Tag Archives: Surat Titus

Titus 3:12-15

「Petunjuk Terakhir dan Salam」

Apa konsep dasar dari nasehat Paulus kepada orang percaya di Kreta agar belajar melakukan pekerjaan yang baik, yang terkait dengan kita?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 3:12-15 [ITB])
12Segera sesudah kukirim Artemas atau Tikhikus kepadamu, berusahalah datang kepadaku di Nikopolis, karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin ini.
13Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan sesuatu apa.
14Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.
15Salam dari semua orang yang bersama aku di sini dan sampaikanlah salamku kepada mereka yang mengasihi kami di dalam iman. Kasih karunia menyertai kamu sekalian!

Kebiasaan Paulus di bagian akhir suratnya mengutus dan mengatur orang yang terlibat dalam pelayanan, berpesan tentang agenda dan perjalanan mereka, mengulang inti pesan surat, menghantarkan salam dan berkat. Seringkali terdapat tidak sedikit nama-nama orang muncul di bagian akhir surat yang ditulis Paulus. Di penutupan surat Titus, Paulus juga melakukan pengaturan tenaga pelayanan yang baru, Artemas atau Tikhikus akan menggantikan pelayanan Titus di Kreta, dan Titus akan berangkat ke Nikopolis, bertemu dengan Paulus. Nama Artemas ini pertama kali muncul dalam Perjanjian Baru, pemahaman kita terhadap dia tidak banyak; Tikhikus adalah seorang rekan pelayanan yang penting dari Paulus, Paulus memandang ia sangat penting. Mengenai tempat bernama Nikopolis ini, para peneliti Perjanjian Baru paling sedikit menemukan tujuh kota dengan nama yang sama, tidak mudah untuk menentukan Titus pergi ke yang mana.

Demikian juga, nama ahli Taurat Zenas juga pertama kali muncul dalam Perjanjian Baru, dan nama Apolos telah banyak kali dijumpai dalam surat Paulus (lihat 1 Kor. 1:12, 3:4-6, 46, 16:12 dsb). Ada peneliti yang memperkirakan bahwa surat Titus dititipkan oleh Paulus kepada Zenas dan Apolos. Searah dengan perjalanan, mereka mampir menyampaikan surat kepada Titus, setelah itu melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan tentang keramahtamahan menerima tamu (hospitality), ini merupakan satu macam kebajikan saat itu, juga merupakan salah satu kualifikasi penilik (Tit. 1:8). Para pekabaran Injil dan misionaris yang datang atas nama Tuhan, setiap sampai di satu tempat, perlu keramahtamahan dari orang percaya untuk menerima mereka. Paulus juga khusus berpesan kepada Titus, agar jangan sampai Zenas dan Apolos kekurangan sesuatu apa dalam kebutuhan mereka, juga khusus menekankan hendaknya「Tolonglah sebaik-baiknya」 sekuat tenaga memberi pertolongan kepada mereka (ayat 13), mungkin Titus perlu banyak melakukan tindakan untuk mengumpulkan ongkos yang diperlukan mereka, untuk menopang biaya yang dibutuhkan dalam perjalanan mereka.

Paulus memberikan perhatian untuk mendorong Titus dan gereja agar dengan keramahtamahan menerima tamu dan sekuat tenaga menolong Zenas dan Apolos, karena Paulus mengharapkan orang percaya di Kreta 「belajar melakukan pekerjaan yang baik」 (ayat 14), jika bisa memberikan pertolongan atas kebutuhan orang lain, maka mereka juga bisa memiliki buah kebaikan. Paulus khusus mengajukan perbuatan baik, adalah hendak merespon maksud utama dari surat ini. Setiap saat orang Kristen memberi perhatian atas kebutuhan orang lain, maka mereka adalah orang Kristen yang berbuah.

Seperti kebiasaan Paulus, di akhir surat ia akan menghantarkan salam kepada penerima surat dan gereja, namun kali ini Paulus tidak ada menyebutkan salam bagi satu nama orangpun, namun secara khusus menghantarkan salam kepada 「mereka yang mengasihi kami di dalam iman」. Kita bisa melihat dari perkataan Paulus 「mereka yang mengasihi kami」bahwa ia sangat memandang penting semangat dan tenaga dari kerjasama tim (teamwork). Paulus bersama dengan gereja Kreta adalah sebuah kerjasama tim, kasih yang mengalir dari mereka terhadap Paulus dan rekan pelayanannya, membuat hati melayani dari kedua pihak menjadi tersambung, kasih mereka terhadap Paulus adalah respon iman. Tentang apakah yang dimaksudkan dengan kata 「iman」 (in the faith) oleh Paulus di sini? Kata 「iman」 bisa menunjuk (1) iman kepercayaan yang benar, (2) bersandar dan percaya kepada Yesus, atau (3) iman Kristen. Tidak peduli mana yang dimaksudkan, orang percaya di Kreta telah mampu membuat iman nyata sebagai tindakan, karena iman terhadap Yesus menghasilkan tindakan kasih!

Kiranya berkat Paulus bagi Titus dan gereja Kreta, juga datang sampai kepada kita semua: 「Kasih karunia menyertai kamu sekalian!」 (ayat 15).

Renungkan: (1) pikirkan bagaimana kita melatih diri atas kebajikan ramah menerima tamu (hospitality); (2) apa pandangan anda terhadap perkataan ini: 「Apa yang disebut adalah kasih? Yakni melihat tanggung jawab diri sendiri dari dalam kebutuhan orang lain」; (3) periksa diri sendiri atas relasi iman dan kasih: 「Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih」 (Gal. 5:6)

Titus 3:9-11

「Peringatan Terakhir terhadap Kesesatan」

Dispilin gereja sudah dipandang ringan, tidak pernah dilaksanakan dengan tegas. Apa tindakan dan sikap kita terhadap para bidat atau orang yang menolak teguran dalam gereja?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 3:9-11 [ITB])
9Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.
10Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.
11Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri.

Titus 3:9 dimulai dengan kata 「tetapi」 ini adalah sebuah kata sambung yang menunjukkan adanya peralihan. Menunjukkan terdapat peralihan dalam pikiran dan atas apa yang hendak Paulus bicarakan, ia dalam teks sebelumnya dari topik orang percaya memiliki anugerah pembenaran dan pengharapan atas kehidupan kekal beralih kepada topik tentang kehidupan orang yang masih dalam dosa. Dalam ayat yang hendak direnungkan hari ini, Paulus menunjukkan ada sekelompok orang yang belum disucikan, masih tetap tersesat dalam perselisihan dan pertengkaran, pikiran dan hati nurani yang masih najis. Ini bukan pertama kalinya Paulus mengingatkan, namun mengapa Paulus hendak mengulangi sekali lagi peringatan kepada mereka? Mungkin karena Paulus masih memiliki harapan terhadap para guru palsu ini, menantikan mereka bisa bertobat, maka Paulus memberikan peringatan paling akhir kepada mereka, juga menunjukkan mereka akan menghadapi akibat yang gawat jika menolak nasehat ini.

Di sini peringatan Paulus yang paling akhir diberikan kepada mereka, adalah agar mereka waspada menghindari empat macam perkara yang kosong dan sia-sia, yakni perdebatan yang dicari-cari dan yang bodoh tentang omong kosong persoalan silsilah; serta percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat. Saat Titus menghadapi para guru palsu ini, ia menemukan bahwa mereka melenceng dalam ajaran teologis, oleh karena itu, Paulus berpesan kepada Titus dan orang percaya tidak hanya jangan terlibat dalam perdebatan diskusi yang 「tidak berguna dan sia-sia」 dengan mereka (ayat 9), terlebih lagi hendaknya menghindari mereka. Mengapa Paulus sedemikian keras? Ini adalah karena ajaran palsu mereka telah membuat orang percaya terpecah dalam percekcokan dan pertengkaran (ayat 9). Titus sebagai penjaga gereja, ia menuruti pesan Paulus, jika sudah satu dua kali dinasihati mereka masih tidak bertobat, maka lepaskan mereka!

Orang-orang yang hendak Paulus bawa kembali ini, menyeleweng dalam iman secara dasar teologis, dalam tingkah laku juga muncul perselisihan, bahkan pemecah belah. Titus seharusnya mengambil tindakan, di satu sisi hendak mempertahankan kemurnian iman dalam gereja dan dalam tingkah laku kehidupan sesuai ajaran Alkitab, pada saat yang sama hendak memperingatkan dan menunjukkan kesalahan mereka, berharap dapat membawa mereka kembali. Paulus juga pernah memberikan Timotius petunjuk semacam ini: 「dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya」 (2 Tim. 2:25-26). Jika orang yang menyebabkan perselisihan dan pemecah belah ini tidak mempedulikan nasihat dari gereja, maka hendaklah menolak pergaulan dengan mereka. Mengapa Paulus berkata sedemikian gawat? Ayat 11 menjelaskan alasan melepaskan mereka: 「Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri」. Di sini dengan jelas menunjukkan, jika mereka bersikeras melanjutkan berdosa, tingkah laku mereka telah menentukan dosa hukuman atas diri sendiri, dengan demikian mereka sudah merupakan orang yang di luar jemaat, gereja harusnya melepaskan mereka.

Dalam penutupan surat Titus, Paulus mengajukan topik tentang disiplin gereja (church discipline), mungkin ini juga adalah salah satu dari tugas yang ia berikan kepada Titus agar 「mengatur apa yang masih perlu diatur」 (Tit. 1:5). Yesus dalam Matius pasal 18 terhadap masalah disiplin, pernah mengajarkan demikian: jika ada anggota tubuh yang berbuat kesalahan dosa, terus menerus tidak mau menerima nasehat dan tidak bersedia bertobat, paling akhir 「 jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai」 (Mat. 18:17). Dan Paulus dalam urusan percabulan di jemaat Korintus, juga memberikan pandangan yang sama. Ia berpendapat 「orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan」 (1 Kor. 5:5). Tujuan Paulus bertindak begini, adalah hendak mempertahankan kesucian gereja dan paling akhir mengharapkan tetap bisa membawa kembali anggota tubuh yang berbuat dosa kesalahan!

Renungkan: (1) berdoa bagi orang yang bergumul di dalam dosa (baik yang sudah percaya Tuhan ataupun belum), memohon Tuhan agar mereka boleh seperti anak yang terhilang kembali bertobat; (2) memohon Tuhan membuat saya tidak memadamkan panggilan Roh Kudus, juga tidak membuat sedih Roh Kudus karena diri saya; (3) menjaga pengharapan agar gereja mempertahankan kesucian.

Titus 3:3-8

「Dasar dari Hidup yang Berkesaksian」

Apakah yang rasul Paulus ingin kita realisasikan dengan menuliskan 3 fasal surat Titus?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 3:3-8 [ITB])
3Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
4Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, 5pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 6yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, 7supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.
8Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.

Di dalam Titus 3:1-2 Paulus mengingatkan orang percaya agar hidup sebagai kesaksian, selanjutnya ia memberikan penjelasan tentang apa yang menjadi dasarnya. Titus 3:3-8 mencerminkan salah satu ciri khas surat Paulus, yakni memakai kalimat yang mempunyai format 「dahulu… sekarang / tetapi」. Titus 3:3-8 dan Efesus 3:1-10 sangat mirip, memakai kata 「dahulu… 」 yakni keadaan rohani dan kehidupan sebelum percaya Tuhan, dibandingkan yang「sekarang」 / 「tetapi」di dalam Kristus menikmati anugerah keselamatan dan berkat rohani. Saat Paulus memakai kata 「kita」(lihat ayat 3 「Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat… 」), tidak hanya mengekspresikan persetujuan pribadinya, terlebih menyatakan keadaan dari tindakan umat manusia sebelum mengenal Allah di dalam Kristus. Sebelum mendapatkan anugerah keselamatan, masih belum ditebus atau belum disucikan, dipenuhi dengan serangkaian kebiasaan buruk. Paulus kira-kira memberikan 9 macam contoh (di dalam bahasa aslinya karena ada kata sambung 「dan」, maka hanya terhitung ada 6 macam), yakni 「tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci」 (ayat 3).

Empat ayat Titus 3: 4-7 dalam bahasa aslinya merupakan satu kalimat, hendak mengatakan dengan jelas tindakan penebusan Allah yang memberikan keselamatan, dan bagaimana kasih karunia tersebut datang sampai pada diri orang percaya. Proklamasi pengakuan iman ini singkat pendek merupakan sebuah Mazmur atau rangkuman dari apa yang diimani, secara ringkas menjelaskan makna karya keselamatan dari Tuhan dan kelahiranbaru bagi orang percaya. Saat Paulus dalam ayat 8 berkata 「Perkataan ini benar」, artinya proklamasi pengakuan iman ini pada waktu itu telah beredar dan dipakai gereja mula-mula. Paulus melalui ayat 4-7, ia ingin orang Kristen mengingat ulang serta memahami kasih karunia dan isi dari anugerah keselamatan: dasar fondasi dari anugerah keselamatan (rahmat belas kasihan dari Allah), datangnya kasih karunia (lahir baru, diperbaharui, dibenarkan), cara (melalui Roh Kudus) dan tujuan (pengharapan hidup kekal). Keempat ayat ini memaparkan dengan jelas dasar fondasi dari hidup berkesaksian orang percaya, yang kini telah memiliki kehidupan baru di dalam Kristus, yang dahulu berkehidupan dalam kebiasaan buruk (ayat 3), kini telah dilahirbarukan, diperbaharui dan dibenarkan. Oleh karena itu, orang Kristen yang mendapatkan keselamatan dan disucikan memiliki kekuatan rohani untuk taat, melakukan kebajikan, tidak berkata fitnah, juga mendirikan relasi indah dengan orang lain. Ini semuanya adalah kasih karunia yang dianugerahkan Tuhan.

Paulus sekali lagi (yang keempat kalinya) secara langsung memberitahukan Titus hal yang hendak ia lakukan: 「aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya」 (mengatakannya / menekankan) (8 ayat). Hal-hal yang Paulus harapkan orang-orang yang telah percaya kepada Allah adalah dapat memberikan perhatian juga melakukannya dengan antusias, yakni kehidupan yang berkesaksian. Orang Kristen sepatutnya memiliki tingkah laku yang baik, bertujuan setiap hal yang dilakukan adalah kebajikan, selain bisa memuliakan Allah juga mendatangkan manfaat bagi orang lain berguna bagi manusia. (Lihat tujuan rasul Paulus menuliskan surat ini 「untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran yang nampak dalam ibadah kita (kesalehan kita)Titus 1:1b).

Renungkan: (1) introspeksi diri apakah saya sudah memakukan di atas salib kebiasaan buruk / saya yang lama, yang dahulu sebelum percaya Tuhan? (2) pilihlah dan renungkan satu atau dua hal dari ayat 4-7 yang melimpah dengan pengajaran anugerah keselamatan; (3) ambil keputusan di hadapan Allah untuk melakukan hal yang baik.


Tambahan Penerjemah:
Secara cepat bacalah ulang untuk mendapatkan inti-intinya dan kaitkan dengan inti dari renungan Titus 3:3-8 ini yakni: anugerah keselamatan (rahmat belas kasihan dari Allah), datangnya kasih karunia (lahir baru, diperbaharui, dibenarkan), cara (melalui Roh Kudus) dan tujuan (pengharapan hidup kekal). Apa kaitan Titus 1:1-3:2 dengan dasar fondasi dari hidup berkesaksian orang percaya, yang kini telah memiliki kehidupan baru di dalam Kristus, yang telah dilahirbarukan, diperbaharui dan dibenarkan?

Titus 3:1-2

「Menaati Orang yang Berkuasa」

Apa kewajiban orang percaya saat ada diluar gereja?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 3:1-2 [ITB])
1Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.
2Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

Paulus di pasal dua telah memberikan dorongan kepada orang percaya untuk mendirikan kebajikan dan berbuat kebaikan, juga menjelaskan dasar fondasi teologis kehidupan orang Kristen. Memasuki pasal tiga, Paulus khusus berbicara tentang kehidupan yang berkesaksian dari orang percaya, Titus 3:1-8 menjelaskan kesaksian kehidupan orang percaya saat berada di luar jemaat, Titus 3:9-11 menjelaskan standar kehidupan orang dalam gereja. Struktur Titus 3:1-8 sangat mirip pasal dua, yakni bagian pertama mengajukan keharusan adanya kesaksian yang baik (Titus 3:1-2), kemudian menjelaskan dasar fondasi teologis kehidupan yang berkesaksian (Titus 3:3-8).

Saat Paulus menunjuk Titus agar mengingatkan orang percaya, mungkin mereka sebelumnya sudah pernah menerima pengajaran, sekarang hendak mengulang berita yang terkait. Orang percaya memang benar-benar perlu secara berkala mengulang prinsip-prinsip kehidupan iman. Berbicara tentang kehidupan berkesaksian saat berada di luar jemaat, sangat alami jika terlebih dahulu berbicara tentang sikap terhadap orang-orang yang berkuasa, kemudian secara umum terhadap kelompok orang yang lain.

Paulus memberikan sebuah daftar tentang kehidupan berkesaksian orang Kristen, yang mengkaitkan antara tanggung jawab dan kebajikan:

Poin 1 adalah menaati orang yang dalam posisi dan yang berkuasa. Pasal dua telah berkata agar istri menaati suami (Titus 2:5), hamba hendak menaati tuan (Titus 2:9), sekarang yang harus ditaati orang percaya adalah orang-orang yang berkuasa. Paulus dalam surat Roma 13:1-8 juga telah memberikan pengajaran yang sejenis, orang percaya harus berusaha menjalankan kewajiban sebagai rakyat yang baik.

Poin 2, apakah ketaatan ini adalah menuruti secara absolut? Orang percaya apakah boleh ikut terlibat dalam perlawanan rakyat? Atau tunggu sampai keadaan yang sangat luar bisa seperti yang Petrus katakan: 「Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar」 (Kis. 4:19-20). Jika ada satu hari terjadi seperti yang dituliskan dalam kitab Wahyu (Why. 6:9-11 「… dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki」, Why. 12:11 「… tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut」 dan pasal 13-14), apakah ketaatan orang percaya adalah 「taat absolut」 kepada penguasa? (Siapa yang engkau pilih, penguasa atau Allah?)

Poin 3 adalah bersiap-sedia melakukan berbagai macam perbuatan baik. Orang percaya yang telah disucikan adalah orang yang telah siap berbuat kebaikan (Titus 2:14), bersiap-sedia melaksanakan setiap macam perbuatan baik termasuk melaksanakan kewajiban sebagai rakyat.

Poin 4 adalah jangan memfitnah. Memfitnah adalah berkata yang jahat atau perkataan fitnah, tidak sepatutnya berkata yang demikian terhadap siapapun juga termasuk orang yang memusuhi kita.

Tiga poin yang berikutnya ditujukan bagi relasi antar orang: 「janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang」 (ayat 2).

Poin 5 adalah jangan bertengkar, orang percaya dalam perkataan atau tingkah laku tidak seharusnya ada pertengkaran dengan orang lain. Ini tidak berkata bahwa terhadap segala urusan jangan mengekspresikan pendapat, di sini adalah menunjuk sikap dan hati tidak seharusnya bertengkar dengan orang.

Poin 6 adalah hendaklah selalu ramah. Ini adalah sikap yang memperlakukan orang dengan adil, sabar dan memikirkan orang lain.

Poin 7, paling akhir adalah lemah lembut terhadap semua orang. Poin 7 ini hampir mirip dengan poin 6, tetapi terdapat perbedaannya adalah: orang percaya hendaklah tetap lemah lembut walau dalam keadaan orang tidak bersikap baik atau memusuhi.

Tiga poin paling akhir ini adalah kebajikan yang seharusnya dimiliki orang Kristen, tidak peduli pihak yang ditemui adalah orang beriman atau tidak, kita tetap harus dengan murah hati, lemah lembut dan dengan sopan memperlakukan orang, juga termasuk jika itu adalah guru palsu.

Renungkan: (1) Menghadapi keadaan masyarakat yang tidak sesuai harapan ideal, memohon Tuhan mengaruniakan hikmat bagaimana melaksanakan perintah untuk taat kepada orang-orang yang berkuasa? (2) Pikirkan bagaimana dapat menunjukkan lemah lembut kepada orang lain dalam relasi antar manusia? (3) Apakah saya sudah bersiap-sedia berbuat kebaikan?

Titus 2:11-14

「Fondasi dari Kehidupan Orang Percaya」

Fondasi menentukan makna dan bagaimana kita hidup sebagai orang percaya.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:11-14 [ITB])
11Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.
12Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini 13dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, 14yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Surat Titus pasal dua terdapat dua bagian besar perikop, ayat 1-10 adalah terkait kebajikan kehidupan orang percaya, dan ayat 11-15 adalah efek dari anugerah keselamatan. Bagian pertama adalah tentang kehidupan, bagian kedua adalah tentang dasar fondasi teologis, sebenarnya apa relasi antara kehidupan orang Kristen dengan keselamatan dari Allah? Saat kita membaca dengan teliti, dapat menemukan ayat 11 memakai sebuah kata sambung 「karena」, ini menjelaskan prinsip yang hendak dikejar orang percaya, menegakkan dan melatih kebajikan kehidupan, adalah karena kasih karunia penebusan dari Tuhan! Paulus dalam ayat 11-14 menjelaskan dasar fondasi teologis bagi kehidupan orang Kristen. Karena karya keselamatan Yesus, penebusan-Nya membawakan pengharapan dan mendorong kita menegakkan kebajikan, maka orang percaya harus memiliki kebajikan. Hari ini kita telah mendapatkan anugerah keselamatan sepatutnya dalam kehidupan setiap hari aktif berusaha keras mengejar dan melatih berbagai macam kebajikan dalam kehidupan.

Titus 2:11-14 dalam bahasa Yunani merupakan satu kalimat, yang membicarakan anugerah keselamatan adalah kenyataan yang terjadi dahulu, sekarang dan akan datang. Dari strukturnya, nama Yesus muncul dua kali (Titus 2:11, 13), dan dalam dua ayat ini menjelaskan bahwa orang percaya yang hidup zaman kini adalah menantikan Dia menyatakan diri yang kedua kali (ayat 12). Titik berat Paulus adalah hendak memberitahukan umat Allah, makna yang begitu besar dari anugerah keselamatan terhadap tingkah laku mereka sekarang ini (Titus 2: 12, 14a).

Paulus setelah dalam Titus 2:10 menyebutkan 「memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita」, ia segera di ayat 11-14 memperlihatkan efek dari Injil dalam kehidupan orang percaya. Kita melihat dalam ayat 11 mencakup empat topik utama penting, yakni Allah, penebusan, kasih karunia dan 「sudah nyata」. Paulus dengan jelas berkata : 「kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata」. Sekali lagi mengingatkan kita Injil ─ berita baik yang besar (good news) adalah terkait dengan Allah dan Juruselamat Yesus, penyataan diri-Nya (kedatangan yang pertama kali), Firman yang datang ke dalam dunia menjelma menjadi daging yang datang di dalam sejarah manusia, yakni Tuhan membawakan anugerah keselamatan untuk diberikan kepada semua manusia, termasuk orang Yahudi dan bangsa asing.

Yesus dalam pelayanan-Nya, melalui tutur kata dan perbuatan-Nya mengajar orang percaya. 「Ajaran」 menunjuk kepada pendidikan dan pelatihan yang diberikan kepada anak, yakni yang dikatakan dalam Surat Ibrani bahwa Allah Bapa 「menghajar」anak-anak-Nya (Ibrani 12:6, 7, 10). Ajaran Yesus bagi orang percaya mencakup dua aspek. Orang percaya hendak 「meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi」, karena dua macam hal ini bertentangan dengan karakter Tuhan. Lalu dalam zaman yang sesat ini, orang Kristen seharusnya menghidupkan tiga macam karakteristik kehidupan, yakni bijaksana (menjaga diri), keadilan, beribadah (kesalehan). Sebenarnya, ini tiga macam kebajikan pernah disebutkan dalam teks sebelumnya.

Orang Kristen hidup di dalam satu macam kondisi terkait masa depan yang disebut sebagai 「sudah / namun belum」 (already, not yet). Paulus di satu sisi mendorong orang percaya menjalankan hidup sehari-hari dalam kesalehan; di sisi lain, orang percaya aktif dan berusaha keras selama penantian kedatangan kedua kali kemuliaan Juruselamat, saat penggenapan penebusan dinyatakan (Titus 2:13). Paulus menyebutkan penantian ini sebagai 「pengharapan kita yang penuh bahagia」, yakni membawakan berkat pengharapan.

Berkata tentang penyataan Juruselamat, Paulus selanjutnya menunjukkan penebusan memiliki dua tujuan atau penyebab: Pertama, Allah hendak menyelamatkan kita lepas dari segala dosa; Kedua, Allah menyucikan kita, khusus menjadi umat Diri-Nya sendiri. (Bukan janji-janji kosong, namun sudah nyata.) Maka orang Kristen yang merupakan komunitas yang dipilih, mendapatkan keselamatan dan yang disucikan / dikuduskan, seharusnya memiliki satu macam karakteristik, yakni bersemangat (rajin) berbuat baik (Titus 2:14). Orang percaya rajin berbuat kebaikan adalah satu macam respon terhadap anugerah keselamatan dari Allah (bukan untuk membeli keselamatan, tidak ada manusia  yang mampu, hanya Yesus Sang Allah yang mampu memberikan keselamatan, betapa berharganya hal ini.). Kiranya kita bersama-sama belajar merespon anugerah keselamatan dari Allah.

Renungkan: (1) bersyukur atas kasih anugerah keselamatan dari Allah. (2) Penantian kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali memiliki satu macam 「pengharapan yang penuh bahagia」, lalu bagaimana saya menyesuaikan sikap hati atas kesulitan yang dihadapi? (3) 「Rajin berbuat baik」 adalah satu macam karakteristik kehidupan orang percaya, (karena sudah mendapatkan keselamatan) saya bagaimana berusaha keras 「tidak jemu-jemu berbuat baik」 ? (Gal. 6:9 「Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah」).


Tambahan Penerjemah:

Perbedaan dasar perbuatan baik

Perbuatan baik bertujuan mendapatkan keselamatan Perbuatan baik bagi orang yang sudah mendapat anugerah keselamatan
Motivasi dasar: untuk kepentingan diri sendiri Motivasi dasar: untuk bersyukur
Dasar pemikiran: dirinya mampu membeli (buy) keselamatan Dirinya tidak mampu, hanya Allah yang mampu memberi
Berdasarkan dua unsur diatas: kesombongan (saya bisa), pengutamaan diri dalam ketakutan (bagaimana caranya yang penting saya harus selamat) Berdasarkan kedua unsur diatas: kerendahan hati, mau mengalah (tidak apa-apa karena saya sudah punya pengharapan pasti), penuh damai sejahtera
Manusia: hidup dan berbuat baik bukan berdasarkan kasih.

Allah tidak punya bukti bahwa Ia penuh kasih. Hanya memberi perintah tetapi tidak menolong secara langsung, hanya bicara saja.

Manusia: hidup dan berbuat baik berdasarkan kasih.

Allah sudah memberikan bukti bahwa Ia penuh kasih, mau berkorban, menolong secara langsung dalam tindakan datang ke dalam dunia.

Titus 2:9-10

「Mengingatkan Hamba」

Pelajaran apa yang dapat kita pelajari dari nasehat Paulus bagi para hamba?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:9-10 [ITB])
9Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,
10jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

Titus 2:2-10 adalah pendidikan kebajikan yang Paulus berikan kepada orang percaya dan gereja, dan dengan nasehat kepada hamba sebagai penutup perikop ini (Titus 2:9-10). Apa yang dikatakan sebagai hamba di sini, adalah budak. Perjanjian Baru ada tiga surat (Ef. 6:5-8; Kol. 3:22-25; surat Filemon) yang secara langsung memberikan pengajaran terkait dengan hamba, dan muncul dalam perikop yang terkait dengan standar kehidupan keluarga. Oleh karena, hamba / budak saat itu merupakan anggota bagian dari keluarga orang Kristen dan komunitas. Ada peneliti yang berpendapat, saat itu dalam budaya Yunani Romawi, budak mungkin mencapai separuh dari populasi penduduk. Dalam Kisah para Rasul pernah disebutkan Lidia setelah percaya Tuhan, ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya(Kis. 16:15), ini sangat mungkin juga termasuk budak di dalamnya. Dalam komunitas iman, budak orang Kristen dan istri orang Kristen sama-sama diakui dan dihormati haknya dalam struktur keluarga.

Paulus dalam dua ayat ini, memberikan lima prinsip untuk dijaga oleh yang sebagai hamba. Pertama adalah menaati, yang dituliskan memakai kata kerja bentuk 「middlevoice」(bentuk kata kerja ini terdapat dalam bahasa Yunani, selain kata kerja yang berbentuk aktif dan pasif) yakni kata kerja yang dilaksanakan oleh pelaku pada diri sendiri. Kata mentaatidi ayat 9 ini mempunyai arti: hamba membuat dirinya sendiri taat! Dengan kata lain, budak hendaknya dengan rela hati secara pro-aktif membuat diri sendiri mentaati tuan, bukan pasif juga bukan terpaksa karena tidak ada jalan lain. Sebagai hamba Kristen, setelah mereka menjadi anak-anak Tuhan, dalam pandangan Allah kedudukannya adalah setara dengan tuan, seperti dikatakan dalam Gal. 3:28 tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Walaupun setelah mempunyai kedudukan rohani, mereka tidak mengalami perubahan identitas dalam masyarakat atau posisinya dalam keluarga tuannya. Namun tetap dapat memuliakan Allah lihat ayat 10.

Hal yang kedua adalah dalam segala hal berkenan kepada mereka, yakni agar berkenan kepada tuannya. Sikap macam ini bukanlah yang dibuat-buat, hanya di kulit saja, tetapi adalah memakai hati melaksanakan urusan yang diperintahkan tuannya, melakukannya dengan sempurna. Walaupun urusan ada yang ringan dan berat, namun bagi hamba urusan besar atau kecil semuanya diurus dengan memakai hati bersungguh-sungguh, memenuhi perintah tuannya. Dan yang selanjutnya adalah dalam bentuk larangan. Ketiga adalah, jangan membantah, ini bukan mengatakan agar menurut dengan buta. Tetapi menunjukkan bahwa hamba tidak seharusnya berkata yang memusuhi dengan tuannya, dalam perkataan menunjukkan tidak dihormati, atau dalam sikap memandang rendah tuannya, semuanya adalah tidak patut dilakukan. Keempat adalah jangan curang, yakni tidak boleh mencuri atau semaunya mengambil milik orang (terjemahan CCV). Ini mungkin adalah cobaan yang paling sering dihadapi hamba, yakni tidak jujur saat dipercayai tuannya untuk mengatur uang dan hartanya, menyalahgunakan uang, seperti memakai sebagian untuk kepentingan diri sendiri, dsb. Sebaliknya, untuk menghadapi ke dua larangan tersebut, yang kelima adalah hendaklah selalu tulus dan setia. Arti kesetiaan adalah percaya, karena itu hamba hendaknya dengan kesetiaan merespon kepercayaan tuan terhadap mereka. Hamba hendaklah menunjukkan kesetiaankepada tuan, menyatakan ia adalah jujur, dapat diandalkan dan setia.

Saat hamba terus menjaga lima sikap dan tingkah laku tersebut di atas, ini merupakan satu macam kehidupan yang berkesaksian dalam keluarga tuan dan masyarakat. Memproklamasikan kemampuan Juruselamat merubah kehidupan manusia, Firman kebenaran Tuhan nyata hidup dalam komunitas iman.

Ini tidak hanya bagi yang adalah budak, tetapi juga orang yang berusia tua, yang muda dan diri Titus sendiri, kebajikan kehidupan mereka hendaknya ditegakkan, membuktikan bahwa Firman kebenaran Tuhan dinyatakan, pada akhirnya semua kemuliaan merupakan milik Allah yang menganugerahkan Firman kehidupan! (Ayat 10b, … dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.)

Renungkan: (1) Apa rhema baru yang saya dapatkan atas menaati? (2) Apakah saya perlu introspeksi dan memperbaharui sikap saya terhadap orang yang memiliki kuasa di atas saya (orang tua, atasan, guru, gembala sidang)? (3) Memohon Tuhan menolong saya menyatakan kesetiaan dalam segala yang saya perbuat (studi, pekerjaan, pelayanan).

 

Titus 2:7-8

「Berpesan kepada Titus」

Apakah guna pesan rasul Paulus yang terkait diri Titus bagi kita?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:7-8 [ITB])
7dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

Paulus setelah menasehati empat golongan orang percaya dalam Titus 2:6, ia kemudian meletakkan perhatian pada diri Titus. Dalam Titus 2:7-8 Paulus walaupun seperti tidak meminta Titus mengejar kebajikan apapun, namun memberikan dia nasehat dalam dua aspek: yakni hendak menjadi teladan dan berhati-hati atas pengajaran yang ia sendiri berikan. Paulus menasehati Titus: 「jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik」 (Titus 2:7). Titus hendaknya menjadi teladan bagi orang percaya, seperti pesan Paulus kepada Timotius agar menjadi teladan bagi orang percaya dalam lima aspek 「perkataan, tingkah laku, kasih, iman, kesucian」 (1 Tim. 4:12). Titus hendaklah dalam hal apa menjadi teladan? Yakni dalam perbuatan baik. Namun Paulus tidak menjabarkan apa yang disebut sebagai teladan dalam perbuatan baik. Di sini adalah yang keempat kalinya Paulus dalam surat Titus berbicara tentang topik 「kebaikan」 (Tit. 1:8, 16; 2:3, 7). Terdapat pengajaran yang melimpah tentang「perbuatan baik」dalam Alkitab. Paulus pernah berkata: 「… kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik …」 (Ef. 2:10); Tuhan menambahkan berbagai macam kasih karunia kepada orang percaya, sehingga kita 「berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan」 (2 Kor. 9:8). Perbuatan baik Titus merupakan kesaksian di dalam gereja, menjadi teladan bagi orang percaya.

Poin kedua dari pesan Paulus kepada Titus adalah terkait tugasnya, yakni agar berhati-hati atas pengajaran yang diberikan dirinya. Pengajaran memiliki makna yang melimpah di Perjanjian Baru. Yesus adalah seorang rabi, Ia pergi ke berbagai tempat ibadah mengajarkan umat; Salah satu bagian penting dari Amanat Agung yang Ia berikan yakni hendaknya「ajarlah mereka melakukan」 segala sesuatu yang telah Ia perintahkan kepada kita (Mat. 28:20). Dari antara karunia-karunia yang Tuhan anugerahkan, mengajar adalah salah satu talenta (Rom. 12:7); satu salah permintaan di antara kualifikasi penilik adalah cakap mengajar (1 Tim. 3:2); mengajar adalah salah satu dari 3 tugas penggembalaan (1 Tim. 4:13 「membaca Kitab-kitab Suci, membangun dan mengajar」).

Apa yang Paulus minta dari seorang pengajar adalah kebajikan dalam tindakan dan isi konten ajarannya. Paulus memberikan Titus tiga permintaan: yakni jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dalam pemberitaan, serta tak bercacat. Diantaranya, tak bercacat seharusnya dimiliki penilik (Tit. 1:5, 7). Kehidupan dan sikap pengajar sepatutnya memancarkan kejujuran dan kesungguhan; kejujuran merupakan manifestasi integritas seseorang (dapat dipercaya), dan kesungguhan adalah pancaran dari ketulusan hati. Ini adalah kualitas kehidupan pengajar kebenaran. Sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan, yakni tepat benar dan riil (sesuai kebenaran). Pengajar tidak bicara manis, berbunga-bunga namun tidak sesuai kebenaran, atau isinya seperti benar namun sesat, sehingga membuat pemberitaan kebenaran terdistorsi.

Jika pengajar setia mengajarkan orang percaya memahami kebenaran, maka mereka mampu membedakan benar dan salah. Jika motivasi Titus mengajar, tutur kata perbuatan, dan isi ajarannya, semuanya murni, maka para penentang (guru palsu) tidak dapat menyesatkan orang percaya, juga tidak bisa mengembangkan pengaruhnya. Tidak tahu apakah Paulus berharap para guru palsu ini timbul rasa malu sendiri? Saat mereka merasa malu sampai suatu tahap, mungkin ada kesempatan bertobat!

(Demikian juga hendaknya merupakan tuntutan bagi tindakan dan ajaran bagi orang tua, atau seorang pemimpin) Karena pohon yang baik akan berbuah yang baik, demikian juga 「Orang yang baik (keberadaannya) mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik (perbuatannya)」 (Mat. 12:35).

Renungkan: (1) Pikirkan perkataan ini「Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik」 (Mat. 12:35, RCUV); (2) Apakah saya memenuhi tiga permintaan atas pengajar (jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dalam pemberitaan, serta tak bercacat)? Termasuk dalam mengajar anak di rumah. (3) Membantu para pengajar kebenaran gereja untuk berhati-hati atas pengajarannya diri sendiri, karena 「guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat」 (Yakobus 3:1).

Titus 2:4-6

「Mendorong Orang Muda」

Apakah anda seorang berusia muda? Atau anda punya anak yang berusia muda? Bagaimana nasehat rasul Paulus?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:1-6 [ITB])
4dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.
6Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal

Surat Titus 2:1-10 adalah nasehat dorongan Paulus kepada orang percaya yang berbeda-beda tingkatan usia. Kemarin adalah nasehat kepada orang yang berusia lebih tua, hari ini adalah terhadap orang muda. Paulus memberikan dorongan secara terpisah kepada laki-laki dan wanita. Ayat 4-5 adalah ditujukan kepada wanita berusia muda, ayat 6 ditujukan kepada laki-laki muda.

Di sini, Paulus 「mendidik」 wanita berusia muda agar mengembangkan diri sendiri dalam enam macam kualitas. Sebagai seorang wanita Kristen yang berperan sebagai istri yang berada dalam kebudayaan Yunani Romawi pada zaman itu, sepatutnya memiliki model kehidupan yang bagaimana?

1) Mengasihi suami dan mengasihi anak-anaknya: ini adalah satu-satunya pengajaran yang muncul dalam Perjanjian Baru. Di sini titik berat dari kasih adalah menghormati dan setia, yang belum tentu merupakan perasaan romantis, namun adalah tanggung jawab yang mendasar terhadap keluarga.

2) Bijaksana (berjaga dengan hati-hati), berdisplin diri: dalam Titus 2:2 juga pernah memberikan pengajaran yang terkait kepada orang yang berusia tua (lihat renungan Titus 2:2-3). Bagi para wanita ini adalah satu macam bukti kebajikan istri yang terhormat (tidak sembrono).

3) Suci: Paulus dalam suratnya yang lain (Rom. 1:24-27; 1 Kor. 5:1; 1 Tes. 4:5) menunjukkan bangsa asing di dalam masyarakat memberikan kebebasan seksual, oleh karena itu, wanita berusia muda hendaknya dalam pikiran, perkataan dan tingkah laku tidak melakukan kesalahan moral ini, hendaknya menjadi wanita memiliki kebajikan kesucian.

4) Mengurus rumah tangga: yakni mengatur atau memperhatikan urusan rumah tangga. Ini adalah yang paling konkrit dalam enam macam kebajikan, juga adalah kebajikan yang terkait sebagai seorang istri yang baik.

5) Baik hati: yakni memperlakukan orang dengan kebaikan, murah hati (termasuk murah hati mengampuni) terhadap orang lain, adalah tanda seorang wanita yang baik.

6) Mentaati suami: ini diajarkan dengan jelas dalam Perjanjian Baru, yakni dalam relasi suami dan istri, istri hendak 「mentaati suaminya sendiri」 (Ef. 5:21-23; 1 Pet. 3:1). Ini adalah desain dari Allah terhadap pernikahan, dalam relasi suami dan istri, suami mengasihi istri, dan istri mentaati suami. Kebajikan mentaati, hendaknya dipelajari dan dibuat menjadi nyata tidak hanya dalam penikahan, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, yakni anak-anaknya hendaklah menuruti orang tua (Ef. 6:1-3; Kol. 3:20-21), juga dalam relasi tuan dan hamba (Tit. 2:9). Mentaati adalah satu macam kebajikan yang memelihara relasi dalam keluarga, anggota keluarga hendaknya「rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus」 (Ef. 5:21).

Dalam pengajaran yang Paulus berikan kepada orang muda tidak ada serangkaian penjabaran kebajikan, di 2:6 hanya ada satu nasehat yakni hendaklah 「menguasai diri」. 「Menguasai diri」 mempunyai konsep yang agak luas: berdisplin diri, menjaga dengan berhati-hati dan dengan seksama, kontrol diri, dll. Makna 「menguasai diri」 dalam perikop Titus 2:1-10 telah muncul 4 kali, dalam 2:2 laki-laki yang tua agar hidup sederhana, 2:3 wanita tua hendaknya hidup sebagai orang beribadah, 2:5 wanita muda hendaklah hidup bijaksana, 2:6 orang muda menguasai diri, menjelaskan nasehat ini adalah terkait dengan setiap kelompok tingkat usia. Di sini 「hidup sederhana」, 「bijaksana」, 「hidup sebagai orang beribadah」, dan 「menguasai diri」 semuanya adalah kebajikan yang sejenis.

Pada ayat 6 dalam ITB, CCV dan CNV terdapat kata 「segala hal」. Paulus mengingatkan orang muda dalam segala perkara, atau dalam berbagai aspek hendaknya berhati-hati dengan seksama menguasai diri (bijaksana). Menghadapi bermacam kesesatan di dalam dunia, orang percaya saat membuat keputusan seharusnya menjaga kejernihan otak, bertindak dengan hikmat bijaksana. Orang Kristen memeriksa terlebih dahulu apa yang disebut sebagai 「yang seharusnya dilakukan」, dan apa yang disebut sebagai 「yang tidak seharusnya dilakukan」, dan bagaimana melakukan, dsb. Dapat dilihat 「menguasai diri」 adalah kebajikan yang dimiliki seorang yang matang rohaninya.

Renungkan: (1) Dalam zaman emansipasi wanita ini, saudari-saudari Kristen bagaimana merespon pengajaran Alkitab? (2) Apakah engkau bersedia mengambil tekat di hadapan Allah untuk menjadi seorang yang mengurus rumah tangga? (3) Dalam masyarakat yang penuh gangguan kekacauan, mohon Allah memberikan hati yang mampu membedakan, dan penguasaan diri, keputusan-keputusan yang diambil dapat memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi orang lain.

Titus 2:2-3

「Menasehati Orang yang Lebih Tua」

Apa tanggung jawab kita sebagai orang yang berusia lebih tua daripada orang lain?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:2-3 [ITB])
2Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.
3Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik

Paulus dalam surat Titus 2:2-10 mengajukan pengajaran kehidupan kepada orang yang lebih tua, orang muda, Titus dan orang yang sebagai hamba. Di antaranya termasuk hendak mendirikan kebajikan dan hendak membuang kebiasaan buruk. Hari ini kita merenungkan Titus 2:2-3, yang terlebih dahulu mengingatkan orang yang berusia lebih tua. Berdasarkan pembagian usia saat itu, umur 50 ke atas dihitung adalah orang yang berusia tua, dan seorang peneliti pada zaman itu yang bernama Philo berpendapat usia tua adalah terhitung dari 60 umur ke atas, maka penatua di pilih dari antara orang-orang ini.

Titus 2:2 adalah perkataan kepada orang percaya laki-laki yang berusia tua. Paulus memberikan semangat para orang lebih tua hendaknya mengejar enam macam kebajikan dan melatih diri sendiri, sehingga murni tidak bercacat. Enam macam kebajikan ini adalah: hidup sederhana, terhormat, bijaksana (menjaga diri), iman, kasih, bertekun. Kita bisa membaginya menjadi dua kelompok untuk direnungkan. Kebajikan kelompok pertama adalah: hidup sederhana, terhormat dan bijaksana (menjaga diri), titik beratnya diletakkan pada aspek pengaturan diri sendiri. 「Hidup sederhana」, dan 「bijaksana (menjaga diri)」 mempunyai arti yang dekat. Mereka hendaknya 「hidup sederhana」 mungkin adalah 「tidak hidup sebagai peminum」 (Titus 1:7), karena peminum adalah masalah umum pada orang berusia tua dalam masyarakat Yunani Romawi. 「Terhormat」 adalah tidak sembrono, dihormati orang. 「Bijaksana」 atau menjaga diri (berdisplin diri), kebajikan ini merupakan tuntutan yang hampir muncul dalam segala tingkatan usia. Paulus dalam surat penggembalaan seluruhnya telah memakai 26 kali, dalam surat Titus muncul 12 kali. Di sini menjelaskan, seorang berusia tua yang memiliki kebajikan kebijaksanaan (berdisplin menjaga diri) di dalam segala hal memiliki batasan.

Kelompok Kedua kebajikan orang yang berusia tua adalah apa yang sudah dikenal baik orang Kristen: iman, kasih, dan ketekunan. Tiga macam kebajikan ini, adalah juga merupakan nasehat Paulus kepada Timotius hendaknya dikejar dengan sunguh-sungguh (1 Tim. 6:11). Orang percaya sering menggunakan「iman, pengharapan, dan kasih」 sebagai petunjuk arah saat membuat keputusan dalam kehidupan dan moralitas. Mengapa di sini Paulus tidak menuliskan 「pengharapan」? Sebenarnya, bertekun adalah suatu macam kegigihan dan kokoh yang telah mencakup makna masa depan (pengharapan). Kelompok kebajikan ini menjadi contoh tindakan kebajikan yang dasar bagi orang Kristen: iman terhadap Allah, kasih terhadap orang banyak, bertekun sampai masa kelak.

Titus 2:3 memberikan nasehat moral kepada para wanita berusia tua, ada dua peringatan dan dua larangan. Terlebih dahulu, perkataan tingkah laku mereka hendaknya menunjukkan kesucian. Para peneliti menunjukkan kata yang diterjemahkan ITB sebagai 「beribadah」 dapat berarti 「suci」 (lihat KJV dan NET), sebenarnya adalah menggambarkan tutur kata perbuatan para imam, oleh karena itu jika diaplikasikan di sini, adalah menunjuk tingkah laku wanita berusia tua yang hormat dan takut yang mungkin terkait dengan pelayanan di Bait Suci. Selain itu, mereka juga sigap memakai kebenaran untuk mengajar orang. Pihak yang diajar mungkin adalah wanita usia muda di Titus 2:4-5. Mereka tidak harus mengajar di tempat yang resmi, juga bisa melalui perkataan dan tindakan diri yang menyatakan kebenaran.

Selain itu, Paulus juga memberikan wanita berusia tua dua larangan: pertama, 「tidak berkata fitnah」, jangan mengunjingkan kelemahan orang lain, hendak menjaga lidah; Kedua, 「tidak menjadi hamba anggur」, ini juga tidak mengatakan jangan minum setetespun minuman alkohol, tetapi adalah berkata jangan dikendalikan oleh alkohol. Orang percaya tidak seharusnya menjadi budak alkohol, tetapi hendaknya dipenuhi dan diatur oleh Roh Kudus (Ef. 5:18). Kita melihat pesan yang Paulus berikan kepada orang yang berusia lebih tua adalah menghendaki mereka mendirikan teladan dalam kehidupan, dihormati oleh orang yang berusia lebih muda. (Walaupun jika kita belum berusia tua, namun tetap merupakan tuntutan menjadi teladan bagi yang berusia lebih muda dari kita)

Renungkan: (1) di dalam kehidupan ada kebajikan apa yang hendak lebih saya tegakkan? (2) memohon Tuhan menolong saya agar tidak melakukan kesalahan dalam hal perkataan (mampu menjaga lidah); (3) memohon Tuhan menambahkan saya kemampuan berdisplin diri; (4) apakah saya membuat orang yang berusia lebih tua mendapatkan hormat?

Titus 2:1

「Pengajaran yang Diberitakan Titus」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:1 [ITB])
1Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:

Beberapa hari ke depan, kita akan merenungkan surat Titus 2:1-10, terlebih dahulu kita mempelajari pemahaman awal terhadap perikop ini. Paulus di sini memberikan komunitas orang percaya suatu petunjuk arah kehidupan, perikop ini dapat dibagi menjadi tiga bagian: (1) ayat satu adalah khusus ditujukan kepada diri Titus, juga menunjukkan sikap dan kualitas tingkah laku yang seharusnya ada pada dirinya; (2) ayat 2-8 dengan konkrit menunjukkan standar / acuan kehidupan yang seharusnya dimiliki orang percaya, juga dijelaskan berdasarkan perbedaan usia dan gender; (3) ayat 9-10 dituliskan kepada orang yang sebagai hamba.

Ada peneliti yang menyebutkan Titus 2:2-8 sebagai berita mengenai aturan terkait keluarga. Sebenarnya, Perjanjian Lama dan Baru terdapat tidak sedikit pengajaran atas kehidupan keluarga dan standarnya. Dalam Perjanjian Lama, Ul. 6:4-9 menjelaskan iman hendaklah dijadikan bagian kehidupan; dan Perjanjian Baru ada tiga perikop menjelaskan kehidupan yang seharusnya ada dalam keluarga (Kol. 3:18-4:1; Ef. 5:21- 6:9; 1 Pet. 2:18-37). Titik berat teks-teks tersebut diletakkan dalam relasi antar orang dalam keluarga, dan fokus utama surat Titus 2:1-10 diletakkan pada keseluruhan karakter dan integritas pribadi orang percaya. Saat Paulus berbicara tentang setiap macam gender dan usia kehidupan orang Kristen, yang ditekankan adalah kualitas tingkah laku mereka, bukan relasi antar orang percaya. oleh karena itu, titik berat Titus 2:2-8 adalah menjelaskan kualitas karakter kehidupan orang percaya merupakan kesaksian yang dilakukan kepada manusia dunia!

Paulus sedemikian menekankan kualitas moral tingkah laku dalam fasal 2 ini adalah untuk memperlihatkan kekontrasan dengan 「orang yang hidup tidak tertib」 dalam teks sebelumnya Tit. 1:10-16! Guru palsu tidak bersedia menerima aturan sebagai standar; dan orang percaya yang terus menjaga kebenaran membuat kebenaran menjadi nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, Paulus meletakkan titik berat dari seluruh perikop pada tingkah laku yang dapat dilihat. Jika orang percaya hendak mentaati pengajaran Alkitab, tentu saja pemimpin memiliki peran yang penting, dirinya bertindak sebagai teladan, membuat kebenaran yang ia imani nyata dalam kehidupan.

Di awal perikop baru ini, Paulus secara langsung berpesan kepada Titus: 「Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat」 (Titus 2:1). Kata 「ajaran」 dalam ITB, atau diterjemahkan CUVT sebagai 「kebenaran」,  atau 「doktrin」 dalam CCV/CNV. Ada para peneliti mencoba membedakan doktrin dan pengajaran, 「doktrin」 titik beratnya diletakkan pada aspek mengetahui, apa yang dipertahankan dalam iman; kemudian fokus dari 「pengajaran」 (teaching) diletakkan pada tingkah laku, yang dinyatakan sebagai tingkah laku dalam kehidupan.

Titus sebagai wakil Paulus, hendak menyelesaikan tugas Paulus yang belum rampung, ia hendak memberitakan pengajaran yang sehat dan sempurna, di satu sisi mengukuhkan orang percaya, di sisi lain hendak menyumbat racun dari mulut guru palsu. Walaupun dapat dibedakan menjadi dua antara doktrin dan pengajaran, namun orang percaya tidak seharusnya jatuh ke dalam dikotomi (pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan). Iman dan praktik tingkah laku tidak bisa dipisahkan. Kebenaran yang sehat dan sempurna mencetak tingkah laku dalam iman, tepat seperti ada peneliti yang berkata: 「teologi yang baik mencetak karakter yang baik」

Ajaran iman juga mencakup tuntutan moral. Titus menyampaikan berita dan tuntutan kebenaran yang murni, sehingga mengukuhkan iman, juga memperkuat kualitas tingkah laku, sehingga tingkah laku kehidupan orang percaya menjadi fondasi bagi kesaksian tentang Tuhan Juruselamat.

Renungkan: (1) lakukan instropeksi apakah diri sendiri telah sesuai antara pengetahuan dan tindakan (2) memohon Roh Kudus mendorong agar saya memperlengkapi iman ikut kelas hari minggu / kelompok pertumbuhan / pelajaran yang memperlengkapi; (3) apakah bersedia berusaha keras lebih lanjut menjadi orang yang dapat mengajar orang lain? (bagi teman, anak di rumah atau karyawan).