Tag Archives: Pra-Paskah 2018

Markus 16:1-8

1 April 2018 – Kebangkitan Tuhan Kita: Minggu Paskah

Kamu Mencari Yesus Orang Nazaret, yang Disalibkan itu. Ia Telah Bangkit.

(Markus 16:1-8)
1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. 2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. 3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” 4 Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. 5 Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, 6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. 7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” 8 Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.

Renungan
“Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini… Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.”

Para wanita khawatir tentang mengakses tubuh Yesus, namun mereka hanya menemukan bahwa mereka dikonfrontasikan oleh masalah yang sebaliknya – Yesus tidak terkunci; Dia telah keluar! Dia telah pergi lebih dahulu dari mereka ke Galilea, kembali ke tempat di mana pelayanan-Nya pertama dimulai. Di sana dahulu Ia menyembuhkan yang sakit, memberi makan orang banyak, dan membebaskan mereka yang tertawan (Markus 1-9). Dia telah memerintahkan mereka untuk diam dan tidak mengungkapkan identitas-Nya (yang oleh para sarjana disebut “rahasia mesianik”). Penjelasan-Nya penuh teka-teki. Diserahkan ke dalam tangan manusia, dibunuh, dan setelah tiga hari bangkit kembali (Markus 8:31; 10:32-34)? Yang Diurapi Allah dipermalukan dan menderita, dihinakan dengan kematian di atas salib? Raja dan kerajaan seperti apa jadinya itu?

Tetapi itu adalah tepat sebagaimana Allah akan menegakkan kekuasaan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di mana kuasa dosa dan kematian dikalahkan. Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah dan Tuhan yang sejati atas dunia (bandingkan Roma 1:4). Sebagai buah yang pertama, Yesus akan kembali lagi suatu hari sebagai penguasa atas ciptaan baru Allah. Di dalam kerajaan yang kekal itu, setiap ketidakadilan akan dihukum dan setiap yang salah akan dibuat menjadi benar. Tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi kesakitan, tidak ada lagi penderitaan (Wahyu 21:1-8). Ini adalah kebangkitan pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus.

Markus mengakhir injilnya tergantung di dalam kesunyian, dengan para wanita pergi dari kubur penuh ketakutan dan ketakjuban. Tidak untuk waktu yang lama. Seperti Yesus yang keluar dari kubur yang disegel, Kabar Baik segera keluar dari bibir mereka yang terkunci. Bagaimana dengan anda? Sudahkah realitas dan janji dari kebangkitan itu menahan anda terus? Apakah anda siap untuk bergabung bersama Tuhan yang telah dibangkitan di “Galilea”, untuk melanjutkan misinya di dunia?

Doa
Kristus yang telah bangkit,
yang melalui kebangkitan-Mu dari kematian mengamankan keselamatan abadi kami:
penuhilah hati kami dengan pengharapan kebangkitan dan dengan keberanian, sehingga kami mau menyatakan hidup-Mu yang telah bangkit di dalam dunia, untuk kemuliaan Allah Bapa. Amin.

Tindakan
Refleksikan akan pengharapan dari kebangkitan. Biarlah visi dari ciptaan baru menginspirasi anda untuk menyatakan Kabar Baik Yesus Kristus di dalam lingkaran pengaruh anda minggu ini.

Revd. David Lee
Associate Vicar
Chapel of Resurrection

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Matius 27:57-66

31 Mar 2018 – Sabtu Suci

Perintah Agar Kubur Diamankan Hingga Hari yang Ketiga

(Matius 27:57-66)
57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. 58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. 59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, 60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. 61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.
Kubur Yesus dijaga

62 Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, 63 dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. 64 Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” 65 Kata Pilatus kepada mereka: “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.” 66 Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.

Renungan
Anak Allah datang ke dunia dengan kerendahan hati dan kepapaan, menjadi miskin demi kita sehingga kita dapat menjadi kaya secara rohani di dalam Dia (2 Korintus 8:9). Dia “meminjam” rahim Maria untuk dilahirkan sebagai seorang manusia, dan di sini, kubur Yusuf dari Arimatea dipinjam bagi Kristus bangkit dari kematian. Tubuh Yesus dikuburkan secara hati-hati, sesuai dengan nubuat alkitabiah (Yesaya 53:9; Mazmur 16:10; 30:3).

Betapa anehnya bahwa orang-orang Farisi, yang berbeda dengan orang-orang Saduki, percaya kepada kebangkitan (Lukas 20:39), tidak pernah berpikir akan hal itu sebagai sebuah hasil yang mungkin dari Yesus yang disalibkan dan dikuburkan. Mereka mengetahui bahwa Yesus telah mengklaim bahwa Ia akan bangkit dari kematian pada hari ketiga (ayat 63; Matius 16:21), tetapi pemikiran mereka begitu duniawi sehingga yang dapat mereka pikirkan hanyalah bagaimana para murid mungkin akan mencuri tubuh Yesus dan kemudian mengklaim bahwa Ia telah bangkit dari kematian. Untuk menghindari kemungkinan itu, mereka mendekati Pilatus dan mendapatkan ijin untuk menyegel kubur dan menempatkan seorang penjaga di luarnya. Kemudian, ketika kebangkitan itu benar terjadi dan mereka mendapatkan kesaksian dari para penjaga (Matius 28:11), mereka mengacuhkan bukti dan mengamankan otoritas dan posisi mereka dengan menyogok para penjaga untuk menyebarkan berita-berita palsu bahwa para murid telah mencuri tubuh tersebut (Matius 28:12-15). Ini merupakan hal yang aneh bagaimana orang-orang dapat menutup pikiran mereka terhadap bukti yang begitu jelas.

Kubur itu disegel dari luar. Para pemimpin agama berpikir tentang bagaimana orang-orang tanpa otoritas dapat masuk ke dalam kubur. Mereka tidak pernah berpikir bahwa Yesus keluar dari kubur! Tidak ada segel buatan manusia yang setara dengan kekuasaan dan otoritas Allah yang dapat mengalahkan segel dan melawan penjaga.

Yesus tidak dapat dikunci di dalam kubur, meskipun banyak orang yang mencoba melakukan hal tersebut. Dia keluar dari kubur untuk masuk ke dalam hati kita sebagai Kristus yang Hidup. Kita dapat percaya akan hal ini dan mengalaminya, karena kesetiaan-Nya yang abadi tidak dapat dikuburkan.

Doa
Tuhan Yesus, ampuni aku karena sering memperlakukan-Mu seolah Engkau masih berada di dalam kubur, karena menyegel kubur dengan ketidakpercayaanku yang keras kepala dan ketakutan untuk menghadapi-Mu sehingga aku dapat terus hidup dengan nyaman di dalam kerajaan keegosianku sendiri. Bantulah aku untuk menyadari bahwa hanya ketika aku mengakui bahwa Engkau mati bagiku dan bahwa Engkau sekarang hidup selamanya, barulah aku menemukan hidup yang sesungguhnya yang sungguh-sungguh berarti dan memuaskan. Teroboslah semua segelku yang lemah dan menyedihkan dan berkuasalah atasku.

Tindakan
Refleksikan tentang apa yang memotivasi orang-orang Farisi untuk menolak kebangkitan Yesus, dan bagaimana kita juga mungkin melakukan hal yang sama, bukan melalui apa yang ktia katakan, tetapi melalui apa yang kita lakukan dan bagaimana kita hidup. Tuliskanlah sebuah daftar untuk mendemonstrasikan di dalam hidup anda bahwa Yesus sudah tidak lagi di dalam kubur.

Bishop Emeritus Dr. Robert Solomon
The Methodist Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Kejadian 22:1-18

30 Mar 2018 – Jumat Agung

Karena Engkau Telah Mematuhi Suara-Ku

(Kejadian 22:1-18)
1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” 2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” 3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” 13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16 kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

Renungan
Bagaimana anda bereaksi ketika orang lain membuat permintaan dari anda? Apa yang terjadi ketika Allah meminta anda untuk melakukan sesuatu yang sulit?
Abraham “percaya kepada Tuhan, dan ia menganggap itu sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6), ketika masih sebagai Abram, ia berkata kepada Tuhan, “Lihatlah engkau tidak memberikan keturunan kepadaku,” dan firman dari Tuhan meyakinkan dia, “anakmu sendiri yang akan menjadi pewarismu.“ (Kejadian 15:2-3).

Abraham telah menyerahkan masa lampau dalam pemutusan hubungan yang bersih dengan Ur dan Haran (Kejadian 11:3 – 12:4). Dia telah menyerahkan masa kini ketika ia mengijinkan keponakannya Lot untuk memilih tanah yang lebih subur (13:8-12). Tetapi sekarang, perintah untuk mempersembahkan Ishak, anak kandungnya dan pewarisnya (vv 1-2) adalah ujian terbesar, termasuk penyerahan akan masa depannya.

Setiap janji Allah sepertinya berpusat kepada Ishak (Ibrani 11:17-19) dan perintah itu menjadi lebih menyiksa karena Abraham sendirilah yang menjadi algojonya. Bagaimana ia dapat pada saat yang bersamaan patuh dan mempertahankan imannya kepada janji Allah [“melalui Ishak keturunanmu akan dinamai. ” (Kejadian 21:12); “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. ” (Kejadian 17:7)]?

Sekarang Abraham menghadapi ujian tertinggi dari iman – tetapi Allah telah memberikan Ishak, dan adalah merupakan hak-Nya untuk mengambilnya dari Abraham (Ayub 1:21). Iman Abraham kepada Allah tidak goyah – perhatikan jawabannya yang segera (22:3, 12) tanpa penundaan atau perdebatan. Allah telah berjanji, Dia tidak dapat gagal, dan masa depan dapat dengan aman dipercayakan ke dalam tangan Allah yang pasti. Apakah kita tetap sama konstan dan puas, terutama jika yang dipertaruhkan adalah ambisi diri dan anak-anak kita? Anak sulung yaitu Ishak secara khusus dikuduskan untuk Tuhan (Keluaran 13:1-2). Hasilnya: Allah menyediakan seekor domba jantan (ayat 13) sebagai pengganti, karena itu nama yang diberikan kepada tempat itu adalah ‘Jehovah Jireh’ – ‘Allah akan menyediakan’.

Tanah Muriah (ayat 2 – 2 Tawarikh 3:1; 1 Tawarikh 21:15-22:1) adalah tempat dimana tempat ibadah tersebut dibangun di Yerusalem dan sangat dekat dengan lokasi di mana Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai pengorbanan untuk dosa-dosa kita (Yohanes 1:29; 2 Korintus 5:21; Roma 5:8).

Doa
Bapa, aku mengaku,
‘Tidak ada cara lain, Allah yang Kasih dapat menemukan
Untuk merekonsiliasi dunia dan menyelamatkan kemanusiaan yang tersesat;
Dibutuhkan kematian dari Anak-Nya sendiri.
Tidak ada cara lain, selain Kalvari.
Kekayaan seluruh dunia tidak dapat menebus kita;
Juga perbuatan-perbuatan kita yang lemah – demikian besar harganya!
Pengharapan kita hanya di dalam darah Yesus –
Darah yang dicurahkan demi kita dalam pengorbanan.‘ Amen.

Tindakan
Sementara Bapa Surgawi kita menyediakan Abraham seekor domba jantan untuk menggantikan Ishak, Dia “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua.“ (Roma 8:32). Kiranya kita menjadi seperti Abraham dan khususnya Yesus yang “hidup (dalam ketaatan)… untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.“ (2 Korintus 5:15)

Revd. Canon Dr. Louis Tay
Auxiliary Priest
St. Andrew’s Cathedral

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

2 Timotius 2:8-13

29 Mar 2018 – Kamis Putih

Jika Kita Tidak Setia, Dia Tetap Setia

(2 Timotius 2:8-13)
8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. 9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. 10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. 11 Benarlah perkataan ini:

“Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;
12 jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia;
jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita;
13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia,

karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Renungan
Rasul Paulus duduk di penjara. Namun ini bukan hal yang paling buruk. Dia baru saja dikhianati. Di awal surat (1:15), kita melihat gereja Asia telah mengabaikan dia – mereka menyangkalnya pada saat ia berdiri teguh demi injil.

Betapa dekatnya pengalaman ini dengan Yesus. Para pengikut-Nya begitu cepat lari pada saat mereka menyangkal, menyangkal, menyangkal Dia. Yang disebut sebagai teman yang pernah sekali berbicara tentang kesetiaan yang hebat, sekarang melarikan diri di hadapan bahaya yang mengancam tubuh.

Bagaimana dengan kita, yang pernah menyebutkan selusin kali doa pendosa (aku menghitung 47 kali untuk diriku sendiri), berdiri di pelayanan yang tidak terhidung, membuat sumpah dan menyanyikan lagu-lagu dengan penuh semangat. Namun dalam hitungan hari… kita didapati menyangkal, kita mendapati diri sendiri tanpa kesetiaan.

Kita menyangkal sumpah kita sendiri, menyembunyikan harta, merubah prioritas, melarikan diri dari penolakan. Jika ini dilanjutkan, tidakkah Dia akan melakukan hal yang sama?

Namun, ketika Kristus bangkit, di sana tidak ada teguran, tidak ada api penghakiman, kata pertama-Nya adalah ‘Shalom’ (damai). Mereka tidak setia, tetapi Dia tetap setia. Mereka meninggalkan Dia, tetapi Dia tidak pernah meninggalkan mereka. Mengapa? Karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri.

Charles Spurgeon pernah berkata: “Aku memberitahukan anda bahwa Dia tidak dapat menolak anda: itu akan menyebabkan Ia merusak keseluruhan karakter-Nya dan menyangkal ke-Kristusannya sendiri. Untuk menolak seorang pendosa yang datang akan menyangkal ke-Yesusannya sendiri, dan membuat-Nya menjadi orang lain. Pergilah dan cobailah Dia, lemparkan diri anda kepada-Nya, dan anda akan menemukan Dia setia. ‘Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri.'”

Allah kita adalah setia, Dia tidak pernah berubah. Bahkan jika sekarang anda telah mengacuhkan Dia, menolak Dia – berbaliklah dan lihat bagaimana Dia merespon. Dia tidak menyimpan dendam. Dia tidak menyimpan catatan kesalahan. Dia akan menyapu bersiih dan berkata datanglah putra-Ku, putri-Ku – mari kita memulai ulang. Mengapa? Karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri.

Doa
Bapa yang murah hati, aku minta maaf karena melanggar ucapanku, merubah pemikiranku, sembrono dengan panggilan-Mu. Aku memohon pengampunan-Mu. Bawalah aku kepada kaki Yesus dan tunjukkanlah kepadaku kasih karunia-Mu di salib-Nya. Biarlah aku melihat bahwa Engkau setia dan benar. Bersihkan aku, sembuhkan aku, pulihkan aku, sebutkanlah panggilan-Mu kepadaku sekali lagi. Amin.

Tindakan
Meditasikanlah cara-cara anda pernah tidak setia kepada Kristus. Meditasi lebih lagi kepada cara-cara di mana Dia telah setia kepada anda. Tuliskanlah bila hal itu menolong.

Rev. Dr. Dev Menon
Pastor
Zion Bishan Bible-Presbyterian Church

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Ibrani 12:1-3

28 Mar 2018 – Rabu Minggu Suci

Tekun Memikul Salib Ganti Sukacita yang Disediakan bagi Dia

(Ibrani 12:1-3)
1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Renungan
Dalam perikop ini penulis merubah perhatian kita dari kehidupan karakter-karakter di Perjanjian Lama yang menginspirasi, “awan saksimata-saksimata” kita, kepada contoh yang terhebat dari semuanya, Tuhan Yesus Kristus. Pertandingan iman orang Kristen adalah sesuatu yang berat, menuntut ketekunan yang teguh. Tujuan dari penulis adalah membawa para saksimata sebelum kita yang akan bersaksi bahwa iman ini yang di dalam Yesus adalah setimpal. Beberapa dari kita akan ingat lomba lari 400 meter pada Olimpiade Paris 1924 yang membuat jantung berdebar-debar, yang diikuti oleh pelari Skotlandia Eric Liddell yang berhasil ditangkap dan dibuat terkenal oleh film Chariots of Fire (Kereta dari Api). Ia telah ditetapkan untuk pertandingan favoritnya yang sudah dipersiapkan, perlombaan lari 100 meter. Karena imannya yang tidak goyah untuk tidak mengikuti perlombaan lari tersebut pada hari Sabat, dia mengikut perlombaan lari 400 meter.

Untuk memperpendek cerita, ia menantang kemungkinan dan memenangkan perlombaan itu dengan sebuah prestasi rekor dunia. Mengutip orang tersebut ketika ditanya tentang rencananya untuk sebuah kemenangan, “Aku berlari 200 meter sekuat yang aku mampu, untuk 200 meter kedua, dengan pertolongan Allah, aku berlari lebih kuat.” Dengan iman yang sama teguh dan semangat yang pantang menyerah, dia lalu melayani sebagai misionaris pengajar dan dan kemudian diasingkan di bawah pendudukan Jepang di Tianjin, Tiongkok di mana ia meninggal. Dia memilih untuk bertahan dan mengakhiri pertandingan imannya yang lebih keras namun penuh sukacita, “mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Ini adalah sebuah observasi tentangnya dari Langdon Gilkey, seorang kawan penyintas dari kamp di mana mereka adalah teman sepenjara:

‘Sering di sore hari aku melihat dia sedang duduk menghadapi papan catur atau sebuah perahu model, atau sedang mengarahkan semacam tarian kotak – begitu asik, lelah dan menarik, memberikan semua yang ia miliki kepada usahanya untuk menangkap imajinasi dari anak-anak muda yang terkurung ini. Dia melimpah dengan lelucon yang baik dan kecintaan akan hidup, dan dengan antusiasme dan pesona. Sangatlah jarang bagi seseorang untuk mendapatkan sebuah keberuntungan untuk bertemu dengan seorang kudus, tetapi dia mendekati seorang kudus dibanding setiap orang yang pernah saya kenal.’

(Sumber kutipan ~ http://albertmohler.com/2017/07/25/god-made-china-eric-liddell-beyond-olympic-glory/)

Doa
“Bersyukur untuk orang-orang kudus dari masa lalu dan orang-orang kudus yang hidup hari ini: meskipun seringkali dibenci oleh dunia, hati mereka dihargai dengan kaya oleh Allah – bersyukurlah bahwa kita bisa mengatakan bahwa kita berbagi perjalanan ziarah mereka.‘ (Martin E. Leckebusch)

Tindakan
Di mana dan bagaimana kita dapat menguatkan diri kita sendiri sehingga seperti para saksimata yang penuh kesetiaan sebelumnya kita dapat mengikuti langkah-langkah kaki dari Tuan kita?

Rev. Henry Hong
Minister of the Presbyterian Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Galatia 6:11-18

27 Mar 2018 – Selasa Minggu Suci

Apa yang Berarti dan Tidak Berarti?

(Galatia 6:11-18)
11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. 12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. 14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.

17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.

18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

Renungan
Ayat 15: Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Hampir tidak mungkin bagi kita yang merupakan bagian dari tradisi gereja yang tidak pernah mempraktekkan sunat untuk sepenuhnya memahami betapa menyesatkan dan mengerikan kalimat yang diperdengarkan itu bagi para pemimpin Yahudi pada masa Paulus. Perintah Allah pada masa Musa adalah jelas, setiap orang percaya harus disunat jika ia akan dimasukkan ke dalam keluarga Allah. Ini adalah perintah Allah yang pokok dan tidak terbantahkan, dan siapapun yang mengatakan bahwa sunat tidak “berarti” berdasarkan pengajaran yang demikian ini akan membuktikan dirinya sebagai pengajar palsu.

“Apakah seseorang dibaptis dalam nama Kristus atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau menghadiri ibadah gereja atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau menerima Perjamuan Kudus atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau berbicara bahasa lidah atau mengangkat tangan dalam penyembahan atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau membaca Alkitab atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau menghadiri perhimpunan Pink Dot atau tidak, tidak memiliki arti!” “Apakah engkau memegang hio atau tidak dalam acara penguburan secara adat Tionghoa, tidak memiliki arti!”
Jika tidak ada satupun pernyataan ini menggusarkan anda, berarti anda masih belum menghargai betapa provokatifnya pernyataan Paulus kepada pemimpin agama pada zamannya. Tetapi jika baik sunat maupun tidak sunat tidak memiliki arti, lalu apa yang memiliki arti? Apakah artinya tidak ada lagi aturan?

Hanya ada satu aturan. Paulus menyatakan ini di awal dalam Galatia 5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (lihat juga Galatia 5:6). Sehingga Paulus menyimpulkan dalam Galatia 6:16 “Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka.“ Amen.

(Versi meditasi ini yang lebih panjang pertama kali dipublikasikan pada Methodist Message edisi bulan Desember 2017, publikasi resmi dari The Methodist Church in Singapore. Digunakan dengan izin.)

Doa
Tuhan, selamatkanlah kami daripada mengambil beberapa praktek dan aturan spesifik yang kami anggap penting, dan memaksakannya kepada setiap orang di dalam Nama-Mu. Sebaliknya, tolonglah kami untuk menilai semua tindakan berdasarkan satu aturan-Mu yaitu: untuk mengasihi (dan memperlakukan dan menghormati) tetangga kami dengan cara yang sama yang mana kami harapkan tetangga kami juga akan perlakukan dan hormati kami. Kami berdoa demi nama Dia yang meminta kami tidak hanya untuk mendoakan tetangga kami, tetapi juga musuh-musuh kami, amin.

Tindakan
Apa yang berarti adalah aturan lama dari kasih dan “ciptaan baru” (perhatikan kalimat terakhir dalam ayat 15). Dapatkah anda memikirkan sebuah cara baru untuk menunjukkan kasih dan penghormatan di dalam nama Kristus kepada tetangga atau musuh? Kiranya Allah menolong kita untuk melakukan sebuah aksi mengasihi minggu ini.

Rev. Dr. Gordon Wong
President
Trinity Annual Conference
The Methodist Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Yesaya 42:1-9

26 Mar 2018 – Senin Minggu Suci

Lihatlah Hamba-Ku… Pilihan-Ku

(Yesaya 42:1-9)
1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:
6 “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.”

Renungan
Salah satu ide kunci yang ditampilkan di dalam nubuatan-nubuatan Yesaya adalah pekerjaan dari Hamba yang terpilih oleh Tuhan Allah yang Maha Kuasa. Di dalam perikop ini, sang Hamba yang terpilih dipresentasikan sebagai seseorang yang menyelesaikan rencana Tuhan Allah yang Maha Kuasa dengan membawa harapan dan terang kepada yang tertindas dan tertekan.

Membaca kata-kata pembuka dari teks, kita memperhatikan bahwa salah satu aspek kritis dari pekerjaan sang Hamba adalah membawa keadilan kepada bangsa-bangsa. Sang Hamba adalah setia, tanpa henti, dan tegas di dalam pekerjaan-Nya membawa keadilan bagi bangsa-bangsa (v 3b-4). Ditambah lagi, dia membawa bersama dirinya kelembutan kepada mereka yang lemah, lelah dan tak berdaya oleh gelombang ketidakadilan yang berulang-ulang yang mereka jumpai dalam kehidupan (v 3a).

Sebagaimana kita merefleksikan aspek ini dari pekerjaan sang Hamba, kita mengajukan pertanyaan, “Apa yang dapat dipelajari oleh gereja di Singapura dari misi Hamba Tuhan ini?” Karena teks tersebut menggambarkan sang Hamba sebagai seorang agen keadilan yang bekerja tanpa lelah untuk menegakkan keadilan di bangsa-bangsa, sebuah kesimpulan yang dapat kita buat adalah bahwa Tuhan gusar oleh adanya ketidakdilan.

Di tahun-tahun belakangan, saya telah menghabiskan waktu dan energi yang cukup banyak untuk mengajar dan meneliti pengalaman dari migran-migran di Singapura yang dibayar dengan murah. Saya telah membaca buku-buku, berbicara dengan orang-orang di lapangan yang melayani para pekerja pendatang, dan menjadi teman dari pekerja pendatang tersebut. Kesimpulan saya adalah bahwa meskipun banyak yang tidak melihatnya, ketidakadilan dalam salah satu ataupun bentuk yang lain adalah nyata dan merupakan pengalaman yang dialami oleh pekerja pendatang secara teratur. Entah apakah ketidakadilan tersebut dijumpai sebelum, selama ataupun setelah mereka di Singapura, adalah hal yang cukup mengkuatirkan yang memerlukan tanggapan dari komunitas Kristen.

Dengan penuh syukur, orang-orang Kristen telah terlibat di dalam pekerjaan melayani dan mencari keadilan bagi baik pekerja-pekerja asing pria maupun wanita di tengah kita. Namun partisipasi aktif dari orang Kristen butuh untuk ditingkatkan sebagaimana kita mempertimbangkan aspek kritis dari spiritualitas, identitas dan tanggung jawab kekristenan kita.

Sang Hamba membayar harga yang besar karena ia berkomitmen pada tugas misi untuk mengejar keadilan. Sebagai pengikut-Nya, kiranya kita tidak mencari cara mudah untuk menghindar, mengacuhkan atau membuat hati kita kebal dari ketidakadilan yang kita temukan pada orang-orang asing yang bergaji rendah di tengah-tengah kita.

Doa
Tuhan, Engkau datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Bantulah kami untuk menjadi seperti-Mu untuk mencari dan melayani yang hilang, yang kesepian, yang terakhir, yang terkecil, dan yang ditinggalkan di tengah-tengah kita.
Tindakan
Ambilah waktu untuk menemukan ketidakadilan dalam cara-cara berbeda yang dihadapi oleh pria dan wanita migran bergaji rendah yang dialami sebelum, selama dan setelah waktu mereka di Singapura.

Dr. Calvin Chong
Associate Professor in Educational Studies
Singapore Bible College

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Zakaria 9:9-12

25 Mar 2018 – Minggu setelah Passion (Minggu Palma)

Rajamu Datang kepadamu: Rendah Hati dan Mengendarai Seekor Keledai

(Zakaria 9:9-12)
9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem!
Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

11 Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjian-Ku dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair.
12 Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat!

Renungan
Pada saat kita membaca perikop ini di awal Minggu Suci, kita akan segera memikirkan Yesus yang mengendarai anak keledai untuk memasuki kota Yerusalem. Selama festival-festival utama Yahudi, banyak orang Yahudi akan mengendarai seekor keledai ketimbang berjalan kaki menuju Kota Suci Yerusalem.

Tetapi segalanya menjadi berbeda pada saat Yesus mengendarai seekor keledai untuk memasuki Yerusalem. Karena Yesus pergi melalui seluruh kota-kota dan desa-desa Israel dan memberitakan injil dengan otoritas selama tiga tahun sebelumnya, orang-orang merasa disegarkan – pengajaran-Nya berbeda dari para pemimpin-pemimpin agama, dan apa yang mereka dengar adalah kabar baik dari Allah kebaikan dan rahmat. Ditambah lagi, Yesus menyembuhkan yang sakit, mengusir roh-roh najis, memiliki belas kasihan kepada yang dilecehkan dan tidak berdaya, tanpa rasa takut menghadapi para pemimpin agama dan penguasa yang korup dan menunjukkan bahwa mereka telah melanggar arti sesungguhnya dari kesalehan; khalayak dan murid-murid-Nya semua berpikir bahwa Yesus memenuhi nubuat-nubutan akan kedatangan sang Mesias.

Namun Mesias ini datang bukan sebagai seorang prajurit pahlawan dan perkasa, namun Yesus Dia yang rendah hati dan terkenal di seluruh Israel. Ia datang tidak hanya sebagai perantara dari perjanjian antara Allah dan manusia, tetapi juga sebagai bukti kebenaran perjanjian manusia dan Allah melalui pengorbanan hidup-Nya dan darah-Nya.

Doa
Tuhan, Engkau menderita cambukan dan penyaliban di atas salib bagi kami. Sekali lagi, contoh-Mu akan pengorbanan membangunkan dan menyentuh kami, membangkitkan perasaan syukur kami untuk menghargai keselamatan yang telah kami terima. Kiranya Engkau membantu kami agar tidak terpengaruh ketika kami diejek atau bahkan menderita penganiayaan ketika membagikan injil. Bantu kami menjadi peniru Engkau dan mengikuti-Mu sampai akhirnya.

Tindakan
1. Ambil tindakan untuk membantu seseorang yang membutuhkan, entah ia adalah orang yang engkau kenal atau orang asing.
2. Tunjukkan rasa hormat dan syukur anda kepada staf yang sedang melakukan pekerjaan sepele.

Bishop Dr. Chong Chin Chung
The Methodist Church in Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Ayub 17:6-16

24 Maret 2018 – Hari Sabtu Minggu kelima, Pra Paskah

Ia menjadikan aku sindiran di antara bangsa-bangsa

(Ayub 17:6-16)
6Aku telah dijadikan sindiran di antara bangsa-bangsa, dan aku menjadi orang yang diludahi mukanya. 7 Mataku menjadi kabur karena pedih hati, segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang.

8 Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu, dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik.
9Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.
10Tetapi kamu sekalian, silakan datang kembali! Seorang yang mempunyai hikmat takkan kudapati di antara kamu!

11 Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.
12 Malam hendak dijadikan mereka siang: terang segera muncul dari gelap, kata mereka.
13Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan, 14dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku, 15 maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku? 16 Keduanya akan tenggelam ke dasar dunia orang mati, apabila kami bersama-sama turun ke dalam debu. ”

Renungan
“Usaha yang bagus!“ adalah pujian orang tua masa kini untuk menyemangati anak-anak mereka. Sebaliknya, kitab Ayub menceritakan tentang seorang Ayub yang baik, saleh, yang mengalami kehilangan dan penderitaan yang sangat besar dan mempertanyakan Tuhan tentang penderitaannya. Bukannya pujian dan penghiburan yang dia dapatkan, tetapi malah mendapatkan kritik orang saleh dari teman-teman dekatnya, yang dia anggap “penghibur pembawa derita“ (Ayub 16:2). Ayub berteriak bahwa namanya sudah menjadi sindiran bangsa-bangsa seperti seorang pendosa terkenal yang sedang dihakimi lebih dari seorang penderita yang tak berdosa.

Di dalam kesakitannya, Ayub terombang-ambing antara keputusasaan dan harapan, dan ketika dia menghadapi kematian, dia berteriak “di mana pengharapanku? Siapa yang melihat harapanku?“(Ayat 15). Dia merindukan pemulihan nama baiknya sebelum dia meninggal dan memanggil seseorang untuk menjadi saksinya di hadapan Tuhan, seseorang yang bertindak sebagai sanak saudara yang menjadi penebus untuk membela kasusnya di surga.

Bagian dari ratapannya, Ayub merindukan pembela surgawi “Ketahuilah sekarangpun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi.“ (Ayub 16:19). Kemudian, sebagai tanggapannya atas kritikan lebih lanjut, dia mencatat bahwa dia telah ditinggalkan oleh keluarganya, teman-temannya, dan dia mengekspresikan keinginan untuk seorang sanak saudara yang menjadi penebusnya untuk mempertahankannya: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah.“ (19:25-26).

Beranjak dari kitab Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, kita melihat bahwa harapan Ayub yang samar dan jauh digenapi di dalam Yesus. Yesuslah yang menjadi daging untuk menderita dan meninggal karena dosa-dosa kita, yang dapat simpati dengan kelemahan-kelemahan kita dan menjadi perantara kita sebagai Imam tinggi yang setia dan penuh belas kasihan di hadapan Allah. (Ibrani 2:14-18).

Dia sungguh-sungguh benar dan tidak berdosa tapi mati karena kesalahan kita, untuk membawa kita kepada Tuhan (1 Petrus 3:18). Kita dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya akan bertahan pada penderitaan yang tidak adil dan penolakan (1 Petrus 2:21-24).

Yesus adalah Sang Penebus yang hidup yang memberikan kita hidup baru ke sebuah pengharapan yang hidup oleh kebangkitan-Nyad dari kematian (1 Petrus 1:3, 18-21) dan janji akan bertemu dengan-Nya dalam kebangkitan tubuh yang baru, di dalam ciptaan yang baru (2 Kor. 5). Ayub, seperti para nabi-nabi Perjanjian Lama tidak tahu penggenapan dari harapannya yang redup ditemukan dalam Yesus (1 Petrus 1:10-12), tapi perkataan-Nya menyemangati kita untuk meletakkan pengharapan kita sepenuhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus kristus (1 Petrus 1:13). Sementara itu, saat kita menderita karena Kristus, biarlah pengalaman-pengalaman kita ini membantu kita untuk menghibur orang lain.

Doa
Terima kasih Tuhan Yesus akan kasih-Mu yang menebus kami, menderita karena dosa-dosa kami, dan teladan-Mu akan pengampunan dan ketabahan. Biarlah Roh-Mu memampukanku untuk peduli dan memberi penghiburan pada mereka yang sedang kesusahan, dan bawa mereka lebih dekat lagi kepada-Mu.

Tindakan
Semoga Tuhan membantu kita mendengar dan belajar dari firman-Nya dan Roh-Nya sehingga kita dapat mengekspresikan penghiburan-Nya yang penuh kasih kepada sesama,

Dr Ernest Chew
Advisory Elder, Bethesda (Frankel Estate) Church
Vice-President, The Bible Society of Singapore

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)

Yohanes 12:20-36a

23 Maret 2018 – Hari Jumat Minggu kelima, Pra Paskah

Kecuali jika sebuah benih jatuh ke bumi dan mati

(Yohanes 12:20-36a)
20Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.
23Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. ”

27″Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. 28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!”
Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”

29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”
30Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. 31Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar 32dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”. 33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

34 Lalu jawab orang banyak itu: “Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?”
35 Kata Yesus kepada mereka: “Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. 36 Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang. ”

Renungan
Ekspresi kerinduan orang-orang: “Kami mau melihat Yesus, “ menghasilkan Prinsip (ayat 24) dan Nubuatan (ayat 32-33) dari Mulut-Nya. Tuhan Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Karena kematianNya, Dia tidak lagi sendirian. Hidupnya akan “berbuah”; menghasilkan dampak pelipatgandaan yang besar. Kemudian, Dia mengumpulkan pengikut-pengikutNya dari segala penjuru. Nabuat itu mengkorfimasikan Prinsip Biji Gandum, “Dan Aku, ketika Aku terangkat dari dunia, akan membawa semua manusia kepadaKu.“
Yohanes menjelaskan “Dia mengatakan ini untuk menunjukkan bagaiamana dia akan mati” Oleh karena itu Tuhan Yesus mengantisipasi cara dan dampak kematiannya. Dengan jelas Dia menyatakan bahwa Dia akan meninggal dengan cara demikian sehingga Dia akan terangkat dari bumi. Dia juga mengatakan bahwa lewat cara kematianNya, Dia akan mendapatkan kuasa dari Kuasa terbesar di muka bumi ini atas seluruh umat manusia.

Siapa yang dapat menyangkal kalau Salib itu penggenapan dari janji Tuhan? Lewat Salib, Yesus mati dan dibangkitkan dari kubur. Melalui Salib, sejak saat itu, orang dari seluruh dunia ditarik kepada Yesus kristus karena pengorbanann kasih-Nya dan kesetian-Nya pada Bapa yang tak pernah padam. Dimana dan kapanpun injil diberitakan, Salib berdiri tegak, menarik semua orang kepada Kristus yang penuh kasih! Namun, Salib juga menuntut kesetiaan kita yang tak pernah padam. Sia-sia melayani Yesus kalau kita tidak mengikuti Yesus (ayat 26). Mengikuti Yesus berarti menjalankan kehidupan untuk kekekalan (ayat 25) dan mencari kehidupan yang terus menerus dekat pada hadiratNya setiap hari (ayat 26). Kalau Salib itu tentang pengorbanan kasihNya yang tak ternilai untuk kita, maka, itu juga tanda buat kita, akan harga dari pemuridan.

Tapi mengapa kita harus peduli? Mengapa kita harus berinvestasi dalam membayar harga menjadi murid Yesus di kehidupan kita? Yesus berkata, selain ada Janji juga ada Peringatan. Janji tersebut: “Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”(Ayat 26). Peringatan tersebut: “Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu.” (Ayat 35). Memang, kesempatan itu tidak selalu ada ketika kita menunda waktu saat Tuhan memanggil kita untuk mengikutiNya. “Hanya satu kehidupan dan ini pun akan berakhir, hanya apa yang dilakukan bagi Kristus yang akan abadi.” (C.T. Studd). Pengorbanannya berharga. “Tidaklah bodoh kehilangan apa yang tidak bisa disimpannya, dan memperoleh apa yang tidak dapat hilang.” (Jim Elliot). Orang masih merindukan bertemu Yesus hari ini. Biji Gandum itu tidak mati sia-sia! Datang dan ikutilah Dia!

Doa
Tuhan Yesus, selamatkan kami dari kata-kata kosong dan tolonglah kami hidup tanpa menghitung-hitung harga dari sebuah pemuridan dan mengikuti-Mu, yang sudah memberikan Nyawa-Mu untuk menyelamatkan kami. Kumpulkan semua anak-anak-Mu dan murid-murid-Mu dari bangsa-bangsa, karena Engkau tidak mati sia-sia di Kalvari. Amin.

Tindakan
Inilah saatnya berdoa sepenuh hati. Apakah kita sudah mengarahkan telinga kita yang tuli ini pada panggilan untuk menjadi muridNya karena harga pemuridan itu? Marilah kita berserah pada apa yang kita yakini dan apa yang menahan kita. Marilah kita bangkit dan pergi ke mana Dia memanggil kita, di dalam kesetiaan yang tidak padam dan dalam ketaatan. “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kam, jika kamu melakukannya.” (Yoh.13:17).

Rev Malcolm T H Tan O.S.L
Pastor-in-Charge
Covenant Community Methodist Church
Chaplain-in-Charge
Methodist Girl’s School

Copyright The Bible Society of Singapore

(Diterjemahkan oleh WMC)