Tag Archives: Permukaan Luar

Yesaya 5:1-7

「Nyanyian tentang Kebun Anggur」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 5:1-7 [ITB])
1Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya:
Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
2Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.
3Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu. 4Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?
5Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; 6Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.
7Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.

Yes. 5:1-7 ayat adalah sebuah nyanyian kebun anggur yang terkenal, sebuah lagu cinta, adalah sebuah lagu cinta yang dinyanyikan TUHAN bagi kekasih diri-Nya sendiri. Lagu cinta ini dapat di bagi menjadi empat bagian paling utama: (1) kisah tentang kebun anggur (ayat 1b-2); (2) mengajak para pendengar memutuskan perkara bagaimana memberikan penghakiman (ayat 3-4); (3) pengumuman keputusan penghakiman (ayat 5-6); (4) penjelasan atas perumpamaan ini (ayat 7). Lagu cinta ini dengan cara yang sangat memiliki teknik penulisan sastra menggambarkan sebuah kisah, memakai cara「memikat / menarik」 (elicit), menimbulkan ketertarikan para pendengar juga resonansi simpatik mereka, sehingga pada akhirnya para pendengar mampu bersama nabi Yesaya yang menyanyikan lagu cinta ini, bersama membuat keputusan penghakiman atas 「para penjahat」 (villain) yang digambarkan lagu ini, melalui teknik ini, membuat para pendengar memahami dirinya sendiri adalah 「para penjahat」 itu. Keadaannya adalah sama seperti kisah tentang orang kaya menyediakan anak domba bagi tamu yang diungkapkan oleh nabi Nathan kepada Daud, orang kaya tidak mengambil dari kawanan domba dirinya sendiri, namun diambilnya dari satu-satunya anak domba milik orang miskin, dengan demikian membuat Daud mengambil keputusan penghakiman atas 「penjahat」 dalam kisah, dari sana Nathan dengan efektif menunjukkan bahwa 「penjahat」 itu adalah Daud sendiri (2 Sam. 12:1-10).

Di sini, terlebih dahulu, lagu cinta menjelaskan TUHAN demi kebun anggur telah menghabiskan seluruh hati pikiran, termasuk mencangkulnya dan membuang batu-batu, menanaminya dengan pokok anggur pilihan, mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur (ayat 2), pengaturan dengan mutu terbaik seperti ini aslinya patut dapat diharapkan menghasilkan anggur yang baik, tetapi ternyata menghasilkan anggur liar. Anggur yang baik dan anggur liar sama-sama semua adalah anggur, di permukaan luar mungkin tidak ada terlalu banyak perbedaan, tetapi cita rasa mereka justru secara jelas tidak sama, kemudian, kebun anggur TUHAN semesta alam adalah Israel; pohon yang Ia suka adalah orang Yehuda. Ia mengharapkan keadilan, lihatlah, justru yang ada adalah kelaliman (「penumpahan darah」 dalam CUVT); mengharapkan keadilan, lihatlah, justru yang ada adalah keonaran (「jeritan orang teraniaya」 dalam CUVT) (ayat 7). Keadilan dan kebenaran adalah anggur yang baik, penindasan aniaya dan suara jeritan meminta pembelaan adalah anggur liar, secara permukaan kulit luar adalah aman bahagia, namun keadaan nyata di baliknya justru adalah penindasan aniaya dan suara jeritan meminta pembelaan. Aman bahagia yang di permukaan kulit luar ini mungkin terlihat sama dengan penampilan keadilan dan kebenaran, tetapi di dalamnya justru jelas sama sekali tidak sama. Oleh karena itu, perumpamaan ini menjelaskan umat Israel memiliki penampilan luar yang baik, tetapi penindasan aniaya dan suara jeritan meminta pembelaan merupakan keadaan yang sesungguhnya dari mereka.

Selain itu, perumpamaan ini menunjukkan TUHAN menghabiskan seluruh hati pikiran untuk mendidik serta membesarkan dan menanami umat Israel, kelompok orang ini yang termasuk umat Allah lebih memiliki syarat menghidupi keadilan dan kebenaran dibandingkan umat apapun, karena mereka memahami hukum Taurat, juga memiliki para nabi yang memahami perintah Allah, tetapi mereka justru menjadi pemimpin berbuat dosa, secara jelas sama sekali tidak sama dengan perintah hukum Taurat, membawakan semacam fenomena 「di luar dugaan, sangat mengejutkan tidak sesuai perkiraan yang sepatutnya」.

Renungkan: banyak sekali kasih kemurahan Allah kepada kita, Dia membuat kita memiliki kesempatan percaya kepada Tuhan dan menerima berbagai macam kasih kemurahan dari Dia, aslinya adalah demi menciptakan kondisi yang menguntungkan agar berbuah hasil, namun kita ada saatnya lupa budi kebaikan, meninggalkan tuntutan Allah, sebaliknya menghasilkan buah hasil yang tidak baik, bahkan lebih buruk dibandingkan orang yang belum percaya? Apakah ini juga merupakan keadaan kita sekarang? Apakah kita sebenarnya mau bertobat, menghasilkan anggur yang baik?

Yesaya 3:16-4:1

「Putri Sion Mengaduh dan Berkabung」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 3:16-4:1 [ITB])
16TUHAN berfirman: Oleh karena wanita Sion

telah menjadi sombong dan
telah berjalan dengan jenjang leher dan
dengan main mata,
berjalan dengan dibuat-buat langkahnya dan
gemerencing dengan giring-giring kakinya,

17maka Tuhan akan membuat batu kepala wanita Sion penuh kudis dan TUHAN akan mencukur rambut sebelah dahi mereka.
18Pada waktu itu Tuhan akan menjauhkan segala perhiasan mereka:

gelang-gelang kaki, jamang-jamang dan bulan-bulanan;
19perhiasan-perhiasan telinga, pontoh-pontoh dan kerudung-kerudung;
20perhiasan-perhiasan kepala, gelang-gelang rantai kaki, tali-tali pinggang, tempat-tempat wewangian dan jimat-jimat;
21cincin meterai dan anting-anting hidung;
22pakaian-pakaian pesta, jubah-jubah, selendang-selendang dan pundi-pundi;
23cermin-cermin, baju-baju dalam dari kain lenan, ikat-ikat kepala dan baju-baju luar.

24Maka sebagai ganti rempah-rempah harum akan ada bau busuk,
sebagai ganti ikat pinggang seutas tali,
sebagai ganti selampit rambut kepala yang gundul,
sebagai ganti pakaian hari raya sehelai kain kabung;
dan tanda selar sebagai ganti kemolekan.
25Orang-orangmu akan tewas oleh pedang, dan pahlawan-pahlawanmu oleh perang.
26Pintu-pintu gerbang Sion akan mengaduh dan berkabung, dan kota itu akan seperti perempuan bulus yang duduk di bumi.
1Pada waktu itu tujuh orang perempuan akan memegang seorang laki-laki, serta berkata: 「Kami akan menanggung makanan dan pakaian kami sendiri; hanya biarlah namamu dilekatkan kepada nama kami; ambillah aib yang ada pada kami!」

Perikop ini memakai 「Putri Sion」 sebagai perumpamaan yang dimanusiakan (anthropomorphize), menunjukkan perbandingan kejayaan kota Sion yang sebelumnya akan mendapatkan penghukuman. Putri-putri ini memiliki banyak sekali barang-barang pemenuhan diri, tidak hanya para putri ini sendirinya suka memiliki, lebih lagi adalah barang-barang yang suka dimiliki sebuah negara, dan ciri khusus dari hal-hal ini adalah 「bersifat permukaan kulit luar」.

Ciri khusus putri-putri yang 「bersifat permukaan kulit luar」 adalah berjalan dengan jenjang leher dan dengan main mata, berjalan dengan dibuat-buat langkahnya dan gemerencing dengan giring-giring kakinya (ayat 16), semua tindak tanduk ini hanya demi mendapatkan pujian orang lain, semua pujian dan pengakuan yang didapatkan adalah semacam pujian yang 「bersifat permukaan kulit luar」, perikop juga menjelaskan motivasi di balik tindak tanduk ini yakni adalah keangkuhan, kata ini pernah muncul di dalam Yes. 2:15, diterjemahkan sebagai 「tinggi」, dilihat oleh kitab Yesaya bahwa sesungguhnya tinggi hanya dimiliki oleh TUHAN saja (Yes. 6:1), tetapi sekarang Putri Sion ini menyebut diri sendiri adalah 「tinggi」, mewakili ia berharap bisa menggantikan posisi TUHAN, berpendapat diri sendiri bisa bersandar dan mengandalkan kehidupan 「bersifat permukaan kulit luar」 untuk membangun 「ketinggian」 milik diri sendiri, oleh karena itu 「tinggi」 yang ia miliki bukan semacam kekuatan yang ada di dalam dan yang ditunjang oleh karakter, tetapi yang ditampilkan melalui 「permukaan kulit luar」.

Ciri khusus yang lain dari 「sifat permukaan kulit luar」 adalah ia mengenakan terlalu banyak hiasan indah dan mewah (ayat 18-23), perikop ini seluruhnya telah menghabiskan 5 ayat secara terperinci menjelaskan hiasan-hiasan ini, membawakan semacam kesan 「terlalu banyak」 kepada para pembaca. Putri Sion sudah tidak lagi merupakan putri pada umumnya, putri secara umum suka yang cantik, ini juga adalah hal yang tidak perlu terlalu dicela, masih bisa dimengerti, tetapi ia menggunakan terlalu banyak sumber daya untuk mempertahankan kecantikan diri sendiri. 「Terlalu banyak」 menghabiskan penggunaan macam ini yang semuanya untuk hiasan 「permukaan kulit luar」, membuat orang teringat ia tidak memakai sumber daya untuk membuat nyata hukum Taurat, tidak dapat dihindari memberikan kesan 「tidak melakukan tanggung jawab malahan berbuat yang tidak perlu」. Keindahan Putri Sion bukanlah berasal dari membuat nyata tindakan moral dan hukum Taurat, malahan berasal dari hiasan 「permukaan kulit luar」, perumpamaan ini menggambarkan ia menggunakan sumber dayanya di pekerjaan membentuk figur 「permukaan kulit luar」, namun tidak bersungguh-sungguh memperhatikan orang-orang dalam kota yang memiliki kebutuhan.

Renungkan: Allah tidak senang orang yang bersifat 「permukaan kulit luar」, orang-orang ini hanya memandang berat pekerjaan membentuk penampilan luar, namun tidak bersedia menghabiskan hati, pikiran dan waktu untuk melakukan belas kasihan dan perhatian yang seolah-olah tidak ada pahala balasan, menjalankan hukum Taurat bagi orang-orang ini tidak ada pasarannya, karena di depan mata mereka hanya ada keuntungan dan tepuk tangan, mata kesombongan, mata yang tidak memandang siapapun. Apakah engkau termasuk yang demikian atau tidak? Mulai hari ini hendaknya kita bertobat, membuang topeng 「permukaan kulit luar」, menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah.


Tambahan Penerjemah:

Mengenai 「permukaan kulit luar」 dapat dilihat lagi kaitannya dengan , , , .

Yesaya 3:1-7

「Anak-anak Menjadi Pemimpin」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 3:1-7 [ITB])
1Maka sesungguhnya Tuhan, TUHAN semesta alam, akan menjauhkan dari Yerusalem dan dari Yehuda setiap orang yang mereka andalkan, segala persediaan makanan dan minuman: 2pahlawan dan orang perang, hakim dan nabi, petenung dan tua-tua, 3perwira dan orang yang terpandang, penasihat dan ahli sihir, dan orang yang paham mantera.
4Aku akan mengangkat pemuda-pemuda menjadi pemimpin mereka, dan anak-anak akan memerintah atas mereka. 5Maka bangsa itu akan desak-mendesak, seorang kepada seorang, yang satu kepada yang lain; orang muda akan membentak-bentak terhadap orang tua, orang hina terhadap orang mulia.
6Sehingga apabila seorang memegang saudaranya di rumah ayahnya dan berkata: 「Engkau masih mempunyai jubah, jadilah pemimpin kami, dan reruntuhan ini di bawah kuasamu」,
7maka pada waktu itu saudaranya akan menjawab: 「Aku tidak mau menjadi tabib; di rumahku tidak ada roti dan tidak ada jubah; janganlah angkat aku menjadi pemimpin bangsa.」

Saat kerajaan Yehuda tidak lagi menggunakan keadilan dan kebenaran TUHAN sebagai definisi kemuliaan negara, maka umat Allah mulai mendefinisikan kemuliaan dengan hal-hal yang dipandang bangsa-bangsa asing sebagai apa yang paling mampu membuat negara kuat besar. Di dalam pandangan kitab Yesaya, keberhasilan negara bukan dengan kaya raya, kedudukan, gelar pendidikan dsb., tetapi ada di dalam perhatian kepada kaum lemah dan orang miskin, juga di dalam kesetiaan kepada hukum Taurat dan perjanjian persekutuan antara TUHAN dengan umat, saat umat Israel menggunakan hukum Taurat sebagai pengontrol dan pemimpin tingkah laku mereka, maka mampu memancarkan kemuliaan Allah di dalam negara.

Yesaya 3:1-7 menunjukkan kesombongan manusia menyetir manusia bersandar kepada 「orang-orang besar」 untuk membuat negara kuat besar, mereka adalah pahlawan dan orang perang, hakim dan nabi, petenung dan tua-tua (ayat 2), orang-orang ini di permukaan kulit luar kelihatannya para profesional yang menjadi sandaran negara, yang dapat diandalkan (ayat 1), dan kenyataan, rakyat jelata dalam masyarakat saat itu sebagian besar adalah buta huruf, tidak mampu membaca sendiri kitab hukum Taurat, mereka hanya mampu mengandalkan pemimpin agama untuk memahami hukum Taurat, maka secara alamiah percaya sepenuhnya pada diri orang-orang ini, percaya mereka adalah ahli militer (para pahlawan dan orang perang), ahli menghakimi (hakim), para ahli yang menerima perkataan Allah (nabi, petenung dan tua-tua), di dalam pandangan umat, mereka selamanya tidak akan berbuat kesalahan.

Tetapi, ayat perikop memiliki sebuah berita yang lain, mengatakan bahwa 「orang-orang besar」 yang kepadanya umat bersandar, tidak mampu membawakan kebangkitan negara yang sesungguhnya, Allah malahan memilih memakai orang yang dipandang manusia tidak mampu mengurus negara, yakni 「anak-anak」, 「pemuda-pemuda」 dan 「orang hina」 (ayat 4-5), orang-orang ini tidak memiliki pengalaman mengurus negara, semuanya 「tidak cukup kualifikasi」 di dalam pandangan manusia, semua adalah orang yang lemah dan tidak memiliki kemampuan kualitas yang nyata. Di dalam perikop ini dapat dilihat bahwa mereka dipakai secara negatif, karena mereka akan memerintah dengan sembarangan, dengan penindasan dan sombong tanpa sopan santun terhadap 「orang-orang besar」. Penggambaran macam ini sebenarnya adalah sebuah perumpamaan, melukiskan bahwa 「orang-orang besar」 akan mendapatkan pembalasan yang sepatutnya mereka miliki, dan Allah justru memakai mereka yang dahulunya ditindas oleh 「orang-orang besar」 menjadi terbalik menindas 「orang-orang besar」 ini. Ternyata, Allah senang memakai orang-orang yang dipandang manusia dunia sebagai 「satu tingkat lebih rendah」untuk melaksanakan penghakiman-Nya.

Renungkan: Allah adalah pribadi yang membela, Dia akan membawakan kembali keadilan kepada mereka yang tertindas 「anak-anak」, 「pemuda-pemuda」 dan 「orang hina」, juga dengan sindiran yang menusuk Ia memakai orang-orang yang tertindas dan yang tidak memiliki pendidikan, berbalik menindas 「orang-orang besar」, ini bukan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menjelaskan Allah pasti akan membalas orang yang bertingkah laku gelap dan tidak bermoral baik. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, kita tidak sepatutnya mengabaikan orang yang dipandang rendah dalam masyarakat, melihat mereka hanya sebagai pihak yang dapat diperalat, tidak tahu Allah berdiri di sisi mereka selamanya, membawakan kembali keadilan bagi mereka.

Yesaya 2:12-18

「Seperti Bisa Meninggikan Diri, Namun akan Direndahkan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 2:12-18 [ITB])
12Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari

untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh
serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;
13untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang,
dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan;
14untuk menghukum semua gunung yang tinggi-tinggi dan semua bukit yang menjulang ke atas;
15untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu;
16untuk menghukum semua kapal Tarsis dan semua kapal yang paling indah.

17Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan;
hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.
18Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali.

Di dalam ini perikop kata yang paling banyak muncul adalah 「tinggi」 (nāśā’), secara terpisah muncul di dalam Yes. 2:12, 13, 14, juga di dalam Yes. 6:1 yang menjelaskan Tuhan duduk di atas takhta yang 「tinggi dan menjulang」, menyatakan salah satu topik di dalam kitab Yesaya, yang menyatakan bahwa hanya TUHAN sendiri sajalah Dia yang maha 「tinggi」, manusia atau hal apapun semuanya tidak bisa memiliki posisi 「tinggi」.

Tetapi, Yes. 2:12-14 justru sebaliknya menunjukkan orang-orang munafik yang berharap menjadi yang 「tinggi」, ayat 12 menjelaskan mereka congkak dan angkuh, mereka merasa dirinya 「tinggi」, ayat 13 menyebutkan pohon aras di Libanon yang tumbuh 「tinggi」 besar, ayat 14 gunung yang 「tinggi-tinggi」, ayat 15 menara yang 「tinggi」, ayat 17 manusia yang sombong (sinonim dengan kata 「tinggi」). Nabi Yesaya di sini telah banyak sekali memakai gambaran yang alamiah untuk menjelaskan keadaan 「tinggi」 dari orang-orang munafik ini. Di dalam kitab Yesaya, pohon-pohon ini, gunung dan sebagainya secara logisnya adalah benda-benda yang sepatutnya menghormati TUHAN, namun sekarang justru sebaliknya menjadi simbol orang-orang yang meninggikan diri, jikalau benda-benda alamiah dalam dunia ini juga tidak mampu menghidupi sifat dasar sebagai ciptaan Allah, mereka mewakili orang-orang munafik yang hidup melanggar aturan tatanan penciptaan, semua itu adalah karena mereka tidak dengan baik-baik menundukkan diri menghormati Allah.

Terhadap orang-orang yang 「tinggi」 ini, kitab Yes. 2:12-18 dengan jelas menuliskan bahwa mereka pasti diturunkan menjadi rendah, kata 「direndahkan」 muncul di Yes. 2:9, 11, 12, 17, dilihat dari bahasa Ibrani adalah lawan kata dari kata 「tinggi」, ini benar-benar menjelaskan orang apapun yang melihat diri sendiri sebagai yang tinggi pada akhirnya semuanya akan direndahkan, semua pasti akan menjadi rendah. Direndahkan macam ini bukan semacam rendah diri, tetapi adalah semacam penundukkan diri kepada Allah, ini mewakili semacam hormat penyembahan. Ternyata, orang yang mengira dirinya 「tinggi」 memandang diri sendiri adalah Allah, maka ia terlebih lagi bisa tidak ada orang lain dalam pandangan matanya, terlebih lagi bisa tidak ada Allah dalam pandangan matanya. Ternyata sikap hati seperti ini yang memandang diri sendiri sebagai Allah, benar-benar telah melanggar sifat kemanusiaan dirinya sendiri. Cara membangun kemanusiaan yang paling baik, adalah sungguh-sungguh menundukkan diri, baik-baik menghormati TUHAN, karena Dia adalah Penguasa 「tinggi」 yang sesungguhnya.

Pemimpin dan orang-orang keagamaan di negara Yehuda memiliki penundukkan diri hanya permukaan kulit luar, tidak memiliki kehidupan penundukkan diri yang nyata. Mereka memiliki penampilan luar keagamaan yang indah, juga melalui penampilan luar mereka yang saleh mendapatkan lebih banyak tepuk tangan, mereka walaupun secara permukaan luar menghormati TUHAN sebagai Yang Kudus, namun kehidupan diri sendiri justru adalah peninggian diri pemenuhan diri. Allah sangat membenci orang yang demikian.

Renungkan: apakah kehidupan engkau adalah peninggian diri? Apakah engkau memiliki keadaan yang tidak sama antara penampilan luar dengan yang ada di dalam?


Renungan ini merupakan terjemahan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Yesaya 1:16-20

「Sukarela Menaati」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 1:16-20 [ITB])
16Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
18Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
19Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.
20Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Menghadapi pemimpin Sodom dan rakyat Gomora, Yes. 1:16-20 mengemukakan umat Israel membutuhkan tindakan bertobat. Terlebih dahulu, umat Allah sesungguhnya tidak perlu mempersembahkan lebih banyak lagi barang persembahan, juga tidak membutuhkan lebih banyak persekutuan dan hari perayaan, tetapi perlu menghilangkan perbuatan buruk mereka, berhenti berbuat jahat, juga hendaknya belajar berbuat kebaikan dan mengusahakan keadilan, dua hal yang umat Israel harus lakukan adalah berhenti berbuat dosa dan mengusahakan kebaikan, mereka sudah terbiasa berulang melaksanakan keahlian tuntutan ritual penyembahan permukaan kulit luar, mereka melalui kesalehan permukaan kulit luar ingin melepaskan diri dari dosa penindasan yang mereka lakukan, namun yang Allah lihat dan hargai bukanlah sogokan ritual penyembahan yang bersifat kulit luar, dan persembahan hampa yang dibawa kepada Allah, tetapi adalah pembaharuan kehidupan yang berasal dari dalam menuju keluar, serta luar dan dalam yang sama, pembaharuan kehidupan harus dimulai dari pertobatan.

Keadilan yang disebutkan ayat 17 dalam bahasa aslinya 「mĭšpāṭ」, kata ini adalah persamaan kata dari hukum Taurat Musa, juga bisa diterjemahkan sebagai keadilan masyarakat (social justice), isi secara realistiknya menyangkut menolong pihak yang tertindas; membela hak anak-anak yatim, memperjuangkan perkara para janda, semua ini adalah tindakan yang sangat realistik. Pemimpin adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan menolong pihak yang tertindas, mereka bisa membela dan berjuang bagi kaum lemah, jika mereka berdiri di posisi tinggi namun tidak melaksanakan tuntutan hukum Taurat, maka sama dengan menjadi sekutu para penindas, menjadi pembantu penjahat.

Tetapi, tuntutan melakukan keadilan macam ini bukan merupakan tindakan masyarakat yang tidak memiliki dasar teologis, keadilan masyarakat yang dikatakan dalam Alkitab adalah keadilan masyarakat yang bersifat teologis, dan bukan merupakan semacam tindakan masyarakat tanpa sifat iman kepercayaan. Keadilan masyarakat yang bersifat teologis ini tersambung dengan apa yang disebutkan ayat 19 sukarela menurut dan mendengar, ketaatan macam ini didasarkan bahwa Allah adalah Pemberi perintah atas hukum Taurat, tuntutan-Nya dan ketaatan adalah alasan paling dasar dari pelaksanaan keadilan masyarakat. Hendaknya dipahami bahwa menaati tuntutan hukum Taurat bukanlah semacam pertimbangan politik atau kontraksi antar masyarakat. Saat umat Israel bersedia menaati perintah Allah, mereka akan memandang hukum Taurat sebagai perintah, dan bukan sebagai semacam opini masyarakat, perintah tidak sama dengan opini, perintah memandang Allah sebagai Tuhan (Tuan), yang dituntut adalah mendengarkan dan menaati, opini memandang Allah sebagai pemberi usul, orang memiliki hak mempertimbangkan sebagai pandangan yang tidak sesuai dan membuat keputusannya diri sendiri. Tetapi tuntutan Allah adalah mendengarkan perintah dan menaatinya.

Mendengarkan dan menaati membawakan akibat yang bagaimana? Ayat 18 menunjukkan akibatnya adalah 「Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba」. Ini mewakili pengampunan Allah dan penyembuhan, di sini, pengampunan Allah bukan karena Dia harus memiliki kewajiban mengampuni tanpa syarat, pengampunan-Nya adalah didasarkan pada sukarela kebebasan Dia sendiri, namun Dia mengikat pengampunan dari diri-Nya sendiri pada syarat orang menaati Allah, Allah di sini berjanji, manusia selalu memiliki kemungkinan bertobat mendapatkan pengampunan, bahkan jikalaupun kehidupan kita sedemikian penuh kegelapan, namun juga memiliki pengharapan untuk berbalik arah.

Renungkan: 「sukarela menaati」 adalah respon jawaban atas hukum Taurat TUHAN, tindakan yang paling seharusnya dimiliki, tetapi banyak waktu, kita mungkin akan berkompromi karena berbagai tekanan masyarakat dan politik di dalam masyarakat kita berada, sehingga merendahkan perintah Allah sebagai semacam usulan, melihat keuntungan di depan mata lebih tinggi daripada Allah, saat kita bertindak demikian, mungkin akan membawakan kemudahan jangka pendek, tetapi secara jangka panjang justru berbuat dosa terhadap Allah dan menjadi pembantu para penindas orang lain. Memohon Tuhan membuat kita mampu bersungguh hati bertobat, sukarela mendengar dan menaati.

Yesaya 1:10-15

「Pemimpin-pemimpin Sodom」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 1:10-15 [ITB])
10Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!
11“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 12Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
13Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. 14Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
15Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Kerusakan Sodom dan Gomora yang disebutkan di Yes. 1:9 hanyalah di permukaan luar saja, tetapi Yes. 1:10 justru menggunakan Sodom dan Gomora untuk menjelaskan kerusakan moral di dalam hati umat Israel, oleh karena itu Yes. 1:9-10 memakai perumpamaan Sodom dan Gomora, untuk menjelaskan umat Israel tidak peduli di bagian luar maupun di bagian dalam sudah rusak secara total, di bagian luar terdapat didikan Allah dan luka, di dalam hati dan moral justru penuh kegelapan.

Dari penggambaran Yes. 1:10-15 dapat dilihat, masyarakat zaman itu sudah memiliki satu set ritual penyembahan yang bersifat permukaan kulit luar yang lengkap dan rumit, permasalahan umat Israel bukan mereka tidak mampu melakukan ritual penyembahan ini, kenyataannya, ritual penyembahan yang mereka miliki mungkin secara keseluruhan berdasarkan tuntutan hukum Taurat Musa, di antaranya mencakup perayaan bulan baru, hari Sabat, hari raya perkumpulan dan berbagai macam pengorbanan, mereka sangat 「profesional」 mengadakan semua urusan keagamaan, tetapi di balik semua ritual penyembahan yang menjadi bersifat permukaan kulit luar ini, adalah tangan mereka yang penuh dengan darah orang (Yes. 1:15). Umat Israel, pemimpin dan para imam menghabiskan banyak sekali tenaga dan usaha di dalam ritual penyembahan permukaan kulit luar ini, membuat diri sendiri berpenampilan luar sebagai penyembah yang saleh. Tindakan semacam ini sungguh sangat menggoda orang, karena di satu sisi bisa mendapatkan tepuk tangan orang lain, di sisi lain juga bisa melanjutkan mendapatkan keuntungan melalui penindasan atas orang lain, dapat dikatakan lengkap mendapatkan nama dan keuntungan. Tetapi, Allah sedang melalui nabi mengeluarkan pemberitahuan ilahi kepada pemimpin, seruan agar mereka bertobat.

Dalam perikop disebutkan persembahan mereka merupakan persembahan yang tidak sungguh, kata 「tidak sungguh」 (šāv’) ini dapat diterjemahkan sebagai sia-sia atau hampa, mewakili persembahan ini tidak memiliki isi yang berkualitas nyata, hanya memiliki penampilan luar yang kosong tidak mampu bertahan lama. Persembahan jenis ini hanya memuaskan tuntutan atas penampilan luar, hanya dilakukan untuk ditonton orang, namun di dalam persembahan yang diberikan kepada Allah ini tidak ada isi apapun yang berkualitas yang nyata, juga tidak ada bobot apapun yang bertahan lama, penampilan luar tidak sama dengan isi dalam hati, persembahan hadiah yang munafik.

Persembahan mereka hampa, adalah karena kehidupan mereka tidak ada berpandan dengan persembahan mereka. Masalah yang paling utama, barang persembahan mereka tidak berkenan diterima Allah, mengapa tidak diterima? Karena saat memberi persembahan mereka tidak bertobat, berpikir telah melakukan ritual penyembahan untuk menebus dosa, maka bisa sekehendak hati berbuat dosa, memandang barang persembahan sebagai mesin ATM penebus dosa, tidak ada kesungguhan hati untuk bertobat, moral dan tingkah laku juga tidak ada perubahan apapun.

Renungkan: kehidupan yang tidak sama luar dengan dalam yang disebutkan dalam perikop ini apakah juga merupakan cermin dari kehidupanmu? Gereja paling mudah menghasilkan kehidupan yang bersifat permukaan kulit luar, demi mendapatkan pengakuan dan tepuk tangan dari orang lain, kita telah menghabiskan banyak sekali tenaga untuk mempertahankan ritual penampilan luar dan kesalehan, ini mungkin merupakan persekutuan yang stabil dan persembahan yang berkala, tetapi tidak pernah berpikir hendak mempersembahkan diri sendiri yang sama secara luar maupun dalam, dalam berserah diri kita mungkin akan menyisakan sebagian ruangan bagi diri sendiri, berpendapat diri sendiri sudah melakukan tuntutan gereja atas ritual penyembahan berpenampilan luar, maka tidak perlu mengadakan perubahan secara total atas kualitas kehidupan dan moral standar diri kita sendiri, pelahan-lahan kehidupan kita mulai menjadi munafik, ibadah setiap minggu dan pelayanan pelahan-lahan menjadi hampa. Mulai hari ini, hentikan memberikan persembahan yang hampa kosong, persembahkan tubuh dan hati diri sendiri.