「Sukarela Menaati」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Yes. 1:16-20 [ITB])
16Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
18Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
19Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.
20Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.
Menghadapi pemimpin Sodom dan rakyat Gomora, Yes. 1:16-20 mengemukakan umat Israel membutuhkan tindakan bertobat. Terlebih dahulu, umat Allah sesungguhnya tidak perlu mempersembahkan lebih banyak lagi barang persembahan, juga tidak membutuhkan lebih banyak persekutuan dan hari perayaan, tetapi perlu menghilangkan perbuatan buruk mereka, berhenti berbuat jahat, juga hendaknya belajar berbuat kebaikan dan mengusahakan keadilan, dua hal yang umat Israel harus lakukan adalah berhenti berbuat dosa dan mengusahakan kebaikan, mereka sudah terbiasa berulang melaksanakan keahlian tuntutan ritual penyembahan permukaan kulit luar, mereka melalui kesalehan permukaan kulit luar ingin melepaskan diri dari dosa penindasan yang mereka lakukan, namun yang Allah lihat dan hargai bukanlah sogokan ritual penyembahan yang bersifat kulit luar, dan persembahan hampa yang dibawa kepada Allah, tetapi adalah pembaharuan kehidupan yang berasal dari dalam menuju keluar, serta luar dan dalam yang sama, pembaharuan kehidupan harus dimulai dari pertobatan.
Keadilan yang disebutkan ayat 17 dalam bahasa aslinya 「mĭšpāṭ」, kata ini adalah persamaan kata dari hukum Taurat Musa, juga bisa diterjemahkan sebagai keadilan masyarakat (social justice), isi secara realistiknya menyangkut menolong pihak yang tertindas; membela hak anak-anak yatim, memperjuangkan perkara para janda, semua ini adalah tindakan yang sangat realistik. Pemimpin adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan menolong pihak yang tertindas, mereka bisa membela dan berjuang bagi kaum lemah, jika mereka berdiri di posisi tinggi namun tidak melaksanakan tuntutan hukum Taurat, maka sama dengan menjadi sekutu para penindas, menjadi pembantu penjahat.
Tetapi, tuntutan melakukan keadilan macam ini bukan merupakan tindakan masyarakat yang tidak memiliki dasar teologis, keadilan masyarakat yang dikatakan dalam Alkitab adalah keadilan masyarakat yang bersifat teologis, dan bukan merupakan semacam tindakan masyarakat tanpa sifat iman kepercayaan. Keadilan masyarakat yang bersifat teologis ini tersambung dengan apa yang disebutkan ayat 19 sukarela menurut dan mendengar, ketaatan macam ini didasarkan bahwa Allah adalah Pemberi perintah atas hukum Taurat, tuntutan-Nya dan ketaatan adalah alasan paling dasar dari pelaksanaan keadilan masyarakat. Hendaknya dipahami bahwa menaati tuntutan hukum Taurat bukanlah semacam pertimbangan politik atau kontraksi antar masyarakat. Saat umat Israel bersedia menaati perintah Allah, mereka akan memandang hukum Taurat sebagai perintah, dan bukan sebagai semacam opini masyarakat, perintah tidak sama dengan opini, perintah memandang Allah sebagai Tuhan (Tuan), yang dituntut adalah mendengarkan dan menaati, opini memandang Allah sebagai pemberi usul, orang memiliki hak mempertimbangkan sebagai pandangan yang tidak sesuai dan membuat keputusannya diri sendiri. Tetapi tuntutan Allah adalah mendengarkan perintah dan menaatinya.
Mendengarkan dan menaati membawakan akibat yang bagaimana? Ayat 18 menunjukkan akibatnya adalah 「Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba」. Ini mewakili pengampunan Allah dan penyembuhan, di sini, pengampunan Allah bukan karena Dia harus memiliki kewajiban mengampuni tanpa syarat, pengampunan-Nya adalah didasarkan pada sukarela kebebasan Dia sendiri, namun Dia mengikat pengampunan dari diri-Nya sendiri pada syarat orang menaati Allah, Allah di sini berjanji, manusia selalu memiliki kemungkinan bertobat mendapatkan pengampunan, bahkan jikalaupun kehidupan kita sedemikian penuh kegelapan, namun juga memiliki pengharapan untuk berbalik arah.
Renungkan: 「sukarela menaati」 adalah respon jawaban atas hukum Taurat TUHAN, tindakan yang paling seharusnya dimiliki, tetapi banyak waktu, kita mungkin akan berkompromi karena berbagai tekanan masyarakat dan politik di dalam masyarakat kita berada, sehingga merendahkan perintah Allah sebagai semacam usulan, melihat keuntungan di depan mata lebih tinggi daripada Allah, saat kita bertindak demikian, mungkin akan membawakan kemudahan jangka pendek, tetapi secara jangka panjang justru berbuat dosa terhadap Allah dan menjadi pembantu para penindas orang lain. Memohon Tuhan membuat kita mampu bersungguh hati bertobat, sukarela mendengar dan menaati.