「(2) Kasih yang Pura-pura, Banyak Terjadi?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Petrus 1:22 [ITB])
22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
(Terjemahan penulis)
「Hendaknya sucikanlah jiwamu, melalui kepatuhan pada kebenaran,
sehingga ada kasih yang tulus (tidak ada kemunafikan) antara saudara,
patut saling mengasihi dengan penuh semangat dari hati yang murni」
Kemarin kita berbicara tentang apa artinya dengan hati yang murni saling mengasihi satu sama lain, percaya bahwa kita hidup di dalam komunitas yang telah lama ada di dunia, telah memiliki banyak respons terhadap subjek ini. Kita mungkin juga merenungkan tentang apa artinya saling mengasihi satu sama lain, bolehkah kita telah meninggalkan ketulusan dan semangat gairah sehingga mencari seperangkat prinsip lain yang sejalan dengan dunia, bertujuan agar tidak jatuh ke dalam pengkhianatan dan penipuan orang lain.
Tetapi topik utama yang akan kita bahas hari ini adalah klausa partisipatif (participle clause), yakni frasa pertama dalam ayat ini, frasa ini akan membantu kita memahami apa artinya 「saling mengasihi」, apa pelajaran dan pesan instruksi yang diberikan?
Petrus berbicara tentang keharusan kita untuk membersihkan menyucikan jiwa kita, dan kata 「menyucikan」 (ἡγνικότες ignikótes) diekspresikan dalam bentuk sudah dilakukan (perfect tense), penjelasan berdasarkan Teori Aspek bahasa Yunani, menunjukkan bahwa kita harus meletakkan fokus kita di sini. Kata 「menyucikan」 awalnya memiliki makna 「bersih setelah melalui ritual air」, tetapi kemudian, kata itu diperluas dengan memiliki makna 「dengan kehendak mengubah hati dan pikiran」 (lih. Yakobus 4:3 「Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!」; 1 Yoh. 3:3 「Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.」) Dapat dilihat bahwa menyucikan jiwa seseorang (hati dan pikiran) adalah satu pertempuran demi pertempuran, bukanlah dengan enteng dan mudah saja kita sudah dapat memilih dengan baik, memilih dengan benar, tetapi adalah dengan sengaja dan kehendak untuk meletakkan semua kejahatan dan nafsu keinginan dalam hati kita, barulah dapat memenangkan pertempuran. Dan diri yang sebenarnya adalah: kita sering kalah perang, sehingga kita memilih untuk membenci saudara-saudara kita, dan bahkan putus hubungan, mungkin ini adalah potret sejati kita.
Kebenaran itu jelas, tetapi ketika itu benar-benar dilaksanakan, malah bertemu kelemahan dan ketidakmampuan diri, sehingga kasih kita terhadap satu sama lain sebagian besar tercampur membawa unsur kepalsuan dan penyamaran.
Kemudian ayat Alkitab menunjukkan bahwa pertempuran pembersihan menyucikan hati pikiran ini akan menghasilkan semacam kasih tanpa kemunafikan. Kemunafikan tidak berbeda dengan pola perilaku religius orang-orang Farisi, iman semacam ini untuk melayani diri sendiri dan demi manfaat kebaikan diri sendiri. Dalam banyak hubungan antarpribadi, layak untuk menghormati pihak lain untuk menyerang Anda secara terang-terangan, karena mereka di depan Anda setidaknya jujur dan tindakan sejalan dengan hati, tetapi kasih yang munafik di permukaan penuh dengan perhatian dan dapat dipercaya, tetapi pada akhirnya adalah memperlakukan Anda dengan kepalsuan dan ketidakjujuran, membuat Anda tetap berada dalam kegelapan, kadang-kadang, ketika ditipu sampai tingkat tertentu, Anda masih berterima kasih padanya berulang kali.
Bagaimana mungkin Petrus tidak mengetahui sifat manusia yang sebenarnya yang disebutkan di atas? Tapi ia seperti orang bodoh, dia berseru dengan teriakan ─ jangan hidup dalam kasih kemunafikan, jangan terbiasa dengan setengah kebenaran setengah kepalsuan, berkubang dalam tradisi kebiasaan berpikir pola pikir yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, sehingga membuat cinta kasih sejati Kristus tidak dianggap apa-apa.
Renungkan:
Ketika hidup kita adalah menumpang dan dalam keadaan sebagai yang terserak (diaspora, tidak tinggal di tempat surgawi kita), dan memusatkan mata perhatian kita pada Kristus yang akan datang, betapa sukacitanya memiliki saudara-saudari yang satu hati, satu pikiran, berjalan bersama. Tetapi dalam perjalanan ziarah ini, sangat menyedihkan harus berjaga-jaga terhadap saudara palsu, kasih persaudaraan palsu. Petrus mungkin menderita dan menerima berbagai tantangan dalam mengabarkan Injil Kristus, tetapi dia tidak menyerah atas iman karena apa yang ia alami sendiri (tidak hidup dalam kasih kemunafikan).
Bagaimana kita seharusnya gigih bertahan? Saling mengasihi selalu penuh tarikan tegangan dan ketakutan.
Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.
