Tag Archives: kekudusan imam

Imamat 21:1-4

Para imam janganlah menajiskan diri

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 21:1-4 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya, 2 kecuali kalau yang mati itu adalah kerabatnya yang terdekat, yakni: ibunya, ayahnya, anaknya laki-laki atau perempuan, saudaranya laki-laki, 3 saudaranya perempuan, yang masih perawan dan dekat kepadanya karena belum mempunyai suami, dengan mereka itu bolehlah ia menajiskan diri. 4 Sebagai suami janganlah ia menajiskan diri di antara orang-orang sebangsanya dan dengan demikian melanggar kekudusannya.
5 Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya.
6 Mereka itu harus kudus bagi Allahnya dan janganlah mereka melanggar kekudusan nama Allahnya, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian Allah, santapan Allah mereka, dan karena itu haruslah mereka kudus.
7 Janganlah mereka mengambil seorang perempuan sundal atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, karena imam itu kudus bagi Allahnya.
8 Dan kamu harus menganggap dia kudus, karena dialah yang mempersembahkan santapan Allahmu. Ia harus kudus bagimu, sebab Aku, Allah, yang menguduskan kamu adalah kudus.
9 Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api.
10 Imam yang terbesar di antara saudara-saudaranya, yang sudah diurapi dengan menuangkan minyak urapan di atas kepalanya dan yang ditahbiskan dengan mengenakan kepadanya segala pakaian kudus, janganlah membiarkan rambutnya terurai dan janganlah ia mencabik pakaiannya. 11 Janganlah ia dekat kepada semua mayat, bahkan janganlah ia menajiskan diri dengan mayat ayahnya atau ibunya. 12 Janganlah ia keluar dari tempat kudus, supaya jangan dilanggarnya kekudusan tempat kudus Allahnya, karena minyak urapan Allahnya, yang menandakan bahwa ia telah dikhususkan, ada di atas kepalanya; Akulah Allah.
13 Ia harus mengambil seorang perempuan yang masih perawan. 14 Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya, 15 supaya jangan ia melanggar kekudusan keturunannya di antara orang-orang sebangsanya, sebab Akulah Allah, yang menguduskan dia.

Imamat pasal 21 – 22 adalah dua pasal yang sangat khusus, terutama menjelaskan kualifikasi untuk menjadi seorang imam dan syarat dalam mempersembahkan korban. M. Hildenbrand menunjukkan struktur chiastik (berbentuk engsel) atas dua pasal ini:

A Syarat menjadi imam mempersembahkan korban dan kerabatnya (21:1-15)
………B. Orang yang cacat tidak boleh menjadi imam (21:16-23)
………………X Bagaimana seharusnya imam mencegah pencemaran benda-benda kudus (22:1-16)
………B’ Hewan yang cacat tidak boleh menjadi persembahan korban (22:17-25)
A’ Syarat menjadi persembahan korban dan kerabatnya (22:26-28)

Dari struktur berbentuk engsel di atas, terlihat bahwa syarat menjadi imam memiliki korespondensi dengan syarat menjadi persembahan korban, imam dan korban itu sendiri tidak boleh cacat, terdapat kesamaan syarat antara imam dan korban. Ayat ini bukan untuk mendiskriminasi imam yang memiliki cacat tubuh, mereka tidak dapat melayani di tempat kudus bukan karena kenajisan moral (moral impurity), tetapi untuk menunjukkan manusia dan korban yang lengkap (tidak cacat) adalah simbol keutuhan, tahir ritual (ritual purity). Korban yang tidak cacat melambangkan persembahan korban yang terbaik, orang tidak boleh mempersembahkan korban yang kualitas rendah kepada Allah, tetapi mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Demikian pula, seorang imam yang tidak cacat melambangkan orang yang utuh, dapat mewakili orang Israel mempersembahkan korban. (Zaman ini tidak lagi membutuhkan ibadah di Kemah Pertemuan, jadi tuntutan imam yang tidak cacat tidak lagi berlaku)

Bilangan 19:18-19 menunjukkan bahwa rakyat Israel harus menahirkan diri setelah menyentuh mayat, bahkan warga sipil harus memperhatikan kenajisan akibat menyentuh mayat, apalagi dengan imam. Karena imam menyentuh mayat tidak hanya membahayakan hidupnya saat melayani, tetapi juga mempengaruhi kesejahteraan seluruh Israel. Karena itu, imam adalah kepala bagi umat (Im. 21:4), janganlah menajiskan diri sendiri. Walaupun imam membahayakan hidupnya jika menyentuh mayat, tetapi mereka dapat menangani kerabat terdekat yang mati (Im 21:2-3), karena jika tidak melakukan penguburan untuk orang mati adalah kejahatan besar (Ul. 21:23), ini lebih jahat daripada menyebabkan kenajisan pada diri imam itu.

Renungkan:
Para imam menjadi wakil umat Israel, mengabdikan diri pada penanganan benda-benda kudus dan korban, sehingga harus tidak cacat. Demikian juga, korban tang dipersembahkan harus tidak cacat. Apakah kita mempersembahkan kehidupan dan hal-hal kualitas rendah kepada Allah? Sering kali, di hati kita posisi Allah lebih rendah, kita berpikir bahwa selama kita mengorbankan sebagian dari hidup kita, kita dapat bersembunyi dari surga dan secara permukaan sudah memberi yang terbaik, menjadi kesalehan palsu untuk memenangkan tepuk tangan orang lain. Siapa tahu ini setara dengan mempersembahkan cacat kekurangan kepada Allah dan menyimpan yang bauk untuk diri sendiri. Mohon Tuhan membantu kita agar mempersembahkan yang terbaik kepada Allah sebagai respons atas kasih-Nya yang telah mengorbankan hidup untuk kita.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.