Tag Archives: Hidup dalam Terang

Yesaya 60:1-9

「Bangkitlah, Menjadi Teranglah!」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 60:1-9 [ITB])
1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. 3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. 4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. 5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. 6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. 7 Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku. 8 Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya?
9 Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh; kapal-kapal Tarsis berlayar di depan untuk membawa anak-anakmu laki-laki dari jauh, perak dan emasnya dibawa serta, untuk nama TUHAN, Allahmu, dan oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, sebab Ia mengagungkan engkau.

Bangkitlah, menjadi terang!

Menghadapi zaman / generasi yang gelap, Allah mengeluarkan seruan besar dalam Yesaya 60, menghendaki semua umat Allah untuk bangkit dan bersinar! (ayat 1) Kitab Suci sejak awal menjelaskan bahwa bersinar seperti itu tidak bergantung pada kekuatan dan prinsip pikiran diri seseorang, tetapi memancarkan kemuliaan Allah (Yes. 60:1, 2, 13), kemuliaan Allah menerangi anak-anak Allah, umat Allah seperti bulan memantulkan kemuliaan Allah, inilah yang menjadi prinsip dasar umat Allah yang bersinar. Mereka tidak memancarkan cahaya lain, mereka bukan benda penerang atau sumber cahaya, tanggung jawab mereka adalah untuk mencerminkan kemuliaan TUHAN, agar yang orang lihat: bukan kemuliaan manusia, tetapi kemuliaan Allah.

Selain itu, di sini latar belakang bersinar adalah adanya kegelapan, ayat 2 menunjukkan bahwa bumi penuh dengan kegelapan, kekerasan dan pelanggaran hukum yang semakin meningkat, sehingga kegelapan menyelimuti semua bangsa-bangsa. Luasnya dimensi yang dicakup yakni bangsa-bangsa ini menunjukkan bahwa generasi / zaman kekerasan dan kegelapan di bumi tidak hanya muncul di tanah Israel, tetapi semua bangsa-bangsa sama-sama dalam kegelapan, oleh karena itu, perintah bangkit dan bersinar! adalah perintah universal, sehingga semua bangsa-bangsa dan raja-raja akan datang kepada cahaya yang dipancarkan oleh Israel (ayat 3). Dalam teks bahasa aslinya, ayat 3 menyatakan bahwa semua bangsa-bangsa dan raja-raja akan berjalan dalam terang Israel. Ternyata bahwa dalam generasi / zaman gelap yang paling kekurangan bukan tangan pekerjaan kegelapan, tetapi kebenaran terang, sesungguhnya hanya umat Israel yang memiliki keadilan dan kebenaran yang didefinisikan dalam hukum Taurat, ketika umat Allah menghayati menghidupi keadilan dan kebenaran maka semua bangsa-bangsa asing dalam kegelapan secara alami akan datang untuk mempelajari kemuliaan ini (ayat 4), ada sebagian anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan datang dari jauh (ayat 4), dan harta kekayaan bangsa-bangsa juga diberikan kepada Israel (ayat 5), gambaran ini persis seperti ketika Salomo menerima ratu Syeba, pada saat itu kebijaksanaan Salomo adalah cahaya di zaman generasi yang gelap, raja-raja bangsa asing datang untuk mendengarkan perkataan hikmat Salomo, dan mereka membawa serta harta kekayaan bangsa-bangsa.

Karena bangsa-bangsa dalam gelap sangat berharap untuk mendapatkan cahaya, mereka datang dalam gerombolan kawanan unta, membawa emas dan kemenyan, dan memuji TUHAN (ayat 6), dan Bait Suci TUHAN dipenuhi dengan kemuliaan (ayat 7). Di permukaan, sepertinya kemuliaan ini adalah kemuliaan yang didefinisikan oleh emas dan perak, tetapi kita harus kembali ke definisi cahaya yang sebenarnya, yaitu keadilan dan kebenaran, keadilan dan kebenaran jauh lebih berharga daripada emas dan kemenyan, merealisasikan hukum Allah jauh lebih penting daripada kemuliaan kulit luar, jika Israel memiliki keadilan dan kebenaran, maka bangsa negara ini secara alami akan memiliki cahaya kemuliaan, yang lebih penting daripada pembangunan ekonomi dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB / GDP). Kemuliaan seperti apa yang kita cari dan kejar?

Renungkan:
Ketika dunia mengatakan kepada kita agar memiliki kekayaan yang besar, kemuliaan Tuhan bertentangan dengan ini. Kemuliaan Tuhan adalah untuk bersinar, yaitu untuk memerintah bumi dengan keadilan dan kebenaran yang didefinisikan (ditentukan) oleh Tuhan, sehingga zaman / generasi gelap ini dapat melihat cahaya yang dipancarkan Israel. Sebenarnya yang kita kejar apakah adalah nilai yang didefinisikan oleh dunia yang gelap, ataukah nilai keadilan dan kebenaran dipaparkan oleh Yesaya ketiga kepada kita? Berdoa memohon Tuhan membantu kita.


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Notes on 1 Yoh. 2:9-11, Yoh. 13, 14, 15

Kaitan erat Surat 1 Yoh. 2:9-11 dengan Injil Yoh. 13, 14 dan 15

Yohanes 13:21 … Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” 30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam. 34 … kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

1 Yoh. 2:9-11 terkait erat Yoh 13:

  • Peristiwa Yudas Yoh 13:30 sebagai bukti 1 Yoh. 2:9, dengan membenci Yesus, ia meninggalkan Terang, lihat “Pada waktu itu hari sudah malam”
  • Yoh 13, Yesus melakukan tindakan kasih membasuh kaki para murid lebih dahulu, barulah kemudian Ia memberikan perintah “saling mengasihi.”
    Itu merupakan pattern atau pola cara Allah bekerja, Ia menolong umat Israel barulah memberikan hukum Taurat.

    • Lihat pola dalam 1 Yoh. 2:9
      “Barangsiapa 1)berkata, … , tetapi ia 2) membenci saudaranya, ia 3)berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Ayat 9 dimulai dengan “barangsiapa berkata ….”
      Bandingkan dengan pola dalam 1 Yoh. 2:10,
      “Barangsiapa 2) mengasihi saudaranya, ia tetap 3)berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Ayat 10 tidak dimulai “barangsiapa berkata …”
      Saya ganti dengan “…” karena apapun itu yang diucapkan belum tentu benar, kemudian bertindak, tindakan itulah yang realitasnya.
      Bandingkan pola tindakan Yesus dalam Yoh. 13. Ingat Yesus adalah Allah yang bertindak realitas, Ia datang ke dunia bertindak menolong dan berkorban, bukan hanya “berbicara” dan memberi perintah dari Sorga nun jauh.
      Bandingkan kodisi akhirnya ditentukan tindakan, bukan “berkata”:
      yang bertindak benar ⇒ berada di dalam terang,
      yang berkata … (apapun itu tidak penting) ⇒ berada di dalam kegelapan (karena bertindak tidak benar).
  • Yoh. 13, mereka sedang dalam Persekutuan ⇔ 1 Yoh 2:9-10  kata “Saudara”
  • Yudas meninggalkan persekutuan Yesus ⇔ tindakan masuk dalam “gelap” sesuai 1 Yoh. 2:9
  • Pada waktu itu hari sudah malam ⇔ “berada di dalam kegelapan”
  • Yesus melakukan Kasih ⇔ 1 Yoh 2:10 “mengasihi”
  • Yesus Sumber Terang ⇔ 1 Yoh. 2:10 “dalam terang”
  • Yoh. 13:30 Yudas pergi menjual Yesus ⇔ 1 Yoh. 2:9 “membenci saudaranya”
  • Rasul Yohanes bersandar pada Tuhan Yesus (Yoh. 13:23), menyatakan ia tetap dalam Terang ⇔ Yohanes tidak menjual Yesus. (Walau Petrus menyangkal Yesus, namun ia tidak menjual Yesus)

Alkitab mencatat detil seringkali perlu dipertimbangkan kemungkinan makna yang dinyatakan secara implisit.

1 Yoh. 2:9-10 juga terkait erat Yoh. 15

  • Pokok anggur, tinggal dalam Terang ⇒ berbuah lebat (Gal. 5:22 Kasih adalah buah Roh)
  • Berada di luar Aku (kegelapan) …  ⇒ dicampakkan dan dibakar

1 Yoh 2:9-10 bicara soal tinggal di dalam terang atau dalam kegelapan (keluar dari Terang)

Di Yoh 15, mengapa setelah bicara pokok Anggur, Yesus mengulang perintah saling mengasihi?

Jawabannya ada pada sebuah cyclic sirkular: ada pada 1 Yoh. 2:10-11, yang juga merupakan kesimpulan Yoh. pasal 13, 15  dan 1 Yoh. 2:9-11. “Tetaplah berada dalam Terang (dalam persekutuan Roh Yesus yang Kudus) dengan saling mengasihi (dan melaksanakan perintah² Yesus) maka Firman itu ada di dalam kita, maka kita tetap di dalam Terang (plus di dalam Firman), maka kita bisa saling mengasihi dengan kasih Yesus, dan itu adalah cara untuk tetap di dalam Terang.”

Konsep yang sering dibicarakan Tuhan Yesus, “Aku ada di dalam kamu dan kamu ada di dalam Aku”.

Yohanes 14:23 (TB) Jawab Yesus: “Jika seorang 1) mengasihi Aku, ia akan 2) menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan 3) datang  dan diam bersama-sama dengan dia.”

Jika kita  baca dan teliti pelan-pelan, kita akan menemukan dan menikmati betapa indahnya Alkitab, Firman Perkataan Allah ini.

Firman itu telah datang menjelma menjadi manusia, karena Ia adalah Allah, Ia Maha Mampu dan Maha Bebas melakukan kebenaran-Nya.

Ia Maha Kasih yang Maha Terbukti kasih-Nya dengan mengorbankan diri-Nya sendiri menebus dosa anda dan saya.

Tugas anda dan saya:

“Tetaplah berada dalam Terang (dalam persekutuan Yesus, Sang Firman Kasih Allah) dengan saling mengasihi (dan melaksanakan perintah² Yesus Sang Kasih Allah) maka Firman itu ada di dalam kita, maka kita tetap di dalam Terang (plus di dalam Firman), maka kita bisa saling mengasihi dengan kasih ilahi Yesus, dan itu adalah cara untuk tetap di dalam Terang.”

Untuk memulai siklus sirkular itu maka Yesus menebus kita dari dosa, menyucikan kita  maka kasih ilahi itu ditanamkan di dalam hati kita yang sudah lahir baru itu dan Roh Kudus berdiam di dalam hati kita (kita ada di dalam Terang, Kasih dan kebenaran.

Tanpa dimulai penebusan dosa oleh Allah, bagaimana manusia yang sudah cacat berdosa mampu dengan benar mengasihi Allah dan sesama manusia dengan kasih yang cacat berdosa itu lalu setelah mati harus mengalami penghakiman? Non sense!

Namun setelah dosa kita ditebus, kita lahir baru disucikan oleh Allah, maka  kita dimampukan untuk tidak lagi mengasihi dengan kasih dunia. Karena kasih dunia adalah kasih yang cacat oleh dosa manusia, kasih yang menolak Yesus (Kasih yang tidak mau menerima Yesus Sang Firman Allah, tidak dapat disebut sebagai kasih yang sempurna, justru merupakan kasih yang bercacat dosa.)

Semua ini konsisten dengan prinsip “Hanya karena anugerah” bukan karena kehebatan diri manusia.


Untuk Kalangan Sendiri.

1 Yoh. 4:15-21

「Di dalam Kasih Tidak Ada Ketakutan」

Apa tanda atau bukti engkau telah berada di dalam kasih Allah?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 4:15-21 [ITB])
15Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
17Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
18Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;
sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
19Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
20Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
21Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Yohanes dalam perikop ini, selain mengingatkan orang percaya untuk hidup membuat nyata kasih Allah, dia juga memperkenalkan identitas Yesus: 「Yesus adalah Anak Allah」 (1 Yoh. 4:15), ditambah penulisan dalam ayat 2 tentang Yesus: 「Yesus Kristus telah datang sebagai manusia」 (1 Yoh. 4:2), Yohanes telah melakukan sebuah proklamasi teologis yang sangat penting, yakni Yesus Kristus memiliki kemanusiaan yang sempurna dan keilahian yang sempurna, ini adalah bagian dari iman orang percaya yang diserang pada saat itu.

Walaupun Yohanes bukan sejak mulai sudah menunjukkan keinginannya membicarakan kebenaran dua esensi manusia dan Allah yang dimiliki Yesus Kristus, namun dalam pembicaraannya tiada henti mengingatkan orang percaya bahwa Yesus yang pernah datang dalam sejarah umat manusia adalah Kristus, adalah Anak Allah. Karena Yesus Kristus memiliki kemanusiaan yang sempurna dan keilahian yang sempurna, Dia mati disalib tidak hanya merupakan pengorbanan dari orang yang agung, tetapi mewujudkan anugerah keselamatan yang agung yang dapat membuat orang mendapatkan pengampunan dosa. Ini bukan sekedar pengetahuan teologi di kepala Yohanes, tetapi apa yang dia alami sendiri dalam hidup sehingga tidak henti-hentinya bersaksi.

Sebelumnya Yohanes menuliskan bahwa Allah tinggal di dalam komunitas orang percaya, yakni orang percaya dalam bentuk kata jamak, juga orang percaya tinggal di dalam Allah, untuk menasehati bagaimana orang percaya hidup saling mengasihi. Kemudian saat Yohanes membicarakan Yesus adalah Anak Allah, dia menggunakan bentuk kata tunggal untuk menuliskan bagaimana orang percaya secara pribadi membangun relasi pribadi yang intim dengan Allah. Ternyata kehidupan saling mengasihi bisa ada karena Allah hidup di antara kita sekalian, sehingga kita bisa saling mempengaruhi dan saling membangun. Kemudian, perubahan hidup hanya bisa didapatkan karena seseorang secara pribadi percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia. Dalam surat 1 Yohanes ada empat kali membicarakan 「kasih mendapat kesempurnaan」 atau 「kasih yang sempurna」 (1 Yoh. 2:5; 4:12, 17, 18), semuanya memiliki maksud yang sama. Seseorang selain secara pribadi mengalami kasih Allah dan hidupnya mendapatkan perubahan, jika hendak mendapatkan kasih yang sempurna atau kasih Allah di dalam kita mendapat kesempurnaan, maka harus berbagi kasih Allah dengan orang lain, yakni melalui saling mengasihi agar kasih Allah yang sempurna itu dinyatakan keluar (secara komunitas). (Perhatikan, ada 2 macam: secara komunitas dan secara pribadi).

Kasih yang sempurna ini akan membuat kita beroleh keberanian di hari penghakiman saat kedatangan Kristus yang kedua kali, karena bagaimana Dia sedemikian mengasihi orang di dunia, saat kita hidup di dunia juga seperti Dia, menjalani kehidupan yang saling mengasihi. Beroleh keberanian di dalam hati adalah berasal dari kasih yang sempurna, kasih yang sempurna yang seperti ini membuat kita tidak lagi ketakutan. Dalam bahasa aslinya Yohanes menggunakan susunan kata yang sangat indah di ayat ini untuk menonjolkan ketakutan tidak dapat memasuki kasih yang sempurna: 「ketakutan tidak di dalam kasih, tetapi kasih yang sempurna mengusir ketakutan」. Ketakutan ini tidak hanya menunjuk kepada hari penghakiman Kristus, juga boleh menunjuk kepada komunitas orang Kristen.

Paling akhir, Yohanes sekali lagi menggunakan sebuah cara pembuktian hidup agar orang percaya menjawab bagi diri sendiri: jika orang berkata mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, maka ia berkata dusta. Yohanes mengemukakan dua penyebab: 1. Karena saudaramu juga dilahirkan oleh Allah; 2. Jika tidak dapat mengasihi saudara yang dapat dilihat mata, lalu bagaimana dapat mengasihi Allah yang tidak dapat dilihat? Di sini mencakup unsur jauh dekatnya jarak, juga menunjuk kasih yang berbeda tingkat kesulitan. Kesimpulannya adalah orang yang membenci saudara pasti bukan orang yang mengasihi Allah, jika dirinya sendiri berkata ia mengasihi Allah, ini adalah dusta.

Renungkan: apakah anda karena hidup dalam sebuah komunitas kasih dan merasa diri sendiri juga adalah anak-anak Allah? Atau menjadi anak-anak Allah karena mengaku dosa diri sendiri kepada Yesus, menerima Dia menjadi Tuhan Juruselamat anda pribadi? Apakah anda pribadi memiliki pengalaman Allah hidup dalam hatimu, dan anda juga hidup di dalam Dia?

Yohanes menekankan saling mengasihi sesama saudara dan saudari bukan didasarkan pelaksanaan kasih secara relatif dari sesama, bukan karena saudara tertentu yang hanya berharga untuk saya kasihi, sifat dan latar belakang yang mirip atau dekat dengan saya baru mengasihi dia; Yohanes mengatakan ini adalah kebenaran dan perintah Allah yang jelas dan absolut (tanpa melihat kondisi). Saudara dan saudari, apakah anda masih mencari anggota tubuh yang hanya berharga untuk anda kasihi? Atau tetap masih mencari-cari sebuah gereja agar anda dapat menetap terlibat secara sempurna? Kiranya Roh Kudus melalui perkataan Firman Allah sekali lagi mengingatkan kita.

1 Yoh. 3:11-18

「Sepatutnya Saling Mengasihi」

Apa realitas nyata dalam hidup kita atas apa yang dituliskan Rasul Yohanes tentang keterkaitan erat antara 「saling mengasihi」 dan 「Allah adalah terang」 serta 「hidup di dalam Allah」?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 3:11-18 [ITB])
11Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;
12bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.
13Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. 14Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.
16Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
17Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
18Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Yohanes dalam perikop ini mengingatkan pembaca secara lebih nyata dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari agar melaksanakan perintah 「saling mengasihi」. Di sini ia memakai kata 「berita」 untuk menggambarkan pengajarannya. Dalam  1 Yoh. 3:11 kata 「berita」 (angelia) juga dapat dijelaskan sebagai 「perintah」, kata ini dipakai di 1 Yoh. 1:5 mengenai 「berita」 yang memperkenalkan Allah adalah terang. Seluruh surat ini hanya dua kali memakai kata 「berita」, maka para peneliti Alkitab berpendapat bahwa Yohanes sengaja mengkaitkan menjadi satu 「saling mengasihi」 dan 「Allah adalah terang」.

Yohanes lebih dahulu memakai dua contoh yang hidup untuk menggambarkan apakah yang disebut kasih: sebuah contoh yang negatif, sebuah adalah contoh yang positif.

Contoh yang negatif adalah kisah sejarah Kain membunuh ia saudara kandungnya Habel, dan menunjukkan bahwa tindakan Kain jelas adalah kejahatan dosa, tidak ada memiliki kasih maka hanya ada kebencian, tinggal dalam mati, dan tidak ada pengharapan hidup kekal. Pada saat yang sama ia juga menyebutkan Habel saudara dari Kain, tindakannya adalah kebajikan. Di sini bukan berkata bahwa orang yang menjadi korban semuanya adalah orang baik, tetapi adalah Habel berdasarkan kehendak Allah mempersembahkan korban, ini adalah sebuah tindakan kebajikan, di sini juga mengingatkan pembaca bahwa manusia dunia juga akan karena kita berada di dalam Allah dan membenci kita. Mengapa manusia dunia membenci kita? Kata 「dunia」 (kosmos) di dalam surat 1 Yohanes muncul 23 kali, dipakai untuk menggambarkan orang yang memusuhi Allah Bapa dan Yesus. Sebenarnya kita dibenci manusia dunia, adalah seperti Habel, yang karena melakukan hal yang berkenan kepada Allah, dan telah keluar dari kematian masuk ke dalam hidup, tinggal di dalam Allah, sehingga dibenci (1 Yoh. 3:13-14). Akibat kejahatan Kain tidak hanya kehilangan saudaranya, tetapi juga kehilangan pengharapan hidup kekal.

Contoh yang positif adalah Yesus yang demi kita mengorbankan nyawa, dari diri-Nya kita mengenal apakah itu kasih. Karena kita adalah orang yang termasuk milik Tuhan, maka juga sepatutnya demi saudara mengorbankan nyawa. Di sini Yohanes dari berita agung tentang Allah mengasihi manusia beralih kepada tindakan Yesus di atas salib menyerahkan hidup-Nya demi kita (1 Yoh. 3:16). Ini adalah seperti perkataan Paulus: 「Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa」 (Rom. 5:8). Kasih Yesus terhadap kita adalah kasih yang memiliki tindakan nyata, adalah yang nyata dapat diraba, ini juga adalah yang dituliskan di awal surat, kesaksian Yohanes tentang apa yang pernah oleh dirinya sendiri lihat dengan mata sendiri, dengar dengan telinga sendiri, dan raba dengan tangan sendiri.

Terakhir Yohanes memakai sebuah keadaan nyata dalam kehidupan bertanya kepada pembaca: Saat melihat saudara kekurangan dan diri sendiri punya kemampuan, tetapi malah menahan hati berbelas-kasih, apakah kita mampu berkata bahwa diri kita sendiri mengasihi Allah (1 Yoh. 3:17)? Yohanes memberikan sebuah nasehat kepada semua orang segala generasi: janganlah saling mengasihi hanya berhenti dalam perkataan dan di atas lidah saja, hendaklah nyata dalam tindakan dan dalam kejujuran (dalam kebenaran). Kata 「dalam kejujuran / dalam kebenaran」 dalam bahasa aslinya adalah kebenaran (truth) yang mengandung kenyataan dan tidak ada kepalsuan. Terjemahan mandarin RCUV menerjemahkannya dengan sebuah kata 「dengan tulus」 untuk menggambarkan sikap yang seharusnya ada dalam perbuatan saling mengasihi, 「hendaklah dijadikan kenyataan dengan perbuatan dan dengan tulus」.

Renungkan: terhadap orang Kristen hari ini yang hanya “dalam perkataan saja saling mengasihi,” seorang hamba Tuhan di Universitas Harvard pernah membuat sebuah kritik: 「permasalahan terbesar dari iman kepercayaan kita zaman ini adalah kemunafikan; kritik orang lain bukan ditujukan kepada agama Kristen, tetapi adalah terhadap orang Kristen; kritik orang bukan ditujukan kepada Injil, tetapi adalah terhadap gereja.」

Kiranya dalam terang Roh Kudus, kita instropeksi bertanya pada diri: 「berapa kali saya hanya mengasihi dalam perkataan dan proklamasi saja, tetapi tidak ada kasih kemurahan dalam perbuatan?」 Bahkan adakala kita berdoa syafaat bagi orang lain, juga hanya dalam perkataan janji, namun tidak ada doa dalam tindakan nyata.


Tambahan Blogger:

Ayat 18 「marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (dalam ketulusan)」  maka bisa ada kemungkinan bahwa kita walaupun memiliki realisasi tindakan atas perintah saling mengasihi, namun sebenarnya bukan realitas nyata karena tidak dilakukan dalam kebenaran (dalam ketulusan), maka itu bukan merupakan realitas 「hidup di dalam Allah」.

Yohanes menuliskan keterkaitan erat antara 「saling mengasihi」 dan 「Allah adalah terang」 serta 「hidup di dalam Allah」, suatu hal yang dapat dan patut kita renungkan lebih mendalam. Termasuk akibat dari tidak 「saling mengasihi」 oleh Kain, kontras dengan buah hasil tindakan nyata 「mengasihi」 dari Kristus di atas salib.

1 Yoh. 1:6-7

「Terang Kegelapan tidak Saling Berdampingan」

Kehidupan orang Kristen, adakalanya juga bisa dikalahkan dosa kesalahan, namun orang Kristen yang berjalan dalam terang, karena percaya dan menerima Yesus, diberi Allah anugerah Roh Kudus yang membuat kita merasa tidak tenang dan malu di dalam hati saat berjalan di dalam kegelapan.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng ) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 1:6-7 [ITB])
6Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
7Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata 「 kegelapan 」 (scotia) muncul 16 kali, sebagian besar adalah dalam tulisan Yohanes. Mencakup dalam Injil Yohanes muncul 8 kali; dalam surat ini muncul 6 kali, dapat dilihat pengenalan Yohanes terhadap hubungan antara terang dan kegelapan adalah sangat dalam dan menganggap penting. Yohanes dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa di dalam terang sama sekali tidak ada tempat bagi kegelapan, bahkan berkata: Jika ada orang mengatakan beroleh persekutuan bersama Allah, tetapi juga hidup dalam kegelapan, ini adalah hal yang tidak mungkin, ia pasti adalah sedang berkata dusta (1 Yoh. 1:6). Cara pandang yang kokoh dan penuh kepastian ini adalah apa yang paling perlu dikenal orang percaya akhir zaman hari ini. Tidak sedikit orang Kristen sering dalam kehidupan bergumul dalam mengambil keputusan untuk bertindak, merasa hukum tentang apa yang seharusnya dan tidak sepatutnya dilakukan orang Kristen sebagai beban berat dan belenggu.

Ada sebuah tulisan mengenai pergumulan kehidupan rohani orang Kristen, dengan tepat melukiskan orang percaya yang hidup dalam kelemahan, tarikan nafas panjang atas tuntutan untuk setiap hari hidup yang bersinar terang. 「Ada banyak orang percaya, merasa mempertahankan kehidupan orang Kristen adalah sebuahperihal yang sangat sulit, bahkan sangat-sangat sulit dan makan tenaga. Setiap hari di sana bertindak, setiap hari di sana menghela nafas; setiap hari di sana bekerja keras, setiap hari di sana jatuh; setiap hari di sana mempertahankan kesaksian, setiap hari di sana mempermalukan Tuhan. Ada banyak orang ingin menolak dosa namun tidak ada kemampuan; jika tidak menolak dosa maka di dalam hati tidak ada kedamaian; ingin bersabar tidak dapat sabar, jika marah di dalam hati tidak kedamaian; ingin mengasihi tidak ada kemampuan; membenci orang di dalam hati merasa menyesal; banyak orang merasa menjadi Kristen sangat capek, sudah letih. Mereka merasa jadi orang Kristen seperti mendaki gunung dengan memikul beban berat, sudah tidak mendaki ke atas lagi. Saat ia tidak percaya Tuhan, ia berjerih payah memikul beratnya beban dosa, setelah percaya Tuhan, adalah berjerih payah memikul beban yang suci. Hanya mengganti sebuah beban dengan beban lain, juga adalah sangat melelahkan, juga adalah sangat menderita.」

Pergumulan di atas seperti menggambarkan seorang percaya yang satu kaki menginjak terang, sedangkan satu kaki lain terpisah menginjak kegelapan, bahkan setiap hari berulang kali lalu lalang antara terang dan kegelapan. Yohanes berkata ini adalah tidak mungkin, jika kita hidup dalam kegelapan maka adalah orang yang tidak merupakan milik Allah, tidak mungkin memperoleh persekutuan dengan Allah, juga tidak dapat mempunyai kehidupan persekutuan dengan orang-orang percaya yang lain yang dalam terang (1 Yoh. 1:7)

Pembicaraan Albert Einstein mengenai apakah kegelapan itu. Suatu hari seorang dosen memutuskan memberi tantangan kepada muridnya. Ia bertanya: 「 Apakah semua yang ada adalah ciptaan Allah? 」 Seorang murid dengan berani menjawab: 「 ya, Ia menciptakan segalanya. 」 Sang dosen bertanya: 「 seluruhnya? 」 Murid menjawab: 「ya, semua. 」 「Dengan kata lain, Allah menciptakan dosa? Karena dosa itu ada. 」 Murid terdiam tidak tahu bagaimana menjawab.

Sang dosen dengan gembira membuktikan iman kepercayaan hanyalah saja semacam dongeng. Tiba-tiba seorang murid yang lain angkat tangan dan bertanya: 「Dosen, apakah boleh bertanya kepada mu sebuah pertanyaan?」 Sang dosen menjawab: 「 Tentu saja boleh. 」 「Apakah dingin itu ada? 」 Sang dosen menjawab: 「 Tentu saja, apakah engkau tidak pernah merasakan kedinginan? 」 「Guru, sebenarnya tidak ada dingin itu. Berdasarkan ilmu fisika, dingin adalah disebabkan sama sekali tidak adanya panas. Saat suatu benda yang mampu menghantarkan energi sedang menghantarkan energi maka akan muncul panas. Namun dingin itu tidak ada, tidak bisa diadakan penelitian atas dingin. Kita menciptakan kata 『dingin』 ini adalah untuk menjelaskan keadaan tidak adanya panas.」

Murid melanjutkan bertanya: 「bagaimana dengan kegelapan?」 Sang dosen menjawab: 「kegelapan itu ada.」 「Guru, engkau salah lagi, kegelapan adalah sama sekali tidak adanya terang. Engkau mampu meneliti cahaya dan tingkat terang, namun tidak dapat meneliti kegelapan. Kegelapan hanya merupakan sebuah kata yang diciptakan untuk menggambarkan keadaan sama sekali tidak adanya terang.」

Murid bertanya: 「Guru, apakah dosa itu ada? Allah tidak ada menciptakan dosa. Dosa adalah tidak adanya Allah di dalam hati orang, itu adalah tidak adanya kasih, rendah hati dan iman. Kasih bersama iman seperti panas dan terang. Tidak ada keduanya, maka muncul dosa.」 Sekarang adalah sang dosen terdiam. Nama murid ini adalah: Albert Einstein, ini juga terorinya yang terkenal yang bernama Teori terang dan gelap.

Renungkan: kita mengakui bahwa dalam kehidupan orang Kristen, adakalanya juga bisa dikalahkan dosa kesalahan, namun orang Kristen yang berjalan dalam terang, karena percaya dan menerima Yesus, diberi Allah anugerah Roh Kudus yang membuat kita merasa tidak tenang dan malu di dalam hati saat berjalan di dalam kegelapan (dalam keadaan hati kita menjauhi / tidak bersama Allah) (Sebuah penghiburan bagi kita, adakala jatuh dalam dosa, ada pergumulan, atau jauh dari Allah, namun bukan berarti kita bukan milik Allah.)

(Ayat 7: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh … darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” datanglah senantiasa kepada Yesus agar kita disucikan dan hidup dalam Terang.)

Imamat 24:1-4

Menyalakan cahaya lampu dan menyediakan minyak

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 24:1-4 [ITB])
1 Allah berfirman kepada Musa: 2 Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu minyak zaitun tumbuk yang tulen untuk lampu, supaya lampu dapat dipasang dan tetap menyala. 3 Harun harus tetap mengatur lampu-lampu itu di depan tabir yang menutupi tabut hukum, di dalam Kemah Pertemuan, dari petang sampai pagi, di hadapan Allah. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. 4 Di atas kandil dari emas murni haruslah tetap diaturnya lampu-lampu itu di hadapan Allah.

Tanpa cahaya, kehidupan tidak dapat lahir.

Ketika Allah menciptakan dunia, hal pertama yang diciptakan adalah terang (Kejadian 1:3-5) menjelaskan bahwa TUHAN menerangi dunia yang gelap dan kacau dengan cahaya yang Dia perintahkan, dan dunia yang kacau ini melambangkan kekuatan jahat, kekuatan yang mengancam keberadaan kehidupan dan membawa kecemasan serta kekacauan. Namun, Allah menggunakan kuasa-Nya untuk memerintahkan cahaya datang, cahaya ini membawa kehidupan ke dalam kegelapan, membawa harapan ke dalam kegelisahan. Cahaya juga melambangkan sifat Allah. Allah adalah Allah yang memberi kehidupan. Dia pertama-tama memberi cahaya agar dunia penuh kehidupan.

Imamat 24:1-4 menyatakan bahwa di dalam Kemah Pertemuan di depan tabir yang menutupi tabut hukum, dari malam hingga pagi Harun di hadapan Allah harus mengatur lampu-lampu itu. Ini menunjukkan bahwa lampu di tempat kudus tidak boleh padam, dan Harun melambangkan seperti Allah, di tempat kudus terus menerangi yang gelap, mengusir kegelapan. Kita harus melihat dari apa yang dikatakan dalam Kejadian 1 untuk memahami terang cahaya di tempat kudus ini, terang melambangkan kuasa Allah dan penciptaan, dan juga melambangkan kehidupan. Terang inilah yang menang atas kekacauan dan kegelapan. Dan Imamat 24:1-4 menyatakan bahwa harus ada lampu yang selalu menyala, yang melambangkan cahaya kekal (eternal light). Fokus lainnya adalah pada minyak, yang melambangkan pemeliharaan Allah, yang berarti bahwa hanya energi yang dianugerahkan Allah yang dapat bersinar untuk tempat kudus.

Tanggung jawab menyalakan pelita itu ada pada imam, sebagai perantara antara Allah dan umat-Nya, setiap tindakan imam memiliki makna simbolis dari ritual tersebut, dan sekarang imam perlu menyalakan pelita dan menyediakan minyaknya, membuat orang dapat melihat bahwa kemuliaan Allah itu kekal, melambangkan bahwa imam mewakili Allah untuk membawa cahaya terang bagi dunia. Tidak peduli seberapa besar kegelapan dunia, seberapa dalamnya dosa, dan seberapa besar kekerasan, tidak ada yang dapat menyangkal terang yang dibawakan oleh Allah, karena penyalaan pelita oleh imam adalah ketetapan kekal dari generasi ke generasi (zaman ke zaman), dan mewakili pelayanan yang kekal. Cahaya terang kekal membutuhkan pelayanan kekal, dan pelayanan kekal ini menyatakan bahwa meskipun kegelapan itu hebat, tetapi kegelapan itu berumur pendek, dan cahaya terang hidup merupakan suatu yang kekal, yang merupakan harapan hidup bagi manusia.

Renungkan:
Apakah hidup Anda gelap? Apakah lingkungan Anda penuh dengan kegelapan dosa? Apakah dunia yang Anda lihat penuh kekerasan? Apakah Anda melihat bahwa ada banyak orang jahat? Harap percayalah bahwa ini hanya sementara. Dalam Perjanjian Baru, kita sebagai imamat yang rajani harus selalu menyalakan pelita untuk bersinar bagi Allah, membuat dunia melihat cahaya kehidupan ada di mana-mana, agar kegelapan melihat akhir dirinya, agar kehidupan kelabu menjadi cerah, dan biarkan masa depan tanpa harapan berubah menjadi langit baru dan bumi baru yang penuh harapan. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.