Tag Archives: Tulus

1 Petrus 1:22 (2)

「(2) Kasih yang Pura-pura, Banyak Terjadi?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:22 [ITB])
22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

(Terjemahan penulis)
Hendaknya sucikanlah jiwamu, melalui kepatuhan pada kebenaran,
sehingga ada kasih yang tulus (tidak ada kemunafikan) antara saudara,
patut saling mengasihi dengan penuh semangat dari hati yang murni

Kemarin kita berbicara tentang apa artinya dengan hati yang murni saling mengasihi satu sama lain, percaya bahwa kita hidup di dalam komunitas yang telah lama ada di dunia, telah memiliki banyak respons terhadap subjek ini. Kita mungkin juga merenungkan tentang apa artinya saling mengasihi satu sama lain, bolehkah kita telah meninggalkan ketulusan dan semangat gairah sehingga mencari seperangkat prinsip lain yang sejalan dengan dunia, bertujuan agar tidak jatuh ke dalam pengkhianatan dan penipuan orang lain.

Tetapi topik utama yang akan kita bahas hari ini adalah klausa partisipatif (participle clause), yakni frasa pertama dalam ayat ini, frasa ini akan membantu kita memahami apa artinya saling mengasihi, apa pelajaran dan pesan instruksi yang diberikan?

Petrus berbicara tentang keharusan kita untuk membersihkan menyucikan jiwa kita, dan kata menyucikan (ἡγνικότες ignikótes) diekspresikan dalam bentuk sudah dilakukan (perfect tense), penjelasan berdasarkan Teori Aspek bahasa Yunani, menunjukkan bahwa kita harus meletakkan fokus kita di sini. Kata menyucikan awalnya memiliki makna bersih setelah melalui ritual air, tetapi kemudian, kata itu diperluas dengan memiliki makna dengan kehendak mengubah hati dan pikiran (lih. Yakobus 4:3 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!; 1 Yoh. 3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.) Dapat dilihat bahwa menyucikan jiwa seseorang (hati dan pikiran) adalah satu pertempuran demi pertempuran, bukanlah dengan enteng dan mudah saja kita sudah dapat memilih dengan baik, memilih dengan benar, tetapi adalah dengan sengaja dan kehendak untuk meletakkan semua kejahatan dan nafsu keinginan dalam hati kita, barulah dapat memenangkan pertempuran. Dan diri yang sebenarnya adalah: kita sering kalah perang, sehingga kita memilih untuk membenci saudara-saudara kita, dan bahkan putus hubungan, mungkin ini adalah potret sejati kita.

Kebenaran itu jelas, tetapi ketika itu benar-benar dilaksanakan, malah bertemu kelemahan dan ketidakmampuan diri, sehingga kasih kita terhadap satu sama lain sebagian besar tercampur membawa unsur kepalsuan dan penyamaran.

Kemudian ayat Alkitab menunjukkan bahwa pertempuran pembersihan menyucikan hati pikiran ini akan menghasilkan semacam kasih tanpa kemunafikan. Kemunafikan tidak berbeda dengan pola perilaku religius orang-orang Farisi, iman semacam ini untuk melayani diri sendiri dan demi manfaat kebaikan diri sendiri. Dalam banyak hubungan antarpribadi, layak untuk menghormati pihak lain untuk menyerang Anda secara terang-terangan, karena mereka di depan Anda setidaknya jujur dan tindakan sejalan dengan hati, tetapi kasih yang munafik di permukaan penuh dengan perhatian dan dapat dipercaya, tetapi pada akhirnya adalah memperlakukan Anda dengan kepalsuan dan ketidakjujuran, membuat Anda tetap berada dalam kegelapan, kadang-kadang, ketika ditipu sampai tingkat tertentu, Anda masih berterima kasih padanya berulang kali.

Bagaimana mungkin Petrus tidak mengetahui sifat manusia yang sebenarnya yang disebutkan di atas? Tapi ia seperti orang bodoh, dia berseru dengan teriakan ─ jangan hidup dalam kasih kemunafikan, jangan terbiasa dengan setengah kebenaran setengah kepalsuan, berkubang dalam tradisi kebiasaan berpikir pola pikir yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, sehingga membuat cinta kasih sejati Kristus tidak dianggap apa-apa.

Renungkan:
Ketika hidup kita adalah menumpang dan dalam keadaan sebagai yang terserak (diaspora, tidak tinggal di tempat surgawi kita), dan memusatkan mata perhatian kita pada Kristus yang akan datang, betapa sukacitanya memiliki saudara-saudari yang satu hati, satu pikiran, berjalan bersama. Tetapi dalam perjalanan ziarah ini, sangat menyedihkan harus berjaga-jaga terhadap saudara palsu, kasih persaudaraan palsu. Petrus mungkin menderita dan menerima berbagai tantangan dalam mengabarkan Injil Kristus, tetapi dia tidak menyerah atas iman karena apa yang ia alami sendiri (tidak hidup dalam kasih kemunafikan).

Bagaimana kita seharusnya gigih bertahan? Saling mengasihi selalu penuh tarikan tegangan dan ketakutan.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 1:22 (1)

「(1) Kasih yang Pura-pura, Banyak Terjadi?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 1:22 [ITB])
22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

(Terjemahan penulis)
Hendaknya sucikanlah jiwamu, melalui kepatuhan pada kebenaran,
sehingga ada kasih yang tulus (tidak ada kemunafikan) antara saudara,
patut saling mengasihi dengan penuh semangat dari hati yang murni

Kasih yang tulus ikhlas?

Sampai paragraf ini, ini adalah sebuah teks yang tidak mudah untuk dipahami, bukan bahwa kasih di antara saudara maupun saudari sulit dipahami, kasih di antara saudara maupun saudari bukan hal yang asing bagi orang Kristen, tetapi mengapa perlu berbicara tentang kasih yang tulus kepada orang percaya terpilih yang terserak di diaspora?

Kalimat utama dari ayat ini ditempatkan di bagian kedua dari kalimat, yang merupakan bentuk kalimat perintah (imperative) untuk menjelaskan bahwa memang sudah sepatutnya kita harus saling mengasihi, dan dengan hati yang tulus murni (καθαρᾶς καρδίας katharás kardías) sebagai sumber dari perintah ini, mendorong kita untuk merenungkan subjek saling mengasihi, namun bukankah subjek ini sudah dibicarakan sejak dari zaman dahulu kala apakah masih ada yang perlu ditambahkan? Tetapi melihat kata ini membuat saya berpikir lama, dan berulang kali bertanya pada diri sendiri: apakah hati yang tulus murni itu?

Dalam konteksnya, ayat Alkitab ini adalah hendaknya dengan tulus meletakkan pengharapan hidup dan iman pada darah Kristus, bukan menggunakan model iman dogmatis Yahudi. Tetapi pilihan yang pertama merupakan hal baru di era saat itu, juga tidak memberikan perasaan bahwa orang dapat dengan enteng dan mudah mengikuti serta dapat melakukannya dengan sangat realistis; sebaliknya, pilihan yang kedua itu sangat membumi dalam hidup, sangat dapat dilaksanakan, dan populer banyak pengikutnya. Karena itu, hati yang tulus adalah tunduk sebagai hamba pada Kristus yang sedemikian murni, membuang model religius yang sekadar melakukan tindakan dogmatis mati, dan yang mudah digenggam tangan manusia serta dimanipulasi.

Tetapi pada kenyataannya, kita selalu hidup dalam keadaan manusia yang mudah berubah-ubah, sepertinya mustahil untuk menjadi murni, mengasihi dan melayani dengan murni. Setiap orang selalu membawa motivasi dan tujuan tertentu untuk berurusan dengan apa yang harus mereka lakukan, terutama ketika mereka bertambah tua, untuk saling mengasihi yang murni bukanlah hal yang mudah. Ketika Anda dengan tidak mudah menurunkan rasa was-was berjaga-jaga, mengambil langkah percaya, mulai dengan hati yang murni berinteraksi dengan orang lain, teater kecil dalam hati kita akan memperingatkan kita: Mengapa begitu bodoh, hendak sekali lagi mengalami disakiti dan dikhianati? Pada waktu itu, pengalaman Yesus – untuk mempercayai orang yang menyangkal Dia – tiba-tiba muncul di benak (… sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.) Seharusnya bagaimana memilih? Apakah sungguh masih bisa bertahan meneladani ketulusan Kristus di zaman yang jahat ini?

Kalimat utama ini juga menggunakan dengan penuh semangat (dengan segenap hati) untuk menyatakan perintah saling mengasihi, lebih jelas menunjukkan bahwa mengasihi dengan hati yang tulus murni adalah keharusan, dan pada saat yang sama mengharapkan ini adalah kasih yang penuh antusias, penuh kehangatan. Mungkin hanya kasih yang kuat (penuh semangat) yang bisa mengatasi kecurigaan dan sifat manusia yang rumit. Bukankah kasih salib Kristus adalah begitu bersemangat kehangatan?

Renungkan:
Dalam percakapan WhatsApp, kita memperlakukan satu sama lain dengan kesantunan, berbicara kepada orang lain dengan sopan, ketika seorang saudara memanggil saya Jiā (memanggil huruf paling belakang dari nama adalah sebutan sahabat yang sangat akrab, bukan memanggil nama lengkap penulis: Chén Wěi Jiā, yang merupakan tata krama kesopanan), saya merasakan dalam hati bahwa ini adalah kasih persaudaraan yang tulus dan penuh semangat kehangatan hati. Atau beberapa saudara rela melepaskan apa yang ada dalam pikiran mereka dan bersedia untuk berjalan bersama, mengesampingkan pola pikir kebiasaan yang digenggam erat sehari-hari, untuk saling membangun. Bagi saya, ini adalah berkat yang begitu besar.

Dengan tulus saling mengasihi selalu merupakan sikap ketundukan hamba terhadap anugerah Kristus, dan itu adalah bersumber pada anugerah.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 2:8-20

「Siapakah Juruselamat yang Benar? Siapakah yang Kita Beritakan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:8-20 [ITB])
8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: 「Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.」
13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14「Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.」
15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: 「Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.」 16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Kita telah membicarakan identitas Kaisar Agustus dan makna yang dibawakannya, ia terlihat seperti adalah juruselamat dan raja pembawa damai sejahtera. Dalam perikop hari ini, kita dapat lebih lanjut merenungkan bagaimana Ia yang lahir di palungan yang diumumkan melalui gembala kambing yang hanya memiliki identitas biasa, Dialah Sang Juruselamat dan Raja pembawa damai yang sesungguhnya yang benar.

Sebuah keadaan nyata, sesungguhnya merupakan perkara yang tidak mudah hendak melakukan perbandingan antara Agustus kaisar sebuah kerajaan yang memiliki kuasa besar politik dan militer dengan Yesus yang kelahiran-Nya rendah Sang Juruselamat yang sungguh benar. Bagi orang Yahudi zaman itu, ini sesungguhnya merupakan perkara yang membuat sulit dalam aspek apapun, mengakui dan memberitakan bahwa Tuhan Yesus barulah Sang Juruselamat, merupakan topik pembicaraan yang sangat sensitif, kapan saja bisa mendatangkan bencana dibunuh. Sebagian orang Yahudi lebih baik memilih 「hidup aman tenang」 sebagai pandangan hidup, memiliki tradisi menganggap tabu untuk menyebutkan janji Allah dalam Perjanjian Lama bahwa akan ada seorang raja akan membawakan pembaruan kebangkitan dan penyelamatan. Tetapi pada saat yang sama, sebagian orang Yahudi yang lain dengan sungguh-sungguh menjaga janji Allah, percaya semua penggenapan anugerah keselamatan pasti akan sungguh terjadi, oleh karena itu lahir organisasi ekstrim seperti kelompok Zelot.

Lukas sebagai orang Kristen abad 1 juga sebagai penulis Alkitab, berada di antara dua ekstrim ia benar-benar mencari pintu keluar, untuk memahami sifat khusus Kristus sebagai Juruselamat. Orang Kristen abad 1 dari dahulu tidak pernah menghindari kebenaran Yesus sebagai Juruselamat dan Raja damai sejahtera yang sesungguhnya (lihat Luk. 2:11, 13), mereka memakai tindakan besar Kaisar Agustus dan melalui perbandingan menjelaskan siapa yang merupakan Sang Penyelamat yang sungguh benar. Ini membuat kita percaya bahwa orang Kristen abad 1 dengan setia mengumumkan pengakuan iman bahwa Yesuslah yang merupakan Raja yang sungguh benar, mereka tidak kehilangan keberanian kepada pemerintah Romawi sehingga tidak berani membuka mulut dan memberitakannya. (Bandingkan para gembala dan orang Kristen abad 1 yang membuka mulut. Juga dengan Zakharia yang menjadi bisu.)

Oleh karena itu, dalam pengalaman para gembala dengan malaikat, terdapat begitu banyak topik tentang Mesias yang sangat mirip dengan Yesaya 11:1-7 (klik di sini untuk membacanya) 「sinar yang bercahaya」, 「sukacita」, 「melihat kemuliaan Allah」, 「kelahiran bayi」, 「keturunan Daud」, 「Kerajaan damai」 dll. Dapat dilihat bagi Lukas, kelahiran Yesus benar-benar merupakan penggenapan tradisi Perjanjian Lama raja Daud memegang kuasa. Ia penulis Alkitab tidak karena dalam lingkungan yang sulit menghindari atau tabu, malah sebaliknya melalui perikop Perjanjian Lama, dengan tulus membuktikan Dia yang 「sungguh benar」.

Militer atau kuasa politik tidak merebut menggantikan rencana penebusan Allah, berita kesukaan besar diumumkan para gembala (bukan diberitakan melalui orang terhormat dan yang memiliki kuasa) untuk menjelaskan pemahaman: ketaatan anak dara Maria dan ketulusan para gembala merupakan syarat yang harus dimiliki orang yang menerima anugerah keselamatan, dan bukan dengan kekuatan militer mencapai titik ujung penebusan. (Sekali lagi juga menegaskan keselamatan bukan didapatkan dengan usaha kekuatan kita.)

Doa: mohon Tuhan menolong kita, tidak karena nama dan keuntungan diri saya sehingga lupa memberitakan Allah, memberitakan Anak Kekasih-Nya yang merupakan Raja yang sungguh benar, Tuhan atas kehidupan. Juga memohon belas kasih Tuhan menolong kita, tidak memakai nama Tuhan sebagai alasan untuk menggenapkan pemikiran diri sendiri, sebaliknya dengan rendah hati dan tulus menjalankan kehendak Tuhan yang istimewa.

Lukas 2:1-7

「Kuasa Besar dari Yang Lemah」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:1-7 [ITB])
1Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
3Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
4Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– 5supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
6Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Perikop ini terutama membicarakan kelahiran Yesus Kristus. Tetapi pembaca mungkin akan terkejut menemukan, perikop ini tidak dengan teliti menuliskan bagaimana Yusuf menerima istrinya yang sudah mengandung sebelum dinikahinya, juga tidak dengan terperinci mencatat keadaan kelahiran Yesus Juruselamat, titik beratnya malah sebaliknya diletakkan pada perkara Kaisar Agustus memerintahkan semua orang melakukan pendaftaran diri, masing-masing di kotanya sendiri!

Ada sebuah buku yang merupakan karya sastra kira-kira tahun 2 A.D 《Kitab Apokrip Yakobus》, telah menghabiskan sangat banyak tulisan dengan perinci menggambarkan kelahiran Yesus, misal: sesaat Yesus dilahirkan bukan dibantu bidan, tetapi karena kekudusan Yesus, ada cahaya kemuliaan yang bersinar keluar, maka Yesus lahir diri-Nya sendiri dari Maria. Dan kemudian menggambarkan tentang Yesus kecil juga terlihat sangat misterius dan menampilkan hal-hal baru. Tetapi di kitab Injil dalam Alkitab, terutama dalam catatan Injil Lukas, dijelaskan sederhana hanya memakai sebuah kalimat 「ia melahirkan seorang anak laki-lakinya yang sulung」έτεκεν τόν υίον αύτης τον πρωτότοκον (eteken ton huion autes ton prototokon). (Enam kata saja)

Ini mengingatkan kita, penulis Alkitab dari dahulu tidak pernah memakai teknik penulisan yang memasukkan hal-hal yang tidak terkait untuk 「 mendewakan 」 kuasa Yesus dan membuat megah figur Yesus. Penulis Alkitab sebaliknya memakai penulisan yang jujur dan rendah hati untuk menjelaskan kelahiran Yesus, titik berat ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa saat kedatangan keselamatan dari Allah bukanlah gegap gempita, kita hanya perlu membawa hati damai yang penuh kepastian, maka dapat masuk ke dalam kehendak Allah. Ini merupakan sikap hati yang menerima anugerah keselamatan. Mohon Tuhan agar hati kita tidak terombang-ambing ke kanan ke kiri oleh nama terkenal dan kemuliaan, karena kita bukan meminta tepuk tangan orang lain atau memuaskan kehendak orang lain, sebaliknya yang paling penting hanyalah memuaskan hati Tuhan.

Lukas sang penulis Alkitab bukan hanya berhenti diam di gambaran ini, karena di dalam hatinya yang ia ingat dan rindukan adalah untuk menyiarkan siapakah yang merupakan Juruselamat yang sungguh benar.

Luk. 2:1-3 menyebutkan Kaisar Agustus dan perkara pendaftaran diri, ini adalah hal yang menjadi perhatian Lukas. Kaisar Agustus disebut sebagai 「juruselamat orang Romawi」 dan 「raja pembawa kedamaian」, karena ia telah meredahkan perang di internal Romawi, membuat seluruh rakyat dapat sehati menghadap keluar memperluas wilayah, maka orang Romawi sangat menghormati dia. Oleh karena itu dalam edaran orang Romawi kepada orang bangsa lain (termasuk orang Yahudi), menyebutkan Kaisar Agustus sebagai juruselamat dunia, akan membawakan kedamaian bagi orang banyak, perintah pendaftaran diri masing-masing di kotanya sendiri adalah hendak mengumumkan kuasa kedaulatan dirinya, mengakui identitas diri yang supranatural.

Dalam latar belakang ini, Lukas menyatakan bagaimana Yesus adalah Mesias yang sungguh benar dijanjikan Allah, kedatangan Yesus akan membawakan damai sejahtera dan keselamatan. Tetapi yang aneh, kelahiran bayi Yesus sama sekali tidak menarik mata, lahir di palungan, membentuk kontras yang sangat kuat dengan Agustus Kaisar Romawi yang mendapat pengakuan manusia dunia.

Renungkan: “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa” (The power of the powerlessness) merupakan permulaan Injil, juga merupakan keberlanjutan Injil, semua orang yang mewaris-lanjutkan iman Injil, akan dibaptis oleh Ia “Kuasa dari yang Tidak Berkuasa”. Dalam menghadapi musuh seperti Goliat, apa yang akan kita pilih, apakah mengenakan pakaian perang raja Saul atau memungut lima butir batu sungai licin?