Tag Archives: Hari Sabat

Yehezkiel 20:10-26

Pemberontak melawan Allah di padang gurun

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:10-26 [ITB])
10 Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan menuntun mereka ke padang gurun.
11 Di sana Aku memberikan kepada mereka ketetapan-ketetapan-Ku dan memberitahukan peraturan-peraturan-Ku, dan manusia yang melakukannya, akan hidup. 12 Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.
13 Tetapi kaum Israel memberontak terhadap Aku di padang gurun; mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan mereka menolak peraturan-peraturan-Ku, yang, kalau manusia melakukannya, ia akan hidup. Mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dengan sangat. Maka Aku bermaksud hendak mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka di padang gurun hendak membinasakan mereka. 14 Tetapi Aku bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
15 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun, bahwa Aku tidak akan membawa mereka masuk ke tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri, 16 oleh karena mereka menolak peraturan-peraturan-Ku dan tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku; sebab hati mereka mengikuti berhala-berhala mereka. 17 Tetapi Aku merasa sayang melihat mereka, sehingga Aku tidak membinasakannya dan tidak menghabisinya di padang gurun.
18 Maka Aku berkata kepada anak-anak mereka di padang gurun: :Janganlah kamu hidup menurut ketetapan-ketetapan ayahmu dan janganlah berpegang pada peraturan-peraturan mereka dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka. 19 Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, 20 kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.
21 Tetapi anak-anak mereka memberontak terhadap Aku, mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dengan setia, sedang manusia yang melakukannya, akan hidup; mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku. Maka Aku bermaksud mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka untuk melampiaskan murka-Ku kepadanya di padang gurun. 22 Tetapi Aku menarik tangan-Ku kembali dan bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
23 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun untuk menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan mereka ke semua negeri, 24 oleh karena mereka tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dan menolak ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dan matanya selalu tertuju kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. 25 Begitulah Aku juga memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-peraturan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup. 26 Aku membiarkan mereka menjadi najis dengan persembahan-persembahan mereka, dalam hal mereka mempersembahkan sebagai korban dalam api semua yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya Kubuat mereka tertegun, agar mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Yehezkiel 20 menjabarkan ulang sejarah Israel, dan perikop hari ini (Yeh. 20:10-26) mencatat sejarah bangsa Israel di padang gurun memberontak melawan Allah, tujuannya adalah agar orang Israel yang satu generasi dengan Yehezkiel mengenali sifat asali mereka adalah pemberontak, dan pemberontakan mereka tidak hanya terjadi di Mesir (Yeh. 20:5-9), tetapi juga terjadi ketika mereka berjalan di padang gurun.

Pertama-tama, kitab suci berkali-kali menunjukkan bahwa dahulu TUHAN memberikan perintah, ketetapan, dan tata cara di padang gurun di masa lalu, dan menjelaskan jika umat itu mematuhinya, mereka dapat hidup (ayat 11, 19), tetapi orang Israel tidak menaati hukum Allah, dan mereka membenci perintah Allah (ayat 13, 16, 21), tidak memelihara hari Sabat sebagai tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini menunjukkan bahwa pemberontakan orang Israel adalah sifat asali mereka, dari awal sampai akhir mereka adalah pemberontak. Oleh karena itu, Allah hendak mencurahkan murka-Nya kepada orang-orang ini (ayat 13, 21), tetapi Allah menyayangkan mereka dan tidak menghancurkan mereka (ayat 17). Di sini, kita melihat kemurahan Allah dan pemberontakan umat, Israel memandang rahmat Allah sudah sepatutnya, sebagai keharusan Allah memberikan anugerah, dan mereka tidak merindukan anugerah Allah dan tidak mengingat wajah asli mereka sebagai budak.

Di perikop ini beberapa kali disebutkan Sabat tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini mengikuti penjelasan Kej. 31:13 hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu, memelihara Sabat bukan untuk tujuan legalisme, tetapi agar Israel memiliki tata cara penggunaan waktu dalam setiap minggunya, menjalani gaya hidup seperti Allah dalam enam hari bekerja menciptakan dan beristirahat di hari ketujuh, dengan demikian menempatkan orang-orang Israel ke dalam ketertiban harmonis penciptaan. Pada saat yang sama, perjanjian Sinai menggunakan Sabat sebagai tanda perjanjian, memelihara Sabat adalah simbol perwakilan identitas Israel, pengaturan efektif agar orang Israel secara langsung ingat perjanjian. Sampai di Perjanjian baru, orang percaya beribadah di Hari Tuhan (hari Minggu), berpusat pada Kristus untuk memperingati hari kebangkitan Kristus maka dengan demikian menggantikan pemeliharaan hari Sabat dalam Perjanjian Lama. Perikop Kitab Suci berulang kali menyebutkan bahwa orang Israel tidak memelihara hari Sabat, itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mengingat identitas dasar mereka dalam perjanjian dengan Allah, sama sekali tidak mengakui identitas penting mereka sebagai umat perjanjian, seolah-olah mereka tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Oleh karena itu, Perikop Kitab Suci berkali-kali mengatakan bahwa orang-orang tidak memelihara hari Sabat, apakah ini hanya berarti bahwa mereka tidak patuh hukum Allah? Bukan sekadar demikian, itu juga menunjukkan bahwa mereka telah sepenuhnya meninggalkan status mereka sebagai umat perjanjian dan telah melupakan keselamatan serta kebaikan TUHAN kepada mereka!

Renungkan:
Mengapa umat Allah memberontak terhadap Allah? Karena mereka tidak menyadari identitas perjanjian mereka sendiri, tetapi juga tidak memandang kepada Allah yang dahulu mengadakan perjanjian dengan sumpah kesetiaan, mereka tidak berupaya mempertahankan identitasnya sendiri. Sebenarnya, kita adalah jenis orang yang bagaimana maka akan memiliki jenis perilaku yang bagaimana, jika kita melupakan identitas kita maka kita akan bertindak melawan Allah. Oleh karena itu, pada saat itu Yehezkiel mengingatkan orang Israel tentang identitas diri mereka adalah umat perjanjian, dan pada saat yang sama mereka juga harus mengenali bahwa mereka dahulu adalah pemberontak. Pengenalan atas siapa diri mereka dahulu dan identitas yang kemudian, itu membuat orang-orang Israel memiliki titik mula kehidupan yang berawal pada diri Allah. Apakah ini juga titik awal Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kejadian 2:1-4a

「Hari ketujuh penciptaan」

Oleh Dr. S.W. Patrick Tsang
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 2:1-4a [ITB])
1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.

Perikop Alkitab hari ini memberitahukan kepada kita bahwa Allah menyelesaikan ciptaan-Nya pada hari keenam, dan pada hari ketujuh Dia memproklamasikan telah menyelesaikan ciptaan-Nya, dan memberkati hari itu, menguduskannya. Di perikop ini menyebutkan bahwa Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya (Kej. 2:3b).

Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya (memisahkannya sebagai yang kudus). Arti asli dari kudus adalah memisahkan, menunjukkan bahwa hari ini adalah hari yang istimewa milik Allah. Memberkati hari ketujuh memiliki dua kemungkinan arti, yang pertama adalah bahwa Allah memberkati hari Sabat agar melalui hari ini kehidupan manusia bisa mendapatkan istirahat yang lebih berkepenuhan dan cukup. Makna kedua adalah bahwa setiap orang yang memelihara hari kudus ini akan diberkati oleh Allah.

Kata Sabat tidak disebutkan dalam perikop ini, tetapi itulah latar belakang munculnya hari tersebut. Ketika Musa memberikan Sepuluh Perintah kepada orang-orang Israel, memelihara hari Sabat menjadi perintah ketiga (Keluaran 20:8-11)

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya

Meskipun tidak dijelaskan bagaimana orang harus merayakan hari suci ini, tetapi melalui teks sebelum dan sesudahnya, kita dapat melihat bahwa fokusnya adalah istirahat. Allah tidak hanya menghargai enam hari pertama pekerjaan-Nya, tetapi juga menganggap hari berhenti ini sebagai hari suci. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (hari keenam; Kej. 1:26, 27), orang harus belajar dari Allah berhenti pada hari ketujuh. Dalam Perjanjian Baru Markus 2:27-28, Tuhan Yesus menunjukkan: … Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat. Karena Allah menetapkan hari Sabat, Dia adalah Tuhan atas hari Sabat, dan tujuan Ia menetapkannya adalah untuk kebaikan bagi manusia, bukan beban hukum.

Ibrani 4:3-10 mengutip Kejadian 2:2, menghubungkan hari Sabat dengan Allah berhenti pada hari ketujuh. Pada awalnya, Allah menetapkan hari Sabat adalah manusia beristirahat, tetapi itu dihancurkan oleh dosa dan orang tidak bisa beristirahat. Sampai perjanjian baru, mereka yang bersekutu dengan Allah melalui Yesus Kristus bisa mendapatkan istirahat yang sejati dan mencicipi lebih awal istirahat kekal di dalam Allah.

Ibrani 4: 9-11 Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. Allah menciptakan hari Sabat dan menjanjikan istirahat, tapi mengapa umat-Nya tidak bisa beristirahat? Ini karena mereka menolak untuk dekat dengan Allah melalui iman dan ketaatan, istirahat yang benar hanya dapat diperoleh di dalam Tuhan.

Hari ibadah bagi umat Kristen Perjanjian Baru bukan lagi Sabat Yahudi, tetapi hari Minggu, yang merupakan hari untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Jadi hari ini harus menjadi hari yang penuh kegembiraan dan kerinduan, kita memiliki persekutuan dengan semua jemaat dalam persekutuan, beribadah bersama, dan yang lebih penting, persekutuan dengan Allah, untuk memasuki peristirahatan surgawi.

Renungkan:
• Bagaimana seharusnya kita memelihara Sabat (Hari Tuhan) Perjanjian Baru?
• Kita tidak hanya membutuhkan istirahat bagi tubuh, tetapi juga rohani. Istirahat rohani terbaik adalah memiliki waktu untuk menyendiri dan saat teduh secara teratur. Apakah Anda secara teratur membiarkan rohani Anda beristirahat?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 1-11 ditulis oleh Dr. S.W. Patrick Tsang (曾錫華) dipublikasi pada bulan Maret 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yesaya 56:2

「Sabat Berhenti, Seperti engkau」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 56:2 [ITB])
2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.

Mengapa hari Sabat terkait dengan keadilan kebenaran Allah? Mengapa hari Sabat begitu penting? Mari kita kembali ke perintah keempat dari Sepuluh Perintah untuk memahami hubungan antara hari Sabat dengan keadilan kebenaran: tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga(Ul. 5:14)

Frasa seperti engkau juga dalam ayat tersebut adalah salah satu poin utama dari Sabat, dan poin kunci lainnya adalah kata pekerjaan. Kedua poin ini sebenarnya satu poin, saling terkait satu sama lain sehingga kita dapat memahami betapa pentingnya Sabat bagi umat Allah. Pekerjaan mengacu pada profesi, ini tidak mengacu pada semua pekerjaan (work), tetapi merujuk pada karir seseorang (occupation). Sabat tidak mengharuskan kita untuk menghentikan semua pekerjaan, tetapi mengharuskan kita untuk menghentikan apa yang perlu kita lakukan demi karir kita. Namun, konsep pekerjaan selain merujuk apa yang harus dilakukan demi karir, juga mencakup identitas dan status kedudukan yang dibawakan oleh karir ini. Faktanya, enam hari bekerja (berkarir) itu pasti akan membawa identitas dan status kedudukan posisi, ada sebagian orang adalah atasan, ada sebagian orang adalah bawahan, sebagian orang adalah asisten, sebagian orang adalah bos, identitas dan status kedudukan memisahkan orang dan membuat saling berhadapan (oposisi, bahkan konfrontasi), secara alami terdapat perbedaan posisi tinggi dan rendah dalam masyarakat, semuanya ini adalah hal alami di dunia yang kosong, yang muncul karena adanya pekerjaan (karir).

Hukum Taurat memerintahkan orang pada hari ketujuh jangan melakukan sesuatu pekerjaan. Ini bukan sekadar berarti tidak melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan untuk karir, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerja meletakkan identitas, status, kedudukan, nama, reputasi yang dimilikinya dalam enam hari, semua satu ragam baik tuan atau pelayan, semua kembali ke seperti engkau hakikat asali (bentuk asali, 本相), inilah Sabat. Pada hari Sabat, semua orang seperti engkau, tidak ada pembedaan status, kedudukan dan identitas, tidak ada kelas kasta, tidak ada oposisi, ini adalah keadaan kembali ke asali, setiap orang hidup dengan hakikat asali, dengan demikian, hari Sabat membuat orang mengerti dirinya sebagai ciptaan sama seperti orang yang lain, semua sama-sama membawa gambar dan rupa Allah, sama-sama adalah umat perjanjian anugerah, dan dalam keadaan Sabat (istirahat) merayakan kemerdekaan, yaitu dibebaskan dari jubah luar yang dibangun dari status kedudukan dan identitas, dan juga dibebaskan dari hasrat ambisi mengejar harta materi dan imbalan, membuat diri berhenti, dengan bentuk asali bergaul dengan hamba bawahan, hidup bersama anak-anak dengan hakikat asali ini, dan dengan aku yang sebenarnya (asali, tanpa bungkus jubah luar) menjadi anak-anak Allah, inilah kebenaran dan keadilan.

Ternyata penetapan hari Sabat menyuruh kita untuk meninggalkan pengejaran terus-menerus akan diri yang palsu (aku yang palsu), untuk membawa kita kembali ke diri sejati yang diciptakan oleh Allah, di hari ini kita mendapat pembebasan, di hari ini kita memahami berharganya bertindak belas kasih dan memberkati orang lain, dan juga paham untuk menghargai kebahagiaan orang-orang yang ada di depan mata kita, ini adalah keadilan kebenaran. Orang Kristen menggunakan hari Tuhan (di hari minggu) sebagai hari Sabat. Di gereja kita hidup dan berinteraksi berdasarkan hakikat asali (bentuk asali), tetapi di hari Tuhan kita masih sering mengenakan jubah luar: identitas serta kedudukan yang berbeda, gereja masih menjadi tempat yang belum bebas posisi, ketenaran dan kekayaan (minder atau juga sebaliknya ajang bagi yang ingin mengejar, baik yang sudah memiliki, atau yang belum memiliki). Dengan demikian, kita masih belum dapat lepas merdeka dari kerja enam hari, sehingga jatuh ke dalam beban berat dan kepedihan. Ketika kita beristirahat Sabat pada hari Tuhan (di hari minggu), kita patut berharap melihat Injil seperti engkau, ini barulah bisa membuat kita dapat memahami apa itu kemerdekaan bebas dan kasih, bukan hanya keadilan kebenaran tetapi juga anugerah keselamatan.

Renungkan:
Lihatlah orang-orang di sekitar Anda, apakah mereka atasan atau bawahan Anda, mereka pada asalinya seperti engkau juga, semuanya umat perjanjian, semua diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kiranya kita dapat melalui jangan melakukan pekerjaan, memahami hakikat asali kita dan menghargainya, itu adalah yang paling bernilai.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 56:1-2

Sabat dan Anugerah Keselamatan
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 56:1-2 [ITB])
1 Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. 2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.

Yesaya Ketiga dimulai dengan seruan TUHAN kepada orang Israel agar menjaga keadilan dan kebenaran, dan menunjukkan bahwa keadilan dan kebenaran adalah kedatangan keselamatan. Mengapa keadilan dan kebenaran terkait dengan keselamatan? Pertama-tama, kata keadilan (mishpat) dan kebenaran (zedapah) adalah kata sinonim, kriteria keadilan yang dibicarakan bukanlah didefinisikan oleh individual manusia, tetapi didefinisikan oleh hukum Taurat dari lima kitab yang dituliskan Musa. Keadilan dalam hukum Taurat bukanlah produk sekuler dari ideologi terkait kemanusiaan (humanisme), tetapi adalah kebenaran yang didefinisikan berdasarkan perintah dan ketentuan Allah, sehingga itu adalah keadilan kebenaran yang bersifat teologis (memiliki pemikiran dari dan terkait dengan Allah), dan realisasi atau praktik keadilan kebenaran terhubung dengan perjanjian dengan Allah. Sebagai umat Allah, alasan mengapa umat Israel harus mempraktikkan keadilan dan kebenaran yang bersumber pada hukum Taurat bukanlah karena keadilan memiliki pangsa pasar, tetapi karena mereka memiliki hubungan perjanjian dengan Allah, dalam perjanjian itu Allah berketetapan menyelamatkan bangsa Israel keluar dari rumah perbudakan Mesir. Berdasarkan tindakan keselamatan ini, umat Israel dapat meninggalkan Mesir yang tidak adil tidak benar, dengan bebas sampai di Gunung Sinai di mana Allah menegakkan perjanjian dengan mereka. Sejak itu, Allah telah mengumumkan hukum Taurat dan peraturan, semuanya merupakan standar perilaku yang sesuai keadaan perjanjian. Setiap orang Israel tidak boleh melupakan rahmat anugerah keselamatan Allah, sehingga ketika mereka tiba di tanah Kanaan, mereka tidak boleh lupa budi berkhianat terhadap kebenaran, mengelola tanah itu dengan cara Mesir yang tidak adil benar, sebaliknya, mereka harus memerintah di tanah dengan standar hukum Taurat, agar penindasan Mesir tidak akan terjadi berulang kali di tanah Kanaan, sehingga tanah Kanaan akan menjadi tanah keadilan dan kebenaran yang langka di dunia pada waktu itu karena Israel menjalankan hukum Taurat. Karena itu, orang-orang Israel sudah mengalami pertama-tama mendapat anugerah keselamatan, kemudian hukum Taurat; anugerah keselamatan terlebih dahulu, kemudian keadilan kebenaran. Keselamatan Allah adalah prakondisi keadilan kebenaran, tindakan keselamatan Allah pada saat yang sama juga merupakan dasar keadilan dan kebenaran. Di 56:1 Yesaya ketiga menghubungkan keadilan dan kebenaran dengan keselamatan, mengingatkan bangsa Israel akan hari-hari dahulu mereka di Mesir, ketika melintasi Laut Merah, memakan manna, Gunung Sinai, perjanjian, dll, melalui tindakan penyelamatan untuk mengenal TUHAN (Yahweh) yang menyelamatkan mereka.

Setelah itu, 56:2 tiba-tiba menuntut agar orang Israel menjaga Sabat dan hendaknya melarang tangan mereka sendiri melakukan kejahatan, dari segi penulisan sastra, tindakan menjaga Sabat berkorespondensi dengan tidak melakukan kejahatan, artinya menjaga Sabat sama dengan tidak melakukan kejahatan, Anda harus memelihara Sabat. Mengapa ayat ini mengemukakan pentingnya Sabat? Hal ini memiliki hubungan apa dengan keadilan kebenaran serta perjanjian?

Dari kitab Keluaran, kita memahami bahwa Sabat adalah tanda perjanjian Sinai (Kel. 31:13), orang Israel memelihara Sabat sebagai cara untuk menjaga perjanjian, seperti sebagai bukti agar orang lain mengerti bahwa kelompok orang ini adalah umat yang ditentukan (didefinisikan) perjanjian Sinai. Ini sangat penting bagi orang-orang Yehuda yang pulang kembali dari tempat penawanan pada waktu itu, karena mereka berada di bawah kekuatan besar Kekaisaran Persia, Yehuda bukan lagi negara berdaulat tetapi sebuah provinsi, mereka bukan sekadar mendefinisikan identitas diri mereka berdasarkan kewargaan suatu bangsa, terlebih karena Sabat adalah tanda perjanjian Sinai, mereka melalui tanda ini sebagai bukti untuk menjelaskan di manakah dasar identitas mereka. Singkatnya, mereka adalah kelompok umat pemelihara Sabat.

Renungkan:
Setelah Perjanjian Baru, orang-orang Kristen tidak lagi menjaga hari Sabat, tetapi sebaliknya menjalankan ibadah di hari Tuhan (di hari Minggu) karena ini adalah hari kebangkitan Yesus Kristus. Orang Kristen meletakkan pekerjaan mereka di hari Tuhan untuk melayani, beribadah dan menyembah Tuhan di gereja, dengan ini menunjukkan di manakah identitas jati diri mereka. Apakah Anda juga menghidupi identitas jati diri ini, dengan hari Tuhan menunjukkan diri Anda sebagai umat Allah?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 14:1-6

「Hidup dalam iman yang membuat orang terdiam tanpa bantahan」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 14:1-6 [ITB])
1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
2 Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. 3 Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: 「Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?」
4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.
5 Kemudian Ia berkata kepada mereka: 「Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?」
6 Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

Tema hari ini – penyembuhan pada hari Sabat adalah topik yang penulis Lukas sengaja ulangi. Dalam Luk. 13:10-17, Yesus baru saja menyembuhkan seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh jahat sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak, di sini kita menemukan lagi bahwa Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang sakit busung air pada hari Sabat.

Kitab Suci pertama-tama menjelaskan bahwa ini adalah adegan pesta, pemimpin orang-orang Farisi yang secara pribadi mengundang Yesus untuk menjadi tamu, tetapi tujuan mereka adalah untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan Yesus. Dari tradisi keagamaan orang Yahudi, makan malam yang diselenggarakan oleh tokoh-tokoh agama pada zaman itu bukan murni untuk bersosial. Mereka sedang menunggu kedatangan Mesias dan berdiskusi satu sama lain tentang siapakah yang memiliki kriteria Mesias, misalnya, perjamuan komunitas Qumran, mereka mengharapkan Mesias muncul di antara mereka dan menyatakan diri kepada mereka. Penantian yang saleh ini disebut Perjamuan Mesianik Eskatologis (Eschatological Messianic Banquet)

Dalam latar belakang ini, kita dapat membayangkan dan merenungkan, orang-orang Farisi dan Ahli Taurat ingin mengamati Yesus dengan teliti. Karena Yesus telah membangkitkan pandangan mata semua orang, dan tanda-tanda serta keajaiban menyertai diri-Nya, apakah Ia adalah Sang Mesias yang sejati? Dapat dipercaya bahwa perjamuan ini akan menjadi pertandingan gulat antara bersedia mengakui dan yang selalu ragu tidak percaya.

Yesus bukan tidak tahu pergulatan antar kekuatan religius semacam ini. Dia memilih untuk menghancurkan citra Mesias dalam hati mereka dengan cara yang paling langsung sebelum pesta dimulai. ── yakni yang memiliki karakter 「menjaga hukum Taurat secara ketat」. Sebenarnya diperbolehkan untuk menyembuhkan penyakit pada hari Sabat. Menurut literatur Rabi (M.Yowa 8.6), diijinkan melakukan pekerjaan menyelamatkan hidup di hari Sabat. Secara teori, tidak apa-apa untuk menyembuhkan penyakit, tetapi pertanyaannya adalah apakah penyakit yang dirawat melibatkan krisis segera.Jika kehilangan nyawa, jika tidak, maka tidak perlu menyembuhkan penyakit pada hari Sabat dan melanggar aturan Sabat.

Jelas, fokus Yesus bukanlah pada bagaimana penggunaan hukum Taurat. Titik berat Yesus adalah bahwa hari Sabat adalah hari agar manusia mendapatkan pembebasan (ἀπέλυσεν apelysen) di ayat 4 (dalam ITB diterjemahkan sebagai menyuruhnya pergi). Dalam catatan penyembuhan di hari Sabat yang sebelumnya, digunakan kata bahasa Yunani yang sama, dan Yesus membuka penyakit bungkuk yang telah mengikat wanita itu selama 18 tahun dan membebaskannya (lihat Lukas 13:12 dalam ITL 「… terlepaslah engkau daripada penyakit lemahmu itu」lebih harafiah, ITB 「… penyakitmu telah sembuh」 lebih fungsional). Ini adalah esensi dari Sabat yakni membuat orang diberkati, dan adalah membuat orang untuk dipulihkan kembali menikmati bagaimana Allah dahulu menciptakan manusia dengan sempurna di masa lalu dan memuliakan Allah pencipta manusia yang baik adanya itu (lih. Luk. 13:17).

Karena itu, Yesus tidak pertama-tama membiarkan orang untuk mencela atau mempertanyakan tindakan-Nya, seperti yang dilakukan kepala rumah ibadat. Kali ini, Ia langsung bertanya kepada orang-orang beragama ini apakah Ia pantas melakukannya. Ketika mereka menghadapi pertanyaan ini, mereka tampak lemah dan tidak dapat membantah. Kebenaran jelas membuat orang tidak bisa berkata-kata, bagaimana seharusnya perjamuan Mesias yang tinggal nama kosong namun tidak berisi ini dapat dilanjutkan?

Renungkan:

Sering kali, kita meneliti Alkitab seolah-olah itu tidak bertepi, tidak tepat sasaran, namun kita tampaknya telah menambah pengetahuan dan memperdalam pemahaman kita tentang iman, lalu ikut berpartisipasi sekedar berdikusi dalam beberapa jamuan makan Mesianik, namun tidak benar-benar masuk dalam kebenaran.

Kiranya kita bersedia di tahun baru ini, kapan pun kebenaran terungkap, kita benar-benar terdiam tanpa mampu membantah, melepaskan tindakan keagamaan lama yang kita miliki, dan masuk ke dalam iman yang membebaskan dan memerdekakan orang.


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Lukas 6:1-11

「Hendaklah Mempertahankan Hati Iman yang Mula-Mula」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 6:1-11 [ITB])
1Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
2Tetapi beberapa orang Farisi berkata: 「Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?」
3Lalu Yesus menjawab mereka: 「Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?」5Kata Yesus lagi kepada mereka: 「Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.」
6Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. 7Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.
8Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: 「Bangunlah dan berdirilah di tengah!」 Maka bangunlah orang itu dan berdiri. 9Lalu Yesus berkata kepada mereka: 「Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?」10Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: 「Ulurkanlah tanganmu!」 Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.
11Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Bertujuan agar manusia mengetahui siapakah yang merupakan Mesias yang sungguh benar, para penulis Perjanjian Baru, termasuk Lukas, semuanya bekerja keras memikirkan bagaimana memberikan sebuah presentasi agar orang Yahudi lebih mudah memahami penebusan yang digenapi Yesus, agar mereka mengetahui Yesus yang mati dipaku di atas salib, barulah merupakan cara keselamatan yang sungguh benar hendak digenapkan oleh Allah. Jika Yesus menginginkan orang-orang Yahudi dapat memahami penebusan ini, dan karena hukum Taurat keagamaan secara mendalam merupakan norma standar pembatas mereka, maka 「pemahaman ulang atas hukum Taurat Musa (reinterpretation of Mosaic law)」 merupakan sebuah tugas pelajaran yang sangat penting, agar orang Yahudi memahami pergumulan iman diri mereka, dan tahu dapat melepaskan hukum Taurat yang membuat orang mati, mengenal ulang Kristus yang membuat orang hidup, dan Injil yang hendak digenapkan.

Oleh karena itu, perikop hari ini hendak mengajak kita memahami ulang apakah yang disebut sebagai hari Sabat yang sesungguhnya, apa yang merupakan makna sesungguhnya dari hari Sabat.

Di catatan pertama, Yesus melalui ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya, maka hal itu telah membangkitkan pertanyaan celaan dari orang Farisi, tetapi Yesus justru dengan brilian telah menjelaskan makna hari Sabat. Yesus terlebih dahulu menyebutkan saat Daud di waktu yang dahulu lapar juga pernah mengambil dan makan roti sajian, tetapi jelas sekali saat itu selain imam, orang lain semuanya tidak boleh memakannya (lihat 1 Sam. 21:1-6). Kisah ini menjelaskan bahwa aturan hukum diadakan adalah bagi kebaikan orang, manusia hidup bukan demi menaati aturan hukum (Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat), inti yang hendak Yesus jelaskan bahwa orang tidak sepatutnya demi menjaga ketat aturan hukum dan sama sekali tidak mengijinkan perubahan, malah sebaliknya saat orang dalam bencana kesulitan dan penderitaan (Daud sedang diburu hendak dibunuh Saul), kelaparan orang dan kelangsungan hidup barulah merupakan perhatian yang sesungguhnya. Inti Yesus ini adalah hendak menantang kehidupan keagamaan orang Farisi yang dihasilkan bukan bagi kebaikan orang, tetapi yang semata hanya demi menaati aturan hukum. Agar ini dapat menyadarkan orang Yahudi saat itu. Seperti perkataan dalam Perjanjian Lama, hati yang bertobat barulah merupakan inti, dan bukan murni semata untuk menyelesaikan ritual mempersembahkan korban. 「Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.」 (1 Sam. 15:22).

Dalam perikop Luk. 6:6-11, pelajaran tentang hari Sabat sekali lagi menjadi fokus, nyata menonjol ini merupakan kesinambungan dengan apa yang dibicarakan Luk. 6:1-5 ─ Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dalam pembicaraan ini, sekali lagi telah dinyatakan bahwa hari Sabat diadakan bagi manusia, hari Sabat hendak membuat manusia mendapatkan kembali keindahan kehidupan seperti saat diciptakan, secara khusus menghendaki umat Allah yang kehidupannya telah dirusakkan, dapat mendapatkan kembali kehendak mula-mula Allah menciptakan dan kehidupan yang sempurna. Kel. 20:11 mengatakan: 「Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.」 Di sini disebutkan hari Sabat merupakan hari setelah Allah selesai menciptakan, menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan, segala ciptaan semuanya adalah hasil karya yang sempurna, dan semuanya yang diciptakan sepatutnya memuji Dia Sang Pencipta yang Maha Kuasa. Misnah (karya keagamaan orang Yahudi) di pada zaman itu dan juga di masa kemudian semuanya menyebutkan bahwa untuk menaati hari Sabat makan obat juga tidak diijinkan, ini mungkin ada alasan kebenaran! Tetapi inti hari Sabat adalah agar orang mengingat karya ciptaan Allah yang sempurna dan baik, maka Yesus dengan identitas Anak Manusia, identitas-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat, memberikan pemahaman ulang makna sempurna dan baik. Membuat orang yang memiliki kebutuhan dan orang yang kehidupannya rusak dapat memahami, menafsirkan ulang apakah yang disebut sebagai inti kebenaran dari hari Sabat. Agar orang mendapatkan lagi hati yang berpaling kembali kepada Allah Pencipta, dan bukan hanya semata demi mempertanyakan apakah telah menaati aturan hukum hari Sabat, atau melaluinya untuk menghakimi baik buruknya orang.

Renungkan: benar adanya, seringkali bukan hal yang mudah bagi kita untuk memperhatikan iman diri sendiri apakah sudah membatu kaku. Tetapi saat kita memperhatikan reaksi orang Farisi terhadap Yesus ─ penuh kemarahan hati, berunding bagaimana hendak menghukum Yesus ─ barulah akan menemukan: sebenarnya Yesus hendak mempertahankan hati iman yang mula-mula, merupakan hal yang akan tidak dipahami dan mendapatkan begitu banyak serangan, bahkan paling akhir dipaku di atas salib. Apakah kita akan sungguh-sungguh terus mempertahankan hati iman yang mula-mula? Tuhan, mohon kiranya menyingkirkan cawan pahit ini, tetapi jangalah menurut kehendak saya.

Imamat 23:1-3

Hari Sabat sebagai hari pertemuan kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 23:1-3 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Hari-hari raya yang ditetapkan Allah yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan yang Kutetapkan, adalah yang berikut.
3 Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi Allah di segala tempat kediamanmu.
4 Inilah hari-hari raya yang ditetapkan Allah, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
5 Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi Allah.
6 Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi Allah; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. 7 Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. 8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada Allah tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Imamat pasal 23 dan pasal 25 mencatat kekudusan dalam dimensi waktu, yaitu dari antara tujuh hari dalam seminggu, dan dari antara sepanjang tahun, ada hari-hari tertentu kudus daripada yang lain, ini tidak berarti bahwa hari itu sendiri telah berubah esensinya, tetapi berarti bahwa orang Israel harus memandang kepada TUHAN yang Kudus, mengkhususkan hari-hari kudus tertentu untuk mengingat bahwa mereka adalah umat perjanjian dan bahwa TUHAN adalah Allah mereka. Imamat 23:2 menggunakan hari-hari raya yang ditetapkan Allah sebagai pendahuluan, mengangkat tema seluruh pasal 23: hari raya kudus.

Hari Sabat pertama kali dicatat dalam Imamat 23:3. Beberapa peneliti berpendapat bahwa tata cara hari Sabat menjadi dasar dari tahun Sabat (7 tahun), tahun Yobel (tahun ke-50), dan hari raya lainnya, dan karena itu merupakan hari yang sangat penting. Akan tetapi, jika kita berbicara tentang hari Sabat, sering kali kita hanya berbicara tentang hari libur dan istirahat, tetapi penetapan hari Sabat bukan untuk hari libur, melainkan termasuk peraturan tentang bekerja dan peraturan istirahat.

Dalam hal peraturan kerja, Imamat 23:3 mengharuskan orang Israel untuk melakukan pekerjaan dalam enam hari, tetapi Keluaran 20:9 menyatakan enam hari bekerja keras dan melakukan semua pekerjaan, yang berarti bahwa orang Israel tidak boleh bermalas-malasan dalam enam hari, dan harus bekerja dengan tekun. Kata bekerja dapat diartikan sebagai karir, yang berarti bahwa orang Israel harus melakukan yang terbaik untuk mengelola karir mereka sendiri dalam enam hari.

Mengenai peraturan istirahat Sabat, Imamat 23:3 mengharuskan untuk tidak melakukan pekerjaan apa pun. Ini tidak berarti bahwa tidak dapat melakukan apa-apa, yang dibatasi tidak boleh dilakukan adalah pada karier (juga kata pekerjaan). Dengan demikian, pada hari Sabat Jangan melakukan hal-hal tentang karier, tetapi dapat melakukan hal-hal yang bukan karier. Selain itu, hari Sabat adalah hari kudus, ada pertemuan kudus, orang Israel harus mengesampingkan karier mereka dan memisahkan hari ini khusus untuk dikuduskan bagi TUHAN, dan sekali lagi dalam pertemuan kudus mengakui TUHAN sebagai Allah mereka.

Renungkan:
Kita hidup dalam kesibukan di kota yang tersibuk di dunia, sedikit atau bayak kita mendefinisikan nilai-nilai kita berdasarkan seberapa sibuk kita, dan bahkan membiarkan diri kita sibuk tujuh hari seminggu, sehingga kita dan orang lain merasa bahwa kita adalah orang penting. Namun, peraturan Sabat membuat kita melihat bahwa nilai kita tidak terletak pada karier kita tetapi pada hubungan kudus kita dengan Allah. Ketika Allah menetapkan hari Sabat sebagai hari kudus, itu sama dengan membuat agar orang Israel menyatakan bahwa diri mereka sepenuhnya memasuki ranah kekudusan, dengan demikian, itu menjadi penentu arah kehidupan. Bahkan jika karier selama 6 hari seakan-akan dapat mewujudkan diri, itu tidak dapat dibandingkan dengan keberadaan kudus hari ketujuh. Dan apakah Anda mendefinisikan diri Anda sebagai orang yang sibuk, Anda membuat kehilangan diri dalam pekerjaan?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Keluaran 20:7-11

Nama kudus dan hari kudus

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kel. 20:7-11 [ITB])
7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, 10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. 11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Perintah ketiga, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, berbicara tentang semangat ibadah. Nama TUHAN melambangkan sifat kudus-Nya. Salah penggunaan nama Allah adalah penghinaan besar bagi-Nya. Kitab Keluaran khusus mencatat makna dari nama Allah yang dinyatakan kepada untuk wahyu Musa (Kel. 3:14), setelah insiden anak lembu emas, TUHAN lebih mengizinkan permohonan Musa bersama dengan dia menyatakan nama kudus Allah, dan sifat kasih karunia-Nya (33:19 Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani; 34:6-7 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat』」).

Perintah ketiga ini dilandaskan pada dasar ini, menuntut kita untuk menghormati nama TUHAN. Baik dalam pikiran dan perkataan, harus ada rasa hormat yang sebesar-besarnya, dan tidak boleh ada sikap yang tidak hormat, sehingga sembarangan menggunakan nama kudus Allah, termasuk menyalahgunakan nama Allah untuk bersumpah dan mengutuk orang. Dan bukan saja tidak menyalahgunakan nama Allah, tetapi juga harus menggunakan nama Allah dengan benar, seperti: berdoa, memuji, bersaksi, dan memasyhurkan, memberitakan.

Perintah keempat, Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, berbicara tentang saat menyembah. Ini adalah perintah positif yang pertama, bukan perintah larangan, dan merupakan perintah terpanjang. Haruslah mengingat hari Sabat, dalam Ulangan 5:12-15, itu harus menjadi mengingat menjaga hari Sabat, dan alasan yang berbeda. Keluaran dari Mesir adalah mengenang akan ciptaan Allah, dan Ulangan adalah mengenang akan keselamatan Allah, dan hari Sabat harus memelihara sebagai hari raya.

Kata Ibrani yôm haššabbāt hari Sabat yang artinya adalah bahwa salah satu dari tujuh hari adalah hari kudus dikhususkan bagi TUHAN. Pada hari ini, orang harus beristirahat, pekerjaan apapun tidak boleh dilakukan (Kel. 16:25). Hari Sabat berasal dan ditentukan oleh Allah, setelah Dia selesai menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, Dia beristirahat dan menetapkan hari ini sebagai hari yang kudus (Kejadian 2:3).

Arti utama hari Sabat adalah untuk mengakui bahwa TUHAN adalah Tuhan penguasa atas waktu. Meskipun Dia adalah Allah Tuhan atas seluruh sejarah, tetapi Dia telah secara khusus menetapkan waktu bagi orang-orang untuk dikhususkan dipisahkan sebagai yang kudus dan khusus hanya untuk Dia saja, sehingga hari ini akan menjadi tempat kudus dalam dimensi waktu. Sama seperti Dia adalah Allah Tuhan atas seluruh bumi, Dia menempatkan manusia di Taman Eden dan menghendaki mereka untuk membangun tabernakel dan bait suci, sebagai tempat kudus dalam dimensi ruang tempat, agar manusia menyembah Dia.

Renungkan:
(1) Sabat adalah waktu kudus, semua orang di hari ini istirahat secara jasmani, pembaruan rohani, sukacita menikmati pemeliharaan Allah yang kaya dan penyertaan-Nya.
(2) Nenek moyang jatuh ke dalam dosa dan diusir dari Taman Eden, kehilangan istirahat (sabat) mereka.
(3) Orang-orang percaya hari ini menerima keselamatan di dalam Kristus, menggunakan hari Tuhan (hari minggu) untuk menyembah Allah, kembali ke tempat kudus rohani, dan menikmati istirahat rohani (dalam hati, jiwa dan roh).


Renungan pemahaman Kitab Keluaran

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Keluaran 19-40 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2015 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.