluar, maka Yesus lahir diri-Nya sendiri dari Maria. Dan kemudian menggambarkan tentang Yesus kecil juga terlihat sangat misterius dan menampilkan hal-hal baru. Tetapi di kitab Injil dalam Alkitab, terutama dalam catatan Injil Lukas, dijelaskan sederhana hanya memakai sebuah kalimat 「ia melahirkan seorang anak laki-lakinya yang sulung」έτεκεν τόν υίον αύτης τον πρωτότοκον (eteken ton huion autes ton prototokon). (Enam kata saja)

Ini mengingatkan kita, penulis Alkitab dari dahulu tidak pernah memakai teknik penulisan yang memasukkan hal-hal yang tidak terkait untuk 「 mendewakan 」 kuasa Yesus dan membuat megah figur Yesus. Penulis Alkitab sebaliknya memakai penulisan yang jujur dan rendah hati untuk menjelaskan kelahiran Yesus, titik berat ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa saat kedatangan keselamatan dari Allah bukanlah gegap gempita, kita hanya perlu membawa hati damai yang penuh kepastian, maka dapat masuk ke dalam kehendak Allah. Ini merupakan sikap hati yang menerima anugerah keselamatan. Mohon Tuhan agar hati kita tidak terombang-ambing ke kanan ke kiri oleh nama terkenal dan kemuliaan, karena kita bukan meminta tepuk tangan orang lain atau memuaskan kehendak orang lain, sebaliknya yang paling penting hanyalah memuaskan hati Tuhan.

Lukas sang penulis Alkitab bukan hanya berhenti diam di gambaran ini, karena di dalam hatinya yang ia ingat dan rindukan adalah untuk menyiarkan siapakah yang merupakan Juruselamat yang sungguh benar.

Luk. 2:1-3 menyebutkan Kaisar Agustus dan perkara pendaftaran diri, ini adalah hal yang menjadi perhatian Lukas. Kaisar Agustus disebut sebagai 「juruselamat orang Romawi」 dan 「raja pembawa kedamaian」, karena ia telah meredahkan perang di internal Romawi, membuat seluruh rakyat dapat sehati menghadap keluar memperluas wilayah, maka orang Romawi sangat menghormati dia. Oleh karena itu dalam edaran orang Romawi kepada orang bangsa lain (termasuk orang Yahudi), menyebutkan Kaisar Agustus sebagai juruselamat dunia, akan membawakan kedamaian bagi orang banyak, perintah pendaftaran diri masing-masing di kotanya sendiri adalah hendak mengumumkan kuasa kedaulatan dirinya, mengakui identitas diri yang supranatural.

Dalam latar belakang ini, Lukas menyatakan bagaimana Yesus adalah Mesias yang sungguh benar dijanjikan Allah, kedatangan Yesus akan membawakan damai sejahtera dan keselamatan. Tetapi yang aneh, kelahiran bayi Yesus sama sekali tidak menarik mata, lahir di palungan, membentuk kontras yang sangat kuat dengan Agustus Kaisar Romawi yang mendapat pengakuan manusia dunia.

Renungkan: “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa” (The power of the powerlessness) merupakan permulaan Injil, juga merupakan keberlanjutan Injil, semua orang yang mewaris-lanjutkan iman Injil, akan dibaptis oleh Ia “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa”. Dalam menghadapi musuh seperti Goliat, apa yang akan kita pilih, apakah mengenakan pakaian perang raja Saul atau memungut lima butir batu sungai licin?

Lukas 18:9-14

「Deduksi penyempitan dari iman

Renungan ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Mandarin 「爾道自建」, tema Injil Lukas ditulis oleh 彭家鏗 yang dipublikasi pada bulan Juni 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院).

(Lukas 18:9-14 [ITB])
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Para pembaca mungkin akan bingung terhadap makna dari perumpamaan ini jika perikop ini tidak memiliki komentar dari penulis (Luk. 18:9) dan penjelasan Tuhan Yesus (Luk. 18:14). Perumpamaan ini pada dasarnya  melalui doa orang Farisi dan doa pemungut cukai, mengundang para pembaca untuk menilai keadaan rohani kedua orang tersebut. Dari permukaan luar, orang Farisi ini saleh menjaga hukum Taurat dan tradisi, dia tahu bersyukur, juga tidak meminta apa-apa dari Allah. Tanpa diragukan, sesuai apa yang ia pelajari, sesuai golongan mashabnya, ia adalah seorang bermoral melampaui orang lain yang segolongan mashab dengan dirinya (Luk. 18:12). Sebaliknya, pemungut cukai adalah pekerjaan yang paling dipandang rendah dalam komunitas orang Yahudi, mereka bekerja untuk kerajaan bangsa asing, memungut pajak terhadap bangsa sendiri. Juga di saat yang sama, adalah hal yang tidak mudah jika ingin melepasakan diri dari pekerjaan yang dianggap najis oleh orang Yahudi ini, yang pertama ia harus mengembalikan berlipat ganda apa yang ia peras (Luk. 19:8), kehilangan penghasilan hidup dan mungkin akan dicurigai tidak setia oleh pemerintah Roma !

Membandingkan keadaan dua orang ini dari permukaan luar bukan hal yang sulit. Namun Tuhan Yesus memberikan kalimat kesimpulan yang bertolak belakang, menunjukkan bahwa kebenaran kesalehan pemungut cukai ini diperhitungkan lebih tinggi melampaui orang Farisi (Luk. 18:14a), karena apa yang dikatakan sebagai kebenaran kesalehan bukanlah seperti yang dilihat oleh orang secara umum — yakni saleh menjaga aturan, setia terhadap tradisi — apa yang dikatakan sebagai kebenaran kesalehan oleh Tuhan Yesus adalah penilaian seseorang atas diri sendiri di hadapan Allah (Luk. 18:14b). Oleh karena itu, di mata Tuhan Yesus, yakni dalam pandangan “pemutar balikan di hari akhir,” pemungut cukai yang rendah diri ini yang justru diperhitungkan sebagai benar (tentang pemutar balikan di hari akhir, lihat: Luk. 1:51-53; Luk. 6:20-26; Luk. 10:29-37; Luk. 14:7-11; dst.)

Sebaliknya, masalah dari orang Farisi tersebut adalah memandang tinggi diri sendiri karena menyangka dirinya adalah orang benar, dan karena demikian memandang rendah orang di sekelilingnya (Luk. 18:9, 11). Sebenarnya, baik memandang diri rendah maupun memandang diri tinggi, semuanya dalah penilaian atas diri sendiri, orang yang memandang diri rendah karena tidak dapat mencapai tuntutan imannya, standar pembanding yang dipakai adalah terhadap imannya sendiri, namun orang yang memandang tinggi diri tidak hanya menilai diri sendiri, tetapi juga termasuk keadaan orang lain. Ini mencerminkan bahwa orang yang memandang tinggi diri merasa dirinya adalah Tuhan, karena hanya Tuhan yang mampu menilai orang lain.

Renungkan:

Iman orang Yahudi maupun iman Kristen zaman ini menyangkut tindakan lahiriah untuk menyatakan imannya, namun di sini Tuhan Yesus menekankan, deduksi penyempitan dari iman pasti tidak mencakup memandang rendah orang yang tidak bisa mencapai standar, tidak karena tinggi rendahnya kondisi rohani lalu memandang ringan orang lain. Kita berjalan di jalan Kerajaan Allah saat di dunia ini, bukanlah urusan satu dua hari. Kita sepatutnya jangan memandang rendah waktu dan kuasa Allah, hari ini orang di sebelah kita mungkin dalam kondisi rohani yang paling rendah, kita jangan memandang diri sebagai hakim, berpikir Allah tidak mampu mengubah orang.